LANDASAN TEORI
3.2. Faktor-Faktor Fisik Lingkungan Kerja (Working Environment Physic Factors)
3.2.1. Penerangan di Tempat Kerja
Penerangan sangat mempengaruhi kemampuan manusia untuk melihat obyek-obyek secara jelas, cepat, tanpa menimbulkan kelelahan. Kebutuhan akibat adanya penerangan yang baik, akan makin diperlukan apabila kita mengerjakan suatu pekerjaan yang memerlukan ketelitian karena penglihatan. Penerangan yang terlalu suram, mengakibatkan mata pekerja makin cepat lelah akibat mata akan berusaha
untuk bisa melihat, dimana lelahnya mata akan mengakibatkan kelelahan mental, lebih jauh lagi keadaan tersebut bisa menimbulkan rusaknya mata, karena bisa menyilaukan.
Kemampuan mata untuk bisa melihat obyek dengan jelas ditentukan oleh : ukuran obyek, derajat kontras diantara obyek dan sekelilingnya, luminasi (brightness) dan lamanya melihat. Yang dimaksud dengan derajat kontras adalah perbedaan derajat terang relatif antara obyek sekelilingnya, sedangkan luminasi berarti arus cahaya yang dipantulkan oleh obyek. Standar penerangan yang diterima adalah setara dengan 100 sampai dengan 200 kali lilin. Penerangan harus memperhatikan tidak timbulnya kesilauan (glare), pantulan dari permukaan yang berkilat, dan peningkatan suhu ruangan. Ternyata lampu-lampu fluorescent (neon TL = tube luminasence) lebih memenuhi syarat dalam hal ini2.
Manfaat lampu fluorescent adalah : - Efisiensi yang tinggi.
- Kesilauan rendah. - Tidak banyak bayangan.
- Terdapat dalam berbagai warna.
3.2.2. Pencahayan
Manusia sebagai makhluk yang sempurna tetapi tetap tidak luput dari berbagai kekurangan. Dalam arti kata segala kemampuannya masih dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Beberapa faktor tersebut dapat datang dari diri sendiri (intern). Salah satu faktor yang berasal dari luar adalah kondisi lingkungan kerja.
Suatu pekerjaan dapat berjalan baik apabila faktor pencahayaan dibuat sesuai dengan kebutuhan tempat kerja. Dalam hal ini perlu diperhatikan kekuatan cahaya, arah sumber cahaya, dan jenis sumber cahaya, dengan kebutuhan tempat kerja. Cahaya yang menerpa mata dapat langsung berasal dari sumber sinar seperti sinar matahari, bola lampu, nyala api, atau lilin sering disebut sinar panas, juga dapat terjadi karena pemantulan suatu benda atau bidang.
Pencahayaan sangat mempengaruhi kemampuan manusia untuk melihat
objek-objek secara jelas, cepat, tanpa menimbulkan kesalahan. Kebutuhan akan pencahayaan yang baik akan makin diperlukan apabila mengerjakan suatu pekerjaan yang memerlukan ketelitian karena penglihatan pencahayaan yang terlalu suram akan mengakibatkan mata pekerja menjadi lebih cepat lelah karena mata akan berakomodasi lebih lanjut, dimana lelahnya mata mengakibatkan kelelahan mental, lebih jauh lagi keadaan tersebut menimbulkan rusaknya mata.
Pencahayaan merupakan aspek lingkungan non fisik penting bagi keselamatan kerja. Perancangan dan pengaturan pencahayaan yang baik ditempat kerja merupakan suatu usaha preventif terhadap kelelahan dan kecelakaan3.
3.2.3. Pengaturan Pencahayaan Buatan
Penerangan yang baik memberikan kesan bagi pekerja untuk dapat melihat suatu objek yang dikerjakan secara jelas, dan membuat pandangan terhadap
lingkungan kerja menyenangkan dan menyegarkan. Permasalahan penerangan menyangkut sifat indra penglihatan, sehingga tidak membuat silau pandangan.
Menurut Ernest W. Steel (1965), pengaturan pencahayaan buatan dapat
diklasifikasikan sistem pencahayaan pada ruang kerja yaitu : a. Pencahayaan langsung (direct lighting)
Hampir semua cahaya langsung (90% - 100%) diarahkan pada permukaan yang perlu diterangi, 0 – 10% diarahkan keatas. Cara ini mengakibatkan cahaya bayangan yang mengganggu serta memungkinkan terjadinya kesilauan-kesilauan, baik pemantulan lampunya.
b. Pencahayaan semi langsung (semi directlighting)
Distribusi cahaya terutama adalah kearah bawah (60% - 90%), langsung pada permukaan yang diterangi, sedangkan selebihnya menerangi sekitarnya serta dipantulkan kelangit-langit dinding. Dengan demikian dikurangi kelemahan-kelemahan dai cahaya langsung.
c. Pencahayaan langsung tak langsung (general diffusi).
Pengaturan ini disebut juga penyebaran merata, dimana cahaya yang dipancarkan merata keseluruh ruangan.
d. Pencahayaan semi tidak langsung (semi indirect lighting)
Cahaya yang didistribusikan kearah atas berkisar antara 60% - 90%, dan 10% - 40% diarahkan kearah bawah. Pada sistem ini pencahayaan ini pantulan (reflectance value) dari langit-langit harus tinggi agar cahaya yang dipantulkan ke bawah cukup banyak.
e. Pencahayaan tidak langsung (indirect lighting)
Cahaya yang didistribusikan kearah atas sekitar 90% - 100%, untuk dipantulkan. Kemudian menerangi keseluruhan ruangan berupa cahaya diffusi, sedangkan 0 – 10% diarahkan kepermukaan yang perlu diterangi.
3.2.4. Pengukuran Pencahayaan
Tujuan pengukuran pencahayaan didasarkan pada perancangan dan evaluasi tempat kerja. Karena mata beradaptasi terhadap tingkat pencahayaan, maka setiap perubahan illuminasi harus diperkirakan jumlah cahaya di area kerja yang mungkin. Ukuran cahaya dikenal sebagai fotometri utama adalah intensitas cahaya, perubahan cahaya, illuminasi dan luminasi.
Desain umum mengatur cahaya yang baik dan menyebar ke seluruh ruangan kerja sehingga tidak ada ruangan gelap. Faktor pemantulan cahaya dari langit-langit dan dinding pada jarak tertentu tidak silau dan tidak ada bayangan. Ukuran ruangan dengan sistem pencahayaan haruslah bersesuaian, dimana indeks ruangan sangat penting diperhatikan antara lain panjang ruangan, lebar ruangan, dan tinggi penerangan sumber cahaya diatas permukaan yang perlu diterangi.
Untuk menghindari kesilauan perlu diperhatikan :
a. Hindarkan penempatan lampu atau sumber cahaya pada bidang visual dari operator.
c. Pengarah sinar harus sedemikian rupa sehingga rata-rata terangnya baik untuk penglihatan.
d. Sudut antara garis pandang horizontal dengan ketinggian sumber cahaya harus diletakkan sedemikian rupa hingga garis pandang yang paling sering dipakai jangan berhimpit dengan cahaya yang terpantul.
Bertitik tolak dari latar belakang tersebut maka perlu dilakukan analisis mengenai pengaruh intensitas cahaya dan arah datang cahaya terhadap hasil kerja manusia. Untuk pekerjaan-pekerjaan kasar dan rutin, pekerjaan-pekerjaan yang detail berukuran besar, dan pekerjaan-pekerjaan dengan bahan yang jelas kontrasnya, cukup dengan illuminasi 100 lux – 200 lux. Makin halus pekerjaannya dan menyangkut inspeksi serta Quality Control, ataupun makin halus detailnya dan kurang kontrasnya, makin tinggi illuminasi yang diperlukan, yaitu 500 lux-1000 lux. Pekerjaan yang amat halus, tepat dan teliti seyogyanya diberi penerangan dengan illuminasi 1000 lux-2000 lux. Bagian pabrik yang memerlukan pengamanan visual sewaktu tidak beroperasi,
dapat diberi illuminasi merata 20 lux. Dan untuk ruangan atau bagian ruangan tempat pemeriksaan warna secara teliti, sebaiknya diberi illuminasi 750 lux dengan lampu yang kualitas efek warnanya tinggi4.
3.2.5. Pemberian Musik Pengiring Kerja
Secara psikologi, musik pengiring ditempat kerja akan membuat pekerja berada dalam kondisi yang segar yang dapat mempengaruhi perasaan kelelahan dan produktifitas kerja. Musik mempunyai efek positif untuk menciptakan kesegaran dan
mood yang baik untuk pekerja. Untuk pekerja yang monoton, musik dapat memberikan rangsangan yang dapat memperbaiki aktifitas kerja. Kerja monoton yang berulang-ulang seperti diperusahaan tenun, sepatu, rokok, dan sebagainya hanya membutuhkan konsentrasi yang sedikit. Oleh karena itu musik dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dalam kerja seperti itu. Penggunaan musik yang secara sengaja dipakai untuk pengiring kerja, tidak boleh sembarangan. Pemilihan musik dilakukan secara hati-hati dan seleksi, baik jenis maupun iramanya. Dari hasil penelitian, ternyata musik instrumental dan musik dengan irama yang tidak begitu kuat atau terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, lebih disukai para pekerja.
Pada pekerja yang monoton, musik berefek stimulasi dan meningkatkan pelaksanaan pekerjaan. Musik adalah baik untuk pekerjaan yang monoton repetitive yang memerlukan sedikit perhatian. Musik dapat dimainkan pada saat sebelum kerja, ketika kerja, pada saat istirahat, dan pada saat akan selesai kerja. Tempo yang terlalu lambat akan membuat pekerja mengantuk, sedangkan yang terlalu cepat akan merangsang gerakan yang tidak teratur. Untuk itu, tempo atau irama musik yang baik ditempat kerja adalah dengan irama sedang.
Sudah menjadi kebiasaan ketika bekerja pekerja ditemani oleh alunan musik. Baik itu untuk kerja yang sifatnya strategis maupun yang sifatnya eksekusi. Namun juga pekerja kadang tidak menggunakan musik dan membiarkan suasana menjadi hening. Terkadang, secara tidak sadar pekerja terganggu oleh musik. Itu karena musik yang mengalun tidak pas dengan suasana kerja yang sedang dijalankan.
Dengan bantuan musik, pekerja dapat bertahan lebih lama di meja kerja untuk memikirkan sesuatu yang sifatnya strategis. Musik ini mampu ‘mendinginkan’ otak. Otak yang dalam keadaan ‘dingin’ ini bisa mengalirkan ide-ide yang kreatif & memecahkan masalah sehingga solusilah yang di dapat.
Untuk mengatasi rasa kantuk dan lelah selama bekerja, alunan musik dengan irama sedang dapat meningkatkan kewaspadaan dan ketajaman otak, sehingga pekerja terhindar dari rasa kantuk.