BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Gemar Baca
2.3.6 Faktor-faktor Gemar Membaca
Menurut Fuad Hasan dalam Sutarno (2006:27), faktor yang menjadi pendorong atas bangkitnya minat baca adalah:
1. Ketertarikan,
2. Kegemaran dan hobi membaca, dan
3. Pendorong tumbuhnya kebiasaan membaca adalah kemauan dan kemampuan membaca.
Menurut Sutarno NS (2006:29) faktor yang mampu mendorong bangkitnya minat baca masyarakat, adalah :
1. Rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan dan informasi.
2. Keadaan lingkungan fisik yang memadai, dalam arti tersedianya bahan bacaan yang menarik, berkualitas dan beragam.
3. Keadaan lingkungan sosial yang lebih kondusif, maksudnya adanya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membaca.
4. Rasa haus informasi, rasa ingin tahu, terutama yang aktual.
5. Berprinsip hidup bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani.
Berdasarkan Jurnal Iqra Volume 09 No.02 Oktober 2015 menurut M.Hamzah A. Sofyan, adapun hal-hal yang mendorong atau memotivasi seseorang untuk gemar membaca dapat dilakukan dengan dua macam motivasi, yaitu :
1. Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
a. Adanya kebutuhan, maka seseorang didorong untuk membaca. Misalnya saja seseorang anak ingin mengetahui isi cerita dari sebuah buku komik.
Keinginan untuk mengetahui isi cerita tersebut menjadi daya pendorong yang kuat bagi anak untuk membaca.
b. Adanya pengetahuan tentang kemajuannya sendiri, apabila seseorang mengetahui hasil atau prestasinya sendiri dari membaca, maka ia akan terdorong untuk membaca lebih banyak lagi.
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Jadi motivasi atau tenaga pendorong yang berasal dari luar diri seseorang dengan kata lain merupakan perangsang, hal-hal yang dapat menimbulkan motivasi eksternal tersebut adalah :
a. Hadiah, seseorang anak terdorong untuk melakukan sesuatu menjadi lebih giat lagi. Bagi anak-anak yang memperoleh nilai baik akibat membaca, akan mendorongnya untuk membaca lebih banyak lagi agar memperoleh nilai yang lebih tinggi lagi.
b. Persaingan atau kompetisi, juga merupakan dorongan untuk memperoleh kedudukan atau penghargaan. Kompetisi telah menjadi daya pendorong bagi seseorang untuk membaca lebih banyak lagi.
2.3.6.2 Faktor Penghambat Gemar Baca
Berdasarkan Jurnal Pustakawan Indonesia volume 6 No.1 menurut Leonhardt yang dikutip oleh Abdul Rahman Saleh (2006), berikut faktor-faktor yang menghambat peningkatan minat baca dalam masyarakat dewasa ini :
1. Langkanya keberadaan buku-buku anak yang menarik terbitan dalam negeri.
2. Semakin jarangnya bimbingan orang tua yang suka mendongeng sebelum tidur bagi anak-anak.
3. Pengaruh televisi yang bukannya mendorong anak-anak untuk membaca, tetapi lebih betah menonton acara-acara televisi.
4. Harga buku yang semakin tidak terjangkau oleh kebanyakan anggota masyarakat.
5. Kurang tersedianya taman-taman bacaan yang gratis dengan koleksi buku yang lengkap dan menarik.
Adapun menurut Damaiwati (2007:29), menyatakan bahwa yang menjadi faktor penyebab rendahnya minat baca adalah :
1. Televisi
Sungguh teramat memprihatinkan ketika proses pembelajaran di keluarga sekarang ini didominasi hasil didikan televisi. Bahasa televisi yang singkat, simpel dan memikat, membuat anak sering ketagihan dan menjadi malas belajar.
Orang yang kebanyakan menonton TV menjadi tidak suka membaca, berfikirnya jadi linier, tidak kritis dan kreatif. Padahal membaca adalah kunci untuk mendapat ilmu. Kunci untuk membangun sebuah peradaban.
2. Kultur Keluarga
Masyarakat kita lebih suka „ngobrol‟ daripada memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca, bercerita lebih umum dibandingkan membaca. Hal itulah yang menyebabkan membaca belum dijadikan sebagai suatu kebiasaan secara terus-menerus dan berkelanjutan yang pada akhirnya akan berakibat pada rendahnya budaya baca dalam suatu masyarakat.
Menurut NS Sutarno (2006:257-258), rendahnya minat dan budaya baca masyarakat terjadi pada kelompok masyarakat yang menghadapi beberapa keterbatasan seperti:
1. Akses informasi dari dan ke perpustakaan.
Keterbatasan akses informasi dari perpustakaan disebabkan beberapa hal seperti kurangnya sosialisasi dan permasyarakatan, publikasi melalui brosur, tempat perpustakaan yang kurang strategis, dan terbatasnya kegiatan perpustakaan yang dapat diketahui atau diikuti oleh masyarakat.
2. Tingkat pendidikannya masyarakat yang masih berada dibawah standar.
Kita paham betul bahwa pemakai perpustakaan adalah mereka yang berkecimpung dengan dunia informasi dan ilmu pengetahuan, oleh sebab itu masyarakat yang tingkat pendidikannya masih relatif terbatas, dan kondisi lingkungannya kurang mendukung, maka tingkat ketertarikan dan kebutuhannya terhadap layanan perpustakaan juga belum optimal.
3. Kondisi sosial ekonominya pada umumnya kurang menguntungkan.
Untuk sebagian anggota masyarakat yang secara kebetulan kondisi sosial ekonominya belum beruntung, maka perhatian untuk membeli atau memiliki buku kurang. Jadi kebiasaannya membaca dirumah juga terbatas, karena dirumah sedikit atau bahkan jarang membaca, maka minat untuk ke perpustakaan untuk membaca juga berkurang.
4. Layanan perpustakaan kepada masyarakat yang belum merata.
Layanan yang belum merata juga banyak penyebabnya, sementara untuk memperoleh layanan tersebut masyarakat juga harus aktif, misalnya datang ke perpustakaan.
5. Apresiasi dan respon masyarakat masih perlu ditingkatkan
Pada dasarnya apresiasi dan respon masyarakat terhadap perpustakaan berkaitan erat dengan kebiasaan membaca, tingkat pendidikan, dan kondisi serta lingkungannya. Manakala semua itu belum menunjang, maka dapat berakibat terhadap apresiasi dan respon masyarakat.
Sedangkan pendapat yang dinyatakan oleh NS Sutarno (2006:259-260), bahwa minat dan budaya bacanya sudah baik dan menggembirakan berlangsung pada kelompok masyarakat tertentu, antara lain :
1. Masyarakat Terpelajar.
Mereka karena aktivitas kesehariannya harus berhubungan dengan buku dan bahan bacaan lain untuk melengkapi dan mendukung agar tugas-tugas belajarnya berhasil dengan baik.
2. Tingkat kesadaran tentang pentingnya perpustakaan telah meningkat.
Dengan demikian maka mereka dengan sendirinya akan aktif berkunjung ke perpustakaan untuk membaca, belajar dan melakukan kegiatan ilmiah lainnya.
3. Masyarakat memiliki akses dan informasi ke perpustakaan mudah.
Akses ke perpustakaan yang dapat diperoleh dengan mudah, maka minat dan keinginan untuk ke perpustakaan bertambah, apalagi setelah menyadari bahwa perpustakaan memberikan sesuatu yang berguna baginya, baik dalam belajar, bekerja, mengembangkan ilmu pengetahuan, maupun mencari hiburan.
4. Mereka yang kondisi sosial ekonominya lebih beruntung.
Kebanyakan anggota masyarakat yang makin maju dan kebutuhan dasar hidupnya sudah tidak menjadi masalah maka mereka mencari sesuatu lain.
Perpustakaan yang dapat memberikan dan melayani mereka, tentu merupakan salah satu hal yang menarik, sehingga masyarakat akan tertarik serta mendapat respon yang positif.
5. Jangkauan layanan perpustakaan memadai.
Sebuah perpustakaan yang ada ditengah-tengah masyarakat dengan lingkungan yang terbatas dapat dijangkau dengan mudah, tetapi pada sisi yang lain masih ada masyarakat yang relatif jauh atau sulit dijangkau oleh layanan perpustakaan. Maka perlu diupayakan peningkatan layanan, misalnya dengan unit perpustakaan keliling atau mengembangkan perpustakaan cabang, layanan paket dan layanan lain sejauh memungkinkan.
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa budaya baca di masyarakat tidak dapat berkembang secara instan tetapi membutuhkan proses, kesabaran, usaha dan waktu yang tidak singkat serta dilakukan secara terus-menerus sampai budaya bacapun dapat terwujud di masyarakat.
2.3.7 Upaya Pengembangan Gemar Baca
Menurut Sutarno (2006:28) sehubungan dengan minat, kebiasaan, dan budaya baca tersebut, paling tidak ada tiga tahapan yang harus dilalui yaitu : 1. Adanya kegemaran karena tertarik bahwa buku-buku tersebut dikemas dengan
menarik, baik desain, gambar, bentuk dan ukurannya.
2. Setelah kegemaran tersebut di penuhi dengan ketersediaan bahan dan sumber bacaan yang sesuai dengan selera, ialah terwujudnya kebiasaan membaca.
3. Jika kebiasaan membaca itu dapat terus-menerus dipelihara, tanpa gangguan elektronik, yang bersifat entertainment, dan tanpa membutuhkan keaktifan
fungsi mental. Oleh karena seorang pembaca terlibat secara konstruktif dalam menyerap dan memahami bacaan, maka tahap selanjutnya ialah bahwa membaca menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi.
Setelah tahap-tahap tersebut dapat dilalui dengan baik, maka pada diri seseorang tersebut mulai terbentuk adanya suatu budaya baca. Sebuah budaya baca memberikan corak warna, yang tergambarkan dalam pola pikir, sikap, perilaku, seperti bagaimana cara pandang dan respon dalam kehidupan sehari-hari yang apa adanya, alamiah, dan kultural.
Sehubungan dengan tiga tahapan yang harus dilalui diatas menurut penjelasan Sutarno (2006:28) sesuai dengan minat, kebiasaan, dan budaya baca tersebut, adapun proses pembentukan budaya baca sebagai berikut:
Gambar 1. Proses Pembentukan Budaya Baca
Banyaknya jenis dan beragam koleksi yang ada di perpustakaan akan menimbulkan selera atau minat untuk membaca, selanjutnya minat baca akan menghasilkan kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca tidak bisa berkembang tanpa ada koleksi yang menimbulkan selera, minat dan kebiasaan membaca. Jadi, antara koleksi dan kebiasaan saling mempengaruhi. Koleksi dapat berkembang karena minat dan kebiasaan membaca yang ditandai dengan banyaknya permintaan bahan pustaka dari para pencari informasi atau permintaan pemustaka.
Sebaliknya kebiasaan membaca tercipta karena ketersediaan koleksi bacaan yang Koleksi
Selera
Minat Baca
Kebiasaan Baca Budaya Baca
bermutu, terutama yang dapat menimbulkan selera untuk membaca. Dengan adanya kebiasaan membaca maka terciptanya budaya baca pada masyarakat.
2.4 Bercerita
Menurut Bachtiar, (2005:10), Bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan atau suatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain.
Dengan demikian bercerita dalam konteks komunikasi dapat dikatakan sebagai upaya mempengaruhi orang lain melalui ucapan dan penuturan tentang sesuatu (ide).
Menurut Winda Gunarti dkk, (2008:5.3), bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan pesan, informasi atau sebuah dongeng belaka, yang bisa dilakukan secara lisan dan tertulis dan merupakan sebuah metode dari suatu kegiatan pengembangan yang ditandai dengan pendidik memberikan pengalaman belajar kepada anak melalui pembacaan cerita secara lisan.
Kedua pendapat para ahli diatas merupakan pendapat yang saling terkait.
Dalam kedua pendapat menjelaskan kegiatan bercerita memberikan sumbangan besar pada perkembangan anak secara keseluruhan sebagai implikasi dari perkembangan bahasanya sehingga anak akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan kemampuan dan komunikasi dengan baik.
Metode bercerita merupakan cara untuk menyampaikan nilai-nilai yang bertutur dan menyampaikan cerita atau memberikan penjelasan secara lisan.
Bercerita juga merupakan cara untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Isi cerita berkaitan dengan:
1. Dunia kehidupan yang penuh suka cita, yang menuntut isi cerita memiliki unsur yang dapat memberikan perasaan gembira, lucu, menarik, mengasyikan bagi anak
2. Disesuaikan dengan minat anak yang biasanya berkenaan dengan binatang, tanaman, kendaraan, boneka, robot, planet, dan lain sebagainya.
3. Tingkat usia, kebutuhan dan kemampuan anak menangkap isi cerita berbeda-beda, maka cerita yang diharapkan haruslah bersifat ringkas atau pendek dalam rentang perhatian anak.
4. Membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan menanggapi setelah guru selesai bercerita.(Mukhtar Latief dkk, (2013: 111).
Muh Nur Mustakim, (2005:122), mengemukakan tujuan dari kegiatan penceritaan atau reroduktif cerita untuk memperoleh berbagai manfaat perkembangan anak dari yang ditimbulkan oleh bentuk dan isi cerita.
2.5 Wisata Baca (Library Tour)
Menurut Badollahi Mustafa (2010:127), menyatakan bahwa wisata perpustakaan adalah terjemahan dari kata Library Tour. Bentuk kegiatan jenis ini yaitu mengajak serombongan orang untuk berkeliling perpustakaan guna melihat semua sudut di perpustakaan bahwa disana ada petugas perpustakaan yang memberi penjelasan mengenai koleksi, fasilitas yang ada, cara-cara menggunakan fasilitas serta bagaimana menemukan informasi dan apa manfaatnya bagi mereka.
Melalui kegiatan wisata perpustakaan diharapkan pengguna dapat mengetahui secara langsung apa yang dimiliki perpustakaan yang bermanfaat bagi mereka dan bagaimana menggunakannya. Program wisata perpustakaan dapat diumumkan kepada sekolah-sekolah. Hal itu dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan beberapa sekolah. Biasanya pesertanya adalah anak-anak sekolah. Kegiatan wisata perpustakaan akan memberi pengaruh positif kepada anak-anak sekolah pada khususnya. Dalam jangka panjang hal itu akan berpengaruh pada pola perilaku pencari informasi di pepustakaan. Jadi, kegiatan ini diadakan khusus untuk menumbuhkan rasa cinta anak-anak pada perpustakaan.
Sedangkan menurut Rahayuningsih (2007:109), wisata perpustakaan, yaitu teknik pendidikan pengguna dengan cara memandu pengguna melihat langsung ruangan, koleksi, layanan yang ada di perpustakaan.
2.6 Mendongeng (Storytelling)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI (2008:145), dongeng diartikan sebagai cerita yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng adalah suatu kisah fiktif yang bisa juga diambil dari kisah asli atau sejarah kuno yang dibentuk dari unsur tertentu. Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga dongeng yang melukiskan kebenaran, berisi ajaran moral, bahkan sindiran (Agus, 2008).
Menurut Echols “storytelling terdiri atas dua kata yaitu story yang berarti cerita, dan telling berarti penceritaan.” Penggabungan dua kata tersebut (storytelling) berarti penceritaan cerita atau menceritakan cerita. Menurut Joseph Frank yang dikutip oleh Asfandiyar, storytelling merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), sosial, dan aspek konatif (penghayatan) anak-anak (Asfandiyar, 2007). Menurut Abdul Aziz Abdul Majid paling tidak ada 3 komponen dalam bercerita, yaitu: (1) storyteller (pencerita); (2) cerita atau karangan yang disampaikan, (3) penyimak (Majid, 2013). Tujuan storytelling adalah mengembangkan beberapa aspek yaitu aspek perkembangan bahasa, aspek perkembangan sosial, aspek perkembangan emosi, aspek perkembangan kognitif, dan aspek perkembangan moral (Musfiroh, 2005). Manfaat storytelling yaitu untuk membantu pembentukan pribadi, moral, dan sosial, menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi, memacu kemampuan verbal, dan merangsang kecerdasan emosi (Musfiroh, 2005). Menurut Moeslikhatoen R (Farida, 2008), beberapa macam teknik storytelling, antara lain yaitu storytelling dengan membaca buku cerita, ilustrasi gambar, papan flannel, media boneka, dramatisasi, dan memainkan jari tangan. Ada tiga tahapan dalam storytelling, yaitu persiapan sebelum storytelling, saat proses storytelling berlangsung, dan kegiatan storytelling selesai (Bunanta, 2009).
Bunanta (2009) menyebutkan terdapat dua teknik yang dapat digunakan dalam proses mendongeng yaitu teknik read aloud dan teknik mendongeng tanpa
teks (storytelling).
1. Teknik read aloud
Teknik read aloud merupakan sebuah teknik yang menyampaikan cerita dengan menggunakan media buku dan dilakukan dengan cara membacakan buku tersebut dihadapan audience. Dengan teknik ini pendongeng dapat duduk di depan audience dan apabila audience hanya terdiri dari beberapa orang saja maka pendongeng dapat duduk di tengah-tengah audience. Hal yang harus dipertimbangkan dalam teknik ini adalah terkait dengan jumlah audience. Jika jumlah audience terlalu banyak maka pendongeng tidak dapat menjangkau mereka semua, sehingga audience tidak dapat melihat dengan jelas buku yang dibacakan baik gambar ataupun bentuk tulisannya. Kadang-kadang agar dapat melihat tulisan dan gambar dengan jelas anak-anak akan maju dan mendekati buku yang dipegang pendongeng, kemudian anak-anak yang lain akan ikut-ikutan melihat dari dekat sehingga anak-anak yang lain tidak dapat melihat dan akhirnya suasana read aloud menjadi tidak kondusif. Pendongeng yang memakai teknik read aloud biasanya sudah hapal dan tahu keseluruhan isi teks dari buku yang ia bacakan, ia biasanya akan memegang buku di depan badannya setinggi mata audiencenya sehingga mereka semua dapat melihat dengan jelas. Tetapi jika pendongeng ragu-ragu dan merasa perlu untuk melihat teksnya ia biasanya memegang buku ke sebelah kiri atau kanan tubuhnya agar ia dapat melihat untuk membaca teksnya. Cara lain yang dapat digunakan adalah dengan cara menempelkan kertas kecil yang berisikan kata kunci yang mengingatkan pendongeng pada cerita yang ia bacakan di belakang buku, sehingga pada saat membacakan buku pendongeng tidak terpaku pada teks cerita yang dibacakan dan dapat melihat audiencenya untuk memperhatikan reaksi mereka. Pembacaan cerita dapat dimulai dengan cara menyebutkan nama pengarang, judul, serta secara sekilas memperlihatkan gambar-gambar ilustrasi dalam cerita yang akan dibacakan. Hal ini akan menambah wawasan dan pengetahuan anak tentang cerita dan nama pengarang dari cerita-cerita tersebut. Pada saat membaca, perhatikan pula tempo ketika membacakan cerita, sebaiknya jangan terlalu cepat, tergesa-gesa atau terlalu perlahan seperti sedang mengajarkan anak membaca.
2. Teknik mendongeng tanpa teks (Storytelling)
Penggunaan teknik mendongeng ini memberikan ruang bagi pendongeng untuk melakukan improvisasi dan berkreasi dalam menyampaikan cerita yang didongengkan serta memicu anak untuk berimajinasi serta berfantasi dengan pikiran mereka. Namun, pada waktu mendongeng sebaiknya jangan terlalu berlebihan karena hal ini akan mengalihkan perhatian anak bukan pada cerita, tetapi lebih kepada penampilan dari pendongeng. Hal ini akan berakibat pada proses penangkapan anak terhadap pesan atau nilai dari cerita yang dibawakan.
Ketika memulai cerita, pendongeng dapat mengajak anak untuk membayangkan lokasi kejadian dan tokoh-tokoh yang ada pada cerita, misalnya di tepi sungai, di dasar lautan, seorang kakek yang tua renta, si kancil yang nakal, dan memberikan sedikit pengantar untuk suasana yang ada di dalam cerita. Pendongeng juga dapat menyanyikan lagu anak-anak yang sesuai dengan cerita yang dibawakan, dan biasanya secara spontan anak-anak akan mengikuti menyanyikan lagu tersebut jika mereka tahu lagu tersebut. Kelebihan pada teknik mendongeng ini adalah pendongeng dapat menjangkau jumlah audience yang lebih banyak jika dibandingkan dengan teknik read aloud. Pendongeng dapat membuat cerita sendiri yang akan didongengkan sehingga tidak terpaku pada teks atau cerita dari buku. Teknik mendongeng ini juga memungkinkan penggunaan alat peraga seperti boneka tangan, boneka tali, kain, ataupun gambar ilustrasi serta musik.
2.7 Film
Film adalah gambar-hidup yang juga sering disebut movie. Film secara kolektif sering disebut sebagai sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak. Film adalah sekedar gambar yang bergerak, adapun pergerakannya disebut sebagai intermitten movement, gerakan yang muncul hanya karena keterbatasan kemampuan mata dan otak manusia menangkap sejumlah pergantian gambar dalam sepersekian detik. Film menjadi media yang sangat berpengaruh, melebihi media-media yang lain, karena secara audio dan visual dia
bekerja sama dengan baik dalam membuat penontonnya tidak bosan dan lebih mudah mengingat, karena formatnya yang menarik.
Adapun menurut Marseli Sumarno (2006) klasifikasi film adalah sebagai berikut:
1. Menurut Jenis Film a. Film Cerita (Fiksi)
Film cerita merupakan film yang dibuat atau diproduksi berdasarkan cerita yang dikarang dan dimainkan oleh aktor dan aktris. Kebanyakan atau pada umumnya film cerita bersifat komersial. Pengertian komersial diartikan bahwa film dipertontonkan di bioskop dengan harga karcis tertentu. Artinya, untuk menonton film itu di gedung bioskop, penonton harus membeli karcis terlebih dulu. Demikian pula bila ditayangkan di televisi, penayangannya didukung dengan sponsor iklan tertentu pula.
b. Film Non Cerita (Non Fiksi)
Film noncerita adalah film yang mengambil kenyataan sebagai subyeknya.
Film non cerita ini terbagi atas dua kategori, yaitu :
1) Film faktual : menampilkan fakta atau kenyataan yang ada, dimana kamera sekedar merekam suatu kejadian. Sekarang, film faktual dikenal sebagai film berita (news-reel), yang menekankan pada sisi pemberitaan suatu kejadian aktual.
2) Film dokumenter : selain fakta, juga mengandung subyektifitas pembuat yang diartikan sebagai sikap atau opini terhadap peristiwa, sehingga persepsi tentang kenyataan akan sangat tergantung pada si pembuat film dokumenter tersebut.
2. Menurut Cara Pembuatan Film a. Film Eksperimental
Film Eksperimental adalah film yang dibuat tanpa mengacu pada kaidah-kaidah pembuatan film yang lazim. Tujuannya adalah untuk mengadakan eksperimentasi dan mencari cara-cara pengucapan baru lewat film. Umumnya
dibuat oleh sineas yang kritis terhadap perubahan (kalangan seniman film), tanpa mengutamakan sisi komersialisme, namun lebih kepada sisi kebebasan berkarya.
b. Film Animasi
Film Animasi adalah film yang dibuat dengan memanfaatkan gambar (lukisan) maupun benda-benda mati yang lain, seperti boneka, meja, dan kursi yang bisa dihidupkan dengan teknik animasi.
3. Menurut Fungsinya
Pada dasarnya, fungsi film berkaitan erat dengan manfaat. Menurut Djohan Tjasmadi (dalam http://thesis.binus.ac.id, 06 November 2013) mengelompokkan film berdasarkan fungsinya adalah sebagai berikut : 1. Film sebagai media seni. Dalam hal ini suatu film dianggap memiliki
nilai seni karena di dalamnya mengandung unsur-unsur artistik seperti sinematografi, seni peran, seni suara, dan berbagai hasil citra, rasa, dan karsa para pembuatnya.
2. Film sebagai media hiburan. Dalam hal ini film memiliki fungsi sebagai tontonan yang bersifat dengar-pandang (audio visual).
3. Film sebagai media informasi. Karena film untuk menyampaikan pesan yang ada di dalamnya kepada penonton.
BAB III
PROGRAM PEMBUDAYAAN GEMAR MEMBACA PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP KABUPATEN DELI SERDANG
Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang merupakan penggabungan dari Kantor Perpustakaan Umum Deli Serdang dengan Kantor Arsip Deli Serdang yang diatur dengan peraturan Daerah No. 05 Tahun 2007 tentang pembentukan organisasi dan tata kerja perangkat daerah Kabupaten Deli Serdang yang merupakan unsur penunjang daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Kantor yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Salah satu tujuan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang adalah mewujudkan masyarakat yang cerdas dan gemar membaca. Adapun program-program yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang untuk mewujudkan masyarakat
Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang merupakan penggabungan dari Kantor Perpustakaan Umum Deli Serdang dengan Kantor Arsip Deli Serdang yang diatur dengan peraturan Daerah No. 05 Tahun 2007 tentang pembentukan organisasi dan tata kerja perangkat daerah Kabupaten Deli Serdang yang merupakan unsur penunjang daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Kantor yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Salah satu tujuan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang adalah mewujudkan masyarakat yang cerdas dan gemar membaca. Adapun program-program yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang untuk mewujudkan masyarakat