• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM PEMBUDAYAAN GEMAR MEMBACA PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP KABUPATEN DELI SERDANG KERTAS KARYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM PEMBUDAYAAN GEMAR MEMBACA PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP KABUPATEN DELI SERDANG KERTAS KARYA"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRAM PEMBUDAYAAN GEMAR MEMBACA PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP KABUPATEN DELI SERDANG

KERTAS KARYA

Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) dalam bidang Ilmu

Perpustakaan

Oleh :

PRANAS MELATI 152201035

PROGRAM STUDI D3 PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 201

(2)
(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Program Pembudayaan Gemar Membaca pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang.” Kertas karya ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan perkuliahan pada Program Studi D3 Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Penulis mengucapkan terima kasih khususnya kepada kedua orang tua penulis, ayah dan ibu tercinta beserta keluarga yang telah memberikan kasih sayangnya, dan doa yang tak pernah putus serta dorongan moril maupun materil kepada penulis dari awal masuk perkuliahan hingga selesainya kertas karya ini. Dalam penulisan kertas karya ini, penulis banyak mendapat bimbingan, dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Sebagai rasa syukur pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Hotlan Siahaan, S.Sos, M.I.Kom, selaku Ketua Program Studi D3 Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dan sekaligus selaku Dosen Pembimbing yang meluangkan waktu memberikan bimbingan, arahan, dan saran kepada penulis dalam menyelesaikan kertas karya ini.

3. Bapak Drs. Dirmansyah, M.A, selaku Sekretaris Program Studi D3 Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

4. Ibu Himma Dewiyana, S.T, M.Hum, selaku Dosen Penasehat Akademik masa perkuliahan yang memberikan bimbingan kepada penulis selama mengikuti masa perkuliahan.

5. Ibu Dra. Zurni Zahara Samosir, M.Si, selaku Dosen Penguji I yang telah meluangkan waktu untuk menguji

6. Bapak Drs. Dirmansyah, M.A, selaku Dosen Penguji II yang telah meluangkan waktu untuk menguji

(6)

7. Bapak dan Ibu dosen yang telah memberi materi perkuliahan dan ilmu pengetahuan kepada penulis selama kegiatan perkuliahan dan para staff administrasi Program Studi D3 Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

8. Bapak Drs. Jonner Hasugian, M.Si selaku Kepala Perpustakaan dan bapak Syakirin Pangaribuan, S.H selaku Wakil Kepala Perpustakaan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan izin PKL (Praktik Kerja Lapangan) kepada Penulis, dan Seluruh staff dan karyawan Perpustakaan Universitas Sumatera Utara yang telah membina dan membimbing penulis selama tiga bulan PKL (Praktik Kerja Lapangan), terkhusus : Okto Weddy Sinaga, A.Md, Franz Adytia Lesmana Ginting, S.Sos, M.Si, Dra. Panti Astuti, Triwahyuni, S.S, dan Sri Trisna Wahyuni A.Md.

9. Bapak Drs. Ridwan Said Siregar selaku Kepala Perpustakaan pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang yang telah mengizinkan penulis melakukan observasi, dan Ibu Armaya Dina Sari, S.E yang telah memberikan informasi kepada penulis, serta seluruh staff dan pustakawan yang telah membantu penulis mengumpulkan data sehingga kertas karya ini dapat diselesaikan dengan baik.

10. Khususnya buat sahabat penulis, Dini Intanti, S.Pd, Riza Elytardi, S.Pd, Syahrida Noviani, Dybon Syahputra Siregar, S.P, Nova Lestari Siregar, A.Md, Amilia Sartika Chaniago, Amalia Lubis, dan Sri Wahyuni yang telah membantu sepenuh hati dan memberikan dukungan kepada penulis dan khususnya buat Rizka Hasmi Dwi Wardhani, S.T, Tri Aginata Wijaya, S.Kom, Putri Wahyu, dan Wahyu Pranoto yang memberikan semangat kepada penulis. Teman terdekat Nurjannah, Ita Santiati Siregar, Dwi Meirina, Evi Mahrani Lubis, Junia Eva Nurjannah dan Nur Atikah Nasution. Terima kasih atas bantuan dan kebersamaan di luar maupun selama masa perkuliahan. Terutama kelompok G (teman PKL) : Rika Khairunnisyah, Wirahadi Jayakusuma, Novia Khairuna Damanik, Wulandari Ginting dan teman satu bimbingan : Veprida Yanti Simamora dan Tri Wiradhika A Utomo. Terima kasih atas bantuan kalian dan kerja sama yang baik. Rekan-

(7)

rekan seperjuangan stambuk 2015 pada Program Studi D3 Perpustakaan yang telah memberikan banyak dorongan, semangat dan motivasi kepada penulis selama menyelesaikan kertas karya ini. Dan kakak-kakak stambuk 2013 dan 2014 serta adik-adik kelas stambuk 2016 dan 2017 pada Program Studi D3 Perpustakaan yang namanya tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas motivasi dan nasehat serta saran-saran yang diberikan kepada penulis selama menyelesaikan kertas karya ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan kertas karya ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi isi, bahasa, maupun penulisan. Hal ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan kertas karya ini.

Akhir kata, penulis berharap semoga kertas karya ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca pada umumnya.

Medan, Agustus 2018 Penulis

Pranas Melati 152201035

(8)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penulisan ... 3

1.3 Ruang Lingkup ... 3

1.4 Metode Pengumpulan Data ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Pengertian Perpustakaan ... 5

2.2 Perpustakaan Umum ... 6

2.2.1 Fungsi dan Tugas Perpustakaan Umum ... 9

2.2.2 Tujuan Perpustakaan Umum ... 12

2.3 Gemar Baca ... 13

2.3.1 Gemar dan Budaya Baca ... 13

2.3.2 Pengertian Membaca ... 14

2.3.3 Tujuan Membaca ... 15

2.3.4 Manfaat Membaca ... 16

2.3.5 Pembudayaan Gemar Membaca ... 18

2.3.6 Faktor-faktor Gemar Membaca ... 20

2.3.6.1 Faktor Pendorong Gemar Membaca ... 20

2.3.6.2 Faktor Penghambat Gemar Membaca... 21

2.3.7 Upaya Pengembangan Gemar Membaca ... 24

2.4 Bercerita ... 26

2.5 Wisata Baca (Library Tour) ... 27

2.6 Mendongeng (Storytelling) ... 28

2.7 Film ... 30

BAB III Program Pembudayaan Gemar Membaca pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang ... 33

3.1 Program Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang ... 33

(9)

3.1.1 Sesi Pembinaan ... 33

3.1.2 Sesi Pembudayaan ... 34

3.1.2.1 Lomba Bercerita ... 34

3.1.2.2 Wisata Baca (Library Tour) ... 36

3.1.2.3 Mendongeng (Storytelling) ... 39

3.1.2.4 Menonton Film Bersama ... 41

3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Program Pembudayaan Gemar Membaca ... 43

3.2.1 Faktor Pendukung ... 43

3.2.2 Faktor Penghambat ... 44

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN... 45

4.1 Kesimpulan ... 45

4.2 Saran ... 46

DAFTAR PUSTAKA ... 48 LAMPIRAN

(10)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang berfungsi menghimpun, mengelola dan menyebarluaskan informasi, baik berupa koleksi tercetak maupun koleksi elektronik yang berguna untuk memberikan ruang kepada masyarakat untuk gemar membaca. Adapun jenis-jenis perpustakaan yang ada di Indonesia menurut UU No.43 Tahun 2007 Pasal 20, “Perpustakaan terdiri atas Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus”. Salah satu dari kelima jenis perpustakaan di Indonesia yang bertanggung jawab atas kegemaran membaca atau minat baca adalah Perpustakaan Umum.

Peran perpustakaan sangatlah penting dalam meningkatkan minat baca pada masyarakat karena perpustakaan merupakan pendukung utama dalam pendidikan sepanjang hayat untuk menumbuhkan masyarakat yang gemar membaca dan juga merupakan gudang ilmu pengetahuan yang memungkinkan orang-orang untuk mengadakan penelitian atau sekedar menambah wawasan dan rekreasi. Dengan meningkatkan pengetahuan tentang perpustakaan diharapkan, masyarakat akan mampu mengembangkan diri dalam menambah ilmu pengetahuan melalui kegiatan membaca. Disamping itu, sarana-sarana pendukung, terutama tersedianya buku-buku bacaan yang dibutuhkan, rasa keinginan masyarakat akan suatu bahan bacaan dan mudahnya akses untuk menemukan bahan bacaan juga harus diperhatikan oleh perpustakaan sebagai lembaga yang menyediakan berbagai bahan bacaan yang dibutuhkan masyarakat.

Membaca merupakan kegiatan yang sangat penting untuk memperoleh informasi. Dengan membaca kita dapat memperoleh informasi dan menambah wawasan dari buku-buku yang telah kita baca. Membaca juga dapat menciptakan masyarakat informasi. Masyarakat informasi adalah masyarakat yang sadar pentingnya informasi sehingga mampu meningkatkan kualitas, kuantitas dan

(11)

kompetensi yang ada pada dirinya. Menurut UU No.43 Tahun 2007 Pasal 48 tentang Pembudayaan Kegemaran Membaca pada Ayat 1 dan 3 menyatakan bahwa Ayat (1) Pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat dan Ayat (3) Pembudayaan kegemaran membaca pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai proses pembelajaran. Berdasarkan kedua ayat tersebut dapat diuraikan bahwa pembudayaan kegemaran membaca dapat dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat. Dimana satuan pendidikan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai proses pembelajaran untuk memperoleh informasi dan menambah pengetahuan bagi masyarakat itu sendiri. Sedangkan menurut Standar Nasional Perpustakaan Umum untuk wilayah Kabupaten/Kota (2013) menjelaskan bahwa salah satu fungsi dari perpustakaan umum adalah mengkoordinasikan kampanye Gerakan Pembudayaan Gemar Membaca di wilayahnya.

Berdasarkan pengamatan penulis secara langsung bahwa minat baca masyarakat di sekitar Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang masih rendah, hal ini ditunjukkan dengan angka pengunjung pada tahun 2017 yang mengunjungi perpustakaan berkisar antara 30-40 orang per hari dan dilihat dari data peminjaman buku hanya 15 orang yang meminjam buku dengan cakupan 30 eksemplar buku yang dipinjam di perpustakaan. Maka dapat diuraikan bahwa ada 780 pengunjung setiap bulannya dan 9.360 pengunjung yang datang ke perpustakaan selama tahun 2017. Sehingga memungkinkan penulis untuk meningkatkan minat baca masyarakat sekitar melalui program-program yang telah dibuat oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang.

Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang merupakan perpustakaan umum yang mewujudkan masyarakat yang gemar membaca.

Perpustakaan ini memiliki beberapa koleksi buku, diantaranya buku sekolah, politik, majalah, dan pengetahuan umum yang bisa dibaca sehingga masyarakat dapat menambah informasi, dan pengetahuan, serta wawasan menjadi luas.

Berdasarkan uraian diatas, penulis ingin mengetahui program peningkatan minat

(12)

baca pada masyarakat. Maka penulis memilih judul “PROGRAM PEMBUDAYAAN GEMAR MEMBACA PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP KABUPATEN DELI SERDANG”.

1.2 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan kertas karya ini adalah :

1. Untuk mengetahui upaya Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang dalam program pembudayaan gemar membaca pada masyarakat.

2. Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam program pembudayaan gemar membaca pada masyarakat oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang.

1.3 Ruang Lingkup

Dalam penulisan kertas karya ini, ruang lingkup penulisan membahas tentang program-program pembudayaan gemar membaca pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang yang meliputi kegiatan lomba bercerita, wisata baca (library tour), mendongeng (storytelling), dan menonton film bersama, serta faktor pendukung, dan faktor penghambat yang mempengaruhi program-program pembudayaan gemar membaca.

1.4 Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan kertas karya ini, sebagai berikut :

1. Tinjauan Literatur

Tinjauan literatur ini dilakukan untuk memperoleh informasi dengan menggunakan bahan bacaan yang berhubungan dengan pembahasan pada kertas karya ini, yaitu dengan cara membaca dan memahami bahan pustaka baik berupa buku, jurnal, maupun sumber lain yang relevan dengan masalah yang dibahas.

(13)

2. Observasi

Pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan secara langsung ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang.

3. Wawancara

Pengumpulan data dilakukan dengan cara penulis melakukan wawancara dengan petugas yang ada di Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang untuk memperoleh informasi yang berhubungan dengan kertas karya ini.

(14)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Perpustakaan

Dalam Undang-Undang No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Bab I Pasal 1 dinyatakan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Definisi ini menekankan posisi perpustakaan sebagai institusi atau lembaga pengelola media cetak dan rekam. Akan tetapi disisi lain bahwa perpustakaan adalah juga sebagai fasilitas. Perpustakaan adalah fasilitas atau tempat dan yang menyediakan sarana bahan bacaan.

Jonner Hasugian (2009:70), terminologi perpustakaan dalam bahasa Inggris adalah library. Reitz (2004) menyatakan bahwa istilah library berasal dari kata liber yang berarti buku. Dari istilah itu terbentuklah istilah librarius yang artinya tentang buku. Dalam bahasa Greek dan Romance istilah yang bersesuaian adalah bibliotheca. Dari istilah ini maka dalam bahasa Belanda perpustakaan disebut bibliotheek, dalam bahasa Jerman disebut bibliothek, bahasa Perancis bibliotheque, dan pada bahasa Spanyol bibliotheca, serta dalam bahasa Portugis juga disebut bibliotheca. Akan tetapi semua istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani dari kata biblia yang juga artinya adalah tentang buku, kitab. Lebih jauh Reitz mendefinisikan perpustakaan adalah koleksi atau sekumpulan koleksi buku atau bahan lainnya yang diorganisasikan dan dipelihara untuk penggunaan/keperluan (membaca, konsultasi, belajar, meneliti), dikelola oleh pustakawan dan staff terlatih lainnya dalam rangka menyediakan layanan untuk memenuhi kebutuhan pengguna.

Secara tradisional, perpustakaan sering disebut sebagai sebuah koleksi (kumpulan) buku dan majalah. Koleksi buku pribadi atau perseorangan pun juga sering disebut perpustakaan. Akan tetapi dalam ruang lingkup lebih umum perpustakaan dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang diolah, diorganisasikan dengan sistem tertentu dan dapat dimanfaatkan atau dipakai oleh masyarakat yang

(15)

menjadi penggunanya. Perpustakaan dibiayai dan dioperasikan oleh institusi, lembaga, atau kantor.

Perpustakaan bukanlah lembaga untuk mencari keuntungan seperti halnya toko buku, melainkan bersifat nirlaba. Kumpulan buku di perpustakaan dimanfaatkan untuk kepentingan umum, oleh karena itu orientasinya adalah untuk keperluan pengguna bukan untuk mencari laba (non profit oriented). Dengan demikian seluruh bahan perpustakaan disimpan menurut tata susunan tertentu untuk kepentingan pembaca, bukan untuk dijual dengan tujuan mencari keuntungan. Oleh karena itu unsur laba dan nirlaba inilah yang paling mendasar untuk yang membedakan perpustakan dengan toko buku.

International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) mendefinisikan perpustakaan dengan pengertian yang sangat sederhana yaitu kumpulan bahan tercetak dan non cetak dan/atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk kepentingan pemakai. Definisi perpustakaan sebagaimana dirumuskan IFLA ini mencakup 3 hal yaitu unsur koleksi (buku dan terbitan cetak dan non cetak), disimpan menurut sistem tertentu saja, untuk kepentingan pemakai. Dari definisi ini dapat dinyatakan bahwa untuk menyatakan sesuatu kumpulan koleksi atau institusi sebagai perpustakaan atau tidak, minimal dapat melihat 3 (tiga) aspek yaitu adanya bahan perpustakaan (library materials), adanya proses penyimpanan yang mengacu kepada suatu sistem, dan memberikan layanan kepada pengguna.

2.2 Perpustakaan Umum

Menurut Sulistyo Basuki (2011:46), “Perpustakaan Umum adalah perpustakaan yang dibiayai oleh dana umum dan terbuka untuk umum atau terbuka bagi siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, agama, ras, usia, pandangan politik, dan pekerjaan.”

Menurut Rusina Sjahrial Pamuntjak (2000:3), “Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang menghimpun koleksi buku, bahan cetakan serta rekaman lain untuk kepentingan masyarakat umum.” Perpustakaan umum berdiri sebagai lembaga yang diadakan untuk dan oleh masyarakat. Setiap warga dapat

(16)

mempergunakan perpustakaan tanpa dibedakan pekerjaan, kedudukan, kebudayaan dan agama. Meminjam buku dan bahan lain dari koleksi perpustakaan dapat dengan cuma-cuma atau dengan membayar iuran sekedarnya sebagai tanda keanggotaan perpustakaan tersebut.

Menurut Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2000:4), “Perpustakaan Umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan di pemukiman penduduk (kota atau desa) diperuntukkan bagi semua lapisan dan golongan masyarakat penduduk pemukiman tersebut untuk melayani kebutuhannya akan informasi dan bahan bacaan. Perpustakaan Umum adalah lembaga layanan informasi dan bahan bacaan kepada masyarakat, oleh karena adanya masyarakat umum (yang tidak dibedakan lapisan, golongan, lapangan pekerjaan, dll) yang akan menggunakan dan yang menjadi sasaran layanan perpustakaan, merupakan keharusan.”

Adapun struktur organisasi Perpustakaan Umum adalah sebagai berikut:

1. Perpustakaan Umum terdiri dari :

a. Perpustakaan Umum Daerah Tingkat II, untuk selanjutnya disebut Perpustakaan Dati II.

Perpustakaan Dati II ini terdiri dari :

1) Perpustakaan Umum Kabupaten, untuk selanjutnya disebut Perpustakaan Kabupaten.

2) Perpustakaan Umum Kota Madya termasuk Kota Administratif, untuk selanjutnya disebut Perpustakaan Kota Madya.

b. Perpustakaan Umum Kecamatan, untuk selanjutnya disebut Perpustakaan Kecamatan.

c. Perpustakaan Umum Desa atau Kelurahan, untuk selanjutnya disebut Perpustakaan Desa atau Perpustakaan Kelurahan.

2. Perpustakaan Kabupaten

a. Diselenggarakan dan dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah Tingkat II.

b. Berlokasi di Ibukota Kabupaten.

c. Dibentuk dengan PERDA Tingkat II.

(17)

d. Perpustakaan Kabupaten dapat membentuk Unit Perpustakaan Kelurahan di wilayah ibukota kabupaten itu.

3. Perpustakaan Kota Madya

a. Diselenggarakan dan dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah Tingkat II.

b. Berlokasi di Kota Madya.

c. Dibentuk dengan PERDA Tingkat II.

d. Perpustakaan Kota Madya dapat membentuk unit Perpustakaan Kelurahan di Kota Madya.

4. Perpustakaan Kecamatan

a. Pembentukannya dilaksanakan dan dibiayai oleh Pemerintah Daerah Tingkat II sedangkan biaya operasionalnya pada prinsipnya oleh masyarakat bersama Pemerintah.

b. Berlokasi di kota (di Ibukota) kecamatan.

c. Dibentuk dengan Perda Tingkat II 5. Perpustakaan Desa

a. Pembentukannya dilaksanakan dan dibiayai oleh Pemerintah, sedangkan biaya operasionalnya pada prinsipnya oleh masyarakat dan Pemerintah.

b. Berlokasi di desa tersebut.

c. Dibentuk dengan Keputusan Camat.

(18)

Struktur Organisasi Perpustakaan Umum

2.2.1 Fungsi dan Tugas Perpustakaan Umum

Menurut Sulistyo-Basuki (2011) yang dikutip oleh Wiji Suwarno (2015:28), memberikan gambaran fungsi perpustakaan dalam kehidupan masyarakat adalah sebagai berikut:

1. Fungsi simpan karya, fungsi perpustakaan untuk menyimpan buah karya masyarakat. Bentuk karya yang disimpan adalah yang berkaitan dengan buku, majalah, surat kabar, atau informasi terekam lainnya. Perpustakaan berfungsi sebagai “arsip umum”bagi produk masyarakat berupa buku dalam arti luas.

Namun, kini menurut Suwarno (2010), perpustakaan tidak hanya untuk media simpan saja, tetapi juga menjadi media penyimpan dan penyaji suatu karya yang dikelola kepada masyarakat pemustaka.

2. Fungsi informasi, yaitu fungsi perpustakaan yang memberikan informasi sejelas-jelasnya kepada pemustaka tentang sesuatu hal yang diperlukan. Pada fungsi ini, anggota masyarakat yang memerlukan informasi dapat meminta atau menanyakkannya ke perpustakaan terutama mengenai substansi informasi yang dikelolanya. Informasi yang dikelola berupa informasi ilmiah atau informasi

Perpustakaan Umum

Perpustakaan Umum Daerah Tingkat II

Perpustakaan Umum Kecamatan

Perpustakaan Umum Desa/Kelurahan

Perpustakaan Umum Kabupaten

Perpustakaan Umum Kota Madya

(19)

lainnya yang dianggap wajar untuk dikonsumsi masyarakat. Karena perkembangan pemikiran dan kebutuhan, fungsi informasi ini lebih ditekankan kepada pemberdayaannya. Dengan demikian, diharapkan pemustaka ini mampu mengoptimalkan informasi yang didapat dari perpustakaan menjadi informasi baru yang dapat diakses oleh pemustaka lain.

3. Fungsi pendidikan, yaitu fungsi perpustakaan yang menunjang sistem pembelajaran yang dicanangkan oleh pemerintah. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, perpustakaan sudah saatnya menjadi pusat sumber belajar dan penelitian masyarakat. Artinya fungsi perpustakaan bukan semata sebagai pendukung kurikulum pendidikan, melainkan lebih dari itu:

menjadi tempat belajar dan penelitian bagi masyarakat. Pasal 2 UU No. 43 Tahun 2007 menyebutkan bahwa perpustakaan diselenggarakan atas asas pembelajaran sepanjang hayat. Dalam ayat lain pun dijelaskan bahwa perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

4. Fungsi rekreasi, yaitu fungsi perpustakaan sebagai tempat yang menjadi rekreasi bagi pemustakanya dengan memberikan fasilitas yang baik dan bacaan yang sifatnya menghibur. Akan tetapi, sekarang penekanannya bukan hanya rekreasinya, melainkan rekreasi dan re-kreasi, yaitu fungsi perpustakaan sebagai tempat yang nyaman dan menyajikan informasi-informasi yang sifatnya menyenangkan, serta sebagai tempat yang menghasilkan kreasi (karya) baru yang berpijak dari karya-karya orang lain yang telah dipublikasikan.

5. Fungsi kultural, yaitu fungsi perpustakaan sebagai media dalam rangka melestarikan kebudayaan bangsa. Pola pikir ini kemudian berkembang ke arah mengembangkan kebudayaan, yaitu fungsi perpustakaan sebagai tempat mengembangkan kebudayaan melalui penanaman nilai-nilai kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan-kegiatannya, seperti pemutaran film dokumenter, belajar menari, les bahasa, storytelling dan lain-lain.

Adapun menurut Standar Nasional Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota (2013), ada berbagai tugas dan fungsi perpustakaan adalah sebagai berikut:

(20)

1. Tugas Perpustakaan

Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota mempunyai tugas sebagai berikut : a. Menyediakan sarana dan prasarana guna menjalankan fungsi perpustakaan

sebagai pusat pendidikan, informasi, dokumentasi, penelitian, dan rekreasi b. Mendayagunakan koleksi perpustakaan (koleksi) dan akses terhadap sumber-

sumber informasi perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka

c. Menyediakan sarana dan fasilitas untuk pengembangan kebiasaan membaca sejak usia dini dan pembelajaran sepanjang hayat

d. Menyediakan sarana untuk pengembangan kreativitas, seni budaya, dan kegiatan masyarakat lainnya

e. Melakukan koordinasi pengembangan dan pembinaan perpustakaan di wilayah kewenangan

f. Membangun dan mengembangkan kerja sama perpustakaan

g. Menyediakan layanan dan program perpustakaan guna mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi perpustakaan

h. Menyediakan pangkalan data (database) tentang perpustakaan yang termasuk dalam wilayah kewenangan

2. Fungsi perpustakaan

Penyelenggaraan perpustakaan Umum Kabupaten/Kota berfungsi sebagai berikut :

a. Menghimpun (deposit), mengorganisasikan, mendayagunakan, dan melestarikan koleksi yang merupakan terbitan dan muatan lokal

b. Mengorganisasi koleksi perpustakaan c. Mendayagunakan koleksi

d. Menyelenggarakan pendidikan pengguna

e. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi f. Merawat koleksi perpustakaan

g. Membantu peningkatan sumber daya perpustakaan di wilayahnya

h. Mengkoordinasikan kampanye Gerakan Pembudayaan Gemar Membaca di wilayahnya

(21)

2.2.2 Tujuan Perpustakaan Umum

Perpustakaan tentunya memiliki tujuan sesuai dengan jenis perpustakaannya dan masyarakat yang dilayani. Begitu juga halnya dengan perpustakaan umum memiliki tujuan yang ingin dicapai. Menurut Rachman Hermawan dan Zulfikar Zen (2006:31), tujuan perpustakaan umum antara lain untuk:

1. Memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk menggunakan bahan pustaka dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesejahteraannya.

2. Menyediakan informasi yang murah, mudah, cepat dan tepat yang berguna bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

3. Membantu dalam pengembangan dan pemberdayaan komunitas melalui penyediaan bahan pustaka dan informasi.

4. Bertindak selaku agen kultural, sehingga menjadi pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.

5. Memfasilitasi masyarakat untuk belajar sepanjang hayat.

Dalam Manifesto Perpustakaan Umum oleh UNESCO tahun 1972 yang dikutip oleh Sulistyo-Basuki (2011:46), menyatakan bahwa perpustakaan umum mempunyai 4 tujuan utama, yaitu :

1. Memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik.

2. Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat dan murah bagi masyarakat, terutama informasi mengenai topik yang berguna bagi mereka dan yang sedang hangat dalam kalangan masyarakat.

3. Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, sejauh kemampuan tersebut dapat dikembangkan dengan bantuan bahan pustaka.

4. Bertindak selaku agen kultural, artinya perpustakan umum merupakan pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya. Perpustakaan umum

(22)

bertugas menumbuhkan apresiasi budaya masyarakat sekitarnya dengan cara menyelenggarakan pameran budaya, ceramah, pemutaran film, dan penyediaan informasi yang dapat meningkatkan keikutsertaan, kegemaran, dan apresiasi masyarakat terhadap segala bentuk seni budaya.

Menurut Pedoman Perlengkapan Perpustakaan Umum (2002:2), bahwa penyelenggaraaan perpustakaan umum mempunyai tujuan yaitu:

1. Untuk pendidikan masyarakat (sebagai sarana pendidikan non formal) dan membudidaya kreasi, prakarsa dan swadaya masyarakat guna meningkatkan kemajuan kehidupan dan kesejahteraannya.

2. Menyediakan berbagai kebutuhan untuk penerangan, informasi dan data sekunder serta pengetahuan ilmiah.

3. Memberi semangat dan hiburan yang sehat dan pemanfaatan hal-hal yang bersifat membangun dalam waktu senggang.

4. Mendorong, menggairahkan, memelihara dan membina semangat membangun dan semangat belajar masyarakat.

5. Membekali berbagai pengetahuan dan ilmu serta pedoman pengalaman kepada masyarakat di berbagai bidang.

Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa tujuan perpustakaan umum adalah menyediakan informasi dari berbagai sumber ilmu pengetahuan untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan memfasilitasi masyarakat untuk belajar sepanjang hayat.

2.3 Gemar Baca

2.3.1 Gemar dan Budaya Baca

Gemar menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah “suka sekali (akan)”, sedangkan definisi membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati), selain itu membaca juga diartikan sebagai mengeja atau melafalkan apa yang tertulis, mengucapkan, meramalkan dan menduga. Membaca merupakan proses pengolahan bacaan secara kritis dan kreatif dengan tujuan memperoleh pemahaman secara

(23)

menyeluruh tentang suatu bacaan, serta penilaian terhadap keadaan, nilai, dan dampak bacaan.

Budaya adalah pikiran atau akal budi yang tercermin di dalam pola pikir, sikap, ucapan, dan tindakan seseorang didalam hidupnya. Budaya diawali dari sesuatu yang sering atau biasa dilakukan sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan atau budaya. Budaya baca seseorang adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan.

Seorang yang mempunyai budaya baca adalah orang tersebut telah terbiasa dan berproses dalam waktu yang lama di dalam hidupnya selalu menggunakan sebagian waktunya untuk membaca (Sutarno, 2006:27).

2.3.2 Pengertian Membaca

Di dalam jurnal oleh Khotijah Kamsul dengan judul Strategi Pengembangan Minat dan Gemar Membaca , membaca adalah kegiatan seseorang dengan menggunakan pengamatan melalui mata untuk menterjemahkan dan menginterprestasikan tanda atau lambang di atas kertas atau bahan lainnya. Jadi membaca merupakan proses ingatan, penilaian, pemikiran, penghayalan, pengorganisasian pemikiran dan pemecahan masalah. Membaca merupakan alat untuk belajar dan untuk memperoleh kesenangan, informasi yang terkandung dalam suatu bacaan sehingga mendapat pengetahuan dan pengalaman untuk memenuhi kebutuhan manusia atau seseorang. Dengan demikian membaca dapat dipahami sebagai ; (1) Membaca adalah memahami bahasa tulisan, (2) Membaca adalah suatu proses mental yang rumit, dan (3) Membaca adalah berfikir (pemahaman bacaan adalah rekonstruksi, interpretasi dan evaluasi arti isi tulisan).

Menurut Nuriadi (2008:29), membaca adalah proses yang melibatkan aktivitas fisik dan mental. Salah satu aktivitas fisik dalam membaca adalah saat pembaca menggerakkan mata sepanjang baris-baris tulisan dalam sebuah teks bacaan. Membaca melibatkan aktivitas mental yang dapat menjamin pemerolehan pemahaman menjadi maksimal. Membaca bukan hanya sekadar menggerakkan bola mata dari margin kiri ke kanan tetapi jauh dari itu, yakni aktivitas berpikir untuk memahami tulisan demi tulisan.

(24)

Menurut Ridwan Siregar (2004:94), membaca merupakan suatu proses komunikasi antara penulis dan pembaca. Dalam proses ini terdapat tiga elemen yang harus dipenuhi yaitu penulis (writer), karya tulis (piece of literature) dan pembaca (reader). Dalam proses ini perpustakaan bertindak sebagai perantara antara penulis dan pembaca.

Menurut Hodgson dalam buku Budi Artati (2007:6), membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan satu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang tersurat dan tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.

2.3.3 Tujuan Membaca

Tujuan membaca adalah untuk memperoleh berbagai informasi dari bahan bacaan itu sendiri, dapat merangsang kreativitas seseorang serta membuat wawasan berpikir menjadi luas dan banyak memperoleh informasi baru.

Menurut Rahim (2008:11), adapun macam-macam tujuan membaca yaitu:

1. Kesenangan

2. Menyempurnakan membaca nyaring 3. Menggunakan strategi tertentu

4. Memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik

5. Mengaitkan informasi yang baru dengan informasi yang telah diketahuinya 6. Memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis

7. Mengonfirmasikan atau menolak prediksi

8. Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam cara lain dan mempelajari tentang struktur teks 9. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik

(25)

Sedangkan menurut Darmono (2007:215) dalam kenyataannya terdapat 3 tujuan yang lebih khusus, yaitu :

1. Membaca untuk kesenangan (iseng-iseng saja). Termasuk dalam kategori ini misalnya membaca novel, surat kabar, majalah dan komik. Tujuan membaca jenis ini sebagai Reading for pleasure, bacaan yang dijadikan sebagai suatu kesenangan.

2. Membaca untuk meningkatkan pengetahuan seperti membaca buku-buku pelajaran. Tujuan membaca jenis ini sebagai Reading for intellectual profit.

3. Membaca untuk melakukan suatu pekerjaan. Misalnya, para mekanik, membaca buku resep, dan lain-lain. Dalam hal ini, membaca mempunyai tujuan Reading for work.

Sesuai penjelasan di atas, tujuan membaca tidak hanya berfokus pada suatu tujuan tetapi banyak sekali tujuannya, bisa untuk memperoleh kesenangan, menambah wawasan, mengetahui informasi-informasi yang sedang berkembang saat ini atau hanya sekedar untuk melakukan suatu pekerjaaan. Seseorang yang sudah melakukan kegiatan membaca sudah pasti mempunyai tujuan masing- masing, karena di dalam membaca banyak manfaat yang bisa kita ambil, dan juga dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat agar lebih bisa berpikir kritis dan sistematis serta mendorong tumbuhnya minat baca lalu menjadikan membaca sebagai budaya karena dengan budaya bacalah pendidikan seumur hidup dapat diwujudkan. Ketika kegiatan membaca sudah memiliki tujuan, maka banyak juga manfaat yang bisa dipetik oleh seseorang yang melakukan kegiatan membaca.

2.3.4 Manfaat Membaca

Berdasarkan Jurnal Iqra’ Volume 03 No.01 May, 2009 menurut Fatimah Zuhrah, adapun beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari membaca yakni:

meningkatkan kinerja otak IQ, EQ ,SQ, mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas yang kuat, membuka wawasan dunia yang luas dan kaya, menimba pengetahuan dengan melihat pengalaman hidup dari tokoh cerita yang dibaca, dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan yang praktis, menumbuhkan nilai etika dan moral sesama manusia, mampu mengekspresikan emosi dan

(26)

perasaan yang dimiliki, menajamkan daya ingat, mengerti estetika tulisan keterampilan berbahasa Indonesia yang baik.

Menurut Budi Artati (2007:6), adapun beberapa manfaat membaca sebagai berikut:

1. Merangsang sel-sel otak

Membaca merupakan proses berpikir positif karena menyerap ide dan pengalaman orang lain. Kegiatan ini akan merangsang sel-sel otak. Otak sebagai pengatur kegiatan manusia memiliki struktur dan sifat yang unik, misteri, dan penuh keajaiban. Dalam hal ini ada yang berteori bahwa cerdas tidaknya seseorang tergantung pada volume otaknya. Jadi semakin besar volume otak seseorang ia semakin pandai.

2. Menumbuhkan kreativitas

Dengan membaca kita memperoleh wawasan, pandangan, penemuan, dan pengalaman orang lain. Hasil bacaan ini kemudian kita renungkan dan pikirkan untuk dipraktekkan atau dikembangkan. Cara baca inilah sebenarnya cara baca yang berkualitas. Oleh karena itu, mereka yang kreativitasnya menonjol, rata- rata kemampuan bacanya tinggi. Setelah mereka membaca sesuatu, lalu ada kecenderungan ingin meniru, mengembangkan pemikiran, atau menciptakan yang baru. Hanya orang-orang yang kreatif dan berani yang mampu membawa perubahan.

3. Meningkatkan perbendaharaan kata

Banyaknya kata yang diserap seseorang mempengaruhi kelancaran komunikasi lisan maupun tertulis. Membaca sebagai upaya penyerapan kosakata, pengetahuan tata bahasa, dan pengenalan ungkapan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perbendaharaan kata.

4. Membantu mengekspresikan pemikiran

Ekspresi melalui tulisan berbeda dengan ekspresi melalui lisan. Aktivitas menulis memerlukan penguasaan materi, pemilihan kata, perenungan masalah, dan penyusunan kalimat. Semua aktivitas ini dilakukan dengan cermat, teliti dan penuh pertimbangan.

(27)

Menurut Idris Kamah, dkk (2002:6), menjabarkan manfaat membaca sebagai berikut :

1. Manfaat membaca bagi individu antara lain :

a. Dapat merupakan cara untuk mendalami suatu masalah dengan mempelajari sesuatu persoalan hingga dapat menambah pengetahuan yang berhubungan dengan peningkatan kecakapan.

b. Dapat menambah pengetahuan umum tentang sesuatu persoalan.

c. Untuk mencari nilai-nilai hidup sebagai kepentingan pendidikan diri sendiri.

d. Untuk mengisi waktu luang dengan mengamati seni sastra ataupun cerita- cerita fiksi yang bermutu.

2. Manfaat bagi perkembangan masyarakat antara lain : a. Meningkatkan pengetahuan umum masyarakat

b. Meningkatkan kecerdasan masyarakat sehingga mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk mengembangkan diri

c. Dapat digunakan sebagai media penerangan serta pengarahan terhadap perkembangan masyarakat

d. Menumbuhkan sikap kritis sehingga mampu mengadakan koreksi mengenai adanya hal-hal yang merugikan masyarakat

e. Sebagai media penyampaian gagasan-gagasan baru yang berguna untuk meningkatkan perkembangan masyarakat.

2.3.5 Pembudayaan Gemar Membaca

Dalam UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Bab VIII Pasal 48 s/d 51 tentang Pembudayaan Gemar Membaca sebagai berikut :

Pasal 48

1. Pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat.

(28)

2. Pembudayaan kegemaran membaca pada keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat 1 difasilitasi oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah melalui buku murah dan berkualitas.

3. Pembudayaan kegemaran membaca pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai proses pembelajaran.

4. Pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat- tempat umum yang mudah dijangkau, murah dan bermutu.

Pasal 49

Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat mendorong tumbuhnya taman bacaan masyarakat dan rumah baca untuk menunjang pembudayaan kegemaran membaca.

Pasal 50

Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi dan mendorong pembudayaan kegemaran membaca sebagaimana maksud dalam pasal 48 ayat 2 sampai dengan ayat 4 dengan menyediakan bahan bacaan bermutu, murah, dan terjangkau serta menyediakan sarana dan prasarana perpustakaan yang mudah diakses.

Pasal 51

1. Pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui gerakan nasional gemar membaca.

2. Gerakan nasional gemar membaca sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilaksanakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dengan melibatkan seluruh masyarakat.

3. Satuan pendidikan membina pembudayaan kegemaran membaca peserta didik dengan memanfaatkan perpustakaan.

(29)

4. Perpustakaan wajib mendukung dan memasyarakatkan gerakan nasional gemar membaca melalui penyediaan karya tulis, karya cetak dan karya rekam.

5. Untuk mewujudkan pembudayaan kegemaran membaca sebagaimana dimaksud pada ayat 1, perpustakaan berkerja sama dengan pemangku kepentingan.

6. Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada masyarakat yang berhasil melakukan gerakan pembudayaan gemar membaca.

7. Ketentuan mengenai pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

2.3.6 Faktor-Faktor Gemar Membaca 2.3.6.1 Faktor Pendorong Gemar Baca

Menurut Fuad Hasan dalam Sutarno (2006:27), faktor yang menjadi pendorong atas bangkitnya minat baca adalah:

1. Ketertarikan,

2. Kegemaran dan hobi membaca, dan

3. Pendorong tumbuhnya kebiasaan membaca adalah kemauan dan kemampuan membaca.

Menurut Sutarno NS (2006:29) faktor yang mampu mendorong bangkitnya minat baca masyarakat, adalah :

1. Rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan dan informasi.

2. Keadaan lingkungan fisik yang memadai, dalam arti tersedianya bahan bacaan yang menarik, berkualitas dan beragam.

3. Keadaan lingkungan sosial yang lebih kondusif, maksudnya adanya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membaca.

4. Rasa haus informasi, rasa ingin tahu, terutama yang aktual.

5. Berprinsip hidup bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani.

Berdasarkan Jurnal Iqra Volume 09 No.02 Oktober 2015 menurut M.Hamzah A. Sofyan, adapun hal-hal yang mendorong atau memotivasi seseorang untuk gemar membaca dapat dilakukan dengan dua macam motivasi, yaitu :

(30)

1. Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

a. Adanya kebutuhan, maka seseorang didorong untuk membaca. Misalnya saja seseorang anak ingin mengetahui isi cerita dari sebuah buku komik.

Keinginan untuk mengetahui isi cerita tersebut menjadi daya pendorong yang kuat bagi anak untuk membaca.

b. Adanya pengetahuan tentang kemajuannya sendiri, apabila seseorang mengetahui hasil atau prestasinya sendiri dari membaca, maka ia akan terdorong untuk membaca lebih banyak lagi.

2. Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Jadi motivasi atau tenaga pendorong yang berasal dari luar diri seseorang dengan kata lain merupakan perangsang, hal-hal yang dapat menimbulkan motivasi eksternal tersebut adalah :

a. Hadiah, seseorang anak terdorong untuk melakukan sesuatu menjadi lebih giat lagi. Bagi anak-anak yang memperoleh nilai baik akibat membaca, akan mendorongnya untuk membaca lebih banyak lagi agar memperoleh nilai yang lebih tinggi lagi.

b. Persaingan atau kompetisi, juga merupakan dorongan untuk memperoleh kedudukan atau penghargaan. Kompetisi telah menjadi daya pendorong bagi seseorang untuk membaca lebih banyak lagi.

2.3.6.2 Faktor Penghambat Gemar Baca

Berdasarkan Jurnal Pustakawan Indonesia volume 6 No.1 menurut Leonhardt yang dikutip oleh Abdul Rahman Saleh (2006), berikut faktor-faktor yang menghambat peningkatan minat baca dalam masyarakat dewasa ini :

1. Langkanya keberadaan buku-buku anak yang menarik terbitan dalam negeri.

2. Semakin jarangnya bimbingan orang tua yang suka mendongeng sebelum tidur bagi anak-anak.

(31)

3. Pengaruh televisi yang bukannya mendorong anak-anak untuk membaca, tetapi lebih betah menonton acara-acara televisi.

4. Harga buku yang semakin tidak terjangkau oleh kebanyakan anggota masyarakat.

5. Kurang tersedianya taman-taman bacaan yang gratis dengan koleksi buku yang lengkap dan menarik.

Adapun menurut Damaiwati (2007:29), menyatakan bahwa yang menjadi faktor penyebab rendahnya minat baca adalah :

1. Televisi

Sungguh teramat memprihatinkan ketika proses pembelajaran di keluarga sekarang ini didominasi hasil didikan televisi. Bahasa televisi yang singkat, simpel dan memikat, membuat anak sering ketagihan dan menjadi malas belajar.

Orang yang kebanyakan menonton TV menjadi tidak suka membaca, berfikirnya jadi linier, tidak kritis dan kreatif. Padahal membaca adalah kunci untuk mendapat ilmu. Kunci untuk membangun sebuah peradaban.

2. Kultur Keluarga

Masyarakat kita lebih suka „ngobrol‟ daripada memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca, bercerita lebih umum dibandingkan membaca. Hal itulah yang menyebabkan membaca belum dijadikan sebagai suatu kebiasaan secara terus-menerus dan berkelanjutan yang pada akhirnya akan berakibat pada rendahnya budaya baca dalam suatu masyarakat.

Menurut NS Sutarno (2006:257-258), rendahnya minat dan budaya baca masyarakat terjadi pada kelompok masyarakat yang menghadapi beberapa keterbatasan seperti:

1. Akses informasi dari dan ke perpustakaan.

Keterbatasan akses informasi dari perpustakaan disebabkan beberapa hal seperti kurangnya sosialisasi dan permasyarakatan, publikasi melalui brosur, tempat perpustakaan yang kurang strategis, dan terbatasnya kegiatan perpustakaan yang dapat diketahui atau diikuti oleh masyarakat.

2. Tingkat pendidikannya masyarakat yang masih berada dibawah standar.

(32)

Kita paham betul bahwa pemakai perpustakaan adalah mereka yang berkecimpung dengan dunia informasi dan ilmu pengetahuan, oleh sebab itu masyarakat yang tingkat pendidikannya masih relatif terbatas, dan kondisi lingkungannya kurang mendukung, maka tingkat ketertarikan dan kebutuhannya terhadap layanan perpustakaan juga belum optimal.

3. Kondisi sosial ekonominya pada umumnya kurang menguntungkan.

Untuk sebagian anggota masyarakat yang secara kebetulan kondisi sosial ekonominya belum beruntung, maka perhatian untuk membeli atau memiliki buku kurang. Jadi kebiasaannya membaca dirumah juga terbatas, karena dirumah sedikit atau bahkan jarang membaca, maka minat untuk ke perpustakaan untuk membaca juga berkurang.

4. Layanan perpustakaan kepada masyarakat yang belum merata.

Layanan yang belum merata juga banyak penyebabnya, sementara untuk memperoleh layanan tersebut masyarakat juga harus aktif, misalnya datang ke perpustakaan.

5. Apresiasi dan respon masyarakat masih perlu ditingkatkan

Pada dasarnya apresiasi dan respon masyarakat terhadap perpustakaan berkaitan erat dengan kebiasaan membaca, tingkat pendidikan, dan kondisi serta lingkungannya. Manakala semua itu belum menunjang, maka dapat berakibat terhadap apresiasi dan respon masyarakat.

Sedangkan pendapat yang dinyatakan oleh NS Sutarno (2006:259-260), bahwa minat dan budaya bacanya sudah baik dan menggembirakan berlangsung pada kelompok masyarakat tertentu, antara lain :

1. Masyarakat Terpelajar.

Mereka karena aktivitas kesehariannya harus berhubungan dengan buku dan bahan bacaan lain untuk melengkapi dan mendukung agar tugas-tugas belajarnya berhasil dengan baik.

2. Tingkat kesadaran tentang pentingnya perpustakaan telah meningkat.

Dengan demikian maka mereka dengan sendirinya akan aktif berkunjung ke perpustakaan untuk membaca, belajar dan melakukan kegiatan ilmiah lainnya.

3. Masyarakat memiliki akses dan informasi ke perpustakaan mudah.

(33)

Akses ke perpustakaan yang dapat diperoleh dengan mudah, maka minat dan keinginan untuk ke perpustakaan bertambah, apalagi setelah menyadari bahwa perpustakaan memberikan sesuatu yang berguna baginya, baik dalam belajar, bekerja, mengembangkan ilmu pengetahuan, maupun mencari hiburan.

4. Mereka yang kondisi sosial ekonominya lebih beruntung.

Kebanyakan anggota masyarakat yang makin maju dan kebutuhan dasar hidupnya sudah tidak menjadi masalah maka mereka mencari sesuatu lain.

Perpustakaan yang dapat memberikan dan melayani mereka, tentu merupakan salah satu hal yang menarik, sehingga masyarakat akan tertarik serta mendapat respon yang positif.

5. Jangkauan layanan perpustakaan memadai.

Sebuah perpustakaan yang ada ditengah-tengah masyarakat dengan lingkungan yang terbatas dapat dijangkau dengan mudah, tetapi pada sisi yang lain masih ada masyarakat yang relatif jauh atau sulit dijangkau oleh layanan perpustakaan. Maka perlu diupayakan peningkatan layanan, misalnya dengan unit perpustakaan keliling atau mengembangkan perpustakaan cabang, layanan paket dan layanan lain sejauh memungkinkan.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa budaya baca di masyarakat tidak dapat berkembang secara instan tetapi membutuhkan proses, kesabaran, usaha dan waktu yang tidak singkat serta dilakukan secara terus- menerus sampai budaya bacapun dapat terwujud di masyarakat.

2.3.7 Upaya Pengembangan Gemar Baca

Menurut Sutarno (2006:28) sehubungan dengan minat, kebiasaan, dan budaya baca tersebut, paling tidak ada tiga tahapan yang harus dilalui yaitu : 1. Adanya kegemaran karena tertarik bahwa buku-buku tersebut dikemas dengan

menarik, baik desain, gambar, bentuk dan ukurannya.

2. Setelah kegemaran tersebut di penuhi dengan ketersediaan bahan dan sumber bacaan yang sesuai dengan selera, ialah terwujudnya kebiasaan membaca.

3. Jika kebiasaan membaca itu dapat terus-menerus dipelihara, tanpa gangguan elektronik, yang bersifat entertainment, dan tanpa membutuhkan keaktifan

(34)

fungsi mental. Oleh karena seorang pembaca terlibat secara konstruktif dalam menyerap dan memahami bacaan, maka tahap selanjutnya ialah bahwa membaca menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi.

Setelah tahap-tahap tersebut dapat dilalui dengan baik, maka pada diri seseorang tersebut mulai terbentuk adanya suatu budaya baca. Sebuah budaya baca memberikan corak warna, yang tergambarkan dalam pola pikir, sikap, perilaku, seperti bagaimana cara pandang dan respon dalam kehidupan sehari-hari yang apa adanya, alamiah, dan kultural.

Sehubungan dengan tiga tahapan yang harus dilalui diatas menurut penjelasan Sutarno (2006:28) sesuai dengan minat, kebiasaan, dan budaya baca tersebut, adapun proses pembentukan budaya baca sebagai berikut:

Gambar 1. Proses Pembentukan Budaya Baca

Banyaknya jenis dan beragam koleksi yang ada di perpustakaan akan menimbulkan selera atau minat untuk membaca, selanjutnya minat baca akan menghasilkan kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca tidak bisa berkembang tanpa ada koleksi yang menimbulkan selera, minat dan kebiasaan membaca. Jadi, antara koleksi dan kebiasaan saling mempengaruhi. Koleksi dapat berkembang karena minat dan kebiasaan membaca yang ditandai dengan banyaknya permintaan bahan pustaka dari para pencari informasi atau permintaan pemustaka.

Sebaliknya kebiasaan membaca tercipta karena ketersediaan koleksi bacaan yang Koleksi

Selera

Minat Baca

Kebiasaan Baca Budaya Baca

(35)

bermutu, terutama yang dapat menimbulkan selera untuk membaca. Dengan adanya kebiasaan membaca maka terciptanya budaya baca pada masyarakat.

2.4 Bercerita

Menurut Bachtiar, (2005:10), Bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan atau suatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain.

Dengan demikian bercerita dalam konteks komunikasi dapat dikatakan sebagai upaya mempengaruhi orang lain melalui ucapan dan penuturan tentang sesuatu (ide).

Menurut Winda Gunarti dkk, (2008:5.3), bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan pesan, informasi atau sebuah dongeng belaka, yang bisa dilakukan secara lisan dan tertulis dan merupakan sebuah metode dari suatu kegiatan pengembangan yang ditandai dengan pendidik memberikan pengalaman belajar kepada anak melalui pembacaan cerita secara lisan.

Kedua pendapat para ahli diatas merupakan pendapat yang saling terkait.

Dalam kedua pendapat menjelaskan kegiatan bercerita memberikan sumbangan besar pada perkembangan anak secara keseluruhan sebagai implikasi dari perkembangan bahasanya sehingga anak akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan kemampuan dan komunikasi dengan baik.

Metode bercerita merupakan cara untuk menyampaikan nilai-nilai yang bertutur dan menyampaikan cerita atau memberikan penjelasan secara lisan.

Bercerita juga merupakan cara untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Isi cerita berkaitan dengan:

1. Dunia kehidupan yang penuh suka cita, yang menuntut isi cerita memiliki unsur yang dapat memberikan perasaan gembira, lucu, menarik, mengasyikan bagi anak

2. Disesuaikan dengan minat anak yang biasanya berkenaan dengan binatang, tanaman, kendaraan, boneka, robot, planet, dan lain sebagainya.

(36)

3. Tingkat usia, kebutuhan dan kemampuan anak menangkap isi cerita berbeda- beda, maka cerita yang diharapkan haruslah bersifat ringkas atau pendek dalam rentang perhatian anak.

4. Membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan menanggapi setelah guru selesai bercerita.(Mukhtar Latief dkk, (2013: 111).

Muh Nur Mustakim, (2005:122), mengemukakan tujuan dari kegiatan penceritaan atau reroduktif cerita untuk memperoleh berbagai manfaat perkembangan anak dari yang ditimbulkan oleh bentuk dan isi cerita.

2.5 Wisata Baca (Library Tour)

Menurut Badollahi Mustafa (2010:127), menyatakan bahwa wisata perpustakaan adalah terjemahan dari kata Library Tour. Bentuk kegiatan jenis ini yaitu mengajak serombongan orang untuk berkeliling perpustakaan guna melihat semua sudut di perpustakaan bahwa disana ada petugas perpustakaan yang memberi penjelasan mengenai koleksi, fasilitas yang ada, cara-cara menggunakan fasilitas serta bagaimana menemukan informasi dan apa manfaatnya bagi mereka.

Melalui kegiatan wisata perpustakaan diharapkan pengguna dapat mengetahui secara langsung apa yang dimiliki perpustakaan yang bermanfaat bagi mereka dan bagaimana menggunakannya. Program wisata perpustakaan dapat diumumkan kepada sekolah-sekolah. Hal itu dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan beberapa sekolah. Biasanya pesertanya adalah anak-anak sekolah. Kegiatan wisata perpustakaan akan memberi pengaruh positif kepada anak-anak sekolah pada khususnya. Dalam jangka panjang hal itu akan berpengaruh pada pola perilaku pencari informasi di pepustakaan. Jadi, kegiatan ini diadakan khusus untuk menumbuhkan rasa cinta anak-anak pada perpustakaan.

Sedangkan menurut Rahayuningsih (2007:109), wisata perpustakaan, yaitu teknik pendidikan pengguna dengan cara memandu pengguna melihat langsung ruangan, koleksi, layanan yang ada di perpustakaan.

(37)

2.6 Mendongeng (Storytelling)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI (2008:145), dongeng diartikan sebagai cerita yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng adalah suatu kisah fiktif yang bisa juga diambil dari kisah asli atau sejarah kuno yang dibentuk dari unsur tertentu. Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga dongeng yang melukiskan kebenaran, berisi ajaran moral, bahkan sindiran (Agus, 2008).

Menurut Echols “storytelling terdiri atas dua kata yaitu story yang berarti cerita, dan telling berarti penceritaan.” Penggabungan dua kata tersebut (storytelling) berarti penceritaan cerita atau menceritakan cerita. Menurut Joseph Frank yang dikutip oleh Asfandiyar, storytelling merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), sosial, dan aspek konatif (penghayatan) anak-anak (Asfandiyar, 2007). Menurut Abdul Aziz Abdul Majid paling tidak ada 3 komponen dalam bercerita, yaitu: (1) storyteller (pencerita); (2) cerita atau karangan yang disampaikan, (3) penyimak (Majid, 2013). Tujuan storytelling adalah mengembangkan beberapa aspek yaitu aspek perkembangan bahasa, aspek perkembangan sosial, aspek perkembangan emosi, aspek perkembangan kognitif, dan aspek perkembangan moral (Musfiroh, 2005). Manfaat storytelling yaitu untuk membantu pembentukan pribadi, moral, dan sosial, menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi, memacu kemampuan verbal, dan merangsang kecerdasan emosi (Musfiroh, 2005). Menurut Moeslikhatoen R (Farida, 2008), beberapa macam teknik storytelling, antara lain yaitu storytelling dengan membaca buku cerita, ilustrasi gambar, papan flannel, media boneka, dramatisasi, dan memainkan jari tangan. Ada tiga tahapan dalam storytelling, yaitu persiapan sebelum storytelling, saat proses storytelling berlangsung, dan kegiatan storytelling selesai (Bunanta, 2009).

Bunanta (2009) menyebutkan terdapat dua teknik yang dapat digunakan dalam proses mendongeng yaitu teknik read aloud dan teknik mendongeng tanpa

(38)

teks (storytelling).

1. Teknik read aloud

Teknik read aloud merupakan sebuah teknik yang menyampaikan cerita dengan menggunakan media buku dan dilakukan dengan cara membacakan buku tersebut dihadapan audience. Dengan teknik ini pendongeng dapat duduk di depan audience dan apabila audience hanya terdiri dari beberapa orang saja maka pendongeng dapat duduk di tengah-tengah audience. Hal yang harus dipertimbangkan dalam teknik ini adalah terkait dengan jumlah audience. Jika jumlah audience terlalu banyak maka pendongeng tidak dapat menjangkau mereka semua, sehingga audience tidak dapat melihat dengan jelas buku yang dibacakan baik gambar ataupun bentuk tulisannya. Kadang-kadang agar dapat melihat tulisan dan gambar dengan jelas anak-anak akan maju dan mendekati buku yang dipegang pendongeng, kemudian anak-anak yang lain akan ikut- ikutan melihat dari dekat sehingga anak-anak yang lain tidak dapat melihat dan akhirnya suasana read aloud menjadi tidak kondusif. Pendongeng yang memakai teknik read aloud biasanya sudah hapal dan tahu keseluruhan isi teks dari buku yang ia bacakan, ia biasanya akan memegang buku di depan badannya setinggi mata audiencenya sehingga mereka semua dapat melihat dengan jelas. Tetapi jika pendongeng ragu-ragu dan merasa perlu untuk melihat teksnya ia biasanya memegang buku ke sebelah kiri atau kanan tubuhnya agar ia dapat melihat untuk membaca teksnya. Cara lain yang dapat digunakan adalah dengan cara menempelkan kertas kecil yang berisikan kata kunci yang mengingatkan pendongeng pada cerita yang ia bacakan di belakang buku, sehingga pada saat membacakan buku pendongeng tidak terpaku pada teks cerita yang dibacakan dan dapat melihat audiencenya untuk memperhatikan reaksi mereka. Pembacaan cerita dapat dimulai dengan cara menyebutkan nama pengarang, judul, serta secara sekilas memperlihatkan gambar-gambar ilustrasi dalam cerita yang akan dibacakan. Hal ini akan menambah wawasan dan pengetahuan anak tentang cerita dan nama pengarang dari cerita-cerita tersebut. Pada saat membaca, perhatikan pula tempo ketika membacakan cerita, sebaiknya jangan terlalu cepat, tergesa-gesa atau terlalu perlahan seperti sedang mengajarkan anak membaca.

(39)

2. Teknik mendongeng tanpa teks (Storytelling)

Penggunaan teknik mendongeng ini memberikan ruang bagi pendongeng untuk melakukan improvisasi dan berkreasi dalam menyampaikan cerita yang didongengkan serta memicu anak untuk berimajinasi serta berfantasi dengan pikiran mereka. Namun, pada waktu mendongeng sebaiknya jangan terlalu berlebihan karena hal ini akan mengalihkan perhatian anak bukan pada cerita, tetapi lebih kepada penampilan dari pendongeng. Hal ini akan berakibat pada proses penangkapan anak terhadap pesan atau nilai dari cerita yang dibawakan.

Ketika memulai cerita, pendongeng dapat mengajak anak untuk membayangkan lokasi kejadian dan tokoh-tokoh yang ada pada cerita, misalnya di tepi sungai, di dasar lautan, seorang kakek yang tua renta, si kancil yang nakal, dan memberikan sedikit pengantar untuk suasana yang ada di dalam cerita. Pendongeng juga dapat menyanyikan lagu anak-anak yang sesuai dengan cerita yang dibawakan, dan biasanya secara spontan anak-anak akan mengikuti menyanyikan lagu tersebut jika mereka tahu lagu tersebut. Kelebihan pada teknik mendongeng ini adalah pendongeng dapat menjangkau jumlah audience yang lebih banyak jika dibandingkan dengan teknik read aloud. Pendongeng dapat membuat cerita sendiri yang akan didongengkan sehingga tidak terpaku pada teks atau cerita dari buku. Teknik mendongeng ini juga memungkinkan penggunaan alat peraga seperti boneka tangan, boneka tali, kain, ataupun gambar ilustrasi serta musik.

2.7 Film

Film adalah gambar-hidup yang juga sering disebut movie. Film secara kolektif sering disebut sebagai sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak. Film adalah sekedar gambar yang bergerak, adapun pergerakannya disebut sebagai intermitten movement, gerakan yang muncul hanya karena keterbatasan kemampuan mata dan otak manusia menangkap sejumlah pergantian gambar dalam sepersekian detik. Film menjadi media yang sangat berpengaruh, melebihi media-media yang lain, karena secara audio dan visual dia

(40)

bekerja sama dengan baik dalam membuat penontonnya tidak bosan dan lebih mudah mengingat, karena formatnya yang menarik.

Adapun menurut Marseli Sumarno (2006) klasifikasi film adalah sebagai berikut:

1. Menurut Jenis Film a. Film Cerita (Fiksi)

Film cerita merupakan film yang dibuat atau diproduksi berdasarkan cerita yang dikarang dan dimainkan oleh aktor dan aktris. Kebanyakan atau pada umumnya film cerita bersifat komersial. Pengertian komersial diartikan bahwa film dipertontonkan di bioskop dengan harga karcis tertentu. Artinya, untuk menonton film itu di gedung bioskop, penonton harus membeli karcis terlebih dulu. Demikian pula bila ditayangkan di televisi, penayangannya didukung dengan sponsor iklan tertentu pula.

b. Film Non Cerita (Non Fiksi)

Film noncerita adalah film yang mengambil kenyataan sebagai subyeknya.

Film non cerita ini terbagi atas dua kategori, yaitu :

1) Film faktual : menampilkan fakta atau kenyataan yang ada, dimana kamera sekedar merekam suatu kejadian. Sekarang, film faktual dikenal sebagai film berita (news-reel), yang menekankan pada sisi pemberitaan suatu kejadian aktual.

2) Film dokumenter : selain fakta, juga mengandung subyektifitas pembuat yang diartikan sebagai sikap atau opini terhadap peristiwa, sehingga persepsi tentang kenyataan akan sangat tergantung pada si pembuat film dokumenter tersebut.

2. Menurut Cara Pembuatan Film a. Film Eksperimental

Film Eksperimental adalah film yang dibuat tanpa mengacu pada kaidah- kaidah pembuatan film yang lazim. Tujuannya adalah untuk mengadakan eksperimentasi dan mencari cara-cara pengucapan baru lewat film. Umumnya

(41)

dibuat oleh sineas yang kritis terhadap perubahan (kalangan seniman film), tanpa mengutamakan sisi komersialisme, namun lebih kepada sisi kebebasan berkarya.

b. Film Animasi

Film Animasi adalah film yang dibuat dengan memanfaatkan gambar (lukisan) maupun benda-benda mati yang lain, seperti boneka, meja, dan kursi yang bisa dihidupkan dengan teknik animasi.

3. Menurut Fungsinya

Pada dasarnya, fungsi film berkaitan erat dengan manfaat. Menurut Djohan Tjasmadi (dalam http://thesis.binus.ac.id, 06 November 2013) mengelompokkan film berdasarkan fungsinya adalah sebagai berikut : 1. Film sebagai media seni. Dalam hal ini suatu film dianggap memiliki

nilai seni karena di dalamnya mengandung unsur-unsur artistik seperti sinematografi, seni peran, seni suara, dan berbagai hasil citra, rasa, dan karsa para pembuatnya.

2. Film sebagai media hiburan. Dalam hal ini film memiliki fungsi sebagai tontonan yang bersifat dengar-pandang (audio visual).

3. Film sebagai media informasi. Karena film untuk menyampaikan pesan yang ada di dalamnya kepada penonton.

(42)

BAB III

PROGRAM PEMBUDAYAAN GEMAR MEMBACA PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP KABUPATEN DELI SERDANG

Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang merupakan penggabungan dari Kantor Perpustakaan Umum Deli Serdang dengan Kantor Arsip Deli Serdang yang diatur dengan peraturan Daerah No. 05 Tahun 2007 tentang pembentukan organisasi dan tata kerja perangkat daerah Kabupaten Deli Serdang yang merupakan unsur penunjang daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Kantor yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Salah satu tujuan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang adalah mewujudkan masyarakat yang cerdas dan gemar membaca. Adapun program-program yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan gemar membaca adalah sebagai berikut:

3.1 Program Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang

Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang memiliki beberapa program dalam mencapai tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan gemar membaca. Program tersebut dinamakan Program Pembinaan dan Pembudayaan Budaya Baca. Program ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu sesi pembinaan dan sesi pembudayaan. Adapun program-program tersebut di Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang adalah sebagai berikut :

3.1.1 Sesi Pembinaan

Sesi pembinaan merupakan salah satu sesi kegiatan program budaya baca yang dilaksanakan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang. Sesi ini merupakan sesi pembinaan atau bimbingan yang dilakukan oleh para pegawai Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang kepada masyarakat.

Adapun beberapa kegiatan dalam sesi pembinaan ini adalah sosialisasi pengelola perpustakaan desa, pembinaan perpustakaan desa, dan monitoring dan evaluasi pelaporan perkembangan perpustakaan desa. Sosialisasi pengelola perpustakaan

(43)

desa ini dilakukan sekali dalam setahun dimana sosialisasi tersebut hanya mengundang para pegawai perpustakaan yang mengelola perpustakaan desa datang ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang. Sedangkan kegiatan pembinaan perpustakaan desa, dan monitoring dan evaluasi pelaporan perkembangan perpustakaan desa dilakukan ke desa-desa. Para pegawai Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang biasanya melakukan kunjungan ke 50 desa setiap tahunnya dimana dalam satu bulan biasanya mengunjungi 4 sampai 5 desa.

3.1.2 Sesi Pembudayaan

Sesi pembudayaan merupakan kegiatan program dalam budaya baca.

Dalam sesi ini terdiri dari beberapa kegiatan dalam mengembangkan budaya baca di masyarakat. Adapun kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :

3.1.2.1 Lomba Bercerita

Program pembudayaan kegemaran membaca pertama yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang adalah lomba bercerita. Program lomba bercerita ini sudah ada sejak tahun 2007 sejak tergabungnya Kantor Arsip Kabupaten Deli Serdang dengan Perpustakaan Umum Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan lomba bercerita ini bertujuan untuk mengembangkan bakat dan minat baca pada anak-anak serta kecintaan terhadap budaya bangsa melalui berbagai bacaan dan buku dalam membangun karakter, kecerdasan dan inovasi masyarakat. Kegiatan ini juga dapat mengangkat dan mempopulerkan budaya daerah serta mengambil hikmah dari setiap cerita yang dibawakan dan meningkatkan rasa percaya diri dan keberanian anak-anak untuk tampil dan berbicara di depan orang banyak.

Sebelum lomba bercerita ini diadakan, panitia dalam kegiatan ini melaksanakan kegiatan mulai dari mengirimkan surat kepada pihak Kepala Sekolah, mempersiapkan segala hal yang berkenaan dengan lomba, melakukan koordinasi dengan peserta dan tim juri, serta melaporkan hasil kegiatan kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan lomba bercerita ini hanya diadakan sekali dalam setahun pada bulan Oktober, November, maupun Desember. Kegiatan lomba bercerita yang dilakukan menggunakan

Gambar

Gambar 1. Proses Pembentukan Budaya Baca
Tabel 2. Berdasarkan Pangkat dan Golongan
Tabel 3. Jumlah Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan (Pendidikan Formal)
FOTO KEGIATAN PROGRAM PEMBUDAYAAN GEMAR MEMBACA
+4

Referensi

Dokumen terkait