4.1 Hasil Penelitian
4.1.7 Faktor faktor kelompok kerja guru
Hasil wawancara dengan ke tiga kepalah sekolah dan satu anggota kelompok kerja guru, mengklasifikasikan faktor faktor yang mempengaruhi jalan-nya proses kegiatan kelompok kerja guru (GTP) berikut hasil wawancara nya:
Faktor faktor yang menghambat jalanya kegiatan kelompok kerja guru meliputi:
ketresedian waktu guru yang sangat terbatas, faktor keuangan karena dalam implementasinya hanya berdasarkan kontribusi dari guru guru. Sarana prasarana penunjang kegatan KKG masih sangat terbatas, kementrian pendidikan belum secara maksimal menetapkan KKG sebagai wadah dalam peningkatkan profesionalisme guru, masih kurangnya komitmen guru untuk berpartisipasi dalam kegiatan KKG yang diselengarakan oleh sekolah atau kementrian pendidikan. Sedangkan faktor penunjang nya adalah peranan kepalah sekolah dalam mengontrol dan mengevalsuasi setiap kegiatan yang dilakukan oleh sekolah termasuk pelaksanaan KKG. (KPS 1)
Kebanyakan guru yang tinggal jauh dari sekolah sehingga menyulitkan mereka untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok kerja guru, monitoring dan proses pengontrolan dari kementrian masih belum maksimal, tidak ada proses pendanaan secara khusus dari kementrian untuk sekolah dalam memfasilitasi pelaksanaan kegiatan kelompok kerja guru
26 (KKG), semuanya dikontrol dibawah kendali Kementrian Pendidikan, manual KKG (buku pedoman GTP) masih dalam proses diskusi).
Implementasi kegiatan KKG berdasarkan dengan kondisi real menunjukan bahwa banyak faktor yang sangat mempengaruhi pelaksanaan kegiatan ini, salah satu nya adalah perubahan struktur birokrasi, sejalan dengan itu kepala sekolah memberikan tanggapan sesuai dengan kondisi real yang berlaku: berikut hasil wawancara dengan kepala sekolah SD Farol dan kepala sekolah karidade:
Struktur kepemimpinan dari kementrian mempengaruhi kegiatan pembelajaran termasuk kegiatan kelompok kerja guru, hal ini saya katakan karena bahwa pada masa implementasi KKG waktu pemerintahan dulu berkomiten untuk mengembangkan keprofesionalan guru melalaui berbagai kegiatan baik dari pelatihan dan kurusus bahasa portuges, pelatihan spesifik terhadap materi pembelajaran (bidang studi guru), dan metode pembelajaran yang efektif, maupun pengembagan keprofesionalan guru melalaui kegiatan kolaboratif seperti GTP (KKG) karena danya perubuahan strukur kepemimpinan baik dari mentri sampai pada nevel director (KP 2).
Sementara kepala sekolah Caridade menyebutkan bahwa faktor faktor yang mempengaruhi kegiatan KKG ini adalah pemateri yang hanya berlandaskan pada struktur sekolah yakni kepala sekolah, sehingga mempengaruhi motivasi intrinsik guru untuk mengikuti kegiatan kelompok kerja guru, berikut hasil wawancaranya:
KKG atau GTP merupakan kegiatan yang telah dilakukan pada jaman pemerintahan Indonesia, sehingga kami mengetahui proses implementasi kegiatan tersebut.
Perbedaanya pematri benar benar menguasai materi yang disampiakan (Pemateri seorang spesifik dalam metri yang diajarkan) , sistem pendanaanya benar benar terorganisir secara sistematis, dan kepala sekolah mempunyai wewenang untuk mengelolah keuangan berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan kelompok kerja guru. (KP3)
Hasil wawancara tersebut di interpretasikan bahwa kepala sekolah secara hirarki struktural mempunyai peranan dalam mempertangungjawabkan proses pembelajaran dari berbagai aspek tak terkecuali juga sebagai instruktur atau trainer dalam berbagai pelatihan pelatihan yang diselengarakan oleh dinas pendidikan dengan mengikuti pelatihan training of trainer (TOT). hal ini telah di atur dalam peraturan kementrian pendidikan no 20 tahun 2010 tentang estatuto da carreira dos educadores de infância e dos professores do ensino básico e secundário (status karir guru atau pengajar SD sampai SMA) pasal 33 ayat 3 menyebutkan bahwa guru senior merupakan guru yang menduduki fungsi kepemimpinan yang sudah terketegori professional sehingga mempunyai tanggung jawab dalam mengelola kinerja
27 manajemen sekolah, pelatihan pelatihan yang berhubungan kompetensi pedagogi, dan kompetensi professional. Materi materi yang dibahas umumnya bersfiat diskusi terutama pembagian jadwal diantara sesama guru bidang study, mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (dezenvolve Plano lição).
4.2 Pembahasan
Hasil penelitian menunjukan bahwa pengembangan profesionalisme guru melalui kegiatan kelompok kerja guru khususnya di Sub Distrik Dom Alixo Distruk Dili Timor Leste, masih memiliki berbagai kendala, baik dari aspek organisasi, keuangan, kebijakan dari kementrian pendidikan maupun komitemen dari guru guru sendiri dalam melaksanakan kegiatan Kelompok Kerja Guru itu sendiri.
Peraturan Pemerintah Timor Leste melalui Kementrian Pendidikan Pemudah dan Olaragah (lei base da educação) No14 tahun 2008, pada Pasal 6 tentang Recurcos Humanos da Educação (Sumber Daya Manusia dalam Pendidikan), ayat 48 alinea ke II menyebutkan bahwa kulaifikasi jenjang pendidikan untuk sekolah dasar adalah D3 (Basarelato) dan maksimum (S1).
Peraturan perundang undangan tersebut dengan jelas telah memformulasikan para guru dan calon guru untuk bisa memenuhi standar yamg telah ditetapkan, terkecuaili para pendidik yang telah mengabdi sebagai guru dengan jangkauan waktu yang telah lama dengan jenjang pendidikan yang masih SMA, kebijakan pemerintah dalam hal ini adalah dengan menyetarakan guru guru tersebut melalui pelatihan yang disebut sebagai pelatihan lanjutan (formação Continuar), tujuan dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan tingkat profesionalistas guru dalam mencapai kualitas pendidikan yang diharapkan. Kebijakan ini menjadi masalah dalam pengembangan mutu pendidikan, karena melihat bahwa keprofesian seorang guru dituntut adanya kehalian dan keahlian tersebut harus dilalui melalui pendidikan tinggi supaya diakui oleh masyarakat luas (Aan, 2012). kenyataan yang ada menunjukan bahwa masih ada guru guru yang belum mendapatkan keahliannya dalam mengajar, tetapi dikuatkan melalui berbagai pendidikan dan pelatihan pelatihan baik dari segi pengusaan bahasa, metode pembelajaran, media pembelajaran maupun proses proses afektf dan phisikomotor (Psikologi anak), bila proses ini tidak dilihat dengan cermat maka mutu pendidikan akan semakin merosot, kemajuan pendidikan dalam era saat ini sudah menuju ke tahap era teknologi 4.0 sehinga setiap negara harus memperhitungkan kulitas sumber daya manusia nya yang handal.
28 Sadirman dalam (Sulasmono et al, 2017) menyatakan bahwa pengembangan keperofesian guru dapat melalui berbagai kegiatan diantaranya adalah in service training atau pelatihan dalam jabatan dapat berupa in house training, workshop, serta Kelompok Kerja Guru. Pelatihan pelatihan tersebut akan bedampak pada penunjangan karir guru, semakin banyak guru mengikuti pelatihan pelatihan maka akan cenderung meningkatkan karirinya sebagai seorang guru. Dalam konteks situasi pengembangan keprofesian guru khususnya di Sub Distrik dili dan Timor Leste pada umumya, penyelenggaraan pelatihan pelatihan tersebut masih bersifat konvensional dan masih debirokratisasi. Bersifat konvensional artinya pelatihan guru guru tersebut diselengarakan tergantung pada perencanaan dari kementrian dan prosedurnya belum secara sistematis, sehingga menyebabakan guru guru interdependen kepada kebijakan kebijakan yang telah diusung oleh pemerintah. Pengembangan diri dari personal seorang guru kurang diperhatikan karena semua terorganissir oleh kementrian. Sedangkan pelatihan masih bersifat debirokratsisasi adalah seluruh kegiatan yang berhubungan dengan proses pembelajaran dan pelatihan guru terkordenasi dan dikontrol oleh pemerintah pusat, sehingga dinas pendidikan kabupaten dan sekolah sangat tergantung pada proses birokrasi dari pemerintah pusat.
Peraturan kementrian pendidikan No 20/2010 tentang Estatuto da Carreira docente, pasal 21 tentang model pelatihan guru yang menyebutkan bahwa kegiatan pengembangan keprofesian guru dapat dilakukan melalui tiga model pelatihan yang dibagi atas: formação inicial (pelatihan awal), Formação continuar (pelatihan lanjutan) dan formação especializada (pelatihan espesifik).
Pelatihan awal pada pasal 22 menyebutkan bahwa pelatihan yang ditempuh dalam jenjang pendidikan akademik terakreditasi dan dapat ditempuh melalui cursos complementar (pelatihan komplementar). Pelatihan lanjutan (formação Continuar) tertara dalam pasal 23 mendeskripsikan bahwa tujuan dari pelatihan lenajutan ini adalah untuk menjamin pengembangan dan aktualisasi fungsinya sebagai seorang guru seacara menyeluruh, fleksibel serta pengembangan karir guru secara berkesinambungan. hasil dari pelatihan ini ebagai dasar untuk mengukur kinerja guru dalam melaksanakan fungsinya, pengembangan karir, sebagai kriteria dalam penempatan guru, acuan dalam pengangkatan kepala sekolah atau wakil kepalah sekolah. sedangkan Formação Especializada (pelatihan spesifik) secara detail tertera dalam pasal 24 menyebutkan bahwa pelatihan ini dilakukan kepada guru secara khusus untuk jenjang pendidikan kejuruan ataupun sekolah menengah atas.
29 4.2.1 Implementasi kegiatan kelompok kerja guru dalam meningkatkan Profesionalisme
guru SD di Sub-Distrito Don Aleixo, Distrito Dili, Timor Leste.
Day dalam (Rose & Reynolds, 2007), mendefenisiskan pengembangan keprofesian guru adalah sebagai betrikut: pegembangan profesional guru merupakan semua sifat dari pegalaman belajar yang bertujuan unutk memberikan manfaat bagi guru maupun sekolah yang memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pembelajaran dikelas. Proses pengembangan ini dapat dilakukan, baik oleh guru sendiri maupun dengan pihak pihak yang lain yang mempunyai tanggung jawab untuk meninjau dan memperbaharui kemampuan keprofesional guru, karena guru merupakan agen perubahan dalam meransang pengetahuan kognetif, afektif maupun phisikomotrik siswa, maka proses pengembangan keprofesian guru diperlukan komitmen guru untuk dapat mengembangkan pengetahuannya.
Kontek ini di hubungkan dengan kondisi keprofesional guru di negara yang baru merdeka merupakan suatu hal yang kontradiks dengan keadaan dan situasi yang dihadapai oleh suatu negara, diamana pengembagan keprofesional guru terakomodir oleh birokrasi pemerintah pusat dikarenakan karena kuangnya kepercayaan pemerintah terhadap struktur pemerintah yang paling bawah sehingga berdampak pada kinerja atau produktifitas guru yang merosot. Disamping itu komitmen guru untuk mengikuti berbagai kegiatan pengembangan bukan didasarkan atas pemahaman keprofesiannya, melainkan sebuah tuntutan perarturan dan sekaligus sebagai aspek mencari keuntugan ekonomi dalam kegiatan tersebut. Keadaan ini diklarifikasikan oleh (Siagian
& Luthan, 2008)) yang mengutip tentang teori motivasi Meclelland atau teori kebutuhan berprestasi yang dikenal dengan teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau need for Acievment yang menjustifikasikan bahwa terdapat motivasi yang beranakaragam dan sesuai dengan tingkat ketercapayan seseorang dalam berprestasi.
Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah dan anggota guru kelompok kerja guru di Sub distrito Don Aleixo, Distrito Dili (Sub Distrito Don Aleixo, Distrito Dili, timor Leste) menggambarkan pengembangan keprofesian guru dapat melalui kegitan kelompok kerja, pelatihan pelatihan (In service Training), Seminar dan Workshop. Berdasarkan data informasi yang didapat dari ke tiga kepala sekolah dan satu orang guru anggota KKG, pengembangan keprofesian guru belum dilakukan secara optimal, sistematis, dan prosedural, kegiatan pegembangan tersebut dilakukan dalam kondisi yang sangat terbatas, dengan demikian seperti yang dikutip dalam Direktorat umum Mutu pendidikan yang mengegaskan bahwa kegiatan KKG dapat dilakukan dengan melalui revormulasi pembelajaran, berdiskusi tentang masalah
30 yang dihadapi dalam proses pembelajaran dan kegiatan kegiatan lainnya yang dianggap penting.
Hal ini dapat dimengerti dari beberapa kesamaan informasi dari informan yang menyatakan bahwa proses pelaksanaan pengembangan kegiatan KKG dilakukan atas dasar inisiatif sekolah dan cakupan materi yang dibahas juga sangat terbatas, disamping itu buku pedoman kegitan KKG belum diformulasikan oleh kementrian pendidikan. Konteks dikorelasikan dengan pendapat Danim dalam (Goleman, et al, 2019) yang menyatakan bahwa pengembangan profesionalitas guru dapat dilakukan atas kebutuhan institusi, Kelompok guru, ataupun personal sebagai guru. Ketiga asas pengembangan tersebut asas yang paling utama adalah pengembangan keprofesionalan berdasarkan atas personal atau individu, karena dinilai bahwa individulah yang mempunyai motivasi intrinsic karena perubahan dalam ilmu pengetahuan atau pendidikan pada umumnya bersifat dinamis, maka guru dituntut untuk selalu peka terhadap berbagai situasi tersebut.
Aspek aspek dalam pelaksanaan kegiatan KKG di Dili dapat dilihat dari beberapa aspek:
a. Standar Program
Pelaksanaan kegiatan KKG sesuai dengan peraturan kementrian 14/2008 dimana peraturan tersebut sebagai landasan bagi sekolah untuk melaksanakan kegatan KKG, secara umum kementrian pendidikan belum mengklasifikasikan atau mengelaborasikan peraturan tersebut kedalam standar khsusus, sehingga implementasi kegiatan KKG tergantung pada peranan situasi sekolah dan kepalah sekolah. Jadwal pelaksanaan KKG dilakukan setiap hari sabtu, dan frekensi pelaksanaan tergantung pada situasi yang dihadapi oleh guru.
b. Standar Keuangan
Proses birokrasi masih terlalu rumit, sehingga menyebabkan semua pelaksanaan program kegiatan harus di bawah kendali oleh pemerintah pusat dan akibatnya pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan profesi guru juga sangat tergantung pada kebijakan pemerintah pusat, maka proses keuangan untuk memfasilitasi pelaksanaan GTP (KKG) sebagai indikator utama dalam keberhasilan pengembangan keprofesian guru, khsusnya di Distrito Dili dan Timor Leste Pada umumnya, disamping itu, penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Negara untuk ITEM Formação Profesores atraves de Grupu Trabalho Professores (GTP) tidak tercantum secara spesifik dalam proses penyusunan anggaran.
c. Standar Pengelolaan
31 Standar pengelolaan KKG tergantung pada kebijakan sekolah dalam hal ini adalah kepalah sekolah, dalam menyusun metode KKG yang kolaboratif, efektif, dan efisien. Sesuai dengan hasil yang diperoleh menunjukan bahwa metode yang digunakan dalam kegiatan GTP atau KKG ini adalah metode partisipatif dimana semua guru diberikan kesempatan yang sama dalam memberikan masalah, yang dialamai oleh guru dalam dari proses pembelajaran dikelas. Sehingga proses pelaksanaan KKG ini berdasarkan analisis kebutuhan yang dihadapi oleh guru, setelah dianalisis masalah masalah yang diberikan oleh guru maka tahap selanjutnya adalah pemecahan masalah. Dalam tahap ini, kepalah sekolah merumuskan masalah masalah yang dihadapi oleh guru dan selanjutnya didiskusikan secara bersama melalui Grupo Trabalho Profesores (kegiatan Kelompok kerja Guru). Pada umumnya masalah masalah yang dihadapi oleh guru adalah penyusuan rancangan pembelajaran, (dezenvolve Plano Lição), pembagian matari pelajaran, serta masalah masalah yang dianggap mempengaruhi proses pembelajaran sekolah (Pelatihan suatu mata pelajaran tertentu).
Berhubungan dengan struktur kepalah sekolah sebagai pemimpin sekolah, maka pematri atau trainer dalam GTP (KKG) dilakukan oleh kepalah sekolah dan wakil kepalah sekolah. Proses pendelegasian tanggung jawab ini sudah ditetapkan dalam pertauran kementrian pendidikan nomor 42/2015, menjamin proses pendidikan yang berlangsung secara berkesinambungan dan berkualitas.
Partisipasi anggota guru dalam GTP (KKG) bukan merupakan suatu kewajiban bagi guru, dan belum diberlakukannya sanksi, apabila guru tidak berpartisipasi dalam kegiatan kelompok kerja guru, sehingga hal ini lah menyebakan partispasi guru dalam mengikuti kegiatan pengembangan keprofesian guru dinilai masih sangat kurang.
d. Jaminan Mutu
Pelakasanaan kegiatan kelompok kerja guru semuanya di kontrol oleh kepala sekolah, baik proses mentoring, monitoring maupun evaluasi program pelaksananan kegiatan kelompk kerja. Hasi dari proses monitoring dan evaluasi tersebut dijadikan acuan dalam mengusulkan program pelatihan guru ke dinas pendidikan.
Indikator dalam standarisasi kelompok kerja guru yang sistematik dan terstruktur dengan baik maka pelaksanaan kegiatan kelompok kerja guru akan memberikan kontribusi dalam meningkatkan profesionalisme guru, temuan ini sejalan dengan apa yang dikemukan oleh murniati (2019) yang menyatakan bahwa implementasi kelompok kerja guru bila dilakukan
32 dengan prosedur yang sistematis dan teratur akan berkontribusi dalam meningkatkan profesionalisme guru. Sejalan dengan konsep tersebut, temuan yang diperoleh dilapangan menunjukan bahwa strukturalisasi kegiatan KKG ini belum terakomodasi dengan baik sehingga berdampak pada implementasi KKG yang belum optimal. Dari kajian proses pengolaan tersebut diatas maka konteks ini erat hubungannya dengan production fuction input output education analisys, dengan memperhatikan input input yang memadai maka akan memberikan kontribusi pada proses output yakni peningkatan profesionalisme guru sehingga berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Hal yang sangat mendasar dalam temuan penelitian ini adalah proses pengolaan kelompok kerja guru dilihat dari input sangat terbatas baik dari segi struktur organisasi, sarana dan prasarana, penyususnan dan implementasi program sampai pada tahap monitoring dan evaluasi.