• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1 Hasil Penelitian

4.2.2 Faktor faktor penentu dalam implementasi KKG

Faktor faktor penentu dalam implementasi GTP atau KKG ini, meliputi dua faktor utama yakni fakto internal dan faktor eksternal. Faktor interen berasal dari diri guru seperti waktu ketersedian Guru, untuk mengikuti kegiatan GTP (KKG), tidak adanya biaya transportasi bagi guru karena sebagain guru bertempat tinggal jauh. Komitmen guru dalam pengembangan keprofesian nya dinilai masih sangat kurang. Faktor interen ini sejalan dengan yang dikemukan oleh Tedjawati (2011) yang mengungkapkan bahwa komitmen dan inisiatif guru serta kepalah sekolah dalam menyelengarakan kegiatan KKG merupakan kunci keberhasilan dalam implementasinya. Sedangkan faktor Eksternalnya adalah belum adanya nya buku petunjuk KKG (Manual Implementacao GTP). GTP (KKG) untuk guru SD belum dijadikan sebagai indikator utama dalam pengembangan keprofesian guru, oleh kementrian pendidikan, kurangnya tenaga ahli dalam memfasilitasi kegiatan KKG, implementasi GTP/KKG bukan salah satu poin (tidak mempunyai nilai) dalam mempengaruhi pengembangan karir guru di Distrito Dili dan Timor Leste pada umumnya. Factor faktor yang dijabarkan diatas berhubungan dengan pendapat (goleman, daniel; boyatzis, Richard; Mckee, 2019) yang mengatakan bahwa para pekerja atau guru secara konsensi mampu mengetahui hakikat dari tanggungjawabnya sebagai seoang guru yang setia terhadap profesinya, dismping itu guru harus memiliki etika kerja dan etos kerja sebagai acuan dalam proses pengembangan keprofesionalannya.

33 5. Simpulan dan Saran

5.1 Simpulan

Pengembangan profesionalimse guru SD melalui kegiatan kelompok kerja guru di Sub Disitik Don Aleixo, Distritk Dili, Timor Leste, disimpulkan sebagai berikut:

1. Implementasi pengembangan keprofesian guru melalui kegiatan kelompok kerja guru SD, Distrito Dili, pada umumnya belum dilakukan dengan mandiri. Standar Indikator keorganisasian kelompok kerja guru dari standar program, standar pengeloaan, standar keuangan sampai pada standar jaminan mutu bersifat konvensional, sehingga Implementasi KKG hanya sebatas wadah transformasi informasi kepada guru guru dan belum sebagai model pengembangan keprofesian guru yang berkesinambungan. Pelaksanaan kegiatan KKG dapat berupa penentuan jadwual pelajaran, reformulasi pembelajaran, diskusi masalah, sosialisasi kontek kurikukum, serta rapat kordenasi sekolah.

2. Faktor faktor yang mempengaruhi kegiatan Kelompok Kerja Guru dalam pelaksananya terdiri dari faktor penghambat dan faktor pendukung: faktor penghambatnya meliputi, komitmen dan inisatif guru masih rendah hal ini di dilihat dari , kebijakan kementrian pendidikan belum mentrasnformasikan KKG sebagai model pengembangan keprofesian guru, kurangnya tenaga ahli (trainer) dan msaih terbatasnya sarana dan prasarana sekolah. Sedangkan untuk faktor pendukungnya adalah: Kontribusi kepala sekolah dalam melaksanakan kegiatan KKG ini sangat nyata walaupun masih terdapat banyak kendala yang dihadapi baik secara administrative, pelaksanaan sampai pada tahap evaluasi. Sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mengembangan profesionalisme guru melalui terlaksananya kegiatan KKG ini, walaupun kementrian pendidikan belum mengsahakan peraturan perundang undangan terhadap pelaksanaan kegiatan kelompok kerja guru.

3. 5.2. Saran

a. Bagi Sekolah: Pengembangan keprofesian guru melalui kegiatan kelompok kerja guru merupakan suatu bentuk organisasi keprofesian yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru, oleh karena itu dengan keterbatasan yang dimilikinya dapat digunakan seoptimal mungkin agar implementasi KKG yang masih bersifat wadah menukar pendapat dapat di transformasikan menjadi model pengembangan profesionalisme guru yang sistematis dan berkesinambungan.

34 b. Bagi pemerintah; pendidikan dan pelatihan guru merupakan obyek utama dalam pengembangan keprofesian guru, salah satu faktor yang sangat mempengaruhi profesionalisme guru adalah keberadaan organisasi keprofesian guru, maka dari itu kebijakan pemerintah terutama dinas kementrian pendidikan untuk berkonsistensi dalam memberikan kontribusi terhadap segala upaya organisasi keprofesian guru terutama kegiatan kelompok kerja guru (Grupo Trabalho Professores).

6. Rujukan

Aan, H. (2012). Pengembangan Profesi Keguruan. Bandung: Pustaka Setia.

Amzat, I. H., & Valdez, N. P. (2017). Teacher empowerment toward professional development and practices: Perspectives across borders. Teacher Empowerment Toward Professional Development and Practices: Perspectives Across Borders, 1–307.

https://doi.org/10.1007/978-981-10-4151-8

Bozkurt, E., Kavak, N., Yamak, H., Bilici, S. C., Darici, O., & Ozkaya, Y. (2012). Secondary School Teachers’ Opinions About In-Service Teacher Training: A Focus Group Interview Study*. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 46(2010), 3502–3506.

https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2012.06.093

Creswell, J. W. (2010). Research design pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Directorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. (2008). Standar pengembangan Kelompok Kerja Guru (KKG) Muswawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Tarbiyatul, Blok Pendidikan, 0–32.

Ekosusilo, M. (2003). Penataran , dan Kegiatan KKG terhadap Peningkatan Kemampuan Profesional Guru. Ilmu Pendidikan, 10, 16–26.

goleman, daniel; boyatzis, Richard; Mckee, A. (2019). Modul Penegmbangan Profesi Guru.

Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.

https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Hamalik, O. (2008). Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kartowagiran, B. (2015). Kinerja Guru Profesional (Guru Pasca Sertifikasi). Jurnal Cakrawala Pendidikan, 3(3), 463–473. https://doi.org/10.21831/cp.v3i3.4208

35 Ketut, R. (2008). Peningkatan Profesionalsime Guru. Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran,

UNDIKSHA, (Edisi Khusus TH. XXXXI Mei 2008), 454–472.

Kristiawan, M., Safitri, D., & Rena Lestari. (2017). Manajemen Pendidikan. In Deepublish (1st ed.). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Luneta, K. (2012). Designing continuous professional development programmes for teachers: A literature review. Africa Education Review, 9(2), 360–379.

https://doi.org/10.1080/18146627.2012.722395

Manpan, D., & Effendi, R. (n.d.). Etika Profesi Guru. Bandung: Alfabeta.

MINED. (2012). Plano Estrategico Da Educacao 2012-2016. Dili, Timor Leste.

Minstry of education. (2016). Education Databook. Education Management Information System.

Retrieved from http://www.moe.gov.tl/pdf/EMIS/Databook2015Finalpdf.pdf

Muharom, F. (2017). Partisipasi Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar (KKG PAI SD) Kabupaten Boyolali dalam Meningkatkan Kompetensi Guru PAI SD.

Nadwa, 10(2), 139. https://doi.org/10.21580/nw.2016.10.2.1283

Mujtahid. (2009). Pengembangan Profesi Guru. Malang: UIN- Malang Press.

Mulyasa. (2005). Menjadi Guru Profesional. Bandung (1st ed.). Jakarta: Prenamedia Group.

Mulyasa, E. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) (15th ed.; Muchlis, ed.). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Murniati, M., Usman, N., Husen, M., & Irani, U. (2019). Teachers professional management through teachers working group in Aceh Province. Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan, 7(1), 97–108. https://doi.org/10.21831/amp.v7i1.24054

Mustofa, -. (2019). Upaya Pengembangan Profesionalisme Guru di Indonesia. Jurnal Ekonomi Dan Pendidikan, 4(1), 76–88. https://doi.org/10.21831/jep.v4i1.619

Nana Sudjana. (2009). Dasar Proses Belajar Mengajar. bandung: Sinar Baru Algensindo.

Rasyid, H. Al. (2005). Fungsi Kelompok Kerja Guru ( Kkg ) Bagi Pengembangan

Keprofesionalan Guru Sekolah Dasar. Prodi PGSD Universitas Trunojoyo, 24 nomor 2(12), 143–150. Retrieved from

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=461652&val=5095&title=fungsi kelompok kerja guru (KKG) bagi pengembangan keprofesionalan guru Sekolah Dasar Resmini, W. (2010). Pembinaan Kemampuan Profesional Guru Melalui Kelompok Kerja Guru (

Kkg ). GaneÇ Swara, 4(1), 59–62.

36 Rose, J., & Reynolds, D. (2007). Teachers’ Continuing Professional Development: A New

Approach. International Congress for Effectiveness and Improvement, 219–240. Retrieved from http://www.fm-kp.si/zalozba/ISBN/978-961-6573-65-8/219-240.pdf

Rusman. (2010). Model Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Bandung:

Raja Grafindo Persada.

Siagian, S. P., & Luthan, F. (2008). Teori-Teori Motivasi. (5), 1–7. Retrieved from http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/06/teori-teori-motivasi/

Somntri Manap, R. sa’adah. (2011). Revitalisasi Kelompok Kerja Guru Guna Meningkatkan Kompetensi dan Profesionalisme Guru SD. Jurnal Kependidikan Triadik, 14(1), 19–28.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif. Alfabeta.

Sugiyono. (2018a). Metode Penelitian Kuntitatif, Kualitatif, dan Penelitian & Pengembangan (R&D) (1st ed.; M. E. Safitri Yosita Ratri M.Pd., ed.). Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2018b). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kauntitatif, Kualitatif, R&D. In Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Alfabeta.

Sulasmono, B. S., & Wardani, K. W. (2017). Peningkatan kinerja guru melalui pelatihan beserta faktor penentunya. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 27(2), 38–47.

Tedjawati, J. (2011). Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Lesson Study: Kasus Di Kabupaten Bantul. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 17(4), 480.

https://doi.org/10.24832/jpnk.v17i4.43

Ulfatin, N. (2014). Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan: Teori dan Aplikasi (2nd ed.). Malang: Media Nusa Creative.

Dokumen terkait