Untuk memahami aspek-aspek apa saja yang memberikan pengaruh terhadap implementasi kebijakan tersebut dapat diketahui menggunakan beberapa bentuk implementasi kebijakan publik. Model-model tersebut antara lain:
Dalam implementasi kebijakan ada dua bentuk yaitu bentuk top down dan bentuk bottom up. Model implementasi top down dapat diadopsi dari model Sabartier dan Mazmanian dalam (Putra, 2003):88-89 menjelaskan bahwa implementasi kebijakan merupakan fungsi dari tiga variabel yang saling berhubungan dengan (1) karakteristik masalah, (2) struktur manajemen program yang tergambar dalam berbagai
macam tatanan operasional kebijakan dan (3) aspek-aspek diluar peraturan. Menurut bentuk top down implementasi kebijakan akan berjalan dengan baik apabila birokrasi pelaksananya mematuhi juklak dan juknis dari peraturan
Gambar 2. 1
Bentuk implementasi kebijakan menurut sabartier dan mazmanian
Gambar 2. 2
Sumber: Wahab:2002
Karakteristik masalah 1. Teknologi dan teori teknis yang tersedia 2. Perilaku kelompok sasaran yang beragam
Daya Dukung Peraturan
1. Keselaran / konsistensi tujuan / target.
2. Teori sebab akibat yang memenuhi
3. Sumber dana yang memenuhi.
4. penyatuan organisasi pelaksana 5. Diskresi pelaksana
6. Rekruitmen dari pejabat 7. Akses formal pelaksana organisasi
Proses Implementasi
Output keselarasan impact yang
Kebijakan keluaran dampak aktual diperkirakan Dan organisasi kebijakan keluaran perbaikan Pelakasana dengan kelompok kebijakan peraturan
Sasaran
Variabel Non Peraturan 1. Keadaan Sosio ekonomi &
teknologi
2. Perhatian media kepada persoalan kebijakan 3. Dukungan masyarakat
4. tingkah laku dan sumber daya 5. dukungan kewenangan 6. tanggung jawab dan keahlian pejabat
Menurut Edward III ( (Widodo, 2008):96 – 107) ada empat aspek atau indikator yang memiliki pengaruh terhadap pelaksanaan kebijakan yang bekerja secara simulan dan berhubungan satu dengan yang lain untuk membentuk implementasi kebijakan, jadi pendekatan yang seimbang adalah bisa dengan merenungkan kerumitan ini dengan membahas semua aspek tersebut sekaligus. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Faktor komunikasi (communication)
Komunikasi kebijakan berarti merupakan proses pencapaian informasi kebijakan (Policy maker) terhadap penyelenggara kebijakan (policy implementors), informasi kebijakan publik penting untuk diuraikan dan diutarakan kepada aktor kebijakan agar para pelaku kebijakan bisa menginterpretasikan apa yang menjadi isi,tujuan, arah, kelompok sasaran (target groups) kebijakan dan agar para pelaku kebijakan bisa menyiapkan dengan akurat apa yang mesti disiapkan untuk menyelenggarakan kebijakan publik agar apa yang menjadi tujuan dan terget kebijakan bisa diraih sesuai dengan yang diinginkan.
b. Sumber Daya (Resources)
Aspek sumber daya ini juga memiliki peranan yang utama dalam pelaksanaan kebijakan. Jika penyelenggara kebijakan yang memiliki komitmen untuk menyelenggarakan kebijakan tidak mempunyai sumber daya untuk menyelenggarakan pekerjaan secara efektif, maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan efektif. Sumber daya yang dimaksud yakni: (a) sumber daya manusia dimana sumber daya ini merupakan salah satu indikator variabel yang paling utama dalam keberhasilan pelaksanaan kebijakan.;(b)sumber daya keuangan yakni anggaran, menurut edward jika anggaran yang tersedia terbatas maka layanan yang akan diberikan ke masyarakat juga turut terbatas, kemudian Edward juga mengatakan terbatasnya anggaran untuk intensif dari pelaksana kebijakan bisa menjadi penyebab utama gagalnya implementasi kebijakakan karena
keterbatasan anggaran dapat menimbulkan disposisi yang rendah.;
(c)sumber daya peralatan adalah fasilitas yang difungsikan sebagai operasionalisasi implementasi kebijakan yang mencakup gedung, peralatan, tanah dan suku cadang lain, dimana sarana yang digunakan akan mempermudah dalam memberi pelayanan dalam pelaksanaan kebijakan.
c. Disposisi (Disposition)
Disposisi merupakan kehendak, dorongan dan kecenderungan para aktor kebijakan untuk menyelenggarakan kebijakan tadi secara benar sehingga apa yang menjadi target kebijakan dapat terwujud.
Intensitas disposisi para pelaku (implementator) dapat berimbas pada performa kebijakan. Kurangnya atau terbatasnya intensitas disposisi ini, akan mengakibatkan kegagalan pelaksanaan kebijakan.
d. Struktur Birokrasi (Bureaucratic Structure)
Struktur birokrasi melingkupi berbagai bagian yang mencakup struktur organisasi, pembagian kewenangan, interksi antar lembaga organisasi yang ada dalam organisasi yang bersangkutan, dan interaksi organisasi dengan organisasi luar dan sebagainya. Dalam struktur birokrasi ada dua ciri khas yang penting yaitu SOP dan Fragmentasi.
SOP digunakan dalam upaya menjalankan kebijakan agar efektif dan efisienm, SOP merupakan petunjuk untuk jajaran struktur birokrasi dalam bertindak. Struktur birokrasi dalam organisasi yang baik adalah stru ktur yang ringkas, karena jika strukturnya terlalu panjang akan menyebabkan pengawasannya cenderung lebih lemah dan akan menimbulkan prosedur yang birokrasinya terlalu rumit.
Kemudian Edward III menjelaskan bahwa Fragmentasi merupakan pemecahan tanggung jawab suatu kebijakan terhadap blembaga-lembaga yang berbeda sehingga membutuhkan komunikasi. Edward III mengungkapkan bahwa “struktur organisasi yang terfragmentasi (terpecah-pecah atau tersebar) dapat meningkatkan kegagalan
komunikasi, karena kesempatan terdistorsi sangat besar. Semakin terdistorsi dalam pelaksanaan kebijakan, semakin membutuhkan komunikasi yang semakin intensif”
Faktor tujuan dan sasaran, komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi yang telah disebutkan diatas akan sangat berpengaruh kepada tingkat keberhasilan dan kegagalan dalam suatu proses implementasi kebijakan. Dengan demikian dalam penelitian ini akan menggunakan indikator dari Edward III mulai dari komunikasi, disposisi yang kemudian akan diadopsi menjadi sikap pelaksana kebijakan, sumber daya dan struktur birokrasi.
Sementara itu Grindle dalam (Imronah, -) mengemukakan model implementasi kebijakan yang menurutnya sangat dipengaruhi oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya.
Isi kebijakan meliputi :
a. Kebijakan yang mempengaruhi kepentingan
Kebijakan yang melibatkan kepentingan yang berlainan akan sukar untuk diimplementasikan. Jika dibandingkan dengan yang mempunyai sedikit keperluan.
b. Tipe Manfaat
Kelompok sasaran diharapkan dapat menerima manaat secara langsung dari suatu kebijakan.
c. Derajat perubahan yang diharapkan
Kebijakan dapat dengan mudah dilaksanakan apabila dampak yang diinginkan bisa menghasilkan pemanfaatan yang jelas.
d. Letak pengambilan keputusan
Pembuat kebijakan yang memiliki wewenang dan otoritas yang tinggi dapat dengan mudah mengkoordinasi bawahannya sehingga kedudukan pembuat kebijakan dapat mempengaruhi implementasi selanjutnya.
e. Pelaksana Program
Pelaksanaan program mempunyai pengaruh yang sangat menentukan dalam proses implementasi serta pencapaian hasil akhir yang diperoleh karena sebaik – baiknya suatu program apabila tidak diimplementasikan oleh orang – orang yang tidak berkualitas maka program tersebut akan sia - sia saja.
f. Sumber daya yang dilibatkan
Meliputi berbagai sumber daya yang dialokasikan dalam pelaksanaan program dimana besar serta asalnya sangat menentukan keberhasilan implementasi,
Sedangkan konteks implementasi terdiri dari :
a. Kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor yang terlibat
Rencana yang dipakai dalam proses kekuasaan dari badan penyelenggara ataupun penguasa yang dapat mempengaruhi pelaksanaan program.
b. Karakteristik lembaga dan penguasa
Otoritas dari penguasa yang berpengaruh terhadap badan pelaksana dapat mempengaruhi jalannya implementasi
c. Kepatuhan dan daya tanggap
Kepatuhan dapat berupa dukungan elite politik sebagai agen, penyelenggaraan yang diberi tugas untuk menyelenggarakan program dan kepatuhan kelompok sasaran. Sedangkan daya tanggap merupakan kepekaan lembaga yang timbul dari pelaksanaan program.
Dari beberapa model implementasi di atas penelitian ini akan mengadopsi model implementasi dari Edward III yang telah dirangkum sebelumnya yaitu:
a. Komunikasi b. Sikap pelaksana c. Sumber daya d. Struktur Birokrasi
Dengan melihat komunikasi dari pelaksana Perda minuman beralkohol di Sukoharjo maka dapat dilihat apakah transmisi informasi dapat tersampaikan dengan baik kepada kelompok sasaran, kemudian sikap pelaksana yang taat, tegas dan berusaha menegakkan peraturan yang ada sehingga pelaksanaan peraturan yang telah ditentukan sebelumnya dapat terselenggara dengan baik. Dengan sumber daya dalam pelaksanaan Perda minuman beralkohol maka dapat dilihat sejauh mana ketersediaan sumber daya untuk mendukung pelaksanaan perda minuman beralkohol, semakin banyak ketersediaan sumber daya yang digunakan untuk pelaksanaan Perda minuman beralkohol maka semakin dekat dengan keberhasilan implementasi dan tujuan kebijakan.
Yang terakhir adalah struktur birokrasi dari para pelaksana kebijakan Perda minuman beralkohol, struktur birokrasi ini akan melihat pembagian tugas dari tiap-tiap badan atau lembaga pelaksana kebijakan apabila badan atau lembaga yang diberi tugas sudah menjalankan tugasnya sesuai SOP dan tidak terfragmentasi maka akan semakin mudah untuk mewujudkan keberhasilan dari Perda itu sendiri.
B. Aspek yang dikaji dalam evaluasi implementasi Perda Kabupaten