BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 1. Kajian terdahulu
Analisis penelitian yang sudah dilaksanakan oleh peneliti sebelumnya yang bisa diperoleh dari berbagai sumber ilmiah, baik dari sksripsi, tesis, disertasi maupun dari artikel penelitian yang ada di dalam jurnal disebut penelitian terdahulu. Penelitian terdahulu dapat menjadi data penyokong oleh penulis dan dapat dijadikan sebagai salah satu acuan yang dianggap relevan dengan fokus penelitian penulis.
Beberapa hasil penelitian sebelumnya yang dianggap relevan dengan fokus kajian penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, artikel dari jurnal Nasional yang berjudul “Urgensi Pengaturan Peredaran Minuman Beralkohol di Daerah Istimewa Yogyakarta” yang diterbitkan oleh Jurnal Hukum Ius Quia Iustum vol. 22(1) oleh Ni’matul Huda, Jamaludin Ghafur, dan Ali Ridho, pada tahun 2015. Penelitian ini membahas pentingnya pengendalian penyebaran minol di DIY. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pentingnya pengaturan minol yang dilakukan di daerah DIY untuk melakukan pengendalian terhadap penyebaran minol yang dimaksudkan sebagai upaya mencegah, mengurangi resiko, dan untuk daya tanggap serta sebagai cara perbaikan akibat minum minuman beralkohol. Dimana peraturan yang termuat dibagi menjadi 4 pokok bahasan yaitu: (i) kategori minuman beralkohol; (ii) melarang pembuatan, penyebaran, pemasaran, dan penyimpanan minol; (iii) persetujuan; (iv) peran serta masyarakat. Metode dari penelitian diatas menggunakan penelitian yuridis normatif, dengan menganalisis dan mencerna materi hukum, terutama norma-norma yang menata mengenai wewenang Perda dalam membentuk peraturan perundang- undangan. Sehingga sumber datanya menggunakan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.
Diskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang telah diperoleh.
(Huda et al., 2015)
Persamaannya dengan fokus penelitian yang akan saya ambil adalah sama-sama melaksanakan penelitian dengan tema yang sama yaitu mengkaji mengenai Perda minuman beralkohol dan memiliki metode yang sama yaitu deskriptif kualitatif. Sedangkan perbedaannya terletak pada penelitian diatas lebih menitikberatkan pada penelitian yuridis normatif dimana ingin memahami materi hukum terkait kewenangan daerah dalam membuat peraturan perundang-undangan mengenai minol yang dimaksudkan untuk pencegahan serta upaya pemulihan akibat miras sedangkan penelitian saya lebih menitikberatkan untuk mengevaluasi Perda minol di Sukoharjo dan memahami aspek-aspek yang menjadi hambatan penyelenggaraan Perda minol di Sukoharjo.
Kedua, artikel jurnal Nasional yang berjudul “Implementasi Kebijakan Penertiban Minuman Keras Di Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong”,diterbitkan oleh eJurnal Katalogis vol 5(10) oleh Aidhil Akbar pada tahun 2017. Artikel Jurnal diatas menggunakan empat Indikator dari Edward III (dalam Subarsono, 2005: 1999). Yaitu Komunikasi, SumberDaya, Disposisi, dan Struktur Birokrasi. penelitian ini lebih menitik beratkan kepada bagaimana Satpol PP yang melakukan penertiban minuman keras di Kecamatan Parigi dari indikator-indikator dapat ditemukan bahwasannya Satpol PP sudah menunjukan komunikasi yang baik namun perlu ditingkatkan lagi agar konsistensinya lebih terjaga, dalam indikator sumberdaya yang ada di Satpol PP dari segi kuantitas sudah terpenuhi, akan tetapi kualitas harus ditingkatkan lagi, meskipun dalam sisi kuantitas telah memuaskan tetapi apabila tidak seimbang dengan kualitas dari setiap individu maka akan megakibatkan terbuangnya pengeluaran dana stimulus yang memberikan akibat dalam setiap implementasi penegakan Perda tidak berjalan selaras dengan tujuan. Bentuk organisasi yang berada pada Satpol PP belum selaras dengan SOP yang ada karena para pedagang seringkali tidak memperoleh surat dari para petugas, dan juga bagaimana para pelaksana dalam hal ini Satpol PP perlu membuat cara baru dengan elok dan lebih
melakukan pendekatan namun selalu berdasar pada Peraturan yang ada.
(Akbar, 2017)
Penelitian ini menggukan metode yang menjelaskan secara rinci mengenai pelaksanaan Kebijakan Penertiban Minuman Keras di Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Persamaannya ingin melakukan penelitian tentang Perda minuman beralkohol dan menggunakan metode yang sama yaitu menggunakan deskriptif kualitatif dan menggunakan teori Edward III dalam analisinya.
Sedangkan perbedaan penelitian saya dengan penelitian yang ada di jurnal ini adalah penelitian saya mencangkup evaluasi implementasi Perda No 6 Tahun 2017 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran Dan Penjualan Minuman beralkohol tidak menitikberatkan pada kewenangan Satpol PP untuk melakukan penertiban pada penjualan miras saja tetapi melakukan evaluasi implementasi baik dari segi pengawasan pengendalian peredaran dan penjualan minuman beralkohol.
Ketiga, artikel jurnal Nasional yang berjudul “Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Jeneponto Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Larangan Peredaran Minuman Beralkohol Dan Pengawasannya Di Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto” terbitan Jurnal Supremasi vol 16(2), oleh Andi Kasmawati, Bakhtiar,Nurhayati tahun 2016. Hasil penelitian diatas digunakan untuk mengetahui Implementasi Perda No. 8 Tahun 2006 Kabupaten Janepoto, dan faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Jeneponto Nomor 8 Tahun 2006. Hasil penelitian diatas mengemukakan bahwa implementasi Perda Kabupaten Jeneponto No. 8 Tahun 2006 belum terlaksana secara efektif, banyaknya minol yang beredar di masyarakat yang masih dapat ditemui di toko – toko dan rumah warga serta minimnya pengetahuan warga akan adanya Perda tersebut menjadi penyebab utamanya. Kemudian dari penelitian didapat faktor pendukung dari implementasi Perda Kabupaten Jeneponto No. 8 Tahun 2006 adalah: (1) Partisipasi tokoh agama dan masyarakat, (2) koordinasi yang baik antara
aparat pemerintah. Sedangkan yang menjadi faktor penghambat implementasi antara lain: (1) aspek kesadaran, (2) aspek penyuluhan, (3) aspek pemberian hukuman (4) aspek kebiasaan, (5) kelanjutan dari adanya pelanggaran Perda No. 8 tahun 2006 masih dalam tahap non yuspisial dimana dari Satpol PP tidak ada penyelidikan dan penyidikan (Bakhtiar et al., 2016). Penelitian deskriptif kualitatif digunakan sebagai metode penelitian. Kemudian tata cara untuk mengumpulkan data adalah interview dan dokumentasi. Sedangkan analisis kualitatif yang difungsikan untuk menganalisis data penelitian.
Persamaan antara penelitian diatas dengan penelitian ini adalah mengangkat tema yang sama tentang minuman beralkool dan sama sama ingin meneliti tentang faktor yang mempengaruhi di masing-masing implementasi Perda dan menggunakan metode yang sama yaitu penelitian deskriptif kualitatif. Sedangkan perbedaanya terletak pada penelitian diatas berusaha untuk mengetahui pelaksanaan dari Perda No 8 Tahun 2006 Tentang Larangan Peredaran Minuman Beralkohol dan pengawasannya dan faktor pendukung dari pelaksanaan Perda tersebut, penelitian yang akan saya lakukan untuk mengevaluasi implementasi Perda No 6 Tahun 2017 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran Dan Perizinan Minuman Beralkohol.
Keempat, artikel jurnal Internasional yang berjudul “Changes in New Zealand’s alcohol environment following implementation of the Sale and Supply of Alcohol Act (2012)” terbitan Jurnal NZMA (New Zealand Medical Association) vol. 131 (1476) oleh Stephen Randerson, Sally Casswell, Taisia Huckle pada tahun 2018. Yang bertujuan untuk menilai dampak dari kebijakan Sale and Supply of Alcohol Act (2012) pada lingkungan alkohol dari 2013 hingga 2015. Penelitian ini didasari dari akibat bahaya yang ditimbulkan oleh minuman beralkohol yang mengakibatkan banyaknya kematian dini, kecacatan dan kerusakan sosial di Selandia Baru. Antara tahun 1989-2000 kebijakan minuman alkohol yang ada di selandia baru mulai tertinggal dibanding negara-negara OECD lainnya, akibatnya di Selandia Baru terdapat peningkatan kecelakan akibat minuman beralkohol dengan rentang usia 15-19 tahun. Dengan adanya hal tersebut komisi hukum Selandia
Baru melaporkan sale of liquor act 1989 tidak memiliki fokus kesehatan dan telah meliberalisasi ketersediaan alkohol, untuk itu pemerintah Selandia Baru menanggapi hal tersebut dengan melakukan pengembangan sale and supply alcohol act pada tahun 2012. Kebijakan sale and supply alcohol act 2012 tidak banyak merubah kebiajkan yang ada dari yang sebelumnya. SSAA hanya menambahkan dua langkah baru dari permasalahan yang telah diuraikan diatas dengan menetapkan pembatasan ketersediaan alkohol dengan batas jam penjualan, jam 08.00 malam- 04.00 pagi untuk lisensi-on dan jam 07.00 pagi- 23.00 untuk lisensi-off. Dengan ketentuan yang bisa dikembangkan dari otoritas teritorial (pemerintah daerah Selandia Baru) untuk mengembangkan kebijakan alkohol lokal melalui masukan dari masyarakat terhadap keputusan perizinan melalui SSAA.
SSAA mencoba memperluas kebijakannya dengan membatasi pemberian alkohol terhadap anak di bawah umur, kecuali jika alkohol tersebut diberikan secara bertanggungjawab oleh orangtua/wali, minuman beralkohol juga diberi batasan pemasaran, pemajangan minuman beralkohol yang dilakukan di toko kelontong maupun supermarket hanya boleh dilakukan di satu sudut toko saja.
Hasil dari penelitian menunjukan setelah adanya kebijakan SSAA, perubahan yang terjadi tidak signifikan hanya terjadi sedikit penurunan stok minuman beralkohol yang ada di pusat Kota karena adanya batasan maksimum jam penjualan di tempat yang berlisensi. Kemudian setelah diterapkannya kebijkan SSAA ini para pedagang kesulitan mendapatkan lisensi karena prosedur perizinan dan kriteria aplikasi yang diperluas. Tidak ada perubahan yang signifikan terhadap pasokan minuman beralkohol ke anak dibawah umur akan tetapi kebijakan berdampak pada pengurangan perilaku pengendara yang minum ketika sedang berkendara. Metode yang digunakan merupakan metode campuran kualitatif dan kuantitatif, dengan menggabungkan wawancara informan kunci dan data administrasi untuk menilai perubahan antara tahun 2013-2015. Regresi logistik ordinal digunakan untuk menguji perbedaan peringkat antara tahun-tahun. Komentar
kualitatif dianalisis secara tematis, di mana tanggapan yang sama dikelompokkan ke dalam tema dan jumlah responden yang menyebutkan masing-masing tema dihitung. Untuk melengkapi persepsi informan kunci, informasi kuantitatif dikumpulkan dari data lisensi alkohol Kementerian Kehakiman 2013, statistik penegakan Kepolisian, dan hasil survei Kementerian Transportasi.
Persamaannya adalah sama-sama mengangkat tema yang sama yaitu mengenai kebijakan lokal tentang minuman beralkohol. Sedangkan perbedaanya terletak pada penelitian diatas menggunakan metode campuran, sedangkan penelitian ini nantinya menggunkan penelitian deskriptif kualitatif.
Dalam pisau analisisnya penelitian diatas mencoba mencari adakah dampak yang timbul setelah adanya regulasi/kebijakan SSAA (penjualan dan pemasokan minuman beralkohol) 2012, sedangkan penelitian ini nanti akan mencoba melakukan evaluasi implementasi terhadap kebijakan pengawasan,pengendalian peredaran dan penjualan terhadap minuman beralkohol.
Kelima, artikel jurnal Internasional yang berjudul “Lessons From Queensland’s Last-Drinks Legislation: The Use Of Extended Trading Permits” terbitan Jurnal Drug and Alcohol Review Vol. 34(2), oleh Renee Zahnow , Peter Miller, Kerri Coomber , Dominique De Andrade & Jason Ferris pada tahun 2018. Penelitian diatas dilatarbelakangi adanya hubungan yang kuat antara kekerasan dan minuman beralkohol. Minuman beralkohol juga mengakibatkan kerugian yang besar ketika jumlah tempat yang memiliki lisensi penjualan minuman beralkohol membuka tokonya dengan waktu yang lebih lama. Hari Jumat, Sabtu dan Minggu menjadi hari dimana puncak kekerasan akibat minuman beralkohol antara tengah malam sampai jam 3 pagi. Pada tahun 2016 sebagai tanggapan atas keprihatinan masyarakat setelah kematian pemuda di Australia, Pemerintah Queensland memperkenalkan amandemen Undang-Undang pada tahun 2016 sebagai tanggapan atas keprihatinan masyarakat setelah kematian pemuda di Australia, Pemerintah Queensland memperkenalkan amandemen Undang-
Undang apda tahun 2016 sebagai tanggapan atas keprihatinan masyarakat setelah kematian pemuda di Australia, Pemerintah Queensland memperkenalkan amandemen Undang-Undang baru untuk mengurangi bahaya terkait alkohol. hal yang paling penting dari amandemen UU tersebut adalah pengurangan jam perdagangan minuman keras di seluruh Negara bagian dari sebelumnya sampai jam 5 pagi berkurang menjadi jam 2 pagi di tempat luar SNP dan jam 3 pagi di tempat yang terletak di area SNP(safe night out). Kasino dan bandara di bebaskan dari jam perdagangan.
Amandemen dari UU tersebut juga mengatur izin perdagangan perpanjangan sementara minuman beralkohol (ETP) dikecualikan. ETPs sementara(satu kali) memungkinkan tempat-tempat berlisensi untuk memperluas layanan alkohol hingga pukul 5 pagi. Izin ini memberikan ruang bagi tempat-tempat yang mempunyai lisensi untuk menyelenggarakan acara khusus satu kali tanpa adanya pembatasan jam pelayanan. Seluruh pemegang lisensi dapat mengajukan hingga 12 ETP satu kali per tahun.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penggunaan izin perdagangan perpanjangan sementara minuman beralkohol sebelum dan sesudah diamandemen pada tanggal 1 juli 2016.
Hasil dari penelitian adalah UU yang diamandemen menghasilkan bahwa penjualan alkohol akan berhenti pada jam 3 pagi di SNP (safe night out) dan berhenti pada pukul 2 pagi di seluruh Queensland. Akan tetapi amandemen tersebut memiliki sifat inklusif dimana tempat-tempat yang memiliki izin penjualan sebelumnya berhak atas 12 ETP, ETP yang dimaksudkan disini adalah memungkinkan tempat-tempat berlisensi untuk melanjutkan penjualan alkohol diluar jam pembatasan perdagangan yang sebelumnya sudah ada di amandemen UU tersebut pada acara khusus.
Peneliti memaparkan bahwa dengan sifatnya yang inklusif akan mengarah pada situasi dimana tempat-tempat yang memiliki lisensi akan melanggar aturan pembatasan jam pada UU ynag telah diamandemen dan melanjutkan bisnisnya seperti biasa sampai jam 5 pagi. Sehingga hal tersebut dapat merusak kapasitas kebijakan untuk mencapai perubahan dalam batas jam
penjualan beralkohol. Metode yang digunakan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode statistik deskriptif. (Zahnow et al., 2018)
Persamaan antara penelitian diatas dengan penelitian ini adalah mengangkat tema penelitian yang sama yaitu tentang peraturan mengenai minuman beralkohol dan kedua penelitian jugaakan mengkaji peraturan mengenai perizinan minuman beralkohol. Sedangkan perbedaannya terletak Didalam penelitian di atas menggunkan metode kuantitatif dengan pendekatan statistik deskriptif, sedangkan penelitian saya akan menggunakan metode kulitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian di atas mengupas tentang bahaya yang ditimbulkan minuman beralkohol sehingga membuat pemerintah Queensland memutuskan untuk mengamandemen UU yang berisi perubahan jam perdagangan minuman beralkohol dan perpanjangan perizinan minuman beralkohol, sedangkan penelitian saya menjelaskan tentang evaluasi implementasi kebijakan pengawasan, pengendalian peredaran, dan penjualan minuman beralkohol yang mengacu pada Perda No.6 Tahun 2017.
Tabel 2. 1 Tabel kajian terdahulu Judul, penulis,
tahun
Isi singkat Metode Relevansi
Persamaan Perbedaan
“Urgensi Pengaturan Peredaran Minuman
Beralkohol di Daerah Istimewa Yogyakarta”.
Jurnal Hukum Ius Quia Iustum vol.
22(1) 2015,
Ni’matul Huda, Jamaludin Ghafur, dan Ali Ridho,
penelitian
menunjukkan bahwa pentingnya
pengaturan minol yang dilakukan di daerah DIY untuk melakukan
pengendalian
terhadap penyebaran
minol yang
dimaksudkan sebagai upaya mencegah, mengurangi resiko, dan untuk daya tanggap serta sebagai cara perbaikan akibat minum minuman beralkohol. Dimana
Metode dari penelitian diatas menggunakan penelitian yuridis normatif, dengan menganalisis dan mencerna materi hukum, terutama norma-norma yang menata mengenai
wewenang Perda dalam
membentuk peraturan perundang- undangan
Tema yang diusung sama yaitu tentang Perda minol dan memiliki metode yang sama yaitu deskriptif kualitatif.
Penelitian diatas lebih menitikberatka n pada
penelitian yuridis normatif dimana ingin memahami materi hukum terkait
kewenangan Daerah dalam membuat Peraturan Perundang- Undangan mengenai
peraturan yang termuat dibagi menjadi 4 pokok bahasan yaitu: (i) kategori minuman beralkohol; (ii) melarang pembuatan, penyebaran,
pemasaran, dan penyimpanan minol;
(iii) persetujuan; (iv)
peran serta
masyarakat.
miras yang dimaksudkan untuk
pencegahan serta upaya pemulihan akibat miras sedangkan penelitian saya lebih
menitikberatka n untuk mengevaluasi Perda miras di Sukoharjo dan melihat aspek- aspek apa saja yang menjadi penghambat implementasi Perda miras di Sukoharjo.
“Implementasi Kebijakan Penertiban
Minuman Keras Di Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong”, diterbitkan oleh eJurnal Katalogis vol 5(10) 2017, oleh Aidhil Akbar
Hasil penelitian dengan menggunakan teori Edward III menunjukkan
bahwasannya satpol PP sudah menunjukan komunikasi yang baik namun perlu
ditingkatkan lagi agar konsistensinya dapat dijaga, di sisi
Sumberdaya Satpol PP dari segi kuantitas sudah terpenuhi, akan tetapi kualitas harus ditingkatkan lagi, meskipun dalam sisi kuantitas telah memuaskan tetapi apabila tidak seimbang dengan kualitas dari setiap individu maka akan
Metode penelitian deskriptif kualitatif,
Kedua penelitian sama sama ingin melakukan penelitian tentang Perda minuman beralkohol dan
menggunakan metode yang sama yaitu menggunakan deskriptif kualitatif dan menggunakan teori Edward III dalam analisinya.
penelitian saya mencangkup evaluasi implementasi Perda no 6 tahun 2017 tentang pengawasan, pengendalian peredaran dan penjualan minuman beralkohol tidak
menitikberatka n pada
kewenangan satpol PP untuk melakukan penertiban pada penjualan miras saja
megakibatkan terbuangnya pengeluaran dana stimulus yang memberikan akibat dalam setiap implementasi penegakan Perda tidak berjalan selaras dengan tujuan.
Bentuk organisasi yang berada pada Satpol PP belum selaras dengan Standar Operasional Prosedur yang ada karena para penjual seringkali tidak memperoleh surat dari para petugas, dan juga bagaimana para pelaksana dalam hal ini Satpol PP perlu membuat cara baru dengan elok dan lebih melakukan
pendekatan namun selalu berdasar pada Peraturan yang ada.
tetapi melakukan evaluasi implementasi baik dari segi pengawasan pengendalian peredaran dan penjualan minuman beralkohol.
“Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten
Jeneponto Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Larangan Peredaran
Minuman
Beralkohol Dan Pengawasannya Di Kecamatan Binamu
Kabupaten
Jeneponto”, Jurnal Supremasi vol 16(2) 2018, Andi Kasmawati,
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seseorang
mengkonsumsi minol dikarenakan faktor:
Faktor Keluarga, Faktor Lingkungan yang ditinggali, teman yang
mempengaruhi,dan adanya globalisasi.
Dalam hal untuk melakukan upaya penerapan
pengendalian dan pengawasan miras di makassar pemerintah
Menggunakan jenis penelitian normatif
kuantitatif yang bersifat
eksploratif dan deskriptif.
Persamaan dengan penelitian yang saya akan ambil adalah penelitian mengenai tema yang sama yaitu tentang Perda pengawasan dan
pengendalian miras yang dibuat
sebagai upaya
Di dalam penelitian jurnal di atas meneliti mengenai efektivitas pengendalian dan
pengawasan miras dengan metode penelitian deskriptif kuantitatif, sedangkan penelitian yang akan
Bakhtiar, Nurhayati.
setempat mencoba untuk melakukan pengawasan dan mengurangi perizinan, pemasaran,
perdagangan
minuman beralkohol dengan melakukan kerja sama dengan tim yang telah ditentukan oleh Walikota Makassar melalui Perda tentang minuman beralkohol.
dalam upaya
pelaksanaan Perda tersebut belum maksimal karena dukungan dari petugas pengawas yang masih kurang.
untuk mengawasi, mengurangi perizinan, penjualan, perdagangan minuman beralkohol.
saya ambil mengenai evaluasi implementasi Perda miras di kawasan Sukoharjo dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif.
Teori yang digunakan dalam penelitian di atas adalah teori
efektivitas dan teori kebijakan publik dari Thomas R Dye dan David Easton, sedangkan penelitian saya akan
menggunakan teori Edward III untuk melihat dan memahami aspek-aspek hambatan penyelenggara an Perda.
“Changes in New Zealand’s alcohol environment following
implementation of the Sale and Supply of Alcohol Act (2012)” Jurnal
Hasil dari penelitian menunjukan setelah adanya kebijakan SSAA, perubahan yang terjadi tidak signifikan hanya terjadi sedikit penurunan stok
Menggunakan metode campuran kualitatif dan kuantitatif,
dengan
menggabungkan interview
informan kunci
Mencoba mengangkat tema yang sama yaitu mengkaji peraturan tentang minuman
Di dalam penelitian diatas
menggunakan metode campuran, sedangkan penelitian saya
NZMA(New Zealand Medical Association) vol.
131 (1476), 2018 oleh Stephen Randerson, Sally Casswell, Taisia Huckle.
minuman beralkohol yang ada di pusat kota karena adanya batasan
maksimum jam
penjualan di tempat yang berlisensi.
Kemudian setelah diterapkannya
kebijkan SSAA ini para pedagang kesulitan
mendapatkan lisensi karena prosedur perizinan dan kriteria aplikasi yang diperluas. Tidak ada perubahan yang signifikan terhadap pasokan minuman beralkohol ke anak dibawah umur akan tetapi kebijakan berdampak pada pengurangan perilaku pengendara yang minum ketika sedang berkendara.
dan data
administrasi untuk menilai perubahan antara tahun 2013-2015.
Regresi logistik ordinal
digunakan untuk menguji
perbedaan
peringkat antara tahun-tahun.
beralkohol. nantinya kan menggunkan penelitian deskriptif kualitatif.
Dalam pisau analisisnya penelitian di atas mencoba mencari adakah dampak yang timbul setelah adanya
regulasi/kebija kan SSAA (penjualan dan pemasokan minuman beralkohol) 2012, sedangkan penelitian saya nanti akan mencoba melakukan evaluasi implementasi terhadap kebijakan pengawasan, pengendalian peredaran dan penjualan terhadap minuman beralkohol
“Lessons From Queensland’s Last-Drinks Legislation: The Use Of Extended Trading Permits”
Jurnal Drug and Alcohol Review
Hasil dari penelitian adalah UU yang diamandemen
menghasilkan bahwa penjualan alkohol akan berhenti pada jam 3 pagi di SNP (safe night out) dan
Metode yang digunakan
menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan metode statistik deskriptif
Persamaan antara penelitian di atas dengan penelitian ini adalah mengangkat tema
Didalam penelitian di atas
menggunkaan metode kuantitatif dengan pendekatan
Vol. 34(2) 2018, Renee Zahnow , Peter Miller, Kerri
Coomber ,
Dominique De Andrade & Jason Ferris .
berhenti pada pukul 2 pagi di seluruh Queensland. Akan tetapi amandemen tersebut memiliki sifat inklusif dimana tempat-tempat yang memiliki izin penjualan sebelumnya berhak atas 12 ETP,
ETP yang
dimaksudkan disini adalah
memungkinkan tempat-tempat
berlisensi untuk melanjutkan
penjualan alkohol
diluar jam
pembatasan
perdagangan yang sebelumnya sudah ada di amandemen UU tersebuat pada acara khusus. Peneliti memaparkan bahwa dengan sifatnya yang inklusif akan mengarah pada situasi dimana tempat-tempat yang memiliki lisensi akan melanggar aturan pembatasan jam pada UU ynag telah diamandemen dan melanjutkan bisnisnya seperti biasa sampai jam 5 pagi.
Sehingga hal tersebut dapat merusak kapasitas kebijakan untuk mencapai perubahan dalam batas jam penjualan beralkohol.
penelitian yang sama yaitu tentang peraturan mengenai minuman beralkohol dan kedua penelitian juga akan mengkaji peraturan mengenai perizinan minuman beralkohol.
statistik deskriptif, sedangkan penelitian saya akan
menggunakan metode kulitatif dengan pendekatan deskriptif.
Penelitian di atas mengupas tentang bahaya yang
ditimbulkan minuman beralkohol sehingga membuat pemerintah Queensland memutuskan untuk mengamande men UU yang berisi
perubahan jam perdaganagn minuman beralkohol dan perpanjanagn perizinan minuman beralkohol, sedangkan penelitian saya kan
menjelaskan tentang evaluasi implementasi kebiajakan pengawasan, pengawasan, pengendalian
peredaran, dan penjualan minuman beralkohol yang mengacu pada Perda No.6 Tahun 2017.
2. Kajian Pustaka
A. Evaluasi Kebijakan.
1) Pengertian Evaluasi Kebijakan.
Seiring perkembangan zaman persoalan-persoalan yang dihadapi pemerintah juga turut berkembang semakin kompleks. Hal tersebut mengharuskan pemerintah memberi perhatian yang lebih dan penaganan yang mendetail agar permasalahan yang ada dapat segera diatasi. Situasi yang demikian dapat menempatkan pemerintah dalam pembuatan kebijakan-kebijakan yang sulit. Sehingga setiap kebijakan yang dihasilkan memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing sebagai penentu keberhasilan kebijakan tersebut.
Menurut (Dunn, 2003) kebijakan adalah sebuah aturan yang tertulis, merupakan suatu keputusan yang formal dan memiliki sifat yang mengikat dengan sasaran untuk membuat suatu tatanan nilai baru dalam masyarakat. Oleh karena itu kebijakan akan menjadi rujukan utama oleh masyarakat dalam berperilaku.
Kemudian Sementara itu Carl J. Friedrick dalam (Winarno, 2008):17 –18) mengatakan bahwa kebijakan adalah:
“merupakan aktivitas yang dikemukakan oleh individu, golongan maupun pemerintah di dalam cakupan lingkungan yang spesifik, yang memberikan kendala dan kemungkinan-kemungkinan
terhadap suatu kebijakan yang dikemukakan untuk digunakan dengan tujuan menggapai sasaran, maupun mewujudkan target”.
Kemudian dari kedua pengertian diatas bisa di katakan bahwa kebijakan merupakan tindakan atau aturan yang tertulis yang dapat dibuat oleh seseorang, golongan atau pemerintah untuk mencapai sebuah tujuan dalam rangka mengatasi permasalahan. Jika diakitkan dengan masalah yang terjadi di publik, kemudian akan menampilkan istilah baru berupa kebijakan publik. Eeaston mengatakan bahwa kebijakan publik merupakan pemberian value yang memaksa pada semua masyarakat. Kemudian Laswell dan Kaplan mendefinisikan kebijakan publik sebagai suatu rancangan kegiatan untuk pencapaian sasaran dan value dalam praktek yang terarah.
Dari kedua uraian diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa kebijakan publik adalah suatu program dengan memberi nilai yang memaksa kepada seluruh masyarakat untuk mencapai suatu sasaran yang terarah. Suatu kebijakan publik tidak akan berhasil tanpa adanya implementasi. Sehingga peran implementasi di dalam kebijakan publik akan menjadi sangat vital dalam usaha meraih tujuan kebijakan yang sebelumnya sudah ditetapkan.
Evaluasi kebijakan publik merupakan salah satu tahapan dari proses kebijakan publik. Istilah evaluasi mempunyai arti yang saling berhubungan dan dapat disamakan dengan penaksiran (apprasial), pemberian angka (rating) dan penilaian (assesment). (Dunn, 2003) :608
Menurut James Anderson 2003:151 dalam (Kawengian &
Rares, 2015):3, evaluasi kebijakan merupakan suatu kegitan yang menyangkut penilaian atau menguji sebuah kebijakan termasuk isi, implementasi dan dampak dari kebijakan tersebut.
Sementara itu, menurut Jones 1984:199 dalam (Kawengian &
Rares, 2015):3 evaluasi kebijakan adalah sebuah aktivitas untuk menilai suatu kebijakan atau program pemerintah. Kegiatan evaluasi
tersebut memiliki teknik ukuran tertentu, memiliki metode analisis yang kemudian menghasilkan sebuah rekomendasi kebijakan. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi kebijakan merupakan suatu kegiatan untuk menilai atau menguji suatu kebijakan atau program pemerintah dengan menggunakan metode tertentu yang didalamnya terkandung pertimbangan nilai (value judgement) tertentu.
2) Pengertian Implementasi Kebijakan
Dalam kamus Webster implementasi merupakan suatu sistem pelaksanaan keputusan kebijakan yang biasanya tertuang dalam undang-undang, peraturan pemerintah, maupun dekrit presiden.
Menurut Van Meter dan Van Horn dalam (Taufiqurokhman, 2014) implementasi dalah suatu perbuatan yang dilaksanakan oleh individu dan kelompok pemerintah dan swasta yang diarahkan pada penerimaan tujuan dan sasaran yang menjadi hal terpenting dalam keputusan kebijakan.
Implementasi sendiri merupakan suatu kegiatan yang memerlukan pengawasan dan pengendalian sehingga dapat berjalan dengan baik. Mazmanian dan Sabatier dalam (Putra, 2003):84 menjelaskan bahwa melakukan kajian terhadap masalah implementasi kebijakan publik berarti berusaha memahami apa yang senyatanya terjadi setelah program atau suatu kebijakan dirumuskan dan dijalankan, yaitu fenomena dan kegiatan yang terjadi setelah proses pengesahan kebijakan, baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya atas pada kejadian-kejadian tertentu.
Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pengertian implementasi diatas adalah suatu sistem keputusan yang dilaksanakan oleh individu, pemerintah maupun swasta yang tertuang dalam pedoman peraturan kebijakan yang mengarah pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu diperlukan suatu konsep
implementasi kebijakan sebagai suatu tahap dari proses kebijakan setelah penetapan peraturan yang terdiri dari beberapa aktivitas.
Dengan demikian, implementasi kebijakan dimaksudkan untuk memahami apa yang terjadi setelah suatu program dirumuskan, serta dampak apa yang timbul dari program kebijakan itu. Disamping itu, implementasi kebijakan tidak hanya terkait dengan persoalan administratif, melainkan juga mengkaji faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap proses implementasi kebijakan tersebut.
Sehingga tanpa implementasi kebijakan, kebijakan yang dibuat sebelumnya tidak akan bisa terwujud dan akan sia-sia, oleh karena itu konsep implementasi kebijakan menjadi suatu proses yang sangat penting.
3) Evaluasi implementasi kebijakan.
Kegiatan evaluasi kebijakan dapat dilaksanakan dalam setiap tahapan kebijakan mulai dari proses pembuatan kebijakan sampai pada tahap dampak kebijakan. Menurut (Wibawa, 1994):9 evaluasi kebijakan dilakukan untuk mengetahui 4 aspek yang ada yaitu proses pembuatan kebijakan, proses implementasi, konsekuensi kebijakan dan efektivitas dampak kebijakan.
Menurut (Wibawa, 1994):29 jenis evaluasi kebijakan dapat dibedakan menjadi berikut:
1) Evaluasi implementasi yang berusaha melihat proses pelaksanaan implementasi yang berkaitan dengan pelaksana dan proses pelaksanaannya.
2) Evaluasi dampak kebijakan yang memberi perhatian lebih besar pada output dan dampak kebijakan dibandingkan proses pelaksanaannya.
Evaluasi Implementasi Kebijakan merupakan suatu penilaian terhadap pelaksanaan kebijakan atau program untuk melihat
keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kebijakan tersebut dengan membandingkan standar atau aturan pelaksanaan kebijakan dengan pelaksanaan dilapangan berdasarkan faktor-faktor atau variabel yang memberi pengaruh dalam pelaksanaan kebijakan. Dalam pelaksanaan kebijakan dilapangan akan terdapat banyak hal yang mempengaruhi keberjalanan kebijakan sehingga akan menjadikan kebijakan tersebut berhasil dilaksanakan atau mungkin akan mengalami kegagalan dalam pelaksanaannya.
Evaluasi kebijakan publik yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah evaluasi implementasi kebijakan, evaluasi implementasi kebijakan merupakan evaluasi yang dilaksanakan pada tahap pelaksanaan suatu kebijakan. Evaluasi yang dilaksanakan ketika kebijakan, program maupun kegiatan tengah dilaksanakan dan faktor apa yang mempengaruhi keberhasilan implementasi. Maka dari itu implementasi suatu kebijakan membutuhkan evaluasi untuk memantau bagaimana kebijakan, program maupun suatu kegiatan dikelola dan ditata sehingga mendapatkan hasil yang berfungsi sebagai peningkatan proses implementasi.
Lester dan Steward dalam (Kusumanegara, 2010):121 mengemukakan bahwa evaluasi kebijakan adalah konsekuensi kebijakan publik yang harus dipelajari. Sedangkan Anderson dalam (Kusumanegara, 2010): 121 evaluasi kebijakan berfokus pada perkiraan dan melakukan penilaian terhadap implementasi (proses) dan akibat- akibat (dampak) kebijakan.
Menurut Jones dalam Widodo (2008 : 113) evaluasi kebijakan merupakan kegiatan yang disusun untuk melakukan penilaian kebijakan pemerintah yang memiliki perbedaan yang sangat spesifik dalam objeknya, teknik pengukurannya, dan metode analisisnya.
Dari Uraian di atas, kemudian dapat disimpulkan bahwasanya evaluasi kebijakan merupakan proses penilaian terhadap kapasitas suatu
kebijakan dengan melihat tingkat kinerja penerapan, tujuan kinerja, akibat dan perubahan yang terjadi dalam kebijakan.
Menurut (Dunn, 2003) : 609-611 mengatakan bahwa Evaluasi kebijakan memiliki beberapa fungsi yang berada dalam analisis kebijakan yaitu:
a. Evaluasi memberi informasi yang valid dan dapat dipercaya menegenai kinerja kebijakan, berupa seberapa jauh kebutuhan, nilai dan kesempatan yang telah dicapai melalui tindakan publik.
Maksudnya evaluasi bisa mengungkap seberapa jauh tujuan tertentu (tujuan yang akan dicapai dalam suatu kebijakan atau program) dan tarfer tertentu yang telah dicapai
b. Evaluasi memberi ide dalam klarifikasi dan kritik terhadap nilai- nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan target kebijakan atau program.
c. Evaluasi memberi masukan pada metode analisis kebijakan lainnya termasuk didalamnya untuk perumusan masalah dan rekomendasi.
Menurut (Ripley & Franklin, 1986) ada 2 pendekatan untuk menilai implementasi kebijakan. Ripley dan Franklin menyatakan bahwa ada dua prinsip untuk menilai implementasi, satu pendekatan berfokus pada kepatuhan dengan pertanyaan apakah pelaksana mematuhi prosedur yang ditentukan, jadwal, dan batasan. Pendekatan kedua untuk menilai implementasi adalah dengan menanyakan bagaimana implementasi tersebut dapat berjalan, apa yang diraihnya? dan mengapa?, perspektif pendekatan kedua ini dapat dikategorikan sebagai induktif atau empiris.
Karena dirasa pertanyaan yang diajukan untuk menilai implementasi kebijakan dalam perspektif kedua kurang cocok maka diganti dengan pertanyaan utama yaitu apa yang terjadi? Dan mengapa?. (Ripley &
Franklin, 1986):11
Dari penjelasan diatas penilaian atas implementasi kebijakan menurut Ripley dan Franklin dapat dilihat dari:
1) Compliance (Kepatuhan)
Tingkat kepatuhan dapat digunakan untuk menilai sebuah implementasi kebijakan, baik tingkat kepatuhan bawahan kepada atasan, atau kepatuhan implementor terhadap peraturan.
Kepatuhan tersebut mengacu pada perilaku implementor itu sendiri sesuai dengan standar, prosedur serta aturan yang telah dibuat dan ditetapkan oleh sebuah kebijakan.
Implementasi kebijakan akan berjalan dengan baik ketika para implementor dapat mematuhi aturan-aturan yang telah diberikan.
Dalam uji kepatuhan terdapat dua indikator untuk menilai sebuah implementasi kebijakan yaitu:
a) Perilaku implementor
Melihat perilaku kepatuhan implementor dalam melaksanakan kebijakan yang tertuang dalam dokumen kebijakan yatu dari juklak dan juknis yang telah dibuat sebelumnya.
b) Pemahaman implementor terhadap kebijakan.
Melihat sejauh mana para implementor paham akan juklak dan juknis dari sebuah kebijakan yang telah dibuat sebelumnya.
Dalam kaitannya dengan implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol, maka aspek yang menentukan keberhasilan implementasi adalah kegiatan sejauh mana perilaku para pelaksana kebijakan patuh terhadap peraturan yang ada di dalam Perda tersebut dan sejauh mana para pelaksana paham akan juklak dan juknis kebijakan yang telah dibuat. Dalam Perda tersebut memuat ketentuan- ketentuan sebagai berikut:
a. Aspek Pengawasan
Dalam pelaksanaannya aspek pengawasan dilakukan pada penjualan langsung minuman beralkohol, perizinan, tempat peredaran dan orang atau badan yang menguasai minuman beralkohol.
b. Aspek Pengendalian Peredaran
untuk aspek pengendalian peredaran memuat ketentuan aspek labelisasi dan perizinan yang dilakukan oleh pemilik badan usaha kepada Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Sukoharjo.
c. Aspek Penjualan
Memuat kentuan mengenai penjualan secara langsung dan penjualan eceran minuman beralkohol yang kemudian menjadi aspek yang tidak bisa dipisahkan dengan aspek pengawasan.
2) Apa yang terjadi dan mengapa
Pendekatan ini melihat bagaimana sebuah implementasi kebijakan berlangsung, Ripley dan Franklin menjelaskan ada 5 indikator yang dijelaskan dalam pendekatan ini. 5 indikator dalam pendekatan ini paling penting dibahas yaitu banyaknya aktor yang terlibat, kejelasan tujuan, kompleksitas program pemerintah, partisipasi unit pemerintahan di semua tingkat wilayah dan faktor- faktor yang mempengaruhi implementasi (Ripley & Franklin, 1986):11
Penjabaran dari indikator-indikator diatas dapat dilihat dibawah ini :
a) Banyaknya aktor yang terlibat
Proses dari sebuah implementasi kebijakan tentunya melibatkan banyak aktor kebijakan, semakin kompleks suatu kebijakan yang dijalankan oleh Pemerintah maka akan semakin banyak aktor yang terlibat. Oleh karena itu pelaksana
kebijakan harus memiliki skill yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan yang sudah diberikan. Kurangnaya skill dari para pelaksana kebijakan akan mengakibatkan terhambatnya pelaksanaan kebijakan.
b) Kejelasan tujuan
Kejelasan tujuan dapat dipahami sebagai kejelasan isi kebijakan. Semakin jelas dan rinci isi dari sebuah kebijakan, maka kebijakan tersebut akan mudah di implementasikan karena implementor mudah memahami dan menerjemahkan dalam tindakan pelaksanaan secara nyata. Jika isi kebijakan tidak jelas akan melahirkan potensi distorsi dalam implementasi kebijakan.
c) Kompleksitas program pemerintahan
Kompeksitas program dapat dilihat dari tingkat kerumitan sebuah program atau kebijakan itu sendiri.
d) Partisipasi dalam semua unit pemerintahan
Partisipasi yang dimaksud adalah partisipasi dari seluruh aktor pelaksana yang terlibat dalam implementasi sebuah kebijakan yang telah dibuat sebelumnya.
e) Faktor-faktor yang tidak terkendali
Faktor yang tidak terkendali ini adalah faktor-faktor diluar teknis yang telah melampaui batas kontrol dari para implementor yang akan mempengaruhi implementasi dari sebuah kebijakan hingga akhirnya akan menghambat atau lebih parahnya bisa menggagalkan implemetasi dari sebuah kebijakan yang telah didesain sebelumnya.
Dari uraian penjelasan diatas penelitian evaluasi implementasi pada penelitian ini akan berfokus pada penilaian implementasi kebijakan dengan acuan Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo No. 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten
Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol serta Peraturan Bupati Sukoharjo Nomor 62 Tahun 2017 Tentang Tata Cara Dan Persyaratan Pemberian Surat Izin usaha Perdagangan Minuman Beralkohol dengan pendekatan uji kepatuhan (compliance) dengan menggunakan kriteria indikator dari pendekatan kepatuhan yaitu perilaku implementor dan pemahaman implementor pada sebuah kebijakan terhadap aktivitas pelaksanaan: (a)Pengawasan; (b)Pengendalian; (c)Penjualan pada Perda Kabupaten Sukoharjo No. 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol. Uji kepatuhan digunakan untuk mengevaluasi implementasi dikarenakan penelitian ini ingin melihat sejauh mana kepatuhan pelaksanaan dalam mengimplementasikan aktivitas (a)Pengawasan;
(b)Pengendalian; (c)Penjualan pada Perda Kabupaten Sukoharjo No. 6 Tahun 2017. Kemudian evaluasi implementasi juga didasarkan pada faktor apa saja yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan Perda Kabupaten Sukoharjo No.6 Tahun 2017.
4) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan Publik
Untuk memahami aspek-aspek apa saja yang memberikan pengaruh terhadap implementasi kebijakan tersebut dapat diketahui menggunakan beberapa bentuk implementasi kebijakan publik. Model- model tersebut antara lain:
Dalam implementasi kebijakan ada dua bentuk yaitu bentuk top down dan bentuk bottom up. Model implementasi top down dapat diadopsi dari model Sabartier dan Mazmanian dalam (Putra, 2003):88- 89 menjelaskan bahwa implementasi kebijakan merupakan fungsi dari tiga variabel yang saling berhubungan dengan (1) karakteristik masalah, (2) struktur manajemen program yang tergambar dalam berbagai
macam tatanan operasional kebijakan dan (3) aspek-aspek diluar peraturan. Menurut bentuk top down implementasi kebijakan akan berjalan dengan baik apabila birokrasi pelaksananya mematuhi juklak dan juknis dari peraturan
Gambar 2. 1
Bentuk implementasi kebijakan menurut sabartier dan mazmanian
Gambar 2. 2
Sumber: Wahab:2002
Karakteristik masalah 1. Teknologi dan teori teknis yang tersedia 2. Perilaku kelompok sasaran yang beragam
Daya Dukung Peraturan
1. Keselaran / konsistensi tujuan / target.
2. Teori sebab akibat yang memenuhi
3. Sumber dana yang memenuhi.
4. penyatuan organisasi pelaksana 5. Diskresi pelaksana
6. Rekruitmen dari pejabat 7. Akses formal pelaksana organisasi
Proses Implementasi
Output keselarasan impact yang
Kebijakan keluaran dampak aktual diperkirakan Dan organisasi kebijakan keluaran perbaikan Pelakasana dengan kelompok kebijakan peraturan
Sasaran
Variabel Non Peraturan 1. Keadaan Sosio ekonomi &
teknologi
2. Perhatian media kepada persoalan kebijakan 3. Dukungan masyarakat
4. tingkah laku dan sumber daya 5. dukungan kewenangan 6. tanggung jawab dan keahlian pejabat
Menurut Edward III ( (Widodo, 2008):96 – 107) ada empat aspek atau indikator yang memiliki pengaruh terhadap pelaksanaan kebijakan yang bekerja secara simulan dan berhubungan satu dengan yang lain untuk membentuk implementasi kebijakan, jadi pendekatan yang seimbang adalah bisa dengan merenungkan kerumitan ini dengan membahas semua aspek tersebut sekaligus. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Faktor komunikasi (communication)
Komunikasi kebijakan berarti merupakan proses pencapaian informasi kebijakan (Policy maker) terhadap penyelenggara kebijakan (policy implementors), informasi kebijakan publik penting untuk diuraikan dan diutarakan kepada aktor kebijakan agar para pelaku kebijakan bisa menginterpretasikan apa yang menjadi isi,tujuan, arah, kelompok sasaran (target groups) kebijakan dan agar para pelaku kebijakan bisa menyiapkan dengan akurat apa yang mesti disiapkan untuk menyelenggarakan kebijakan publik agar apa yang menjadi tujuan dan terget kebijakan bisa diraih sesuai dengan yang diinginkan.
b. Sumber Daya (Resources)
Aspek sumber daya ini juga memiliki peranan yang utama dalam pelaksanaan kebijakan. Jika penyelenggara kebijakan yang memiliki komitmen untuk menyelenggarakan kebijakan tidak mempunyai sumber daya untuk menyelenggarakan pekerjaan secara efektif, maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan efektif. Sumber daya yang dimaksud yakni: (a) sumber daya manusia dimana sumber daya ini merupakan salah satu indikator variabel yang paling utama dalam keberhasilan pelaksanaan kebijakan.;(b)sumber daya keuangan yakni anggaran, menurut edward jika anggaran yang tersedia terbatas maka layanan yang akan diberikan ke masyarakat juga turut terbatas, kemudian Edward juga mengatakan terbatasnya anggaran untuk intensif dari pelaksana kebijakan bisa menjadi penyebab utama gagalnya implementasi kebijakakan karena
keterbatasan anggaran dapat menimbulkan disposisi yang rendah.;
(c)sumber daya peralatan adalah fasilitas yang difungsikan sebagai operasionalisasi implementasi kebijakan yang mencakup gedung, peralatan, tanah dan suku cadang lain, dimana sarana yang digunakan akan mempermudah dalam memberi pelayanan dalam pelaksanaan kebijakan.
c. Disposisi (Disposition)
Disposisi merupakan kehendak, dorongan dan kecenderungan para aktor kebijakan untuk menyelenggarakan kebijakan tadi secara benar sehingga apa yang menjadi target kebijakan dapat terwujud.
Intensitas disposisi para pelaku (implementator) dapat berimbas pada performa kebijakan. Kurangnya atau terbatasnya intensitas disposisi ini, akan mengakibatkan kegagalan pelaksanaan kebijakan.
d. Struktur Birokrasi (Bureaucratic Structure)
Struktur birokrasi melingkupi berbagai bagian yang mencakup struktur organisasi, pembagian kewenangan, interksi antar lembaga organisasi yang ada dalam organisasi yang bersangkutan, dan interaksi organisasi dengan organisasi luar dan sebagainya. Dalam struktur birokrasi ada dua ciri khas yang penting yaitu SOP dan Fragmentasi.
SOP digunakan dalam upaya menjalankan kebijakan agar efektif dan efisienm, SOP merupakan petunjuk untuk jajaran struktur birokrasi dalam bertindak. Struktur birokrasi dalam organisasi yang baik adalah stru ktur yang ringkas, karena jika strukturnya terlalu panjang akan menyebabkan pengawasannya cenderung lebih lemah dan akan menimbulkan prosedur yang birokrasinya terlalu rumit.
Kemudian Edward III menjelaskan bahwa Fragmentasi merupakan pemecahan tanggung jawab suatu kebijakan terhadap blembaga- lembaga yang berbeda sehingga membutuhkan komunikasi. Edward III mengungkapkan bahwa “struktur organisasi yang terfragmentasi (terpecah-pecah atau tersebar) dapat meningkatkan kegagalan
komunikasi, karena kesempatan terdistorsi sangat besar. Semakin terdistorsi dalam pelaksanaan kebijakan, semakin membutuhkan komunikasi yang semakin intensif”
Faktor tujuan dan sasaran, komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi yang telah disebutkan diatas akan sangat berpengaruh kepada tingkat keberhasilan dan kegagalan dalam suatu proses implementasi kebijakan. Dengan demikian dalam penelitian ini akan menggunakan indikator dari Edward III mulai dari komunikasi, disposisi yang kemudian akan diadopsi menjadi sikap pelaksana kebijakan, sumber daya dan struktur birokrasi.
Sementara itu Grindle dalam (Imronah, -) mengemukakan model implementasi kebijakan yang menurutnya sangat dipengaruhi oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya.
Isi kebijakan meliputi :
a. Kebijakan yang mempengaruhi kepentingan
Kebijakan yang melibatkan kepentingan yang berlainan akan sukar untuk diimplementasikan. Jika dibandingkan dengan yang mempunyai sedikit keperluan.
b. Tipe Manfaat
Kelompok sasaran diharapkan dapat menerima manaat secara langsung dari suatu kebijakan.
c. Derajat perubahan yang diharapkan
Kebijakan dapat dengan mudah dilaksanakan apabila dampak yang diinginkan bisa menghasilkan pemanfaatan yang jelas.
d. Letak pengambilan keputusan
Pembuat kebijakan yang memiliki wewenang dan otoritas yang tinggi dapat dengan mudah mengkoordinasi bawahannya sehingga kedudukan pembuat kebijakan dapat mempengaruhi implementasi selanjutnya.
e. Pelaksana Program
Pelaksanaan program mempunyai pengaruh yang sangat menentukan dalam proses implementasi serta pencapaian hasil akhir yang diperoleh karena sebaik – baiknya suatu program apabila tidak diimplementasikan oleh orang – orang yang tidak berkualitas maka program tersebut akan sia - sia saja.
f. Sumber daya yang dilibatkan
Meliputi berbagai sumber daya yang dialokasikan dalam pelaksanaan program dimana besar serta asalnya sangat menentukan keberhasilan implementasi,
Sedangkan konteks implementasi terdiri dari :
a. Kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor yang terlibat
Rencana yang dipakai dalam proses kekuasaan dari badan penyelenggara ataupun penguasa yang dapat mempengaruhi pelaksanaan program.
b. Karakteristik lembaga dan penguasa
Otoritas dari penguasa yang berpengaruh terhadap badan pelaksana dapat mempengaruhi jalannya implementasi
c. Kepatuhan dan daya tanggap
Kepatuhan dapat berupa dukungan elite politik sebagai agen, penyelenggaraan yang diberi tugas untuk menyelenggarakan program dan kepatuhan kelompok sasaran. Sedangkan daya tanggap merupakan kepekaan lembaga yang timbul dari pelaksanaan program.
Dari beberapa model implementasi di atas penelitian ini akan mengadopsi model implementasi dari Edward III yang telah dirangkum sebelumnya yaitu:
a. Komunikasi b. Sikap pelaksana c. Sumber daya d. Struktur Birokrasi
Dengan melihat komunikasi dari pelaksana Perda minuman beralkohol di Sukoharjo maka dapat dilihat apakah transmisi informasi dapat tersampaikan dengan baik kepada kelompok sasaran, kemudian sikap pelaksana yang taat, tegas dan berusaha menegakkan peraturan yang ada sehingga pelaksanaan peraturan yang telah ditentukan sebelumnya dapat terselenggara dengan baik. Dengan sumber daya dalam pelaksanaan Perda minuman beralkohol maka dapat dilihat sejauh mana ketersediaan sumber daya untuk mendukung pelaksanaan perda minuman beralkohol, semakin banyak ketersediaan sumber daya yang digunakan untuk pelaksanaan Perda minuman beralkohol maka semakin dekat dengan keberhasilan implementasi dan tujuan kebijakan.
Yang terakhir adalah struktur birokrasi dari para pelaksana kebijakan Perda minuman beralkohol, struktur birokrasi ini akan melihat pembagian tugas dari tiap-tiap badan atau lembaga pelaksana kebijakan apabila badan atau lembaga yang diberi tugas sudah menjalankan tugasnya sesuai SOP dan tidak terfragmentasi maka akan semakin mudah untuk mewujudkan keberhasilan dari Perda itu sendiri.
B. Aspek yang dikaji dalam evaluasi implementasi Perda Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol
1) Implementasi Perda Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Mengenai Penggubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Mengenai Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol
Dengan melihat kepatuhan pelaksana dengan menggunakan 2 indikator yaitu:
a) Perilaku implementor
b) Pemahaman implementor terhadap kebijakan
Terhadap aspek Perda yang terdiri dari pelaksanaan: (a)Pengawasan;
(b)Pengendalian peredaran; (c)Penjualan.
2) Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Mengenai Penggubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol.
a. Komunikasi b. Sikap pelaksana c. Sumber daya d. Struktur Birokrasi
C. Perda Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol
Minuman beralkohol merupakan salah satu persoalan di Negara berkembang yang patut mendapat perhatian yang serius dari pemerintah, Negara Indonesia dalam menyelenggarakan urusan pemerintahannya berada pada kekuasaan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Sukoharjo adalah salah satu Daerah otonom yang berada Provinsi Jawa Tengah, sebagai Daerah Otonom Pemerintah Daerah Sukoharjo selaku badan eksekutif, memiliki kewenangan untuk merancang Perda bersama DPRD selaku lembaga legislatif. Seperti Perda nomor 6 tahun 2017 tentang pengawasan, pengendalian peredaran, dan penjualan minuman beralkohol.
Perda tersebut merupakan perwujudan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dalam upaya mengatasi masalah masih maraknya masyarakat yang melakukan produksi ciu dan peredaran miras dengan bebas dan tanpa surat ijin usaha perdagangan minuman beralkohol (SIUP-MB). Perda tersebut juga
dibuat untuk melarang produksi ciu di bekonang dan mengalihkan produksi ke bio-etanol.
Peraturan Daerah minuman beralkohol Nomor 6 Kabupaten Sukoharjo itu sendiri, memiliki tiga aspek penting. Pertama, aspek pengawasan yang dilakukan pada: (a)penjualan langsung untuk diminum, tempat peredaran dan penjualannya. (b)perizinan, importir minuman beralkohol, distributor, subdistributor. (c)tempat lokasi peredaran dan penjualan minuman beralkohol. (d)orang/badan yang menguasai minuman beralkohol; semua proses pengawasan dilakukan oleh tim pengawas dan penertiban. Kedua, aspek pengendalian peredaran yang di dalamnya memuat dua aspek, labelisasi dan perizinan. Labelisasi digunakan dengan mengacu pada aturan- aturan yang ada tertuang dalam peraturan produk minuman keras, kemudian untuk perizinan pada usaha minuman beralkohol semua golongan (A,B,dan C) maupun produksi harus memiliki SIUP-MB yang sudah ditentukan masa perpanjangan dan berlakunya. Ketiga, aspek penjualan yang memuat bagian penjualan secara langsung dan penjualan eceran dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkan.
3. Kerangka Berpikir
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya maka dalam penelitian ini yang dimaksud evaluasi implementasi Perda Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Mengenai Penggubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol adalah suatu tindakan untuk menilai berhasil tidaknya pelaksanaan kebijakan termasuk didalamnya untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi dalam mencapai tujuan kebijakan Perda No. 6 tahun 2017 yang telah ditetapkan. Untuk melihat dan memahami evaluasi implementasi Perda Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Mengenai Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol, perlu diketahui seberapa
jauh program ini berhasil diimplementasikan sesuai dengan pedoman dan aturan sehingga mendekati tujuan yang telah ditetapkan serta telah mencapai kelompok sasaran.
Dalam penelitian ini untuk mengetahui hal tersebut maka diperlukan untuk melihat pelaksanaan Perda dalam aspek: (a)pengawasan; (b) pengendalian; (c)penjualan. Ketiga pelaksanaan tersebut akan digunakan sebagai dasar yang akan dievaluasi kepatuhannya melalui dua indikator yaitu:
(a) perilaku implementor dan (b) pemahaman implementor terhadap sebuah kebijakan.Karena evaluasi implementasi kebijakan pada penelitian ini berfokus pada evaluasi implementasi uji kepatuhan yang lebih menekankan pada implementasinya maka dipilihlah ketiga indikator diatas.
Untuk mengetahui bagaimana proses evaluasi implementasi Perda Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol, indikator yang digunakan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi dalam pelaksanaanya adalah:
1. Komunikasi
Komunikasi digunakan untuk memberikan penjelasan kebijakan publik kepada pelaku kebijakan agar para pelaku kebijakan bisa menginterpretasikan apa yang menjadi isi, tujuan, dan arah kelompok sasaran (target groups) kebijakan agar pelaku kebijakan dapat melakukan persiapan dengan baik apa yang harus dilakukan untuk menyelenggarakan kebijakan publik. Agar apa yang menjadi tujuan dan target kebijakan bisa diraih sesuai dengan yang diinginkan. Komunikasi dapat diartikan sebagai penyampaian atau pemindahan sebuah pesan dari satu sumber kedalam sumber yang lain dengan tujuan untuk melakukan pemahaman bersama.
Komunikasi dapat dilakukan dari atas ke bawah (vertikal), maupun sejajar (horizontal). Berkaitan dengan pelaksanaan program, komunikasi yang berjalan dengan terarah dan lancar akan sangat
memberi kontribusi yang besar terhadap pelaksanaan kebijakan, karena komunikasi akan mempermudah penerimaan maupun pelaksanaan program.
Komunikasi dalam pelaksanaan Kebijakan pengawasan, pengendalian peredaran dan perizinan minuman beralkohol adalah komunikasi horisontal dan Komunikasi vertikal.
Komunikasi horizontal dapat dilihat dari koordinasi antar sesama pelaksana kebijakan Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Polres Sukoharjo, Satpol PP dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu.
Komunikasi vertikal dapat dilihat dari Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Polres Sukoharjo, Satpol PP dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dalam memberikan petunjuk dan arahan kepada masyarakat.
2. Sikap Pelaksana
Implementasi Perda Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol membutuhkan sikap yang baik dari aparat pelaksana sehingga dapat dijalankan secara bertanggung jawab. Sikap ini ditentukan oleh wawasan para aparat pelaksana terhadap tujuan dari kebijakan pengawasan, pengendalian peredaran dan perizinan minuman beralkohol. Para pelaksana kebijakan juga harus paham apa yang diinginkan oleh masyarakat dan harus bisa membuat masyarakat menjalankan kebijakan sesuai dengan apa yang telah diatur sebelumnya.
Sikap pelaksana dapat dilihat dari cara kerja tim pengawas, aparat kepolisian dan satpol PP terhadap tujuan kebijakan pengawasan, pengendalian peredaran dan perizinan minuman beralkohol. Cara kerja dan pengetahuan unit pelayanan terpadu satu pintu dalam pemberian perizinan pengedaran dan penjualan minuman
beralkohol. Oleh karena itu, kerjasama antar pelaksana sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program.
3. Sumber daya
Sumber daya menjadi suatu aspek yang memberi pengaruh keberhasilan dan kegagalan keberjalanan suatu kebijakan yang telah dibuat. Sumber daya yang dimiliki dalam mencapai keberhasilan implementasi haruslah cukup. Sumber daya yang cukup dapat dilihat dari: (a)sumber daya manusianya apakah sudah memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik serta memiliki ketersediaan personil atau pegawai yang cukup dalam menangani dan mengelola kebijakan Perda No.6 Tahun 2017 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran Dan Perizinan Minuman Beralkohol.; (b)sumber daya keuangan, apakah anggaran yang digunakan dalam melaksanakan kebijakan Perda No.6 Tahun 2017 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran Dan Perizinan Minuman Beralkohol tidak terbatas dan cukup untuk menjadi pendukung pelayanan kebijakan terhadap masyarakat.; (c)sumber daya peralatan dapat dilihat dari ketersediaan sarana yang digunakan dalam memberi kemudahan pelayanan terhadap masyarakat, misalnya adanya gedung tersendiri untuk kepengurusan administrasi atau perizinan yang berkaitan dengan SIUP-MB.
4. Struktur Birokrasi
Keberhasilan dan kegagalan implementasi kebijakan juga dipengaruhi oleh struktur birokrasi dalam kebijakan yang telah dibuat, apabila struktur birokrasi terlalu panjang dan rumit bisa menyebabkan kegagalan implementasi kebijakan Perda minuman beralkohol di Kabupaten Sukoharjo. Pembagian tupoksi yang terperinci pada tiap-tiap badan atau lembaga yang menangani kebijakan Perda No.6 tahun 2017 tentang pengawasan, pengendalian peredaran dan perizinan minuman beralkohol bisa
menjadi faktor keberhasilan implementasi kebijakan. Faktor struktur birokrasi ini dapat dilihat dari adanya dua unsur utama struktur birokrasi yaitu SOP dan Fragmentasi didalam kebijakan.
Gambar 2. 2
Skema Kerangka Pemikiran.
Berbagai persoalan berkaitan dengan keberadaan industri minuman beralkohol di Kabupaten Sukoharjo, memerlukan penanganan dan perhatian yang serius bagi Pemkab Sukoharjo agar tidak disalahgunakan
Evaluasi implementasi peraturan daerah Kabupaten Sukoharjo No.6 tahun 2017 tentang pengawasan, pengendalian peredaran dan perizinan minuman beralkohol dengan pendekatan kepatuhan (Compliance) dari Ripley dan Franklin dengan standart kepatuhan peraturan daerah Kabupaten Sukoharjo No.6 tahun 2017 tentang pengawasan, pengendalian peredaran dan perizinan minuman beralkohol yang menggunakan indikator:
1. Perilaku Implementor.
2. Pemahaman implementor terhadap kebijakan.
Implementasi Perda Kab. Sukoharjo No.6 tahun 2017 tentang perubahan atas Perda No. 7 th 2012 tentang pengawasan,
pengendalian peredaran dan penjualan minuman beralkohol
Faktor yang mempengaruhi
pelaksanaan Perda Kab.
Sukoharjo No.6 tahun 2017
Faktor yang mempengaruhi menggunakan model implementasi dari Edward III:
1. Komunikasi 2. Sikap pelaksana 3. Sumber
daya
4. Struktur birokrasi
Peredaran minuman beralkohol bisa terkendali sehingga tercipta masyarakat yang tertib dan tenteram tanpa adanya penyalahgunaan minuman beralkohol