• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Landasan Teori

2.2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permodalan Usahatani

Kegiatan usahatani dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah faktor sosial ekonomi petani meliputi pendapatan usahatani, tabungan, tingkat pendidikan, status kepemilikan lahan, tingkat kosmopolitan dan pengalaman (Tambunan, 2003).

Faktor–faktor yang harus dipertimbangkan dalam ketersediaan permodalan usahatani, antara lain:

1. Pendapatan

Suratiyah (2006) menyatakan pendapatan usahatani merupakan gambaran keberhasilan petani dalam mengusahakan sumberdaya yang ada. Usahatani yang telah dilakukan akan memperhitungkan biaya-biaya yang telah dikeluarkan dengan penerimaan yang diperoleh. Selisih antara biaya yang dikeluarkan dengan penerimaan yang diperoleh tersebut merupakan pendapatan dari suatu usahatani yang dijalankan. Analisis pendapatan usahatani memerlukan dua keterangan pokok, yaitu keadaan penerimaan dan keadaan pengeluaran dalam suatu proses produksi.

Menurut Soemarsono (2003), pendapatan dalam perusahaan dapat diklasifikasikan sebagai pendapatan operasi dan non operasi. Pendapatan operasi adalah pendapatan yang diperoleh dari aktivitas utama perusahaan. Sedangkan pendapatan non operasi adalah pendapatan yang diperoleh bukan dari kegiatan

utama perusahaan. Dengan kata lain, pendapatan yang diterima petani dapat bersumber dari sektor pertanian dan juga sektor non pertanian.

Pendapatan adalah sama dengan pengeluaran. Pendapatan yang dicapai oleh jangka waktu tertentu senantiasa sama dengan pengeluaran jangka waktu tersebut.

Pendapatan senantiasa harus sama dengan pengeluaran karena kedua istilah ini menunjukkan hal yang sama (Winardi, 1975). Hal ini sesuai dalam ilmu ekonomi makro bahwa pendapatan sama dengan konsumsi dan tabungan.

Usahatani dikatakan efektif apabila petani atau produsen dapat mengalokasikan pendapatannya sebagai modal usahataninya sebaik-baiknya. Dikatakan efisien bila pemanfaatan pendapatan dapat digunakan untuk pemenuhan konsumsi sehari-hari dan dapat digunakan sebagai sumber modal usahatani yang akan dilakukan berikutnya (Soekartawi, 2001).

Apabila seorang petani hanya memperoleh pendapatan melalui pendapatan usahataninya saja (Y=Y1) sedangkan konsumsi akan kebutuhan sehari–hari seperti pangan dan non pangan harus terpenuhi (C = C1 + C2 + C3 .... Ci), maka dapat disimpulkan pengeluaran untuk konsumsi usahatani selanjutnya atau modal usahatani lebih rendah dibandingkan untuk konsumsi kebutuhan sehari-hari.

2. Tabungan

Tabungan keluarga petani pada umumnya berupa barang berharga. Tabungan ini sewaktu-waktu dapat diuangkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk diinvestasikan ke berbagai usaha. Ada yang menginvestasikan ke dalam usahatani dan ada pula yang digunakan untuk usaha di luar sektor pertanian, termasuk untuk membiayai sekolah anak-anaknya (Djiwandi, 2002).

Tabungan keluarga petani sangat mempengaruhi kemampuan usahatani petani dan biaya investasi pertanian petani secara mandiri. Tabungan dapat meningkat dengan adanya kegiatan usahatani yang optimum, sehingga pendapatan usahatani dapat meningkat dan tabungan rumah tangga petani juga dapat meningkat.

Dengan adanya peningkatan tabungan rumah tangga petani, maka pemenuhan kebutuhan modal dapat dibantu dari tabungan rumah tangga petani itu sendiri (Kore, 2017).

3. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan petani akan berpengaruh pada penerapan inovasi baru, sikap mental dan perilaku tenaga kerja dalam usahatani. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan lebih mudah dalam menerapkan inovasi. Pendidikan petani tidak hanya berorientasi terhadap peningkatan produksi tetapi mengenai kehidupan sosial masyarakat tani (Soeharjo dan Patong, 1999).

Petani yang memiliki tingkat pendidikan tinggi maka akan relatif lebih cepat dalam melaksanakan adopsi teknologi dan inovasi. Petani yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah biasanya sulit melaksanakan adopsi inovasi dengan cepat.

Tingkat pendidikan yang dimiliki petani menunjukkan tingkat pengetahuan serta wawasan petani dalam menerapkan teknologi maupun inovasi untuk peningkatan kegiatan usahatani (Lubis, 2000).

Pendidikan merupakan hal yang berkaitan dengan kemampuan petani dalam adopsi teknologi baru dan juga wawasan petani mengenai akses modal yang ada.

Sehingga dengan pendidikan yang memadai diharapkan dapat menunjang usahatani petani.

4. Status Kepemilikan Lahan

Menurut Wiradi (1984), kepemilikan lahan berpengaruh terhadap reforma agraria.

Reforma agraria adalah modifikasi berbagai persyaratan yang dapat mempengaruhi sektor pertanian mislanya berupa kredit, kebijakan harga, penelitian dan penyuluhan, pengadaan input, koperasi dan lain-lain. Seluruh komponen tersebut sudah menjadi perhatian kebijakan pemerintah selama ini, namun karena tidak didahului dengan land reform atau land tenure system, maka selain hasil yang dicapai tidak optimal juga dibarengi oleh ketimpangan penguasaan yang berimplikasi kepada ketimpangan penguasaan yang berimplikasi pada ketimpangan kesejahteraan dan marjinalisasi petani kecil.

Menurut Soekartawi (1993), luas lahan akan mempengaruhi skala usaha.Semakin luas lahan yang dipakai petani dalam usaha pertanian, maka lahan semakin tidak efisien. Hal ini disebabkan pada pemikiran bahwa luasnya lahan mengakibatkan upaya melakukan tindakan yang mengarah pada segi efisien akan berkurang.

Sebaliknya pada lahan yang sempit upaya pengawasan terhadap penggunaan modal semakin baik, sehingga usaha pertanian seperti ini lebih efisien. Meskipun demikian lahan yang terlalu kecil cenderung menghasilkan usaha yang tidak efisien pula.

5. Pengalaman

Pengalaman usahatani sangat mempengaruhi petani dalam menjalankan kegiatan usahatani yang dapat dilihat dari hasil produksi. Petani yang sudah lama berusahatani memiliki tingkat pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang tinggi dalam menjalankan usahatani. Pengalaman usahatani dibagi menjadi tiga kategori yaitu kurang berpengalaman (< 5 tahun), cukup berpengalaman

(5-10 tahun) dan berpengalaman (> 10 tahun). Petani memiliki pengalaman usahatani atau lama usahatani yang berbeda-beda (Soeharjo dan Patong, 1999).

Lama berusahatani merupakan salah satu faktor yang menentukan pengalaman petani akan usahataninya. Pengalaman tersebut menentukan sikap petani dalam menentukan komoditi yang tepat untuk diusahakan serta memprediksi jumlah modal yang dibutuhkan untuk usahataninya (Mandry, 2016).

Jika petani mempunyai pengalaman yang relatif berhasil dalam mengusahakan usahataninya, biasanya mempunyai pengetahuan, sikap dan keterampilan yang lebih baik dibandingkan dengan petani yang kurang berpengalaman. Namun jika petani selalu mengalami kegagalan dalam mengusahakan usahatani tertentu, maka dapat menimbulkan rasa enggan untuk mengusahakan usahatani tersebut (Lubis, 2000).

2.3.Penelitian Terdahulu

Silvira (2008) dengan penelitian yang berjudul ”Analisis Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi Sawah (Studi Kasus: Desa Medang, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batu Bara)”. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor–faktor apa saja yang mempengaruhi produksi dan berapa besar pendapatan usahatani padi sawah di daerah penelitian, serta menganalisis hubungan karakteristik petani dengan jumlah produksi padi sawah di daerah penelitian. Metode penelitian ini dilakukan dengan metode Regresi Linier Berganda, metode Pendekatan Nominal, dan metode Korelasi Rank Spearman (rs).

Hasil penelitian menyimpulkan produksi rata–rata usahatani padi sawah di daerah penelitian sebesar 8.535 Kg/Ha. Nilai Koefisien Determinasi adalah sebesar 75,1%

yang berarti variabel Y (produksi) mampu dijelaskan oleh variabel X (bibit, pupuk, pestisida dan tenaga kerja). Faktor–faktor yang mempengaruhi produksi padi sawah adalah bibit, pupuk, pestisida dan tenaga kerja. Pendapatan per petani setiap musim tanam sebesar Rp 17.254.440,58/Ha. Karakteristik sosial ekonomi yang memiliki hubungan dengan produksi padi sawah adalah luas lahan.

Ade Fitri Yasha (2018) dengan penelitian yang berjudul “Analisis Kebutuhan Modal Kerja Petani Padi Sawah (Studi Kasus: Desa Pematang Setrak, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai)”. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kebutuhan modal kerja petani padi sawah, menganalisis sumber permodalan petani padi sawah, menganalisis kemampuan petani dalam mengembalikan pinjaman modal di Desa Pematang Setrak, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai. Metode analisis yang digunakan adalah metode Analisis Deskriptif dan ROI (Return on Investment). Hasil penelitian menyimpulkan kebutuhan modal kerja yang dibutuhkan untuk usahatani padi sawah yaitu sebesar Rp 3.342.681 per satu musim tanam, sumber permodalan yang dibutuhkan untuk usahatani padi sawah berasal dari modal sendiri sebesar 37,07% yang didapat dari tabungan petani dan modal pinjaman sebesar 62,93%.

Return on Investment didapat sebesar 2,78.

Siti Vanny Mandry (2016) dengan penelitian yang berjudul “Analisis Kemampuan Permodalan Usahatani Palwija (Ubi Jalar, Kentang) dan Hortikultura (Kubis, Cabai, Jeruk) di Pedesaan (Studi Kasus: Desa Parbuluan III, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi)”. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik sosial dan ekonomi petani palawija dan hortikultura di daerah penelitian, untuk menganalisis kebutuhan permodalan tiap petani palawija

dan hortikultura di daerah penelitian, untuk menganalisis besarnya pengalokasian pendapatan yang dterima petani palawija dan hortikultura untuk permodalan di daerah penelitian, untuk menganalisis cara dan sumber pengadaan modal usahatani palawija dan hortikultura di daerah penelitian, serta menganalisis peran pemerintah dalam penguatan modal usahatani palawija dan hortikultura di daerah penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Analisis Deskriptif, metode Analisis Pendapatan. Hasil penelitian menyimpulkan Tenure/

status kepemilikan lahan petani merupakan lahan milik sendiri. Keterbukaan petani terhadap akses modal yang ada dikategorikan cukup baik dan dikategorikan rendah dengan akses modal yang disediakan pemerintah. Total pendapatan petani berasal dari sektor pertanian dan sektor non pertanian dimana kontribusi sektor pertanian lebih besar dibandingkan non pertanian dengan jumlah pendapatan total sebesar Rp 13.729.200 per tahun atau setara dengan 90,7% dari total pendapatannya. Kebutuhan modal terbesar dibutuhkan untuk usahatani hortikultura yaitu sebesar Rp 21.769.100 per tahun atau Rp 1.814.000 per bulan.

Sedangkan kebutuhan permodalan usahatani palawija sebesar Rp 15.445.400 per tahun atau Rp 1.287.000 per bulan. Pengalokasian pendapatan untuk modal usahatani selanjutnya beragam. Sumber pengadaan modal oleh petani sampel yang berasal dari CU sebesar 28,3% dari total keseluruhan, dari toke 25%, koperasi 21,7%, dari teman 15%, Bank 8,3%, serta berasal dari modal sendiri sebesar 1,7%. Peran pemerintah dalam penguatan modal usahatani di Desa Parbuluan III hanya berupa subsidi pupuk yang disalurkan ke kios pupuk resmi milik pemerintah dengan harga jual dibawah setengah harga normal.

Lyana Hapni (2010) dengan penelitian yang berjudul “Analisis Usahatani Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) di Kabupaten Deli Serdang”. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung seberapa besar biaya produksi dan pendapatan bersih usahatani bungan rosella di daerah penelitian, untuk menganalisis pengaruh antara luas lahan, jumlah tenaga kerja, dan harga pupuk terhadap pendapatan usahatani bunga rosella di daerah penelitian, untuk menganalisis kelayakan usahatani bunga rosella di daerah penelitian. Metode penelitian ini dilakukan dengan metode Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani serta Metode OLS (Ordinary Least Square). Hasil penelitian menyimpulkan total biaya rata-rata yang dikeluarkan petani sebesar Rp 1.062.371,88 per petani dan Rp 7.834.318,60 per hektarnya. Pendapatan bersih rata-rata usahatani bunga rosella per petani lebih tinggi dari Upah Minimum Provinsi (UPM). Luas lahan, tenaga kerja, dan harga pupuk secara serempak berpengaruh nyata. Secara parsial luas lahan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan bersih usahatani, sedangkan harga pupuk dan tenaga kerja memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pendapatan bersih usahatani rosella di daerah penelitian. Usahatani bunga rosella merupakan usahatani yang layak dikembangkan di daerah penelitian karena nilai rata-rata R/C ratio lebih besar dari kriteria investasi yaitu sebesar 6,29.

2.4. Kerangka Pemikiran

Modal adalah segala jenis barang yang dihasilkan dan dimiliki petani, disebut dengan kekayaan petani. Sebagian kekayaan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan sebagian lagi digunakan untuk memproduksi barang-barang baru dan inilah yang disebut modal masyarakat atau modal sosial. Jadi,

modal adalah hasil atau produk atau kekayaan yang digunakan untuk memperoleh hasil selanjutnya.

Setiap petani memiliki karakteristik yang berbeda dalam kemapuan permodalan usahataninya. Karakter–karakter tersebut dapat membedakan tipe perilaku petani pada situasi tertentu. Adapun karakteristik yang berhubungan dengan kemampuan permodalan petani untuk usahataninya yaitu luas lahan, pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, kepemilikan lahan/tenure dan pengalaman petani.

Berdasarkan sumbernya, modal dalam usahatani dapat dibedakan menjadi dua yaitu modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri ialah modal yang dikeluarkan petani itu sendiri yang berasal dari tabungan atau sisa dari hasil usahatani sebelumnya. Sedangkan modal pinjaman ialah modal yang dikeluarkan oleh petani yang bukan berasal dari tabungan atau hasil usahataninya. Modal pinjaman yang dapat diperoleh petani berasal dari dua sumber yaitu kredit formal dan kredit non formal.

Dalam usahatani bertujuan untuk meningkatkan keuntungan dengan menciptakan produk pertanian yang berkualitas. Produk pertanian yang telah memiliki kualitas yang baik selanjutnya akan dijual. Penjualan tersebut akan memberikan manfaat berupa pendapatan untuk petani. Pendapatan yang diterima petani dapat dialokasikan untuk konsumsi. Konsumsi adalah kegiatan membeli barang atau jasa untuk memuaskan keinginan. Konsumsi dapat berupa konsumsi rumah tangga dan modal usahatani selanjutnya bahkan tabungan apabila mencukupi. Tabungan adalah sisa dari hasil pendapatan yang telah dikeluarkan untuk konsumsi atau bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi.

Secara skematis kerangka pemikiran tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Kredit Formal Kredit Non Formal Konsumsi

 Pangan

 Non Pangan

Hutang Tabungan

Pemerintah

2.5. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan landasan teori yang telah dibangun maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:

1) Diduga pendapatan usahatani, tabungan, tingkat pendidikan, status kepemilikan lahan dan pengalaman mempengaruhi ketersediaan permodalan usahatani tanaman padi di daerah penelitian.

2) Diduga kurang dari 50% petani padi mampu memenuhi kebutuhan usahataninya dengan modal sendiri.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penentuan Daerah Sampel

Daerah penelitian ini ditetapkan di Desa Melati II Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai. Daerah penelitian ini ditentukan secara purposif, yang artinya daerah penelitian ditentukan secara sengaja berdasarkan atas suatu pertimbangan tertentu seperti sifat–sifat populasi ataupun ciri–ciri yang sudah diketahui sebelumnya.

Pemilihan metode purposif dilakukan dengan pertimbangan, pertama berdasarkan pra survey daerah ini mendapatkan julukan desa wisata padi Serdang Bedagai karena di Desa Melati II ini terdapat banyak lahan padi. Bahkan hampir seluruh masyarakat di Desa ini memiliki mata pencaharian sebagai petani padi. Desa ini merupakan desa yang memiliki lahan sawah padi terluas dari 28 Desa yang ada di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai seperti yang terdapat pada Tabel 3.1 berikut:

29

Tabel 3.1. Luas Lahan Sawah Padi (Ha) Menurut Desa Tahun 2018

No. Desa/Kelurahan Irigasi Non Irigasi Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5)

Sumber : Badan Pusat Statistik 2019

3.2.Metode Penentuan dan Penarikan Sampel

Menurut Sugiyono (2001) menyatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani yang membudidayakan padi yang terdapat di Desa Melati II. Jumlah populasi petani

dalam penelitian ini adalah 1.742 petani dengan jumlah kelompok tani 16 kelompok.

Menurut Sugiyono (2001), menyatakan bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus benar–benar. Penentuan sampel ini dihitung dengan menggunakan rumus Slovin dalam Mandry (2016) berikut ini:

Dimana:

n = Ukuran Sampel N = Ukuran Populasi

e = error tolerance atau persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan (10%)

Hasil perhitungan:

n =

1.742

1+1.742 (10%)2

n = 94,57 = 95

n = 𝑵

𝟏+𝐍𝒆𝟐

Berdasarkan perhitungan diatas diperoleh nilai sampel sebesar 95 petani padi sebagai responden yang dianggap sudah mewakili dari keseluruhan petani yaitu 1.742 petani.

Metode yang digunakan dalam penarikan sampel ialah metode Simple Random Sampling. Metode Snowball Sampling adalah suatu metode untuk mengambil sampel dengan teknik acak sederhana. Simple Random Sampling adalah teknik pengambilan sampel dari anggota populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.

3.3. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari lapangan, baik dengan wawancara, pengamatan langsung di lapangan maupun pengisian kuesioner oleh responden. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber–sumber lain yang relevan seperti Kantor Desa Melati II, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Serdang Bedagai, Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Kantor Badan Penyuluhan Pertanian Kabupaten Serdang Bedagai dan dinas terkait lainnya yang dapat mendukung kelengkapan data dalam penelitian ini.

3.4. Metode Analisis Data

Secara umum alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif.

Analisis deskriptif dilakukan dengan tujuan masing-masing.

Untuk tujuan penelitian 1, 4 dan 5 yaitu untuk menganalisis karakteristik sosial dan ekonomi petani padi, cara dan sumber pengadaan modal usahatani padi serta

peranan pemerintah dalam pengadaan modal usahatani padi di daerah penelitian digunakan dengan metode analisis deskriptif.

Menurut Nazir (1988) Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta–fakta, sifat–sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Sedangkan untuk mengetahui tujuan 2 yaitu menganalisis kebutuhan permodalan tiap petani padi dan pengalokasian pendapatan yang diterima petani padi digunakan analisis pendapatan. Menurut Soekartawi (2002) untuk menghitung biaya, penerimaan usahatani dan pendapatan petani dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

TC = Total Biaya / Total Cost (Rp)

TFC = Total Biaya Tetap / Total Fixed Cost (Rp) TVC = Total Biaya Variabel / Total Variable Cost (Rp)

Selanjutnya untuk menghitung besarnya penerimaan usahatani padi dihitung dengan rumus:

TC = TFC + TVC

TR = Y. Py

Keterangan:

TR = Total Penerimaan (Rp) Y = Produksi Usahatani (kg) Py = Harga Jual Produk (Rp)

Terakhir untuk menghitung besarnya pendapatan yang diterima petani akan dihitung menggunakan rumus:

Keterangan:

𝜋 = Pendapatan Bersih (Rp)

TR = Total Penerimaan / Total Revenue (Rp) TC = Total Biaya / Total Cost (Rp)

Apabila TR > TC maka petani padi memperoleh keuntungan dari usahatani yang dilakukan, apabila TR = TC maka petani padi tidak memperoleh keuntungan maupun tidak mengalami kerugian dengan kata lain usahatani yang dilakukan oleh petani memperoleh hasil yang impas atas penerimaan dan biaya yang dikeluarkan, sedangkan apabila TR < TC maka petani padi mengalami kerugian dari usahatani yang dilakukan.

Dengan demikian diharapkan petani dapat memperoleh keuntungan. Hal ini dikarenakan dengan adanya keuntungan maka petani dapat melanjutkan usahataninya kembali dan memperkecil petani dalam melakukan pinjaman untuk modal usahataninya.

𝝅 = TR - TC

Untuk identifikasi masalah 3 dianalisis dengan metode analisis Regresi Linier Berganda untuk menganalisis bagaimana pengaruh pendapatan usahatani, tabungan, tingkat pendidikan, status kepemilikan lahan, tingkat kosmopolitan dan pengalaman terhadap ketersediaan permodalan usahatani tanaman padi. Namun sebelum melakukan analisis regresi, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik, yakni untuk mengetahui sejauh mana model estimasi ketersediaan permodalan usahatani mempunyai sifat-sifat yang tidak biasa, efisien dan konsisten hingga diperoleh model regresi terbaik.

3.4.1 Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui, bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil (Ghozali, 2006). Normalitas diuji menggunakan statistik Kolmogorov Smirnov.

Signifikansi ≥ α (0,1), Data Berdistribusi normal.

Signifikansi ≤ α (0,1), Data Tidak Berdistribusi normal.

Uji normalitas data dalam penelitian dengan cara memperhatikan penyebaran data (titik-titik) pada Normal P-Plot of Regression Standardized Residual dan dengan melihat Grafik Histogram dari residualnya.

Persyaratan dari uji normalitas data (Wijaya, 2011) adalah:

a) Jika output Grafik Histogram menunjukkan pola distribusi normal, maka mengindikasikan model regresi memenuhi asumsi normalitas.

b) Jika Normal P-Plot menunjukkan penyebaran data (titik-titik) di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah diagonal maka mengindikasikan model regresi memenuhi asumsi normalitas.

2. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Multikolinieritas dapat dilihat dari nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan nilai tolerance. Jika nilai VIF < 10 dan nilai tolerance> 0,10 maka tidak ada korelasi antar variabel independen yang nilainya lebih dari 95% sehingga model tersebut bebas dari multikolinieritas (Wijaya, 2011).

3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain.

Menurut Wijaya (2011), untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas, dapat diketahui dengan melihat penyebaran data pada grafik scatterplot yaitu:

1) Dengan melihat apakah penyebaran data (titik-titik) pada scatterplot membentuk pola tertentu yang teratur seperti bergelombang, melebar kemudian menyempit, maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.

2) Jika penyebaran data pada scatterplot tidak terdapat pola yang jelas, serta titiktitik menyebar di atas dn di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka mengindikasikan tidak terjadi heteroskedastisitas.

Berikut persamaan untuk pengujian masalah:

Y= a0 + a1X1 + a2X2 + a3X3 + a4X4 + a5X5 + µ Keterangan:

Y = Ketersediaan permodalan usahatani (Rp/Ha/Tahun) a0 = Konstanta Intersep

X1 = Tingkat Pendapatan (Rp/Tahun) X2 = Tabungan (Rp/Tahun)

X3 = Tingkat pendidikan (tahun)

X4 = Status kepemilikan lahan (Dummy; 0 = Sewa, 1 = Milik sendiri) X5 = Pengalaman (tahun)

µ = Standar error a1-a5 = Koefisien Variabel Regresi

3.4.2 Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit) 1. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien Determinasi (R2) merupakan besaran untuk menunjukkan tingkat kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam bentuk persen (%) atau menunjukkan seberapa besar persentase y yang dapat dijelaskan oleh variasi x.

Besarnya nilai R2 yaitu antara nol sampai dengan satu (0 < R2 ≤ 1). Semakin dekat R2 dengan nilai satu, maka semakin cocok garis regresi untuk meramalkan (Supangat, 2010).

2. Uji Serempak (Uji F)

Digunakan untuk menunjukkan apakah keseluruhan variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Digunakan untuk menunjukkan apakah keseluruhan variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Dokumen terkait