TINJAUAN PUSTAKA
2.1.6 Faktor-Faktor Penentu Capital Buffer
Dalam penelitian Ayuso et al. (2002) dan Jokipii dan Milne (2008), terdapat jenis biaya yang terkait dengan capital buffer dan model capital buffer: Cost of holding capital yang diproksi pada return on equity (ROE), dan cost of financial distress yang diproksikan pada non performing loan (NPL) (Bayuseno & Chabahib, 2014).
2.1.6.1 Cost of Holding Capital
Dalam penelitian Ayuso et al.(2002) cost of holding menyiratkan kelebihan modal (direct cost of remunerating the excess of capital), yaitu biaya kesempatan modal (opportunity cost of the capital). Oleh karena itu, insentif bank untuk menahan modal tergantung pada biaya modal dan biaya deposito.
Penelitian ini mengikutsertakan return on equity untuk mengukur biaya langsung yang timbul dari kelebihan modal serta untuk menunjukkan
keuntungan yang diperoleh perusahaan dibandingkan dengan total ekuitas pemegang saham (Bayuseno & Chabahib, 2014).
2.1.6.1.1 Return on Equity (ROE)
Ukuran return on equity (ROE) menunjukkan berapa banyak keuntungan perusahaan yang diperoleh dibandingkan dengan total ekuitas pemegang saham (Fikri, 2012). Jokipii dan Milne (2008) menggunakan return on equity (ROE) sebagai proksi dari cost of holding capital. Jokipii dan Milne (2008) menyatakan ROE juga dapat melebihi remunerasi yang dituntut pemegang saham dan sejauh ini digunakan untuk pengukuran pendapatan dibanding biaya. Tingginya laba dapat menjadi pengganti modal sebagai penyangga (buffer) menghadapi berbagai guncangan yang tidak terduga. Dengan demikian, sebagaimana peningkatan modal melalui pasar modal terbilang mahal, laba ditahan seringkali digunakan untuk meningkatkan capital buffer.
Dengan adanya pertumbuhan ROE menunjukkan bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik dengan sejalannya peningkatan keuntungan. Semakin tinggi ROE maka semakin besar capital buffer yang disediakan oleh bank. Jika saja terjadi guncangan di kemudian hari bank yang kuat akan dapat tetap menjalankan aktivitas bisnisnya, karena bank menahan laba yang tinggi atau dikenal dengan buffer (Mawadah & Taswan, 2021).
2.1.6.2. Cost of Financial Distress
Dengan menahan modal pada tingkat yang tinggi dapat membuat bank mengurangi profitabilitas kebangkrutan, dengan demikian hal ini disebut dengan cost
of failure, termasuk kehilangan nilai perusahaan, kehilangan reputasi, dan biaya hukum dari kebangkrutan (Tabak, 2011 dalam Bayuseno dan Chabahib, 2014).
Terkait dengan biaya ini ada persyaratan modal wajib minimum. Jika semakin tinggi modal akan mengurangi ketidakpatuhan terhadap persyaratan tersebut. Dengan demikian akan meminimalkan biaya konsekuen (Bayuseno &
Chabahib, 2014).
2.1.6.2.1 Non Performing Loan (NPL)
Dalam penelitiannya Ayuso et al. (2002), Jokipii dan Milne (2008), menggunakan non performing loan (NPL) sebagai proksi risiko bank. Risiko bank dapat terjadi akibat kredit macet atau ketidakmampuan debitur dalam melunasi pinjamannya. Oleh karena itu, kemampuan manajemen kredit sangat dibutuhkan untuk mengelola permasalahan kredit.
Merujuk pada peraturan Bank Indonesia BI No. 3/30 DPNP pada 14 Desember 2001, non performing loan (NPL) diukur dari kredit macet (non performing loan) dibagi total kredit yang didistribusikan (total loan). Semakin tinggi angka non performing loan (NPL) akan meningkatkan biaya, sehingga berpotensi menyebabkan kerugian. Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia, jumlah aman dari non performing loan (NPL) adalah di bawah 5% (Bank Indonesia).
2.1.6.3 Faktor Lain Penentu Capital Buffer
Dalam penelitian Bayuseno dan Chabahib (2014) menyebutkan bahwa faktor lain penentu capital buffer merupakan variabel yang diluar dari: Return on Equity (ROE), dan Non Performing Loan (NPL).
2.1.6.3.1 Loan to Total Asset (LOTA)
Dalam penelitian Bayuseno dan Chabahib (2014) loan to total asset (LOTA) dikategorikan sebagai faktor lain penentu capital buffer. Pemberian kredit pada masyarakat adalah kegiatan utama perbankan dan menjadikan sumber utama pendapatan perbankan. Namun, kegiatan utama perbankan tersebut memiliki risiko yang tinggi. Loan to total aset (LOTA) ditopang oleh meningkatnya konsumsi saat ini.
Sejalan dengan teori, peningkatan konsumsi masyarakat akan meningkatkan jumlah kredit. Loan to total asset (LOTA) dipertimbangkan di dalam analisis, dikarenakan ini merupakan rasio yang penting untuk bank. LOTA diharapkan memiliki hubungan positif dengan capital buffer. Hal ini dikarenakan, semakin tinggi modal yang didistribusikan untuk kredit, semakin besar risiko yang dihadapi bank akibat tingginya pendistribusian kredit tersebut (Bayuseno & Chabahib, 2014).
2.1.6.3.2 Bank Size (SIZE)
Dalam penelitian Mawadah dan Taswan (2021) bank size digunakan sebagai faktor internal yang mempengaruhi capital buffer. Bank size diukur dengan menggunakan logaritma dari total aset bank. Perbankan yang memiliki ukuran besar cenderung memiliki capital buffer yang besar juga. Karena bank-bank yang berukuran besar cenderung melihat jika pemberian kredit ke masyarakat harus diimbangi dengan penyediaan capital buffer. Hal ini dikarenakan jika terjadi guncangan di kemudian hari perbankan yang berukuran besar dapat mengantisipasinya (Mawadah & Taswan, 2021).
Pada penelitian Mawadah dan Taswan (2021) Perbankan yang memiliki ukuran besar cenderung memiliki capital buffer yang lebih tinggi dibandingkan dengan bank yang berukuran kecil. Hal tersebut menyebabkan perbankan yang memiliki ukuran yang besar
telah mencapai tahap matang, relatif stabil dan mampu untuk menghasilkan keuntungan daripada bank yang memiliki ukuran kecil. Perbankan yang memiliki ukuran yang lebih besar dianggap telah memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi risiko bank. Bank Size dapat diukur dengan menggunakan logaritma dari total aset bank. Berdasarkan uraian tersebut, diharapkan bank size memiliki hubungan positif dengan capital buffer.
2.1.6.3.3 Gross Domestic Product Growth (GDPG)
Dalam penelitian Hisan et al. (2020) gross domestic product growth (GDPG) dikategorikan sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi capital buffer.
GDPG digunakan sebagai suatu indikator untuk menilai perekonomian sedang berlangsung baik atau buruk. Indikator ini untuk mengetahui total pendapatan yang diperoleh semua orang dalam perekonomian suatu negara.
Menurut Hisan et al. (2020) definisi dari gross domestic product growth (GDPG) adalah nilai pasar dari semua barang dan jasa akhir (final) yang diproduksi dalam sebuah negara pada suatu periode. Dalam GDPG terdapat beberapa hal yang tidak disertakan seperti nilai dari semua kegiatan yang terjadi di luar pasar, kualitas lingkungan dan distribusi pendapatan. Selain itu, GDPG juga mengukur dua hal pada saat bersamaan yaitu total pendapatan semua orang dalam perekonomian dan total pembelanjaan negara untuk membeli barang dan jasa hasil dari perekonomian.
2.1.6.3.4 Inflasi (INF)
Dalam penelitian Hisan et al. (2020) Inflasi dikategorikan sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi capital buffer. Inflasi merupakan kecenderungan terjadinya peningkatan harga produk-produk secara keseluruhan. Inflasi yang tinggi
mengurangi tingkat pendapatan riil yang diperoleh investor dari investasi. Sebaliknya, jika tingkat inflasi suatu negara mengalami penurunan maka hal ini merupakan sinyal yang positif bagi investor seiring dengan turunnya risiko daya beli uang dan risiko penurunan pendapatan riil (Bank Indonesia).