• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI CAPITAL BUFFER PADA PERBANKAN KONVENSIONAL YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI ANALISIS FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI CAPITAL BUFFER PADA PERBANKAN KONVENSIONAL YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI CAPITAL BUFFER PADA

PERBANKAN KONVENSIONAL YANG TERDAFTAR DI BURSA

EFEK INDONESIA

OLEH

ARMIATI RAMBE 180502111

PROGRAM STUDI STRATA I MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ANALISIS FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI CAPITAL BUFFER PADA

PERBANKAN KONVENSIONAL YANG TERDAFTAR DI BURSA

EFEK INDONESIA

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Return on Equity (ROE), Non Performing Loan (NPL), Loan to Total Asset (LOTA), Bank Size (SIZE), Gross Domestic Product Growth (GDPG) dan Inflasi (INF) terhadap Capital Buffer (BUFF) pada Bank Umum Konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2020. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif dan jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif yang diperoleh dari laporan keuangan yang telah diaudit di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian.

Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan Perbankan Konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebanyak 38 bank. Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan beberapa kriteria tertentu dan sampel yang digunakan sebanyak 31 Bank Umum Konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2020. Teknik analisis yang digunakan adalah Teknik regresi linier berganda data panel. Hasil penelitian menunjukkan Return on Equity (ROE), Non Performing Loan (NPL), Loan to Total Asset (LOTA), Bank Size (SIZE), Gross Domestic Product Growth (GDPG) dan Inflasi (INF) berpengaruh serempak terhadap Capital Buffer (BUFF) pada Bank Umum Konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2020.

Hasil uji parsial menunjukkan bahwa Return on Equity (ROE) dan Loan to Total Asset (LOTA) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Capital Buffer (BUFF) pada Bank Umum Konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2020. Non Performing Loan (NPL) dan Inflasi (INF) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Capital Buffer (BUFF) pada Bank Umum Konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2020. Bank Size (SIZE) dan Gross Domestic Product Growth (GDPG) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Capital Buffer (BUFF) pada Bank Umum Konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2020.

Kata Kunci: ROE, NPL, LOTA, SIZE, GDPG, INF, dan Capital Buffer.

(6)

ii

ANALYSIS INTERNAL AND EXTERNAL FACTORS AFFECTING THE CAPITAL BUFFERS OF CONVENTIONAL BANK IN INDONESIA

STOCK EXCHANGE

The purpose of study was to determine and analyze the effect of Return on Equity (ROE), Non Performing Loan (NPL), Loan to Total Asset (LOTA), Bank Size (SIZE), Gross Domestic Product Growth (GDPG) and Inflation (INF) on Capital Buffer (BUFF) ini conventional commercial banks were listed on Indonesia Stock Exchange period 2015-2021. The research is an associative research and the type of data used is quantitative data obtained from the company’s audited financial statements on the Indonesia Stock Exchange during the study period. In this study the population 38 commercial banks were listed on the Indonesia Stock Exchange.

The selection of sample is by using purposive sampling method with same specific criteria and sample that used are 31 conventional commercial banks that were listed on Indonesia Stock Exchange periode 2015-2020. The analysis technique used is multiple panel linear regression technique. The result show that Return on Equity (ROE), Non Performing Loan (NPL), Loan to Total Asset (LOTA), Bank Size (SIZE), Gross Domestic Product Growth (GDPG) and Inflasi (INF) simultaneously had a significant effect on Capital Buffer (BUFF) in conventional commercial banks were listed on Indonesia Stock Exchange periode 2015-2020. Partial test results show that Return on Equity (ROE) and Loan to Total Asset (LOTA) have a negative and significant effect on Capital Buffer (BUFF) in conventional commercial banks that were listed on Indonesia Stock Exchange periode 2015- 2020. Non Performing Loan (NPL) and Inflation (INF) have a positive and significant effect on Capital Buffer (BUFF) in conventional commercial banks that were listed on Indonesia Stock Exchange periode 2015-2020. Bank Size (SIZE) and Gross Domestic Product Growth (GDPG) have a negative and insignificant effect on Capital Buffer (BUFF) in conventional commercial banks that were listed on Indonesia Stock Exchange periode 2015-2020.

Keywords: ROE, NPL, LOTA, SIZE, GDPG, INF, and Capital Buffer.

(7)

iii

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas kehadirat-Nya sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Faktor Internal dan Eksternal yang Mempengaruhi Capital Buffer pada Perbankan Konvensional yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” guna memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Pada Kesempatan ini, peneliti mempersembahkan skripsi ini untuk orang tua tercinta, yakni: Ayahanda Serda Amin Syukur Rambe dan Ibunda Rismawati Harahap yang tidak pernah berhenti mendo’akan, mendukung, dan mencukupi segala kebutuhan materi maupun non-materi dalam proses pembuatan skripsi ini, dan nasihat-nasihat selalu memberi motivasi peneliti. Penyusunan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bimbingan, saran, bantuan, motivasi dan do’a dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini peneliti sampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Fadli, SE, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Khaira Amalia Fachrudin, SE, MBA, AK, dan Ibu Inneke Qamariah, SE, M.Si, selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Dr. Syahyunan, M.Si, selaku Dosen Pembimbing, peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya telah banyak meluangkan

(8)

iv

kepada peneliti dalam pengerjaan sampai dengan terselesaikan.

4. Ibu Dr. Nisrul Irawati, MBA. dan Ibu Beby Kendida Hasibuan, SE, M.Si.

selaku Dosen Penguji I dan II yang banyak memberikan saran dalam penelitian dan perbaikan skripsi.

5. Seluruh Dosen dan Pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara untuk segala jasa-jasanya selama masa perkuliahan.

6. Kakak saya (Nia Paradiba Rambe, SE) dan Adik saya (Doni Kurnia Rambe) serta seluruh keluarga besar yang selalu memberikan bantuan dan motivasi terhadap peneliti sampai selesainya skripsi ini.

7. Seluruh sahabat-sahabat yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu yang telah memberikan semangat, motivasi dan dukungan selama ini.

Medan, 27 Desember 2021 Peneliti

Armiati Rambe 180502111

(9)

v

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian... 9

1.4 Manfaat Penelitian... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Tinjauan Pustaka ... 11

2.1.1 Modal Bank ... 11

2.1.2 Regulasi Perbankan ... 12

2.1.3 Perjanjian Basel Terkait Standar Modal Internasional ... 15

2.1.4 Teori Terkait Capital Buffer ... 18

2.1.5 Capital Buffer ... 20

2.1.6 Faktor–faktor Penentu Capital Buffer ... 22

2.1.7 Faktor Lain Penentu Capital Buffer ... 25

2.2 Penelitian Terdahulu ... 27

2.3 Kerangka Konseptual ... 35

2.3.1 Pengaruh Return on Equity Terhadap Capital Buffer ... 35

2.3.2 Pengaruh Non Performing Loan Terhadap Capital Buffer ... 36

2.3.3 Pengaruh Loan to Total Asset Terhadap Capital Buffer ... 36

2.3.4 Pengaruh Bank Size Terhadap Capital Buffer ... 37

2.3.5 Pengaruh Gross Domestic Product Growth Terhadap Capital Buffer ... 38

2.3.6 Pengaruh Inflasi Terhadap Capital Buffer ... 38

2.4 Hipotesis ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ... 41

3.1 Jenis Penelitian ... 41

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 41

3.3 Batasan Operasional ... 41

3.4 Definisi Operasional... 42

(10)

vi

3.5 Populasi dan Sampel ... 46

3.5.1 Populasi ... 46

3.5.2 Sampel ... 47

3.6 Jenis Data ... 48

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 49

3.8 Teknik Analisis Data ... 49

3.8.1 Metode Analisis Deskriptif ... 49

3.8.2 Analisis Regresi Linear Berganda ... 50

3.9 Uji Asumsi Klasik ... 53

3.9.1 Uji Normalitas ... 53

3.9.2 Uji Multikolinearitas ... 54

3.9.3 Uji Autokorelasi ... 55

3.9.4 Uji Heteroskedastisitas ... 55

3.10 Uji Hipotesis ... 56

3.10.1 Uji Signifikasi Pengaruh Serempak (F-test) ... 56

3.10.2 Uji Parsial (t-test) ... 57

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 60

4.1 Deskripsi Perusahaan ... 60

4.2 Statistik Deskriptif ... 67

4.3 Regresi Linear Data Panel ... 70

4.3.1 Common Effect Model ... 70

4.3.2 Fixed Effect Model ... 71

4.3.3 Random Effect Model ... 72

4.4 Pemilihan Model Regresi Linear Data Panel ... 73

4.4.1 Uji Chow ... 73

4.4.2 Uji Hausman ... 74

4.5 Uji Hipotesis ... 75

4.5.1 Uji Serempak (Uji Statistik F) ... 75

4.5.2 Uji Parsial (Uji Statistik t) ... 76

4.6 Pembahasan ... 79

4.6.1 Pengaruh Return on Equity Terhadap Capital Buffer ... 79

4.6.2 Pengaruh Non Performing Loan Terhadap Capital Buffer ... 79

4.6.3 Pengaruh Loan to Total Asset Terhadap Capital Buffer ... 80

4.6.4 Pengaruh Bank Size Terhadap Capital Buffer ... 81

4.6.5 Pengaruh Gross Domestic Product Growth Terhadap Capital Buffer ... 82

4.6.6 Pengaruh Inflasi Terhadap Capital Buffer ... 83

(11)

vii

5.2 Saran ... 86 DAFTAR PUSTAKA ... 87 LAMPIRAN ... 89

(12)

viii

No. Tabel Judul Halaman 1.1 Rasio Keuangan (BUFF, ROE, NPL, LOTA, SIZE,

GDPG dan INF) pada Perbankan Konvensional

Tahun 2015-2020 ... 4

2.1 Penelitian Terdahulu ... 32

3.1 Operasional Variabel ... 46

3.2 Kriteria Sampel Penelitian ... 47

3.3 Daftar Bank Umum Konvensional (BUK) yang Menjadi Sampel Penelitian ... 47

4.1 Hasil Analisis Statistik Deskriptif ... 68

4.2 Common Effect Model ... 70

4.3 Fixed Effect Model ... 71

4.4 Random Effect Model ... 72

4.5 Uji Chow ... 73

4.6 Uji Hausman ... 74

4.7 Uji F ... 75

4.8 Uji t ... 76

(13)

ix

No. Lampiran Judul Halaman

1. Daftar Populasi Perusahaan Perbankan Konvensional ... 89

2. Data ROE, NPL, LOTA, SIZE, GDPG, INF dan BUFF Pada Perbankan Konvensional Tahun 2015-2020……….. 92

3. Hasil Analisis Statistik Deskriptif ... 93

4. Common Effect Model ... 93

5. Fixed Effect Model ... 94

6. Random Effect Model ... 94

7. Uji Chow ... 95

8. Uji Hausman ... 95

9. Uji F ... 96

10. Uji t ... 96

(14)

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Industri perbankan merupakan lembaga intermediasi yang memiliki yang memiliki peran dan fungsi strategis dalam suatu negara. Fungsi bank sebagai lembaga perantara keuangan (financial intermediary) yang menghubungkan pihak- pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus) dengan pihak-pihak yang membutuhkan dana (defisit). Sedangkan pengertian dari bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Sebagai tambahannya bank berperan memfasilitasi transaksi, produksi, dan konsumsi melalui fungsi bank selaku agen sistem pembayaran (Bayuseno & Chabahib, 2014).

Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik, perbankan harus memiliki kecukupan modal, kualitas aset yang baik, pengelolaan yang baik dan harus berasaskan prinsip kehati-hatian, serta menghasilkan keuntungan. Oleh karena bank merupakan institusi yang memiliki peran penting dalam perekonomian. Dalam mewujudkan sistem perbankan yang sehat dan bermanfaat bagi perekonomian nasional, bank sentral selaku regulator perlu melakukan pengawasan terhadap kesehatan dan stabilitas perbankan (Fikri, 2012).

Bank merupakan industri yang kegiatannya paling banyak mendapatkan pengawasan dan peraturan dibandingkan industri lainnya. Hal ini dikarenakan tidak lepasnya peran vital bank dalam sistem pembayaran dan penyaluran kredit kepada

(15)

perbankan yaitu: Pertama, untuk memastikan keamanan dan kesehatan bank dan instrumen keuangan. Kedua, mendorong sistem keuangan yang kompetitif dan efisien. Ketiga, memfasilitasi stabilitas moneter. Keempat, menjaga integrasi sistem pembayaran nasional. Kelima, melindungi nasabah dari pelanggaran yang dilakukan pemberi kredit (Rose, 2002).

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia di tahun 1998 mengakibatkan perekonomian Indonesia menjadi terpuruk dan banyak bank yang mengalami kegagalan pada masa itu. Hal tersebut mengindikasikan bahwa infrastruktur perbankan di Indonesia yang kurang kokoh dan masih dalam peraturan yang lemah, sehingga tidak mudah dalam mengatasi guncangan internal dan eksternal yang dapat saja datang secara tiba-tiba. Agar dapat mewujudkan sistem keuangan yang stabil dan sehat, Bank Indonesia selaku regulator yang memberlakukan peraturan terkait dengan persyaratan modal. Peraturan tersebut diadopsi dari Basel Accord I yang berisikan kebijakan modal minimum yang harus dipenuhi oleh bank, dengan minimum 8% dari aktiva tertimbang menurut risiko (Bayuseno & Chabahib, 2014).

Aturan permodalan minimum di Indonesia sangat diperketat untuk mengatasi kejadian seperti tahun 1990-an yang mana bank konvensional berkompetisi untuk memberikan kredit-kredit kepada proyek yang berisiko tinggi seperti real estate, properti dan konstruksi. Meskipun, cadangan modal terus menipis. Maka dari itu, untuk meminimalisir terjadinya pengurangan modal minimum 8% pada perbankan konvensional, perbankan harus menyiapkan modal

(16)

bank sentral (Bayuseno & Chabahib, 2014).

Capital buffer merupakan selisih antara Capital Adequacy Ratio (CAR) dengan rasio kecukupan modal minimum 8% yang berfungsi sebagai penyangga untuk mengantisipasi kerugian bank yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Persyaratan minimum yang telah ditetapkan oleh pemerintah tidak menjamin dapat menutupi kerugian yang dialami oleh perbankan. Sebab itu, bank perlu menyediakan capital buffer yang berperan sebagai asuransi terhadap biaya yang mungkin bank mengalami capital shock yang tidak terduga dan kesulitan untuk mendapatkan modal baru (Bayuseno & Chabahib, 2014). Capital buffer inilah yang berfungsi untuk melindungi bank apabila terjadi guncangan risiko di masa yang akan datang Namun, memiliki capital buffer yang tinggi berarti memiliki CAR yang tinggi pula, sementara nilai CAR yang terlalu tinggi tidak baik untuk industri perbankan, dikarenakan kelebihan modal tersebut dapat digunakan untuk menyalurkan kredit atau investasi guna memaksimalkan keuntungan (Mawadah &

Taswan, 2021).

Terdapat dua jenis perilaku bank tentang pengaturan modal perbankan.

Pertama, bank dengan perilaku backward-looking dimana bank cenderung meningkatkan kredit pada saat permintaan kredit meningkat, hal ini tentunya berisiko untuk bank karena bank mungkin saja terlambat dalam mengantisipasi risiko kredit dan harus meningkatkan capital buffer pada saat resesi. Biasanya perilaku ini dilakukan oleh perbankan yang berukuran kecil. Sehingga cadangan capital buffer bersifat procyclical. Kedua, bank dengan perilaku forward-looking

(17)

meningkat, sehingga perbankan dapat mengantisipasi jika bank mengalami berbagai guncangan, biasanya perilaku ini dilakukan oleh terjadi pada perbankan yang berukuran besar. Hal ini menjadikan cadangan modal bersifat countercyclical (Bayuseno & Chabahib, 2014).

Dalam penelitian Ayuso et al. (2002) dan Jokipii dan Milne (2008), terdapat jenis biaya yang terkait dengan capital buffer dan model capital buffer: cost of holding capital yang berproksi pada return on equity (ROE), dan cost of financial distress yang berproksi pada non performing loan (NPL) (Bayuseno & Chabahib, 2014). Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Bayuseno & Chabahib, 2014) mengkategorikan loan to total asset (LOTA) dan bank size (SIZE) sebagai faktor lain yang mempengaruhi capital buffer dan dalam penelitian Hisan et al. (2020) mengkategorikan gross domestic product growth (GDPG) dan inflasi (INF) sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi capital buffer.

Tabel 1.1

Rasio Keuangan ( BUFF, ROE, NPL, LOTA, SIZE, GDPG, dan INF) pada Perbankan Konvensional Tahun 2015-2020

Tahun ROE (%)

NPL (%)

LOTA (%)

SIZE (Juta)

GDPG (%)

INF (%)

BUFF (%) 2015 14,10 2,50 65,97 Rp.155.763 4,79 3,35 13,39 2016 14,46 2,93 64,84 Rp.177.099 5,02 3,02 14,93 2017 13,07 3,09 64,12 Rp.194.411 5,07 3,61 15,18 2018 12,49 2,72 65,61 Rp.212.324 5,17 3,13 14,97

2019 9,60 2,59 65,59 Rp.225.338 5,02 2,72 15,37

2020 6,14 3,02 59,72 Rp.241.519 -2,07 1,64 14,97 Sumber: IDX, Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia, 2021 (Data Diolah)

Dari data return on equity (ROE) yang tersaji dalam Tabel 1.1, terdapat data gap yang tidak relevan dengan teori. Hal tersebut terjadi dari tahun 2017-2020 dimana ROE mengalami tren menurun sementara capital buffer cenderung

(18)

dan Levasseurt (2007) menunjukkan bahwa ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap capital buffer, namun hasil penelitian yang dilakukan oleh Andiani (2017) menunjukkan bahwa ROE berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer. Dalam penelitian ini diharapkan ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap capital buffer.

Dari data non performing loan (NPL) yang tersaji dalam Tabel 1.1, terdapat data gap yang tidak relevan dengan teori. Hal tersebut terjadi pada tahun 2016 dan 2017 dimana NPL mengalami tren meningkat dan diikuti oleh peningkatan capital buffer tahun 2016 dan 2017. Pada tahun 2018, NPL dan capital buffer mengalami penurunan secara bersamaan. Dari hasil penelitian Mawadah dan Taswan (2021) menyatakan bahwa NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer. Namun, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh (Bayuseno & Chabahib, 2014) menyebutkan bahwa NPL memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap capital buffer. Dalam penelitian ini diharapkan NPL terhadap capital buffer memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap capital buffer.

Dari data loan to total asset (LOTA) yang tersaji dalam Tabel 1.1, terdapat data gap yang tidak relevan dengan teori. Hal tersebut terjadi pada tahun 2020 dimana LOTA mengalami tren menurun dan diikuti oleh penurunan capital buffer.

Hasil penelitian Purwati (2016) menyatakan bahwa LOTA memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap capital buffer. Namun, hasil penelitian Bayuseno dan Chabahib (2014) menyatakan bahwa LOTA berpengaruh positif dan signifikan

(19)

negatif dan signifikan terhadap capital buffer.

Dari data Bank Size (SIZE) yang tersaji dalam Tabel 1.1, terdapat data gap yang tidak relevan dengan teori. Hal tersebut terjadi pada tahun 2018 dan 2020 dimana SIZE mengalami tren meningkat sementara capital buffer mengalami penurunan di tahun 2018 dan 2020. Mawadah dan Taswan (2021) menyatakan bahwa bank size berpengaruh positif dan signifikan terhadap capital buffer. Akan tetapi, berbeda dengan dengan hasil penelitian Bayuseno dan Chabahib (2014) menyatakan bahwa bank size memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer. Dalam penelitian ini diharapkan SIZE berpengaruh positif dan signifikan terhadap capital buffer.

Dari data gross domestic product growth (GDPG) yang tersaji dalam Tabel 1.1, terdapat data gap yang tidak relevan dengan teori. Hal tersebut terjadi pada tahun 2016-2017 dimana GDPG mengalami tren meningkat sejalan dengan peningkatan capital buffer di tahun 2016-2017. Dalam penelitian Fauzia dan Idris (2016) bahwa GDPG berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap capital buffer. Dalam penelitian ini diharapkan GDPG berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer.

Dari data inflasi (INF) yang tersaji dalam Tabel 1.1, terdapat data gap yang tidak relevan dengan teori. Hal tersebut terjadi pada tahun 2017 dimana INF menunjukkan tren menurun sejalan dengan penurunan capital buffer di tahun 2017.

Dan pada tahun 2018 dan 2020 dimana INF menunjukkan tren meningkat sejalan dengan peningkatan capital buffer di tahun 2018 dan 2020. Dalam hasil penelitian

(20)

pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap capital buffer. Sejalan dengan hasil penelitian tersebut, dalam penelitian ini diharapkan inflasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer.

Dari data yang tersaji pada Tabel 1.1 diperoleh informasi bahwa capital buffer (BUFF) pada perbankan Konvensional di Indonesia menunjukkan peningkatan dari periode tahun 2015-2017. Pada tahun 2018 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 0,21%. Pada tahun 2019 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 0,40% dan pada tahun 2020 mengalami penurunan kembali sebesar 0,40%.

Dengan demikian berdasarkan adanya kesenjangan penelitian dan fenomena gap diatas, maka peneliti mencoba untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi capital buffer pada Bank Umum Konvensional (BUK) di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2020. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return on Equity (ROE), Non Performing Loan (NPL), Loan to Total Asset (LOTA), Bank Size (SIZE), Gross Domestic Product Growth (GDPG) dan Inflasi (INF).

Berdasarkan uraian latar belakang, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Faktor Internal dan Eksternal yang Mempengaruhi Capital Buffer pada Perbankan Konvensional yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.

(21)

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka perumusan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah Return on Equity, Non Performing Loan, Loan to Total Asset, Bank Size, Gross Domestic Product Growth dan Inflasi berpengaruh serempak dan signifikan terhadap Capital Buffer pada perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

2. Apakah Return on Equity (ROE) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

3. Apakah Non Performing Loan (NPL) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

4. Apakah Loan to Total Asset (LOTA) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

5. Apakah Bank Size (SIZE) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

6. Apakah Gross Domestic Product Growth (GDPG) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

7. Apakah Inflasi (INF) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

(22)

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menganalisis pengaruh Return on Equity, Non Performing Loan, Loan to Total Asset, Bank Size, Gross Domestic Product Growth dan Inflasi berpengaruh serempak dan signifikan terhadap Capital Buffer pada perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. Menganalisis pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3. Menganalisis pengaruh Non Performing Loan (NPL) terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4. Menganalisis pengaruh Loan to Total Asset (LOTA) terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

5. Menganalisis pengaruh Bank Size (SIZE) terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

6. Menganalisis pengaruh Gross Domestic Product Growth (GDPG) terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

7. Menganalisis pengaruh Inflasi (INF) terhadap Capital Buffer perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

(23)

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis, yaitu:

1. Bagi Perbankan

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam mengelola capital buffer pada perbankan dan menyusun strategi untuk bertahan dalam kondisi yang tidak stabil.

2. Bagi Peneliti

Penelitian ini merupakan pengalaman berharga yang dapat menambah wawasan pengetahuan mengenai analisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi capital buffer pada perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015-2020.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi capital buffer pada perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015-2020.

Sehingga dapat dijadikan bahan referensi penelitian capital buffer selanjutnya.

(24)

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka 2.2.1 Modal Bank

Modal pada perbankan memainkan beberapa peran penting dalam mendukung operasi bank sehari-hari dan mengawasi kelangsungan perbankan dalam jangka panjang (Fikri, 2012). Ada lima fungsi dari modal bank, yaitu:

pertama, modal melindungi perbankan dari risiko kegagalan dengan menyerap kerugian finansial dan operasional sampai manajemen dapat mengatasi masalah bank dan memulihkan profitabilitasnya. Kedua, modal menyediakan dana yang dibutuhkan untuk beroperasi sebelum dana deposit mengalir masuk. Ketiga, modal dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan juga dapat meyakinkan kreditur atas kemampuan keuangan bank, perbankan harus memiliki kekuatan untuk meyakinkan peminjam bahwa bank tetap mampu memberikan pinjaman meskipun keadaan ekonomi turun. Keempat, modal menyediakan dana untuk pertumbuhan perusahaan, dan perkembangan pelayanan yang baru, program, dan fasilitas.

Kelima, modal mengikuti regulator pertumbuhan bank, dan membantu pertumbuhan perbankan untuk dapat mempertahankan keberlangsungannya dalam jangka panjang (Rose, 2002).

Dalam aturan yang dibuat oleh bank sentral dan pasar keuangan mengharuskan peningkatan modal yang sebanding dengan pertumbuhan kredit serta risiko atas aset-aset bank lainnya. Oleh karena itu, modal dapat dikatakan sebagai suatu perlindungan yang dapat menyerap kerugian di masa akan datang dan

(25)

sejalan dengan pertumbuhan risiko dari perbankan. Sebuah bank dengan pertumbuhan kredit yang sangat cepat akan mendapat perhatian dari regulator dan pasar untuk memperlambat angka pertumbuhan kredit atau diharuskan melakukan penambahan modal (Bayuseno & Chabahib, 2014).

Maka dapat dikatakan bahwa peraturan perbankan dibuat untuk membatasi risiko yang diterima perbankan. Dalam hal ini modal tidak hanya berperan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan dan sistem perbankan saja, melainkan membantu melindungi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dari kerugian (Fikri, 2012).

2.1.2 Regulasi Perbankan

Dalam regulasi perbankan memuat peraturan–peraturan diantaranya:

persyaratan, batasan, dan panduan yang harus diikuti oleh perbankan. Regulasi ini menciptakan transparansi informasi antara perbankan dengan individu maupun kelompok–kelompok yang terlibat dengan perbankan. Karena pentingnya peranan perbankan terhadap ekonomi nasional dan global, regulator harus memberikan standar dan melakukan pengawasan terhadap perbankan (Fikri, 2012).

Ada beberapa alasan mengapa bank merupakan perbankan harus memiliki regulasi yang ketat diantaranya adalah: Pertama, melindungi keamanan simpanan masyarakat, ini berkaitan dengan persyaratan minimum, persyaratan yang dikenakan terhadap bank dalam rangka menjalankan tujuan regulator. Peraturan dari regulator paling banyak terkait risiko perbankan. Persyaratan yang paling penting adalah rasio modal minimum. Kedua, mengontrol aliran uang dan kredit dalam rangka mencapai tujuan ekonomi suatu negara yaitu pertumbuhan ekonomi

(26)

yang tinggi, inflasi yang rendah, dan lapangan kerja yang luas. Ketiga, menjamin keadilan dan memastikan seluruh masyarakat mendapatkan kesempatan yang sama dalam akses kredit dan jasa keuangan lainnya. Keempat, untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam sistem keuangan, sehingga dana yang dihimpun bisa dialirkan ke dalam investasi yang produktif, dan pembayaran untuk barang dan jasa dapat dilakukan secara cepat dan efisien. Kelima, mengurangi pemusatan kekuatan keuangan di beberapa individu atau lembaga. Keenam, memberikan keuntungan pemerintah dengan kredit, pajak, dan lainnya. Ketujuh, membantu sektor ekonomi yang memiliki permintaan kredit khusus, seperti kredit rumah, bisnis kecil menengah, dan pertanian (Rose, 2002).

Bank sentral membuat regulasi yang menjadikan regulasi suatu instrumen penting dari perbankan modern yang bertujuan mengatur tingkat capital buffer di saat kondisi ekonomi yang tidak baik, serta mekanisme dalam mengantisipasi risiko yang berlebihan. Dalam peraturan ini menjadikan instrumen penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap bank dan sistem keuangan, serta membatasi risiko yang mungkin diterima oleh perbankan. Dalam hal ini, modal berperan penting sebagai pelindung Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dari kerugian (Fikri, 2012).

Untuk menjalankan peraturan bank sentral menggunakan dasar peraturan yang diadopsi dari peraturan The Basel Committee on Banking Supervision (BCBS). Komite Basel telah berhasil menghasilkan empat produk terkait dengan pengaturan dan pengawasan bank secara Internasional dan menyeluruh. The Basel Committee on Banking and Supervision (BCBS) atau yang biasa disebut dengan

(27)

komite basel didirikan sebagai Committee and Banking Regulations and Supervisory Practies oleh gubernur bank sentral yang merupakan bagian dari anggota Group of Ten (G-10) pada tahun 1974, setelah terjadi kehancuran mata uang internasional dan juga pasar bank yang ditandai dengan kehancuran dari Bankhaus Herstatt (Bayuseno & Chabahib, 2014).

Tujuan dari komite basel adalah untuk melakukan kerjasama dalam pengawasan perbankan internasional dan juga sebagai suatu forum diskusi yang bersifat rahasia yang terkait dengan penanganan masalah-masalah khusus, mengkoordinasi penanganan dan pengawasan perbankan internasional dan untuk meningkatkan kehati-hatian (Bank Indonesia).

Peraturan permodalan bank atau yang disebut dengan persyaratan modal, berkaitan dengan aturan besarnya modal yang harus dimiliki oleh bank terkait dengan aset-aset perbankan. BCBS banyak mempengaruhi persyaratan modal perbankan negara-negara di dunia. Pada 1988, Komite Basel memperkenalkan sistem pengukuran kecukupan modal yang disebut Basel Capital Accord. Sistem pengukuran kecukupan modal terbaru saat ini adalah Basel III. Basel III lebih sensitif terhadap risiko, namun lebih kompleks. Peraturan modal yang direkomendasikan oleh Basel Accord, kemudian diimplementasikan oleh perbankan di seluruh dunia bertujuan untuk memastikan kesehatan dan stabilitas perbankan (Fikri, 2012).

(28)

2.1.3 Perjanjian Basel Terkait Standar Modal Internasional 2.1.3.1 BASEL I

Pada tahun 1975, Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) didirikan oleh negara-negara Group of Ten (G10). Negara–negara yang tergabung dalam G10 yaitu Amerika Serikat, Belanda, Belgia, Italia, Inggris, Jerman, Jepang, Kanada, Luxembourg, Swedia, Swiss, dan Spanyol. BCBS didirikan dengan tujuan memberikan berbagai regulasi dan pengawasan terhadap perbankan. Di Tahun 1988 komite Basel menghasilkan suatu kesepakatan yang disebut dengan Basel Accord. Basel Accord ini bertujuan untuk memperkuat posisi modal, mengurangi ketimpangan atas regulasi yang berbeda di tiap negara, dan mempertimbangkan berbagai risiko perbankan, seperti komitmen-komitmen yang tidak tercantum di dalam neraca. Basel I banyak membahas mengenai risiko kredit. Sesuai dengan aturan standar internasional perbankan wajib memiliki modal sebesar 8% dari aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). Hal ini bertujuan untuk menjaga kesehatan dan stabilitas sistem perbankan internasional, oleh karena itu rasio modal yang lebih tinggi diwajibkan (Booklet Bank Indonesia).

2.1.3.2 BASEL II

Pada tahun 2006, The Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) kembali mengeluarkan aturan Basel II merupakan aturan yang berstandar internasional terkait dengan kecukupan modal perbankan yang lebih sensitif terhadap risiko. Aturan pada Basel II dinilai lebih kompleks dibandingkan dalam Basel I. Dalam Basel II terdapat kerangka penghitungan modal yang bersifat lebih sensitif terhadap risiko (sensitif risk). Basel II bertujuan untuk meningkatkan

(29)

keamanan dan kesehatan sistem keuangan yang berfokus pada perhitungan modal yang berbasis pada risiko, supervisory review process, dan market discipline.

Secara umum kerangka Basel II terdiri dari tiga pilar yaitu: Pilar 1 mengenai kecukupan modal minimum (minimal capital requirements), Pilar 2 tentang proses review oleh pengawas (supervisory review process), dan Pilar 3 berkaitan dengan disiplin pasar (market discipline). Dengan mengimplementasikan Basel II pada perbankan di Indonesia diharapkan industri perbankan di Indonesia akan lebih sehat dan mampu bertahan dalam kondisi krisis (Booklet Perbankan Indonesia, 2014).

Hal terpenting adalah pengawas perbankan harus dapat mengimplementasikan pengawasan dan disiplin pasar, bahkan jika persyaratan modal minimum Basel II tidak bisa dipenuhi sesuai tenggat waktu. Selain itu, pengawas perbankan juga harus dapat memastikan bahwa semua bank-bank yang tidak mengimplementasikan Basel II harus mengikuti peraturan permodalan, akuntansi dan pembuat kebijakan (Fauzia & Idris, 2016).

Dalam teorinya, Basel II berusaha untuk mempertimbangkan risiko dan persyaratan pengelolaan modal yang bertujuan memastikan setiap bank memiliki kecukupan modal yang memadai guna menghadapi risiko atas setiap pinjaman yang diberikan serta praktik investasi yang dilakukan. Jadi dapat disimpulkan bahwa peraturan ini menyatakan bahwa semakin besar risiko, maka semakin besar pula jumlah modal ditahan yang dibutuhkan perbankan. Hal ini bertujuan untuk menjaga solvabilitas perbankan dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan (Fikri, 2012). Modal minimum yang ditetapkan dalam Basel II ini adalah 8% dan hingga saat ini Indonesia masih menggunakan Basel II sebagai acuan penetapan modal minimum.

(30)

2.1.3.3 BASEL III

Regulasi ini merupakan standar kecukupan modal terbaru yang dikeluarkan oleh Basel Committee on Banking Supervision (BCBS). Basel III diterbitkan dalam rangka untuk merespon krisis yang terjadi pada tahun 2008. Aturan dari basel III ini menetapkan penyediaan modal minimum sebesar 13%. Per tanggal 1 Januari 2013, seharusnya seluruh perbankan di berbagai belahan dunia sudah dapat mengimplementasikan standar regulasi ini (Bayuseno & Chabahib, 2014).

Rencananya Basel III akan diberlakukan di Indonesia sejak 2019 lalu, akan tetapi akibat pandemi Covid-19 regulasi ini akan diundur penerapannya hingga tahun 2023. Menunggu penetapan regulasi ini, Bank Indonesia sebagai bank sentral akan menyesuaikan beberapa peraturan terkait dengan regulasi ini. Jika dibandingkan dengan negara- negara lain, Indonesia telah memiliki modal yang kuat dikarenakan struktur modal di Indonesia memiliki rasio kecukupan modal rata-rata (CAR) sebesar 17% (Otoritas Jasa Keuangan).

Regulasi ini dimaksudkan untuk diterapkan secara konsisten di seluruh dunia agar dapat mengurangi risiko bahwa lembaga keuangan akan memindahkan operasi mereka ke negara atau tempat yang memiliki regulasi yang lebih lunak.

Akan tetapi, basel III tidak dapat dilaksanakan mutlak secara seragam di seluruh dunia. Waktu pelaksanaan tidak akan dapat sama persis satu negara dengan negara lainnya, dan bank yang beroperasi di beberapa negara dapat dipaksa untuk mengikuti jadwal dan peraturan nasional yang berlaku. Selain itu, detail peraturan terkait kecukupan modal nasional di setiap negara cenderung berbeda, dan bank diharuskan mematuhi aturan suatu negara tersebut yang memiliki persyaratan

(31)

permodalan minimum paling ketat. Persyaratan baru dari Basel III untuk countercyclical capital buffer mungkin sulit untuk bank-bank internasional (Fikri, 2012).

2.1.4 Teori Terkait Capital Buffer

Adapun teori-teori yang terkait dengan capital buffer yang digunakan sebagai landasan teori peneliti merujuk pada: Pecking Order Theory, Moral Hazard dan Charter Value Theory.

2.1.4.1 The Pecking Order Theory

Pecking order theory pertama kali diusulkan oleh Donaldson pada tahun 1961 dan dikembangkan oleh Stewart C. Myers dan Nicolas Majluf (1984). Pecking order theory menyatakan bahwa biaya pendanaan meningkat dengan informasi yang asimetris. Pendanaan berasal dari tiga sumber yaitu dana internal, utang, dan ekuitas baru. Bentuk sumber pendanaan yang diutamakan perusahaan adalah pendanaan dari internal, kemudian utang, dan ekuitas sebagai pilihan yang paling akhir. Oleh karena itu, proses sumber pendanaan perusahaan diawali dengan penggunaan pendanaan internal, ketika habis, maka perusahaan menerbitkan surat utang, dan ketika surat utang jumlahnya tidak lagi masuk akal untuk menerbitkan surat utang kembali, ekuitas diterbitkan (Bayuseno & Chabahib, 2014).

Dalam teori ini mengacu pada variabel ROE. ROE yang tinggi mengindikasikan keuntungan yang tinggi bagi bank. Keuntungan tersebut kemudian menjadi laba ditahan yang digunakan untuk meningkatkan modal bagi bank. Hal ini sesuai penjelasan mengenai pecking order theory yang menyatakan bahwa perusahaan memiliki preferensi untuk menggunakan laba ditahan sebagai

(32)

tambahan modal dibandingkan mendapatkannya melalui penerbitan ekuitas yang tergolong mahal (Bayuseno & Chabahib, 2014) .

2.1.4.2 Moral Hazard

Moral Hazard adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh manajer yang tidak diketahui seluruhnya oleh pihak pemegang saham maupun pihak peminjam, yang dapat menyebabkan manajer dapat bertindak diluar sepengetahuan para investor dan mungkin saja dapat melanggar kontrak sebenarnya. Pemberian kredit dengan menggunakan aset perusahaan secara agresif pada proyek-proyek atau bisnis yang berisiko tinggi dengan menggunakan dana dari simpanan masyarakat atau publik. Kredit berisiko tinggi ini berpotensial jika berhasil, namun jika gagal akan banyak ditangguh oleh deposan atau pemilik dana. Oleh karena itu, pada keputusan-keputusan ini bank harus lebih mengandalkan sumber dana publik daripada pendanaan eksternal (Mawadah & Taswan, 2021)

2.1.4.3 Charter Value Theory

Teori ini dikemukakan oleh Marcus pada tahun 1984 yang menjelaskan bahwa bank sanantiasa menahan ekstrak modal untuk mengamankan modal mereka dari stabilitas dan menangani kegagalan usaha (Manik, 2020).

Dalam teori ini menjelaskan bahwa bank akan menghadapi kerugian di masa yang akan datang apabila terjadi kebangkrutan di masa depan dan dampak kerugian ini menerpa banyak pihak termasuk para pemegang saham. Oleh karena itu, bank harus mempertahankan modal yang dimilikinya melebihi minimum yang disyaratkan oleh bank sentral. Charter Value dapat membantu mengurangi

(33)

pengambilan risiko yang berlebihan. Bank yang memiliki charter value yang tinggi akan beroperasi lebih hati-hati dan memilih strategi bisnis yang rendah risiko untuk mengurangi charter value ( (Umar, 2019).

2.1.5 Capital Buffer

Capital buffer dapat diartikan sebagai selisih antara rasio kecukupan modal (CAR) dengan rasio kecukupan modal minimum 8% yang berfungsi sebagai penyangga untuk mengantisipasi kerugian bank sesuai dengan ketetapan pemerintah. Persyaratan modal minimum yang ditentukan oleh pemerintah tersebut tidak menjamin dapat menutupi kerugian yang dialami oleh perbankan. Oleh sebab itu, perbankan perlu untuk menyediakan capital buffer yang berperan sebagai asuransi terhadap biaya yang mungkin mengalami capital shock yang tidak terduga dan kesulitan untuk mendapatkan modal yang baru (Mawadah & Taswan, 2021).

Capital buffer juga dapat menjadi pelindung yang dapat menyerap berbagai risiko yang mungkin muncul, jika financial distress cost dari modal yang rendah, serta biaya akses modal baru yang tinggi. Selain itu, bank–bank yang memiliki modal yang rendah, maka akan lebih mudah kehilangan kepercayaan masyarakat.

Oleh karena itu, bank dapat menahan dan menjadikan capital buffer sebagai asuransi untuk menghindari biaya disiplin pasar (market discipline) maupun biaya intervensi pengawasan (supervisory intervention) jika mereka memutuskan untuk menurunkan modal di bawah persyaratan rasio kecukupan modal (Fikri, 2012).

Alasan lain yang mengharuskan bank memiliki capital buffer adalah pasar memaksa bank besar untuk memiliki capital buffer, bahkan ketika modal relatif mahal, sebagaimana modal bank berfungsi untuk memonitor dan tanpa penjamin

(34)

simpanan yang memungkinkan bank membuat jaminan simpanan menjadi lebih murah. Jokipii dan Milne (2008) menyatakan bahwa di saat terjadi peningkatan yang substansial pada permintaan kredit, bank-bank dengan modal yang relatif kecil akan kehilangan pangsa pasar yang baik untuk dikapitalisasi.

Menurut Jokipii dan Milne (2008) bahwa alasan suatu bank termotivasi untuk menjaga tingkat capital buffer mereka dalam posisi yang cukup adalah untuk mengambil kesempatan dari adanya peluang tumbuh di masa mendatang. Dengan memiliki modal penyangga yang cukup, bank berada posisi yang menguntungkan apabila terdapat kesempatan untuk melakukan investasi dengan tingkat pengembalian yang kompetitif. Misalnya bank dengan tingkat modal penyangga yang tinggi saat terjadi lonjakan permintaan kredit mereka akan dengan mudah menyediakan dana untuk kredit. Namun bank dengan modal penyangga yang relatif kecil mungkin akan kehilangan kesempatan tersebut. Suatu bank memiliki tingkat capital buffer yang cukup sebagai suatu jaminan untuk memenuhi tingkat persyaratan modal minimum yang disyaratkan oleh pemerintah.

Menurut Jokipii dan Milne (2008) regulator sewaktu-waktu dapat mengubah kebijakan mengenai persyaratan modal minimum, di sisi lain kebanyakan dari bank memiliki aset yang tidak likuid sehingga tidak mudah bagi bank untuk menyesuaikan modal dan risiko bank secara seketika. Oleh karena itu dengan menyediakan tingkat capital buffer yang cukup dapat mengantisipasi hal tersebut. Dengan memiliki capital buffer yang cukup dapat memberikan signal soundness terhadap pasar dan memenuhi harapan dari lembaga pemeringkat.

(35)

Adapun alasan perbankan menahan modalnya yaitu: Pertama, modal bertujuan untuk mengantisipasi kegagalan, Bank menahan modalnya untuk mengurangi risiko tidak solvabel. Bank cenderung memiliki kecukupan modal untuk menyerap kerugian. Kedua, jumlah modal mempengaruhi pengembalian pemegang saham. Semakin besar modal yang ditahan, semakin kecil keuntungan yang diterima pemegang saham. Terdapat situasi dimana manajer harus mengambil keputusan yang optimal di antara menjaga likuiditas bank tetap aman dan memaksimalkan keuntungan bagi pemegang saham. Ketiga, modal minimum perbankan diatur oleh regulator. Pada dasarnya terdapat tiga jenis biaya yang terkait capital buffer.

2.1.6 Faktor-Faktor Penentu Capital Buffer

Dalam penelitian Ayuso et al. (2002) dan Jokipii dan Milne (2008), terdapat jenis biaya yang terkait dengan capital buffer dan model capital buffer: Cost of holding capital yang diproksi pada return on equity (ROE), dan cost of financial distress yang diproksikan pada non performing loan (NPL) (Bayuseno & Chabahib, 2014).

2.1.6.1 Cost of Holding Capital

Dalam penelitian Ayuso et al.(2002) cost of holding menyiratkan kelebihan modal (direct cost of remunerating the excess of capital), yaitu biaya kesempatan modal (opportunity cost of the capital). Oleh karena itu, insentif bank untuk menahan modal tergantung pada biaya modal dan biaya deposito.

Penelitian ini mengikutsertakan return on equity untuk mengukur biaya langsung yang timbul dari kelebihan modal serta untuk menunjukkan

(36)

keuntungan yang diperoleh perusahaan dibandingkan dengan total ekuitas pemegang saham (Bayuseno & Chabahib, 2014).

2.1.6.1.1 Return on Equity (ROE)

Ukuran return on equity (ROE) menunjukkan berapa banyak keuntungan perusahaan yang diperoleh dibandingkan dengan total ekuitas pemegang saham (Fikri, 2012). Jokipii dan Milne (2008) menggunakan return on equity (ROE) sebagai proksi dari cost of holding capital. Jokipii dan Milne (2008) menyatakan ROE juga dapat melebihi remunerasi yang dituntut pemegang saham dan sejauh ini digunakan untuk pengukuran pendapatan dibanding biaya. Tingginya laba dapat menjadi pengganti modal sebagai penyangga (buffer) menghadapi berbagai guncangan yang tidak terduga. Dengan demikian, sebagaimana peningkatan modal melalui pasar modal terbilang mahal, laba ditahan seringkali digunakan untuk meningkatkan capital buffer.

Dengan adanya pertumbuhan ROE menunjukkan bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik dengan sejalannya peningkatan keuntungan. Semakin tinggi ROE maka semakin besar capital buffer yang disediakan oleh bank. Jika saja terjadi guncangan di kemudian hari bank yang kuat akan dapat tetap menjalankan aktivitas bisnisnya, karena bank menahan laba yang tinggi atau dikenal dengan buffer (Mawadah & Taswan, 2021).

2.1.6.2. Cost of Financial Distress

Dengan menahan modal pada tingkat yang tinggi dapat membuat bank mengurangi profitabilitas kebangkrutan, dengan demikian hal ini disebut dengan cost

(37)

of failure, termasuk kehilangan nilai perusahaan, kehilangan reputasi, dan biaya hukum dari kebangkrutan (Tabak, 2011 dalam Bayuseno dan Chabahib, 2014).

Terkait dengan biaya ini ada persyaratan modal wajib minimum. Jika semakin tinggi modal akan mengurangi ketidakpatuhan terhadap persyaratan tersebut. Dengan demikian akan meminimalkan biaya konsekuen (Bayuseno &

Chabahib, 2014).

2.1.6.2.1 Non Performing Loan (NPL)

Dalam penelitiannya Ayuso et al. (2002), Jokipii dan Milne (2008), menggunakan non performing loan (NPL) sebagai proksi risiko bank. Risiko bank dapat terjadi akibat kredit macet atau ketidakmampuan debitur dalam melunasi pinjamannya. Oleh karena itu, kemampuan manajemen kredit sangat dibutuhkan untuk mengelola permasalahan kredit.

Merujuk pada peraturan Bank Indonesia BI No. 3/30 DPNP pada 14 Desember 2001, non performing loan (NPL) diukur dari kredit macet (non performing loan) dibagi total kredit yang didistribusikan (total loan). Semakin tinggi angka non performing loan (NPL) akan meningkatkan biaya, sehingga berpotensi menyebabkan kerugian. Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia, jumlah aman dari non performing loan (NPL) adalah di bawah 5% (Bank Indonesia).

2.1.6.3 Faktor Lain Penentu Capital Buffer

Dalam penelitian Bayuseno dan Chabahib (2014) menyebutkan bahwa faktor lain penentu capital buffer merupakan variabel yang diluar dari: Return on Equity (ROE), dan Non Performing Loan (NPL).

(38)

2.1.6.3.1 Loan to Total Asset (LOTA)

Dalam penelitian Bayuseno dan Chabahib (2014) loan to total asset (LOTA) dikategorikan sebagai faktor lain penentu capital buffer. Pemberian kredit pada masyarakat adalah kegiatan utama perbankan dan menjadikan sumber utama pendapatan perbankan. Namun, kegiatan utama perbankan tersebut memiliki risiko yang tinggi. Loan to total aset (LOTA) ditopang oleh meningkatnya konsumsi saat ini.

Sejalan dengan teori, peningkatan konsumsi masyarakat akan meningkatkan jumlah kredit. Loan to total asset (LOTA) dipertimbangkan di dalam analisis, dikarenakan ini merupakan rasio yang penting untuk bank. LOTA diharapkan memiliki hubungan positif dengan capital buffer. Hal ini dikarenakan, semakin tinggi modal yang didistribusikan untuk kredit, semakin besar risiko yang dihadapi bank akibat tingginya pendistribusian kredit tersebut (Bayuseno & Chabahib, 2014).

2.1.6.3.2 Bank Size (SIZE)

Dalam penelitian Mawadah dan Taswan (2021) bank size digunakan sebagai faktor internal yang mempengaruhi capital buffer. Bank size diukur dengan menggunakan logaritma dari total aset bank. Perbankan yang memiliki ukuran besar cenderung memiliki capital buffer yang besar juga. Karena bank-bank yang berukuran besar cenderung melihat jika pemberian kredit ke masyarakat harus diimbangi dengan penyediaan capital buffer. Hal ini dikarenakan jika terjadi guncangan di kemudian hari perbankan yang berukuran besar dapat mengantisipasinya (Mawadah & Taswan, 2021).

Pada penelitian Mawadah dan Taswan (2021) Perbankan yang memiliki ukuran besar cenderung memiliki capital buffer yang lebih tinggi dibandingkan dengan bank yang berukuran kecil. Hal tersebut menyebabkan perbankan yang memiliki ukuran yang besar

(39)

telah mencapai tahap matang, relatif stabil dan mampu untuk menghasilkan keuntungan daripada bank yang memiliki ukuran kecil. Perbankan yang memiliki ukuran yang lebih besar dianggap telah memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi risiko bank. Bank Size dapat diukur dengan menggunakan logaritma dari total aset bank. Berdasarkan uraian tersebut, diharapkan bank size memiliki hubungan positif dengan capital buffer.

2.1.6.3.3 Gross Domestic Product Growth (GDPG)

Dalam penelitian Hisan et al. (2020) gross domestic product growth (GDPG) dikategorikan sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi capital buffer.

GDPG digunakan sebagai suatu indikator untuk menilai perekonomian sedang berlangsung baik atau buruk. Indikator ini untuk mengetahui total pendapatan yang diperoleh semua orang dalam perekonomian suatu negara.

Menurut Hisan et al. (2020) definisi dari gross domestic product growth (GDPG) adalah nilai pasar dari semua barang dan jasa akhir (final) yang diproduksi dalam sebuah negara pada suatu periode. Dalam GDPG terdapat beberapa hal yang tidak disertakan seperti nilai dari semua kegiatan yang terjadi di luar pasar, kualitas lingkungan dan distribusi pendapatan. Selain itu, GDPG juga mengukur dua hal pada saat bersamaan yaitu total pendapatan semua orang dalam perekonomian dan total pembelanjaan negara untuk membeli barang dan jasa hasil dari perekonomian.

2.1.6.3.4 Inflasi (INF)

Dalam penelitian Hisan et al. (2020) Inflasi dikategorikan sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi capital buffer. Inflasi merupakan kecenderungan terjadinya peningkatan harga produk-produk secara keseluruhan. Inflasi yang tinggi

(40)

mengurangi tingkat pendapatan riil yang diperoleh investor dari investasi. Sebaliknya, jika tingkat inflasi suatu negara mengalami penurunan maka hal ini merupakan sinyal yang positif bagi investor seiring dengan turunnya risiko daya beli uang dan risiko penurunan pendapatan riil (Bank Indonesia).

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang berkenaan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi capital buffer pernah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, di antaranya:

1. Mawadah dan Taswan (2021)

Penelitian ini menguji apakah capital buffer pada Perbankan Konvensional di Indonesia dipengaruhi oleh faktor–faktor seperti, Non Performing Loan (NPL), Bank Size (Size), Return on Equity (ROE) dan Loan to Total Asset (LOTA). Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah laporan keuangan periode 2015-2019.

Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa non performing loan (NPL) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer. Hal ini menunjukkan industri bank akan selalu dihadapkan dihadapi oleh risiko, salah satunya adalah risiko bank.

Bank size berpengaruh positif dan signifikan terhadap capital buffer. Hal ini disebabkan oleh bank dengan jumlah aset yang besar menunjukkan bahwa perusahaan telah mencapai tahap matang, relatif stabil, mampu menghasilkan keuntungan besar dibandingkan perusahaan dengan total aset yang kecil.

Perusahaan perbankan yang besar dianggap lebih banyak memiliki pengalaman

(41)

dalam menghadapi risiko bank serta lebih fleksibel dalam mengatur portofolionya, sehingga bank dapat menaikkan CAR yang bertanda kenaikan capital buffer.

Return on equity (ROE) tidak berpengaruh terhadap capital buffer. Hal ini disebabkan karena nilai ROE tidak menjamin adanya peningkatan capital buffer dan loan to total asset (LOTA) menunjukkan pengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer. Hal ini disebabkan, pada industri perbankan di Indonesia lebih agresif dalam menyalurkan kredit pada bisnis yang memiliki risiko tinggi dengan menggunakan simpanan dari masyarakat atau publik sehingga perbankan memutuskan untuk menyediakan capital buffer yang lebih rendah karena bank mengandalkan pendanaan eksternal.

2. Hisan, et al. (2020)

Penelitian ini menganalisis faktor–faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi capital buffer pada Perbankan Syariah di Indonesia. Adapun variabel–variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non performing financing (NPF), biaya operasional pendapatan operasional (BOPO), net imbalan (NI), dana pihak ketiga (DPK), gross domestic product growth (GDPG), dan inflasi (INF). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan Bank Syariah periode tahun 2014–2018.

Pada penelitian ini menyebutkan bahwa NPF tidak berpengaruh terhadap capital buffer. BOPO dan GDPG berpengaruh positif dan signifikan terhadap capital buffer. NI berpengaruh positif dan tidak signifikan. Dan DPK dan Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer.

(42)

3. Fauzia dan Idris (2016)

Penelitian ini menguji faktor–faktor yang mempengaruhi capital buffer pada periode tahun 2011-2014. Adapun variabel–variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return on Equity (ROE), Non Performing Loan (NPL), Loan to Total Asset (LOTA), GDP Growth (GDPG), dan Lag of Capital Buffer (BUFFt-1).

Dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa variabel ROE berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap capital buffer, NPL dan GDPG berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap capital buffer dan untuk variabel LOTA berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer serta variabel BUFFt-1 berpengaruh positif dan signifikan terhadap capital buffer.

4. Juni Purwati, Sudarno dan Suwaryo (2016)

Penelitian ini menguji non performing loan, return on equity, bank size dan loan to total asset terhadap capital buffer. Objek dalam penelitian ini adalah bank umum perseroan terbatas (PT) yang menerbitkan laporan keuangan kurtalan selama periode tahun 2002 sampai 2014.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa NPL dan ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap capital buffer. SIZE berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap capital buffer. LOTA berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer.

5. Bayuseno dan Chabahib (2014)

Penelitian ini menguji faktor-faktor yang mempengaruhi capital buffer perbankan konvensional di Indonesia. Data yang digunakan pada penelitian ini

(43)

adalah bank konvensional di Indonesia selama periode 2010-2013. Faktor-faktor yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah: Return on Equity (ROE), non performing loan (NPL), lag of capital buffer (BUFF), loan to total asset (LOTA), dan Bank’s share asset (BSA). Sebagai hasilnya, ROEt-1 dan Lag of Capital Buffer berpengaruh positif dan signifikan terhadap BUFF. NPL berpengaruh positif dan signifikan terhadap BUFF. BSA memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap BUFF. LOTA memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap BUFF.

6. Terhi Jokipii dan Alistair Milne (2008)

Penelitian ini menganalisis perilaku cyclical perbankan Eropa dan capital buffer bank konvensional, simpanan dan koperasi di Finlandia selama periode 1997- 2004, kontrol khusus untuk penentu potensial dari capital buffer guna menganalisis sinyal dan besarnya dampak siklus bisnis terdapat pada fluktuasi capital buffer.

Hasilnya menyoroti perbedaan yang berbeda yang muncul untuk keluar antara bank-bank yang beroperasi di negara-negara yang baru menjadi anggota (RAM) dan 25 bank Uni Eropa 25 (EU25) dan euro area 15 (EA15).

Bukti ini mengindikasikan capital buffer dari bank anggota RAM memiliki hubungan positif dengan siklus, sedangkan untuk bank anggota EU15 dan EA yang dikombinasikan dengan EU25 memiliki hubungan negatif signifikan. Penelitian ini juga membedakan antara jenis dan ukuran bank, dan menganalisis bank konvensional dan bank simpanan yang besar bergerak countercyclical. Penelitian lainnya, menunjukkan bahwa bank-bank yang relatif kecil memberikan dampak negatif atau bergerak procyclical untuk sampel yang tergabung dalam EU25, EU15, dan EA.

(44)

7. Francesco dan Sandrine Levasseur (2007)

Penelitian ini menganalisis faktor-faktor penentu capital buffer di negara- negara eropa tengah dan timur (Central and Eastern European Countries) dengan menggunakan dynamic panel-analysis berdasarkan data antarnegara CEECs.

Penelitian ini menggunakan lag of capital buffer (BUFFt-1), Return on Equity (ROE), Non Performing Loan (NPL), dan siklus bisnis (GDP growth) sebagai variabel independen, serta capital buffer (BUFF) sebagai variabel dependen.

Hasilnya menunjukkan BUFFt-1 berpengaruh positif dan signifikan dengan capital buffer, dan ROE juga memiliki pengaruh positif dengan capital buffer. Akan tetapi, NPL dan GDP’s memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap capital buffer.

8. Juan Ayuso, et al. (2002)

Penelitian ini menganalisis hubungan antara siklus bisnis di Spanyol dengan capital buffer bank-bank konvensional di Spanyol selama periode 1986-2000.

Variabel pada penelitian ini adalah lag of capital buffer (BUFt-1), Return on Equity (ROE), Non Performing Loan (NPL), BIG, SMA, dan pertumbuhan ekonomi (GDP) sebagai variabel dependen, BIG dan SMA diikutsertakan untuk mengetahui perbedaan capital buffer terkait ukuran bank. BIG (SMA) merupakan variabel dummy yang mengambil nilai 1 untuk bank-bank dengan desil tertinggi atau terendah dan capital buffer (BUFF) sebagai variabel independen.

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa BUFFt-1 dan GDP memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer. ROE dan NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer. Variabel dummy BIG dan SMA sesuai dengan

(45)

hipotesis too big to fail dan bank kecil yang cenderung kesulitan untuk mendapatkan dana dari pasar modal.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No. Peneliti (Tahun)

Judul Penelitian

Variabel Teknik Analisis Data

Hasil Penelitian

1. Mawadah dan Taswan

(2021)

Analisis Faktor yang Mempengaruhi

Capital Buffer pada Perbankan Konvensional yang Terdaftar

di Bursa Efek Indonesia.

Variabel dependen:

Capital Buffer

Variabel independen:

Non Performing Loan,

Bank Size, Return on Equity, Loan to Total Asset.

Regresi Linier Berganda

1. NPL dan LOTA berpengaruh negatif dan

signifikan terhadap capital buffer.

2. Bank Size Berpengaruh positif dan

signifikan terhadap capital buffer.

3. ROE berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap capital buffer.

2. Choirotun Hisan, Fitrisia Septiarini,

dan Dian Filianti

(2020)

Analysis of The Factors That Influence

Islamic Bank Capital Buffers in Indonesia

Variabel dependen:

Capital Buffer

Variabel independen:

Non Performing Financing.

Biaya Operasional Pendapatan Operasional, Net Income, Dana Pihak Ketiga, Gross Domestic Growth, dan Inflasi.

Regresi Linier Berganda

1. NPF tidak berpengaruh terhadap capital buffer.

2. BOPO dan GDPG berpengaruh positif dan signifikan terhadap capital buffer.

3. NI berpengaruh positif dan tidak signifikan.

4. DPK dan Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer.

3. Nanda Fauzia dan Idris

(2016)

Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi

Capital Buffer

Variabel dependen:

Capital Buffer

Regresi Linier Berganda

1.ROE berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap capital buffer.

2.NPL dan GDPG berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap capital buffer.

Referensi

Dokumen terkait

H1 6 : Capital adequacy ratio (CAR), Loan to deposite ratio (LDR), Non- performing loan (NPL), Return on equity (ROE), dan Dividend per share (DPS) secara

Dari analisis regresi diketahui bahwa total aset (size), ROA (return on assets), ekuitas (equity), NPL/NPF (non performing loan/finance) berpengaruh pada tingkat

This study aims to identify and analyze the influence of Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Firm Size,

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Non Performing Loan (NPL) dan Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh

(CAR), Non Performing Loan (NPL), Net Profit Margin (NPM), Net Interest Margin (NIM) dan Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return Saham pada perusahaan perbankan

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan gambaran dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengaruh faktor-faktor internal seperti Return On Equity, Non Performing

Hasil penelitian menunjukkan, secara simultan Loan to Deposit Ratio (LDR), Assets to Loan Ratio (ALR), Quick Ratio (QR), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), dan

Kata kunci: Risiko saham perbankan, book value equity to total asset (EQTA) , non performing loan (NPL) , liquid asset to total asset (LIQATA), standard deviation of ROA