BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
3. Faktor-faktor Penghambat dan Pendukung yang dialami Pekerja
Lokal dan Kesehatan Lingkungan
Dalam melaksanakan perannya sebagai pekerja sosial yang wajib melayani warga masyarakat dan anak-anak terutama dalam mengatasi masalah krisis kepedulian terhadap budaya tradisional yang terjadi pada anak-anak dan
102
remaja di RW 20, dalam rangka mewujudkan kampung ramah anak berbasis budaya lokal, tentunya di dalam proses pelaksanaannya pekerja sosial RW 20 mengalami beberapa hambatan-hambatan dan faktor pendukung di dalam menjalankan tugasnya.
Hal tersebut di perkuat dari pernyataan Ibu RW sebagai pelatih tari dan juga sebagai salah satu pekerja sosial bidang seni Kampung Ramah Anak RW 20, yang mengungkapkan tentang hambatan-hambatan yang dialami pekerja sosial RW 20 yaitu:
“Faktor penghambat yang kami adalah para orangtua yang belum
sepenuhnya mendorong dan mengajak anak-anaknya untuk belajar menari di sini, salah satu sebabnya karena sebagian besar anak-anak RW 20 wajib mengikuti kelas TPA belajar A-Qur’an di masjid setiap hari
kecuali hari Senin pukul 3 sore. Itulah sebabnya anak-anak RW 20 jarang ada yang mau di ajak belajar nari di Angsa Putih, kebanyakan alasan mereka sudah ikut ekstrakurikuler menari di sekolahnya dan tidak ada waktu. Sebagian lagi, karena pengaruh globalisasi seperti handphone yang saat ini makin banyak di konsumsi oleh pelajar SD hingga SMP. Pengaruh perkembangan budaya korea dan barat, sehingga anak-anak mudah sekali mengikuti budaya tersebut. Faktor pendukungnya yaitu sampai saat ini masih ada beberapa anak-anak yang niat dan minat mau belajar menari di Angsa Putih untuk menjaga
budaya tradisional RW 20 dan kebudayaan Indonesia.”(hal 196)
Senada dengan pernyataan tersebut, Bapak SA sebagai pelatih lukis dan juga sebagai pekerja sosial bidang seni di Kampung Ramah Anak RW 20, mengungkapkan bahwa:
“Faktor penghambat yaitu padatnya jadwal kegiatan yang diikuti anak
diluar jam sekolahnya menjadikan anak-anak RW 20 kurang peduli dengan budaya tradisional asli RW 20. Faktor pendukungnya yaitu sebagian besar warga RW 20 dan pengelola kampung ramah anak
sangat antusias mendukung program kami.”(hal 206)
Pernyataan tersebut diperkuat juga oleh Ibu NU sebagai pelatih dan anggota dari pekerja seni Manunggal Karso, mengungkapkan bahwa:
103
“Faktor penghambat yaitu pola pikir orangtua yang belum dapat
menanamkan pada anak-anak pentingnya budaya tradisional, sehingga membuat anak-anak RW 20 tidak peduli dengan kegiatan budaya yang kami lakukan. Faktor pendukung adalah masih ada beberapa anak-anak yang mau ikut belajar menari untuk melestarikan budaya kampung RW
20 Baciro, Yogyakarta.”(hal 200)
Berbeda dari pernyataan ketiga responden diatas, Bapak KP sebagai Ketua RW dan sebagai Ketua Kampung Ramah Anak RW 20 juga mengungkapkan tentang hambatan-hambatan yang dialami pekerja sosial RW 20 selama menjadi pelaksana kegiatan kampung ramah anak yaitu:
“Faktor penghambat yang saya temui yaitu terkadang saat rapat
koordinasi merencanakan sebuah program ataupun saat evaluasi program, masih ada beberapa pengelola yang belum bisa hadir secara lengkap, karena kesibukan pekerjaan mereka ataupun niat mereka, jadi terlihat hanya orang-orang itu saja yang hadir. Saya berharap pada saat pertemuan yang berkaitan dengan Kampung Ramah Anak dapat hadir secara lengkap, supaya dapat saling bertukar pengalaman dan pendapatnya. Faktor pendukung yaitu kami pekerja sosial RW 20 sangat solid, mau bergotong royong, dan saling membantu baik dari segi moril maupun materi, dan sebagian besar dari kami merupakan pekerja swasta maupun negeri yang bisa di katakan memiliki banyak link untuk
mengembangkan Kampung Ramah Anak di RW 20 kami.”(hal 210)
Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh pernyataan Ibu SH sebagai Ketua Kampung Ramah Anak RW 20 juga mengungkapkan bahwa:
“Faktor penghambat yang saya temui yaitu kedisiplinan anak-anak saat
mengikuti kegiatan di RW 20, mereka harus di dorong dahulu supaya mau berpartisipasi mengikuti pelaksanaan kegiatan tersebut. Namun, berbeda dengan para orangtua, yang tepat waktu dan antusias ketika mengikuti kegiatan RW. Selain itu, adanya pekerja sosial Kampung Ramah Anak yang kehadirannya pada saat rapat koordinasi program KRA ataupun evaluasi masih terlihat bolong, padahal saya dan Bapak KP sudah terlebih dahulu memberikan undangan kepada mereka. Faktor pendukungnya yaitu warga RW 20 sangat mendukung sekali dan menerima setiap program kegiatan yang akan kami berikan ke masyarakat RW 20.”(hal 216)
Berdasarkan pernyataan responden diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penghambat dan pendukung peran pekerja sosial dalam mewujudkan
104
kampung ramah anak RW 20 yang berbasis budaya lokal dan lingkungan adalah :
a. Faktor Penghambat
1) Adanya beberapa para orangtua yang belum sepenuhnya mendorong dan mengarahkan anak-anaknya untuk belajar menari di sanggar tari Angsa Putih, mereka belum mengetahui bahwa kesenian itu menjadi salah satu yang penting dan patut generasi muda lestarikan. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar orangtua di RW 20 bekerja sebagai pegawai negeri dan swasta. Setiap hari para orangtua berangkat kerja pagi hari dan pulang sore atau malam hari, ada beberapa anak-anak dan remaja di RW 20 yang tinggal di rumah bersama pembantu rumah tangga dan ada juga yang di titipkan oleh tetangga sebelah rumah. Hal itu yang menjadi penyebab anak-anak dan remaja di RW 20 kurang berminat dengan sanggar kesenian di Manunggal Karso. Ketika mereka melihat tarian dan hasil karya lukisan dari Angsa Putih pada saat suatu kegiatan acara, mereka melihat karya tersebut hanya seperti sebuah tontonan hiburan. 2) Sebagian besar anak-anak RW 20 mengikuti pembelajaran TPA di
masjid setiap sore serta padatnya jadwal kegiatan dari remaja dan pemuda seperti pekerjaan dan kegiatan di sekolah sehingga anak-anak merasa tidak mempunyai waktu luang yang cukup untuk belajar seni. Hal tersebut disebabkan karena didikan dari orangtua yang di tanamkan pada anak-anaknya bahwa mengaji itu wajib dan sangat penting daripada kegiatan lainnya, begitu juga dengan pekerjaan dan kepentingan yang berkaitan dengan sekolah. Sebagian orangtua juga merasa takut bila anak-anaknya terlalu lelah karena banyak kegiatan
105
yang diikuti sehingga tidak dapat fokus dengan kepentingan utamanya seperti bekerja atau sekolah.
3) Adanya rasa kurang kepercayaan diri dari dalam diri anak-anak ketika mengikuti latihan tari, lukis atau drama. Hal tersebut disebabkan lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri anak-anak dan kurangnya motivasi dari orangtua.
4) Pengaruh perkembangan budaya barat yang sedang mewabah pada generasi muda di RW 20. Sehingga ketika mereka di ajak menari, mereka bersedia menari bila diajarkan tarian modern dance yang bukan tradisional. Hal tersebut dapat terjadi karena cara mendidik yang diajarkan orangtua melalui anak-anak salah, anak-anak kurang dibimbing dan dibatasi waktu ketika bermain gadget ataupun melihat acara televisi, serta pengaruh pergaulan dari lingkungan sosial anak-anak yang salah.
5) Anak-anak RW 20 masih harus di dorong dan di ingatkan terlebih dahulu ketika mau mengikuti kegiatan yang mengutamakan anak-anak. Ketika ada kegiatan yang membutuhkan partisipasi dari anak-anak, mereka selalu datang tidak tepat waktu. Hal tersebut disebabkan anak-anak di RW 20 pada siang dan sore hari mereka selalu bermain bersama teman-temannya, dan bila diingatkan oleh orangtua ataupun karang taruna mereka terkadang menangis dan menolak ikut kegiatan tersebut karena nyaman dengan bermain bersama teman-temannya.
6) Hubungan internal antara pekerja sosial kampung ramah anak RW 20 masih terjadi mis komunikasi akibat jarang hadirnya beberapa anggota ketika ada agenda rapat. Hal itu disebabkan kesibukan pekerjaan
106
mereka di luar kegiatan kampung ramah anak, dan bila ada anggota yang tidak hadir saat rapat, anggota tersebut jarang melakukan komunikasi kembali dengan sesama anggota pekerja sosial yang pada hari itu hadir dalam rapat.
b. Faktor Pendukung
1) Beberapa anak-anak dan remaja masih ada yang tertarik dan berminat untuk belajar seni di sanggar tari Angsa Putih, baik untuk belajar menari, melukis maupun drama. Hal tersebut disebabkan anak-anak sangat tertarik dengan tarian yang diajarkan oleh Ibu RW. Menurut Ibu RW anak-anak tertarik dan lebih bersemangat latihan kalau diajarkan tarian garapan dari Ibu RW daripada tari klasik gaya Yogya yang cenderung iramanya lamban dan kurang sesuai dengan usia anak-anak. Kostum dan musik tari garapan sesuai dengan usia anak-anak, dan ada beberapa murid sanggar Angsa Putih yang di sekolahnya juga ikut menari, sehingga anak tersebut menambah ilmu tarinya dengan mengikuti latihan di sanggar Angsa Putih.
2) Pekerja sosial dan warga masyarakat RW 20 yang kompak, bekerjasama membantu memfasilitasi, melengkapi sarana dan prasarana seluruh program kegiatan. Ketika mau diadakan pelaksanaan kegiatan selanjutnya, pekerja sosial RW 20 dan masyarakat selalu memberikan dukungan untuk kesuksesan pelaksanaan program tersebut dalam bentuk dana, tempat penyelenggaraan maupun tenaga, meskipun ketua kampung ramah anak RW 20 belum meminta atau memohon dukungan tersebut. Kepedulian dan gotong royong yang selalu dibentuk antara
107
pekerja sosial RW 20 dengan masyarakat membuat pelaksanaan program selalu berjalan dengan lancar. Dukungan warga masyarakat juga terlihat dari usaha mereka membantu Ibu RW dan Bapak SA mengajak dan mengarahkan anak-anak berlatih menari dan melukis di sanggar Angsa Putih. Terlihat dari usaha yang dilakukan sebagian warga masyarakat yang membantu menyebarkan info melalui mulut ke mulut pada saat pertemuan arisan PKK, pertemuan Bank Sampah, ataupun kegiatan lainnya.
3) Hampir sebagian besar pekerja sosial kampung ramah anak bekerja sebagai pegawai negeri dan swasta, dengan pekerjaan itulah mereka memiliki banyak link di luar RW 20 untuk dapat dengan mudah melakukan kerjasama guna mendukung pelaksanaan setiap program di kampung ramah anak RW 20. Seperti pada pelaksanaan kegiatan pelatihan menggosok gigi, sasaran dari program ini adalah untuk anak-anak usia TK hingga SMP. RW 20 memiliki 4 orang yang bekerja sebagai tenaga kesehatan, mereka mengajukan proposal kegiatan pelatihan tersebut untuk diajukan kepada Dinas Kesehatan, dan Dinas Kesehatan pun mendukung kegiatan tersebut sehingga seluruh fasilitas pelatihan menggosok gigi di dukung sepenuhnya oleh Dinas Kesehatan secara gratis. Pelatihan tersebut sangat bermanfaat bagi anak-anak terlebih anak-anak dari keluarga yang kurang mampu karena biasanya untuk mengikuti pelatihan tersebut harus mengeluarkan biaya.
108
4. Hasil Upaya Pekerja Sosial RW 20 dalam Memberdayakan Kesenian melalui Kampung Ramah Anak
Berbagai usaha telah di lakukan pekerja sosial RW 20 untuk mengatasi masalah anak-anak dan remaja supaya tertarik belajar seni tradisional yang memang telah ada dan menjadi ciri khas kampung ramah anak RW 20. RW 20 memilih budaya dan kesehatan lingkungan untuk menjadi dasar mereka dalam membangun dan mengembangkan berbagai program-program kegiatan yang mengarah dan sesuai dengan ciri tersebut. Menyikapi hal itu diperlukan usaha yang serius dan nyata antara pekerja sosial dengan masyarakat RW 20. Berikut disampaikan beberapa hasil dari berbagai upaya yang telah dilakukan pekerja sosial RW 20 dalam mewujudkan kampung ramah anak RW 20 yang berbasis budaya lokal melalui petikan wawancara oleh responden.
Ibu RW sebagai pelatih tari dan juga sebagai salah satu pekerja sosial bidang seni Kampung Ramah Anak RW 20, mengungkapkan bahwa:
“Hasil dari usaha yang kami lakukan selama ini yaitu setelah kami buat
stan pendaftaran di acara Merti Kali Gajah Wong, beberapa hari setelah acara tersebut ada sekitar 6 orang dari luar wilayah RW 20 yang mau bersedia mendaftarkan dirinya sebagai murid tari di sanggar Angsa Putih, anak-anak RW 20 yang kecuali RT 85 juga ada beberapa orang yang mau ikut menari dan belajar melukis di sini, karena setelah melihat tari garapan ibu yang ditampilkan anak-anak saat malam tirakatan HUT RI kemarin, kata mereka, tarian lucu dan sangat mudah, tapi tidak meninggalkan budaya tradisionalnya. Anak-anak RW 20 yang dulu sampai sekarang ikut berlatih menari juga tetap melakukan latihan nari tapi di sela-sela jam sebelum TPA, sekitar jam 14.30 WIB. Meskipun baru sedikit orang yang mendaftar setelah ibu sama Bapak SA melakukan upaya tersebut, tetapi kami sangat yakin dan cukup senang, dengan mereka mau melihat tarian kamipun saat latihan nari, kami sudah sangat senang, itu berarti ada kemungkinan 50% ada ketertarikan
109
Senada dengan pernyataan tersebut, Bapak SA sebagai pelatih lukis dan juga sebagai pekerja sosial bidang seni di Kampung Ramah Anak RW 20, mengungkapkan bahwa:
“Hasilnya selama ini, ya baru sedikit-sedikit mbak, belum terlihat
menonjol sekali. Kalau untuk yang latihan menari, Alhamdullilah ada beberapa anak remaja usia SMA dari luar RW 20 yang mau menari disini, ada juga latihan nari sekarang masih dilakukan sesuai jadwal hari, tapi jamnya yang di ganti, ganti maju sebelum anak-anak TPA, biar mereka bisa ikut menari. Kalau pas TPA libur, ya jadwalnya jadi tetap sesuai jadwal. Kalau untuk perkembangan seni lukis, masih ada 4 orang, belum ada yang menambah lagi, tapi saya sudah sangat senang sekali dengan perkembangan latihan menari ini, ketika ada anak perempuan yang sudah tertarik untuk bersedia berlatih nari disini. Namun, tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang mau berlatih melukis dan
drama disini.”(hal 201)
Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh Ibu NU sebagai pelatih dan anggota dari pekerja seni Manunggal Karso, mengungkapkan bahwa:
“Sekarang sudah ada beberapa orang yang mendaftar mau ikut latihan
nari di Angsa Putih mbak, karena kita pasang stand pendaftaran itu, ya walaupun kami pasangnya masih sederhana, tapi saya dan Ibu RW sudah sangat senang. Anak-anak RW 20 lainnya juga ada yang mau daftar karna pas malam tirakatan kemarin di RW 20 kita menampilkan tarian garapan sendiri punya Ibu RW. Semoga dengan cara-cara sederhana seperti ini, dan dengan keseriusan mereka mau berlatih disini, dapat membawa sanggar Angsa Putih sampai ke luar wilayah kota
Yogyakarta.”(hal 206)
Berbeda dengan pernyataan ketiga responden diatas, Bapak KP sebagai Ketua RW dan sebagai Ketua Kampung Ramah Anak RW 20 mengungkapkan tentang hasil usaha yang telah dilakukan oleh pekerja sosial RW 20 dalam mengatasi masalah adanya anggota kampung ramah anak yang pasif yaitu:
“Alhamdullilah, setelah saya mencoba membuat undangan dan
disebarkan satu minggu sebelum agenda rapat dan minta tolong kepeda karang taruna untuk mengingatkan kembali melalui toa masjid, ada beberapa anggota pekerja sosial yang dapat hadir saat rapat. Meskipun masih ada beberapa yang menurut saya anggota tersebut memiliki peran yang cukup penting pada organisasi ini, dan saya juga telah memberikan
110
sedikit saran kepada beliau. Ketika beliau tiidak hadir, anggota tersebut
menelepon saya, untuk menanyakan hasil rapat kemarin.”(hal 211)
Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh Ibu SH sebagai Ketua Kampung Ramah Anak RW 20 yang mengungkapkan bahwa:
“Untuk saat ini, anak-anak masih sedikit agak sulit ya, kalau diajak
datang tepat waktu pas saat ada agenda kegiatan yang melibatkan anak-anak, misalnya saja pelatihan menggosok gigi. Namun, perlahan-lahan bila kami selalu memberikan dorongan dan memberikan contoh kepada anak-anak tersebut, tidak lama kemudian, anak-anak akan meniru sikap yang kita berikan. Kalau untuk ada anggota yang tidak hadir itu, saya melihat sudah ada yang hadir pas ada agenda rapat. Beberapa orang yang dulunya tidak pernah datang, sekarang jadi datang. Dan sekarang anggota-anggota pekerja sosial banyak yang datang tepat waktu, sehingga rapat berjalan pun juga akan selesai tepat waktu.”(hal 214) Berdasarkan dari pernyataan responden diatas, maka disimpulkan bahwa hasil dari upaya yang mereka lakukan selama ini dalam melestarikan dan mempertahankan budaya tradisional di RW 20 adalah sebagai berikut :
a. Adanya beberapa orang yang tertarik untuk ikut berlatih menari di sanggar Angsa Putih, meskipun orang tersebut baru ada 6 orang, tetapi pekerja sosial RW 20 dan pelatih sangat terbuka menerima mereka, kegiatan latihan menari akan tetap dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, dan bila ketika akan mendekati dengan pementasan, latihan tari dilakukan setiap hari, anak-anak tetap mau berlatih menari dengan jadwal berubah yaitu pada sore hari sebelum waktu kegiatan TPA yang dilaksanakan pukul 16.00 WIB.
b. Ada beberapa orangtua dan anak yang tertarik ingin berlatih menari di sanggar Angsa Putih karena penampilan murid-murid dari Angsa Putih yang menarikan tari garapan dari Ibu RW sang pelatih pada malam tirakatan HUT RI. Anggota dari kalangan orangtua usia 40 sampai 50
111
tahun yang mendaftar ikut menari ada 6 orang, sedangkan anak-anak usia SD hingga SMA ada 9 orang.
c. Adanya beberapa pekerja sosial yang dapat datang tepat waktu, mau hadir pada agenda rapat koordinasi yang diadakan oleh ketua RW sekaligus ketua Kampung Ramah Anak. Bila ada beberapa anggota yang tidak dapat hadir pada rapat karena kesibukan pekerjaan ataupun kepentingan di luar kampung ramah anak, pekerja sosial tersebut akan menanyakan kepada ketua, hasil rapat pada hari itu, hal itu terjadi karena ketua kampung ramah anak telah memberikan beberapa sedikit kritik dan saran kepada beberapa pekerja sosial yang memang terlihat sering tidak hadir.