BAB V SIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
Hasil penelitian tentang upaya pemberdayaan seni di Kampung Ramah Anak, RW 20, Gendeng, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta dalam upayanya melestarikan kebudayaan lokal dan kesehatan lingkungan sebagai ciri khas dari kampung ramah anak RW 20 yang sudah peneliti lakukan, menemukan beberapa masukan atau saran.
Berikut beberapa masukan atau saran yang dapat diajukan oleh peneliti :
1. Pekerja sosial RW 20 hendaknya mengadakan sarasehan atau seminar yang ditujukan kepada para orangtua dan generasi muda di RW 20 tentang pentingnya kebudayaan tradisional beserta dampak yang terjadi apabila sebuah negara kehilangan budaya asli negaranya. Agar, orangtua dan generasi muda
151
dapat sadar dan memahami bahwa budaya tradisional patut dilestarikan oleh seluruh lapisan masyarakat yang tinggal di sebuah wilayah atau negara.
2. Pekerja sosial RW 20 hendaknya merencanakan dan membuat program penyuluhan atau sarasehan tentang kepribadian generasi .muda yaitu anak, remaja dan pemuda yang berkaitan tentang bagaimana membentuk generasi muda menjadi percaya diri. Supaya generasi muda di RW 20 dapat memiliki kepribadian yang baik dan lebih memiliki kepercayaan diri. 3. Selain membuat program penyuluhan atau sarasehan tentang budaya tradisional, yang dapat mengundang dari beberapa tokoh masyarakat ataupun mengajak generasi muda berekreasi mengenal budaya tradisional terutama budaya jawa. Dalam mengurangi dan meminimalisir penggunaan handphone atau gadget dengan pemakaian yang berlebihan, diharapkan pekerja sosial RW 20 dapat membuat peraturan atau slogan tentang jadwal bermain anak bila menggunakan gadget atau handphone dan mengalihkan waktu penggunaan gadget dengan memanfaatkan arena bermain edukasi anak-anak yang tersedia di lingkungan RW 20 misalnya permainan tradisional dan di TBM Ngudi Kawruh. Cara pendekatan inipun dapat dilakukan melalui para orangtua ataupun keluarga yang dekat dengan anak tersebut. Sehingga anak pada usia tahap pertumbuhan dapat sedikit mengurangi waktu bermain dengan gadget, dan beralih ke permainan tradisional yang sesuai dengan usia mereka.
4. Pekerja sosial RW 20 bekerjasama dengan para orangtua harusnya lebih menekankan pola hidup disiplin dalam kehidupan sehari-hari pada anak-anak. Pemberian hukuman ringan ataupun teguran ketika anak-anak tidak tepat waktu, dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga
anak-152
anak di RW 20 dapat belajar untuk datang tepat waktu ketika mengikuti pelaksanaan kampung ramah anak yang membutuhkan partisipasi meerka, pekerja sosial kampung ramah anak tidak harus lagi memaksa anak-anak untuk harus ikut kegiatan yang melibatkan mereka.
5. Menjaga supaya kondisi internal tidak terjadi mis komunikasi, terutama apabila masih ada beberapa anggota kampung ramah anak masih jarang hadir dalam rapat. Hendaknya ketua ataupun sekretaris kampung ramah anak dapat memberikan undangan atau selebaran hasil agenda rapat yang baru saja diadakan, dan dibagikan kepada seluruh pekerja sosial kampung ramah anak. Diharapkan dengan undangan ataupun rangkuman hasil rapat yang lalu, dapat di ingat kembali oleh anggota yang hadir, dapat dibaca dan dipahami oleh anggota pekerja sosial yang tidak sempat hadir dalam setiap agenda rapat kampung ramah anak.
153
DAFTAR PUSTAKA A. BUKU
Arief Ramelan Kaseno. (2004). Dari Jogja Untuk Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Inspect
Bob dan Anik Anwar. (1983). Pedoman Pelaksanaan Menuju Pra Seleksi Murni. Bandung: Ganesa Exact
Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Dewi, Sandra. (2007). Teamwork (Cara Menyenangkan Membangun Tim Impian). Bandung: Penerbit Progressio
Elly M. Setiadi, dkk. (2006). Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Kencana
Eka A. Meinarno, dkk. (2011). Manusia dalam Kebudayaan dan Masyarakat. Edisi 2. Jakarta: Salemba Humanika
F.X Rahyono. (2009). Kearifan Budaya Dalam Kata. Jakarta Selatan: Wedatama Widya Sastra
Jamal Ma’mur Asmani. (2012). Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. Yogyakarta: DIVA Press
Koentjaraningrat. (1984). Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat
Lexy Moleong. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
M. Munandar Sulaeman. (2012). Ilmu Budaya Dasar Pengantar ke Arah Ilmu Sosial Budaya Dasar/ISBD/Social Culture. Bandung: PT Refika Aditama Mustafa Kamal Pasha. (2003). Pancasila Dalam Tinjauan Historis dan Filosofi.
Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri
Nasution. (2002). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito Oos M. Anwas. (2013). Pemberdayaan Masyarakat di Era Global. Bandung:
Alfabeta
Panjaitan, Ade Putra, dkk (2014). Korelasi Kebudayaan dan Pendidikan: Membangun Pendidikan Berbasis Budaya Lokal. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
154
Paulus Hariyono, MT. (2010). Perencanaan Pembangunan Kota dan Perubahan Paradigma. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Rusliana. (1994). Pendidikan Seni Tari. Bandung: Angkasa
Santrock, J.W. (2007). Psikologi Perkembangan. Edisi 11 Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Sudjana. (1992). Metode Statistika. Bandung: Tarsito
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Suharsimi Arikunto. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Suharsimi Arikunto. (2003). Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta B. SKRIPSI DAN PENELITIAN
Belly, Ellya dkk. (2006). Pengaruh Motivasi terhadap Minat Mahasiswa Akuntasi. Simposium Nasional Akuntasi 9 Padang
Ika Susanti. (2010). Pemanfaatan Potensi Budaya Lokal Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Ekonomi di SMKN 1 Pedan Klaten. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta
Nurul Atiqah, (2011). Eksistensi Budaya Lokal di Era Globalisasi. Skripsi. UIN Sunan Kalijaga
Pontoh, Nia Kumarsih. (1992). Preservarsi dan Konservasi Suatu Tinjauan Teori Perancangan Kota. Jurnal PWK Vol IV
Sekar Purbarini Kawuryan. (2009). Pemanfaatan Potensi Budaya Lokal Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPS di SD. Tesis. Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
Sunarti. (2003). Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Perumahan Secara Kelompok. Jurnal Tata Loka
C. PERUNDANG-UNDANGAN
Peraturan Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2009 (Tentang Aturan Kebijakan/Kota Layak Anak)
155
Peraturan Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2011 (Tentang Kebijakan/Pengembangan Kota Layak Anak)
Undang Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 28B (Tentang Hak dan Perlindungan Anak)
Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 (Tentang Perlindungan Anak)
Undang Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 32A (Tentang Pendidikan dan Kebudayaan)
D. INTERNET
Andi Siti Rohadatul ‘Aisy. (2013). Indikator Kampung Ramah Anak. Diakses dari
https://www.academia.edu/ pada tanggal 30 November 2014, jam 22.45 WIB
Eka Arifa Rusqiyati. (2013). Yogyakarta Akan Punya 46 Kampung Ramah Anak. Diakses dari
http://www.antaranews.com/berita/369300/yogyakarta-akan-punya-46-kampung-ramah-anak pada tanggal 6 November 2014, jam 02.15
WIB
Fatturahman. (2013). Konsep dan Pengertian Sanggar Seni. Diakses dari
http://www.academia.edu/ pada tanggal 15 April 2015, jam 03.54 WIB
Hanny Puspita. (2012). Budaya Lokal dan Cara Melestarikannya. Diakses dari
http://www.milagrosnews.com/budaya-lokal-dan-cara-melestarikannya-170.html pada tanggal 30 November 2014, jam 23.20 WIB
Hasnindar. (2013). Pengklaiman Budaya Indonesia. Diakses dari
http://pengklaimanbudaya.blogspot.com/2013/03/pengklaiman-budaya-indonesia-oleh.html pada tanggal 15 April 2015, jam 01.13 WIB
Ika Pasca Himawati. (2013). Konstruksi Sosial Kampung Ramah Anak : (Studi Fenomenologi Atas Implementasi Program Kampung Ramah Anak di RW 11 Kampung Badran Yogyakarta). Diakses dari http://etd.ugm.ac.id pada tanggal 8 November 2014, jam 00.01 WIB
I Komang Suarnatha, S.H. (2011). Dampak Globalisasi Terhadap Budaya Lokal
dan Perilaku Masyarakat. Diakses dari
http://www.karangasemkab.go.id/index.php?option=com_content&view=arti
cle&id=759:dampak-globalisasi-terhadap-budaya-lokal-dan-prilaku-masyarakat pada tanggal 16 April 2015, jam 23.33 WIB
Nainul Khutniah. (2012). Upaya Mempertahankan Eksistensi Tari Kridha Jati di Sanggar Hayu Budaya Kelurahan Pengkol Jepara. Diakses dari
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jst pada tanggal 15 April 2015, jam
156
Nursabilah Al Hazmi. (2011). Peran Sanggar Seni Dalam Menunjang Kegiatan Bimbingan Edukatif Pada Pameran Benda Budaya Koleksi Museum - Museum Di Papua. Diakses dari http://www.academia.edu/ pada tanggal 15 April 2015, jam 03.01 WIB
Piqih Zulhamdi. (2014). Dampak Definisi Kota Layak Anak. Diakses dari
http://www.care4kidsindonesia.org pada tanggal 6 November 2014, jam
00.04 WIB
Rachmat Sentika DR, dr, Sp.A. (2007). Peran Ilmu Kemanusiaan Dalam Meningkatkan Mutu Manusia Indonesia Melalui Perlindungan Anak Dalam Rangka Mewujudkan Anak Indonesia yang Sehat, Cerdas Ceria, Berakhlak Mulia dan Terlindungi. Diakses dari
http://journal.fsrd.itb.ac.id/jurnal-desain/pdf_dir/issue_3_6_11_2.pdf pada tanggal 16 April 2015, jam 04.50
WIB
Rantau Indramawan. (2014). Upaya Melestarikan Budaya Bangsa. Diakses dari
http://iindramawan.blogspot.com/2013/03/upaya-melestarikan-budaya-bangsa.html?m=1 pada tanggal 26 Maret 2015, jam 01.15 WIB
Rudi Subiyakto. (2012). Membangun Kota Layak Anak: Studi Kebijakan Publik di Era Otonomi Daerah. Diakses dari http://journal.umrah.ac.id/file.pdf pada tanggal 6 November 2014, jam 17.15 WIB
Safril Musbah. (2011). Revitalisasi Identitas Kultural Indonesia di Tengah Upaya Homogenisasi Global. Diakses dari http://journal.unair.ac.id/file.pdf pada tanggal 18 April 2015, jam 14.03 WIB
Schorll dan Smith. (2013). Pengertian Modernisasi dan Globalisasi. Diakses dari
http://google.scholar.com pada tanggal 15 April 2015, jam 02.15 WIB
Soerjono Soekanto. (2011). Pentingnya Kebudayaan Bagi Manusia. Diakses dari
http://www.scribd.com pada tanggal 6 November 2014, jam 14.03 WIB
Sumaryadi. (2008). Membangun Ketahanan Budaya Melalui Peduli Keluarga. Diakses dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files.pdf pada tanggal 18 April 2015, jam 13.37 WIB
Tata Gandhi. (2013). Desa atau Kelurahan Ramah Anak Berbasis Budaya. Diakses dari http://www.academia.edu/ pada tanggal 6 November 2014, jam 03.43 WIB
Teguh Yoga Fitra. (2013). Tentang Kampung Ramah Anak. Diakses dari
157 E. SURAT KABAR
Harian Republika. (2015). Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak. Diambil dari Harian Republika 5 Maret 2015
Jawa Pos Radar Jogja. (2015). Kenalkan Budaya Lokal, Libatkan Mahasiswa Asing. Diambil dari Radar Jogja 1 Maret 2015
Kedaulatan Rakyat. (2014). Penghargaan Nasional Kampung Ramah Anak di Yogyakarta. Diambil dari Kedaulatan Rakyat 29 Desember 2014
158
159 Lampiran 1. Pedoman Observasi
PEDOMAN OBSERVASI
Secara garis besar dalam pengamatan (observasi) mengamati Upaya Pelestarian Kesenian Di Kampung Ramah Anak RW 20, Gendeng, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta. Diantaranya meliputi :
1. Profil Kampung Ramah Anak RW 20 Gendeng, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta terdiri dari : Visi dan misi, struktur organisasi, dan program kegiatan
2. Usaha dan upaya pekerja sosial masyarakat Kampung Ramah Anak RW 20 untuk melestarikan kesenian budaya
3. Pelaksanaan kegiatan pelestarian kesenian di Kampung Ramah Anak RW 20
4. Hasil usaha pekerja sosial masyarakat Kampung Ramah Anak RW 20 dalam melestarikan kesenian budaya
160
Lampiran 2. Pedoman Wawancara Pekerja Sosial RW 20 PEDOMAN WAWANCARA I. IDENTITAS DIRI
1. Nama : (Laki-laki/Perempuan) 2. Jabatan dalam organisasi :
3. Usia :
4. Agama :
5. Pekerjaan :
6. Alamat :
7. Pendidikan Terakhir :
II. DAFTAR PERTANYAAN
A. KAMPUNG RAMAH ANAK
1. Bagaimana latar belakang RW 20 dipilih sebagai Kampung Ramah Anak ? 2. Apa visi dan misi didirikan Kampung Ramah Anak di RW 20 ?
3. Bagaimana struktur organisasi Kampung Ramah Anak RW 20 ?
4. Program kegiatan apa saja yang ada di Kampung Ramah Anak RW 20 ? 5. Bagaimana sistem perencanaan program di Kampung Ramah Anak RW 20
? (siapa yang terlibat)
6. Bagaimana cara koordinasi supaya program di Kampung Ramah Anak RW 20 dapat berjalan lancar sesuai dengan agenda ?
7. Bagaimana sistem pendanaan seluruh program kegiatan yang ada di Kampung Ramah Anak RW 20 ?
8. Program apa saja yang sedang terlaksana dan yang akan terlaksana di Kampung Ramah Anak RW 20 ?
9. Bagaimana sistem pelaksanaan program-program kegiatan tersebut ?
10. Apa saja sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam mendukung seluruh program kegiatan di Kampung Ramah Anak ?
11. Bagaimana peran pekerja sosial dalam mewujudkan Kampung Ramah Anak supaya sesuai dengan harapan masyarakat RW 20 serta sesuai dengan pihak Kota Layak Anak, Daerah Istimewa Provinsi Yogyakarta ?
12. Bagaimana sistem evaluasi seluruh program di Kampung Ramah Anak RW 20 ? (cara dan hasil pemanfaatan)
161
13. Bagaimana tanggapan/respon anak-anak mengenai program kegiatan tersebut ?
14. Bagaimana dengan tanggapan RW 20 mengenai program kegiatan tersebut ? 15. Apa saja faktor penghambat dan faktor pendukung yang dialami pekerja
sosial dalam melaksanakan program kegiatan Kampung Ramah Anak ?
B. SANGGAR TARI
1. Bagaimana latar belakang berdirinya sanggar tari “Angsa Putih” di RW 20 ? 2. Apa visi dan misi sanggar tari “Angsa Putih” di RW 20 ?
3. Bagaimana struktur organisasi sanggar tari tersebut ? 4. Apa saja sarana dan prasarana di sanggar tari ?
5. Berapa jumlah pendidik dan peserta didik di sanggar tari ? 6. Program apa saja yang ada di sanggar tari “Angsa Putih” ?
7. Program apa yang saat ini sedang terlaksana dan belum terlaksana di sanggar tari ?
8. Bagaimana sistem pendanaan sanggar tari tersebut ? Apakah ada pihak dari luar yang mendukung sanggar tari supaya tetap berdiri di RW 20 ?
9. Bagaimana sistem pelaksanaan program kegiatan di sanggar tari Angsa Putih ?
10. Bagaimana sistem evaluasi seluruh program kegiatan di sanggar tari “Angsa Putih” ?
11. Bagaimana tanggapan warga RW 20 tentang sanggar tari ?
12. Bagaimana tanggapan/respon dari pekerja sosial RW 20 khususnya pihak kampung ramah anak ?
13. Bagaimana tanggapan dari anak-anak tentang sanggar tari tersebut ?
14. Apa saja faktor penghambat dan faktor pendukung yang dialami oleh pekerja sosial dalam mengelola sanggar tari ini ? (upaya yang dilakukan dan hasilnya)
162 Lampiran 3. Pedoman Dokumentasi
PEDOMAN DOKUMENTASI
1. Profil Kampung Ramah Anak RW 20 Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta terdiri dari : Visi dan misi, struktur organisasi, dan program kegiatan
2. Usaha dan upaya pekerja sosial masyarakat Kampung Ramah Anak RW 20 untuk melestarikan kesenian budaya
3. Pelaksanaan kegiatan pelestarian kesenian di Kampung Ramah Anak RW 20
4. Hasil usaha pekerja sosial masyarakat Kampung Ramah Anak RW 20 dalam melestarikan kesenian budaya
163 Lampiran 4. Catatan Lapangan
CATATAN LAPANGAN I
Lokasi : Kampung Ramah Anak RW 20 Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta
Hari/Tanggal : Senin/ 4 Mei 2015
Kegiatan : Kunjungan pertama ke Kampung Ramah Anak RW 20, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta
Pada hari senin petang pukul 18.30 WIB peneliti datang ke Kampung Ramah Anak RW 20, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta yang terletak di belakang kampus APMD Yogyakarta untuk mengadakan observasi awal. Ketika sampai di lokasi, peneliti bertemu dengan Ketua RW 20 yaitu Bapak KP di kediaman beliau. Kemudian peneliti menyampaikan keinginan dan maksud kedatangannya ke RW 20 Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta.
Peneliti dan Bapak KP melakukan perbincangan mengenai kampung ramah anak di RW 20, Baciro, Gondokusuman dan juga menyampaikan kepada beliau bahwa akan melakukan penelitian di RW 20. Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta. Setelah peneliti mendapatkan persetujuan dan sambutan yang baik dari Bapak KP untuk melanjutkan penelitian di lokasi disini, Bapak KP menjelaskan tentang bagaimana prosedur yang harus dilakukan sebelum melaksanakan penelitian.
Bapak KP menjelaskan “ Prosedur yang harus dilakukan sebelum anda melakukan penelitian di lokasi ini adalah anda harus memiliki surat ijin penelitian dari kampus dan proposal penelitian setelah itu kami akan dapat menerima anda ”. Kemudian peneliti membuat janji untuk segera melakukan proses ijin penelitian dan akan segera menghubungi Bapak KP untuk memberikan surat ijin penelitian.
164
CATATAN LAPANGAN II
Lokasi : Kampung Ramah Anak RW 20 Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta
Hari/Tanggal : Senin/ 1 Juni 2015 Kegiatan : Menyerahkan surat ijin
Pada hari senin pukul 19.00 WIB peneliti datang kembali ke kediaman Bapak KP di Kampung Ramah Anak RW 20, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta untuk menyerahkan surat ijin penelitian. Pada saat itu peneliti bertemu dengan Bapak KP dan menyerahkan surat ijin penelitian beserta proposal penelitian. Saat menyerahkan surat ijin penelitian, peneliti belum bisa mendapatkan data dikarenakan Bapak KP pada petang itu ada agenda rapat rutin Kampung Ramah Anak di Balai RW 20. Peneliti bisa melakukan pengambilan data 3 hari setelah surat ijin penelitian itu masuk sebab peneliti harus menyesuaikan waktu kegiatan dengan Bapak KP yang merangkap bekerja sebagai karyawan di salah satu universitas di Yogyakarta.
165
CATATAN LAPANGAN III
Lokasi : Kampung Ramah Anak RW 20 Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta
Hari/Tanggal : Rabu/ 3 Juni 2015 Kegiatan : Observasi
Hari Rabu pukul 16.00 WIB peneliti datang kembali ke Kampung Ramah Anak RW 20, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta untuk melakukan observasi lebih mendalam terlebih dahulu, sebelum melakukan pengambilan data. Peneliti datang ke RW 20 tepatnya di lokasi sanggar t ari Angsa Putih yaitu di Manunggal Karso RT 85 yang berada tepat bersebelahan dengan Sungai Gajah Wong. Peneliti bertemu dengan Bapak SA dan Ibu RW selaku pekerja sosial masyarakat bidang seni lukis dan seni tari. Beliau merupakan sepasang suami istri yang bersama-sama mendirikan Sanggar Tari Angsa Putih di Manunggal Karso RT 85, RW 20, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta. Kemudian Ibu RW mengajak saya duduk bersama di kediaman rumah beliau sambil membicarakan tentang maksud dan tujuan kedatangan peneliti.
Setelah menyampaikan maksud dan tujuan peneliti di Manunggal Karso, Ibu RW dengan senang hati menyambut saya untuk melakukan penelitian di Manunggal Karso, RT 85, RW 20 sebagai tempat lokasi berdirinya Sanggar Tari Angsa Putih. Kemudian peneliti membuka perbincangan dengan mengajukan pertanyaan kepada Ibu RW
Peneliti bertanya, “Apakah di Sanggar Angsa Putih masih berjalan latihan tari bu semenjak saya dan teman-teman KKN dulu sudah tidak lagi disini ?”
Ibu RW menjelaskan, “Bulan Januari kemarin, saya sempat mengajak anak-anak berlatih menari mbak, dulu muridnya ada 5 orang, latihannya memakai tari klasik Bondan, tetapi lama kelamaan anak-anaknya pada mrotoli satu-satu. Padahal latihannya seminggu sekali mbak, cuma hari Minggu jam 3 sore. Jadi anak-anak minggu ini datang, minggu
166
berikutnya nggak datang, gitu terus mbak Ely. Terus saya tanya ke mereka, kok nggak pada serius latihannya, mereka bilang bosan dengan tarian klasik, lagunya terlalu pelan. Padahal kalau menurut saya, justru anak-anak memang diajarkan dasarnya adalah tari klasik karena kita kan hidup di dalam tatanan jawa gaya Yogyakarta dan merupakan warga asli kota Jogja. Sanggar tari disini juga ada murid ibu-ibu juga mbak, beberapa bulan ini ibu-ibu warga sini mau belajar nari tradisional, muridnya ada 6 orang, malah ibu-ibu yang pada semangat latihan daripada anak-anak. Dan kemarin ada pengumuman dari RW kalau ada pentas seni perayaan hari Kartini, saya coba ajak mereka lagi untuk nari buat ngisi acara kartinian dengan memakai Tari Bondan itu, tetapi karena mereka belum terlalu hafal dan ada 2 anak yang tidak mau tampil karena kesibukan di sekolah, jadi saya buat tarian garapan baru untuk 3 anak yaitu Tari Gugur Gunung untuk ditampilkan ke pentas seni Hari Kartini”.
Peneliti bertanya, “Lalu sampai sekarang ini murid-murid ibu masih latihan rutin bu, setelah pentas seni di RW kemarin ?”
Ibu RW menjawab, “Enggak mbak, karena pada mau puasa ini, jadi nunggu setelah puasa saja mbak baru nanti saya ajak mereka lagi, maunya saya tetap seminggu sekali latihannya pas hari Minggu itu, tetapi kalau anak-anak pada nggak mau ya sama saja mbak. Jujur, dalam hati saya menginginkan kalau ada latihan rutin setiap Minggu atau paling nggak seminggu 2 kali latihan, supaya ada pengetahuan dan pengalamannya dalam kesenian tari. Padahal Sanggar Tari yang saya bangun ini sudah menjadi milik aset Kampung Ramah Anak RW 20 mbak dan kalau ada anak yang mau belajar nari disini, saya tidak pungut biaya sepeser pun mbak. Saya niatnya mau memberikan ilmu saya ke generasi penerus sekarang, tapi saya sampai sekarang juga masih bingung, anak-anak jaman sekarang pada sukanya tarian Korea mbak, pada tidak mau anak-anak asli RW 20 ikut belajar nari. Kemarin 3 anak yang nari pentas seni kartinian, juga saya ambil 1 anak
167
dari kampung sebelah perbatasan Sleman dan Jogja saking ndak maunya anak-anak RW 20 belajar menari jawa”
Peneliti mengajukan pertanyaan kembali, “Apa ibu sudah membicarakan hal tersebut
dengan pengurus Kampung Ramah Anak RW 20 untuk mengatasi hal tersebut?”
Ibu RW menjawab, “Sudah mbak, saya dan suami saya sebagai penanggung jawab bidang seni sudah mengajukan hal ini kepada Ketua RW 20, mereka janji mau mengajak anak-anak mereka dan anak-anak-anak-anak RW 20 untuk belajar menari di Angsa Putih, setelah info tersebut, ada anak dan orangtua datang ke saya kalau anaknya mau belajar nari, tetapi saya tunggu pas waktu latihan menari, alhasil anak itu nggak ada yang datang mbak, orangtuanya bilang kalau sibuk kegiatan di sekolah. Tetapi kalau menurut saya anak-anak tidak sempat belajar nari disini karena kepadatan jadwal TPA di masjid tiap sore dari hari Selasa-Sabtu jam 3 sore sehingga hari Minggu dan Senin mungkin dipakai anak-anak untuk bermain”.
Setelah merasa sudah cukup, peneliti mengakhiri perbincangan dengan Ibu RW dan Bapak SA.
168
CATATAN LAPANGAN IV
Lokasi : Kampung Ramah Anak RW 20 Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta
Hari/Tanggal : Kamis/ 4 Juni 2015
Kegiatan : Wawancara dengan pekerja sosial bidang seni Ibu RW
Pada hari kamis pukul 17.20 WIB peneliti mendatangi Kampung Ramah Anak RW 20, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta tepatnya di Paguyuban Manunggal Karso RT 85, RW 20, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta untuk bertemu dengan Ibu RW selaku pelatih dan pendiri Sanggar Tari Angsa Putih. Tujuan kedatangan peneliti adalah untuk mengetahui sejarah sanggar, visi dan misi, struktur organisasi dan hal-hal yang berkaitan dengan sanggar Angsa Putih. Saat itu, waktu peneliti datang, Ibu RW masih sibuk dengan kegiatannya membantu merapikan lemari yang baru saja di beli oleh Ibu RW di rumahnya. Tak lama kemudian, Ibu RW menghampiri saya di beranda rumahnya dan mempersilakan saya duduk diatas tikar yang sudah dipersiapkan oleh Bapak SA suami dari Ibu RW.