• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KETENTUAN BANK DINYATAKAN SEBAGA

A. Faktor-Faktor Penyebab Bank Dinyatakan Sebagai Bank

Kebijakan moneter dapat dilaksanakan secara efektif untuk mencapai sasaran yang diinginkan apabila didukung oleh adanya lembaga-lembaga dan sarana-sarana antara lain sistem keuangan.78 Sistem keuangan meliputi perbankan, perusahaan pembiayaan dan lembaga keuangan lainnya.79 Sektor perbankan memiliki peranan yang kritikal dalam perekonomian Indonesia karena mendominir sistem finansial.80 Hal ini dapat dilihat dari fungsi bank tersebut, yaitu sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat.81 Dana masyarakat biasanya digunakan apabila bank mengalami kesulitan untuk memperoleh dana dari luar.82 Oleh karena itu, sangat diharapkan peran Bank Indonesia di dalam setiap kegiatan yang dilakukan bank karena dana yang digunakan bank tersebut berasal dari masyarakat.

Sesuai dengan Pasal 8 Undang-Undang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, BI mempunyai tugas:

1. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter 2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran

78

Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank, Op. cit. hal. 246. 79

Ibid. 80

Ibid. 81

Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, Pasal 3. 82

Soetanto Hadinoto, Bank Strategy on Funding and Liability Management, (Jakarta: Gramedia,2008), hal. 56.

3. Mengatur dan mengawasi bank.

Untuk dapat menjalankan tugas tersebut, maka berdasarkan Pasal 26 Undang- Undang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, BI juga mempunyai kewenangan, yaitu:

1. Memberikan dan mencabut izin usaha bank

2. Memberikan izin pembukaan, penutupan dan pemindahan kantor bank 3. Memberikan persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank

4. Memberikan izin kepada bank untuk menjalankan kegiatan-kegiatan usaha tertentu.

Peran BI dirasakan menjadi begitu penting dalam dunia perbankan, mengingat dampak dari krisis perbankan yang dimulai tahun 1998 yang menyebabkan 16 bank dinilai oleh otoritas perbankan tidak mungkin lagi dipertahankan eksistensinya sehingga dinyatakan sebagai Bank Gagal.83 Hal itu dilakukan untuk membantu menjaga nilai aset bank untuk kepentingan kreditur dan sekaligus dapat menjaga kredibilitas regulator sehingga pada gilirannya mengurangi risiko systemick risk.84

Pencabutan ijin usaha bank dan proses likuidasi yang cepat merupakan bukti ketegasan regulator sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan secara keseluruhan.85 Kecepatan penyelesaian bank bermasalah juga dibutuhkan untuk mencegah terjadinya dampak menular terhadap bank lainnya.86

83

Adrian Sutedi, Op.cit., hal. 131-132. 84

Zulkarnain Sitompul, Problematika Perbankan, Op. cit. hal. 251. 85

Ibid., hal.233. 86

Untuk mengetahui kriteria Bank Gagal dapat dilihat pada penjelasan Pasal 37 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Perbankan, yang menyatakan bahwa:

(1) Keadaan suatu bank dikatakan mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, apabila berdasarkan penilaian BI, kondisi usaha bank semakin memburuk, antara lain ditandai dengan menurunnya permodalan, kualitas aset, likuiditas dan rentabilitas serta pengelolaan bank yang tidak dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian dan asas perbankan yang sehat

(2) Kriteria membahayakan sistem perbankan yaitu apabila tingkat kesulitan yang dialami dalam melakukan kegiatan usaha, suatu bank tidak mampu memenuhi kewajiban-kewajibannya kepada bank lain, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan dampak berantai kepada bank-bank lain.

Kriteria Bank Gagal tersebut juga diatur dalam Pasal 5 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No.6/9/PBI/2004 tentang Tindak Lanjut Pengawasan dan Penetapan Status Bank yang menyatakan bahwa:

“Bank yang dinilai mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya adalah bank yang memenuhi 1 (satu) atau lebih kriteria sebagai berikut:

a. Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum kurang dari 8%

b. Rasio Giro Wajib Minimum dalam rupiah kurang dari rasio yang ditetapkan untuk Giro Wajib Minimum Bank, dengan perkembangan yang memburuk dalam waktu singkat atau berdasarkan penilaian BI mengalami permasalahan likuiditas yang mendasar.”

Dalam hal BI menilai suatu bank mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, maka bank tersebut ditempatkan dalam pengawasan khusus87 BI. Terhadap bank dengan status pengawasan khusus, maka ada beberapa tindakan BI yang diambil, antara lain:88

1. Memerintahkan bank dan/atau pemegang saham untuk mengajukan rencana perbaikan permodalan secara tertulis kepada BI

87

Pengawasan khusus yaitu pengawasan terhadap bank yang dinilai mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya.

88

2. Memerintahkan bank untuk memenuhi kewajiban melaksanakan tindakan perbaikan

3. Memerintahkan bank dan/atau pemegang saham bank untuk melakukan tindakan antara lain:

a. Mengganti dewan komisaris dan/atau direksi bank

b. Menghapusbukukan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang tergolong macet dan memperhitungkan kerugian bank dengan modal bank

c. Melakukan merger atau konsolidasi dengan bank

d. Menjual bank kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajiban bank

e. Menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan bank kepada pihak lain

f. Menjual sebagian atau seluruh harta dan/atau kewajiban bank kepada bank atau pihak lain

g. Membekukan kegiatan usaha tertentu bank

Adapun larangan dan pembatasan bank dalam pengawasan khusus, antara lain:89

a. Bank dilarang melakukan pembayaran distribusi modal (pembagian dividen atau pemberian bonus)

89

b. Bank dilarang melakukan transaksi dengan pihak terkait atau pihak lain yang ditetapkan oleh BI

c. Bank dikenakan pembatasan pertumbuhan aset

d. Bank dilarang melakukan pembayaran terhadap pinjaman subordinasi e. Bank dikenakan pembatasan kompensasi kepada pihak terkait

Apabila bank dalam pengawasan khusus tidak dapat membaik kondisinya, maka BI akan mencabut izin usaha. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 13 PBI No.6/9/PBI/2004 yang menentukan:

a. Bank Indonesia menetapkan bank untuk dicabut izin usahanya apabila memenuhi persyaratan:

1. Kondisi bank menurun sehingga:

1) Memiliki rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum kurang dari 2% dan dinilai tidak dapat ditingkatkan menjadi 8%

2) Memiliki rasio Giro Wajib Minimum dalam rupiah kurang dari 0% dan tidak dapat diselesaikan sesuai peraturan yang berlaku

2. Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum kurang dari 8% dan kondisi bank tidak mengalami perbaikan

b. Bank Indonesia menetapkan untuk mencabut izin usaha apabila Komite Koordinasi merekomendasikan pencabutan izin usaha

Bank yang mengalami kegagalan dapat menimbulkan dampak yang luas mempengaruhi nasabah dan lembaga-lembaga yang menyimpan dananya atau menginvetasikan modalnya di bank.90 Akan tetapi kegagalan bank merupakan petunjuk sehat yang menggambarkan bahwa inovasi telah mengenyampingkan perusahaan yang buruk atau kompetisi telah menyebabkan perusahaan yang tidak

90

Awalil Rizky dan Nasyith Majidi, Bank Bersubsidi Yang Membebani, (Jakarta: E Publishing Company, 2008), hal. 19.

efisien keluar dari pasar.91 Karena pada dasarnya, ada dua hal yang menyebabkan bank dijauhi oleh nasabah, yaitu ketidakpercayaan pada kemampuan pengurus bank atau pengawas dalam memprediksi perubahan kualitas pinjaman dan nasabah mempertanyakan kemampuan pengurus bank dalam mengawasi pengambilan risiko investasi.92

Jadi, apabila bank yang mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya tidak dapat memenuhi Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum kurang dari 8% dan Rasio Giro Wajib Minimum dalam rupiah kurang dari rasio yang ditetapkan untuk Giro Wajib Minimum Bank, maka bank tersebut ditempatkan dalam pengawasan khusus BI. Apabila bank dalam pengawasan khusus tersebut tidak dapat membaik kondisinya, maka BI akan mencabut izin usahanya dan menyerahkan kepada LPS. LPS yang akan memutuskan kebijakan untuk menyelamatkan atau tidak menyelamatkan bank yang di cabut izin usahanya dengan memperkirakan dampak pencabutan izin usaha bank terhadap perekonomian nasional.93

Apabila LPS memutuskan untuk menyelamatkan bank yang dicabut izin usahanya, maka bank tersebut dinyatakan sebagai Bank Gagal. Akan tetapi, apabila LPS memutuskan untuk tidak melakukan penyelamatan terhadap bank yang dicabut izin usahanya, maka bank tersebut dinyatakan sebagai bank likuidasi.94

91

Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank, Op. cit. hal. 46. 92

Ibid., hal. 276. 93

Penjelasan Undang-Undang No.24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan 94

BI secara atributif diberi kewenangan oleh undang-undang untuk mencabut ijin usaha bank.95 Adapun faktor-faktor penyebab bank sebagai bank gagal, antara lain:

1. Adanya jaminan terselubung (Implicit Guarantee) 2. Lemahnya pengawasan bank

3. Lemahnya manajemen bank

Ad.1. Adanya Jaminan Terselubung (Implicit Guarantee)

Jaminan terselubung (implicit Guarantee) adalah bantuan yang diberikan pemerintah terhadap bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas.96 Hal ini dilakukan karena belum adanya suatu sistem yang jelas mengenai status dana nasabah apabila bank dilikuidasi yang tentunya berdampak sangat buruk bagi bank, yaitu akan menimbulkan bank panic.97 Jaminan terselubung tersebut dilakukan dengan memberikan blanket guarantee terhadap bank-bank yang mengalami kesulitan. Karena tidak adanya jaminan secara eksplisit (LPS) bagi nasabah penyimpan apabila bank dilikuidasi mengakibatkan munculnya jaminan terselubung.98 Hal ini mengakibatkan ketidakhati-hatian pengurus dalam mengelola bank.99 Adanya jaminan terselubung bersama-sama dengan crony capitalism telah menyebabkan terjadinya pembiayaan investasi yang tidak produktif.100 Hal ini menyebabkan

95

Adrian Sutedi, Op.cit., hal. 137. 96

Zulkarnain Sitompul, Lembaga Penjamin Simpanan, (Bandung: Books Terrace & Library, 2007), hal. 47. 97 Ibid. 98 Ibid., hal. 46. 99 Ibid., hal. 47. 100 Ibid., hal. 48.

berpalingnya nasabah tradisional bank kepada penerbitan saham dan atau obligasi sebagai sumber pembiayaan yang menyebabkan kegagalan bank.101

Nasabah bank merupakan salah satu sumber dana bagi bank untuk menjaga kecukupan modal bank tersebut. Dana dari nasabah merupakan sumber dana yang paling memperoleh perhatian bagi bank, di samping mudah mencarinya juga tersedia banyak di masyarakat.102 Hal ini menyebabkan bank wajib memiliki modal inti minimum yang dipersyaratkan untuk mendukung kegiatan usahanya, mengingat kompleksitas kegiatan usaha bank yang semakin meningkat dan berpotensi menyebabkan meningginya risiko yang dihadapi.103

Modal inti meliputi modal disetor dan modal cadangan tambahan modal.104 Bank diwajibkan untuk memenuhi rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPPM) sebesar 8% yang dihitung dari perbandingan antara Modal dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR).105 Untuk menentukan besarnya Modal Minimum bagi suatu bank dapat dilakukan beberapa tahap, yaitu:106

1. Menentukan Dasar Perhitungan Kebutuhan Modal

2. Menetapkan Bobot Risiko Aktiva yang terdapat pada Neraca Bank 3. Menetapkan Bobot Risiko Aktiva Administratif.

101

Ibid., hal. 5. 102

Soetanto Hadinoto, Op. cit. hal. 59. 103

Awalil Rizky dan Nasyith Majidi, Op. cit. hal. 118. 104

Ibid. 105

Ibid., hal.119 106

Pada saat ini, bank wajib memenuhi modal inti paling kurang sebesar Rp. 80 Miliar dan pada 31 Desember 2010 wajib memenuhi paling kurang Rp. 100 Miliar.107 Bank yang tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut dapat melakukan tindakan agar pemegang saham menambah modal108 dengan melakukan merger, konsolidasi maupun akuisisi dengan bank lain. Dan apabila tetap membahayakan sistem perbankan, maka BI mencabut ijin usaha bank tersebut sehingga menjadi Bank Gagal.

Dalam menentukan porsi dana, bank juga harus memperhatikan prinsip- prinsip sebagai berikut:109

1. Biaya dana yang rendah dengan mengatur komposisi sumber dana agar cost

minimal

2. Sumber dana stabil dan volatilitas rendah untuk mendukung manajemen likuidasi

3. Komposisi sumber dana diprioritaskan untuk membiayai aktiva yang produktif termasuk komitmen pemberian kredit

4. Memenuhi regulasi internal maupun eksternal bank yang ada.

Hal tersebut harus menjadi perhatian bank, karena salah satu penyebab bank dinyatakan sebagai bank gagal juga disebabkan oleh ketidakmampuan bank

107

Ibid. hal. 118. 108

Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Pasal 37 ayat 2 (a). 109

mengelola konsentrasi dana dengan efektif.110 Di samping itu, buruknya kondisi perbankan di Indonesia setidaknya juga disebabkan oleh enam faktor, yaitu:111

1. Penyaluran kredit yang terlalu ekspansif yang dipicu oleh pemasukan dana luar negeri yang bersifat rentan karena sifatnya jangka pendek.

2. Pemberian kredit tanpa melalui proses analisis kredit yang sehat.

3. Konsentrasi kredit yang berlebihan kepada suatu kelompok usaha atau individu baik yang terkait dengan bank maupun tidak

4. Moral hazard karena belum tegasnya mekanisme exit policy dan berlarut- larutnya penyelesaian bank-bank bermasalah

5. Campur tangan pemilik yang berlebihan dalam manajemen bank 6. Lemahnya aspek supervisi dan regulasi perbankan.

Oleh karena itu, untuk menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang secara tegas dinyatakan sebagai single objective dari BI, maka BI harus ketat dalam memantau indikator perbankan yaitu rasio kecukupan modal (CAR) yang juga ditentukan oleh perkembangan risiko kredit dan faktor likuiditas di dunia perbankan.112 Karena dengan permodalan yang kuat bank dapat mengemban risiko yang tinggi.113

110

Zulkarnain Sitompul, Problematika Perbankan, Op. cit. hal. 95. 111

Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank, Op. cit. hal. 64. sebagaimana dikutip dari Widigdo Sukarman, “Upaya Penyehatan Perbankan dan Sektor Rill,” Bisnis & Ekonomi Politik Quarterly Review of the Indonesia Economy, (Vol. 3, No. 1, Januari 1999), hal. 21.

112

Kompas, 24 November 2008, hal.19. 113

Zulkarnain Sitompul, “Merger, Akuisisi dan Konsolidasi Perbankan Relevansinya dengan

Kebijakan Single Presence Policy”, hal. 1. dalam

http://zulsitompul.Wordpress.com/2008/07/09/merger-akuisisi-dan-konsolidasi perbankan.htm. diakses tanggal 8-10-08.

Ad.2. Lemahnya Pengawasan Bank

Salah satu faktor penyebab Bank Gagal adalah lemahnya pengawasan dari BI.114 Pengawasan dan pembinaan yang dilakukan oleh BI masih kurang efektif terutama karena lemahnya law enforcement.115 Hal ini disebabkan pengawasan internal bank dan sistem informasi yang relatif terbatas sehingga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang pada perbankan yang mendorong peningkatan risiko kegagalan bank.116 Kelemahan tersebut juga mendorong pemberian kredit yang terkonsentrasi hanya kepada beberapa debitur, khususnya pada individu/kelompok usaha yang terkait dengan bank.117 Padahal pengawasan terhadap bank sangat penting paling tidak karena beberapa alasan, antara lain:118

1. Untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap integritas industri perbankan dan individual bank

2. Pemeriksaan berkala merupakan langkah terbaik untuk menentukan tingkat kesehatan bank terhadap peraturan perundang-undangan

3. Membantu mencegah munculnya masalah dan memperbaiki suatu masalah sebelum semakin memburuk sehingga biaya penyelamatan tidak menjadi mahal

114

Adrian Sutedi, Op.cit., hal. 131. sebagaimana dikutip dari Susidarto,”Reposisi Pengawasan Bank”, dalam http://www.Kompas.com/Kompas-cetak/0204/26/opini/menu33.htm.

115

Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank, Op. cit. hal. 66. 116

Ibid., hal. 65 117

Ibid. 118

4. Memberikan masukan tentang bentuk, tingkat keseriusan dan akibat dari suatu masalah dan memberikan masukan tentang langkah-langkah perbaikan yang tepat.

Dalam melaksanakan tugas pengawasan bank, BI dapat menggunakan sistem pengawasannya dengan 2 (dua) pendekatan, antara lain:119

1. Pengawasan berdasarkan kepatuhan (compliance based supervision) yaitu menekankan pada kepatuhan bank untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan yang terkait dengan operasi dan pengelolaan bank.

2. Pengawasan berdasarkan risiko (risk based supervision) yaitu pendekatan pengawasan yang berorientasi ke depan (forward looking)

Lemahnya pengawasan dapat menyebabkan banyaknya Bank Gagal yang mengakibatkan kerugian pada penyimpan dana, pemegang saham dan dunia usaha.120 Hal ini semakin diperburuk lagi dengan masih terbatasnya informasi yang tersedia bagi masyarakat mengenai kondisi keuangan suatu bank sehingga kontrol masyarakat terhadap perkembangan perbankan tidak berjalan dengan semestinya.121 Kondisi ini menyebabkan rapuhnya kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan.122

Oleh karena itu, BI selaku lembaga yang mempunyai wewenang pengawasan dalam rangka menjaga kelangsungan usaha bank harus tegas di dalam mengawasi jalannya industri perbankan. Karena pada dasarnya pengawasan bank dimaksudkan

119

Awalil Rizky dan Nasyith Majidi, Op.cit. hal. 109. 120

Zulkarnain Sitompul, “Pentingnya Keberadaan Lembaga Penjamin Simpanan Dalam Sistem Perbankan”, Op.cit., hal. 12.

121

Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank, Loc. cit. 122

untuk mencapai 4 tujuan yaitu kompetisi dan efisiensi operasional, keamanan dan kesehatan, kebijakan moneter dan efisiensi alokasi serta melindungi nasabah kecil.123 Pengawasan merupakan instrumen penting untuk menekan bank dalam pengambilan risiko, bila hal ini tidak dijalankan sebagaimana mestinya akan dapat mengancam stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.124 Di samping itu, pengawasan juga harus dilengkapi dengan disiplin internal dan eksternal dari perbankan.125 Dengan melibatkan internal governance, pendekatan pengawasan memasukkan dan memelihara praktik manajemen yang sehat.126

Pengawasan internal terkait erat dengan pola dan struktur kepemilikan bank. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat kritis dalam mencapai praktek perbankan yang sehat. Karena kepemilikan secara mayoritas memungkinkan timbulnya campur tangan pemilik secara berlebihan dalam kepengurusan bank.127 Oleh karena itu, BI selaku pengawas eksternal harus mengefektifkan pengawasan sebagai upaya meningkatkan kesehatan perbankan.128

Tingkat kesehatan bank dinilai dengan pendekatan kuantitatif yang dilakukan dengan penilaian terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas, aktiva produktif, manajemen, rentabilitas, dan likuidasi yang disingkat dengan CAMEL.129 Penilaian tingkat kesehatan bank dilakukan dengan mengkuantifikasi komponen dari masing-

123

Ibid. hal. 252. 124

Zulkarnain Sitompul, “Pentingnya Keberadaan Lembaga Penjamin Simpanan Dalam Sistem Perbankan”, Op.cit., hal. 10.

125

Ibid. hal. 1. 126

Ibid. 127

Zulkarnain Sitompul, Problematika Perbankan, Op. cit. hal. 112. 128

Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank, Op.cit. hal. 256. 129

masing faktor.130 Hasil kuantifikasi dari komponen tersebut dinilai lebih lanjut dengan memperhatikan informasi dan aspek-aspek lain yang secara materil berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan masing-masing faktor.131 Kemudian faktor dan komponen diberikan bobot sesuai dengan besarnya pengaruh terhadap kesehatan bank, dan penilaiannya dilakukan dengan “reward system” yang dinyatakan dalam nilai kredit 0 sampai 100.132 Atas dasar penilaian tersebut ditetapkan empat golongan predikat tingkat kesehatan bank, yaitu sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat.133

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu BI di dalam menilai apakah suatu bank masih layak untuk dipertahankan atau tidak. Karena salah satu penyebab ambruknya bank swasta antara lain disebabkan oleh lemahnya sistem pengawasan BI terhadap operasi perbankan nasional.134 Di samping itu, kecepatan proses penyelesaian bank bermasalah merupakan salah satu kunci efektifitas pengawasan dan dapat mengurangi biaya yang akan ditanggung pemerintah.135

Ad.3. Lemahnya Manajemen Bank

Faktor lain penyebab Bank Gagal yaitu lemahnya manajemen bank.136 Hal ini telah mengakibatkan penurunan kualitas aset produkif dan peningkatan risiko yang

130 Ibid.hal. 131. 131 Ibid. 132 Ibid. 133 Ibid. 134

Zulkarnain Sitompul, Lembaga Penjamin Simpanan, Op. cit. hal. 80. 135

Zulkarnain Sitompul, Problematika Perbankan, Op. cit. hal. 231. 136

dihadapi bank.137 Buruknya kondisi perbankan di Indonesia juga disebabkan campur tangan pemilik yang berlebihan dalam manajemen bank, bahkan tidak sedikit pemilik yang merangkap jabatan sebagai pengurus bank.138 Hal ini menyebabkan perilaku para pengelola dan pemilik bank yang cenderung mengeksploitasi dan atau mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam berusaha.139

Seharusnya pengurus bank wajib mematuhi semua aturan main agar bank terhindar dari kemungkinan kerugian yang dapat mengancam kelangsungan usahanya dan pada gilirannya merugikan masyarakat.140 Hal ini penting untuk diperhatikan, karena penyebab utama Bank Gagal di Indonesia adalah kelalaian pengurus bank serta penipuan dan penggelapan yang mereka lakukan karena nasabah sangat sulit untuk mendeteksinya.141 Sedangkan kegagalan terbesar dari pengurus bank adalah kegagalan dalam mengurus resiko yang pada dasarnya akan selalu dihadapi bank.142 Menurut Timoty W Koch, resiko dasar dari bank yaitu credit risk, liquidity risk, interest rate risk, operational risk dan capital or solvency risk.143

137

Burhanuddin Abdullah, “Peran Kebijakan Moneter Dan Perbankan Dalam Mengatasi Krisis Ekonomi Di Indonesia”, disampaikan pada Kursus Reguler Angkatan XXXVI Lemhanas, Jakarta, tanggal 13 Januari 2003, hal. 7.

138

Zulkarnain Sitompul, Problematika Perbankan, Op. cit. hal. 111-112. 139

Adrian Sutedi, Loc.cit. 140

Zulkarnain Sitompul, Problematika Perbankan, Op. cit. hal. 101. 141

Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank, Op.cit. hal. 5-6. 142

Gunarto Suhardi, Usaha Meningkatkan Kinerja & Kepatuhan Perbankan Di Indonesia, (Yogyakarta: Andi Offset, 2004), hal. 3.

143

Ibid., sebagaimana dikutip dari Timoty W Koch, Bank Management, (New York: The Dryden Press, 1992), hal. 111. Credit risk adalah resiko yang paling besar karena aktiva bank dengan penghasilan bunga yang terbesar ditempatkan pada pemberian kredit kepada para nasabah debitur. Liquidity risk adalah keseimbangan antara kebutuhan likuiditas dan penempatan alat likuid. Gagal dalam menjaga keseimbangan tersebut berarti gagal memperoleh pendapatan yang mencukupi atau gagal dalam meberikan pelayanan kepada para nasabahnya dan runtuhlah kepercayaan masyarakat kepada banknya. Interest rate risk, naik turunnya suku bunga menimbulkan resiko bagi bank karena

Kelemahan internal industri perbankan terutama juga disebabkan oleh rendahnya kualitas pengelolaan internal yang tercermin dari konsentasi kredit yang berlebihan pada satu grup atau individu, serta campur tangan pemilik yang berlebihan dalam manajemen bank.144 Sedangkan bank memperoleh dana dari masyarakat yang biasanya digunakan apabila bank mengalami kesulitan untuk memperoleh dana dari luar.145 Dana ini dapat disalahgunakan oleh pemilik dengan memberikan pinjaman kepada orang dalam.146 Hal ini merupakan faktor penyebab utama terjadinya Bank Gagal di banyak negara.147

Manajemen bank merupakan hal yang paling penting dan menduduki posisi sentral.148 Karena manajemen yang efektif dan efisien dapat meningkatkan kapabilitas sekaligus kelancaran keadaan finansial dari suatu perusahaan yang berjalan aktif.149 Oleh karena itu, harus menghilangkan benturan kepentingan antara pemegang saham dan atau pengurus bank.150

terdapat perbedaan durasi penempatan dana dengan perolehan dana dari pihak ketiga. Hal ini mengakibatkan ketidakseimbangan antara pendapatan bunga dengan biaya bunga yang dapat membawa kerugian pada bank. Operational risk merupakan resiko yang terjadi karena keharusan diserapnya berbagai biaya tambahan baik karena biaya operasional (personil, peralatan, sistim dan lain-lain) maupun biaya-biaya yang terjadi karena kecurangan pegawai atau nasabah dari bank tersebut. Capital or solvensy risk karena akumulasi dari berbagai resiko tersebut yang tidak dapat diatasi oleh pengurus bank, sebagai akibat selanjutnya bank menjadi insolvent dan akhirnya bangkrut. Hal ini merupakan tahap terakhir dari kegagalan pengurus bank baik karena kesengajaan ataupun

Dokumen terkait