• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor Penyebab Pemotongan Timbangan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Potongan Timbangan

4. Faktor-Faktor Penyebab Pemotongan Timbangan

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat akurasi dari hasil penimbangan pada penggunaan timbangan. Beberapa diantaranya adalah temperature, aliran udara, perubahan tekanan udara, radiasi panas, getaran, muatan elektrostatis, dan keberadaan medan magnet.

1) Perubahan Suhu

Jika sampel yang ditimbang tidak berada pada suhu yang sama dengan suhu ruang dan suhu timbangan, maka akan terbentuk aliran udara pada permukaan sampel. Aliran udara tersebut akan menyebabkan terjadinya gesekan antara permukaan sampel dengan udara sekitar, sehingga sampel yang ditimbang akan menjadi lebih berat atau lebih ringan dari berat sebenarnya. Terjadinya hal ini dapat mengurangi repetabilitas dan akurasi dari sistem penimbangan. Untuk menghindari terjadinya hal ini, disarankan untuk menimbang sampel yang memiliki suhu yang sama dengan timbangan dan suhu

ruangan. Jika temperatur sampel berbeda dengan sampel ruangan, maka disarankan untuk membiarkan sampel menyesuaikan dengan suhu sekitarnya sebelum sampel ditimbang, agar hasil penimbangannya akurat.

2) Perubahan Tekanan dan Aliran Udara

Aliran udara disekitar timbangan pada saat menimbang suatu sampel dihasilkan oleh perbedaan tekanan dan gesekan udara yang dapat diakibatkan oleh penggunaan pendingin ruangan (AC) atau frekuensi dibuka dan ditutupnya pintu ruangan menimbang, yang menyebabkan terjadinya fluktuasi tekanan udara. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya akurasi dari sistem penimbangan, dan akan mempengaruhi hasil penimbangan. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh udara pada hasil menimbang adalah dengan membelokkan aliran udara dari pendingin ruangan (AC) sehingga tidak mengarah langsung pada timbangan dan area disekitarnya. Timbangan dengan kaca pelindung juga dapat digunakan, agar aliran udara tidak mempengaruhi proses penimbangan. Jika memungkinkan, gunakanlah wadah yang kecil untuk menimbang sampel untuk mengurangi gesekan udara.

3) Radiasi Panas

Radiasi panas dapat mengganggu kesetaraan suhu pada timbangan dan dapat menyebabkan kesalahan pembacaan. Umumnya,

radiasi panas ini disebabkan oleh sinar matahari langsung yang masuk ke ruangan menimbang. Sumber panas lainnya, seperti lampu dan radiator, bahkan suhu pengguna timbangan, dapat menyebabkan radiasi panas pada timbangan. Oleh karena itu, disarankan untuk meletakkan timbangan di tempat terlindungi dari radiasi cahaya panas langsung (matahari, lampu, dan sebagainya) untuk memperkecil pengaruh radiasi panas pada timbangan. Pada saat mengoperasikan timbangan, pengguna juga disarankan untuk menggunakan jas laboratorium untuk mengurangi radiasi terhadap timbangan yang dapat mempengaruhi hasil akhir menimbang.

4) Getaran

Getaran, baik yang bersifat translasi maupun rotasi, yang terjadi disekitar timbangan dapat menyebabkan deviasi pada hasil penimbangan. Umumnya, semakin kecil daya baca suatu timbangan, maka semakin mudah terpengaruh oleh getaran, dan hasilnya adalah berkurangnya akurasi timbangan, bahkan dapat menyebabkan kesalahan penimbangan, yang akan berpengaruh langsung pada kualitas produk yang dihasilkan. Untuk menghindari getaran pada saat menimbang, dianjurkan untuk meletakkan timbangan di ruangan

tenang, dan jika memungkinkan, diletakkan di atas meja timbang yang sudah didesain spesifik untuk mengurangi getaran.43

Berdasarkan faktor-faktor penyebab pemotongan timbangan secara umum diatas maka dapat dipahami bahwa, pada saat menimbang adanya pengurangan dalam pemotongan timbangan jika dilihat dari faktor umum yaitu perubahan suhu, perubahan tekanan dan aliran udara, radiasi panas, getaran. Timbangan dapat kapan saja berubah karena faktor-faktor tersebut, terjadi ketidakstabilan dalam penimbangan.

Faktor-faktor seseorang melakukan tindakan pemotongan timbangan dalam Islam diantaranya :

1. Kuranganya ilmu dan pengetahuan tata cara berniaga dan berdagang yang baik menurut Islam

2. Tidak mendalami fiqh buyu atau hukum-hukum jual beli dalam muamalah Islam.

Allah dan Rasul-Nya dengan tegas melarang kita untuk mengurangi timbangan sebab ini adalah perbuatan merugikan.

43

Ahmad Fauzi, Faktor Penting Yang Sering Disepelekan Dalam Menggunakan Timbangan (UNSRAT, Manadovol, 6 No.1 (2017), ISSN : 2301-84020 hl 105-17

Apabila Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Rukun Iman dan Rukun Islam kita perkuat, tentu hal seperti ini tidak akan terjadi.44

Berdasarkan dari faktor pengurangan timbangan dalam Islam, jika mengurangi timbangan terus dilakukan, maka tidak ada lagi kepercayaan dan kejujuran dari para pembeli. Pembeli akan selalu merasa was-was membeli barang di pasar sebab ia merasa bahwa ia harus membayar dengan jumlah yang sama, namun dengan jumlah timbangan yang dikurangi. Oleh sebab itu, pebisnis dan pedagang muslin harus selalu memperhatikan timbangan dengan baik. Hindari mencari keuntungan dengan mengurangi takaran.

Menurut hukum Islam adalah orang-orang tidak melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya, malah melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah salah satunya adalah mengurangi timbangan. Mengurangi timbangan adalah salah satu fenomena yang terjadi sejak jaman dahulu hingga sekarang. Hal ini sudah sering dilakukan oleh para pedagang atau pembisnis dan bukan menjadi hal yang tabu di masyarakat.

Pengurangan timbangan telah mendapatkan perhatian khusus dalam Al-Qur‟an karena praktik seperti ini telah merampas hak orang lain. Selain itu, praktik seperti ini juga menimbulkan dampak yang besar karena merugikan salah satu pihak dan tidak mau adil terhadap sesama dan akan

44

Hamzah, Hukum Mengurangi Timbangan Dalam Islam, (Berkat Mulia Insani Publishing, 2019) hl 17-19

menumbuhkan rasa ketidakpercayaan antara pihak penjual dan pembeli. Para pihak dalam jual beli harus memperhatikan aturan dan kaidah yang berlaku di dalam jual beli.45

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Muthaffifin ayat 1-6 yang artinya berbunyi:

 

َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ َ

Artinya: Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.

(Yaitu) Orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar.(Yaitu) Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?”. 46

Tafsir ayat: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” Yang dimaksud dengan takhfif di dalam ayat ini adalah berbuat curang dalam menimbang dan menakar, dengan menambah bila minta timbangan dari orang lain, atau bisa juga dengan mengurangi bila memberikan timbangan kepada orang lain. Itulah sebabnya Allah Ta‟ala menjelaskan bahwa orang-orang yang curang akan ditimpa dengan wail, yaitu kerugian dan kebinasaan, dengan firman-Nya, “Orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, ” yaitu mereka mengambil hak mereka dengan sempurna dan tambahannya. “Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” Padahal sesungguhnya, Allah Ta‟ala telah memerintahkan agar menimbang dan menakar dengan sempurna, yaitu firman-Nya, “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama dan lebih baik akitabnya.” Asbab annuzul ayat di iriwayatkan oleh an-Nasa-i dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih,

45

Umi Nurrohman. “Pengurangan berat Timbangan dalam Jual Beli Pisang dan Talas

Menurut Perspektif Hukum Islam.” (Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang,

2018), 54

46

yang bersumber dari Ibnu „Abbas bahwa ketika Rasulullah saw sampai ke Madinah, diketahui bahwa orang-orang Madinah termasuk orang-orang yang paling curang dalam menakar dan menimbang. Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam menimbang dan menakar. Setelah ayat-ayat tersebut turun, orang-orang Madinah menjadi orang-orang yang jujur dalam menimbang

dan menakar. Nash Al-Qur‟an ini menunjukkan bahwa orang-orang

curang yang diancam oleh Allah dengan kecelakaan yang besar. Mereka menakar untuk orang lain, bukan menerima takaran dari orang lain. Seakan-akan mereka mempunyai kekuasaan terhadap manusia dengan suatu sebab yang menjadikan mereka dapat meminta orang lain memenuhi takaran dan timbangan dengan sepenuhnya.47

Berdasarkan penjelasan di atas dapat di artikan bahwa, manusia itu tidak berhak menetukan takaran atau mengurangi takaran timbangan sesuai dengan keinginanya, mengurangi takaran dari orang lain sama saja mengurangi rezeki dari orang tersebut. Sedangkan takaran timbangan itu harus sesuai dengan hukum, tidak boleh di lebihkan ataupun di kurangi, hal tersebut merupakan perbuatan yang merampas harta orang lain, dengan cara mengurangi hak orang lain dan menambah harta sendiri.

47

A. Jenis dan Sifat Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian yang bermaksud mengetahui mengenai situasi dan kondisi yang ada. Karena penelitian ini berupaya mengumpulkan fakta-fakta yang ada. 1 Dalam mengkaji pemotongan jual beli, yang tergolong tidak umum dalam masyarakat, dan konsep Hukum Ekonomi Syari‟ah untuk melahirkan Tinjauan Hukum Ekonomi Syari;‟ah. Membutuhkan metode yang dimaksud. Dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian dengan berkunjung langsung di Desa Kelurahan Kusuma Jaya Kecamatan Bekri Kabupaten Lampung Tengah, sebagai tempat yang dijadikan tempat penelitian.

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian adalah deskriptif yaitu diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai populasi atau daerah-daerah tertentu.2 Dalam penelitian ini, penggunaan deskriptif maksudnya memberikan data yang sesuai dengan peristiwa dan kejadian dan juga memberikan

1

Chalid Narbuko & Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), 55

2

Nurul Zuriyah, Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 47

gambaran laporan-laporan terperinci mengenai Jual Beli Sawit Yang Menggunakan Sistim Pemotongan Berat Timbangan (studi kasus di Desa Kelurahan Kusuma Jaya Kecamatan Bekri Kabupaten Lampung Tengah). Hasil dari penelitian ini bukan berupa data secara statistik ataupun nominal-nominal, melainkan deskriptif hasil temuan lapangan.

B. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.3. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data yang sesuai dengan fokus penelitian, Sumber data terbagi menjadi beberapa sumber data yang akan peneliti gunakan yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah sumber data utama yang di peroleh dari responden atau objek yang diteliti.4 Sumber data primer dapat diartikan sebagai sumber data yang diperoleh langsung dari sumber data asli. Adapun sumber data primer dalam penelitian karya ilimiah ini ialah wawancara terhadap petani/penjual sawit dan pembeli sawit.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder merupakan sumber data yang telah tersedia dalam berbagai bentuk seperti tulisan-tulisan yang telah diterbitkan, dokumen-dokumen Negara, buku-buku, balai penerbitan dan lain-lain.

3

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), 114.

4

Siti Nur a‟ini. “Tinjuan Hukum Islam Tentang Potongan Timbangan dalam Sitem Jual

Namun demikian, untuk mendukung penjelasan dalam penelitian ini juga digunakan bahan-bahan pustaka sebagai data sekunder.5 Dalam penggalian data sekunder ini, peneliti menggunakan Al-Qur‟an dan hadis. Peneliti dapat langsung mencari bahan penelitian tentang potongan berat timbangan sawit langsung ke lapangan dan melalui sumber-sumber pustaka yang ada.

C. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara (Interview)

Wawancara adalah proses Tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan.6wawancara ini dilakukan karena pelaksanaan lebih fleksibel sehingga informasi yang diperoleh nantinya akan lebih mendalam.

Teknik yang digunakan wawancara berstruktur, dimana pewawancara telah menyiapkan daftar pertanyaan. Wawancara tidak hanya menangkap pemahaman atau ide, tetapi juga dapat menangkap perasaan, pengalaman, emosi, motif yang dimiliki oleh responden yang bersangkutan.7

Wawancara sendiri dapat dilakukan secara terstruktur, dan tidak terstruktur ataupun semi terstruktur. Dalam penelitian ini jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur/semi terpimpin.

5

Moh Kasiram, Metodologi Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), 53

6

Chalid Narbuko, Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, 83

7

Adapun objek dari metode wawancara ini ialah dengan petani/penjual sawit yaitu, bapak Saman, bapak Tumijan, bapak Slamet Budi. Dan kepada pembeli sawit yaitu, bapak Eko, bapak Kusmanto.

2. Observasi

Observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan, pencatatan secara sistematik terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek penelitian atau hal lain yang akan dijadikan sumber data.

Pengamatan secara langsung yang dibuat pada saat peneliti mengetahui perilaku responden tanpa menundanya, dan pencatatan tidak secara langsung, kedua metode pencacatan ini peneliti lakukan agar data yang diperoleh dapat saling melengkapi.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah proses mencari data mengenai hal-hal atau sesuatu yang berkaitan dengan masalah variabel yang berbentuk catatan, gambar, majalah, surat kabar, atau karya-karya monumental dari seseorang. 8

Dokumentasi dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data atau informasi melalui bahan-bahan tertulis baik dari peraturan perundang-undangan, kitab atau buku, arsip, maupun catatan lapangan atau hasil wawancara serta foto-foto selama penelitian.

8

Siti Nur a‟ini. “Tinjuan Hukum Islam Tentang Potongan Timbangan dalam Sitem Jual

D. Tehnik Analisis Data

Teknik analisis data merupakan kegiatan yang sangat penting dan memerlukan ketelitian serta kekritisan dari peneliti.9 Teknik analisis data yang peneliti gunakan ialah teknik analisis data kualitatif, penelitian yang bersifat atau memiliki karakteristik bahwa datanya dinyatakan sebagaimana adanya dengan tidak merubah dalam bentuk simbol atau bilangan, sedangkan perkataan penelitian pada dasarnya berarti rangkaian kegiatan atau proses pengungkapan rahasia atau sesuatu yang belum diketahui dengan mempergunakan cara kerja atau metode yang sistematik, terarah dan dapat dipertanggung jawabkan.10

Setelah itu peneliti menggunakan pola berfikir induktif, yaitu berangkat dari kasus-kasus bersifat khusus berdasarkan pengalaman nyata (ucapan atau perilaku subjek penelitian) untuk kemudian dirumuskan menjadi konsep, teori, prinsip atau definisi yang bersifat umum.11

Metode tersebut peneliti gunakan untuk menguraikan Faktor-Faktor Penyebab Pemotongan Timbangan Pada Jual Beli Sawit Perspektif Hukum Ekonomi Syari‟ah Di Desa Kusuma Jaya Kec. Bekri Kab. Lampung Tengah

9

Nurul Zururiah, Metode Penelitian., 173

10

Moh Kasiram, Metode Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, (Yogyakarta: UIN Maliki Pres, 2010), 355.

11

Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi

A. Gambaran Umum Desa Kusuma Jaya Kec. Bekri Kab. Lampung Tengah 1. Sejarah Singkat Berdirinya Desa Kusuma Jaya

Berdasarkan data yang diperoleh peneliti terhadap dokumentasi profil Desa Kusuma Jaya, peneliti mendapat data bahwa Desa Kusuma Jaya berdiri sejak tahun 1880. Pada awalnya merupakan wilayah transmigrasi yang sebelumnya dipimpin oleh Kepala Bilik, Desa Kusuma Jaya masuk wilayah Kecamatan Bekri Lampung Tengah.1

Urutan pemerintahan Desa Kusuma Jaya dalam hal ini nama-nama Kepala Kampung yang pernah memimpin Desa Kusuma Jaya Kec. Bekri Kab. Lampung Tengah disajian dalam tabel berikut:

Tabel 4.1

Nama-Nama Demang / Lurah / Desa Kusuma Jaya

No Periode Nama Kepala Kampung Keterangan

1 1874 Mas Puting (Minak Rajo Dunio) Ka. Kampung 2 1900-1912 M. Nur (ST Ratu Dilapung) Ka. Kampung

3 1930-1940 Ahmad Yusuf Ka. Kampung

4 1940-1950 Warga Ratu Ka. Kampung

5 1950-1960 Usman Stihang Ka. Kampung

6 1960-1968 Hi. Ahmad Nawawi Ka. Kampung

7 1968-1979 Adam Ka. Kampung

8 1979-1999 Mukrin Sanjaya Ka. Kampung

9 1999-2014 Helmi Ka. Kampung

10 2014-2016 Hi. Rosidi. S.Sos, MM Ka. Kampung

11 2016-2022 Susmanto Ka. Kampung

1

Dokumentasi Profil Sejarah Berdirinya Desa Kusuma Jaya masuk wilayah Kecamatan Bekri Lampung Tengahpada tanggal 14 Juli 2020, 1

Berdasarkan data diaatas dapat diketahui bahwa pemerintahan Desa Kusuma Jaya sudah terbentuk sejak awal berdirinya Desa Kusuma Jaya. Kepala Desa Kusuma Jaya yang pertama merupakan salah satu warga pribumi dan bersuku Lampung asli.

2. Letak Geografis Desa Kusuma Jaya

Desa Kusuma Jaya merupakan salah satu dari 8 Desa di wilayah Kecamatan Bekri, yang terletak 2 km ke arah utara dari Kecamatan. Desa Kusuma Jaya mempunyai wilayah seluas 5.677, 7 hektar. Secara geografis tinggi wilayah kecamatan Bekri dari permukaan laut 53 M dengan suhu maksimum 33oC dan minimum 20oc berombak. Secara umum memiliki iklim tropis sebagaimana iklim provinsi Lampung pada umumnya, curah hujan berkisar antara 2.264 mm sampai dengan 2.868 mm dan hari hujan antara 90 sampai dengan 176 hari/tahun. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2001 tentang pembentukan 13 kecamatan diwilayah kabupaten Lampung Tengah, kecamatan Bekri mempunyai batas-batas sebagai berikut:

a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Gunung Sugih Kubupaten Lampung Tengah.

b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kubupaten Lampung Tengah.

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tegineneng Kubupaten Pesawaran.

d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Anak Tuha Kubupaten Lampung Tengah.2

Berdasarkan data di atas dapat lihat bahwa Desa Kusuma Jaya mempunyai jarak 2 km dari Kacamatan Bekri, jarak tersebut tidak terlalu jauh dan dapat dijangkau lebih cepat dengan menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat.3

3. Keadaan Sosial

a. Jumlah penduduk

Desa Kusuma Jaya mempunyai jumlah penduduk 4.904 jiwa, yang tersebar dalam 16 dusun.

b. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan masyarakat Desa Kusuma Jaya adalah sebagai berikut: Tabel 4.2 Tingkat Pendidikan4 Pra Sekolah Tidak Sekolah SD SMP SMA Sarjana 1479 90 900 400 221 18

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pendidikan masyarakat Desa Kusuma Jaya masih sangat rendah. Masyarakat yang tergolong pra sekolah lebih banyak dibandingkan dengan yang sekolah. Pra sekolah adalah pendidikan yang didapat dari jalur

2 Ibid, 2 3

Dokumentasi Geografi Dan Topografi Desa Kusuma Jaya Kecamatan Bekri lampung Tengah Pada Tanggal 14 Juli 2020

4

pendidikan laur sekolah. Pendidikan terakhir Masyarakat Desa Kusuma Jaya mayoritas adalah Sekolah Dasar (SD). Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu tidak ada sekolah untuk mencari ilmu.

Rendahnya pendidikan di Desa Kusuma Jaya juga dapat dilihat dari rendahnya jumlah sarjana yang di Desa Kusuma Jaya. Kurangnya pemahaman masyarakat menganai pendidikan menjadi salah satu faktor penyebab masyarakat terjadinya melakukan tindakan jual beli sawit yang menggunakan pemotongan timbangan yang telah dianggap biasa oleh masyarakat Desa Kusuma Jaya Tersebut.

4. Keadaan Ekonomi

Dari segi Ekonomi mata pencaharian masyarakatDesa Kusuma Jaya sebanyak 80% adalah petani, dan 20% terdiri dari pedagang, wiraswasta, Pegawai Negeri Sipil, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian masyarakat Desa Kusuma Jaya masih berada ditaraf rendah, dan juga dikarenakan kurangnya perhatian dari pemerintah yang bisa mendongkrak perekonomian masyarakat tersebut.

Petani di Desa Kusuma Jaya, mayoritas menjadi petani sawit. Dikarenakan menanam sawit merupakan hal yang mudah dilakukan, tidak menghabiskan banyak biaya dan tidak memerlukan perawatan khusus, serta hasilyang diperoleh pun sangat menguntungkan dan terus menerus selama pohon sawit masih terawat. Menanam sawit menjadi usaha yang

menjanjikan, karena sawit tidak pernah mengalami gagal panen, dalam artianya usaha sawit selalu menguntungkan.

Luas area untuk penanaman kelapa sawit pembaharuan tahun 2020 seluas 546 hektar, sedangkan jumlah produksi sawit dalam angka tahun 2020 sebanyak 5516 ton.

Perkebunan sawit yang terdapat di Desa Kusuma Jaya tidaklah beda dengan perkebunan sawit di Desa lainnya. Letak kebun tergantung dari lahan yang dimiliki petani tersebut, ada petani sawit yang memiliki lahan khusus untuk di tanamkan sawit ada pula petani yang memiliki lahan terbatas sehingga sawit ditanam di perkarangan rumah

5. Sarana dan Parasarana Desa

Kondisi sarana dan prasarana umum Desa Kusuma Jaya secara garis besar adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3

Sarana dan Prasarana Desa5

No Sarana dan Prasarana Jumlah Keterangan

1 Sarana Ibadah -Masjid 5 -Gereja 1 -Pura 1 -Wihara - 2 Sarana Pendidikan -PAUD 2 -SD 2 -TK 3 -SMP 1 3 Sarana Kesehatan -Polindes 1

-Posyandu 5 Di rumah warga

5

No Sarana dan Prasarana Jumlah Keterangan 4 Sarana Pemerintahan -Balai Kampung 1 -Kantor Kampung 1 5 Sarana Keamanan -Poskamling 30 3 Rusak 6 Sarana Transportasi -Jalan Dusun 40 km -Jalan Kampung 20 km 7 Sarana Olahraga -Lapangan Bola 5 -Lapangan Volly 32

-Lapangan Bulu Tangkis 8 8 Sarana Umum Lainnya

-TPU 4

Berdasarkan tabel di atas Masyarakat Desa Kusuma Jaya tidak semuanya memeluk agama Islam, tetapi mayoritas masyarakat Desa Kusuma Jayaberagama Islam. Namun demikian Masyarakat tetap rukun dan menjalankan ibadah dengan kepercayaan masing-masing.

Desa Kusuma Jayamemiliki 16 (enam belas) dusun. Setiap dusun memiliki 1 (satu) masjid besar yang dapat menampung semua jamaah. Jarak antara masjid dan rumah warga tidak terlalu jauh, dapat dijangkau dengan berjalan kaki ataupun mengendarai kendaraan. Masyarakat Desa Kusuma Jaya yang mayoritas beragama Islam melaksanakan shalat 5 (lima) waktu, dimana dalam melaksanakan shalat masyarakat rajin berjamaah di masjid.

Pada proses penanaman sawit, jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya sangatlah penting, karena akan mempengaruhi hasil panen yang didapatkan, jarak maksimal yang digunakan petani sawit yaitu 8 sampai 9 meter. Dari jarak tersebut maka ada lahan kosong sekitar 5

meter, yang bisa dimanfaatkan oleh petani untuk ditanami tumbuhan lainnya. Tanaman sejenis sayuran dan lainnya ditanam ketika sawit baru ditanam hingga sawit berumur 2, 5 tahun. Dikarenakan pelepah yang semakin melebar dan semakin banyak, sehingga menghalangi cahaya matahari yang dibutuhkan oleh tanaman lainnya.

B. Praktek Penggunaan Pemotongan Timbangan Pada Jual Beli Sawit

Usaha perkebunan sawit telah menjadi aset untuk meningkatkan perekonomian bagi masyarakat Desa Kesuma Jaya Kecamatan Bekri Kabupaten Lampung Tengah khususnya bagi petani sawit dan pembeli sawit. Hasil panen sawit kemudian di perjual belikan untuk diolah menjadi bahan

Dokumen terkait