• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor Penyebab Stres Kerja

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Stres Kerja

2.2.5 Faktor-Faktor Penyebab Stres Kerja

Munandar (2008) menjelaskan faktor-faktor yang menimbulkan stres terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Lingkungan pekerjaan

Faktor-faktor yang berasal dari lingkungan pekerjaan dikelompokkan ke dalam lima kategori besar, yaitu:

a. Faktor-faktor intrinsik dalam pekerjaan Yang termasuk dalam kategori ini adalah:

1) Tuntutan fisik

Tuntutan fisik atau kondisi fisik di tempat kerja mempunyai pengaruh terhadap kondisi faal dan psikologis diri seorang tenaga kerja yang dapat menjadi pembangkit atau pemancing timbulnya stres di tempat kerja. Beberapa kondisi fisik yang biasanya mempengaruhi tenaga kerja antara lain kebisingan, getaran yang ada di tempat kerja, hygiene (kebersihan di lingkungan kerja).

2) Tuntutan tugas

Tuntutan tugas terdiri dari adanya kerja shift malam dan beban kerja, serta risiko dan bahaya pekerjaan. Kerja shift malam dapat menimbulkan stres kerja bagi tenaga kerja dimana pola kehidupan yang terbalik dengan kehidupan manusia pada umumnya. Beban kerja yang berlebih ataupun beban kerja yang terlalu sedikit merupakan pembangkit stres. Beban kerja dapat dibedakan ke dalam beban kerja berlebih/terlalu sedikit secara kuantitatif, yang

timbul sebagai akibat dari tugas-tugas yang terlalu banyak/sedikit diberikan kepada tenaga kerja untuk diselesaikan dalam waktu tertentu; dan beban kerja berlebih/terlalu sedikit secara kualitatif, yaitu jika tenaga kerja merasa tidak mampu untuk melakukan suatu tugas, atau tugas tidak menggunakan keterampilan dan/atau potensi dari tenaga kerja. Di samping itu beban kerja berlebih kuantitatif dan kualitatif dapat menimbulkan kebutuhan untuk bekerja selama jumlah jam yang sangat banyak, yang merupakan sumber tambahan dari stres. Risiko dan bahaya pekerjaan pada jabatan tertentu dapat menimbulkan stres kerja. Para pekerja yang cemas, memiliki semangat rendah dan lebih mudah menimbulkan kecelakaan, yang dalam jangka panjang dapat menderita akibat-akibat yang berhubungan dengan stres.

b. Peran individu dalam organisasi

Setiap tenaga kerja bekerja sesuai dengan perannya dalam organisasi, artinya setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus ia lakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dan sesuai dengan yang diharapankan atasannya. Namun demikian tenaga kerja tidak selalu berhasil untuk memainkan perannya tanpa menimbulkan masalah. Peran individu dalam organisasi yang dapat menimbulkan stres adalah:

1) Konflik peran

Konflik peran timbul jika seorang tenaga kerja mengalami adanya :

a) Pertentangan antara tugas-tugas yang harus dilakukan dengan tanggung jawab yang dimiliki.

b) Tugas-tugas yang harus dilakukan yang menurut pandangannya bukan merupakan bagian dari pekerjaannya.

c) Tuntutan-tuntutan yang bertentangan dari atasan, rekan, bawahannya, atau orang lain yang dinilai penting bagi dirinya.

d) Pertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadinya sewaktu melakukan tugas pekerjaannya.

Stres dapat timbul karena ketidakcakapannya untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dan berbagai harapan terhadap dirinya.

2) Ketaksaan peran/ambiguitas peran

Ketaksaan peran atau ambiguitas peran dirasakan jika seseorang tenaga kerja tidak memiliki cukup informasi untuk dapat melaksanakan tugasnya, atau tidak mengerti atau merealisasi harapan-harapan yang berkaitan dengan peran tertentu.

c. Pengembangan karir

Pengembangan karir merupakan salah satu pembangkit stres potensial yang mencakup :

1) Ketidakpastian pekerjaan (job insecurity)

Ketakutan kehilangan pekerjaan, ancaman bahwa pekerjaannya dianggap tidak diperlukan lagi merupakan hal-hal biasa yang dapat terjadi dalam kehidupan kerja. Perubahan-perubahan lingkungan menimbulkan masalah baru yang dapat mempunyai dampak pada

perusahaan. Reorganisasi dirasakan perlu untuk dapat mengahadapi perubahan lingkungan dengan lebih baik. Sebagai akibatnya, adanya pekerjaan lama yang hilang dan adanya pekerjaan yang baru, dan pekerjaan-pekerjaan yang baru memerlukan keterampilan yang baru. Oleh sebab itu, reorganisasi menimbulkan ketidakpastian pekerjaan, yang dapat menjadi sumber stres kerja.

2) Kelebihan dan kekurangan promosi (over and under promotion) Peluang yang kecil untuk promosi, baik karena keadaan tidak mengizinkan maupun karena mungkin ‘dilupakan’, dapat menimbulkan stress bagi tenaga kerja yang merasa sudah waktunya mendapatkan promosi. Stress yang timbul karena kelebihan promosi memberikan kondisi yang sama dengan beban kerja yang berlebihan, harga diri yang rendah dihayati oleh seseorang tenaga kerja yang mendapatkan promosi terlalu dini, atau yang dipromosikan ke jabatan yang menuntut pengetahuan dan keterampilan yang tidak sesuai dengan bakatnya.

d. Hubungan dalam pekerjaan

Stres juga dapat timbul karena tenaga kerja harus bekerja sama dengan tenaga kerja lain yang memiliki berbagai macam kepribadian, seperti berkepribadian kasar, dan orang yang tidak memperhatikan perasaan dan kepekaan dalam interaksi sosial. Kelompok kerja dapat memberikan tekanan yang besar kepada anggota kelompoknya untuk berperilaku konform, sesuai dengan norma-norma kelompok kerjanya.

Pekerjaan yang terisolasi, dimana tenaga kerja tidak dapat berbicara dengan tenaga kerja lain selama jam kerja, jadi bekerja sendirian sepanjang hari, dan pekerjaan yang berdesakan dimana sejumlah tenaga kerja harus bekerja dalam ruang kerja yang sempit dapat merupakan pembangkit stres.

e. Struktur dan iklim organisasi

Bagaimana para tenaga kerja mempersepsikan kebudayaan, kebiasaan, dan iklim dari organisasi adalah penting dalam memahami sumber-sumber stres potensial sebagai hasil dari beradanya mereka dalam organisasi. Faktor stres yang ditemukenali dalam kategori ini terpusat pada sejauh mana tenaga kerja dapat terlibat atau berperan serta dan pada support sosial. Peningkatan peluang untuk berperan serta menghasilkan peningkatan unjuk-kerja dan peningkatan taraf dari kesehatan mental dan fisik.

2. Lingkungan di luar pekerjaan

Kategori ini mencakup segala unsur kehidupan seseorang yang dapat berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa kehidupan dan kerja di dalam satu organisasi dan dengan demikian member tekanan pada individu. Isu-isu tentang keluarga, krisi kehidupan kesulitan keuangan, keyakinan-keyakinan priabadi dan organisasi yang bertentangan, konflik antara tuntutan keluarga dan tuntutan perusahaan, semuanya dapat merupakan tekanan pada individu dalam pekerjaannya, sebagaimana halnya stress

dalam pekerjaan mempunyai dampak negatif pada kehidupan keluarga dan pribadi.

3. Ciri-ciri individu a. Kepribadian

Tenaga kerja yang berkepribadian introvert bereaksi lebih negative dan menderita ketegangan yang lebih besar daripada pekerja yang berkepribadian extrovert. Kepribadian yang flexible (orang yang lebih terbuka terhadap pengaruh dari orang lain sehingga lebih mudah mendapatkan beban yang berlebihan) mengalami ketegangan yang lebih besar dalam situasi konflik, dibandingkan yan berkepribadian rigid (kaku). Orang dengan kepribadian Tipe A digambarkan sebagai orang yang memiliki derajat dan intensitas yang tinggi untuk ambisi, dorongan untuk pencapaian (achievement) dan pengakuan (recognition), kebersaingan (competitiveness) dan keagresifan. Orang Tipe A memiliki paksaan untuk bekerja berlebih, selalu bergelut dengan batas waktu, dan sering menelantarkan aspek-aspek lain dari kehidupan seperti keluarga, kejaran social (social pursuits), kegiatan-kegiatan waktu luang dan rekreasi. Sebaliknya orang dengan kepribadian Tipe B digambarkan sebagai lebih menggampangkan (easy-going) dan santai. Secara relatif Tipe B bebas dari rasa mendesak, mereka tidak selalu harus berkejar dengan waktu, karena mereka tidak mempunyai konflik berarti dengan orang lain, mereka lebih sedikit permusuhan.

b. Kecakapan

Kecakapan merupakan variabel yang ikut menentukan stres tidaknya suatu situasi yang sedang dihadapi. Jika seorang tenaga kerja menghadapi masalah yang ia rasakan tidak mampu ia pecahkan, sedangkan situasi tersebut mempunyai arti yang penting bagi dirinya, maka situasi tersebut akan ia rasakan sebagai situasi yang mengancam dirinya sehingga ia mengalami stress. Sebaliknya jika ia merasa mampu menghadapi situasi tersebut, maka ia akan merasa ditantang dan motivasinya akan meningkat.

c. Nilai dan kebutuhan

Para tenaga kerja diharapkan berperilaku sesuai dengan norma-norma perilaku yang ada dalam organisasi. Jika dalam proses penyesuaian diri tidak terjadi internalisasi dari nilai-nilai yang penting, hanya terjadi penyesuaian perilaku sesuai dengan norma-norma perilaku yang ada di organisasi, maka situasi perbedaan atau bahkan pertentangan nilai ini akan mempertajam perbedaan kebutuhan. Tenaga kerja yang tidak mendapatkan kepuasan kerja, maka sikap terhadap pekerjaan, terhadap organisasi secara keseluruhan dapat berkembang menjadi negatif. Jika ia tidak dapat mengundurkan diri, karena tidak ada pekerjaan lain atau karena sebab lain, maka tenaga kerja akan mengalami stress.

Griffin (2004) mengemukakan bahwa penyebab-penyebab stres yang berhubungan dengan pekerjaan dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu:

1. Tuntutan tugas

Tuntutan tugas terkait dengan tugas itu sendiri dimana diperlukannya keputusan yang cepat, keputusan kritis, dan ketidaklengkapan informasi untuk membuat keputusan.

2. Tuntutan fisik

Tuntutan fisik adalah penyebab-penyebab stres yang terkait dengan lingkungan kerja seperti suhu yang terlalu ekstrem, desain kantor yang buruk, dan ancaman terhadap kesehatan.

3. Tuntutan peran

Peran adalah sekelompok perilaku yang diharapkan dari suatu jabatan dalam kelompok atau organisasi. Stres bisa ditimbulkan baik oleh ketidakjelasan peran ataupun konflik peran yang mungkin dialami individu dalam organisasi.

4. Tuntutan interpersonal

Tuntutan interpersonal adalah penyebab stress yang terkait dengan hubungan antarpribadi dalam organisasi. Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin organisasi, tidak tesedianya ruang untuk berpatisipasi dalam membuat keputusan dari atasan, individu-individu yang memiliki masalah pribadi dalam organisasi dapat meimbulkan stress kerja pada karyawan.