• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENERAPAN HUKUM PIDANA TERHADAP PELAKU

A. Anak Korban Penelantaran Anak

2. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Penelantaran Anak

Penelantaran anak merupakan salah satu jenis kekerasan terhadap anak. Terjadinya kekerasan terhadap anak disebabkan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhinya demikian kompleks. Menurut Suharto, kekerasan terhadap anak umumnya disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari anak sendiri maupun faktor eksternal yang berasal dari kondisi keluarga dan masyarakat69

1. Anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan tingkah laku, autisme, anak terlalu lugu, memiliki tempramen lemah, ketidaktahuan anak akan hak-haknya, anak terlalu bergantung pada orang dewasa.

, seperti:

2. Kemiskinan keluarga, orangtua menganggur, penghasilan tidak cukup, banyak anak.

3. Keluarga tunggal atau keluarga pecah (broken home), misalnya perceraian, ketiadaan ibu untuk jangka panjang atau keluarga tanpa ayah dan ibu tidak mampu memenuhi kebutuhan anak secara ekonomi.

69

Edi Suharto, Pembangunan, Kebijakan Sosial, dan Pekerjaan Sosial, (Bandung: Lembaga Studi Pembangunan-Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial, 1997), hlm. 366.

4. Keluarga yang belum matang secara psikologis, ketidaktahuan mendidik anak, harapan orangtua yang tidak realistis, anak yang tidak diinginkan (unwanted child), anak yang lahir di luar nikah.

5. Penyakit parah atau gangguan mental pada salah satu atau kedua orangtua, misalnya tidak mampu merawat dan mengasuh anak karena gangguan emosional dan depresi.

6. Sejarah penelantaran anak. Orangtua yang semasa kecilnya mengalami perlakuan salah cenderung memperlakukan salah anak-anaknya.

7. Kondisi lingkungan sosial yang buruk, pemukiman kumuh, tergusurnya tempat bermain anak, sikap acuh tak acuh terhadap tindakan eksploitasi, pandangan terhadap nilai anak yang terlalu rendah, meningkatnya faham ekonomi upah, lemahnya perangkat hukum, tidak adanya mekanisme kontrol sosial yang stabil.

Sementara itu, Rusmil menjelaskan bahwa penyebab atau resiko terjadinya kekerasan dan penelantaran terhadap anak dibagi ke dalam tiga faktor70

1. Faktor orangtua/keluarga

, yaitu:

Faktor orangtua memegang peranan penting terjadinya kekerasan dan penelantaran pada anak. Faktor-faktor yang menyebabkan orangtua melakukan kekerasan pada anak diantaranya adalah:

a. Praktik-praktik budaya yang merugikan anak: a) kepatuhan anak kepada orangtua

b) hubungan asimetris

70

b. Dibesarkan dengan penganiayaan c. Gangguan mental

d. Belum mencapai kematangan fisik, emosi maupun sosial e. Pecandu minuman keras dan obat

2. Faktor lingkungan sosial/komunitas

Kondisi lingkungan sosial juga dapat menjadi pencetus terjadinya kekerasan pada anak. Faktor lingkungan sosial yang dapat menyebabkan kekerasan dan penelantaran pada anak diantaranya:

a. Kemiskinan dalam masyarakat dan tekanan nilai materialistis b. Kondisi sosial ekonomi yang rendah

c. Adanya nilai dalam masyarakat bahwa anak adalah milik orangtua sendiri

d. Status wanita yang dipandang rendah e. Sistem keluarga patriarkal

f. Nilai masyarakat yang terlalu individualistis 3. Faktor anak itu sendiri

a. Penderita gangguan perkembangan, menderita penyakit kronis disebabkan ketergantungan anak kepada lingkungannya.

b. Perilaku meyimpang pada anak.

Sedangkan Richard J. Gelles mengemukakan bahwa kekerasan terhadap anak terjadi akibat kombinasi dari berbagai faktor: personal, sosial, dan kultural.

Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori utama71

(1) Pewarisan kekerasan antar generasi (intergenerational transmission of violence)

, yaitu:

Banyak anak belajar perilaku kekerasan dari orangtuanya dan ketika tumbuh menjadi dewasa mereka melakukan tindakan kekerasan kepada anaknya. Dengan demikian, perilaku kekerasan diwarisi (transmitted) dari generasi ke generasi. Studi-studi menunjukkan bahwa kurang dari 30 persen anak-anak yang diperlakukan dengan kekerasan menjadi orang tua yang bertindak keras kepada anak-anaknya. Sementara itu, hanya 2 sampai 3 persen dari semua individu menjadi orangtua yang memperlakukan kekerasan kepada anak-anaknya. Anak-anak yang mengalami perlakuan salah dan kekerasan mungkin menerima perlakuan ini sebagai model perilaku mereka sendiri sebagai orang tua. Tetapi, sebagian besar anak-anak yang diperlakukan dengan kekerasan tidak menjadi orang dewasa yang memperlakukan kekerasan kepada anak-anaknya. Beberapa ahli yakin bahwa peramal tentang tindakan kekerasan di masa depan adalah apakah anak menyadari bahwa perilaku tersebut salah. Anak yang yakin bahwa perilaku buruk dan layak mendapatkan tindakan kekerasan akan lebih sering menjadi orangtua yang memperlakukan anaknya secara salah, dibandingkan anak-anak yang yakin bahwa orangtua mereka salah untuk memperlakukan mereka dengan tindakan kekerasan.

71

(2) Stres sosial (social stress)72

Stres yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan resiko kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Kondisi-kondisi sosial ini mencakup: pengangguran (unemployment), penyakit (illness), kondisi perumahan buruk (poor housing conditions), ukuran keluarga besar dari rata-rata (a larger-than-average family size), kelahiran bayi baru (the presence of a new baby), orang cacat (disabled person) di rumah, dan kematian (the death) seorang anggota keluarga. Sebagian besar kasus dilaporkan tentang tindakan kekerasan terhadap anak berasal dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan (poverty). Tindakan kekerasan terhadap anak juga terjadi dalam keluarga kelas menengah dan kaya, tetapi tindakan yang dilaporkan lebih banyak di antar keluarga miskin karena beberapa alasan. Keluarga-keluarga yang lebih kaya memiliki waktu yang lebih mudah untuk menyembunyikan tindakan kekerasan karena memiliki hubungan yang kurang dengan lembaga-lembaga sosial dibandingkan dengan keluarga miskin. Selain itu, pekerja sosial, dokter, dan sebagainya yang melaporkan tindakan kekerasan secara subyektif lebih sering memberikan label kepada anak keluarga miskin sebagai korban tindakan kekerasan dibandingkan dengan anak dari keluarga kaya.

Penggunaan alkohol dan narkoba di antara orangtua yang melakukan tindakan kekerasan mungkin memperbesar stres dan merangsang perilaku kekerasan. Karakteristik tertentu dari anak-anak, seperti: kelemahan mental,

72 Ibid

atau kecacatan perkembangan atau fisik juga meningkatkan stres dari orangtua dan meningkatkan resiko tindakan kekerasan.

(3) Isolasi sosial dan keterlibatan masayarakat bawah (social isolation and low community involvement)73

Orangtua dan pengganti orangtua yang melakukan tindakan kekerasan terhadap anak cenderung terisolasi secara sosial. Sedikit sekali orangtua yang bertindak keras ikut serta dalam suatu organisasi masyarakat dan kebanyakan mempunyai hubungan yang sedikit dengan teman atau kerabat. Kekurangan keterlibatan sosial ini menghilangkan sistem dukungan dari orangtua yang bertindak keras, yang akan membantu mereka mengatasi stres keluarga atau sosial dengan lebih baik. Lagi pula, kurangnya kontak dengan masyarakat menjadikan para orangtua ini kurang memungkinkan megubah perilaku mereka sesuai dengan nilai-nilai dan standar-standar masyarakat.

Faktor-faktor kultural sering menentukan jumlah dukungan masyarakat yang akan diterima suatu keluarga. Pada budaya dengan tingkat tindakan kekerasan terhadap anak yang rendah, perawatan anak biasanya dianggap sebagai tanggung jawab masyarakat, yaitu: tetangga, kerabat, dan teman-teman membantu perawatan anak apabila orangtua tidak bersedia atau tidak sanggup.

(4) Struktur keluarga (family structure).74

Tipe-tipe keluarga tertentu memiliki resiko yang meningkat untuk melakukan tindakan kekerasan dan pengabaian kepada anak. Misalnya,

73

Ibid, hlm. 53. 74

orangtua tunggal lebih memungkinkan melakukan tindakan kekerasan terhadap anak dibandingkan dengan orangtua utuh. Karena keluarga dengan orangtua tunggal biasanya berpendapatan lebih kecil dibandingkan keluarga lain, sehingga hal tersebut dapat dikatakan sebagai penyebab meningkatnya tindakan kekerasan terhadap anak. Keluarga-keluarga yang sering bertengkar secara kronis atau istri yang diperlakukan salah mempunyai tingkat tindakan kekerasan terhadap anak yang lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga-keluarga yang tanpa masalah. Selain itu, keluarga-keluarga di mana baik suami atau istri mendominasi di dalam membuat keputusan penting, seperti: di mana bertempat tinggal, pekerjaan apa yang mau diambil, bilamana mempunyai anak, dan berapa banyak uang yang dibelanjakan untuk makan dan perumahan mempunyai tindakan kekerasan terhadap anak yang lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga-keluarga yang suami-istri sama-sama bertanggung jawab atas keputusan-keputusan tersebut.

Literatur lainnya juga memberikan jabaran lengkap mengenai faktor-faktor yang dapat dijadikan indikator untuk mengkaji ada tidaknya penelantaran anak75

a. Kondisi lingkungan

, yaitu meliputi:

Kondisi lingkungan meliputi keadaan lingkungan secara menyeluruh termasuk fasilitas sosial untuk bermain, fasilitas pendidikan, dan layanan kesehatan untuk anak.

75

b. Dukungan sosial

Dukungan sosial mencakup dukungan keluarga, peluang yang diberikan oleh keluarga bagi anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, juga dukungan finansial keluarga untuk melengkapi fasilitas kebutuhan tumbuh kembang anak.

c. Keterampilan pengasuh (caregivers)

Keterampilan pengasuh mencakup pengetahuan dan kecakapan pengasuh untuk memberikan kesempatan pada anak untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya, tidak memaksa anak melakukan hal tertentu yang tidak layak pada taraf usianya dan waspada akan kemampuan anak.

d. Kesejahteraan anak itu sendiri

Adapun kesejahteraan anak itu sendiri meliputi kondisi bawaan anak yang harus diwaspadai serta dicermati oleh lingkungan, khususnya pengasuh. Misalnya, ada anak-anak yang lebih peka terhadap penyakit tertentu sehingga mereka harus segera memperoleh penanganan khusus apabila terkena gangguan tertentu.

e. Kondisi keluarga

Keluarga merupakan lingkungan sosial utama yang mempengaruhi peluang terbentuknya atau terhindarnya anak dari penelantaran. Anak-anak terlantar cenderung tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang kaku, tidak stabil, mengalami hambatan komunikasi dan mengalami konflik peran.

B. Aspek Hukum Pidana Terhadap Penelantaran Anak dikaitkan dengan

Dokumen terkait