BAB II FAKTOR FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA TINDAK
B. Faktor faktor Penyebab Tindak Pidana Pemerkosaan
Kejahatan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur yang sering terjadi di sekitar kita baik dilakukan oleh keluarga anak tersebut atau pun dengan orang lain. Tulisan ini mengangkat satu kasus mengenai pemerkosaan yang dilakukan terhadap anak .pelaku dari pemerkosaan ini adalah Purmanto Panjaitan , berusia 20 tahun , dan bekerja sebagi petani. Melakukan tindak pidana pemerkosaan terhadap Natalia Simatupang berusia 15 tahun. Dimana Natalia alias Nia merupakan teman dekat dari Purmanto.
Dimana pada saat terjadi nya peristiwa pemerkosaan Nia mendapat pesan singkat dari Purmanto untuk datang ke rumah tersangka di Jalan Jamin Ginting Gang Roga Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo ,di mana tersangka melakukan sejumlah bujuk rayu terhadap korban untuk melakukan persetubuhan dengan nya, meskipun korban alias Nia mengetahui jika tersangka atau Purmanto memiliki istri bernama Mak Rina.
Di dalam hal ini pelaksana utama dari terjadi nya suatu pemerkosaan bukan saja datangya dari pelaku semata – mata tetapi juga dari faktor faktor yang ada di luar dari diri si pelaku sendiri. Namun secara umum faktor – faktor terjadinya suatu pemerkosaan adalah sebagai berikut :26
1. Pengaruh perkembangan budaya yang semakin tidak menghargai etika berpakaian yang menutup aurat , yang dapat merangsang pihak lain untuk berbuat tidak senonoh dan jahat.
2. Gaya hidup atau metode pergaulan di antara laki – laki dengan perempuan yang semakin bebas , tidak atau kurang bisa lagi membedakan antara yang seharusnya boleh dikerjakan dengan yang dilarang dalam hubungan nya dengan kaedah akhlak mengenai hubungan antara laki – laki dan perempuan . 3. Rendah nya pengalaman dan penghayatan terhadap norma – norma
keagamaan yang terjadi di tengah masyarakat . Nilai – Nilai keagamaan yang semakin terkikis di masyarakat atau pola relasi horizontal yang cenderung makin meniadakan peran agama merupakan hal yang potensial untuk seseorang berbuat jahat dan merugikan orang lain.
4. Tingkat control masyarakat ( Social Control ) yang rendah artinya berbagai perilaku yang diduga sebagi penyimpangan , melanggar hukum dan norma keagamaan kurang mendapatkan response dan pengawasan dari unsur – unsur masyarakat .
5. Putusan Hakim yang merasa tidak adil , seperti putusan yang cukup ringan yang dijatuhkan pada pelaku . Hal ini dimungkinkan dapat mendorong anggota – anggota masyarakat untuk berbuat keji dan jahat . Artinya mereka yang melakukan perbuatan kejahatan tidak lagi merasa takut terhadap sangsi hukum yang dijatuhkan kepada nya .
6. Ketidakmampuan pelaku untuk mengendalikan nafsu seksual dan emosi nya . Nafsu seksual yang dibiarkan mengembara yang menuntunnya untuk melakukan pelampisasan terhadap oranng lain yang bukan istrinya.
7. Keinginan pelaku untuk melakukan pelampiasan terhadap korban sebagai bentuk balas dendam akibat dari perbuatan korban yang dianggap merugikan pelaku.
Pelaku merupakan faktor utama dari terjadinya tindak pidana pemerkosaan tetapi bukan juga semata – mata pemerkosaan terjadi karena perilaku menyimpang dari pelaku . Faktor terjadinya suatu tindak pidana kejahatan pemerkosaan dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang terdapat di dalam diri si pelaku sendiri sehingga ia melakukan pemerkosaan dapat dibagi menjadi :
a. Faktor kejiwaan
Manusia terlahir terdiri atas roh , jiwa , dan raga yang sepatutnya dapat berfungsi secara seimbang . Jiwa manusia terdiri dari tiga aspek yaitu :
Kognisi ( pikiran ) , afeksi ( emosi , pikiran ) , dan konasi ( kehendak , kemauan,psikomotor ). Manusia mengalami pertumbuhan fisik dan pertumbuhan kejiwaan . Di dalam masa perkembangan kejiwaan maka seiring itu akan terbentuk lah faktor kejiwaan yang dipengaruhi oleh diri nya sendiri . perkembangan ini akan berbeda setiap individu, oleh sebab itu maka sikap manusia berbeda satu dengan yang lain nya.
Keadaan dimana seseorang terlahir tidak normal mendorong seseorang untuk melakukan kejahatan . Misalnya nafsu sex yang abnormal , sehingga melakukan perkosaan terhadap wanita, dimana korban tidak mengetahui jika pelaku mengalami sakit jiwa , psyco patologi dan aspek psikologis.
Penderita sakit jiwa memiliki kelainan mental yang di dapat dari faktor keturunan maupun dari dalam diri penderita tersebut, sehingga seorang pelaku pemerkosaan yang sakit jiwa nya sulit menetralisir rangsangan seksual yang ada di dalam diri nya dan rangsangan seksual sebagai energy psikis tersebut bila tidak diarahkan akan menimbulkan hubungan – hubungan yang menyimpang dan dapat menimbulkan korban .
Psycho patologi merupakan hal yang terkandung dalam diri seseorang tertentu yang memungkinkan orang tersebut ,melakukan kejahatan dan perbuatan yang menyimpang meskipun ia tidak sakit jiwa.
Di dalam aspek psikologis merupakan salah satu aspek dari hubungan seksual adalah aspek yang mendasari puas atau tidak puas nya dalam melakukan hubungan seksual dengan segala eksesnya . dalam hal ini bukan berarti setiap hubungan seksual memberikan kepuasan oleh karena itu kemungkinan ada nya ekses ekses nya merupakan aspek psikologis yang muncul akibat dari ketidakpuasaan dalam melakukan hubungan seks.dan aspek inilah yang dapat menyebabkan penyimpangan hubungan seksual dengan pihak lain yang menjadi korbannya.
Setiap orang memiliki kelainan jiwa, pada umunya akan melakukan pemerkosaan sadis, sadism yang dimaksud dapat juga diberi pengertian pemerkosaan yang dilakukan dihadapan pihak ketiga , dan dapat juga dilakukan bersamaaan dengan pihak ketiga. Atau pun dibawah pengaruh alcohol dan penggunaan narkotika yang dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan perbuatan yang tidak normal.
b. Faktor biologis
Di dalam menjalani kehidupan nya manusia memiliki berbagai macam kebutuhan yang harus dipenuhi termasuk juga kebutuhan biologis. Sejak kecil manusia memiliki dorongan – dorongan seks . dorongan tersebut merupakan dasar dari dalam diri manusia sebagai akibat dari zat zat hormone seks yang ada di dalam diri manusia.
Dorongan seks dari dalam diri manusia tersebut menuntut untuk selalu dipenuhi , apabila seorang manusia tidak dapat mengendalikan maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan sehingga mempengaruhi pola perilaku manusia, dan apabila dorongan seks tersebut tidak dapat dikontrol maka akan menyebabkan pemerkosaan.
c. Faktor Moral
Moral merupakan faktor pentinng di dalam terbentuk nya kejahatan . moral dapat juga menjadi filter terhadap perilaku manusia yang menyimpang , oleh karena itu moral merupakan ajaran tingkah laku mengenai kebaikan – kebaikan dan merupakan hal vital dalam bertingkah laku . apabila seseorang memiliki maka ia akan terhindar dari perbuatan tercela.
Munculnya kasus – kasus pemerkosaan terhadap anak di bawah umur , disebabkan karena pelaku nya tidak memiliki moral. Dari kasus tersebut pelaku dari pemerkosaan tersebut adalah pacar korban sendiri yang sudah beristri, dimana apabila pelaku Purmanto memiliki moral maka ia tidak akan melakukan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur, sementara Purmanto merupakan suami dari mak Rina.
Faktor yang mempengaruhi merost nya moral seseorang adalah merost nya pendidikan agama seseorang . agama merupakan unsur pokok dalam kehidupan manusia dan merupakan kebutuhan spiritual dari seseorang . hal lain yang mempengaruhi moral seseorang adalah , kehidupan religius dari suatu keluarga, apabila ia dilahirkan dari keluarga yang memiliki religius tinggi maka seseorang akan
mendapat pelajaran agama secara baik dan benar sehingga kemungkinan untuk jjatuh kedalam dosa kecil, dan sebalik nya apabila seseorang lahir dari keluarga yang tidak bereligius maka kemungkinan ia akan mendapat pengajaran moral yang rendah.
2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern merupakan faktor yang berasal dari luar diri pelaku tersebut . faktor yang mempengaruhi dari luar diri pelaku pemerkosaan terhadap anak yaitu :
a. Faktor sosial budaya
Tinggi nya kasus – kasus pemerkosaan yang terjadi pada masa sekarang ini erat kaitan nya dengan aspek sosial budaya . Karena dalam kenyataan nya faktor sosial budaya mempengaruhi turun nya moralitas sehingga terjadi kasus pemerkosaan.
Sudah bukan menjadi rahasia lagi pesat nya perkembangan zaman , teknologi , dan ilmu pengetahuan maka disadari akan memberikan dampak negative dalam diri manusia yang tidak dapat dihindarkan. Akibat dari proses moderenisasi tersebut menyebabkan berkembanglah budaya – budaya yang terbuka , pergaulan semakin bebas , cara berpakaian seorang wanita semakin merangsang, sering memakai perhiasan mahal , sering berpergian sendiri sehingga dapat menjadi peluang terjadi nya pemerkosaan.
Salah satu faktor sosial budaya yang mendukung timbul nya pemerkosaan adalah remaja yang masih termasuk di dalam kategori belum dewasa berpacaran dengan
lawan jenis nya , sambal menonton film porno , sehingga dapat mempengaruhi anak tersebut untuk menirukan adengan dalam film porno tersebut.
b. Faktor ekonomi
Keadaan ekonomi seseorang , akan mempengaruhi seseorang dalam mendaptkan pendidikan , jika seseorang sulit mendaptkan pendidikan maka ia tidak akan mendapat pekerjaan yang layak , keadaan ini akan menyebabkan orang tersebut akan kehilangan kepercayaan diri dan menimbulkan jiwa yang apatis , frustasi , dan tidak respek terhadap norma dan aturan masyarakat sekitar nya.
Keadaan perekonomian merupakan fakktor yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi pokok – pokok kehidupan masyarakat hal ini akan mempengaruhi pola kehidupan seseorang . Pada umumnya orang yang tidak memiliki pekerjaan, pengangguran tidak dapat dipungkiri ia juga pasti memiliki hasrat biologis yang harus tersalurkan , orang yang cenderung miskin dan penganguran yidak dapat melampiaskan hasrat seksualnya kepada wanita tuna susila karena tidak memiliki uang , sebaliknya dapat dilakukan dengan onani , sebagian melakukan dengan cara memperkosa orang yang sudah di intai nya sebagai pelampiasan hasrat biologis nya.
Sebaliknya bagi golongan yang berada tidak lepas dari tindakan criminal kejahatan asusila , perkosaan terjadi di hotel dan penginapan penginapan yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan tidak jarang pula orang yang termasuk golongan berada tersebut menggunakan alat perangsang yang diperoleh dengan biaya.
c. Faktor Media Massa
Media massa merupakan sarana untuk memperoleh informasi, media massa dapat berupa koran , majalah , televise , media sosial di internet , biasanya hal tersebut akan berisi informasi mengenai kejadian – kejadian , peristiwa , hal yang utama dari surat kabar biasanya adalah tindak pidana .
Media massa sendiri tidak dapat kita pungkiri bahwa ia memberikan dampak besar terhadap kasus – kasus pemerkosaan terhadap anak, pemuturan video porno di situs online , gambar di majalah yang mengundang hasrat akan mempengaruhi pola piker seseorang dan melakukan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur.
Menurut teori kriminologi faktor lain terjadinya kejahatan pemerkosaan , dapat terjadi karena faktor penyebab yang berasal dari dalam diri si pelaku pemerkosaan(faktor intern ), faktor dari luar diri pelaku ( faktor ekstern)
1. Faktor Intern
Faktor intern merupakan faktor yang dilihat dari individu – individu yang
memiliki hubungan dengan pemerkosaan. Pada faktor intern ini melihat suatu kejahatan dari dalam diri si pelaku,banyak terdapat teori yang menggambarkan keadaan ini,namun hanya difokuskan kedalam teori yang menjelaskan pemerkosaan ari perspektif biologis dan perspektif psikologis.
A. Teori Perspektif Biologis
perspektif biologis ini dipelopori oleh C.Lambrosso . C.Lambrosso berpendapat bahwa para criminal secara fisik berbeda dengan warga yang taat hukum dan perbedaan ini menunjukkan penyebab – penyebab biologis dari tindakan criminal . Lambrosso memberikan perhatian kepada perilaku individu yang menyimpanng, hal ini diuraikan dalam buku nya “ L’uamo Deliquente “. Menurut Lambrosso ada ada dua tipe orang yang ditakdirkan melakukan kejahatan yaitu orang yang ditakdirkan melakukan kejahatan ,orang yang tidak dapat tidak ,suatu saat akan melakukan kejahatan. Orang – orang yang terlahir sebagai criminal merupakan tipe manusia 40 persen dari populasi criminal .
Lambroso menggabungkan positivism Comte , evolusi dari Darwin , serta banyak lagi pioneer dalam studi tentang hubungan kejahhatan dan tubuh manusia. Kriminologi beralih secara permanen dari filosofi abstrak tentang penanggulangan melalui legilisasi menuju suatu studi modern penyelidikan sebab – sebab kejahatan. Lambroso menggeser konsep free will dengan determinisme , bersma – sama dengan pengikutnya Enrico Ferri dan Raffaele Garofalo . Lambrosso membangun suatu orientasi baru yakni mazhab italia atau mazhab positif , yang mencari penjelasan atas tingkah laku kriminik melalui eksperimen dan penelitian ilmiah.
Inti dari ajaran lambroso tentang kejahatan adalah penjahat mewakili suatu tipe keanehan/ keganjilan fisik yang berbeda dengan non kriminil. Lambroso mengklaim
para penjahat mewakili bentuk kemerosotan yang termanifestasi dalam karakter fisik yang merefleksikan suatu bentuk awal revolusi
Teori lambroso tentang born criminal ( penjahat yang dilahirkan ) menyatakan bahwa para penjahat merupakan suatu bentuk yang lebih rendah dalam kehidupan. Penjahat lebih mendekati nenek moyang mereka yang berbentuk kera dalam hal sifat bawaan dan watak dibanding mereka yang bukan penjahat. Mereka dapat dibedakan dari non kriminil melalui beberapa ciri – ciri fisik dari manusia pada tahap awal perkembangan , sebelum mereka benar – benar menjadi manusia. Lambroso berasalan bahwa seringkalli para penjahat memiliki rahang yang besar dan gigi taring yang kuat, suatu sifat yang pada umumnya dimiliki mahluk karnivora yang merobek dan melahap daging mentah .27
Menurut Lambroso seorang individu yang lahir dengan salah saatu dari lima stigmata adalah seorang born criminal ( penjahat yang dilahirkan ) . Kategori ini mencakup kurang lebih sepertiga dari seluruh pelaku kejahatan .Sementara itu penjahat perempuan menurutnya berbeda dengan penjahat laki – laki . Ia adalah pelacur yang memiliki born criminal. Penjahat perempuan memiliki banyak kesamaan sifat dengan anak – anak , moral sense mereka berbeda , penuh dendan, cemburu. Sebagai konsekuensi penjahat perempuan merupakan suatu monster.disamping kategori born criminal , lambroso menambahkan tiga kategori lain nya yaitu insane criminals yaitu penjahat sebagai hasil dari berbagai perubahan
27
dalam otak mereka mengganggu kemampuan untuk membedakan antara benar dan salah. Criminoloids mencakup suatu kelompok ambiguous termasuk penjahat kambuhan ( habiatul criminals ) , pelaku kejahatan karena nafsu . Meskipun teori Lambroso sederhana , namun ia memberi kontribusi yang signifikanbagi penelitian mengenai kejahatan. Fakta bahwa Lambroso memulai melakukan penelitian terhadap pengukuran ribuan narapidana yang hidup dan mati , dalam upaya menemukan penentu kejahatan, perhatiannya pada multifactor dalam menjelaskan kejahatan.
Charles Buchman Goring , perbedaan antara para penjahat dengan non penjahat dapat dilihat dari tinggi dan berat badan . Para penjahat didapati lebih kecil dan ramping , dan dalam temuannya ditafsirkan bahwa penjahat secara biologis lebih inferior.
B. Perspektif psikologis
Faktor intern yang menyebabkan seseorang melakukan pemerkosaan dari perspektif psikologis ini dipelopori oleh Raffaele Gorofalo . Ia menelusuri kejahatan bukan kepada bentuk – bentuk fisik tetapi kepada kesamaan – kesamaan psikologis yang dapat juga dikatakan sebagai kekacauan moral ( moral anomalies ).
Teori moral anomalies mengunngkapkan bahwa secara alami kejahahtan – kejahatan yang ditemukan dalam diri manusia . Kejahatan yang dilakukan akan mendatangkan penderitaan kepada orang lain. Kelemahan organic dalam sentiment
moral , tidak menjadikan moral dasar sebagai halaman untuk melakukan kejahatan. Penjahat yang memiliki anomaly moral ini terjadi karena faktor keturunan .
Tokoh lain adalah Sigmund Freud (1856 – 1939) yang terkenal melalui teori psikoanalisa. Ia menyatakan bahwa kejahatan dihasilkan dari suatu kesadaran yang berlebihan atas perasaan bersalah pada diri seseorang. Terdapat tiga prinsip dasar pada teori psikoanalisa dalam hubungan nya dengan terjadinya kejahatan yaitu :
1. Tindakan orang dewasa dapat dipahami dari perkembangan masa anak – anaknya.
2. Tindakan dan motif bawah sadar merupakan suatu interaksi yang saling berhubungan , sehinggaharus diuraikan untuk memahami kejahatan.
3. Kejahatan pada dasar nya merupakan repersentasi dari konflik psikologis.
Faktor lain terjadi nya kejahatan pemerkosaan dapat dilihat dari faktor ekstern. Faktor ekstern yaitu Kejahatan pemerkosaan timbul berpangkal pada lingkungan dan rohani. Faktor ekstern merupakan faktor terjadinya kejahatan karena adanya faktor dan pengaruh dari luar pelaku kriminal. Faktor ekstern terjadinya pemerkosaan berbeda dengan faktor intern yang melihat dari faktor biologis dan psikologis yang dipelopori oleh Lambroso dan tokoh – tokoh lain nya,dalam faktor ekstern mengarah kepada faktor sosiologis nya, pelopor dari teori ini adalah Lacassagne, Ia merupakan seorang ahli kedokteran di Perancis yang menganut mazhab Prancis atau mazhab lingkungan. Menurut Lacassagne yang terpenting adalah keadaan sosial di sekeliling
kita, yang merupakan suatu pembinaan untuk melakukan kejahatan. Penjahat di ibaratkan sebagai kuman, dan suatu unsur yang baru mempunyai arti apabila menemukan pembenihan yang akan membuat nya berkembang .
Lacassagne dan Manouvrier yang merupakan para ahli kedokteran di Prancis yang menekankan peran penting faktor eksogen. Menurut mereka, penjahat merupakan hasil bentukan atau ciptaan lingkungan dalam arti seluas-luasnya. Mereka memfokuskan pada lingkungan runah tangga yang buruk, kurangnya pendidikan dan pengajaran, kelahiran anak diluar nikah, kemiskinan, ketergantungan minuman keras, penderitaan akibat perang, godaan hidup perkotaan. Singkatnya, semua hal yang eksternal berpengaruh terhadap manusia dan mereka juga memberikan landasan bagi pemikiran aliran Marxis yang menambahkan suasana pemikiran bahwa penyebab kejahatan dapat ditemukan dalam atau bagaimana sistem ekonomi disusun dalam mekanisme produksi kapitalis.28
2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern menurut W.A.Bonger ( 1834 – 1924 ), Ia berpendapat bahwa yang menyebabkan terjadinya kejahatan adalah fluktuasi ekonomi ( keadaan ekonomi yang tidak tetap ). Menurut Bonger adanya orang – orang yang karena struktur kepribadiannya mempunyai kecenderungan criminal , namun persentase mereka tidak banyak. Keadaan ekonomi yang membuat meluasnya kriminalitas, maka haruslah
28
Mahmud Mulyadi, Criminal Policy Pendekatan Integral Penal Policy dan Non Penal Policy Dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan,(Medan: Pustaka Bangsa Press,2008), hal 103
dipandang sebagai akibat faktor yang berada di kuar individu, yaitu faktor kejahatan. Kriminalitas yang meningkat berarti keadaan lingkungan sangat jelak, sehingga kecenderungan melakukan kriminalitas diwujudkan. Kriminalitas yang menurun menunjukkan keadaan ekonomi yang semakin baik. Keadaan demikian membuat orang – orang yang berpotensi criminal tidak melakukan perbuatan criminal.
Tokoh lain nya adalah G.Tarde ( 1843 – 1904 ), seorang ahli hukum dan sosiologi, menurut pendapatnya kejahatan bukan suatu gejala antropologis tetapi kejahatan merupakan suatu gejala sosiologis. Kejahatan sama halnya dengan kejadian
– kejadian yang terjadi di dalam masyarakat yang dikarenakan oleh adanya peniruan.
Ada beberapa teori yang melegitimasi pengaruh lingkungan sosial terjadinya kejahatan :
a. Teori anomi
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Emile Durkheim ( 1858-1917 ) sebelum akhir abad ke 19,menurut Durkheim menjelaskan tingkah laku manusia yang salah maupun benar, maka tidak bisa hanya dilihat dari pribadi seseorang, melainkan harus dilihat pada kelompok masyarakatnya. Menurut Durkheim istilah anomi , jika diterjemahkan berarti tidak ditaatinya aturan – aturan yang terdapat di dalam masyarakat sebagai akibat dari hilangnya nilai – nilai dan standar – standar.
Menurut Robert K.Merton , namun konsepnya berbeda dengankonsep Durkheim,menurutnya permasalahan utama dari kejahatan adalah tidak diciptakan
oleh perubahan yang mendadak dalam masyarakat,melainkan oleh adanya struktur sosial yang masing- masing bertahan untuk mencapai tujuan yang sama bagi semua anggota nya tanpa memberi saran atau sarana yang sama untuk mencapainya. Hal ini menyebabkan tidak adanya kesesuaian antara apa yang diminta oleh kultur dan apa yang dibolehkan oleh struktur.
Berdasarkan teori Merton , bahwa dalam setiap masyarakat selalu terdapat struktur sosial yang berbentuk kelas – kelas. Perbedaan kelas ini menyebabkan adanya perbedaan – perbedaan kesempatan dalam mencapai tujuan. Misalnya, mereka yang mempunyai kelas rendah mempunyai kesempatan lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang mempunyai kelas tinggi. Perbedaan struktur kesempatan dan tidak meratanya sarana – sarana akan menimbulkan frustasi di kalangan warga yang tidak mempunyai kesempatan dalam mencapai tujuan tersebut. Situasi ini akan menimbulkan keadaan dimana warga tidak lagi mempunyai ikatan yang kuat terhadap tujuan dan sarana – sarana yang terdapat di dalam masyarakat.Merton mengemukakan lima cara untuk mengatasi keadaan anomie, yaitu :
1. Konformitas ( conforming ) , merupakan suatu keadaan dimana warga masyarakat tetap menerima tujuan dan sarana –sarana yang terdapat dalam masyarakat karena adanya tekanan moral.
2. Inovasi (inovation) , merupakan suatu keadaan dimana tujuan yang terdapat dalam masyarakat diakui dan dipelihara tetapi mereka mengubah sarana – sarana yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
3. Ritualisme (ritualism), merupakan suatu keadaan dimana warga masyarakat menolak tujuan yang telah ditetapkan dan memilih sarana yang telah ditentukan.
4. Pemberontakan ( rebellion ) , merupakan suatu keadaan dimana tujuan dan sarana – sarana yang terdapat dalam masyarakat ditolak dan berusaha untuk mengganti atau mengubah seluruhnya.
5. Retreatism ( Penarikan diri ) merupakan keadaan dimana para warga masyarakat menolak tujuan dan sarana yang telah disediakan.
Albert K.Cohen berpendapat mengenai kenakalan yang dilakukan oleh anak, yang tidak berbeda dengan Merton. Cohen berpendapat bahwa anak mempunyai masalah dengan melakukan penyesuaian dengan orang lain. Kelas menengah lebih dominan dari pada kelas bawah, sehingga anak mengalami frustasi karena ketidakmampuan kels bawah berkompetisi dengan kelas menegah. Persaingan antara anak kelas bawah dengan kelas menengah untuk mendapat penghargaan. Kegagalan dalam persaingan akan bereaksi dengan kegagalan yang tidak dapat dihindari dengan menolak nilai – nilai konvensional .
b. Teori Differential Assosiation
Edwin H.Sutherland (1939) menggambarkan konsep asosiasi diferensial untuk menggambarkan proses belajar , seperti pemberian beasiswa sekolah Chichago. Terdapat benturan dari dua kebudayaan di dalam bagian wilayah kota, yang pertama
budaya pidana dan yang kedua budaya konvensional, kedua kebudayaan ini sangat erat kaitannya dengan individu. Ia berpendapat :
…“that any person would inevitabily come into contact with “definitions
favorable to violation of law”and with “definition unfavorable to violation of