BAB II. KATEKESE KELUARGA DAN PERANANNYA BAGI PENDIDIKAN
B. Pendidikan Iman Anak
4. Faktor-faktor Perkembangan Iman Anak
Dalam usaha membina iman anak demi berkembangnya iman menuju kedewasaan, kita perlu memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh secara dominan dalam perkembangan anak, yakni: keluarga, sekolah, teman sebaya dan kemajuan teknologi, khususnya media (Banyu Dewa, 2008:9).
Dalam keluarga, anak harus dihantar untuk menjalin relasi dengan Tuhan melalui suatu peristiwa maupun sarana yang ia temukan. Hal tersebut dikarenakan bahwa perkembangan iman seseorang dipengaruhi oleh suatu pengalaman mengalami kehadiran Allah secara langsung dalam hidupnya (Allen, 1982:20). Bila anak-anak secara teratur dipupuk dalam iman melalui doa serta pengajaran Alkitab dalam keluarga yang penuh kasih, dan hidup dalam lingkungan Kristen yang membangun, kemungkinan besar mereka akan bertemu dengan Allah yang hidup dan imannya berkembang secara mendalam dan mantab.
Menurut Gabriella (1991:11), kesadaran akan Tuhan dalam keluarga timbul melalui rutinitas harian. Demikian pula iman, semua terjadi dalam kesaksian hidup harian, dan di situlah anak mengenal Allah. Iman berkembang dan disuburkan dari hari ke hari secara tidak dirumuskan. Secara jelas dikatakan oleh Gabriella, bahwa untuk menyadari kasih Allah tidak melulu terjadi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Justru dalam rutinitas sehari-harilah anak dapat mengenal Allah dengan merasakan kasih Allah secara nyata dalam kesehariannya. Dengan begitu, dari hari ke hari iman akan semakin bertumbuh dengan sendirinya.
Dalam faktor di sekolah, anak usia sekolah dasar merupakan masa pertumbuhan fisik, intelek, sosial dan rohani karena anak-anak usia sekolah memiliki kemampuan untuk menyerap segala informasi yang ia dapatkan dengan sangat cepat. Menurut Gabriella (1991:15), sekolah sebagai tempat pembudayaan manusia dari sudut katekese/pelajaran agama merupakan wadah pembudayaan hidup yang dijiwai semangat Injil. Pelajaran agama, katekese dan berbagai kegiatan perayaan iman yang terjadi di sekolah menjadi kesempatan bagi anak untuk mengkaji nilai-nilai Kristiani. Sekolah merupakan tempat manusia dididik, dilatih dan dikembangkan dalam segala
hal termasuk dalam hal rohani. Melalui pelajaran agama, anak belajar untuk mengetahui dan ikut ambil bagian dalam kegiatan rohani agar kehidupan rohani atau imannya semakin terarah dan berkembang.
Teman sebaya merupakan orang yang paling dekat dengan anak-anak setelah orang tua. Bermain, bercanda, bercengkrama dengan teman sebaya merupakan rutinitas wajib bagi anak-anak. Melakukan kegiatan dengan teman sebaya, memberi sumbangan besar bagi perkembangan anak. Melalui hubungan sosialnya dengan orang lain, hati nurani mulai menunjukkan perkembangan menuju kedewasaan. Pengertian akan dosa dan pengampunan bertumbuh serta peraturan- peraturan mulai menjadi penting dalam upacara-upacara ibadah, juga dalam permainan. Anak sudah dapat membedakan antara Allah dan orang tua mungkin juga dapat membedakan antara Allah Bapa dan Tuhan Yesus. Anak usia sekolah mulai menggunakan konsep abstrak untuk menggambarkan Allah (Allen, 1982:42).
Kemajuan teknologi, khususnya media membawa pengaruh bagi perkembangan anak dalam berbagai faktor baik positif atau negatif. Pola hidup masyarakat saat ini sangat maju dan serba canggih. Anak-anak turut dimanjakan dengan berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai sarana pengganti mainan dan teman bermain, media elektronik maupun cetak nampaknya memiliki daya pikat terhadap anak-anak di jaman sekarang. Menurut Endang Ekowarni dkk, kehadiran televisi maupun media massa lain dalam kehidupan anak merupakan bagian dari sistem sosial, di mana anak tumbuh dan berkembang di dalamnya (2003:25). Dari media elektronik maupun media yang lain, selain pengetahuan atau hiburan, anak juga dapat mengakses segala hal yang ingin diketahui sehingga anak dapat cepat berkembang. Tentu saja kemajuan teknologi tidak hanya membawa
pengaruh positif saja, tetapi juga ada pengaruh negatif yang ditimbulkan. Untuk meminimalisir dampak negatif yang dapat ditimbulkan, dalam menggunakan media elektronik atau media yang lain, orang tua perlu mendampingi anak dengan memilah program atau informasi yang berkualitas dan bermanfaat bagi anak. Demikian halnya dengan iman, kemajuan teknologi dapat membantu anak dalam belajar mengenal Allah melalui tayangan-tayangan yang dapat merangsang kepekaan sosial, menambah pengetahuan tentang tradisi Gereja dan ajaran-ajaran Kristiani dsb, karena iman tumbuh melalui penglihatan dan pendengaran.
b. Faktor Penghambat Perkembangan Iman Anak
Anak-anak sangat sensitif terhadap hal-hal yang ada atau yang terjadi di sekitarnya. Keluarga, lingkungan dan kehidupan sosialnya dapat berpegaruh bagi perkembangan moral, sosial, psikologi, dan rohani anak (Hurlock, 1988:216). Anak- anak dikelilingi oleh orang tua, saudara, nenek, kakek dan lainnya. Suasana atau keadaan yang ada sangat mempengaruhi apalagi jika anak tengah berada dalam keadaan orang tua yang telah pecah. Selain itu anak-anak juga dipengaruhi oleh pandangan-pandangan dan sikap hidup mereka yang dapat membawa dampak pada relasi anak dengan pribadi yang ada di sekitarnya dan juga relasi anak dengan Tuhan (Setyakarjana, 1997:7). Anak yang berada dalam situasi keluarga yang bermasalah akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan baik moral, psikologi, kepribadian, sosial, dan rohani anak. Karena dengan melihat dan merasakan secara langsung suasana atau keadaan keluarga yang carut marut, hal itu akan membebani anak karena terbawa dalam kehidupan si anak itu sendiri. Oleh karena itu kestabilan rohani orang tua begitu penting bagi perkembangan rohani anak (Allen, 1982:27)
karena anak belajar dari cara hidup orang tuanya. Orang tua yang memiliki cara hidup sebagai seorang Kristiani dalam keluarga, minat anak akan tumbuh dengan sendirinya mengenai unsur-unsur agama yang ia lihat dari orang tuanya.
Pada masa kanak-kanak, ada dorongan yang kuat untuk bergaul dengan orang lain dan ingin diterima oleh orang lain (Hurlock, 1988:251). Pada anak usia sekolah, anak-anak tertarik dalam menjalin relasi dengan orang lain terutama teman sebaya. Umumnya orang-orang mengikuti perkembangan tuntutan sosial agar dapat diterima dalam kelompok mereka. Menurut Hurlock (1988:251), penyesuaian diri terhadap tuntutan sosial memang memiliki banyak manfaat yang positif seperti belajar hidup bermasyarakat dengan orang lain, kemampuan berbicara semakin berkembang dan pengetahuan umumnya semakin luas dan sebagainya. Akan tetapi, tuntutan sosial yang sedemikian rupa berkembangnya seiring perkembangan jaman juga membawa dampak buruk bagi perkembangan rohani anak-anak. Anak-anak mudah terpengaruh oleh teman sebayanya. Apalagi jika mereka terpengaruh pada teman sebaya yang kurang minat bahkan mungkin sama sekali tidak berminat pada hal-hal rohani. Iman yang semula sudah mulai berkembang, perlahan-lahan akan semakin merosot. Setiap krisis yang dialami pada masa anak-anak bisa memberikan peluang bagi timbulnya krisis rohani (Allen, 1982:14). Krisis bisa terjadi karena unsur dari luar dan dari dalam diri anak itu sendiri. Krisis hidup seperti masalah uang, putus persahabatan, keluarga dll. Sedangkan krisis dari dalam diri lebih ke unsur kurangnya kepercayaan diri yang dapat membahayakan perkembangan iman anak.