PERKAWINAN LINTAS AGAMA TINJAUAN HUKUM ISLAM
B. Faktor-Faktor Terjadinya Perkawinan Lintas Agama
Table 4.2 Latar Belakang Keluarga Subjek Penelitian
Subjek Pend.
Agama Pekerjaan
Ket. Subjek
Ayah Ibu Ayah Ibu
Untung Mutiah
SD K K Buruh - K sejak kecil
SD I I Ternak - I sejak kecil
Rusdi Sugini
SD I K Buruh Tukang Pijit K sejak kecil
BA I I Buruh - I sejak kecil
Kasbin Siti S
ST I I Buruh Buruh Kt sejak SD
SD I I Buruh Buruh I sejak kecil
Masal Suprat
S1 K K TNI PNS K sejak kecil
SMA I I TNI Karyawan I sejak kecil
Tri Darwati
STM I I Karyawan - I sejak kecil
SMEA B B Tk. Kayu - K sejak SMP
Keterangan:
Pend. = Pendidikan Terakhir
K = Kristen
I = Islam
Kt = Katholik
B = Budha
Secara khusus memang tidak nampak faktor yang paling dominan yang mempengaruhi perkawinan lintas agama. Faktor umum yang diungkapkan
semua pasangan pelaku perkawinan lintas agama adalah “jodoh” dan “cinta”.
Dari penelitian lapangan tersirat berbagai faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk melakukan perkawinan lintas agama. Beberapa faktor tersebut adalah:
1. Pandangan tertentu tentang agama dan keberagamaan
dijadikan sebagai pembenar dan alasan seseorang melakukan perkawinan lintas agama. Pertama, mereka yang berpandangan bahwa pada dasarnya, semua agama adalah benar dan baik, tergantung dari yang menjalaninya. Dengan demikian, melakukan perkawinan lintas agama bukan menjadi soal, yang penting saling mencintai dan bisa saling memahami satu sama lain. Seperti yang diungkapkan oleh Masal dan Rusdi, ia tidak mau menjadikan perbedaan agama untuk memperuncing hubungan antar sesama. Bagaimana caranya membuat perbedaan tersebut menjadi sesuatu yang indah.
Kedua, pelaku perkawinan lintas agama berpendapat bahwa agama yang dipeluknyalah agama yang benar. Sehingga dari mereka melakukan perkawinan lintas agama mempunyai misi keagamaan. Seperti halnya Kasbiyantoro yang memiliki keyakinan bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang paling benar, sehingga ketika ia mengalah untuk berpindah agama ketika melakukan akad nikah, baginya mengalah itu tidak untuk selamanya. Dalam ajaran agamanya, kalau bisa setelah melakukan perkawinan tersebut istri dan anak-anaknya bisa diajak masuk agamanya. Namun Kasbiyantoro tidak berani mengajak istri dan anak- anaknya untuk mengikuti agamanya, sehingga setelah sekian lama menjalani perkawinannya, dalam suatu titik jenuh ia memutuskan untuk kembali memeluk agamanya tanpa mengajak anak ataupun istrinya. Hal ini disebabkan Kasbiyantoro tinggal di rumah istri dan lingkungan tempat
ia tinggal beragama mayoritas Islam, selain itu keluarga Siti termasuk keluarga terpandang dalam masyarakat.
2. Perempuan tidak memiliki kemandirian hidup
Kemajuan zaman memang berimbas pada semua aspek. Para perempuan sudah banyak yang menjadi wanita karir, bahkan mereka menjadi tulang punggung bagi keluarga. Keadaan ekonomi global membuat persaingan semakin ketat dalam memperoleh pekerjaan. Untuk mendapatkan sebuah pekerjaan para perempuan pun rela merantau ke negeri orang.
Kehidupan di perantauan tanpa adanya sanak saudara membuat seorang perempuan merasakan kesepian. Hal tersebut menimbulkan pengharapan adanya seorang pendamping yang mampu menjadi tempat berbagi dalam senang maupun susah. Fenomena ini nampak pada Darwati yang bekerja di Tangerang. Tri adalah orang pertama yang dekat dengan Darwati selama di perantauan yang akhirnya menjadi suaminya sekarang. Sugini juga termasuk dalam kategori ini, keputusasaannya setelah gagal dijodohkan oleh orang tuanya membuat Sugini pergi merantau ke Salatiga untuk bekerja. Dari sini lah Sugini bertemu dengan Rusdi yang menurutnya pantas dijadikan sosok yang mampu melindunginya.
3. Tradisi perkawinan lintas agama
Faktor lain yang mendukung terjadinya praktek perkawinan lintas agama adalah tradisi perkawinan lintas agama dalam keluarga. Dengan adanya praktek perkawinan lintas agama yang sudah menjadi tradisi maka
bagi mereka perkawinan lintas agama dianggap tidak ada masalah yang serius. Seperti halnya yang terjadi pada Rusdi, kedua orang tuanya termasuk pelaku perkawinan lintas agama, sejak kecil ia mendapatkan pelajaran bahwa perkawinan lintas agama boleh dan bisa dilakukan. Untuk itulah ketika Rusdi hendak mengawini Sugini yang seorang Muslim, tidak ada tentangan dari pihak keluarga. Perkawinan lintas agama juga menurun kepada anak kedua Rusdi, yaitu Agustin Rusgiyani. Di masa kecilnya Agustin Rusgiyani mengikuti agama ibunya yaitu Islam, karena calon suami Agustin adalah seorang Kristen maka Agustin memutuskan untuk memeluk agama Kristen.
Sebenarnya tradisi seperti ini juga terjadi dalam keluarga Kasbiyantoro dan Tri. Perbedaannya adalah dari keluarga mereka perbedaan agama hanya sampai pada saat sebelum perkawinan. Setelah perkawinan berlangsung, pasangan mereka memutuskan untuk mengikuti agamanya ataupun sebaliknya.
Dalam keluarga Kasbiyantoro yang melakukan perkawinan lintas agama adalah kakak dan dua adiknya. Kakak Kasbin yang dahulu seorang Katholik menikah dengan perempuan muslim sehingga akhirnya ia mengikuti agama istrinya. Adik Kasbin yang pertama beragama Katholik dan memiliki suami seorang Islam, namun akhirnya suaminya yang mengikuti agamanya. Adik Kasbin kedua juga beragama Katholik menikah wanita Islam dan ia memutuskan untuk mengikuti agama istrinya yaitu Islam.
Sejarah perkawinan lintas agama keluarga Tri dimulai dari ayahnya yang awalnya beragama Katholik kemudian bertemu ibunya Tri yang beragama Islam. Meski berbeda usia dan keyakinan mereka memutuskan untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan. Ayah Tri yang kemudian mengalah mengikuti agama Islam hingga sekarang.
4. Kurangnya pengetahuan agama
Sebagian besar dari pasangan pelaku perkawinan lintas agama tidak mengetahui adanya larangan melakukan perkawinan lintas agama. Hal ini disebabkan sebagian besar dari mereka berpendidikan rendah, selain itu dari pihak muslim kurang mendalami ilmu fikih munakahat.
Ironis ketika mendengar jawaban dari Mutiah, Siti, Sugini dan Supratini bahwa mereka tidak pernah mendengar adanya aturan agama Islam yang melarang praktek perkawinan lintas agama tersebut. Hal itu disebabkan kerena orang tua mereka tidak mendidik mereka secara ketat, atau bahkan orang tua mereka juga tidak memahami secara mendalam aturan tersebut. Sehingga ketika anak-anak mereka hendak melakukan perkawinan dengan orang yang berbeda agama, mereka memberi ijin dengan syarat proses akad perkawinan dilakukan secara Islam. Sama halnya denga Darwati yang tidak memahami betul aturan boleh atau tidaknya melakukan perkawinan lintas gama. Bahkan Darwati sempat merasa hanya dirinya yang melakukan perkawinan lintas agama. Sempat terlintas pula rasa ingin tahunya tentang perkawian lintas agama yang dilakukan dengan mempertahankan agama masing-masing pihak.
5. Kristenisasi pihak luar
Upaya kristenisasi juga mewarnai rumah tangga Tri dan Darwati. Tri dan Darwati bekerja di UKSW yang notabene berada dalam wilayah yayasan Kristen. Kasus ini dimulai ketika Tri memutuskan untuk meraup rejeki di Salatiga setelah sekian lama bekerja di Tangerang. Selama menetap di Salatiga, Tri tinggal bersama mertuanya di Kemiri Raya dan bekerja serabutan. Suatu ketika Tri ditawari oleh tetangganya yang bekerja di UKSW, untuk bekerja di UKSW sebagai penjaga café. Tanpa pikir panjang Tri menerima tawaran tersebut.
Setelah kurang lebih empat tahun Tri bekerja sebagai penjaga café, akhirnya Tri pndah kerja di Posnet, yaitu warnet di wilayah UKSW. Selama bekerja di Posnet tersebut Tri ditawari oleh salah satu karyawati UKSW yang juga tetangganya untuk mengajak istrinya bekerja di UKSW sebagai cleaning service. Setelah mengkonfirmasi pada istrinya dan istrinya setuju maka pada tahun 2001 Darwati mulai bekerja di UKSW.
Pada tahun itu juga ada lowongan sebagai satpam UKSW, menurut informasi yang di dengar Tri salah satu syarat untuk mendaftar adalah masuk agama Kristen dahulu, jika tidak mau maka tidak bisa ikut mendaftar. Akhirnya Tri tidak jadi mendaftar sebagai satpam dan tetap bekerja di Posnet.
Lama kelamaan karir Darwati, istri Tri meningkat, dari seorang
cleaning service naik menjadi pegawai kontrak dari pegawai kontrak Darwati ditawari akan diangkat menjadi pegawai tetap di yayasan UKSW
asalkan mau masuk Kristen. Dari sini mulai muncul kegundahan dalam hati Darwati, akankah ia harus pindah lagi ke Kristen atau tetap memeluk agama suaminya yaitu Islam. Di sisi lain diangkat menjadi pegawai tetap adalah masa depan yang menjanjikan bagi kehidupan anak-anak mereka. cukup lama Darwati bergulat dengan suara hatinya, akhirnya Darwati meminta saran dari Tri, suaminya. Tri sempat bingung, antara tanggung jawabnya sebagai seorang Islam dengan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Tri paham bahwa pegawai tetap adalah masa depan yang menjanjikan bagi keluarganya. Akhirnya Tri memutuskan memberi ijin Darwati untuk pidah Kristen lagi dengan alasan demi masa depan anak- anak mereka.
Setelah Darwati mendapat persetujuan suaminya, ia menemui pimpinan yayasan dan menyatakan kesediaannya. Setelah itu ia pergi ke Gereja untuk mengikuti pendalaman agama Kristen selama tiga bulan kemudian Darwati dibaptis di GKJ depan UKSW. Pada tahun 2004 Darwati resmi diangkat menjadi pegawai tetap di UKSW.
Di tahun 2004 ini juga ada lowongan sebagai satpam UKSW, oleh Kepala Bagian juga menerapkan bahwa yang boleh mendaftar harus beragama Kristen atau mau memasuki agama Kristen. Tri sempat kecewa, karena ia masih ingin mempertahankan agamanya. Kemudian ia mendapat info dari seniornya dan diberi saran jika mau mendaftar satpam dan diharuskan masuk Kristen, Tri disuruh menjawab “ya Pak, saya akan
pekerjaan di UKSW. Setelah mendaftar dan diterima sebagai satpam, Tri tetap mempertahankan agamanya, ketika ditanya oleh Kepala Bagiannya
Tri hanya menjawab “saya sudah mencoba Pak, tetapi tetap tidak bisa.”
Ternyata tidak ada tindakan atau sanksi apapun dari Kepala Bagian tersebut, sehingga Tri masih memeluk Islam hingga saat ini.
Pihak luar tersebut membidik tepat sasaran pada titik kelemahannya yaitu ekonomi. Jika tidak didasari iman yang kuat, seseorang akan mudah menukar agamanya dengan alasan kebutuhan ekonomi.
Di masa kecil Darwati pun demikian. Darwati berasal dari keluarga Budha, namun karena orang tuanya tidak menanamkan agama Budha secara ketat dan ia sekolah di sekolah Kristen dan mengikuti pelajaran