PERKAWINAN LINTAS AGAMA DI KELURAHAN BUGEL
C. Profil Pasangan Suami Istri Pelaku Perkawinan Lintas Agama 1 Pasangan Untung Subiyanto dan Mutiah
5. Pasangan Tri Antara Riyadi dan Darwat
Pasangan ini pertama kali bertemu di Tangerang, mereka sama- sama perantau yang bekerja di sana. Tri yang bersal dari Bantul merantau ke Tangerang bekerja sebagai buruh di pabrik keramik. Darwati yang berasal dari Bedono bekerja sebagai buruh di pabrik sepatu. Tempat kost yang dekat membuat Tri dan Darwati sering bertemu hingga akhirnya berkenalan dan berpacaran. Dua tahun lamanya mereka saling mengenal hingga akhirnya memutuskan untuk hidup bersama dan mengikatkan diri dalam suatu perkawinan.
Dari awal perkenalan mereka, Darwati sudah bersikap terbuka terhadap pasangannya. Memang sempat ada sedikit kesalahpahaman antara Tri dan Darwati. Pada awalnya Tri mengira Darwati adalah seorang muslim karena di waktu sahur dan buka, Darwati ikut makan sahur/buka bersama teman-temannya. Namun pada suatu hari minggu Tri bertemu Darwati pergi ke Gereja, baru di saat itulah Tri mengetahui bahwa Darwati
ternyata seorang Kristen. Di lubuk hati Darwati sempat ada ketakutan akankah keluarga Tri bisa menerima dirinya yang seorang Kristen.
Pada tanggal 15 Maret 1996 Tri dan Darwati melaksanakan akad perkawinan di rumah kontrakan keluarga Darwati di Pringsari, Kemiri. Akad dilakukan secara Islam dihadiri keluarga besar Tri dan keluarga besar Daryati. Pak Giyono adalah kakak ipar Darwati yang menikahkan mereka. Setelah akad selesai dilanjutkan dengan resepsi dan hari itu juga (sore) langsung diboyong ke Bantul.
Pihak keluarga Darwati menerima Tri apa adanya, bahkan hingga saat ini Tri merupakan menantu yang paling disayang oleh orang tua Darwati. Pada saat Darwati menyatakan kehendaknya untuk menikah dengan Tri yang notabene seorang Muslim, orang tua Darwati menerima secara ikhlas. Karena orang tua Darwati juga menyadari bahwa agamanya dan agama anaknya juga berbeda. Kedua orang tua Darwati beragama Budha sedang Darwati memilih untuk menjadi seorang Kristen.
Di masa kecilnya, orang tua Darwati tidak terlalu keras menanamkan agama Budha kepadanya. Sejak kecil hingga kelas 6 SD,
Darwati sering diajak pergi do‟a oleh kedua orang tuanya, namun pada
saat itu Darwati tidak mengerti apa itu Budha. Darwati hanya paham kalau agama itu hanya ada dua, Islam dan Kristen. Menginjak usia SMP, Darwati sekolah di SMP Kristen. Dari pelajaran yang diterima di sekolah tersebut keimanan Darwati sebagai seorang Kristen mulai tumbuh, hal itu dikuatkan ketika Darwati masuk ke SMEA Kristen. Bagi orang tua
Darwati, yang penting anaknya menjalani agamanya dengan baik. Jadi ketika Darwati memperkenalkan Tri yang seorang Muslim, tidak ada masalah, yang penting mereka bisa saling memahami, saling terbuka dan hidup berdampingan.
Begitu juga ketika Tri mengutarakan kehendaknya untuk menikah kepada orang tuanya dan mengatakan bahwa calon istrinya adalah seorang Kristen. Ayah Tri pernah menyarankan untuk mencari istri yang Islam, namun Tri meyakinkan bahwa Darwati adalah jodoh yang diberikan Tuhan untuknya. Karena Tri sudah merasa cocok dan mantap dengan pilihannya, maka ayah Tri hanya menyarankan akad nikah dilakukan secara Islam. Tri juga meyakinkan ayahnya bahwa akad nikah akan dilakukan secara Islam karena Darwati bersedia mengikuti agama Tri.
Sebenarnya Tri juga berasal dari keluarga Katholik. Kakek dan Nenek Tri adalah seorang Katholik, ayah dan saudara-saudaranya juga terlahir dan dididik secara Katholik. Namun ketika bertemu dengan bu Asih (ibu Tri) dan memutuskan menikah dengannya, ayah Tri pindah ke agama Islam hingga saat ini.
Setelah perkawinannya Tri dan Darwati tinggal bersama orang tua Darwati di Kemiri. Pasca kelahiran anaknya yang pertama (18 Agustus 1996), Tri dan Darwati kembali ke Tangerang untuk bekerja, sedangkan anaknya tetap tiggal bersama orang tua Darwati.
Gambar 3.6 Kartu Keluarga Tri-Darwati
Kerusuhan pada tahun 1998 membuat keadaan perekonomian di Tangerang tidak stabil, hal tersebut membuat Darwati memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan pulang ke Salatiga. Selang beberapa waktu Tri juga diminta kembali ke Salatiga oleh keluarganya. Setelah kepulangannya, Tri bekerja serabutan. Hingga suatu hari Tri ditawari pekerjaan oleh salah satu pegawai UKSW sebagai penjaga caffe. Setelah empat tahun lamanya, Tri dipindah ke Posnet yaitu warnet di wilayah kampus UKSW.
Pada tahun 2001 Darwati ditawari bekerja sebagai cleaning service
di UKSW. Lama kelamaan karir Darwati semakin meningkat, dari
cleaning service menjadi pegawai kontrak. Pada tahun 2004 Daryati diusulkan menjadi pegawai tetap, namun dengan syarat Darwati masuk
agama Kristen. Kebingungan dan kebimbangan melanda Darwati yang hingga saat itu masih memeluk Islam. Darwati pun meminta pertimbangan Tri sebagai suaminya. Setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk demi masa depan anak-anak mereka, Tri merelakan istrinya untuk kembali memeluk Kristen. Tri hanya berharap jika Darwati ingin kembali ke Kristen Darwati mampu menjadi orang Kristen yang baik. Dan akhirnya Darwati kembali memeluk Kristen demi pekerjaannya tersebut. Darwati dibaptis kembali di GKJ depan UKSW.
Pada tahun itu juga (2004), Tri mendaftar menjadi satpam di UKSW dan diterima. Pernah selama dua kali bekerja di lingkungan UKSW, Tri ditawari untuk masuk Kristen agar mendapatkan pekerjaan di sana. Namun Tri masih bisa mempertahankan keimanannya sehingga tidak sampai meninggalkan agamanya.
Perkawinan Tri dan Darwati dikaruniai dua orang putra, anak I bernama Danang Guswantoro (18 Agustus 1996) dan anak II bernama Enggal Junian Bagas Catur (24 Juni 2000). Kedua anaknya lahir di Kemiri. Setelah kontrakan di Kemiri habis, mereka pindah kontrakan ke Soka hingga akhirnya pada 18 Oktober 2009 pindah ke rumahnya sendiri yang baru selesai dibangun yang berada di wilayah Kelurahan Bugel.
Selama tinggal di Kemiri, penerimaan masyarakat cukup baik. Karena mereka menikah di sana secara Islam sehingga dalam menjalankan agama tidak ada masalah. Setelah pindah ke Soka, masyarakat yang mayoritas beragama Kristen juga menerima mereka dengan baik. Pak Tri
cukup aktif mengikuti kegiatan keagamaan di wilayah Soka seperti Yasinan. Bahkan pernah sekali rumah mereka mendapat jatah ditempati untuk kegiatan Yasinan tersebut. Pada waktu itu Darwati masih seiman dengan Tri sehingga tidak ada masalah.
Tri juga sudah mulai mengajari anak pertamanya yang masih
duduk di TK untuk pergi ke Masjid untuk sholat Jum‟at dan mengarahkan
anaknya pergi TPA. Namun sejak tahun 2004 yaitu setelah Darwati kembali memeluk Kristen, anaknya mulai tertarik mengikuti agama ibunya. Menurut pengakuan Darwati anaknya terlalu sulit belajar
membaca al qur‟an dan ingin pergi ke Gereja saja seperti ibunya.
Memang sejak anak-anaknya masih kecil, Tri dan Darwati berusaha semaksimal mungkin untuk memperkenalkan anak-anak mereka dengan Tuhan. Tri dan Darwati hanya mengarahkan anak-anaknya untuk menemukan yang terbaik.
Walaupun Tri dan Darwati hidup dalam perbedaan agama namun mereka menjalaninya dengan baik. Ketika Tri melaksanakan ibadah puasa, Darwati tetap memenuhi kebutuhan suaminya di saat sahur maupun buka. Meski agama mereka berbeda Darwati tetap harus bertanggung jawab terhadap suaminya. Darwati berharap suaminya menjalankan agamanya 100%, menjadi penganut Islam yang taat. Untuk itulah Darwati sering
mengingatkan waktu sholat, sholat jum‟at maupun pada saat pengajian.
Gereja. Ketika kedua anak mereka dibaptis pun dengan suka rela Tri mengantarkan mereka ke Gereja.
Terselip harapan di dalam hati kecil mereka suatu saat nanti keluarga mereka berada dalam satu keimanan. Bagi Tri keinginan tersebut sangat besar karena Tri adalah kepala keluarga yang harus bertanggung jawab akan keluarganya dunia dan akhirat. Begitu juga Darwati yang mengharapkan suaminya mengikuti keimanannya. Namun karena keadaan yang tidak memungkinkan dan dari mereka tidak ingin memaksakan kehendak maka mereka hidup dalam perbedaan yang ada. Agama merupakan hak asasi manusia, selain itu jika tidak ada yang mengalah tentu rumah tangga yang dibangun tidak akan mampu bertahan lama.
Dalam hidup berumah tangga dengan adanya perbedaan yang ada, yang penting mereka saling menghormati, saling menghargai, saling memahami dan jujur kepada pasangan masing-masing. Itulah kunci yang selalu dipegang kuat oleh keluarga Darwati danTri.
BAB IV