BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN
B. Penyajian Data
2. Faktor-faktor Terjadinya Pernikahan di Depan
a. Hasil wawancara dengan Bapak JFN selaku warga masyarakat RT. 01 RW. 04 Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga tanggal 13 November 2015, menjelaskan:
Pernikahan di depan jenazah seperti yang dilakukan saudari DUR, Dusun Kriya, RT. 01 RW.04 Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga menurut pandangan masyarakat sekitar dikarenakan ada amanah bahwa keinginan sang orang tua melihat pernikahan anaknya namun sudah lebih dulu meninggal. Dimana pada saat itu tidak terdapat musyawarah untuk menunda pernikahan, akan tetapi tetap dilaksanakan secara sederhana yang merupakan inisiatif
dari Kiai S mendasarkan pada riwayat rasulullah shallallahu ‘alaihu
wasallam bersabda:
َّنُهْرِّخَؤُت َلْ ُّيِلَع اَي ٌةَثلاَث : ُمِّيَلأاَو ، ْتَرَضَح اَذِإ ُةَزاَنَجْلاَو ، ْتَتَأ اَذِإ ُةلاَّصلا
اًؤُفُك ْتَدَجَو اَذِإ
Artinya: “Wahai Ali, ada tiga perkara yang tidak boleh engkau tunda,yakni shalat jika telah tiba waktunya, jenazah apabila telah hadir, dan wanita apabila telah ada calon suami yang
sekufu” (HR. Tirmidzi dan Ahmad; hasan)
b. Hasil wawancara dengan Bapak IJ salah satu warga masyarakat RT. 02 RW. 04 Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota
74
pernikahan tersebut, merupakan bagian adat istiadat daerah kelurahan tingkir lor. Menurut mitos, apabila khitbah atau akad tidak dilakukan sebagaimana telah direncanakan tetapi pada saat tidak terduga bertepatan dengan adanya musibah meninggalnya salah satu orang tua mempelai akan mendapatkan musibah melebihi dari yang dialami pada saat itu. Selain itu, juga merupakan wujud rasa hormat atau penghormatan terakhir orang tuanya sebagai wujud bakti semasa hidupnya sepanjang tidak menyalahi syarat dan rukun nikah sesuai dengan agama yang dianut.
c. Hasil wawancara DUR Dusun Kriya, RT. 01 RW. 04 Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga tanggal 13 November 2015 (pelaku pernikahan di depan jenazah orang tua), memaparkan: pernikahan ini dilakukan karena terdapat amanah/wasiat dari almarhum bapak H.M. FH yang masih mempunyai beban berat ingin menikahkan saya tetapi belum sempat sudah meninggal dikarenakan sakit jantung. Selain itu, menurut pendapat Kiai pernikahan boleh dilakukan menyangkut kaidah ushul fiqh yaitu 3 (tiga) perkara yang
tidak boleh di tunda (“Tiga perkara tidak boleh ditunda-tunda yaitu: Shalat bila telah tiba waktunya, jenazah bila telah siap dan perempuan bila telah ditemukan jodohnya yang sepadan” (HR. Baihaqi dan lain-lain dari Ali ra).
Pernikahan yang saya langsungkan telah memperoleh ijin dari KUA Tingkir, dengan catatan proses administrasinya menyusul secepatnya.
75
Pada Jum’at, 24 Mei 2015 akhirnya prosesi pernikahan di depan
jenazah berlangsung di rumah duka, Kakak laki-laki DUR (anak kedua almarhum) yang menikahkan DUR dengan disaksikan oleh jama’ah
ta’ziyah. Setelah prosesi nikah selesai dilanjutkan upacara pemakaman.
Senin, 27 Mei 2013 proses administrasi KUA Tingkir, setelah sampai di KUA Tingkir. Sesuai arahan Kepala KUA Tingkir proses akad nikah kembali dilakukan atau pembaharuan akad nikah (tajdidun nikah) (dengan catatan, nikah pada 24 Mei 2013 tetap sah, nikah pada hari ini sifatnya hanya untuk menguatkan saja agar sesaui dengan administrasi kantor KUA). Akad nikah di KUA dengan penghulu dari KUA, saksi kakak kandung laki-laki dan pegawai KUA).
3. Pandangan Hukum Islam Terhadap Pernikahan Di Depan Jenazah
Orang Tua di Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga
Pernikahan di depan jenazah boleh dilakukan asalkan syarat dan rukun nikah yang terpenuhi, tentulah pernikahan itu sah. Sepanjang ada kedua mempelai, wali, saksi serta ijab-qobul. Yang menjadi permasalahan disini, apakah jenazah itu masuk dalam syarat dan rukun nikah? Misalnya, karena yang meninggal adalah ayah si mempelai, maka ia dihadirkan dalam kesempatan itu sebagai wali. Tentu hal ini sangat menyalahi aturan dan mustahil dilakukan. Mengingat dalam prosesi ijab-qobul, dimana mempelai laki-laki harus berinteraksi dengan wali secara lisan.
76
Sebab Rasulullah selalu memposisikan pernikahan itu dengan kebahagiaan, bahkan memerintahkan agar dihidangkan makanan pertanda berlangsungnya walimatul’ursy, sehingga diperbolehkannya nyanyian dengan alat pukul. Semua itu memberi isyarat bahwa pernikahan itu adalah kegembiraan, bukan kesedihan. Adapun wali, jika seorang bapak berhalangan mewalikan anaknya bisa diwakilkan oleh nasab atau sanak keluarga yang lain, seperti: kakak laki-laki, adik laki-laki, paman, uwak dan seterusnya menurut urutan hak wali. Karena dalam tuntunan Islam, jika yang menjadi wali meninggal, maka hak wali itu akan beralih ke yang berikutnya. Jika dalam hal ini si bapak (kandung sudah meninggal), maka kakek atau saudara laki-lakinya, bisa menggantikan posisi si bapak tersebut.
Merujuk pada sabda rasulullah saw yang berbunyi: ”Hai Ali, ada tiga perkara yang tidak boleh ditunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila sudah tiba waktunya, jenazah apabila sudah siap penguburannya dan wanita bila menemukan laki-laki sepadan yang meminangnya (HR. Ahmad).
Untuk memenuhi wasiat almarhum (meringankan beban yang ada di pundak almarhum dan akad nikah disaksikan orang banyak) dengan berpatokan kepada ushul fiqh mengenai hadis nabi tentang 3 hal yang harus disegerakan. Kemudian meminta ijin ke KUA, alhamdulillah diberi ijin melangsungkan pernikahan dengan konsekuensi proses administrasi di KUA diadakan pengulangan akad
77
nikah dengan disaksikan keluarga dan pegawai KUA yang berfungsi untuk menguatkan syarat administrasi akan tetapi akad nikah yang dilaksanakan sebelumnya tetap sah.
Kehadiran jenazah dalam pernikahan hanya dimaksudkan untuk sekedar disandingkan dengan anaknya yang menikah, memang tidak masalah. Pernikahan yang dilangsungkan tetap sah, sepanjang terpenuhi rukun dan syarat nikah. Hanya saja kembali pada pokok persoalan, sejauh mana kehadiran jenazah membawa manfaat. Apabila dikembalikan pada aturan agama yang memerintahkan kepada ahli waris untuk segera menguburkan jenazah.
Pelaksanaan akad nikah didepan jenazah yang terjadi, disatu sisi mereka tetap berpegang teguh pada syar’i dalam artian mereka
tidak meninggalkan syarat-syarat yang ditentukan oleh para ahli fiqh. Hal ini terlihat dengan adanya ijab dan qabul yang tetap dilaksanakan oleh masyarakat. Selain itu, pernikahan ini tidak menemukan adanya
penyimpangan syar’i yang terjadi dalam pelaksanaan akad nikah di
depan jenazah, karena yang mereka lakukan hanya sebuah tradisi yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat dan bukan menjadi satu bagian daripada syarat maupun rukun nikah itu sendiri. Bila dilihat dari kedudukan jenazah itu sendiri, tidak ditemukan adanya penyimpangan
terhadap syar’i sebab jenazah dalam pelaksanaan akad nikah tidak
memiliki peran sama sekali, baik sebagai wali maupun saksi.
78
pernah merasakan hal ini sebagai sebuah aib bagi pelakunya. Yang menjadi landasan adalah kaidah yang mengatakan bahwa;
ِناَمْزَلأا ِرِيْغَتِب ِماَكْحَلأا ُريْغَت ُرُكْنَي َلْ
Artinya: “Tidak dapat diingkari bahwa hukum berubah karena
perubahan keadaan (zaman).”(Mubarok, 2002:156)
Dalam Islam diajarkan, bahwa syarat akad nikah antara lain adalah (a) adanya calon istri dan calon suami (b) masing-masing bukan
termasuk mawani’un-nikah, (c) antara keduanya merupakan sejodoh atau kafa’ah. Berkaitan dengan keharusan untuk melakukan tradisi ini, banyak para ulama mengatakan bahwa manusia, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat, tidak bisa lepas dari mitos ini.
Oleh karena itulah, hukum pelaksanaan akad nikah di depan
jenazah ini, bukanlah satu kewajiban syar’i yang harus dilaksanakan namun itu hanya sebuah “kewajiban” bisa dikatakan hanya
melaksanakan amanah/wasiat dari mendiang almarhum belaka. Jika tidak dilakukan juga tidak akan mengakibatkan sebuah konsekuensi hukum agama.
79 BAB IV ANALISIS DATA
A. Pelaksanaan Akad Nikah Depan Jenazah Orang Tua di Kelurahan
Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga
Berdasarkan pada paparan hasil penelitian bab III, peneliti mencoba menganalis tentang pelaksanaan akad di depan jenazah orang tua yang terjadi di Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, antara lain:
Pertama, merujuk dan bersandar kepada kaidah-kaidah fiqh yang telah
disepakati bersama oleh para fuqaha, yang diambil dari Al-Quran dan As-Sunnah. Dari kaidah-kaidah ini, dalil akan diambil dan hukum akan
diletakkan diatasnya. Merujuk pada Al-Qur'an, bahwa nikah itu sangat dianjurkan dalam Islam, seperti dalam QS. Ar-Rum ayat 21:
Artinya: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir".(Departemen Agama RI., 1994:644).
Oleh karena nikah merupakan salah satu anjuran, maka para ahli fiqh
kemudian mensyaratkan beberapa hal yang harus dipenuhi dalam melaksanakan akad nikah tersebut sebagai usaha untuk mencegah umat dari perbuatan yang dilarang oleh agama. Melihat pelaksanaan akad nikah
80
didepan jenazah yang terjadi di Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir Kota Salatiga, penulis menilai bahwa disatu sisi mereka tetap berpegang teguh pada syar’i dalam artian mereka tidak meninggalkan syarat-syarat yang ditentukan oleh para ahli fiqh. Hal ini, terlihat dengan adanya ijab dan
qabul yang tetap dilaksanakan oleh masyarakat. Mengenai ucapan atau lafal yang digunakan masyarakat di Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir Kota Salatiga lebih memilih memakai bahasa mereka sendiri, misalnya dengan bacaan ijab sebagaimana yang dilakukan oleh DUR dan TW, yakni:
َنِم ِللهاِب ُذوُعَا
ِمْيِحَّرلا ِنَمْحَّرلا ِالله ِمْسِب * ِمْيِجَّرلا ِن اَطْيَّشلا *
ِمْيِظَعْلا َالله ُرِفْغَتْسَا
× …
3
ِهْيَلاِ ُبْوُتَاَو ِبْوُنُّذلاَو ْيِصاَعَمْلا ِعْيِمَج ْنِم
ِالله ُلْوُسَّر اًدَّمَحُم َّنأ ُدَهْشَا َو * ُ اللهَّلِْا َهَلِالآ ْنَا ُدَهْشَا *
ِالله ِمْسِب
ِنْبا ِدَّمَحُم اَنِدِّيـَس ِلله ِلْوُسَر ىَلَع ُمَلاَّسلاَو ُةَلاَّصلاَو ِلله ُِِدْمَحْلاَو
ُهَلاَّو ْنَمَو ُهرَـَصَنَو ُهَعـِبَت ْنَمَو ِهِب اَحْصَاَو ِهِلآ ىلَعَو ِاللهِدْبَع
–
َلْوَحَلَْو
َّيِاَو ْمُكْيِصَوُأ :ُدْعَب اَّمَا ِللهاِبَّلِْا َةَّوُقَلَْو
نْوُقَّتُمْلاَزاَف ْدَقَف الله يَوْقَتِب َيا –
اَي
..………
ْنِب
! …………
ْيِتَنْباِ َكُتـْجَّوَزَو َكُتـْحَكْنَا
..………
ِرْهَمِب
..…………
اًدْقـَن
Mendasarkan hal tersebut penulis belum menemukan adanya penyimpangan syar’i yang terjadi dalam pelaksanaan akad nikah di depan jenazah, karena yang mereka lakukan hanya memenuhi amanah/wasiat dari mendiang almarhum K.H. FM dan bukan menjadi satu bagian daripada syarat maupun rukun nikah itu sendiri. Bila dilihat dari kedudukan jenazah itu sendiri, tidak ditemukan adanya penyimpangan
81
terhadap syar’i sebab jenazah dalam pelaksanaan akad nikah tidak memiliki peran sama sekali, baik sebagai wali maupun saksi.
Begitu juga dari persyaratan yang harus dipenuhi calon mempelai pria dalam melakukan khitbah sebelum dilangsungkannya akad nikah, tidak ada penyimpangan. Dalam Islam diajarkan, bahwa syarat akad nikah antara lain: (a) adanya calon istri dan calon suami (b) masing-masing bukan termasuk mawani’un-nikah, (c) antara keduanya merupakan sejodoh atau
kafa’ah (Ahmad, 1992:103-113). Menitikberatkan pada macam-macam bentuk ‘urf sebagaimana telah dipaparkan bab II dapat dikatakan bahwa kasus yang terjadi di Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir Kota Salatiga ini termasuk ‘urf shahih mengingat apa yang dilakukan dengan tradisi ini ternyata bisa diterima oleh masyarakat dimana tradisi tersebut dijalankan dan juga tidak bertentangan dengan syara’. Oleh karena itu, implikasi dari pelaksanaan tradisi ini bagi masyarakat adalah terciptanya sikap toleransi antara mereka yang melaksanakan dengan mereka yang tidak mau melaksanakan.
Mengutip pendapat Abdul Haq dalam bukunya “Formulasi Nalar Fiqh
Telaah Kaidah Fiqh Konseptual” (2006:292), menyatakan bahwa
syarat-syarat adat secara umum sebuah tradisi dapat dijadikan pijakan hukum, yakni:
1. Adat tidak bertentangan atau berbenturan dengan teks syari’at artinya adat
tersebut berupa adat shahih. Sehingga tidak akan menganulir seluruh aspek substansial nash. Sebab bila seluruh isi subtantif nash tidak teranulir, maka tidak dinamakan bertentangan dengan nash, karena masih
82
terdapat beberapa unsur nash yang tak tereliminasi. Contohnya adalah seperti dapat dipindah.
2. Adat berlaku konstan dan menyeluruh atau minimal dilakukan kalangan mayoritas. Bilapun ada yang tidak mengerjakan, maka itu hanya sebagian kecil saja dan tidak begitu dominan. Cara mengukur konstansi adat sepenuhnya diserahkan pada penilaian masyarakat, apakah pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang mereka sering lakukan atau tidak. Yang dimaksud adat konstan adalah adat yang bersifat umum dan tidak berubah-ubah dari waktu ke waktu.
3. Adat sudah terbentuk bersamaan dengan masa penggunaannya. Hal ini dapat dilihat dalam istilah-istilah yang biasa dilakukan dalam transaksi jual beli, wakaf atau wasiat. Konstruksi hukum pada ketiga jenis transaksi ini harus disesuaikan dengan istilah-istilah yang berlaku saat transaksi itu berlangsung, bukan kebiasaan yang akan terbentuk kemudian. Misalnya ada seseorang yang mewakafkan tanahnya untuk para ulama, sementara menunjuk orang-orang ahli fiqh, bukan ahli selain fiqh.
4. Tidak terdapat ucapan atau pekerjaan yang bertentangan dengan nilai-nilai substansial adat. Misalnya: dalam pernikahan di depan jenazah prosesi akad nikah (ijab qobul) disertai dengan mas kawin (mahar) dimana terdapat wali dan saksi terjadinya pernikahan.
Kedua, pelaksanaan pernikahan (akad nikah) di depan jenazah orang tua hanya sebatas memenuhi bagian dari amanah/wasiat almarhum dengan berlandaskan pada kaidah ushul fiqh yaitu ‘Ali r.a mengabarkan, Rasulullah
83
mengakhirkannya. Yaitu sholat apabila tiba (waktunya), jenazah apabila telah sempurna (kematiannya), dan wanita jika telah menemukan pasangan yang
sepadan dengannya” (HR. Tirmidzi).
B. Faktor Terjadinya Pernikahan Depan Jenazah Orang Tua di Kelurahan
Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga
Mendasarkan pada objek penelitian terjadinya akad nikah di Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga dilatar-belakingi oleh adanya amanah dari mendiang almarhum sebelum meninggal dunia yang intinya ingin almarhum masih memiliki beban berat yakni ingin menikahkan putri terakhirnya sebelum meninggal karena keadaan kesehatan.
Selain itu, berdasarkan hasil penelitian wawancara dari beberapa tokoh masyarakat/ulama dan masyarakat di kelurahan tersebut dapat peneliti analisa bahwa faktor-faktor yang melatar-belakangi pernikahan di depan jenazah berbagai macam, antara lain:
1. Kepercayaan dan Adat
Kehidupan dalam masyarakat segala pola tingkah laku individu anggota masyarakat selalu dibatasi oleh norma-norma hukum yang tidak tertulis dan ditaati oleh individu yang bersangkutan pula. Pola tingkah laku tersebut meliputi pergaulan menyangkut masalah pernikahan. Urusan pernikahan yang terkait dengan masa depan, mereka tidak terlepas dari kepercayaan, dimana sebelum perkawinan dilaksanakan biasanya kedua orang tua mempelai menentukan hari pelaksanaan nikah dengan
84
perhitungan hari, pasaran calon mempelai serta dicari hari yang baik. Begitu pula untuk pemasangan terop (pemasangan hiasan janur) juga dicarikan hari-hari yang baik pula. Karena dengan perhitungan yang baik tersebut akan membawa ketentraman hidup dan dapat terhindar dari malapetaka.
2. Menjalankan Amanah/Wasiat
Hal ini merupakan pemahaman terhadap permasalahan hukum yang tidak disebut dalam al-syari’, bisa dikatakan bahwa persoalan muamalah pada hakekatnya secara sosiologis muncul sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Menurut pandangan penulis bahwa akad nikah di depan jenazah dipahami sebagai satu bentuk pesan Allah SWT bagi manusia untuk melihat apa yang ada merupakan ketetapan-Nya. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 242;
Artinya: “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu memahaminya”.
Berkenaan dengan hukum pelaksanaan akad nikah di depan jenazah, penulis dalam hal ini juga tetap merujuk pada realitas yang ada seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ibn Qayyim dalam bukunya I`ilam al-Muwaqqi`in;
“Seorang mufti dan hakim tidak akan mampu untuk memberi fatwa atau hukum dengan benar kecuali dengan dua bentuk kefahaman. Salah satunya ialah memahami realitas dan hukum fiqh. Lalu menghasilkan pengetahuan mengenai hakikat yang sejajar dengan tanda-tanda dan petunjuk-petunjuk yang ada. Bentuk yang kedua ialah memahami kewajiban dalam berhadapan
85
dengan realitas yaitu memahami hukum Allah yang ditetapkan dalam kitab- Nya atau melalui Rasul-Nya, kemudian menerapkan salah satu (Al-Quran/Sunnah) pada yang lain. Siapa yang melakukan usaha dan upaya yang demikian itu, tidak akan hilang darinya dua pahala atau satu pahala” (Ibn Qayyim,
I`lam al-Muwaqqi`iin, As-Sa`aadah, Juz I, hlm. 77-78)
Bertitik tolak dari obyek penelitian, penulis memakai penalaran istislahi, mengingat yang menjadi pedoman disini adalah kemaslahatan umum. Istilah ini dipakai dengan pertimbangan bahwa yang menjadi permasalahan kedua adalah justru pada diharuskannya masyarakat Kelurahan Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir Kota Salatiga untuk melaksanakan tradisi nikah di depan jenazah. Selanjutnya, dengan metode al-masalih al-mursalah diharapkan dalam menentukan hukum nikah di depan jenazah akan lebih bisa diterima. Dalam pemikiran ushul fiqh terdapat cara penentuan legalitas maslahat yang diantaranya adalah maslahat yang tidak terdapat legalitas nas baik terhadap keberlakuan maupun ketidakberlakuannya. Mengingat nikah di depan jenazah merupakan satu tradisi suatu daerah, sehingga untuk mencari nas khusus,
kalaupun ada hanya pada persoalan ‘urf.
Akad nikah di depan jenazah sebagai sebuah kebudayaan, merupakan sesuatu yang berada diluar kemauan manusia, diluar kemampuan seseorang dan keberadaannya memaksakan kehendaknya pada para individu. Kemudian dari sini muncullah pola budaya ideal yang memuat hal-hal yang diakui sebagai kewajiban yang harus dilakukan dalam keadaan tertentu dan pola seperti ini kemudian sering disebut dengan norma. Ketika sebuah tradisi telah menjelma dalam norma
86
kehidupan, kesepakatan untuk merubahnya pun memerlukan satu proses dan jelas akan membutuhkan satu perjuangan tersendiri.
Unsur-unsur dari pernikahan di depan jenazah terdapat beberapa hal yang harus dikoreksi lagi, mengingat dalam unsur tradisi tersebut mengandung beberapa macam hal yang terasa janggal, seperti:
a. Bakti terakhir anak terhadap orang tua
Pelaksanaan pernikahan di dekat jenazah orang tua sebelum dikebumikan merupakan bentuk dari penghormatan/ungkapan rasa bakti seorang anak terhadap orang tua. Wujud berbakti kepada orang tua dalam agama Islam tidak mengenal waktu atau usia. Adapun, bentuk-bentuk bakti anak terhadap orang tua dalam Islam, sebagai berikut: 1) Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik.
Maksudnya memberi kegembiraan kepada seorang mu’min termasuk
shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.
2) Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. 3) Tidak boleh sombong apabila sudah meraih sukses atau
mempunyai jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan. Kedua orang tualah yang menolong dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.
4) Memberikan infak (sadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua.
87
Menurut penulis bentuk bakti terakhir kepada orang tua dalam bentuk pernikahan di depan jenazah orang tua tidak sesuai dengan bentuk dan macam bakti kepada orang tua yang dianjurkan oleh Islam. Apabila pernikahan tersebut dijadikan alasan rasa bakti anak terhadap orang tua, merupakan hal yang sudah mengada-ada termasuk dalam kategori bid’ah.
b. Bala’ (malapetaka/musibah)
Pernikahan di depan jenazah ada istilah terkena balak. Hal ini karena kepercayaan sebuah masyarakat jika tidak melaksanakan tradisi tersebut, maka akan terkena balak atau kesialan. Kepercayaan semacam ini dalam Islam dikategorikan sebagai tathayyur, dan tathayyur sendiri termasuk pada syirik. Sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah SWT QS. At-Taghabun ayat 11:
Artinya: “tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah
Maha mengetahui segala sesuatu”.
Maksud ayat di atas adalah bahwa segala sesuatu yang terkait masalah musibah, semua itu yang mengatur adalah Allah SWT bukan karena sesuatu yang lain. Jadi pada dasarnya kepercayaan terhadap akan
datangnya bala’ merupakan sebuah kesyirikan karena menganggap bahwa
bala’, musibah dan kesialan datangnya dari Allah. Dan tathayyur (merasa
sial karena sesuatu) disabdakan oleh rasulullah SAW bukan termasuk golongannya. Sebagaimana sabda beliau yang artinya: tidak termasuk
88
golongan kami orang yang bertathayyur atau meminta ditathayyurkan, atau menenung atau diminta ditenungkan, atau menyihir atau diminta disihirkan -Thabrani dari Ibnu Abbas dengan isnad yang baik.
c. Tidak Menyegerakan Mayit
Berlama-lama membiarkan jenazah tidak disegerakan untuk dikubur seperti halnya yang terjadi ketika pernikahan di depan jenazah dilaksanakan. Maka hal itu akan menimbulkan pertentangan pada hadits Nabi SAW yang berbunyi: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi SAW bersabda percepatlah pengurusan jenazah. Jika dia orang baik, maka segera kau antarkan kebaikan/kenikmatan dan jika dia orang tidak baik maka segera kau hindarkan kejelekan itu darimu (HR. Al-Bukhari,
nomor hadist 1315)”.
d. Mengundur Waktu Pernikahan Hingga Ganti Tahun
Pernikahan di depan jenazah ada beberapa serangkaian tradisi yang dilakukan jika tidak melaksanakan pernikahan di depan jenazah, diantaranya yaitu mengundur waktu pernikahan hingga ganti tahun. Hal ini dilakukan agar pernikahan kedua mempelai nanti tidak merasakan suasana berkabung lagi ketika pernikahan tersebut dilaksanakan. Oleh karena itu, pengunduran waktu pernikahan hingga tahun depan bertujuan untuk menghilangkan masa berkabung salah satu mempelai pengantin agar nantinya ketika pernikahan dilaksanakan penuh suka cita.
Pengunduran waktu pernikahan hingga ganti tahun sebagaimana yang dijelaskan di atas dalam rangkaian pernikahan di depan jenazah dalam pandangan Islam yaitu boleh. Hal ini karena tidak adanya suatu tindakan yang menyalahi aturan Islam. Islam
89
menganjurkan untuk segera menyegerakan pernikahan jika sudah mampu baik secara lahir maupun batin. Namun ketika terjadi musibah seperti peristiwa kerubuhan gunung, maka pengunduran waktu pernikahan adalah suatu hal sangat tepat, karena pada saat peristiwa kerubuhan gunung terjadi, kesiapan mental dari salah satu pihak mempelai pasti tertekan. Hal seperti ini, dapat mengurangi tingkat kesiapan seseorang untuk melangsungkan pernikahan. Oleh karena itu, untuk menjaga kesempurnaan pernikahan yang dibalut dengan suka