• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Kemandirian Nelayan

2.1.1. Umur

Hanafi (1993: 58) menulis bahwa umur seseorang merupakan salah satu karakteristik individu yang besarannya mempengaruhi fungsi biologis dan psikologis individu tersebut. Secara kronologis, umur dapat memberikan petunjuk untuk menentukan tingkat perkembangan individu karena relatif lebih mudah dan akurat untuk ditentukan (Salkind, 1985: 31).

Terkait dengan masalah umur seseorang dalam melakukan suatu usaha, Staw (dalam Riyanti, 2003: 35) menyatakan bahwa umur ketika seseorang memulai usaha menjadi kurang penting, tetapi apabila sudah ada pelatihan dan persiapan yang memadai, maka semakin awal memulai suatu usaha akan semakin baik daripada menundanya. Hurlock (dalam Riyanti, 2003: 35) berpendapat bahwa perkembangan karir berjalan seiring dengan proses perkembangan manusia. Ia mengelompokkan perkembangan karier manusia menjadi tiga kelompok umur, yaitu umur dewasa awal (umur 18 tahun - 40 tahun), umur dewasa madya (umur 40 tahun - 60 tahun), dan umur dewasa akhir (umur di atas 60 tahun).

2.1.2. Pendidikan Formal

Istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental (Hasbullah, 2006 ; 1).

Beberapa pengertian pendidikan yang dapat ditemukan, antara lain dikemukakan oleh Hasbullah (2006: 5), bahwa: 1) pendidikan merupakan suatu proses terhadap anak didik yang berlangsung terus sampai anak didik mencapai dewasa susila, 2) pendidikan merupakan perbuatan manusiawi yang lahir dari pergaulan antara orang dewasa dan orang yang belum dewasa dalam suatu kesatuan hidup, 3) pendidikan merupakan hubungan antar pribadi pendidik dan anak didik, dan 4) tindakan atau perbuatan mendidik menuntun anak didik mencapai tujuan-tujuan tertentu, dan hal ini tampak pada perubahan-perubahan dalam diri anak didik.

Undang-Undang No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Diknas, 2003).

Berdasarkan jenjang dan jenisnya, Undang-Undang tersebut menyatakan adanya jenjang pendidikan formal yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Sedangkan jenis pendidikannya mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, keagamaan dan khusus.

Pendidikan dasar sebagaimana dimaksudkan dalam Undang-Undang di atas, merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar yang terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan, dapat berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat. Selanjutnya, pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi.

2.1.3. Pengalaman Berusaha

Pengalaman adalah hasil dari proses mengalami oleh seseorang yang akan berpengaruh pada informasi yang diterima. Pengalaman akan menjadi dasar pembentukan pandangan individu untuk memberikan tanggapan dan penghayatan (Walker, 1973). Sedangkan menurut Padmowihardjo (1994: 19-20) pengalaman adalah suatu kepemilikan pengetahuan yang dialami seseorang dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Seseorang akan menghubungkan hal yang dipelajari dengan pengalamannya dalam proses belajar. Seluruh pemikiran manusia, kepribadian dan temperamen, secara psikologis ditentukan oleh pengalaman indera.

Staw (dalam Riyanti, 2003: 37) berpendapat bahwa pengalaman dalam menjalankan usaha merupakan prediktor terbaik bagi keberhasilan suatu usaha, terutama bila usaha itu berkaitan dengan pengalaman usaha sebelumnya.

Kebutuhan akan pengalaman mengelola usaha semakin diperlukan dengan meningkatnya kompleksitas lingkungan.

2.1.4. Jumlah Anggota Keluarga

Jumlah anggota keluarga dimaksudkan sebagai banyaknya anggota keluarga yang ditanggung kehidupannya. Besar kecilnya tanggungan keluarga sangat terkait dengan tingkat pendapatan seseorang. Jumlah keluarga yang semakin besar menyebabkan seseorang memerlukan tambahan pengeluaran atau kebutuhan penghasilan yang lebih tinggi untuk membiayai kehidupannya. Hernanto (1993: 94) mengatakan bahwa besarnya jumlah anggota keluarga yang akan menggunakan jumlah pendapatan yang sedikit akan berakibat pada rendahnya tingkat konsumsi. Hal ini berpengaruh terhadap produktivitas kerja, kecerdasan dan menurunnya kemampuan berinvestasi.

Soekartawi (1986: 113-114) berpendapat bahwa banyaknya tanggungan keluarga akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan keluarga. Jumlah keluarga yang semakin besar menyebabkan seseorang memerlukan tambahan pengeluaran atau kebutuhan penghasilan yang lebih tinggi untuk membiayai kehidupannya.

Dengan demikian, besarnya jumlah tanggungan keluarga akan meningkatkan motivasi seseorang dalam mencari nafkah sebagai bagian tanggungjawab moral dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

2.1.5. Sifat Perintis Nelayan

Rogers dan Shoemaker (1971; 183) menulis bahwa perintis (innovator) memiliki obsesi petualang (venturesome). Mereka sangat gemar untuk mencari gagasan-gagasan baru. Minat ini mendorong mereka untuk mencari hubungan dengan pihak-pihak di luar sistem, keluar dari lingkaran teman-temannya sendiri.

Berkaitan dengan itu, Littauer (1996; 351) menggunakan istilah adventurous (petualang) yang menunjuk kepada orang yang mau melakukan suatu hal baru dan berani dengan tekad untuk menguasainya.

Rogers dan Shoemaker (1971: 183) selanjutnya menulis bahwa nilai yang paling menonjol pada orang yang berjiwa perintis adalah pemberani dan petualang.

Mereka suka pada hal-hal yang menyerempet bahaya, berani mengambil resiko dan seringkali terburu nafsu. Karena itu, orang yang memiliki sifat ini juga harus siap menerima kemunduran (setback) jika salah satu ide baru yang diadopsinya ternyata tidak berhasil. Minat mereka yang demikian besar untuk mencoba setiap gagasan baru, mendorong mereka untuk mencari hubungan dengan pihak di luar sistem.

Sifat-sifat di atas merupakan keniscayaan bagi seorang wirausaha yang sukses. Suryana (2006: 34) menulis bahwa wirausaha harus berani mengambil resiko dan belajar untuk mengelolanya. Berani mengambil resiko yang telah diperhitungkan sebelumnya merupakan kunci awal dalam dunia usaha, karena hasil yang akan dicapai akan proporsional dengan resiko yang akan diambil. Cara untuk mengelola resiko dapat dilakukan dengan mentransfer atau berbagi resiko kepada pihak lain seperti bank, investor, konsumen, pemasok, dan lan sebagainya.

Hal seperti ini hanya dapat dilakukan oleh pelaku usaha yang memiliki sifat perintis.

Nelayan yang memiliki sifat perintis senantiasa akan merespon setiap teknologi atau cara baru dalam menjalankan usaha penangkapan ikan dan selalu siap menghadapi resiko sebagai akibat dari keputusannya tersebut.

Ringkasan

Umur, pendidikan formal, pengalaman berusaha, jumlah anggota keluarga dan sifat perintis nelayan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya merupakan faktor penting untuk diketahui agar gambaran kecenderungan perilaku nelayan dalam menjalankan usaha penangkapan ikan dapat diketahui dengan jelas. Faktor-faktor tersebut melekat pada diri nelayan yang dibentuk oleh Faktor-faktor biologis dan faktor sosio-psikologis dalam lingkungan sosialnya. Setiap individu nelayan memiliki perbedaan pada faktor-faktor tersebut sehingga berimplikasi pada perbedaan kemandirian dalam menjalankan usaha penangkapan ikan.

Potensi yang dapat dipelajari melalui faktor umur, pendidikan formal, pengalaman berusaha, jumlah anggota keluarga dan sifat perintis nelayan adalah sebagai berikut: (a) Umur akan memberikan gambaran mengenai kematangan mental dan akumulasi pengalaman nelayan, (b) pendidikan formal dapat memberi penjelasan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental yang dimiliki oleh nelayan, (c) pengalaman merupakan prediktor yang dapat memberi pertimbangan dalam memilih stimulus berdasarkan pengalaman usaha sebelumnya, (d) Jumlah anggota keluarga dapat menjadi beban sekaligus dorongan untuk lebih giat menambah kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, dan (e) sifat perintis menunjuk pada upaya nelayan dalam mencari gagasan, cara atau tempat-tempat penangkapat (fishing ground) baru untuk mengembangkan usahanya.