• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Kompetensi

2.2.1. Kompetensi yang Perlu Dikuasai oleh Nelayan

Ralph Linton (dalam Depdikbud, 1996:72) menyatakan bahwa alam sekitar di mana suatu masyarakat bermukim banyak mengatur dan menentukan kehidupan mereka, bagaimana mereka mencari nafkah, bagaimana sistem pengetahuan mereka, bagaimana sistem kepercayaan mereka dan bagaimana hubungan-hubungan dan perilaku sosial mereka lainnya.

Masyarakat pesisir, khususnya yang menggantungkan kehidupannya sebagai nelayan, memiliki sistem pengetahuan kemaritiman dan berbagai aspek yang berkaitan dengan laut. Depdikbud (1996:72-82) telah mengidentifikasi beberapa pengetahuan tradisional nelayan antara lain: a) pengetahuan tentang angin dan hujan didasarkan pada perhitungan bulan hijriyah, b) pengetahuan

tentang bintang-bintang untuk menentukan arah dan daerah yang dituju, c) pengetahuan tentang karang, d) pengetahuan tentang lokasi dan waktu

penangkapan, e) pengetahuan tentang ombak, dan f) pengetahuan tentang hari baik dan hari buruk.

Selain beberapa pengetahuan tradisional tersebut di atas, terdapat beberapa aspek kompetensi yang perlu dikuasai oleh nelayan dalam kaitannya dengan usaha penangkapan ikan, sebagai berikut:

2.2.1.1. Aspek Perencanaan

Definisi yang sangat sederhana mengatakan bahwa perencanaan adalah kegiatan menetapkan tujuan dan memilih langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Definisi ini cocok untuk perencanaan sederhana yang tujuannya dapat ditetapkan dengan mudah dan tidak terdapat faktor pembatas yang berarti untuk mencapai tujuan tersebut. Namun pada tingkat berikutnya, perencanaan dapat didefinisikan sebagai menetapkan suatu tujuan yang dapat dicapai setelah memperhatikan faktor-faktor pembatas, memilih, serta menetapkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan tesebut (Tarigan, 2006: 1-2)

Begitu pentingnya aspek perencanaan dalam menjalankan suatu usaha, sehingga David H. Bangs, Jr (dalam Alma, 2007: 216) menyatakan bahwa seorang pengusaha yang tidak bisa membuat perencanaan sebenarnya telah merencanakan kegagalan. Oleh karena itu, nelayan yang kompeten adalah nelayan yang dapat menetapkan tujuan dan memilih langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuannya terutama pada aspek modal, produksi, dan pemasaran hasil produksi.

2.2.1.2. Aspek Permodalan

Menurut de Jonge (dalam Kusnadi, 2000: 99-100) kegiatan perikanan sangat padat modal. Modal tersebut digunakan untuk membeli sarana produksi, seperti perahu, jaring, dan mesin. Selain untuk membeli sarana produksi dan biaya peralatan atas kerusakannya setiap saat, persediaan modal juga diperlukan untuk membiayai kebutuhan operasi perahu setiap hari.

Modal usaha dapat bersumber dari modal sendiri, namun pada kegiatan perikanan skala usaha kecil, modal kadang juga bisa bersumber dari pinjaman keluarga dekat atau teman dekat. Bagi usaha yang sudah berjalan, modal juga bisa berasal dari laba yang ditahan untuk cadangan dari keuntungan usaha yang diperoleh selama beberapa periode sebelumnya (Effendi dan Oktariza, 2006: 98)

Sebagian nelayan mencari modal pinjaman (kredit) dari pihak pedagang pengumpul atau dari tukang pembunga uang untuk membiayai usahanya, walaupun dengan tingkat bunga yang tinggi. Pada umumnya sumber kredit yang paling penting bagi nelayan adalah pedagang pengumpul (tengkulak). Biasanya nelayan membayar kredit tersebut dengan hasil produksi atau harus menjual hasil

produksinya kepada pedagang yang bersangkutan dengan harga yang disetujui bersama. Harga yang disetujui tersebut tidak setinggi harga pasaran yang berlaku setempat, tetapi lebih rendah dan cenderung merugikan pihak nelayan (Hanafiah dan Saefuddin,1983: 178-179).

2.2.1.3. Penentuan Daerah Penangkapan

Nelayan yang kompeten memiliki pengetahuan tentang daerah penangkapan (fishing ground) ikan demersal. Daerah penangkapan ikan demersal dapat diketahui oleh nelayan melalui tanda-tanda atau triangulasi visual yang diwariskan secara turun-temurun, atau melalui pengetahuan tentang letak gugusan ekosistem terumbu karang.

Perubahan daerah tangkapan ke daerah yang lebih jauh dari pantai, akan terjadi pula perubahan kedalaman (depth) perairan, dari perairan dangkal ke perairan yang lebih dalam. Daerah kontinental shelf depth (sampai sekitar 200 m) merupakan fishing ground yang banyak dipakai, tetapi dengan kapal yang lebih besar mungkin dilakukan penangkapan ikan-ikan dasar (demersal) pada depth yang lebih dalam dari 350 m. (Sudirman dan Mallawa, 2004: 6 -7).

2.2.1.4. Penentuan Waktu Menangkap

Nelayan memiliki pengetahuan yang telah diwariskan secara turun temurun dalam menentukan waktu penangkapan yang dapat memberi hasil yang lebih banyak. Waktu di sini dapat berarti musim yang dilalui sepanjang tahun dan dapat pula berarti waktu yang dilalui dalam 24 jam sehari semalam.

Kusnadi (2000: 94) menjelaskan keadaan ikan di perairan pantai pesisir berkaitan dengan kondisi musim setiap tahunnya. Musim kemarau berlangsung pada bulan Mei-Oktober, sedangkan musim hujan berlangsung pada November-April. Musim ikan berlangsung pada musim hujan yang secara efektif hanya selama tiga bulan, yakni Januari, Februari, dan Maret. Pada bulan-bulan tersebut, temperatur panas air laut rendah dan nelayan melakukan operasi penangkapan secara intensif. Sedangkan pada saat musim kemarau ketika temperatur panas air laut cukup tinggi, ikan sulit diperoleh dan tingkat penghasilan nelayan menurun.

Depdikbud (1996: 81) menulis bahwa menurut pengetahuan nelayan, waktu yang sebaik-baiknya untuk melakukan penangkapan ikan ialah pada waktu pagi dan sore hari karena air laut tidak begitu panas sehingga ikan bermain di permukaan. Demikian pula untuk waktu malam, penangkapan ikan dilakukan dalam keadaan bulan redup karena ikan-ikan akan naik ke permukaan.

2.2.1.5. Aspek Teknologi Penangkapan

Teknologi penangkapan ikan yang banyak digunakan oleh nelayan di Indonesia, pada umumnya masih bersifat tradisional, meskipun telah banyak perkembangan ke arah teknologi penangkapan yang lebih modern (Sudirman dan Mallawa (2004: 2). Teknologi penangkapan yang telah menjadi bagian dari kehidupan nelayan secara turun temurun maupun teknologi penangkapan yang baru mereka kenal, mengandung unsur kompetensi yang harus dikuasai .

Kompetensi nelayan dalam melakukan penangkapan ikan dapat diketahui dari alat tangkap yang digunakan. Teknologi penangkapan yang digunakan oleh nelayan telah disebutkan dalam Statistik Indonesia (dalam Sudirman dan Mallawa (2004: 10) seperti trawl, pukat, jaring, pancing dan perangkap (seperti bubu dan sero). Nelayan yang kompeten adalah nelayan yang memiliki pengetahuan tentang alat tangkap tersebut dan dapat menggunakannya sesuai dengan karakteristik ekosistem daerah penangkapan dan jenis ikan yang ditangkap.

2.2.1.6. Aspek Pengambilan Keputusan dalam Memecahkan Masalah

G.R. Terry (dalam Syamsi, 2000: 5) memberikan definisi pengambilan keputusan sebagai pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih.

Sedangkan Stoner dan Freeman (1989: 140) mengatakan bahwa pengambilan keputusan adalah proses untuk mengidentifikasi dan menyeleksi seperangkat tindakan untuk memecahkan masalah tertentu.

Pengambilan keputusan terjadi sebagai reaksi terhadap masalah. Artinya terdapat penyimpangan antara keadaan sekarang dan keadaan yang diinginkan, yang menuntut pemikiran mengenai tindakan alternatif. Karena itu, dalam setiap proses pengambilan keputusan diperlukan data dan informasi untuk kemudian ditafsirkan dan dievaluasi. Pengambilan keputusan bisa didasarkan atas intuisi, rasio, fakta, pengalaman, dan wewenang. Keputusan yang didasarkan atas intuisi lebih bersifat subyektif, mudah terkena sugesti, pengaruh luar, rasa lebih suka yang satu daripada yang lain, dan faktor kejiwaan lainnya (Robins, 2006: 180-181).

Wiriadiharja (1987: 169) menulis bahwa dalam proses pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio harus melalui langkah-langkah: 1) merumuskan masalah, 2) pengumpulan informasi, 3) memilih pemecahan keputusan yang paling layak, dan 4) melaksanakan keputusan.

2.2.1.7. Pengendalian Usaha

Pengendalian usaha adalah bagian penting yang selalu harus diperhitungkan oleh nelayan. Perahu atau kapal yang sedang berada di tengah-tengah lautan sangat perlu untuk dikendalikan, demikian pula dengan musim dan semua yang berhubungan dengan fenomena alam yang akan menghambat kegiatan penangkapan. Usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian, seperti menunda penangkapan (Sastrawidjaja dan Manadiyanto, 2002: 41-42). Selain itu, pengendalian dapat dilakukan dengan penciptaan alat tangkap seperti bubu yang dapat dipasang meskipun cuaca tidak bersahabat.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam pengendalian usaha penangkapan ikan adalah mengenai harga produksi. Apabila harga produksi tidak mampu dikendalikan dengan baik, maka boleh jadi nelayan akan rugi atau tidak mendapatkan keuntungan optimal. Oleh karena itu, Hanafiah dan Saefuddin (1983:

92) menulis bahwa dalam rangka pengendalian usaha untuk mendapatkan harga terbaik, maka penjualan hasil produksi harus dibandingkan dengan produk-produk serupa yang dijual oleh pihak pesaing. Dalam pada itulah, penentuan harga jual harus mempertimbangkan trend harga umum apakah meningkat atau menurun. Hal ini penting karena perubahan harga yang fluktuatif pada produk-produk perikanan, karena adanya variasi dalam penerimaan pasar yang kadang-kadang menyolok sekali, maupun karena perubahan sementara dalam permintaan konsumen.

2.2.1.8. Aspek Pemasaran

Jolly dan Clonts (1993: 259), mengemukakan definisi pemasaran yang dikhususkan pada produk akuakultur terutama ikan. Dikatakan bahwa pemasaran produk akuakultur adalah kinerja (performance) dari keseluruhan aktivitas usaha yang dilibatkan dalam aliran produk dan jasa akuakultur sejak dari awal proses produksi hingga berada di tangan konsumen. Pemasaran ikan (fish marketing), bukanlah operasi mekanis maupun otomatis, tetapi merupakan proses yang kompleks di mana produk bentuknya dapat diubah, seperti ikan yang diubah menjadi fish cake.

Philip Kotler (dalam Kasmir, 2006: 158-160) mengatakan bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dengan mana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan cara menciptakan serta mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain melalui mekanisme penawaran dan permintaan.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran barang atau jasa. Permintaan dipengaruhi oleh harga barang itu sendiri, harga barang lain yang memiliki hubungan, pendapatan, selera, jumlah penduduk, dan faktor khusus (akses). Sedangkan penawaran dipengaruhi oleh harga barang itu sendiri, harga barang lain yang memiliki hubungan, teknologi yang digunakan, harga input (ongkos produksi), tujuan usaha, dan faktor khusus (akses).

Ringkasan

Kompetensi adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas secara efektif yang mencakup pengetahuan dan kecakapan pribadi untuk mencapai kinerja yang superior. Kompetensi dalam penelitian ini menyangkut kemampuan nelayan pada bidang kognitif dan kecakapan pribadi dalam menyikapi dan menjalankan usaha penangkapan ikan demersal. Kompetensi yang perlu dikuasai oleh nelayan dalam hal ini menyangkut 8 aspek usaha yakni: (1) aspek perencanaan, (2) aspek permodalan, (3) aspek penentuan daerah penangkapan, (4) penentuan waktu menangkap, (5) aspek teknologi penangkapan, (6) aspek pengambilan keputusan dalam memecahkan masalah, (7) pengendalian usaha, dan (8) aspek pemasaran.