BAB 4 KERANGKA TEORI, KONSEP, HIPOTESIS DAN
4.4 Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur Variable independen
Pendidikan Ijazah yang diperoleh pada bidang keperawatan
Mengisi Kuesioner
Kuesioner 1. D3 Keperawatan 2. S1 Keperawatan
Ordinal
Pengalaman kerja Periode waktu dalam tahun dimana perawat bekerja di unit rawat inap RS X
Mengisi Kuesioner
Kuesioner Lama Bekerja … tahun Untuk kepentingan
Kompetensi Level kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan berdasarkan standar yang dibuat oleh komite keperawatan RS X
Mengisi
dikelompokkan menjadi dua berdasarkan cut of point :
Kompetensi rendah : PK I dan PK II
Kompetensi tinggi : PK III, PK IV, PK V penyakit pada pasien yang ditangani di unit tempat bekerja selama 1 bulan
Mengisi Kuesioner
Kuesioner 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang Setuju 4. Sangat Kurang Setuju
Untuk kepentingan analisis, hasil skor dikelompokkan berdasarkan nilai tengah
Nominal
skor dan uji normalitas:
(1) Kompleks ≤ 10 (2) Tidak Kompleks >10
Kerja sama dalam unit
Persepsi perawat terhadap iklim kerja sama antar perawat, antara perawat dan dokter, dan antara perawat dan POS (Pembantu Orang Sakit) di unit tempat bekerja
Mengisi Kuesioner
Kuesioner 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang Setuju 4. Sangat Kurang Setuju
Untuk kepentingan analisis, hasil skor dikelompokkan berdasarkan nilai tengah skor dan uji normalitas : Kerjasama kurang ≤ 5 Kerjasama baik > 5
Ordinal
Gangguan atau interupsi
Adanya aktivitas lain yang harus dilakukan pada saat sedang memberikan pelayanan kepada pasien
Mengisi Kuesioner
Kuesioner 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang Setuju 4. Sangat Kurang Setuju
Untuk kepentingan analisis, hasil skor dikelompokkan
Odinal
berdasarkan nilai tengah skor dan uji normalitas:
Gangguan tinggi n >10 Gangguan rendah ≤ 10
Komunikasi Keaktifan interaksi verbal perawat dengan sesama perawat dan antar profesi di unit tempat bekerja, serta dengan pasien/keluarga pasien yang terkait dengan asuhan keperawatan
Mengisi Kuesioner
Kuesioner 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang Setuju 4. Sangat Kurang Setuju
Untuk kepentingan analisis, hasil skor dikelompokkan berdasarkan nilai tengah skor dan uji normalitas:
Komunikasi tidak efektif ≤ 9
Komunikasi efektif > 9
Ordinal dan mudah dijalankan
Mengisi Kuesioner
Kuesioner 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang Setuju 4. Sangat Kurang Setuju
Untuk kepentingan
Nominal
analisis, peneliti mengelompokannya kembali:
Persepsi tidak baik ≤ 13 Persepsi baik > 13
Kuesioner 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Kurang Setuju 4. Sangat Kurang Setuju
Untuk kepentingan
Setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien
Mengisi Kuesioner
Kuesioner 1. Tidak Pernah 2. Kadang-Kadang 3. Sering 4. Selalu
Untuk kepentingan
Nominal
analisis, peneliti mengelompokannya kembali:
IKP Positif ≤ 90% skor
IKP Negatif > 90% skor
BAB 5
METODOLOGI PENELITIAN
5.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang menjadi penyebab terjadinya insiden keselamatan pasien oleh perawat di unit rawat inap, dengan menganalisa faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya insiden keselamatan pasien oleh objek penelitian. Dengan demikian, penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan dengan survei analitik pendekatan kuantitatif menggunakan desain cross sectional, yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara variable-variabel yang termasuk risiko dan efek dengan cara pendekatan pengumpulan data sekaligus pada waktu yang sama. Sehingga dengan desain ini hasil dapat diperoleh dengan cepat dan dapat dikumpulkan variabel yang banyak, baik variable risiko maupun variable efek.
5.2. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit “X” di Jakarta khususnya di unit rawat inap. Dengan waktu penelitian atau pengambilan data yaitu pada bulan Desember Tahun 2012.
5.3. Populasi dan Sampel 5.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua perawat yang bekerja di Rumah Sakit “X” yang memiliki Pengalaman kerjalebih dari 1 tahun.
5.3.2. Sampel
5.3.2.1. Kriteria Inklusi
Responden yang memliki profesi sebagai perawat yang bekerja di unit rawat inap Rumah Sakit “X”, memiliki Pengalaman kerjalebih dari 1 tahun.
5.3.2.2. Kriteria Eksklusi
Responden yang bekerja di Rumah Sakit “X” berprofesi perawat namun menduduki jabatan struktural dan perawat yang sedang melaksanakan cuti.
5.3.2.3. Besar Sampel
Besar sampel untuk penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus sampel minimal untuk satu populasi (Lemeshow et.al) , yaitu:
n = Jumlah yang dibutuhkan N = Jumlah Populasi
Z 1-α/2 = tingkat kepercayaan sebesar 95%
p = Proporsi keadaan yang akan dicari p=50% (0,5) q = (1-p)
d = sampling error sebesar 10%
n = 225. (1.96)2 . (0.5). (0.5)
(0.1)2. (225-1) + (1.96)2. (0.5). (0.5)
= 216.09 2.24 + 0.9604
= 67
n = N. Z21-α/2PQ d2 (N-1)+Z21-α/2PQ
Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus diatas dari jumlah populasi sebesar 225 orang maka besar minimal sampel yang diperlukan adalah 67 orang. Untuk menghindari adanya drop out sample maka peneliti menambah jumlah sampel sebanyak 10% dengan begitu jumlah sampel keseluruhan adalah 74 orang. Namun berdasarkan pengalaman dari peneliti sebelumnya yang sudah melakukan penelitian ditempat yang sama, bahwa pengisian kuesioner oleh perawat mengalami kesulitan dalam hal pengembalian kuesioner, hal ini disebabkan kesibukan perawat dalam pekerjaan rutinnya. Oleh karena itu pada penelitian yang saya lakukan penyebaran kuesioner lebih banyak, yakni sejumlah 115 kuesioner.
5.3.2.4. Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel diambil dengan menggunakan propotion random sampling yaitu pengambilan sampel dengan memproporsikan sampel berdasarkan ruangan atau unit kerja perawat. Sehingga diharapkan keseluruhan sampel mewakili setiap ruangan atau unit kerja yang ada. Namun demikian, pemilihan responden juga mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi dari penelitian ini serta pertimbangan peneliti dan dari kepala ruangan atau kepala perawat di tiap ruangan rawat inap sampai memenuhi jumlah sampel yang dibutuhkan.
5.4. Teknik Pengumpulan Data 5.4.1. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini menggunakan sumber data primer. Sumber data primer berasal dari kuesioner yang memuat beberapa faktor yakni faktor karakteristik individu perawat
(pendidikan, masa kerja, kompetensi, umur), faktor sifat dasar pekerjaan (kompleksitas pengobatan pasien, kerja sama dalam unit dan gangguan atau interupsi), faktor lingkungan & organisasi (komunikasi, Standar Prosedur Operasional, kenyamanan tempat kerja).
5.4.2. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner sebagai alat untuk mengukur variable independen dan dependen. Kuesioner berisi pernyataan – pernyataan yang terkait, untuk karakteristik individu mengenai variabel tingkat pendidikan, masa kerja, kompetensi, dan umur; untuk sifat dasar pekerjaan berisi pernyataan terkait variabel kompleksitas pengobatan, kerjasama dalam unit, dan gangguan atau interupsi saat bekerja; serta untuk lingkungan organisasi dan sosial yang berisi pertanyaan terkait komunikasi, Standar Prosedur Operasional dan kenyamanan tempat kerja.
5.4.3. Cara Pengumpulan Data
Cara pengumpulan data untuk data kuantitatif adalah melalui instrument kuesioner yang diisi dengan cara mengisi kuesioner.
5.4.4. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian saat pengumpulan data dengan cara meminta persetujuan dari pihak rumah sakit. Kemudian peneliti menyebarkan kuesioner kepada unit-unit terkait dengan meminta persetujuan dengan kepala ruangan. Setelah kepala ruangan menyetujui peneliti meminta sampel untuk mengisi kuesioner. Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi kuesioner adalah 10 menit hingga 15 menit. Kuesioner diisi pada hari kuesioner tersebut diberikan dan
dikembalikan pada hari kuesioner diberikan setelah diisi oleh responden.
5.5. Uji Penelitian
5.5.1. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji coba kuesioner dilakukan terhadap 30 orang perawat di Rumah Sakit “X”. uji coba instrument dilakukan untuk mengetahui apakah pertanyaan dan pernyataan dalam kuesioner dapat dimengerti oleh perawat. Untuk melihat validitas dan reliabilitas kuesioner dilakukan pengujian yaitu :
1) Uji validitas instrumen mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam mengukur suatu data. Pengolahan uji validitas instrumen penelitian ini dengan menggunakan metode Item-Total Correlation.Pernyataan dinyatakan valid, jika r hitung ≥ r tabel (Priyatno,2009).
2) Uji reliabilitas instrumen adalah suatu ukuran yang menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dan dengan alat pengukur yang sama. Dilakukan dengan menggunakan teknik belah dua. Dengan teknik ini alat pengukur (kuesioner) dibelah menjadi dua, kemudian dilakukan uji korelasi dengan rumus korelasi product moment antara belahan pertama dengan belahan kedua (Soekidjo Notoatmodjo,2010)
5.6. Analisis Data
Analisis data penelitian kuantitatif dilakukan dengan cara:
1. Analisis Univariat
Digunakan untuk melihat distribusi frekuensi berupa gambaran statistik deskriptif dari masing-masing variabel.
2. Analisis Bivariat
Dilakukan analisis hubungan antara setiap variabel bebas dengan variabel terikat untuk melihat apakah hubungan yang terjadi bermakna secara statistik. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Squre untuk menganalisis hubungan antara variabel bebas kategorik dengan variabel terikat kategorik (Hastono, 2007).
BAB 6
HASIL PENELITIAN
Dalam melakukan penelitian ini menggunakan kuesioner yang belum pernah ada sebelumnya, sehingga terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas.
Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas didapatkan hasil dari perbandingan antara nilai r hasil dengan nilai r table (0,4132), terdapat beberapa pernyataan dalam kuesioner yang tidak valid. Untuk pernyataan yang tidak valid lebih disebabkan karena kurang jelasnya pernyataan tersebut karena berupa pernyataan positif dan negative. Untuk itu dilakukan perubahan susunan kalimat sehingga pernyataan lebih jelas dan penyusunan kembali posisi kalimat positif dan negative untuk mempermudah pemahaman pernyataan.
6.1. Hasil Analisis Univariat
Dalam penelitian ini, sampel yang diambil adalah perawat yang bekerja di RS X yang berjumlah 100 orang. Analisis univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi atau proporsi dari seluruh variabel independen dan dependen yang diteliti. Variabel independen pada penelitian ini terdiri dari karakteristik individu, meliputi usia, pendidikan, Pengalaman kerjadan kompetensi, kompleksitas pengobatan, kerjasama, gangguan, komunikasi, Standar Prosedur Operasional dan kenyamanan tempat kerja.
Sementara itu, Variabel dependen yang diteliti dalam penelitian ini adalah Insiden Keselamatan Pasien.
6.1.1. Karakteristik Individu
Dalam penelitian ini, yang dimaksud karakteristik individu responden adalah mencakup umur, pendidikan terakhir, jenjang kompetensi, dan masa kerja. Frekuensi tiap variable yang mewakili karakteristik individu tersebut dapat dilihat pada table berikut ini:
Tabel 6.1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Variabel
Pendidikan
Frekuensi Persentase (%) D3
Distribusi pendidikan responden (perawat pelaksana) adalah pada pendidikan D3 dan S1 Keperawatan. Dari hasil analisis univariat diketahui bahwa responden yang berpendidikan D3 jauh lebih banyak dibandingkan responden berpendidikan S1, dimana jumlah responden berpendidikan D3 adalah 75 responden atau sekitar 75%, sementara sisanya berpendidikan S1, yaitu 25 responden atau sekitar 25%.
Table 6.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja Variabel
Pengalaman Kerja
Frekuensi Persentase (%)
≤ 6 tahun
Untuk kepentingan penelitian, pengalaman kerja dikelompokkan dari nilai median pengalaman kerja tersebut, yaitu 6 tahun. Dari tabel 6.2 terlihat bahwa responden yang memiliki lama kerja ≤ 6 tahun adalah lebih banyak yaitu sejumlah 77 responden, sementara yang memiliki pengalaman kerja > 6 tahun adalah 23 responden.
Table 6.3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenjang Kompetensi
Variabel Jenjang Kompetensi
Frekuensi Persentase (%) Kompetensi rendah pendidikan, Pengalaman kerjadan pelatihan, kemudian dilakukan penilaian secara periodik oleh Komite Keperawatan. Untuk meningkatkan level, seorang perawat perlu mengikuti berbagai jenis pelatihan, termasuk pelatihan keselamatan pasien. PK I dan PK II dapat dijadikan satu kelompok karena memiliki kesamaan pada keikutsertaan dalam pelatihan keselamatan pasien pada tingkatan yang sama. Sementara, pada PK III dan V telah mengikuti pelatihan yang lebih lengkap termasuk mengenai keselamatan pasien dalam tingkat lanjutan dan telah memiliki pengalaman yang lebih lama dalam tahap implementasi penuh. Dari tabel 6.3 diketahui bahwa sebanyak 51 responden berkompetensi rendah atau dalam level PK I dan II, sementara sisanya 49 responden lainnya berkompetensi tinggi atau sudah dalam level PK III, IV, danV.
Tabel 6.4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Variabel
Umur
Frekuensi Persentase (%)
≤ 30 tahun
Dari hasil pengolahan data, diketahui bahwa rata-rata usia perawat yang menjadi responden adalah 30 tahun sehingga untuk kepentingan penelitian, usia responden dikelompokkan berdasarkan nilai mean sehingga terbentuk kelompok responden berusia ≤ 30 tahun sejumlah 51 orang dan responden berusia > 30 tahun sebanyak 49 atau 49% dari total responden.
6.1.2. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi terhadap Kompleksitas Pengobatan (Asuhan Keperawatan), Kerjasama, Gangguan/Interupsi, Komunikasi, Standar Prosedur Operasional, dan Kenyamanan Tempat Kerja Rumah Sakit “X”
Variabel kompleksitas pengobatan, kerjasama, gangguan/ interupsi, komunikasi, kenyamanan tempat kerja dan standar prosedur operasional dikembangkan dengan menggunakan data primer responden yang kemudian di analisis dengan memperhatikan nilai tengah skor dan normalitas persebaran data, seperti terlihat dalam table 6.5.
Tabel 6.5. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi terhadap Kompleksitas Pengobatan
Variabel Kompleksitas
Pengobatan
Frekuensi Persentase (%)
Kompleks Tidak Kompleks
61 39
77%
23%
Total 100 100%
Tabel 6.5 di atas menggambarkan distribusi responden berdasarkan setiap variabel. Terdapat sejumlah 61 responden yang berpersepsi bahwa pasien yang dilakukan perawatan di unit kerjanya adalah kompleks. Artinya,
sebagian besar responden memiliki persepsi bahwa asuhan keperawatan yang dilakukan adalah kompleks.
Tabel 6.6. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi terhadap Kerjasama dalam Unit
Variabel Kerjasama
Frekuensi Persentase (%) Kerjasama kurang
Variabel kerjasama, menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpersepsi kerjasama kurang yaitu sebanyak 75 responden atau sekitar 75%, sementara yang mempunyai persepsi kerjasama baik hanya 25 responden atau sekitar 25%.
Tabel 6.7. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi terhadap Gangguan/interupsi saat bekerja
Variabel Gangguan
Frekuensi Persentase (%) Tinggi
Pada table 6.7, variabel gangguan/interupsi saat bekerja, menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpersepsi mengalami gangguan tinggi pada saat bekerja yaitu sebanyak 64 responden atau sekitar 64%, sementara yang mempunyai persepsi gangguan rendah saat bekerja terdapat 36 responden atau sekitar 36%.
Tabel 6.8. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi terhadap Komunikasi
Variabel Komunikasi
Frekuensi Persentase (%) Tidak efektif sekitar 57% responden berpersepsi komunikasi tidak efektif, yang berarti bahwa mekanisme komunikasi antar profesi, dan antar sesama perawat tidak berjalan dengan baik walaupun perbedaannya tidak terlalu jauh dengan yang berpersepsi komunikasi efektif. Sementara responden yang mempunyai persepsi komunikasi efektif terdapat 43 responden atau sekitar 43%.
Tabel 6.9. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi terhadap Standar Prosedur Operasional (SPO)
Variabel SPO
Frekuensi Persentase (%) Persepsi tidak baik
Variabel Standar Prosedur Operasional menunjukkan sebaliknya, sebesar 84 orang berpersepsi baik terhadap SPO yang berarti bahwa sebagian besar responden telah mengetahui adanya SPO, mengerti, dan mendapatkan kegunaan SPO dalam menjalankan asuhan keperawatan yang aman, dan sekitar 16% bisa dikatakan tidak mengetahui adanya dan manfaat SPO di unit kerjanya.
Tabel 6.10. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi terhadap Kenyamanan Tempat Kerja
Variabel Kenyamanan
Frekuensi Persentase (%) Tidak Nyaman
Nyaman
88 12
88%
12%
Total 100 100%
Pada table 6.10, variabel kenyamanan tempat kerja, menunjukkan bahwa 88% responden berpersepsi tempat kerja tidak nyaman yang berarti bahwa responden sebagian besar merasakan ketidaknyamanan diruang perawatan tempat bekerjanya. Sementara responden yang mempunyai persepsi tempat kerja nyaman terdapat 12 responden atau sekitar 12%.
Persepsi atau penilaian yang kurang baik terhadap masing-masing variabel menggambarkan kecenderungan responden terhadap kejadian insiden keselamatan pasien. Semakin baik persepsi terhadap variabel-variabel tersebut maka akan semakin risiko terjadinya IKP di unit tempat kerja responden.
6.1.3. Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
Variabel IKP pada penelitian ini berdasarkan skor yang dihitung dari berbagai pertanyaan tentang insiden keselamatan pasien. Apabila skor kurang dari atau sama dengan 90% maka dimasukkan ke kelompok IKP Positif yang berarti menyebabkan IKP, dan jika skor lebih dari 90% dimasukkan dalam kelompok IKP Negatif yang berarti tidak menyebabkan IKP. Penentuan angka 90% ini berdasarkan kenyataan di lapangan dimana IKP adalah insiden yang dapat berakibat fatal jika terjadi kepada pasien dan rumah sakit harus mengutamakan keselamatan pasien dalam memberikan pelayanan, oleh karena itu perawat tidak di tolerir melakukan kesalahan ketika memberikan
pelayanan kepada pasien. Pada tabel 6.11 berikut ini tergambar distribusi frekuensi responden berdasarkan kejadian IKP:
Tabel 6.11. Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Rumah Sakit “X”
Variabel Frekuensi Persentase
IKP Positif 51 51%
IKP Negatif 49 49%
Total 100 100%
Tabel 6.11. menunjukkan bahwa sebaran IKP terlihat cukup mengkhawatirkan, dimana 51 IKP Positif (51%) yang berdasarkan penilaian responden pernah melakukan kesalahan dan mengakibatkan insiden keselematan pasien di unit kerja masing-masing. Sementara, jumlah IKP Negatif tidak jauh berbeda yakni 49 (49%).
6.2. Hasil Analisis Bivariat
6.2.1. Hubungan antara Pendidikan dengan Insiden Keselamatan Pasien
Table 6.12. Distribusi Responden Menurut Pendidikan Perawat dan Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
Pendidikan
Dari table 6.12 di atas dapat dilihat bahwa jumlah responden yang berpendidikan D3 jauh lebih banyak dari yang berpendidikan S1. Sebagian besar, sebanyak 47%, dari jumlah responden yang berpendidikan D3 menyebabkan IKP (IKP Positif). Sementara pada responden yang berpendidikan S1 memiliki proporsi yang lebih besar terhadap IKP. Akan tetapi, jumlah perbedaan proporsi kedua kelompok responden berdasarkan pendidikan ini tidak cukup menunjukkan hubungan antara variabel pendidikan dengan terjadinya IKP. Hal ini juga terlihat pada P-value sebesar 0.204 yang menunjukkan tidak ada perbedaan proporsi atau tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel pendidikan dengan kejadian IKP.
6.2.2. Hubungan antara Pengalaman kerjadengan Insiden Keselamatan Pasien
Table 6.13 Distribusi Responden Menurut Pengalaman kerjaPerawat dan Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
Masa Kerja IKP Total OR
(95% CI) P value Positif Negative
n % n % n %
≤ 6 tahun 35 64% 20 36% 55 100% 3.172
1.395 – 7.210
0.010
> 6 tahun 16 36% 29 64% 45 100%
Jumlah 51 51% 49 49% 100 100%
Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa responden terbagi dalam kelompok masa kurang dan sama dengan 6 tahun dan lebih dari 6 tahun.
Jumlah responden yang memiliki Pengalaman kerja≤ tahun adalah 55 orang sementara responden > 6 tahun adalah 45 orang. Pada kelompok responden yang memiliki lama kerja ≤ 6 tahun, sebanyak 35 orang terkait atau menyebabkan kejadian IKP (IKP Positif) sementara 20 lainnya tidak demikian. Sementara, pada kelompok responden yang telah bekerja > 6
tahun, distribusi terhadap keterkaitannya dengan IKP bertolak belakang dengan kelompok responden dengan Pengalaman kerja≤ 6 tahun.
Pada kolom p value dapat terlihat angka 0.010, dengan demikian bermakna bahwa ada perbedaan proporsi antara Pengalaman kerjadengan terjadinya IKP. Dengan kata lain, ada hubungan yang signifikan antara Pengalaman kerjadengan kejadian IKP.
Dengan nilai OR sebesar 3.1 atau 3, dapat diintepretasikan pula bahwa kelompok Pengalaman kerja≤ 6 tahun berisiko 3 kali lebih besar menyebabkan insiden keselamatan pasien.
6.2.3. Hubungan antara Kompetensi dengan Insiden Keselamatan Pasien
Table 6.14 Distribusi Responden Menurut Kompetensi Perawat dan Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
Table 6.14 menunjukkan proporsi antara kelompok responden berdasarkan kompetensi dan hubungannya dengan kejadian insiden keselamatan pasien (IKP). Dari keseluruhan, total responden berkompetensi rendah hampir sama dengan responden berkompetensi tinggi. Angka menunjukkan responden yang berkompetensi tinggi adalah 49 sementara
responden berkompetensi rendah adalah 51 responden. Pada kelompok berkompetensi tinggi, responden yang terkait atau menyebabkan kejadian IKP (IKP Positif) adalah sebanyak 19. Angka tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah responden berkompetensi tinggi yang tidak menyebabkan IKP (IKP Negatif). Sementara itu, pada kelompok berkompetensi rendah, responden yang terkait atau menyebabkan IKP jauh lebih banyak (32 orang) dibandingkan dengan yang tidak menyebabkan IKP (19 orang). P-value menunjukkan angka 0.028, artinya lebih kecil dari nilai p value α (0,05), maka disimpulkan bahwa ada perbedaan proporsi antara kompetensi dengan kejadian insiden keselamatan pasien, atau ada hubungan yang bermakna antara kompetensi dengan insiden keselamatan pasien.
Dilanjutkan dengan nilai OR sebesar 2.98 atau 3, yang berarti responden, dalam hal ini perawat, yang memiliki kompetensi rendah memiliki risiko 3 kali lebih besar menyebabkan kejadian IKP dibandingkan yang memiliki kompetensi tinggi.
6.2.4. Hubungan antara Usia dengan Insiden Keselamatan Pasien
Berikut ini analisis yang menggambarkan hubungan antara kelompok usia dengan risiko dan kejadian Insiden Keselamatan Pasien di RS X:
Table 6.15 Distribusi Responden Menurut Usia Perawat dan Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
Usia Responden
IKP Total OR
(95% CI) P value Positif Negative
n % n % n %
≤ 30 tahun 32 63% 19 37% 51 51% 2.66
1.2 – 5.9 0.028
> 30 tahun 19 39% 30 61% 49 49%
Jumlah 51 51% 49 49% 100
Dari table di atas dapat diketahui bahwa jumlah kelompok usia ≤ 30 tahun adalah 51 responden, lebih banyak dibandingkan kelompok usia > 30 tahun yang berjumlah 49 responden. Pada variabel usia ini terlihat bahwa sebagian besar responden memiliki kecenderungan menyebabkan IKP (IKP Positif). Sebaliknya, pada kelompok usia > 30 tahun, hanya sebagian kecil yang terkait atau menyababkan IKP. Di akhir perhitungan analisis didapatkan nilai p-value sebesar 0.028 yang berarti bahwa ada hubungan yang bermakna antara usia dengan potensi insiden keselamatan pasien. Dengan nilai OR sebesar 2.6 atau 3, dapat diintepretasikan pula bahwa kelompok usia ≤ 30 tahun berisiko 3 kali lebih besar menyebabkan insiden keselamatan pasien.
6.2.5. Hubungan antara Kompleksitas Pengobatan dengan Insiden Keselamatan Pasien
Pada table 6.16 di bawah ini, terlihat bahwa responden yang memiliki persepsi bahwa pengobatan yang kompleks berjumlah lebih banyak (61 orang) dibandingkan jumlah responden yang berpersepsi sebaliknya (39 orang). Dari kelompok responden yang memilki persepsi bahwa asuhan keperawatan kompleks, sebanyak 29 orang tersebut terkait atau menyebabkan IKP (IKP Positif), sementara 32 orang lainnya tidak terkait atau menyebabkan IKP (IKP Negatif). Sedangkan, pada kelompok responden yang memiliki persepsi kompleksitas pengobatan tidak kompleks, sebagian besar di antaranya justru terkait atau menyebabkan IKP.
Dari proporsi keduanya telah terlihat bahwa tidak ada perbedaan proporsi yang signifikan antara kedua kelompok (tidak kompleks dan kompleks) pada risiko menyebabkan insiden keselamatan pasien. Hal itu diperkuat lagi dengan nilai p-value yang lebih besar dari nilai p-value sebesar 0.255.
Table 6.16 Distribusi Responden Menurut Kompleksitas Pengobatan pada Asuhan Keperawatan dan Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
Kompleksitas
6.2.6. Hubungan antara Kerja Sama dengan Insiden Keselamatan Pasien
Table 6.17 Distribusi Responden Menurut Persepsi Kerjasama pada Asuhan Keperawatan dan Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
Kerjasama
Gambaran perbedaan proporsi antara kerjasama dengan risiko terjadinya insiden keselamatan pasien (IKP) ditunjukkan pada table 6.17 di atas. Dari segi proporsi kerjasama, kelompok responden yang memiliki persepsi terhadap kerjasama yang kurang baik berjumlah lebih sedikit, yaitu 38 orang, dibandingkan dengan responden yang berpersepsi kerjasama sudah baik, yaitu 62 orang. Pada kelompok yang berpersepsi kerjasama kurang baik, terlihat bahwa sebanyak 26 responden terkait atau menyebabkan IKP (IKP
Positif) sementara 12 lainya tidak. Artinya, pada kelompok responden yang memiliki persepsi kerjasama kurang baik, sebagian besar terkait atau
Positif) sementara 12 lainya tidak. Artinya, pada kelompok responden yang memiliki persepsi kerjasama kurang baik, sebagian besar terkait atau