• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.6 Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Ketepatan

Dalam penelitian ini, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan dibatasi dengan hanya menggunakan enam faktor saja dengan alasan karena melihat ketidakkonsistenan hasil penelitian sebelumnya mengenai faktor-faktor tersebut sehingga beberapa faktor ini dipilih menjadi variabel independen. Selain itu, untuk lebih memastikan faktor-faktor lainnya yang jarang untuk diteliti mengenai pengaruhnya terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan ke Bapepam.

2.1.6.1 Profitablitas

Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba perusahaan pada masa yang akan datang, dimana laba perusahaan merupakan salah satu informasi penting sebagai pertimbangan bagi investor dalam menanamkan modalnya kepada perusahaan tersebut. Semakin tinggi profitabilitas perusahaan, maka semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi perusahaannya, begitupun sebaliknya. Profitabilitas sebuah perusahaan juga mencerminkan tingkat efektivitas yang dicapai dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan.

Menurut Gitman (dalam Mentari, 2007 : 16), “Profitability is the relationship between revenues and cost generated by using the firm’s assets – both current and fixed – in productive activities”.

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu (Hanafi danHalim dalam Sulistyo, 2010 : 30). Terdapat tiga rasio yang dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas, yaitu: profit margin, return on assets (ROA),

return on equity (ROE).

Perusahaan yang mengumumkan profitabilitas perusahaan yang rendah atau rugi kepada publik, maka akan mendapatkan reaksi negatif dari pasar dan menurunnya penilaian atas kinerja perusahaan. Sedangkan perusahaan yang mengumumkan labanya kepada publik akan mendapatkan dampak positif tentang penilaian pihak lain terhadap kinerja perusahaan. Perusahaan yang memiliki profitabilitas yang rendah dapat dikatakan bahwa mempunyai berita buruk dan akan cenderung mempublikasikan laporan keuangannya tidak tepat waktu. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki profitabilitas yang tinggi dikatakan mempunyai berita baik dan cenderung menyampaikan laporan keuangannya tepat waktu.

2.1.6.2 Rasio Gearing

Rasio Gearing merupakan salah satu rasio financial leverage.

Financial leverage menunjukkan resiko suatu perusahaan sehingga berdampak pada ketidakpastian suatu harga saham. Wild dkk (2005 : 215) menyatakan bahwa :

Rasio leverage keuangan (financial leverage ratio) mengukur hubungan antara total aktiva dengan modal ekuitas biasa yang digunakan untuk mendanai aktiva. Semakin besar proporsi aktiva yang dibiayai oleh modal ekuitas saham biasa, semakin rendah rasio leverage keuangan. Untuk perusahaan yang berhasil

menggunakan leverage, rasio leverage keuangan yang tinggi meningkatkan pengembalian ekuitas. Sejalan dengan hal tersebut, risiko terkait dengan perubahan dalam profitabilitas lebih tinggi jika rasio leverage keuangan lebih tinggi.

Leverage merupakan alat ukur untuk menilai seberapa jauh perusahaan bergantung kepada kreditur dalam membiayai aset perusahaan. Leverage mengacu pada jumlah pendanaan yang berasal dari utang perusahaan kepada kreditur. Semakin tinggi tingkat leverage

suatu perusahaan, maka menunjukkan bahwa tingkat utang perusahaan tersebut tinggi. Selain itu semakin besar tingkat leverage suatu perusahaan, maka perusahaan tersebut akan cenderung mendapatkan tekanan untuk menyediakan laporan keuangan secepatnya bagi pihak kreditor dan bagi para semua pihak yang membutuhkannya.

2.1.6.3 Item-item Luar Biasa (Extraordinary Items)

Kieso et. al (2007 : 152) menyatakan item-item luar biasa (extraordinary items)sebagai berikut:

Item-item luar biasa (extraordinary items) didefinisikan sebagai pos-pos material yang jarang muncul, yang secara signifikan berbeda dengan aktivitas bisnis utama perusahaan. Item-item luar biasa adalah kejadian dan transaksi yang dibedakan oleh sifatnya yang tidak biasa dan oleh kejarangan terjadinya. Kriteria untuk pos-pos luar biasa adalah sebagai berikut:

1. Bersifat Tidak Biasa (unusual nature), artinya harus memiliki tingkat abnormalitas yang tinggi dan merupakan jenis yang secara jelas tidak berhubungan dengan, atau hanya bersifat insidentil berkaitan dengan, aktivitas normal dan umum perusahaan, dengan memperhitungkan lingkungan dimana perusahaan beroperasi.

2. Kejarangan Terjadi (infrequency of occurrence), artinya tidak diharapkan akan terjadi kembali di masa yang akan datang (foreseeable future), dengan memperhitungkan kondisi lingkungan dimana perusahaan beroperasi.

Kieso et. al (2007 : 152) juga memberikan klarifikasi lebih lanjut mengenai keuntungan dan kerugian yang merupakan bukan item-item luar biasa, yaitu:

1. Penurunan atau penghapusan piutang, persediaan dan peralatan yang dilease pada pihak lain, biaya penelitian dan pengembangan yang ditangguhkan serta aktiva tak berwujud yang lainnya.

2. Keuntungan atau kerugian dari transaksi valuta asing, termasuk devaluasi dan revaluasi.

3. Keuntungan atau kerugian pelepasan segmen bisnis.

4. Keuntungan atau kerugian dari penjualan bangunan, pabrik dan peralatan operasi.

5. Pengaruh dari pemogokan.

6. Penyesuaian akrual atas kontrak jangka panjang.

Publikasi item-item luar biasa (extraordinary items) akan menambah informasi yang harus disajikan oleh perusahaan pada pihak-pihak yang berkepentingan, dimana hal ini tentunya akan menambah waktu yang diperlukan untuk mengolah informasi tersebut. Maka dari itu, item-item luar biasa akan mempengaruhi perusahaan dalam ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaannya. Perusahaan yang memiliki item-item luar biasa, kemungkinan akan terlambat dalam pelaporan keuangan, sedangkan perusahaan yang tidak memiliki akun item-item luar biasa, akan tepat waktu melakukan pelaporan keuangannya.

2.1.6.4 Ukuran Perusahaan

Salah satu elemen yang dapat dikaitkan dengan ketepatan waktu pelaporan keuangan adalah ukuran perusahaan, dimana total aktiva dari perusahaan dapat digunakan menjadi sebagai salah satu faktor penentu

ukuran besar atau kecilnya sebuah perusahaan. Selain itu, besar kecilnya sebuah perusahaan juga dapat dilihat dari total penjualan, kapitalisasi pasar, jumlah tenaga kerja, dan sebagainya. Semakin besar nilai item-item tersebut, maka semakin besar pula ukuran sebuah perusahaan.

Semakin besar perusahaan, maka semakin banyak dan kompleks informasi yang terdapat di dalam perusahaan tersebut. Dengan demikian, manajemen harus dapat mengolah informasi tersebut dengan baik untuk dapat dilaporkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Apabila manajemen tidak mengolah informasi tersebut dengan baik, maka laporan keuangan yang dihasilkan tidak dapat mencerminkan kondisi perusahaan. Rachmat Saleh (dalam Almilia dan Setiady, 2006 : 4) menyatakan bahwa:

Ukuran perusahaan dapat menunjukkan seberapa besar informasi yang terdapat di dalamnya, sekaligus mencerminkan kesadaran dari pihak manajemen mengenai pentingnya informasi, baik bagi pihak eksternal perusahaan maupun pihak internal perusahaan. Perusahaan besar cenderung untuk menyajikan laporan keuangan lebih tepat waktu daripada perusahaan kecil.

2.1.6.5 Reputasi Kantor Akuntan Publik (KAP)

Laporan keuangan yang telah dihasilkan oleh manajemen perusahaan akan memberikan informasi yang sangat bermanfaat bagi para penggunanya, maka dari itu laporan keuangan tersebut harus disajikan secara lengkap, akurat, dan terpercaya. Selain itu, laporan keuangan tersebut harus disajikan sesuai dengan ketentuan dan standar akuntansi yang berlaku. Karena kebutuhan tersebut, perusahaan akan

menggunakan jasa Kantor Akuntan Publik (KAP) dalam meningkatkan mutu dari informasi yang terdapat di dalam laporan keuangan perusahaan.

Dalam hal peningkatan mutu dan kredibilitas dari laporan keuangan perusahaan, biasanya perusahaan akan menggunakan auditor yang berasal dari kantor akuntan publik yang besar serta memiliki reputasi atau nama baik. Kantor akuntan publik yang memiliki kriteria seperti ini terdiri dari KAP yang berafiliasi dengan kantor akuntan publik besar yang berlaku universal yang dikenal dengan Big Four Worldwide Accounting Four. Di Indonesia kategori KAP The Big Four

terdiri dari:

1. KAP Deloitte Touche Thomatsu, yang bekerjasama dengan KAP Osman, Ramli, Satrio dan rekan.

2. KAP Ernst and Young, yang bekerjasama dengan KAP Purwantono, Sarwoko dan Sandjaja.

3. KAP Price Waterhouse Coopers, yang bekerjasama dengan KAP Haryanto Sahari dan rekan.

4. KAP KPMG (Klynveld Peat Marwick Goerdeler), yang bekerjasama dengan KAP Siddharta, Siddharta dan Widjaja.

Menurut Loeb (dalam Sulistyo, 2010 : 36) menyebutkan bahwa “kantor akuntan publik besar memiliki akuntan yang berperilaku lebih etikal dibandingkan akuntan di kantor akuntan publik kecil”. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa kantor akuntan publik besar dapat

menghasilkan kualitas audit yang lebih baik dibandingkan kantor akuntan publik yang kecil. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang menggunakan jasa kantor akuntan publik besar cenderung lebih tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangannya yang telah diaudit kepada publik.

2.1.6.6 Pergantian Auditor

Dalam meningkatkan mutu laporan keuangan, perusahaan menggunakan jasa dari auditor independen untuk melakukannya. Terkadang perusahaan melakukan pergantian auditor yang bertugas untuk melakukan pemeriksaan terhadap laporan keuangan perusahaan. Pergantian auditor umumnya terjadi karena telah berakhirnya kontrak yang telah disepakati antara kantor akuntan publik dan perusahaan dan telah memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja tersebut untuk penugasan baru. Menurut Boynton dkk (1996 : 191), terdapat beberapa alasan pergantian auditor dalam penugasan baru, yaitu:

1. Perusahaan klien merupakan merger antara beberapa perusahaan yang semula memiliki auditor masing-masing yang berbeda.

2. Kebutuhan akan adanya jasa profesional yang lebih luas. 3. Tidak puas terhadap Kantor Akuntan Publik lama. 4. Keinginan untuk mengurangi pendapatan audit. 5. Merger antara beberapa Kantor Akuntan Publik.

Standar Profesional Akuntan Publik menjelaskan dalam SA seksi 315 (IAI : 315.2) bahwa “Permintaan keterangan kepada auditor pendahulu merupakan suatu prosedur yang perlu dilaksanakan, karena mungkin auditor pendahulu dapat memberikan informasi yang

bermanfaat kepada auditor pengganti dalam mempertimbangkan penerimaan atau penolakan perikatan”. Auditor pendahulu adalah auditor yang telah mengundurkan diri atau diberitahu oleh klien bahwa tugasnya telah berakhir dan tidak diperpanjang dengan perikatan baru. Auditor pengganti adalah auditor yang telah menerima suatu perikatan atau auditor yang diundang untuk mengajukan proposal audit. Menurut Mulyadi (2002 : 123) menyatakan sebelum menerima perikatan audit, auditor pengganti harus mencoba melakukan komunikasi tertentu berikut ini:

1. Meminta keterangan kepada auditor pendahulu mengenai masalah-masalah yang spesifik, antara lain mengenai fakta yang mungkin berpengaruh terhadap integritas manajemen, mengenai penerapan prinsip akuntansi, prosedur audit, atau soal-soal signifikan serupa, dan tentang pendapat auditor pendahulu mengenai alasan klien dalam penggantian auditor.

2. Menjelaskan kepada calon klien tentang perlunya auditor penggantio mengadakan komunikasi dengan auditor pendahulu dan meminta persetujuan dari klien untuk melakukan hal tersebut.

3. Mempertimbangkan keterbatasan jawaban yang diberikan oleh auditor pendahulu. Maka auditor pengganti harus mempertimbangkan pengaruhnya dalam memutuskan penerimaan atau penolakan perikatan audit dari calon klien.

Pergantian auditor yang dilakukan secara sukarela dapat dibedakan atas pihak mana yang menjadi fokus dalam terjadinya hal ini, yaitu: bisa dilakukan oleh pihak pemberi tugas (perusahaan) atau dapat juga dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik yang mundur dalam penugasan. Dalam pergantian auditor ini tentunya akan terdapat akibat dalam hal ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan. Dengan banyaknya prosedur yang akan ditempuh oleh auditor baru, maka akan

memerlukan waktu yang lebih lama dalam penyelesaian tugasnya, dikarenakan auditor baru harus berkomunikasi mengenai kondisi perusahaan dengan auditor lama. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya penundaan publikasi laporan keuangan perusahaan kepada pihak-pihak yang membutuhkan.

Dokumen terkait