BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Faktor- Faktor Yang
Kecamatan Mappakasungu Kabupaten Takalar
Dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai wadah aspirasi masyarakat, LPM selalu dituntut untuk memberikan kinerja yang baik yang dapat memenuhi harapan masyarakat. Dalam memberikan kinerja yang baik tentunya ada banyak faktor yang mempengaruhi kinerjanya didalam menjalankan tugasnya masing-masing baik itu faktor pendukung maupun faktor penghambat.
1. Faktor Pendukung
Adapun faktor pendukung yang menunjukkan bahwa masyarakat yang ikut serta aktif dalam merencanakan pembangunan yaitu tergantung pada tingkat pendidikan masyarakat dan utamanya kesadaran atau kemauan masyarakat dalam suatu kegiatan pembangunan, yaitu sebagai berikut:
a) Partisipasi masyarakat
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan di Desa Patani merupakan salah satu faktor pendukung terlaksananya beberapa program tahunan yang telah direncanakan. Keterlibatan masyarakat ini sangat dibutuhkan agar program pembangunan yang dilaksanakan benar-benar murni berdasarkan kebutuhan masyarakat, sehingga masyarakat akan lebih leluasa berekspresi mencapai kemajuan desa.
Hasil wawancara dengan Ketua LPM Desa Patani terkait dengan faktor yang mempengaruhi pembangunan desa menyatakan bahwa:
“Faktor pendukung yang lain adalah partisipasi masyarakat dalam
memberikan ide dan masukan terhadap permasalahan yang mereka hadapi, sangat membantu dalam penyusunan rencana kerja agar pembangunan dilaksanakan benar-benar untuk kebutuhan masyarakat”.(Wawancara dengan AL, 23 Juni 2019)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui salah satu faktor pendukung yang mempengaruhi pembangunan di desa adalah partisipasi masyarakat dalam memberikan ide dan masukan yang mereka hadapi,
sangat membantu dalam penyusunan rencana kerja agar pembangunan dilaksanakan benar-benar untuk kebutuhan masyarakat.
2. Faktor Penghambat
Adapun faktor yang menjadi penghambat yangbisa membuat kegiatan yang sudah dilakukan tidak bisa berjalan dengan baik, yaitu:
a) Dana
Dalam pelaksanaan pembangunannya, pemerintah desa tidak mampu membiayai semua perencanaan pembangunan yang ada, oleh karena itu adanya dana dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat merupakan salah satu faktor penghambat dalam pelaksanaan pembangunan fisik di Desa Patani. Meskipun dalam pelaksanaannya belum mampu mengatasi permasalahan yang ada, namun pemerintah Desa Patani mengungkapkan bahwa faktor utama pembangunan di Desa Patani adalah Dana.
Hasil wawancara dengan Kepala Desa Patani terkait dengan faktor yang mempengaruhi pembangunan di Desa Patani menyatakan bahwa:
“ Sebenarnya faktor utama yang mempengaruhi pembangunan itu memang
dari segi dana meskipun pada kenyataannya dana dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah belum cukup untuk memaksimalakan pembangunan yang ada di desa, namun dengan bantuan dana tersebut setidaknya sudah bisa membantu kita dalam membangun secara bertahap
”.(Wawancara dengan JH, 19 Juni 2019)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa dana dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah, belum cukup untuk
memaksimalkan pembangunan jalan akan tetapi, dengan adanya bantuan dana tersebut, maka pembangunan di Desa Patani sudah bisa dilakukan secara bertahap.
Hasil wawancara dengan Ketua LPM Desa Patani terkait dengan faktor yang mempengaruhi pembangunan desa menyatakan bahwa:
“faktor yang mempengaruhi pembangunan desa saya rasa itu dari segi
dana, karena dengan adanya dana yang diterimah oleh desa, maka pihak dari kami sudah bisa memanfaatkan sebagian dana tersebut untuk pembangunan desa baik itu sarana dan parasarana yang belum ada di desa ini, namunpengurus LPM yang ada sekarangini tidak mendapatkanhonor atau tunjangan/insentif dan biaya operasiona baikyang berasal/bersumber dari APBD Kabupaten maupun yang bersumber dari APB-Desa, karenaitu para pengurus kecewa dan tidak mau lagi aktif bertugas.”.(Wawancara dengan AL, 23 Juni 2019)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi pembangunan desa yaitu dari segi dana.Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa dana belum cukup untuk memaksimalkan pembangunan di Desa Patani.
b) SDM yang masih minim
Faktorpenghambat berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan penulis dilapangan bahwa SDM yang masih minim menunjukan lemahnya tingkat SDM yang ada di desa.Hal ini terjadi karena kesadaran masyarakat
yang rendah merupakan salah satu hambatan dalam pelaksanaan pembangunan yang merupakan akibat dari rendahnya tingkat pendidikan.
Masyarakat yang aktif di Desa Patani tidak semua memiliki keaktifan yang sama sesuai dengan informasi yang didapat dari salah satu masyarakat, bahwa:
“ iya memang saya tahu kalau ada rapat Musrembang, tetapi saya tidak ikut
rapat tersebut, sebab saya hanya mengikut dengan hasil keputusan dari pihak desa. Apa yang sudah jadi keputusan yah saya mengikut saja”.
(Wawancara dengan DS, 28 Juli 2019)
Berdasarkan hasil wawancara diatasdengan salah seorang informan selaku masyarakat di Desa Patani bahwa masyarakat di Desa Patani kurang peduli terhadap pembangunan yang akan dilaksanakan karena mereka hanya mengikuti apa hasil keputusan musrenbang tanpa ikut serta dalam musrenbang tersebut. Terkait dengan pernyataan dari masyarakat seperti di atas dapat kita lihat bahwa partisipasi masyarakat di Desa Patani masih kurang kesadarannya dari masing-masing individu, apalagi dengan zaman sekarang gotong-royong dan kebersamaan sudah sangat berkurang, karena mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.
Hal ini berdasarkan dengan hasil wawancara peneliti dengan salah seorang masyarakat yang ada di Desa Patani:
“ menurut saya yah wajar saja kalau partisipasi masyarakat disini kurang karenasetiap orang pasti memiliki kesibukan masing-masing. Misalnya
sibuk mencari kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.Mana sempat mereka ikut hal tersebut”. (Wawancara dengan ST, 28 Juli 2019)
Berdasarkan dengan hasil wawancara diatas bahwa masyarakat di Desa Patani masih menganggap sebelah mata tentang partisipasi mereka terhadap pembangunan di Desa Patani.Mereka lebih sibuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.
Sejalan dengan pembahasan diatas begitupun dengan tingkat pendidikan yang rendah maka mereka sulituntuk mengerti betapa pentingnya pembangunan yang akan direncanakan dan dilaksanakan.
Berikut kutipan wawancara peneliti dengan Sekertaris Desa Patani, bahwa:
“ salah satu faktor yang menghambatnya yaitu keaktifan masayarakat untuk
berpartisipasi dalam pembangunan masih kurang dikarenakan mereka kurang memahami apa-apa saja yang akan dikerjakan/dilaksanakan dalam rapat Musrembang, selain itu juga ada beberapa masyarakat yang memang hanya mengandalkan aparat pemerintahan saja. Walaupun itu memang tugas kami tapikan keadaan masyarakat disini sangat dibutuhkan dalam ikut serta dan terlibar langsung dalam pembangunan di Desa Patani”. (Wawancara dengan NR, 20 Juli 2019)
Jadi dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor yang menghambat terjadinya partisipasi masyarakat yaitu pendidikan, dimana tingkat
pendidikan masyarakat di Desa Patani masih terbilang rendah.Sehingga keikutsertaan mereka dalam perencanaan pembangunan tidak terbilang aktif.
c) Cuaca dan kondisi alam
Kondisi alam sangat berpengaruh dalam melaksanakan pembangunan di Desa Patani.Yang menjadi permasalahannya yaitu keadaan cuaca yang tidak menentu.
Hasil wawancara dengan salah satu warga masyarakat yang ada di Desa Patani menyatakan bahwa:
“yang menjadisalah satu faktor penghambat dalam pembangunan di Desa
Patani itu adalah dari faktor alam cuacanya yang kurang baik dan kadang cuacanya pun tidak menentu, misalnya terjadi hujan yang sangat deras sehingga jalan yang rusak menjadi tambah parah dan akan mengganggu aktifitas masyarakat.” (Wawancara dengan DS, 27 April 2019)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa yang menjadi faktor penghambat pembangunan itu dari faktor alam kondisi cuaca yang kurang baik, seperti curah hujan yang deras sehingga terjadinya banjir dan mengakibatkan aktifitas dari masyarakat terhambat.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) merupakan lembaga kemasyarakatan yang dibentuk atas prakarsa masyarakat sebagai wadah dalam menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat dibidang pembangunan
desa.Lembaga Pemberdayaan Masyarakat dibentuk di setiap desa dengan Peraturan Desa,sedangkan susunan pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat dipilih danditetapkan oleh masyarakat desa yang disahkan atau dikukuhkan dengan KeputusanKepala Desa yang bersangkutan.Selain itu Peraturan Mentri Dalam Negri Nomor 5 Tahun 2007 Tentang pedoman penataan Lembaga Kemasyarakatan jelas menyebutkan terkait dengan tugas dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat sebagaimana di maksud dalam pasal 2 ayat (1) mempunyai tugas membantu kepala desa atau lurah dalam pelaksanaan urusan pembangunan, sosial kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Hasil penelitian yang digambarkan di atas secara keseluruhan memberikan gambaran tentang peranan LPM dalam pembangunan desa dapat dilihat dari tiga tugas dan fungsinya sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2014 tentang Desa, dan dijabarkan lebih rinci dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2014, yaitu : peranan dalam perencanaan pembangunan desa, peranan dalam pelaksanaan program-program pembangunan desa, dan peranan sebagai wadah sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa yaitu menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, serta menggerakkan prakarsa, partisipasi dan swadaya gotong royong masyarakat dalam pembangunan desa.
Hasil penelitian di Desa Patani menunjukkan bahwa tugas dan fungsi LPM membantu pemerintah desa melaksanakan program-program pembangunan yang telah ditetapkan di desa ternyata tidak banyak atau kurang sekali dilakukan.Hasil penelitian tersebut juga dapat menunjukkan bahwa LPM Desa Patani kurang
sekali berperan aktif dalam pelaksanaankegiatan pembangunan di desa. Dimana pengurus/anggota LPM tidak aktif dalam penyusunan perencanaan pembangunan desa tersebut terutama adalah karena pengurus LPM tidak lagi mendapatkan honor ataupunjangan/insentif, dantidak adanya biaya operasional pelaksanaan tugas. Hasil penelitian tersebut dapat menujukkan bahwa LPM di Desa Patani sangat kurang berperan dalam penyusunan perencanaan pembangunan desa.
Peran dari LPM yang diteliti adalah peranan sebagaiwadahpartisipasimasyarakatdesadalam pembangunan desa.Berdasarkan penelitian, di Desa Patani fungsi LPM sebagai penampung dan penyalur aspirasi masyarakat dalam pembangunan desa kurang sekali dilakukan.Pengurus LPM jarang sekali hadir dan tdak aktif dalam musyawarahperencanaan pembangunan desa sehingga aspirasi masyarakat tidak dapat disalurkan atau diperjuangkan oleh para pengurus LPM. Selain itu, LPM juga jarang sekali berperan melakukan upaya atau tindakan untuk meningkatakan partisipasi masyarakatdesa untuk mendukung atau menunjang terwujudnya pelaksanaanprogram-program pembangunandesayang sudah ditetapkan, dilihat dari LPM sebagai Peran Lembaga Pembedayaan Masyarakat sebagai Fasilitator masih rendah hal ini dapat dilihat dari partisipasi masyarakat dalam ikut menentukan prioritas usulan program yang ingin dibuat masing-masing. Hal ini terlihat dari hasil wawancara oleh Ketua LPM Desa Patani bahwa dalam penentuan usulan rapat prioritas masyarakat hanya hadir dan ikut mendengarkan saja tetapi no coment, serta Peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat sebagai Dinamisator belum maksimal.Hal ini dapat digambarkan dengan hasil wawancara oleh Kepala Desa dan Kepala
Dusun yang mengatakan sendiri bahwa pihak LPM tidak melakukan pemantauan lebih lanjut lagi terhadap pembangunan yang sudah mereka laksanakan.
Keseluruhanhasil penelitian tersebut memberikan kesimpulan bahwa LPM Desa Patani sangat kurang sekali berperan dalam pembangunan desa, baik dalam perencanaan program,dalam kegiatan pelaksanaan program, dan juga dalammenampungdan menyalurkan aspirasi masyarakat desa dalam pembangunan desa.LPM Desa Patani tidak dapat berperan dengan baik dalam pembangunan desa disebabkan karena para pengurus LPM tidak lagi aktif bertugas.Secara formal kepengurusan LPM lengkap, tetapi para pengurus tidak lagi mau aktif ikut sertadalam kegiatan pembangunan di desa, dengan alasan utama mereka tidak mendapat honor atau insentif sertabiayaoperasional pelaksanaan tugas. Menurut pengakuan pengurus LPM bahwa pemerintah desa tidak menganggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB-Desa) untuk honor/insentif dan biaya operasional LPMTidakadanya tunjangan/insentif dan biaya, operasional sehingga para pengurus LPM tidak mau aktif dalam menjalankan tugas dan fungsi LPM. Sesuai ketentuan yang berlaku bahwa dana kegiatan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) bersumber dari : swadaya masyarakat, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan/atau AnggaranPendapatandan Belanja Daerah Propinsi; dan Bantuan pemerintah, pemerintah Propinsi, dan pemerintah Kabupaten/Kota.
Adapun solusi untuk meningkatkan peranan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dalam pembangunan di desa antara lain :
1. Perlu ditingkatkan kerja sama dan dukungan yang baik antara pemerintah desa, lembaga-lembaga yang ada didesa, dan seluruh masyarakat di Desa Patani sehingga kegiatan di desa dapat berjalan dengan optimal.
2. Seluruh masyarakat harus dilibatkan dalam menyusun rencana pembangunan dan yang paling penting masyarakat yang termarginalkan/terpinggirkan (masyarakat miskin), dan perempuan harus dilibatkan dalam pengelolaan pembangunan serta dalam pengambilan keputusan.
3. Meningkatkan langkah-langkah sosialisasi dari pemerintah desa, lembaga-lembaga yang ada di desa terkait dengan permasalahan-permasalahan yang menghambat pembangunan desa secara partisipatif.
83 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penelitian yang dilakukan penulis mengenai peran Lembaga Pembeerdayaan Masyarakat (LPM) dalam pembangunan desa di Desa Patani Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar. Ada beberapa hal yang menjadi kesimpulan yaitu:
1. Peran lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) untuk menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat belum optimal, hal ini terlihat dari pihak LPM itu sendiri belum optimal dalam menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Dimana pihak Lembaga pemberdayaan Masyarakat (LPM) dalam menentukan jadwal tidak tepat dan jelas kapan diadakannya rapat bersama setiap kepala dusun serta elemen masyarakat, sehingga tidak efektifnya penyampaian aspirasi masyarakat.
2. Peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dalam meningkatkan partisipasi masyarakat belum maksimal, dapat dilihat dari dilihat dari LPM sebagai Peran Lembaga Pembedayaan Masyarakat sebagai Fasilitator masih rendah hal ini dapat dilihat dari partisipasi masyarakat program yang ingin dibuat masing-masing. Hal ini terlihat dari hasil wawancara oleh Ketua LPM Desa Patani bahwa dalam penentuan usulan rapat prioritas masyarakat hanya hadir dan ikut mendengarkan saja tetapi no coment, serta Peran Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat sebagai Dinamisator belum maksimal. Hal ini dapat digambarkan dengan hasil wawancara oleh Kepala Desa dan Kepala Dusun yang mengatakan sendiri bahwa pihak LPM tidak melakukan pemantauan lebih lanjut lagi terhadap pembangunan yang sudah mereka laksanakan.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dalam pembangunan desa di Desa Patani diantaranya faktor pendukung yaitu: partisipasi masyarakat, sedangkan faktor penghambat yaitu Dana, SDM yang masih minim dan cuaca dan kondisi alam.
B. Saran
1. Sebaiknya LPM dalam menampung dan menyalurkan asprasi masyarakat lebih dioptimalkan lagi, agar dari aspirasi masyarakat dapat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
2. Seharusnya Kepala Desa dan LPM bekerja sama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat, sehingga masyarakatnya berpartisispasi dengan menyeluruh agar terciptanya sebuah hubungan.
3. Masyarakat juga diharapkan kedepannya lebih bisa bekerjasama lagi, agar program-program yang ada di desa terlaksana dengan baik.
4. LPM harus terus didorong untuk berperan aktif dalam kegiatan pelaksanaan program-program pembangunan di desa, dengan memberikan biaya operasional.
85
DAFTAR PUSTAKA
Eko, Sutoro. 2002. Pemberdayaan Masyarakat Desa. Jurnal Materi Diklat Pemberdayaan Masyarakat Desa, yang diselenggarakan Badan Diklat Provinsi Kaltim, Samarinda. Diakses pada tanggal 07 Januari 2019.
Hasrullah. 2015. Kinerja Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Dalam Meningkatkan Pembangunan Fisikdi Kelurahan Sungai Merdeka Kecamatan Samboja. eJournal Administrasi Negara. 3. Diakses pada tanggal 12 Desember 2018.
Kandouw, dkk. 2017. Peranan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pembangunan Di Kelurahan Rumoong Bawah. Jurnal Ilmu Pemerintahan. 1. Diakses pada tanggal 23 Februari 2019.
Thoha Miftah.2012. Prilaku Organisasi Konsep Dasar dan Implikasinya. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada. Diakses pada tanggal 20 Februari 2019.
Muhtarom Abid. 2016. Peranan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat(Lpm) Dalam Pembangunan Di Desadi Kabupaten Lamongan. Jurnal Penelitian Ekonomi dan Akuntansi. 1. Diakses pada tanggal 07 Januari 2019.
Mulyono, MA. 2014. Gerakan Solidaritas LSM Kalimas Surabaya Studi Tentang : Sangketa Lahan Antara Warga Kalimas Baru Dengan PT.KAI dan PT.PELINDO. Tesis Ilmu Politik. Diakses pada tanggal 10 Desember 2018.
Mustikawati. 2016. “Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Infrastruktur Desa di Desa Rapak Lambur Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara”. E-Journal S1 Ilmu Administrasi Negara Universitas Mulawarman, 4. Diakses pada tanggal 20 Februari 2019.s
Nafidah dan Suryaningtyas. 2016. Model Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa.
Jurnal Analisis Dan Pelayanan Publik . 2. Diakses pada tanggal 23 Februari 2019.
Pangestu Prayogi, A, I. 2017. “Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Tanjung Batu”.eJournal Ilmu Pemerintahan. 6. Diakses pada tanggal 07 Januari 2019.
Rahayu, MD. 2018. “Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Infrastruktur di Desa Sinar Sari Kecamatan Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah”.
Skripsi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Diakses pada tanggal 06 Januari 2019.
Ramadan, E. 2017. Peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (Lpm) Di Desa Senambah Kecamatan Muara Bengkalkabupaten Kutai Timur. E-Journal Ilmu Pemerintahan. 5. Diakses pada tanggal 08 Januari 2019.
Rosidin, U. 2010. Otonomi Daerah dan Desentralisasi . Bandung : Pustaka Setia.
Diakses pada tanggal 12 Desember 2018.
Safriadi. 2015. “Peningkatan Kapasitas Kelembagaan MasyarakatDesa Dalam Rangka Implementasi Undang-Undang Desa No.6 Tahun 201”. Diakses pada tanggal 11 Januari 2019.
Setiawan Fandy. 2011. Peranan LPM dalam Meningkatkan Pembangunan Pedesaan Terpadu : Studi Di Kecamatan Pakatto Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa.Skripsi. Diakses pada tanggal 15 September 2019
Soekanto, S. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PTRaja Grafindo Persada.
Diakases pada tanggal 12 Desember 2018.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Bandung:Alfabeta. Diakses pada tanggal 10 Desember 2018.
Sumaryady. 2005. Perencanaan Pembangunan Daerah Otonom Dan Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: CV. Citra Utama. Diakses pada tanggal 08 Januari 2019.
Suratno, A. 2017. Analisis Partisipasi Dalam Pembangunan Desa. Jurnal Manajemen Pemerintahan. Diakses pada tanggal 02 Januari 2019.
Syaprianto dan Panca, PS. 2013. Peranan Lembaga Pemberdayaan Masyarkat Dalam Membantu Kepala Desa Menyusun Rencana Pembangunan Desa.Jurnal Pemerintahan, Politik, dan Birokrasi. II. Diakses pada tanggal 24 Februari 2019.
Teguh Ambar. 2004. Kemitraan Dan Model-Model Pemberdayaan.Yogyakarta:
Graha Ilmu. Diakses pada tanggal 15 September 2019.
Theresia Aprillia, Krisnha dkk. 2015. Pembangunan Berbasis Masyarakat.
Bandung: Alfabeta. Diakses pada tanggal 15 September 2019.
Widjaja, H. 2014. Otonomi Desa Merupakan Otonomi Yang Asli, Bulat, dan Utuh. Jakarta: Rajawali Pers. Diakses pada tanggal 10 Januari 2019.
Sumber Lain
http://www.takalarkab.go.id/assets/document/selpa/geografi-takalar.pdf diakses pada tanggal 05 Juli 2019.
Peraturan
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007 Tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan
Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2014 tentang Desa
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Wawancara dengan Kepala Desa Patani
Wawancara dengan Masyarakat Desa Patani
Wawancara dengan Ketua LPM Desa Patani
Wawancara dengan BABINSA
Wawancara dengan Sekdes Patani
Wawancara dengan staf Desa Patani
RIWAYAT HIDUP
Nama lengakap Fifin Ayu Lestari, disapa Fifin. Lahir di Labose, tanggal 27 Juli 1996, Desa Laskap Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. Anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Hendra Haruna dan Fatmawati. Penulis menempuh pendidikan SDN 225 Karebbe Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur dan selesai pada tahun 2009, penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 4 Malili Kabupaten Luwu Timur dan selesai pada tahun 2012, pada tahun yang sama penulis melanjutkan jenjang pendidikan ke Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Malili Kabupaten Luwu Timur dan selesai pada tahun 2015.
Kemudian penulis melanjutkan pendidikan pada Perguruan Tinggi di Universitas Muhammadiayah Makassar (Unismuh Makassar) pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik dengan Program Studi Ilmu Pemerintahan. Penulis sangat besyukur dan berterima kasih, karena telah diberikan kesempatan untk menambah ilmu pengetahuan yang nantinya dapat diamalkan dan member manfaat bagi pembaca.