• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Faktor-Faktor Yang Melingkupi Akses Masyarakat

1. Sosialisasi

Sosialisasi pelayanan kesehatan pada Posyandu pada intinya merupakan proses komunikasi guna memberikan informasi tentang pelayanan kesehatan pada Posyandu sehingga lahir pemahaman masyarakat yang baik dan benar mengenai keberadaan dan fungsi Posyandu. Dalam kaitan tersebut, keberadaan komunikasi juga merupakan aspek penting dalam proses implementasi kebijakan. Komunikasi adalah proses penyampaian informasi/pesan dengan mengunakan lambang yang mempunyai arti di antara dua orang/pihak atau lebih. Menurut Edwards (dalam

Tangkilisan, 2003: 19) ”ada tiga aspek komunikasi dalam implementasi kebijakan, yaitu transmisi, kejelasan dan konsistensi”. Transmisi berkaitan dengan pemberian atau penyebaran informasi yang berkenaan dengan kebijakan posyandu itu sendiri. Sedangkan kejelasan berhubungan dengan sejauh mana proses penyebaran informasi yang berkenaan dengan kebijakan posyandu terjadi secara akurat. Sementara konsistensi adalah sejauhmana penyebaran informasi yang berkenaan dengan kebijakan posyandu disampaikan tidak berubah-ubah atau tetap konsisten.

Dalam hal struktur komunikasi, mengacu pada rumus yang ditawarkan oleh Lasswell (dalam Effendy, 1992: 29) bahwa:

Komunikasi memiliki 5 (lima) komponen yang terlihat dari pernyataan who

says what in which channel to whom with what effect yaitu komunikator,

pesan, media, komunikan dan efek. Komunikator adalah pihak yang berposisi sebagai subyek komunikasi.

Pesan merupakan informasi yang sampaikan oleh pihak subyek (pemerintah, pengelola posyandu). Media adalah alat yang dipergunakan subyek untuk menyampaikan pesan (rapat, tatap muka, pengumuman, dan lain-lain). Komunikan adalah pihak yang menjadi obyek dari komunikator (ibu-ibu yang mendapatkan pelayanan kesehatan di posyandu). Sedangkan efek adalah tanggapan ibu-ibu yang mendapatkan pelayanan kesehatan di posyandu terhadap informasi yang berkenaan dengan kebijakan posyandu.

Komunikasi menjadi penting dalam proses pelayanan kesehatan di Posyandu karena merupakan alat dan mekanisme bagi aktor-aktor kebijakan

(pemerintah, pengelola posyandu dan ibu-ibu yang mendapatkan pelayanan kesehatan di posyandu) yang terlibat untuk menjalin interaksi (saling tukar infomasi/pesan) dalam proses pelayanan kesehatan di posyandu. Peran komunikasi selain untuk menyatukan persepsi antar pemerintah, pengelola posyandu dan ibu-ibu yang mendapatkan pelayanan kesehatan di posyandu tetapi juga sebagai alat melakukan koordinasi sehingga aktivitas masing-masing aktor saling sinergis. Akan sulit tercapai keberhasilan pelayanan kesehatan di posyandu apabila komunikasi yang terjadi antar aktor (pemerintah, pengelola posyandu dan ibu-ibu yang mendapatkan pelayanan kesehatan di posyandu) kurang berjalan secara baik atau bahkan tidak terjadi sama sekali.

Dimensi komunikasi ini dapat terjadi antara birokrasi selaku aparat pelaksana dengan masyarakat sebagai target group kebijakan atau internal birokrasi itu sendiri. Komunikasi antara birokrasi dengan mayarakat berupa derajat kontak tatap muka secara langsung berupa dialog (saling bertukar saran/pemikiran) yang bentuknya dapat berupa kegiatan sosialisasi dan pembinaan dari aparat birokrasi kepada masyarakat. Sosialisasi berkenaan dengan proses penyebaran informasi tentang keberadaan program kebijakan yang akan dilakukan sehingga lahir pemahamaan yang benar bagi target group. Sedangkan pembinaan merupakan kegiatan yang diarahkan untuk membentuk sikap dan perilaku target group yang sesuai tujuan kebijakan. Dilain pihak, komunikasi internal birokrasi

berupa proses pemberian perintah dan petunjuk dari atasan kepada bawahan guna memperlancar operasionalisasi kegiatan dari kebijakan tersebut.

2. Partisipasi Masyarakat

Salah satu aspek penting dalam impelementasi kebijakan umumnya serta implementasi kebijakan penyelenggaraan kegiatan pelayanan kesehatan pada Posyandu khususnya adalah tanggapan target group/masyarakat. Tanggapan atau respon masyarakat ini akan sangat menentukan partisipasi masyarakat dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan pelayanan kesehatan pada Posyandu.

Menurut Allport (dalam Sastropoetro, 1988:12 ) menjelaskan batasan tentang partisipasi adalah sebagai berikut: “bahwa seseorang yang berpartisipasi sebenarnya mengalami keterlibatan dirinya/egonya yang sifatnya lebih dari pada keterlibatan dalam pekerjaan atau tugas saja.” Dalam hal ini keterlibatan diri yang dimaksudkan adalah menyangkut keterlibatan dalam pikiran dan perasaan.

Sementara menurut Davis (dalam Sastropoetro, 1988:13) memberikan definisi mengenai partisipasi sebagai berikut:

Participation can be defined as mental and emotional involvement of aperson in a group situation which encourages him to contribute to group goals and share responsibility in them. (Partisipasi dapat diartikan sebagai

keterlibatan mental/pikiran dan emosi/perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan)

Selanjutnya, menurut Gie (1981:20) bahwa partisipasi diartikan sebagai: “Suatu aktvitas untuk membangkitkan perasaan diikutsertakan dalam kegiatan organisasi atau ikut serta bawahan dalam kegiatan organisasi”. Dari pengertian partisipasi ini menunjukan adanya aktivitas seseorang untuk ikut ambil bagian didalam kegiatan organisasi. Lebih lanjut menurut David (dalam Sastropoetro 1986:13) menyatakan sebagai berikut: “Partisipasi dapat didefinisikan sebagai keterlibatan mental/pikiran dan emosi/perasaan seseorang didalam situasi kelompok yang mendorong untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan”

Kemudian Ndraha (1987:42), menjelaskan tentang difinisi tersebut di atas, bahwa:

Partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi seseorang atau kelompok masyarakat dalam situasi kelompok yang mendorong yang bersangkutan atas kehendak sendiri (kemauan bebas) menurut kemampuan (swadaya) yang ada untuk mengambil bagian dalam usaha pencapaian tujuan bersama dan dalam mempertanggung jawabanya.

Dari apa yang telah dikemukakan, terdapat beberapa unsur yang penting dari pengertian partisipasi tersebut yang antara lain, keterlibatan mental, emosi dan dengan sendirinya fisik, kehendak sendiri atau prakasa (inisiatif) untuk mengambil bagian didalam usaha mencapai tujuan, memberikan swadaya serta adanya rasa tanggung jawab. Dalam kaitan dengan pelaksanaan pembangunan bahwa partisipasi masyarakat dalam pembangunan merupakan faktor yang sangat

penting. Partisipasi masyarakat bukalah sekedar pelangkap, tetapi merupakan faktor yang mutlak diperlukan bagi keberhasilan pembangunan. Bahkan Du-Sautoy (dalam Ndraha 1987:103) mengatakan bahwa, “partisipasi dapat dianggap sebagai tolok ukur dalam menilai apakah proyek yang bersangkutan merupakan proyek pembangunan atau bukan. Jika masyarakat yang bersangkutan tidak berkesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan, proyek tersebut pada hakekatnya bukalah proyek pembangunan.”

C. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Dalam Meningkatkan Akses Masyarakat

Dokumen terkait