KELAS XII SMA NEGERI 9 MEDAN T.A 2013/
KETERKAITAN PEMBERIAN INSENTIF DENGAN PRESTASI KERJA KARYAWAN Yohanes Dakhi, SE, MM
2. Uraian Teoritis 1 Pengertian Insentif
2.5. Faktor-Faktor yang Mempengaruh Prestasi Kerja
Menurut Heidrahman dan Suad husnan (1990:126), faktor-faktor prestasi kerja yang perlu dinilai adalah sebagai berikut :
1. Kuantitas kerja
Banyaknya hasil kerja sesuai dengan waktu kerja yang ada, yang perlu diperhatikan bukan hasil rutin tetapi seberapa cepat pekerjaan dapat diselesaikan.
2. Kualitas kerja
Mutu hasil kerja yang didasarkan pada standar yang ditetapkan.biasanya diukur melalui ketepatan, ketelitian, keterampilan, kebersihan kerja.
3. Keandalan
Dapat atau tidaknya karyawan diandalkan adalah kemampuan memenuhi atau mengikuti intruksi, inisiatif, hati-hati, kerajinan dan kerja sama
4. Inisiatif
Kemampuan mengenali masalah dan mengambil tindakan korektif, memberikan saran-saran untuk peningkatan dan menerima tanggung jawab menyelesaikan.
5. Kerajinan
Kesediaan melakukan tugas tanpa adanya paksaan dan juga yang bersifat rutin. 6. Sikap
Perilaku karyawan terhadap perusahaan atau atasan atau teman kerja 7. Keberadaan karyawan di tempat kerja
Keberadaan karyawan di tempat kerja untuk bekerja sesuai dengan waktu/jam kerja yang telah ditentukan. Prestasi kerja merupakan salah satu ukuran terhadap hasil kerja seseorang dalam suatu organisasi perusahaan dan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pelaksanaan promosi.prestasi kerja seseorang dapat dilihat berdasarkan oleh kualifikasi yang dimiliki, yaitu kecakapan, keterampilan, pengalaman, dan lingkungan
4881
kerja (kemampuan adaptasi). Seluruh komponen tersebut merupakan indikator yang membantu perusahaan dalam mendapatkan tenaga kerja yang baik dan dibutuhkan sesuai dengan jabatan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Berikut ini adalah indikator prestasi kerja yang menjadi bahan penelitian penulis, yaitu: 1. Kecakapan
Kecakapan adalah total dari semua keahlian yang diperlukan untuk mencapai hasil kerja yang bisa dipertanggungjawabkan. Kesulitan dalam mengukur kecakapan adalah menentukan. Namun di banyak perusahaan, jenjang pendidikan dan nilai ijazah ddpakai sebagai bahan pertimbangan untuk mengukur kemampuan dan kecakapan seseorang.
2. Keterampilan
Keterampilan kerja merupakan kemahiran seseoran dalam melaksanakan pekerjaannya termasuk dalam penguasaan alat kerja. Seringkali di berbagai perusahaan, mengharapkan memiliki seorang karyawan yang mempunyai beberapa keterampilan khusus yang dimiliki sehubungan dengan tuntutan perusahaan, dimana keterampilan juga dibutuhkan dalam rangka memecahkan masalah-masalah pekerjaan.
3. Pengalaman
Pengalaman merupakan lamanya seorang karyawan bekerja pada suatu bagian tertentu. Hal tersebur dapat memberikan suatu hasil kerja yang memuaskan kepada perusahaan. Seringkali pengalaman kerja seorang karyawan dipergunakan sebagai salah satu syarat untuk kenaikan jabatan. Sebab dengan pengalaman yang lebih banyak diharapkan memiliki kemampuan yang lebih tinggi serta mempunyai ide-ide yang dapat membangun kemampuan perusahaan.
4. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja merupakan segala sesuatu yang ada disekitar karyawan dan dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan oleh perusahaan. Untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif dan efisiensi perlu diperhatikan faktor lingkungan kerja yang mendukung. Syarat yang umum misalnya kebersihan, ventilasi yang cukup, suhu udara di tempat kerja, dan sebagainya. Juga perlui diperhatikan faktor-faktor jaminan keamanan dan keselamatan kerja. Hal ini sangat perlu bagi perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik tercapainya prestasi kerja karyawan.
3. Pembahasan
Perusahaan meyakini bahwa sistem imbalan pada umumnya dan sistem insentif pada khususnya mempengaruhi kinerja (prestasi kerja). Selain itu, banyak karyawan yang lebih menyukai bahwa bayaran mereka dikaitkan dengan prestasi kerja masing- masing.
Insentif dan prestasi kerja adalah bagian dari pengelolaan yang kompleks untuk menyatakan dan mempertahankan hubungan kerja diantara perusahaan dan karyawan. Kedua hal tersebut mendemonstrasikan tidak hanya apa yang hendak dicapai oleh manajemen, namun juga keyakinan manajemen tenteng hubungan tersebut.
Untuk jelasnya penulis akan uraikan alasan- alasan mengaitkan bayaran dengan prestasi kerja menurut Simamora (1997;624) yaitu :
1. Motivasi
Teori harapan/ekspektasi (expectancy theory) yang dikedapkan oleh Vroom menyatakan bahwa kaitan prestasi kerja dengan pembayaran adalah esensial untuk meningkatkan prestasi kerja.
4882
2. Retensi
Mengaitkan bayaran dengan prestasi kerja kemungkinan akan membantu komposisi tenaga kerja. Karyawan-karyawan yang baik akan cenderung mendapatkan bagian yang besar bagi sumber daya yang kompensasi dan dengan demikian termotivasi untuk tetap bersama organisasi. Karyawan- karyawan yang dibawa rata-rata akan menjadi kecil hati dan meninggalkan organisasi.
3. Produktivitas
Pada saat prestasi kerja dikaitkan dengan imbalan- imbalan, orang- orang dengan produktivitas tinggi akan lebih termotivasi untuk bekerja.
4. Penghematan- penghematan biaya
Manfaat paling krusial dari bayaran berdasarkan prestasi kerja adalah kapabilitas mengaitkan biaya- biaya konpensasi dengan hasil- hasil produktivitas. Dengan mendasarkan bayaran atas kinerja, perusahaan dapat memastikan bahwa biaya- biaya konpensasi akan bertalian dengan hasil- hasil organisasional.
5. Sasaran- sasaran organisasional
Selalu merupakan tantangan untuk memastikan bahwa semua karyawan organisasional. Karyawan memahami betul tujuan- tujan organisasi, dengan mengaitkan bayaran dengan prestasi kerja yang ditetapkan secara organisasional, adalah mungkin memastikan bahwa sasaran- sasaran individu adalah sejalan dengan tujuan organisasional. Karyawan- karyawan yang upaya- upayanya tidak singkron dengan tujuan organisasi tdak akan menikmati imbalan yang setimpal.
Jadi secara langsung pemberian upah dan insentif yang tepat dapat ,meningkatkan produktivitas kerja pada karyawan. Program peningkatan produktivitas ditandai dengan adanya tunjangan-tunjangan yang lain di seluruh perusahaan. Setiap pembayaran kepada perorangan harus ditentukan oleh sumbangannya bagi produktivitas, sedangkan kenaikan pembayaran harus dianugerahkan terutama berdasarkan hasil produktivitas.
Penghargaan serta penggunaan motivasi yang tepat akan menimbulkan suasana kondusif atau berakibat kepada pemberian upah dan insentif dan usaha yang meningkatkan prestasi kerja melalui sarana yang beraneka ragam antara lain :
1. Pemberian tingkat upah perhari
2. Rencana pemberian premi yang sering digunakan, sarana untuk memacu pekerjaan dalam mencapai standar pelaksanaan yang diinginkan
3. Pemberian sistem merit dengan menseleksi serangkaian faktor-faktor yang mencakup tingkah laku yang diinginkan dari sekelompok kerja
4. Mengikutsertakan semua tenaga kerja pada gerakan peningkatan produktivitas
5. Pembayaran berdasarkan hasil, yang diterapkan berdasasrkan kerja atau individu, ada juga berdasarkan kerja atau berdasarkkan waktu pemberian bonus atau hasil kerja yang lain.
6. Pemberian insentif kelompok, yaitu bonus kelompok yang dibagi menurut pendapatan dasar dengan tujuan agar kelompok menyakini distribusi usaha yang adil
7. Kepuasan kerja melalui penyusunan kembali pekerjaan yang menyangkut perluasan kerja sehingga menimbulkan adanya peningkatan dalam produksi.
4883
4. Penutup
Dengan melihat keberadaan tingkat biaya insentif yang dikeluarkan dan tingkat produktivitas karyawan setiap tahunnya maka diketahui bahwa ada pengaruh pemberian insentif dengan tingkat prestasi karyawan. Pada umumnya karyawan menghargai dan mendukung dengan pemberian insentif dari perusahaan untuk peningkatan prestasi kerja karyawan sehingga termotivasi untuk bekerja dengan baik.
Untuk meningkatkan prestasi kerja karyawan maka sebaiknya Perusahaan perlu meningkatkan perhatiannya terhadap peningkatan kesejahteraan karyawan agar karyawan merasa hidupnya terjamin bekerja, dan hal ini juga diharapkan untuk mengurangi tingkat kecurangan karyawan dalam bekerja.
Daftar Pustaka
Achmad, S. Ruki, 2001. Sistem Manajemen Kineja, Performance Management System, Panduan Praktis Untuk Merancang Kinerja Prima, Cetakan Pertama, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Marihot Tua Efendi Hariandja. 2002. Manajemen sumber daya manusia. Jakarta: Grasindo. Gouzali Syadam, 1996. Manajemen Sumberdaya Manusia. Jakarta : Gunung Agung.
Handoko T. Hani. 2002. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Edisi II. Cetakan Keempat Belas. Yogyakarta: Penerbit BPFE.
Hasibuan, Melayu Sultan Parlaguat. 2005. Organisasi dan Motivasi : Dasar Peningkatan Produktivitas. Jakarta : Bumi Aksara.
Hasibuan, Melayu Sultan Parlagua. 2006. Manajemen. Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. Heidjrahcman Ranupandojo dan Suad Husna. 2002. Manajemen Personalia, Yokyakarta: BPFE.
Hasibuan, Melayu Sultan Parlagua. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara.
M. Manullang, 1994. Manajemen Personalia. Gadjah Mada University Press. Yokyakarta.
4884
PERANAN MULTIMEDIA DALAM MENINGKATKAN PROSES PEMBELAJARAN Drs. Baziduhu Laia, M.Pd9
ABSTRAK
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui peranan multimedia dalam meningkatkan proses pembelajaran. Penulisan makalah ini menggunakan metode tinjauan literatur (library research). Kutipan dan pembahasan pada makalah ini didasarkan pada pendapat beberapa ahli tentang media pembelajaran. Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa multimedia merupakan suatu sistem karena multimedia merupakan teknologi yang menggabungkan berbagai sumber media seperti teks, grafik, suara, animasi, video yang disampaikan dan dikontrol sistem komputer secara interaktif. Secara umum model-model CBI adalah model tutorial, drill and practice, simulasi, dan games. Model tutorial pada umumnya model ini digunakan untuk menyajikan informasi yang relatif baru bagi siswa, keterampilan tertentu, informasi atau konsep. Segala sesuatu yang diperlukan untuk mendapatkan informasi yang tersedia dalam komputer. Simulasi ini merupakan model pembelajaran yang mampu menekan biaya yang terlalu tinggi, memudahkan siswa atas suara secara real time. Model drill and practice lebih memberi penekanan pada bagaimana siswa berlatih menguasai materi dengan banyak melakukan latihan atau praktik. Model games ini merupakan pendekatan motivasional tinggi bagi siswa untuk memberikan penguatan atas kompensasi yang sudah dipelajari, konsep dan informasi.
Kata kunci : multimedia dan pembelajaran
1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang
Dalam proses komunikasi, media merupakan apa saja yang aiengantarkan atau membawa informasi ke penerima informasi. Di dalam proses belajar mengajar yang pada hakikatnya juga merupakan proses komunikasi, informasi atau pesan yang dikomunikasikan adalah isi atau bahan ajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum,
9
4885
sumber informasi adalah guru, penulis buku atau tadul, perancang dan pembuat media pembelajaran lainnya; sedangkan penerimaan informasi adalah siswa atau warga belajar. Pengertian media pembelajaran bervariasi. Ada ahli media yang wiembuat definisi yang menagcu hanya pada alat atau perangkatkeras, ada juga yang menonjolkan perangkat lunak.
Dalam proses belajar mengajar, kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan guru dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada peserta didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Menurut Oemar Hamalik (2008), media pengajaran lebih banyak membantu siswa belajar daripada guru mengajar. Penggunaan alat bantu pembelajaran berpusat pada siswa, sebab berfungsi membantu siswa belajar agar lebih berhasil. Pekerjaan guru adalah mengkomunikasikan pengalaman kepada siswa. Ada dua cara mengkomunikasikan yakni melalui pendengaran atau pengelihatan, alat bantu (media) pembelajaran dapat membantu dalam kedua cara tersebut.
Media dapat mewakili apa yang kurang mampu diucapkan guru melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Dengan demikian siswa lebih mudah mencerna bahan apabila bantuan media daripada tanpa bantuan media. Guru sadar tanpa bantuan media materi pelajaran sukar dicerna dan dipahami oleh setiap siswa terutama bahan pelajaran yang rumit atau kompleks.
1.2. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui peranan multimedia dalam meningkatkan proses pembelajaran.
1.3. Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode tinjauan literatur (library research). Kutipan dan pembahasan pada makalah ini didasarkan pada pendapat beberapa ahli tentang media pembelajaran.