• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil dan Pembahasan 1 Umur Berkecambah

proses imbibisi dan pada konsentrasi tertentu dapat melunakkan kulit biji (Sutopo, 1988).

3. Hasil dan Pembahasan 1 Umur Berkecambah

Pengaruh perlakuan peretasan kulit dan konsentrasi KNO3 terhadap umur berkecambah biji sirsak disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1. Pengaruh Peretasan Kulit dan Konsentrasi KNO3 terhadap Umur Berkecambah Biji Sirsak (hari) Peretasan

Kulit

Konsentrasi KNO3 Rataan

K0 K1 K2 K3

P0 29.35 28.70 29.75 29.42 29.31

P1 27.47 28.39 28.54 28.06 28.11

Rataan 28.41 28.55 29.15 28.74

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa, tidak ada perbedaan umur berkecambah antara perlakuan biji tanpa peretasan dengan biji yang diretas. Demikian juga halnya tidak ada perbedaan umur berkecambah antara biji yang direndam dalam berbagai konsentrasi KNO3.

Tidak adanya perbedaan umur berkecambah biji pada tanpa peretasan biji dengan biji yang diretas dan yang direndam dalam berbagai konsentrasi KNO3 diduga bahwa biji yang tidak diretas dan tanpa perlakuan perendaman dalam KNO3 memiliki umur yang relatif sama dengan yang diberi perlakuan peretasan dan konsentrasi KNO3. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya senyawa penghambat perkecambahan pada biji sirsak. Senyawa penghambat perkecambahan antara lain seperti senyawa fenolik yang larut dalam air atau senyawa-senyawa lainnya yakni senyawa volatil (yang mudah menguap) sehingga dapat hilang, dengan demikian penghambatan terhadap biji menurun (Sondheimer Tzou dan Culson, 1968 dalam Wilkins, 1984). Dengan demikian perkecambahan biji pada kontrol dapat mengimbangi biji –biji yang diperlakukan baik dengan peretasan maupun pemberian KNO3.

2.2. Indeks Kecepatan Berkecambah

Pengaruh perlakuan peretasan kulit dan konsentrasi KNO3 terhadap indeks kecepatan berkecambah biji sirsak disajikan pada Tabel 2.

4949

Peretasan Kulit

Konsentrasi KNO3 Rataan

K0 K1 K2 K3

P0 3.28 3.35 3.33 3.24 3.30

P1 3.47 3.42 3.47 3.43 3.45

Rataan 3.37 3.39 3.40 3.34

Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa perlakuan peretasan kulit biji dan konsentrasi KNO3 berpengaruh tidak nyata terhadap indeks kecepatan berkecambah biji sirsak. Indeks berkecambah biji dipengaruhi oleh banyaknya jumlah biji yang berkecambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji sirsak yang berkecambah pada pertengahan dan akhir perkecambahan relatif sama pada perlakuan tanpa peretasan kulit dan peretasan kulit. Hal ini disebabkan karena pada lapisan pelindung biji sirsak kemungkinan mengandung senyawa-senyawa penghambat perkecambahan antara lain seperti senyawa fenolik yang larut dalam air, atau senyawa-senyawa lainnya seperti senyawa volatile sehingga dapat hilang sebagai uap. Dengan hilangnya senyawa volatile, penghambatan terhadap perkecambahan biji menurun (Sondheimer,tzou dan Culson, 1968) dalam Wilkins, 1984).

2.3. Tinggi Plumula

Pengaruh perlakuan peretasan kulit dan konsentrasi KNO3 terhadap tinggi plumula kecambah biji sirsak disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Pengaruh Peretasan Kulit dan Konsentrasi KNO3 terhadap Tinggi Plumula Kecambah Biji Sirsak

Peretasan Kulit

Konsentrasi KNO3 Rataan

K0 K1 K2 K3

P0 14.97 14.80 14.16 14.60 14.63 P1 14.83 15.33 14.83 14.69 14.92 Rataan 14.90 15.07 14.49 14.64

Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan peretasan kulit biji dan konsentrasi KNO3 berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi plumula kecambah biji sirsak. Pada biji yang kulitnya keras dormansi dapat berlangsung selama beberapa hari, musim bahkan bertahun-tahun tergantung jenis tanaman dan tipe dormansinya. Dengan perlakuan peretasan kulit dan perendaman dalam larutan KNO3 belum dapat meningkatkan pertumbuhan plumula. Hal ini diduga bahwa biji yang tanpa dilakukan perlakuan peretasan dan tanpa perendaman dalam larutan KNO3 dapat megejar biji–biji yang diberi perlakuan peretasan dan perendaman dalam larutan KNO3. Hal ini kemungkinan disebabkan senyawa penghambat perkecambahan pada biji-biji yang tanpa perendaman dalam KNO3 tersebut hilang seiring dengan berjalanya waktu dalam hal ini pada lapisan pelindung biji sirsak mengandung senyawa penghambat perkecambahan antara lain seperti senyawa fenolik yang larut dalam air atau senyawa-senyawa lainnya yakni senyawa volatil, sehingga dapat hilang sebagai uap. Dengan demikian penghambatan terhadap perkecambahan biji menurun (Sondheimer Tzou dan Culson, 1968 dalam Wilkins, 1984).

2.4. Panjang Akar

Pengaruh perlakuan peretasan kulit dan konsentrasi KNO3 terhadap panjang akar kecambah biji sirsak disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Pengaruh Peretasan Kulit dan Konsentrasi KNO3 terhadap Panjang Akar Kecambah Biji Sirsak

4950

Kulit K0 K1 K2 K3

P0 12.40 12.91 12.31 11.98 12.40 P1 11.88 13.41 10.94 11.50 11.93 Rataan 12.14 13.16 11.63 11.74

Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa perlakuan peretasan kulit biji dan konsentrasi KNO3 berpengaruh tidak nyata terhadap panjang akar kecambah biji sirsak. Hal ini disebabkan perlakuan peretasan dan perendaman dalam KNO3 belum efektif menghilangkan dormansi. Hal ini diduga biji yang tanpa dilakukan perlakuan peretasan dan tanpa perlakuan konsentrasi KNO3 (kontrol) dapat megejar biji–biji yang diberi perlakuan peretasan dan konsentrasi KNO3. Hal ini kemungkinan disebabkan senyawa penghambat perkecambahan pada biji-biji yang tanpa perlakuan (K0) tersebut hilang seiring dengan berjalanya waktu dalam hal ini pada lapisan pelindung biji sirsak kemungkinan mengandung senyawa penghambat perkecambahan antara lain seperti senyawa fenolik yang larut dalam air atau senyawa-senyawa lainnya yakni senyawa volatil sehingga dapat hilang sebagai uap dengan demikian penghambatan terhadap biji menurun. Menurut Sondheimer Tzou dan Culson (1968) dalam Wilkins (1984) bahwa perkecambahan biji pada perlakuan tanpa perendaman dalam larutan KNO3 kontrol dapat mengimbangi biji-biji yang diperlakukan baik dengan peretasan maupun pemberian KNO3. Hilangnya senyawa- senyawa penghambat perkecambahan dapat disebabkan karena pencucian maupun akibat penyiraman.

3. Kesimpulan dan Saran 3.1. Kesimpulan

1. Perlakuan peretasan kulit biji dapat mempercepat umur berkecambah, meningkatkan indeks kecepatan berkecambah, tinggi plumula dan panjang akar.

2. Konsentrasi KNO3 sebanyak 0.4 % dapat mempercepat umur berkecambah, meningkatkan indeks kecepatan berkecambah, tinggi plumula dan panjang akar kecambah.

3. Interaksi peretasan kulit biji dan konsentrasi KNO3 tidak berpengaruh terhadap umur berkecambah, indeks kecepatan berkecambah, tinggi plumula dan panjang akar.

3.2. Saran

Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan bahan kimia yang lain. Daftar Pustaka

Abidin, Z. 1982. Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh. Angkasa, Jakarta.

Bangun, M. K. 1980. Perancangan Percobaan Untuk Analisa Data. Bagian Biometri. Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan

Barasa, M. 1997. Teknologi Benih. Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Katolik St. Thomas Sumatra Utara. Medan.

Copeland, L.O. 1976. Principles of Seed Science and Technology. Burgest Publishing Company. Minneapolis.

Dartius, 1988. Fisiologi Tumbuhan II. Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan. Dodi S. I. 1999. Agrobisnis : Berburu Komoditi Ekspor. Trubus. Edisi Desember Tahun XXX. Dwijosaputra, 1981. Teknologi Benih. Rineka Cipta. Jakarta.

4951

Gardner F. P., R. B. Pearce, and R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan. U. I. Press. Jakarta.

Harjadi, M. M. S. S. 1991. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia. Jakarta. Kamil, J., 1957. Teknologi Benih I. Angkasa Raya. Padang.

Kuswanto, H. 1996. Dasar-Dasar Teknologi Produksi dan Sertifikasi Benih. Andi Offset. Yogyakarta Lakitan, B. 1995. Fisiologi Tumbuhan dan Perkecambahan Tanaman. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Nakasone, H.Y., 1999. Tropical Fruit. CAB International.

Prawitasari, T., 1997. Teknologi Benih. Fakultas Pertanian, Universitas Katolik St. Thomas Sumatera Utara. Medan.

Radi, J., 1997. Sirsak. Budidaya dan Pemanfaatannya. Kanisius. Jakarta. Rukmana, R. H., 2001. Usaha Tani Sirsak. Kanisius. Jakarta.

Sadjad, S., 1974. Dari Benih Kepada Benih. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta

Setiadi, 1979. Dormansi Benih: Penataran Ilmu-ilmu Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Soedjono, S. dan K. Sukandari, 1996. Peranan Asam Giberelin dan Peretasan Kulit Biji Terhadap Perkecambahan Biji Palem Raja dan Palem Kuning.

Soetarno, 1998. Zuurzak, Si Kantung Asam. Trubus. Edisi ke-345 Tahun XXIX. Sutopo, 1988. Teknologi Benih. CV. Rajawali, Jakarta.

Yusuf, D., 1990. Pengaruh Lama Perendaman dan Konsentrasi KNO3 terhadap Perkecambahan Benih Pinang.

Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan. Wilkins, 1984. Plant Physiology. Pitman Publishing Limited. London.

4952