Untuk persamaan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis dilakukan juga beberapa uji. Pertama dilakukan dahulu uji linearitas pada data. Dari hasil analisis menggunakan uji Ramsey Reset Test diperoleh nilai signifikansi fitted^2 pada data level sebesar 0,76>0,1 maka persamaan yang digunakan adalah persamaan linear pada data level. Untuk menguji normalitas digunakan uji Kolmogorov Smirnov pada residual data. Setelah dilakukan pengujian diperoleh hasil signifikansi untuk persamaan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis 0,914>0,1maka H0 : Distribusi normal tidak dapat ditolak (Lampiran 9 dan 12, 2015).
Persamaan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi juga telah memenuhi 3 asumsi klasik. Pada persamaan tidak terjadi multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Multikolinearitas dilihat dari nilai VIF setiap variabel, dimana nilainya<2,77 dapat dilihat pada lampiran 17. Untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas pada data dapat dilihat dari scatterplot. Scatterplot dari residual data menunjukkan tidak membentuk suatu pola tertentu, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Sedangkan autokorelasi dengan menggunakan uji Durbin Watson diperoleh nilai Durbin Watson persamaan produksi 2,068 menunjukkan tidak terjadi autokorelasi pada data (Lampiran 17 dan 18, 2015).
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan alat bantu software SPSS diperoleh persamaan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi adalah sebagai berikut : TE = 0,776 – 0,009 Z1 +0,001 Z2 +0,001 Z3 - 0,034Z4 -0,329 Z5 (8,954) (-1,237) (0,739) (1,455) (-2,161) (-7,735) R2 = 0,539 F-hitung = 13,806 Prob-F = 0,000 t-hitung = 1,66
Secara serempak variabel tingkat pendidikan, pengalaman bertani, ketersediaan modal, jumlah lahan yang diusahakan, dan serangan hama signifikan berpengaruh terhadap efisiensi.
Secara parsial jumlah lahan yang diusahakan dan serangan hama yang berpengaruh signifikan terhadap efisiensi.
Variabel jumlah lahan yang dimiliki bertanda negatif dan signifikan berpengaruh terhadap efisiensi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak lahan yang diusahakan semakin tidak efisien petani dalam menjalankan
usahataninya. Rata-rata petani memiliki lahan 2 petak hal ini sesuai dengan pernyataan Mubyarto (1989) bahwa semakin banyak jumlah lahan yang dimiliki semakin sulit untuk melakukan pengawasan. Sementara untuk menjalankan usahataninya petani hanya menggunakan tenaga kerja dalam keluarga yang memiliki keterbasan tenaga dan waktu. Selain itu rata-rata luas lahan petani di daerah penelitian sangat sempit yaitu 0,45 ha dimana hal ini akan mempengaruhi petani dalam penggunaan faktor produksi. Petani dengan usahatani yang sempit cenderung berlebihan dalam menggunakan faktor produksi. Pada penelitian ini petani berlebihan dalam penggunaan traktor. Sedangkan koefisien serangan hama bertanda negatif dan signifikan. Hal ini menunjukkan semakin tinggi serangan semakin tidak efisien. Tentu saja serangan hama langsung berdampak signifikan terhadap penurunan produksi padi. Serangan hama yang terjadi akibat air irigasi tidak tersedia sehingga MT 1 tahun 2014 terjadi tanam tidak serempak. Serangan hama yang terjadi adalah serangan hama tikus menurut penelitian Herawati dan Sudarmaji petani belum memahami pengendalian hama tikus dikarenakan pengendalian hama ini berbeda dengan hama pada tanaman padi lainnya.Hal ini terbukti dari data yang diperoleh petani hanya menggunakan pestisida jenis insektisida, herbisida dan fungisida. Tidak ada petani yang menggunakan pestisida jenis rodentisida pada usahataninya. Kerusakan yang ditimbulkan hama tikus lebih besar dibandingkan dengan hama lainnya. Skala kerusakan yang ditimbulkan hama tikus mulai dari skala ringan sampai fuso (gagal panen). Menurut Rochman dkk, 1882 dalam Herawati dan Sudarmaji daerah dengan pola tanam padi sebanyak 2 kali dalam setahun akan melewati periode
perkembangbiakan tikus sebanyak 2 kali pula. Dan daerah dengan pola tanam yang tidak serempak memperlihatkan pola perkembangbiakan tikus yang tidak teratur. Menurut wood (1994) dalam Herawati dan Sudarmaji peningkatan populasi tikus adalah satu sampai 2 bulan setelah panen. Ini yang terjadi di daerah penelitian akibat tanam tidak serempak Desa Sei Muka duluan panen lalu setelahnya Desa Sumber Tani. Oleh Karena itu Desa Sumber Tani mengalami serangan hama tikus karena Desa Sumbertani belum panen pada saat ledakan populasi tikus terjadi.
Tingkat pendidikan, pegalaman bertani, dan ketersediaan modal tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi. Variabel tingkat pendidikan bertanda negatif hal ini menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tidak efisien hal ini bertolak belakang dengan asumsi bahwa petani dengan pendidikan yang tinggi akan lebih mudah mengadopsi praktek terbaik pada usahatani padi, namun pada kenyataannya di daerah penelitian tidaklah demikian. Meskipun petani dengan pendidikan tinggi memiliki pengalaman yang sama dengan petani yang berpendidikan rendah yaitu selama 18 tahun tetapi petani dengan pendidikan yang lebih tinggi masih tidak menerapkan praktek terbaik pada usahatani padinya. Pada kenyataannya, untuk menuju usahatani yang efisien petani membutuhkan tambahan pendidikan berupa penyuluhan pertanian. Dimana penyuluhan merupakan tugas dan tanggung jawab seorang penyuluh pertanian. Ini sesuai dengan pernyataan Mubyarto (1989) salah satu tugas penyuluh pertanian adalah membantu petani untuk meningkatkan efisiensi usahatani mereka. Akan tetapi meskipun merupakan tanggung jawab penyuluh untuk memberikan penyuluhan pertanian tentang
bagaimana pengelolaan usahatani yang baik, penyuluh tidak dapat memaksakan petani untuk menerapkannya. Hal ini dikarenakan penyuluhan pertanian bersifat tidak memaksa dan berdasarkan atas prinsip sukarela. Seperti yang diketahui dari hasil penelitian sebesar 49,23% petani pernah mengikuti penyuluhan pertanian diasumsikan mereka mendapatkan penyuluhan tentang dosis pemupukan. Hanya 27,69% petani mengikuti anjuran dari dinas pertanian.
Koefisien pengalaman bertani bertanda positif hal ini menunjukkan semakin lama pengalaman bertani semakin efisien ia dalam menjalankan usahataninya.Akan tetapi meskipun pengalaman bertani petani cukup lama yaitu rata-rata 18 tahun tidak berarti bahwa petani tersebut telah menjalankan usahataninyadengan lebih efisien. Karena petani hanya selalu mengulang-ulang pekerjaan yang sama misalnya pada umur berapa serangan hama keong, bagaimana mengendalikannya, menggunakan dosis pemupukan yang sama, bibit yang sama (tidak menggunakan bibit unggul) dsb. Petani tidak pernah merubah kebiasaannya, untuk mendapatkan hasil yang lebih efisien.
Variabel ketersediaan modal bertanda positif hal ini menunjukkan bahwa semakin tersedia modal maka petani semakin efisien dalam menjalankan usahataninya. Akan tetapi variabel ini tidak berpengaruh siginifikan hal ini dikarenakan meskipun petani memiliki modal yang tersedia petani tidak mengetahui berapa banyak faktor produksi yang sebaiknya digunakan. Seperti dosis pupuk 53,85% petani menggunakan pupuk hanya berdasarkan kebiasaan, 10,17% petani menentukan dosis berdasarkan saran dari teman, 27,69% petani mengikuti anjuran dari dinas pertanian, sedangkan sisanya
sebanyak 7,69% petani menetukan dosis pemupukan berdasarkan modal yang dimiliki. Sedangkan menurut rekomendasi pemupukan yang dikeluarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian tahun 2007 untuk kecamatan Talawi adalah 250 kg/ha untuk urea, 75 kg/ha SP-36 dan 50 kg/ha KCL. Secara umum petani tidak menerapkan dosis pemupukan seperti yang dianjurkan oleh pemerintah sehingga meskipun mereka memiliki modal yang tersedia namun dalam menjalankan usahataninya masih tidak efisien. Namun dapat dilihat pada Lampiran 17 rata-rata petani menggunakan pupuk KCL hanya 6 kg/ha, masih sangat jauh dari anjuran pemerintah.