• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Slameto (2003), dijelaskan bahwa belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku. Berhasil atau tidaknya belajar itu tergantung pada bermacam-macam faktor. Faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor Intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. a. Faktor internal, ialah faktor yang timbul dari dalam anak itu sendiri.

Meliputi:

1) Faktor Jasmaniah

a) Faktor kesehatan

Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian- bagiannya atau bebas dari penyakit. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu ia juga akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat inderanya serta tubuhnya.

Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar, istirahat, tidur, makan, olahraga, rekreasi dan ibadah.

b) Cacat Tubuh

Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Siswa yang cacat hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya itu.

2) Faktor Psikologis

Ada tujuh faktor yang tergolong ke dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor itu adalah: Inteligensi dan kreativitas, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan dan kelelahan.

commit to user

3) Faktor Kelelahan

Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis).

Kelelahan jasmani terlihat dengan lemahnya tubuh dan timbul kecenderungan untuk mmbaringkan tubuh. Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan. Kelelahan rohani dapat terjadi terus menerus memikirkan masalah yang dianggap berat tanpa istirahat, menghadapi hal-hal yang selalu sama/konstant tanpa ada variasi, dan mengerjakan sesuatu karena terpaksa dan tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatiannya. Agar siswa dapat belajar dengan baik maka perlu diusahakan kondisi yang bebas dari kelelahan.

b. Faktor eksternal (faktor sosial) ialah faktor yang datang dari luar diri si anak. Meliputi 3 faktor yaitu: Faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.

1) Faktor Keluarga, meliputi: Cara orang tua mendidik, relasi antaranggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.

2) Faktor Sekolah, meliputi: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan

siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.

3) Faktor Masyarakat, meliputi: kegiatan siswa dalam masyarakat, mass

media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat.

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kreativitas belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar seseorang, disamping faktor-faktor yang lainnya.

commit to user 4. Kreativitas

a. Pengertian Kreativitas

Penelitian tentang kreativitas telah lama dilakukan oleh para psikolog, akan tetapi hingga saat ini definisi kreativitas belum dapat dirumuskan secara pasti. Menurut Elizabeth B. Hurlock (1999: 4) ”Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan belum dikenal oleh pembuatnya.” Kreativitas disini menunjuk pada kemampuan seseorang untuk menemukan atau menciptakan sesuatu yang sifatnya asli dan benar-benar baru karena belum pernah dikenal sebelumnya.

Sedangkan menurut ahli psikologi kognitif Freedam dalam Suharman (2005: 373) berpendapat bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk memecahkan masalah, memahami dunia, menginterprestasi pengalaman dan memecahkan masalah dengan cara baru dan asli. Sedangkan Guilford dalam Asri Laksmi (2005: 53) menyatakan kreativitas adalah cara-cara berpikir yang divergen, berpikir yang produktif, berdaya cipta, berpikir heuristik dan berpikir lateral. Selanjutnya menurut Rogers dalam Utami Munandar (1999: 18) Sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasi diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme.

Pengembangan imajinasi siswa dan pemikiran yang kreatif sangat penting karena dengan berpikir kreatif, siswa mampu mengelaborasi mengembangkan, memperkaya, memerinci) suatu gagasan. Menurut Guilford dalam Utami Munandar (1999: 7) gambaran yang tampak dalam dunia pendidikan adalah pembelajaran lebih ditekankan pada hafalan dan mencari satu jawaban yang benar terhadap soal-soal yang diberikan. Sedangkan proses pemikiran tinggi termasuk berpikir kreatif jarang dilatih sehingga banyak lulusan yang cukup mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan menguasai teknik-teknik yang diajarkan, tetapi mereka tidak berdaya jika dituntut untuk memecahkan masalah yang memerlukan cara-cara yang baru.

commit to user

Oleh karena itu pengembangan kreativitas sejak usia dini, tinjauan- tinjauan penelitian tentang kreativitas, serta cara-cara yang dapat memupuk, merangsang, dan mengembangkannya menjadi sangat penting karena:

1) Menurut Maslow dalam Utami Munandar (1999: 31) dengan berkreasi

dapat mewujudkan (mengaktualisasikan) dirinya, dan

perwujudan/aktualisasi diri merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalam hidup manusia.

2) Menurut Guilford dalam Utami Munandar (1999: 31) kreativitas atau

berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan.

3) Menurut Biondi dalam Utami Munandar (1999: 31) bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat bagi pribadi dan bagi lingkungan tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu.

4) Menurut Utami Munandar (1999: 31) ”Kreativitas memungkinkan

manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya.”

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan mental seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan belum dikenal oleh pembuatnya. Kreativitas adalah kemampuan menginterprestasi pengalaman dan memecahkan masalah dengan cara baru dan asli dengan berpikir yang divergen, berpikir yang produktif dan berdaya cipta karena adanya kecenderungan dalam diri seseorang untuk mengaktualisasi diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuannya.

b. Unsur-unsur kreativitas

Rhodes (dalam Isaksen dalam Utami Munandar, 1999: 20) dalam menganalisis lebih dari 40 definisi tentang kreativitas, menyimpulkan bahwa ”Kreativitas dirumuskan dalam istilah pribadi (person), proses dan produk. Dapat pula ditinjau dari kondisi pribadi dan lingkungan yang mendorong

commit to user

(press) ke individu ke perilaku kreatif. Ini sebagai ”Four P’s of Creativity Person, Process, Press, Product.”

Berdasarkan analisis Rhodes ini dapat disimpulkan bahwa kreativitas meliputi 4 unsur, yaitu: pribadi, proses, pendorong dan produk. Untuk selanjutnya masing-masing unsur dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Pribadi

Kreativitas dari aspek pribadi muncul dari keunikan pribadi individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Setiap anak mempunyai bakat kreatif , namun masing-masing dalam bidang dan dalam kadar yang berbeda-beda. Pendidik hendaknya mengenali dan menghargai bakat kreatif anak dan memberi kesempatan untuk mengembangkannya secara optimal. Kreativitas sebagai kemampuan berfikir meliputi kelancaran (dapat mngemukakan ide-ide), kelenturan atau fleksibilitas (dapat melihat suatu masalah dari beberapa sudut pandang), orisinilitas (mempunyai gagasan-gagasan yang jarang diberikan orang lain), dan elaborasi (dapat merinci dan memperkaya suatu gagasan).

2) Proses

Kreativitas sebagai proses ialah proses bersibuk diri secara kreatif. Hendaknya kreativitas sebagai proses yang diutamakan dengan jangan terlalu cepat mengharapkan produk kreatif yang bermakna dan bermanfaat. Jika pendidik terlalu cepat menuntut produk kreatif yang memenuhi standar mutu tertentu, hal ini akan mengurangi kesenangan dan keasyikan anak untuk berkreasi.

3) Pendorong

Kreativitas ditinjau dari aspek pendorong menunjuk pada perlunya dorongan dari dalam individu (berupa minat, hasrat, dan motivasi) dan dari luar (lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat) agar bakat kreatif dapat diwujudkan. Sehubungan dengan ini pendidik diharapkan dapat memberi dukungan, perhatian serta sarana-prasarana yang diperlukan.

commit to user

4) Produk

Kreativitas sebagai produk, merupakan suatu ciptaan yang baru dan bermakna bagi individu dan atau bagi lingkungannya. Pada seorang anak, hasil karyanya sudah dapat disebut kreatif, jika baginya hal itu baru, ia belum pernah membuat itu sebelumnya, dan ia tidak meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain, dan yang penting, produk kreativitas anak perlu dihargai agar ia merasa puas dan tetap bersemangat dalam berkreasi.

c. Ciri-ciri individu kreatif

Sejumlah studi tentang pola kepribadian yang sangat kreatif telah dilakukan. Dari hasil studi ini dilaporkan bahwa tidak ada ciri tunggal yang secara khas ditemukan pada individu yang kreatif, tetap ditemukan sekelompok ciri yang berhubungan. Menurut Elizabeth B. Hurlock (1999: 5) ”ciri-ciri individu yang kreatif sebagai ”sindrom kreativitas”. ”

Di antara ciri dalam sindrom kreativitas itu adalah keluwesan, ketidakpatuhan, kebutuhan akan otonomi, kebutuhan bermain, kesenangan mengolah gagasan, ketegasan, ketenangan, keyakinan diri, rasa humor, keterbukaan, persistensi intelektual, kepercayaan diri, keingintahuan, kesenangan mengambil resiko yang sudah diperhitungkan bila keberhasilan bergantung pada kemampuan sendiri, minat yang tidak sesuai dengan jenis kelamin, perasaan malu dalam situasi sosial, lebih menyukai fantasi daripada petualangan nyata, keberanian berpetualang, dan ketekunan mengembangkan minat yang dipilih sendiri. Jadi sindrom kreativitas berupa sekelompok sifat yang menonjol yang dimiliki oleh individu yang mempunyai tingkat kreativitas tinggi. Dari sindrom kreativitas yang dikembangkan di atas tampak bahwa sifat-sifat itu cenderung mengarah pada kebebasan dan kesenangan dalam berekspresi.

Ciri-ciri yang hampir sama juga telah disebutkan oleh Utami Munandar (1999: 26). Peringkat dari 10 ciri-ciri pribadi kreatif yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi (30 orang) adalah sebagai berikut:

commit to user

2) Mempunyai prakarsa

3) Mempunyai minat luas

4) Mandiri dalm berpikir

5) Melit (selalu ingin tahu segala hal)

6) Senang berpetualang

7) Penuh energi

8) Percaya diri

9) Bersedia mengambil resiko

10)Berani dalam pendirian dan keyakinan

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas

Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas dapat dibedakan menjadi 2, yaitu faktor-faktor eksternal dan faktor-faktor internal. Faktor internal berasal dari dalam individu sendiri, sedangkan faktor eksternal berasal dari luar individu.

Sedangkan menurut Elizabeth B. Hurlock (1999: 8-9) ada 5 faktor yang mempengaruhi kreativitas:

1) Jenis kelamin

Anak laki-laki menunjukkan kreativitas yang lebih besar dari anak perempuan, terutama setelah beralalunya masa kanak-kanak. Untuk sebagian besar hal ini disebabkan oleh perbedaan perlakuan terhadap anak laki-laki lebih diberi kesempatan untuk mandiri, didesak oleh teman sebayanya untuk lebih mengambil resiko, dan didorong oleh para orang tua dan guru untuk lebih menunjukkan inisiatif dan orisinalitas. Torrance mengatakan, ”tidak perlu diragukan bahwa sikap dan perlakuan masyarakat terhadap anak perempuan dan wanita mempengaruhi perkembangan kreativitas dan perilaku mereka”.

2) Status sosioekonomi

Anak dari kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi cenderung lebih kreatif dari anak kelompok yang lebih rendah. Yang pertama, kebanyakan dibesarkan dengan cara mendidik anak secara demokratis, sedangkan yng terakhir mungkin lebih mengalami pendidikan yang otoriter. Kontrol demokratis mempertinggi kreativitas karena memberi kesempatan yang lebih banyak bagi anak untuk menyatakan individualitasnya, mengembangkan minat dan kegiatan yang dipilihnya sendiri. Lebih penting lagi, lingkungan kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi memberi lebih banyak kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan bagi kreatvitas. Misalnya, anak kecil dari lingkungan yang kekurangan hanya mempunyai sedikit bahan kreatif untuk bereksperimen dengan lilin, lukisan, dan boneka

commit to user

dibandingkan dengan mereka yang mempunyai lingkungan sosioekonomi yang lebih baik.

3) Urutan kelahiran

4) Ukuran keluarga

5) Lingkungan kota versus lingkungan pedesaan

e. Berpikir kreatif dan kreativitas

Dalam berfikir kreatif tidak boleh terlalu cepat memberikan evaluasi terhadap ide-ide yang muncul atau membuangnya meskipun ide itu kurang berarti. Sebaiknya ide itu dicatat dan pada akhir periode barulah dilakukan evaluasi tentang manfaat dari ide tersebut. Untuk dapat melakukan berfikir kreatif dengan baik diperlukan keberanian dan keyakinan terhadap diri sendiri.

Berpikir kreatif sangat erat hubungannya dengan kreativitas, karena kreativitas merupakan hasil dari proses berfikir kreatif yang dilakukan oleh seseorang. Berfikir kreatif adalah berfikir divergen atau lateral, yakni menghubungkan ide atau hal-hal yang sebelumnya tidak berhubungan. Disini terdapat banyak alternatif jawaban yang diajukan untuk memecahkan persoalan dan pikiran didorong untuk menyebar jauh dan luas mencari pemecahan masalah.

f. Ciri-ciri berfikir kreatif

Berbagai penelitian psikologi terhadap orang-orang yang berfikir kreatif telah menghasilkan beberapa kriteria atau ciri-ciri orang yang kreatif. Menurut S. C. Utami Munandar dalam Tim KWU UNS (2000: 24), memberikan ciri-ciri orang berfikir kreatif yaitu:

1) Memiliki dorongan ingin tahu yang besar.

2) Sering mengajukan pertanyaan yang baik.

3) Sering banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah.

4) Bebas dalam menyatakn pendapat.

5) Menonjol dalam salah satu bidang seni.

6) Memiliki pendapat sendiri dan mampu mengutarakannya.

7) Tidak mudah terpengaruh orang lain.

8) Daya imajinasinya kuat.

9) Memiliki tingkat orisinalitas yang tinggi. 10)Dapat bekerja sendiri.

commit to user

g. Cara mengembangkan berpikir kreatif dan kreativitas

Davis dalam Slameto (2003: 154) menyatakan bahwa terdapat tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kreativitas:

1) Sikap Individu

Mencakup tujuan untuk menemukan gagsan-gagasan serta produk- produk pemecahan baru. Untuk tujuan itu perlu perhatian khusus

bagi pengembangan kepercayaan diri siswa dan perlu

membangkitkan rasa ingin tahu siswa.

2) Kemampuan dasar yang diperlukan

Mencakup kemampuan berpikir konvergen dan divergen.

3) Teknik-teknik yang digunakan

a) Melakukan pendekatan inquiry (pencaritahuan)

b) Menggunakan teknik-teknik sumbang saran (brainstorming)

c) Memberikan penghargaan bagi prestasi kreatif

d) Meningkatkan pemikiran kreatif melalui banyak media

Dari berbagai faktor yang mempengaruhi kreativitas mulai dari dalam individu sendiri, keluarga, sampai pada lingkungan kerja nampak bahwa pengaruh lingkungan sangat penting dalam mendorong dan mengembangkan kemampuan berfikir kreatif. Untuk mendukung pengembangan tersebut diperlukan beberapa hal, antara lain:

1) Mempunyai pendidikan yang mendukung pengembangan kreativitas

2) Mempunyai keberanian kreatif, keberanian menolak yang baku untuk

menciptakan yang baru

3) Mempunyai peluang untuk melakukan kreativitas

4) Mempunyai motivasi intelektual yang tinggi

5) Mempunyai kemampuan kognitif

6) Sikap yang bebas, mandiri dan percaya diri, terbuka untuk menerima rangsang internal maupun eksternal

Dokumen terkait