A. Infertil
8. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Infertil Yaitu:
a. Umur
Di Indonesia angka kejadian perempuan infertil 15% pada usia 30-34 tahun meningkat 30% pada usia 35-39 tahun dan 64%
pada usia 40-44 tahun. Kemampuan reproduksi wanita menurun drastis setelah berumur 35 tahun. Hal ini dikarenakan cadangan sel telur yang makin sedikit. Fase reproduksi wanita adalah masa sistem reproduksi wanita berjalan optimal sehingga wanita berkemampuan untuk hamil. Fase ini dimulai setelah fase pubertas sampai sebelum fase menopause (Idra dan Irsal, 2008).
Fase pubertas wanita adalah fase disaat wanita mulai dapat bereproduksi yang ditandai dengan haid pertama kalinya (menarche) dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder yaitu membesarnya payudara, tumbuhnya rambut disekitar alat kelamin, dan timbunan lemak dipanggul. Fase Reproduksi pada wanita terjadi pada umur 20-35 tahun. Pada fase reproduksi wanita memiliki 400 sel telur. Semenjak wanita mengalami menstruasi secara periodik yaitu pelepasan satu sel telur. Jadi, wanita dapat mengalami menstruasi sampai sekitar 400 kali. Pada umur 35
tahun simpanan sel telur menipis dan mulai terjadi perubahan keseimbangan hormon sehingga kesempatan wanita untuk bisa hamil menurun drastis. Kualitas sel telur yang dihasilkanpun menurun sehingga tingkat keguguran meningkat sampai pada akhirnya kira-kira umur 45 tahun sel telur habis dan wanita tidak menstruasi lagi atau tidak bisa hamil lagi. Pemeriksan cadangan sel telur dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah atau USG saat mentruasi hari kedua atau ketiga (Andi saraswati, 2015).
b. Lama Infertil
Berdasarkan laporan klinik di Surabaya, lebih dari 50%
pasangan dengan masalah infertil datang terlambat dalam artian umur makin tua, penyakit pada organ reproduksi yang makin parah dan makin terbatasnya jenis pengobatan yang sesuai dengan diberi batasan jumlah bulan di mana pasangan melakukan senggama tanpa metode kontrasepsi. Hal ini penting karena dapat memberikan informasi prognostik tentang infertil tiga tahun atau kurang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mengalami kehamilan spontan di kemudian hari. Jika lama infertil lebih panjang, maka sangat mungkin ada masalah biologis yang berat.
Lama infertil perlu dalam merancang atau melaporkan penelitian ilmiah dan klinis tentang infertil. Pada percobaan klinis tanpa kontrol, angka kehamilan spontan sering kali disalah artikan sebagai efek pengobatan. Pada umumnya, pasangan di negara
maju mencari bantuan pengobatan setelah waktu intertilitas yang lebih pendek. Lama infertil tidak memberikan informasi tentang apakah masalah infertil ada pada pihak pria atau wanita. Pada kasus-kasus infertil sekunder harus dicatat jumlah bulan setelah kehamilan terakhir. Untuk pria dengan infertil sekunder, jangka waktu yang lebih panjang dari kehamilan terakhir dapat berhubungan dengan peningkatan kemungkinan kelainan yang didapat pada diagnosis.pasangan tersebut (Anastasia Oktarina, 2014).
c. Gaya hidup
Gaya hidup ternyata pegang peranan penting dalam menyumbang angka kejadian infertil, yakni sebesar 15-20%. Gaya hidup yang serba cepat dan kompetitif dewasa ini rentan membuat seseorang terkena stress. Padahal kondisi jiwa yang penuh gejolak bisa menyebabkan gangguan ovulasi, gangguan spermatogenesis, spasme tuba fallopii, dan menurunnya frekuensi hubungan suami istri (Kurniawan,2008).
d. Kegemukan
Timbunan lemak dapat mengganggu kinerja organ tubuh, termasuk organ-organ reproduksi. Kadar kolestrol yang tinggi akan mengusik keseimbangan hormonal yang antara lain bermuara pada terganggunya siklus haid, bisa berupa haidnya terlambat, tidak datang sama sekali dalam beberapa bulan meski tidak hamil,
atau sebaliknya justru keluar terus tapi tidak teratur. Padahal gangguan haid berpengaruh langsung pada perhitungan matangnya sel telur, sedangkan hubungan seks di luar masa subur berpeluang tipis menghasilkan pembuahan. Pada pria gemuk terjadi penumpukan lemak dimana-mana, termasuk di daerah pubis (bagian atas kemaluan), sehingga penisnya tampak pendek dan kecil. Akibatnya, dapat menghambat kontak seksual.
Selain itu, obesitas juga berpengaruh pada metabolisme testosterone. Padahal hormon ini menjamin berkembangnya organ reproduksi, timbulnya ciri-ciri seks sekunder laki-laki sebelum pubertas dan berlangsungnya spermatogenesis (pembentukan sperma) serta mempertahankan fungsi seksual setelah pubertas (Kurniawan, 2008).
e. Sangat kurus
Gangguan siklus haid pada umumnya dialami oleh wanita yang sangat kurus, misalnya pada atlet lari jarak jauh, model, penari balet, ataupun mereka yang mengalami pengurangan berat badan secara signifikan dan mendadak. Bisa dimengerti karena dalam tubuh, lemak antara lain berfungsi melancarkan metabolisme (Kurniawan, 2008).
f. Lingkungan
Salah satunya, polusi udara akibat kebiasaan merokok maupun buang timbal dari kendaraan bermotor. Mereka yang
terpapar zat-zat polutan terbukti mengalami penurunan kualitas sperma. Begitu juga pemakaian ganja, kokain, dan heroin disinyalir menyebabkan gangguan sekresi hormon gonadotropin dan prolaktin yang bertujuan pada pengahambatan pelepasan sel telur pada wanita (Puspayanti, 2008).
g. Akrab dengan minuman berakohol
Konsumsi alkohol pada wanita akan menekan produksi hormon esterogen dan progesteron namun meningkatkan prolaktin yang akan menghambat proses ovulasi. Pada pria alkohol akan menurunkan ukuran testis, volume semen (air mani), maupun konsentrasi (kepekatan), mobilitas (kecepatan bergerak), serta morfologi normal spermatozoa.
h. Obat-obatan
Obat-obatan tertentu yang termasuk golongan narkotik maupun obat-obatan kedokteran, seperti beberap jenis antibiotik, obat darah tinggi, obat sakit maag, obat anti kejang, maupun obat-abatan yang digunakan dalam terapi melawan kanker dapat menurunkan kesuburan wanita dan mempengaruhi kualitas sperma.
i. Olahraga berlebihan
Pada wanita, olahraga berlebihan bisa menyebabkan sulit hamil karena mengganggu siklus haid. Diduga akibat penurunan produksi gonadotropin serta peningkatan produksi endorphin dan
kortisol.
j. Gangguan ovulasi
Ovulasi adalah proses terlepasnya sel ovum dari ovarium sebagai akibat pecahnya folikel yang telah masak. Waktu yang dibutuhkan oleh seluruh proses ovulasi tergantung pada lokasi sel telur dalam folikel. Waktu ovulasi akan singkat apabila sel telur berada di dasar folikel dan akan lama apabila sel telur berada dekat pada stigma yang meTanpajol dipermukaan ovarium.
Gangguan ovulasi jumlahnya sekitar 30-40% dari seluruh kasus infertil wanita. Gangguan-gangguan ini umumnya sangat mudah didiagnosis menjadi penyebab infertil. Karena ovulasi sangat berperan dalam konsepsi, ovulasi harus dicatat sebagai bagian dari penilaian dasar pasangan infertil.
k. Infeksi
Umumnya ditandai dengan munculnya keputihan yang mesti mendapat perhatian serius. Jika dibiarkan berlanjut dan tak mendapat pengobatan semestinya, infeksi ini akan merambat naik ke rahim atau bahkan ke adneksa yang terdiri dari saluran telur, indung telur, dan ligamentum atau otot-otot penyangga rahim.Terapinya cukup dengan pemberian obat-obatan golongan antibiotik yang tepat. Namun butuh kesabaran dari pasien untuk menjalani terapi ini agar infeksinya benar-benar sembuh.
Pencegahan infeksi dapat dilakukan antara lain dengan menjaga
kebersihan kebersihan diri saat buang air. Terutama kala terpaksa buang air di tempat umum yang kurang terjaga kebersihanya, sedapat mungkin segera bilas begitu menemukan air bersih.
Perhatikan pula pola membasuhnya, yakni dari atas ke bawah.
Jangan pernah sebaliknya, dari anus ke vagina, karena berpeluang membawa kuman yang mungkin bercokol di anus ke vagina (Kurniawan, 2008).