TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
Menurut Syahyunan (2013:314) ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen, diantaranya adalah:
1. Posisi Solvabilitas Perusahaan
Apabila perusahaan dalam kondisi solvabilitasnya kurang menguntungkan, biasanya perusahaan tidak membagikan laba. Hal ini disebabkan karena laba yang diperoleh digunakan untuk memperbaiki struktur modal perusahaan. 2. Posisi Likuiditas Perusahaan
Perusahaan membayarkan dividen berarti harus bisa menyediakan uang kas yang cukup banyak dan ini akan menurunkan tingkat likuiditas perusahaan. Bagi perusahaan yang likuiditas perusahaannya kurang baik, biasanya dividend
payout ratio kecil, sebab sebagian laba yang digunakan untuk menambah
likuiditas.
3. Kebutuhan Untuk Melunasi Hutang.
Hutang-hutang harus dibayar pada saat jatuh tempo, dan untuk membayar hutang-hutang tersebut disediakan dana. Semakin banyak hutang yang harus
dibayar, maka semakin besar dana yang harus disediakan sehingga akan mengurangi jumlah dividen yang harus dibayarkan kepada pemegang saham. 4. Rencana Pelunasan
Perusahaan yang berkembang ditandai dengan semakin pesatnya pertumbuhan perusahaan dan hal ini bisa dilihat dari perluasan yang dilakukan perusahaan. Konsekuensinya, semakin besar dana yang dibutuhkan untuk itu.
5. Kesempatan Investasi
Semakin terbuka kesempatan investasi, maka semakin kecil dividen yang dibayarkan sebab dananya digunakan untuk memperoleh kesempatan investasi. Namun bila kesempatan investasi kurang baik, maka dananya akan digunakan untuk membayar dividen.
6. Stabilitas Pendapatan
Perusahaan yang pendapatannya stabil tidak perlu menyediakan kas yang banyak untuk berjaga-jaga, sedangkan perusahaan yang pendapatannya tidak stabil harus menyediakan uang yang besar untuk berjaga-jaga.
7. Pengawasan terhadap Perusahaan
Perusahaan mencari sumber dana dari modal sendiri, kemungkinan akan masuk investor baru dan ini tentunya akan mengurangi kekuasaan pemilik/pemegang saham lama dalam mengendalikan perusahaan. Jika dibelanjai dari hutang, risikonya cukup besar. Oleh karena itu, perusahaan cenderung tidak membagi dividennya agar pengendalian tetap bisa dijalankan.
Adapun penelitian ini berfokus pada faktor-faktor yang diduga paling berpengaruh terhadap rasio pembayaran dividen terhadap harga saham yang antara lain sebagain berikut:
1. Likuditas
Likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek pada waktunya. Rasio yang paling umum digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas adalah current ratio yang menunjukkan seberapa besar aktiva lancar dapat menutupi kewajiban lancar.
Current ratio merupakan salah satu faktor penting yang harus
dipertimbangkan dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan pendapatan para investor melalui pembagian dividen. Semakin besar current ratio maka kemampuan perusahaan untuk menutupi kewajiban lancarnya juga semakin besar. Rumus menghitung current ratio adalah: s Liabilitie Current Assets Current Ratio Current = 2. Leverage Ratio
Menurut Syahyunan (2013:104), “Leverage Ratio digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam melunasi seluruh hutang-hutangnya atau dengan kata lain rasio ini dapat pula digunakan untuk mengetahui bagaimana perusahaan mendanai kegiatan usahanya apakah lebih banyak menggunakan hutang atau ekuitas”. Leverage Ratio yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah Debt to Equity Ratio dan Debt to Total Assets.
Menurut Syahyunan (2013:105), ”Debt to Equity Ratio adalah perbandingan hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajiban”. Rumus menghitung Debt to Equity Ratio adalah:
Equity Total s Liabilitie Total Ratio Equity to Debt =
Menurut Sartono (2006:30) Debt to Total Assets Ratio (DAR) digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah aktiva perusahaan dibiayai dengan total hutang. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk investasi pada aktiva guna menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Rumus menghitung Debt to Total Assets adalah:
Assets Total s Liabilitie Total Assets Total to Debt = 3. Profitabilitas
Profitabilitas dalam penelitian ini diproksikan oleh Return on Assets dan
Return on Equity (ROE) yang berarti kemampuan perusahaan menghasilkan laba
yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan. Keuntungan yang layak dibagikan kepada para pemegang saham adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi seluruh kewajiban tetapnya yaitu beban bunga dan pajak. Karena dividen diambil dari keuntungan bersih perusahaan maka keuntungan tersebut akan mempengaruhi besarnya dividend payout ratio. Perusahaan yang memperoleh keuntungan cenderung akan membayar porsi keuntungan yang lebih besar sebagai dividen. Semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka akan semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.
Return on Asset (ROA) adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan total aktiva yang ada dan setelah biaya-biaya modal (biaya yang digunakan mendanai aktiva) dikeluarkan dari analisis. Rumus menghitung Return on Assets adalah: Aktiva Total Tax After Earning Assets on turn = Re
Menurut Wahyuni (2015), Return On Equity (ROE) adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dengan menggunakan modal sendiri dan menghasilkan laba bersih yang tersedia bagi pemilik atau investor. ROE sangat bergantung pada besar kecilnya perusahaan, misalnya untuk perusahaan kecil tentu memiliki modal yang relatif kecil, sehingga ROE yang dihasilkanpun kecil, begitu pula sebaliknya untuk perusahaan besar. Rumus menghitung Return on Equity adalah:
Equity Total Taxes After Earning Equity on turn = Re 4. Growth
Makin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, makin besar kebutuhan dana untuk waktu mendatang untuk membiayai pertumbuhannya. Perusahaan tersebut biasanya akan lebih senang untuk menahan pendapatannya daripada dibayarkan sebagai dividen. Apabila perusahaan telah mencapai tingkat pertumbuhan yang mapan, dimana kebutuhan dananya dapat dipenuhi dengan dana yang berasal dari pasar modal atau sumber dana ekstern lainnya, maka keadaannya adalah berbeda. Dalam hal yang demikian perusahaan dapat
menetapkan dividend payout ratio yang tinggi. Rumus untuk menghitung Growth adalah: 1 1 − − − = t t t Assets Total Assets Total Assets Total Growth
5. Collaterizable Assets (COL)
Perusahaan sebagai debitur menggunakan aset tetap sebagai jaminan pinjamannya. Besarnya aset tetap yang digunakan debitur sebagai jaminan disebut Collaterizable assets. Penjaminan aset tetap adalah aset dalam bentuk property, surat berharga, atau harta lain yang telah terikat sebagai jaminan untuk mendukung penerbitan obligasi, surat utang atau pinjaman. Semakin besar
collaterizable assets, semakin besar dana perusahaan yang diinvestasikan pada
aktiva tetap, sehingga semakin kecil dividen yang dibagikan. Rumus untuk menghitung Collaterizable Assets adalah:
Assets Total Assets Fix Assets able Collateriz =