• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

6. Firm Size

1.1 Latar Belakang

Persaingan yang ketat antar perusahaan saat ini mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam kondisi perekonomian yang semakin global. Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan pasar modal yang memiliki peranan penting dalam membangun perekonomian Indonesia. Semakin efisien dan efektif pengelolaan pasar modal, maka semakin banyak pula para calon emiten yang berdatangan ke pasar modal dan pada akhirnya akan memperkuat daya saing.

Kebijakan pembayaran dividen mempunyai dampak yang sangat penting bagi investor maupun bagi perusahaan yang membayarkan dividen. Pada umumnya, para investor mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraannya dengan mengharapkan return dalam bentuk dividen maupun capital gain. Dilain pihak, perusahaan juga mengharapkan pertumbuhan sekaligus mempertahankan kelangsungan hidupnya dan memberikan kesejahteraan bagi pemegang saham..

Kebijakan dividen terkait juga dengan hubungan antara manajer dengan para pemegang saham. Kepentingan dari pemegang saham dan manajer bisa berbeda dan mungkin bisa menimbulkan suatu konflik. Misalnya, manajer menghendaki pembagian dividen yang kecil karena perusahaan membutuhkan dana yang besar untuk mendanai investasinya sedangkan pemegang saham menghendaki pembagian dividen yang besar.

Selain melalui pembagian dividen, investor juga dapat memperoleh capital gain, yaitu keuntungan dari investasi saham dengan naik turunnya harga saham

atau berfluktuasinya harga saham. Naik turunnya harga saham di bursa dipengaruhi juga oleh banyak faktor antara lain adanya rumor atau isu serta perbedaan persepsi masing-masing investor terhadap kinerja perusahaan go public

sehingga berlaku hukum pasar. Jika investor memperkirakan kinerja perusahaan yang bersangkutan membaik di masa mendatang, maka banyak investor akan melakukan pembelian terhadap saham perusahaan tersebut.

Kebijakan dividen adalah keputusan perusahaan mengenai pembagian laba yang diperoleh kepada para pemegang saham sebagai dividen atau ditahan dalam bentuk laba atau retained earning untuk pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai dividen, maka akan mengurangi laba ditahan yang selanjutnya mengurangi total sumber dana internal atau internal financing. Sebaliknya, jika perusahaan tidak membagikan laba yang diperoleh maka kemampuan pembentukan dana internal atau internal financing akan semakin besar.

Persentase laba yang akan dibagikan perusahaan dalam bentuk dividen dalam bentuk tunai kepada perusahaan disebut rasio pembayaran dividen atau

dividend payout ratio. Dividend Payout Ratio merupakan salah satu komponen

dasar kebijakan dividen.

Profitability adalah perusahaan menghasilkan laba atau profit (Ahmad dan Wardhani, 2014). Laba yang diperoleh perusahaan digunakan untuk pembagian dividen. Keuntungan yang layak dibagikan kepada pemegang saham adalah keuntungan setelah bunga dan pajak. Semakin besar keuntungan yang diperoleh semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya dan

melanjutkan kegiatan usahanya atau menginvestasikan kembali keuntungannya. Semakin besar keuntungan yang dapat diraih perusahaan akan semakin besar dividen yang akan dibagikan. Dengan demikian semakin besar profitabilitas maka semakin menghemat biaya modal. Oleh karena itu, profitabilitas menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam keputusan investasi.

Liquidity perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan mendanai

operasional perusahaan dan melunasi kewajiban jangka pendeknya (Ahmad dan Wardhani, 2014). Dalam pembayaran dividen suatu perusahaan akan selalu berhubungan dengan kas. Dimana kas adalah bagian dari aktiva lancar. Bila suatu perusahaan memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, maka hal itu baik. Berarti seperti yang dikatakan pengertiannya, perusahaan mampu melunasi kewajiban jangka pendeknya dengan kas yang tersedia dalam perusahaan. Sebaliknya, tingkat likuiditas yang rendah menyebabkan perusahaan tidak mampu dalam melakukan pelunasan untuk kewajiban jangka pendeknya.

Leverage adalah ratio antara hutang terhadap ekuitas. Keberadaan leverage

dipengaruhi oleh tingkat likuiditas suatu perusahaan, bila suatu perusahaan mengeluarkan kas nya untuk pembagian dividen. Hal ini menyebabkan tingkat likuiditas menurun, maka leverage akan semakin besar. Apabila terjadi kondisi seperti itu, maka dividen yang akan dibagikan cenderung rendah.

Manajemen sering kesulitan untuk memutuskan apakah akan membagi dividennya atau akan menahan laba untuk diinvestasikan kembali kepada proyek-proyek yang menguntungkan guna meningkatkan pertumbuhan maka diperkirakan bahwa pertumbuhan perusahaan (growth) menjadi salah satu penentu kebijakan

pembagian dividen. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan perusahaan, akan semakin besar tingkat kebutuhan dana untuk membiayai ekspansi. Hal ini kemungkinan akan mengurangi besaran dividen yang akan diterima investor.

Perusahaan yang mempunyai reputasi baik adalah perusahaan yang mampu memberikan dividen secara konstan terhadap pemegang saham. Selain itu, perusahaan sebagai kreditur menggunakan aktiva tetap sebagai jaminan pinjamannya. Besarnya aktiva tetap yang digunakan kreditur sebagai jaminan disebut peminjaman aktiva tetap (collaterizable asset). Semakin besar penjaminan aktiva tetap, semakin besar dana perusahaan yang diinvestasikan pada aktiva tetap, sehingga semakin kecil dividen yang dibagikan. Dari penelitian yang dilakukan oleh Nurmaida (2015) menemukan bahwa terdapat pengaruh penjaminan aktiva tetap terhadap kebijakan dividen. Keputusan pembagian dividen merupakan suatu masalah yang dihadapi perusahaan.

Investor mengharapkan pembayaran dividen yang tinggi dan konsisten ketika berinvestasi pada perusahaan yang besar dan mapan. Perusahaan yang memiliki financial maturity akan memiliki akses yang lebih mudah ke pasar modal, sehingga dapat mengurangi ketergantungan mereka pada dana internal, dengan demikian mereka dapat menawarkan dividen yang lebih tinggi. Ini sejalan dengan penelitian Ahmad dan Wardhani (2014) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan (Firm Size) berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen.

Sektor pertambangan sekarang ini tetap menjadi salah satu sektor utama yang menggerakan roda perekonomian Indonesia. Indikasi ini terlihat dari kontribusi penerimaan negara yang setiap tahunnya meningkat. Beberapa

permasalahan industri pertambangan yang muncul belakangan ini menyebabkan sektor ini berada pada kondisi yang dilematis terkait dengan permasalahan sosial, politis, perundangan hingga Pertambangan Tanpa Izin (PETI). Dewasa ini, pasar komoditi logam dan mineral dunia sedang mengalami “booming” harga dan

unpredicted conditions” sementara aktivitas eksplorasi dan investasi juga

meningkat. Tetapi Indonesia masih belum mampu memanfaatkan kondisi yang “menarik” ini secara optimal. Kendala ini menyebabkan terhambatnya optimalisasi kontribusi sektor pertambangan dalam mendorong perekonomian nasional

Sektor pertambangan merupakan salah satu penopang pembangunan ekonomi suatu negara, karena peranannya sebagai penyedia sumber daya energi yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan perekonomian suatu negara. Potensi yang kaya akan sumber daya alam akan dapat menumbuhkan terbukanya perusahaan- perusahaan untuk melakukan eksplorasi pertambangan sumber daya tersebut. Sifat dan karakteristik pertambangan berbeda dengan industri lainnya. Salah satunya industri pertambangan memerlukan biaya investasi yang sangat besar, berjangka panjang, syarat risiko dan adanya ketidakpastian yang tinggi, menjadikan masalah pendanaan sebagai isu utama terkait pengembangan perusahaan.

Tabel 1.1

Data Laba Bersih, Total Aset, Jumlah Hutang dan Dividen per lembar saham pada Perusahaan Pertambangan Terbuka di BEI periode 2011-2015

Nama Perusa haan

Tahun Laba Bersih (Rupiah) Total Aset (Rupiah) Jumlah Hutang (Rupiah) Dividen per lembar saham (Rupiah) ADR0 2011 552.103 5.658.961 3.216.738 150.911.000 2012 383.307 6.692.256 3.697.202 260.636.000 2013 441.639 6.622.637 3.582.515 35.185.000 2014 489.832 6.413.864 3.154.392 65.252.000 2015 331.881 5.958.629 2.605.586 80.605.000 GEMS 2011 301.659.878.383 3.302.301.908 32.031.563 1.700.000 2012 178.934.525.099 3.440.326.009 65.215.532 1.136.764 2013 170.266.525.099 2.393.567.309 58.020.786 1.852.941 2014 167.110.818.904 1.315.639.491 67.581.886 3.028.887 2015 123.672.088.781 1.369.667.295 92.155.683 3.028.887 PTRO 2011 52.643 377.298 218.066 14.085.000 2012 49.122 529.742 342.452 21.057.000 2013 17.308 509.242 311.666 7.000.000 2014 12.356 467.732 275.488 7.000.000 2015 12.691 425.368 247.091 11.620.000 ELSA 2011 30.115 4.389.950 2.485.125 30.390.000 2012 135.597 4.294.557 2.252.312 27.177.000 2013 242.605 4.377.762 2.118.153 15.111.000 2014 431.457 4.256.884 1.707.426 12.010.000 2015 379.745 4.407.513 1.772.327 19.101.000 Sumber: www.idx.com (Data Diolah)

Dari Tabel 1.1 dapat dilihat bahwa laba bersih perusahaan, total aset, jumlah hutang dan dividen per lembar saham berfluktuasi setiap tahun. Dimana, pada perusahaan Adaro Energy Tbk (ADRO) dari tahun 2012-2013 laba bersih mengalami kenaikan, sedangkan total aset dan total utang mengalami penurunan dan dividen per saham yang diperoleh perusahaan ini mengalami penurunan, sedangkan di tahun 2014-2015 mengalami penurunan laba bersih, total aset dan total utang, namun dividen per saham yang diperoleh perusahaan ini mengalami kenaikan.

Pada perusahaan Golden Energy Mines Tbk (GEMS) dari tahun 2014-2015 laba bersih mengalami penurunan sedangkan total aset mengalami kenaikan, namun dividen per lembar saham yang diperoleh perusahaan ini tetap tanpa ada

perubahan nilai. Begitu juga pada perusahaan Petrosea Tbk (PTRO) di tahun 2013-2014 laba bersih,total aset dan total utang mengalami penurunan, namun dividen per lembar saham yang diperoleh perusahaan ini tetap tanpa ada perubahan nilai.

Pada perusahaan Elnusa Tbk (ELSA) dari tahun 2012-2013 mengalami kenaikan laba bersih dan total aset, sedangkan total utang dan dividen per lembar saham mengalami penurunan. Sedangkan dari tahun 2014- 2015 laba bersih mengalami penurunan, namun total aset, total hutang, dan dividen per lembar saham mengalami kenaikan.

Tabel 1.2

Total Aset dan Total Ekuitas Adaro Energy Tbk, Golden Energy Mines Tbk, Petrosea Tbk, Elnusa Tbk Tahun 2011-2015

No. Nama Perusahaan Tahun Total Aset(Rupiah) Total Ekuitas (Rupiah) 1 Adaro Energy Tbk 2011 5.658.961 2.442.223 2012 6.692.256 2.995.054 2013 6.622.637 3.040.122 2014 6.413.864 3.259.472 2015 5.958.629 3.353.043 2 Golden Energy Mines Tbk 2011 3.302.301.908 240.269.876 2012 3.440.326.009 201.460.793 2013 2.393.567.309 268.975.546 2014 1.315.639.491 248.057.605 2015 1.369.667.295 247.511.612 3 Petrosea Tbk 2011 377.298 159.232 2012 529.742 187.290 2013 509.242 197.576 2014 467.732 192.244 2015 425.368 178.277

Lanjutan Tabel 1.2

No. Nama Perusahaan Tahun Total Aset(Rupiah) Total Ekuitas (Rupiah) 4 Elnusa Tbk 2011 4.389.950 1.904.825 2012 4.294.557 2.042.245 2013 4.377.762 2.285.114 2014 4.256.884 2.549.456 2015 4.407.513 2.635.186

Pada Tabel 1.2 dapat dilihat total aset dan total ekuitas dari 4 (empat) perusahaan, yaitu Adaro Energy Tbk, Golden Energy Mines Tbk, Petrosea Tbk, dan Elnusa Tbk. Keempat perusahaan memiliki total aset dan total ekuitas yang cukup berfluktuasi.

Perusahaan Adaro Energy Tbk memiliki total aset dan total ekuitas yang cukup berfluktuasi dari tahun 2011-2015. Dimana pada tahun 2011-2012 total aset meningkat sebesar Rp.1.033.295 dan total ekuitas mengalami penurunan sebesar Rp. 552.831. Tahun 2012-2013 total aset menurun sebesar Rp.69.619 dan total ekuitas mengalami kenaikan sebesar Rp.45.068. Tahun 2013-2014 total aset menurun sebesar Rp. 208.773 dan total ekuitas meningkat sebesar Rp.219.350. Tahun 2014-2015 total aset menurun sebesar Rp.455.235 dan total ekuitas mengalami kenaikan sebesar Rp.93.571.

Perusahaan Golden Energy Mines Tbk memiliki Total aset dan Total ekuitas cukup berfluktuasi dari tahun 2011-2015. Dimana pada tahun 2011-2012 total aset mengalami kenaikan sebesar Rp.138.024.101 dan total ekuitas menurunan sebesar Rp.38.809.083. Tahun 2012-2013 total aset menurun sebesar Rp.1.046.758.700 dan total ekuitas mengalami kenaikan sebesar Rp.67.514.753. Tahun 2013-2014 total aset menurun sebesar Rp.1.077.927.818 dan total ekuitas juga menurun

sebesar Rp.20.917.941. Tahun 2014-2015 total aset meningkat sebesar Rp.54.027.804 dan total ekuitas mengalami penurunan sebesar Rp.545.993.

Pada perusahaan Petrosea Tbk memiliki Total Aset dan total ekuitas yang berfluktuasi dari tahun 2011-2015. Dimana tahun 2011-2012 total aset mengalami kenaikan sebesar Rp.152.444 diikuti dengan kenaikan total ekuitas sebesar Rp. 28.058. Tahun 2012-2013 mengalami penurunan total aset sebesar Rp.20.500 dan total ekuitas juga menurun sebesar Rp.10.286. Tahun 2013-2014 total aset pada perusahaan ini menurun sebesar Rp.41.510 dan total ekuitas juga mengalami penurunan sebesar Rp.5.332. Tahun 2014-2015 total aset menurun sebesar Rp.42.364 dan total ekuitas juga mengalami penurunan sebesar Rp.13.967.

Pada perusahaan Elnusa Tbk memiliki total aset yang cukup berfluktuasi dan total ekuitas yang terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2011-2012 total aset mengalami penurunan sebesar Rp.95.393 namun total ekuitas mengalami kenaikan sebesar Rp.137.420. Tahun 2012-2013 total aset mengalami kenaikan sebesar Rp. 83.205 dan total ekuitas juga mengalami kenaikan sebesar Rp.242.869. Tahun 2013-2014 total mengalami penurunan sebesar Rp.120.878 sedangkan total ekuitas mengalami kenaikan sebesar Rp.264.342. Tahun 2014-2015 total aset mengalami kenaikan sebesar Rp.150.629 dan total ekuitas juga mengalami kenaikan sebesar Rp.85.730.

Kebijakan dividen perusahaan tergambar pada dividend payout ratio (DPR). Semakin besar laba yang dibagikan dalam bentuk dividen maka akan semakin menarik bagi calon investor. Ketika kinerja perusahaan dinilai bagus, maka perusahaan tersebut akan mampu menetapkan besarnya dividend payout ratio

(DPR) sesuai dengan harapan pemegang saham tanpa mengabaikan kepentingan perusahaan untuk tetap tumbuh sehat.

Dari fenomena dan teori yang diungkapkan diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang dividen. Penelitian ini membatasi penelitian terhadap faktor yang mempengaruhi Dividend Payout Ratio (DPR) yaitu Current Ratio, Debt to Total Asset, Debt to Equity Ratio, Return on Asset, Return on Equity, Growth, Collaterizable Assets, dan Firm Size. Selanjutnya penelitian ini diberi judul “Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen pada Perusahaan Pertambangan Terbuka di Bursa Efek Indonesia.

Dokumen terkait