BAB II KAJIAN TEORI
B. Kinerja Guru
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru
Membicarakan kinerja guru, tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor pendukung terhadap proses belajar mengajar yang baik demi tercapainya tujuan.
Adapun faktor yang mendukung kinerja guru dapat digolongkan kedalam dua macam, yaitu:
Faktor dari dalam sendiri (intern), meliputi:
1) Kecerdasan
Kecerdasan memegang peranan penting dalam keberhasilan pelaksanaan tugas-tugas. Semakin kompleks tugas-tugas yang diemban maka semakin tinggi pula kecerdasan yang diperlukan.
2) Keterampilan dan kecakapan
Keterampilan dan kecakapan orang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan dari berbagai pengalaman dan latihan.
3) Bakat
Penyesuaian antara bakat dan pilihan pekerjaan dapat menjadikan seseorang bekerja dengan pilihan keahliannya.
4) Kemampuan dan minat
Syarat untuk mendapatkan ketenangan kerja bagi seseorang adalah tugas dan jabatan yang sesuai dengan kemampuannya. Kemampuan yang disertai dengan minat yang tinggi dapat menunjang pekerjaan yang tengah ditekuni.
5) Motif
Motif yang dimiliki dapat mendorong dalam meningkatkan kinerja seseorang.
6) Kesehatan
Kesehatan yang baik sangat membantu produktivitas dalam bekerja.
Tetapi jika kesehatan terganggu maka produktivitas kerjapun akan terganggu pula.
7) Kepribadian
Seseorang yang mempunyai kepribadian yang kuat dan integral tinggi kemungkinan tidak akan banyak mengalami kesulitan dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja dan interaksi dengan rekan kerja yang akan meningkatkkan kerjanya.
8) Cita-cita dan tujuan dalam bekerja
Jika pekerjaan yang diemban seseorang sesuai dengan cita-cita maka tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana karena ia bekerja dengan sungguh-sungguh, rajin, dan dengan sepenuh hati.23
Faktor dari luar diri (ekstern), meliputi : 1) Lingkungan keluarga
Di mana keadaan lingkungan keluarga dapat memengaruhi kinerja seseorang. Ketegangan dalam kehidupan keluarga dapat menurunkan gairah kerja.
2) Lingkungan kerja
Di mana situasi kerja yang menyenangkan dapat mendorong seseorang bekerja secara optimal. Tidak jarang kekecewaan dan kegagalan dialami seseorang di tempat ia bekerja. Lingkungan kerja yang dimaksud disini adalah situasi kerja, rasa aman, gaji yang memadai, kesempatan untuk mengembangkan karir, dan rekan kerja yang kologial.
3) Komunikasi dengan kepala sekolah
Komunikasi yang baik di sekolah adalah komunikasi yang efektif. Tidak adanya komunikasi yang efektif dapat mengakibatkan timbulnya salah pengertian.
4) Sarana dan prasarana
Adanya sarana dan prasarana yang memadai membantu guru dalam meningkatkan kinerjanya terutama kinerja dalam proses belajar mengajar.
5) Kegiatan guru di kelas
Menurut Dede Rosyada dalam bukunya Paradigma Pendidikan Demokratis bahwa kegiatan guru di dalam kelas meliputi :24
1) Guru harus menyusun perencanaan pembelajaran yang bijak
2) Guru harus mampu berkomunikasi secara efektif dengan siswa-siswinya
23 Didi Panda, Kinerja Guru: Kompetensi Guru, Motivasi Kerja, Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Sukabumi : CV Jejak, 2018), Cet. 1, h. 22-23
24 Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis : Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan, (Jakarta : Remaja Rosdakarya, 2007), Cet. 3, h. 119-181
3) Guru harus mengembangkan strategi pembelajaran yang membelajarkan
4) Guru harus menguasai bakat
5) Guru harus melakukan evaluasi secara benar 6) Kegiatan guru di sekolah antara lain yaitu :
Berpartisipasi dalam bidang administrasi, dimana dalam bidang ini para guru memiliki kesempatan yang banyak untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sekolah antara lain: (a) Mengembangkan filsafat pendidikan, (b) Memperbaiki dan menyesuaikan kurikulum, (c) Merencanakan program supervise, dan (d) Merencanakan kebijakan-kebijakan kepegawaian.25 3. Indikator Kinerja Guru
Kinerja guru adalah kemampuan guru untuk melaksankan tugas-tugas profesinya serta tanggung jawabnya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Kinerja guru bergantung pada tiga hal yang saling berhubungan, yaitu (1) keterampilan yang dimiliki, (2) upaya sifat keadaan, dan (3) kondisi eksternal.
Kinerja guru adalah gabungan antara karakter individu, proses pembelajaran, dan hasil pembelajaran. Adapun indikator kinerja guru antara lain:26
1) Kemampuan guru membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Perencanaan pembelajaran adalah membuat persiapan pembelajaran.
Hal ini didasarkan asumsi bahwa jika tidak mempunyai persiapan pembelajaran yang baik, maka peluang untuk tidak terarah terbuka lebar, bahkan mungkin cenderung untuk melakukan improvisasi sendiri tanpa acuan yang jelas. Mengacu pada hal tersebut, guru diharapkan dapat melakukan perisiapan pembelajaran baik menyangkur materi pembelajaran maupun kondisi psikis dan psikologi yang kondusif bagi berlangsungnya proses pembelajaran.27
2) Penguasaan materi yang akan diberikan pada saat kegiatan belajar mengajar.
Kemampuan menguasai bahan pelajaran sebagai bagian integral dari proses belajar mengajar. Guru yang profesional mutlak harus menguasai
25 Didi Panda, Op.Cit., h. 23-24
26 Widya Caterin, Nia Budiana, Sri Aju Indrowaty, Etika Profesi Pendidikan Generasi Milenial 4.0, (Malang : UB Press, 2019), Cet. 1, h. 18-19
27 Rusman, Model-model Pembelajaran: Mengembankan Profesionalisme Guru, (Jakarta : Rajawali Press, 2011), Cet. 3, h. 59
bahan yang diajarkannya. Penguasaan guru akan bahan pelajaran sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
3) Penguasaan serta pemilihan pendekatan, metode, strategi, dan teknik yang tepat.
Penguasaan metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Dalam pendidikan metode mengajar itu mempengaruhi belajar, jika metode mengajar guru kurang baik maka akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Pemilihan metode mengajar sangat berpengaruh terhadap belajar siswa. Apabila metode mengajar menyenangkan bagi siswa, siswa akan lebih mudah menerima bahan pelajaran.
4) Pemberian tugas dan tes yang berbobot kepada siswa
Pemberian tugas kepada siswa bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dan kemampuan bekerja secara berkelompok maupun bekerja secara individual. Dalam pemberian tugas kepada siswa juga harus secara proposional atau sesuai dengan kemampuan siswa, agar tugas yang diberikan tidak menjadi beban bagi siswa.
5) Kemampuan mengolah kelas dengan menggunakan pendekatan, metode, strategi, serta teknik yang sesuai.
Guru harus mampu melakukan penanganan pada kelas, karena kelas merupakan lingkungan yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan pembelajaran terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Pengawasan terhadap lingkungan turut menentukan sejauh mana lingkungan tersebut menjadi lingkungan yang baik. Lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman, dan kepuasan dalam mencapai tujuan.
6) Kemampuan mengevaluasi dalam setiap pembelajaran.
Guru harus mampu menjadi evaluator yang baik. Penilaian dilakukan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan tercapai atau tidak, apakah materi yang diajarkan sudah dikuasai atau belum oleh siswa, dan apakah metode yang digunakan sudah cukup tepat. Penilaian juga perlu dilakukan, karena dalam penilaian guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, serta ketetapan metode mengajar yang digunakan.
Berdasarkan beberapa uraian indikator di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kinerja guru adalah tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas pendidikan sesuai dengan tanggung jawab dan wewenangnya berdasarkan standar kinerja yang telah ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan.
Kinerja guru dapat diukur berdasarkan kemampuan membuat perencanaan dan persiapan mengajar, penguasaan materi yang akan diajarkan kepada siswa, penguasaan materi yang akan diajarkan kepada siswa, penguasaan metode dan strategi mengajar, pemberian tugas-tugas kepada siswa, kemampuan mengelola kelas, dan kemampuan melakukan penilaian atau evaluasi.
4. Penilaian Terhadap Kinerja Guru
Penilaian kinerja (Performance Appsaisal) pada dasarnya merupakan salah satu faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien. Untuk keperluan penilaian kinerja guru diperlukan adanya informasi yang juga diharapkan berkualitas dan valid, artinya mampu menggambarkan kinerja guru secara baik. Disamping itu, diperlukan perencanaan karir bagi mereka masing-masing.
Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi secara keseluruhan. Melalui penilaian tersebut, maka dapat diketahui bagaimana kondisi rill guru dari kinerja. Dengan demikian, tujuan dan kontribusi dari hasil penelitian yang diharapkan tercapai.
Tujuan penilai kinerja yaitu :
a. Untuk mengetahui tujuan, sasaran manajemen dan guru/karyawan b. Memotivasi guru/karyawan untuk memperbaiki kinerjanya
c. Mendistribusikan reward dari organisasi atau instansi yang dapat berupa pertambahan gaji atau upah dan promosinya yang adil
d. Mengedepankan penelitian manajemen personalia Manfaat penilaian kinerja bagi organisasi, yaitu :
a. Penyesuasian-penyesuaian kompetensi b. Perbaikan kinerja
c. Kebutuhan pelatihan dan pengembangan
d. Pengambilan keputusan dalam hal penempatan promosi, mutasi, pemecahan, pemberhentian, dan perencanaan kerja
e. Untuk kepentingan penelitian guru/karyawan
f. Membantu diagnosis terhadap kesalahan desain guru/karyawan.28
Evaluasi kinerja atau penilaian prestasi guru yang dikemukakan Leon C.
Mengginson dalam A.A. Anwar Prabu Mangkunegara adalah sebagai berikut :
“Penilaian prestasi kerja (performance appraisal) adalah suatu proses yang digunakan pemimpin untuk menentukan apakah seorang guru melakukan pekerjaannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya”. Selanjutnya Andrew E. Sikula yang dikutip A.A. Anwar Prabu Mangkunegara mengemukakan bahwa
“Penilaian guru merupakan evaluasi yang sistematis dari pekerjaan guru dan potensi yang dapat dikembangkan”.29
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi kinerja adalah penilaian yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui hasil pekerjaan guru dan kinerja organisasi. Di samping itu, untuk menentukan kebutuhan pelatihan kerja secara tepat, memberikan tanggung jawab yang sesuai kepada guru sehingga dapat melaksankan pekerjaan yang lebih baik di masa yang akan datang dan sebagai dasar untuk menentukan kebijakan dalam hal promosi jabatan atau penentuan imbalan.
C. Kerangka Berpikir
Lembaga pendidikan dikatakan berhasil apabila telah mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien yang ditentukan oleh sejauh mana kemampuan kepala sekolah dalam menciptakan iklim komunikasi yang baik dan dapat memberikan dampak pada budaya kerja guru yang sesuai dengan keinginan dan harapan mereka dalam bekerja. Pada hakikatnya iklim komunikasi sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kinerja guru di sekolah.
Iklim komunikasi yang kondusif akan berpengaruh terhadap kinerja guru. Iklim komunikasi yang kondusif akan dapat meningkatkan kinerja guru. Iklim komunikasi yang kondusif yaitu kondisi lingkungan sekolah yang aman, nyaman, hubungan antara kepala sekolah dan guru harmonis, hubungan guru yang satu dengan yang lain juga harmonis, hubungan kepala sekolah, guru dan karyawan juga terjalin dengan baik, dan hubungan pihak sekolah dengan lingkungan sekitar sekolah juga terjalin dengan baik.
28 Rismawati dan Mattala, Op.Cit., h. 35
29 A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, Evaluasi Kinerja SDM, (Bandung : PT Refika Aditama, 2006), Cet. 2, h. 9-10
Guru merupakan bagian dari unit kerja organisasi sekolah. Keberadaan seorang guru dituntut untuk melaksanakan suatu pekerjaan sehingga terlihat prestasi kerjanya, yaitu usaha penerapan gagasan, ide, konsep dengan efektif dan efisien dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh sebab itu dengan adanya komunikasi dalam lingkungan sekolah, diharapkan kinerja guru akan semakin baik pula, karena setiap individu dalam bekerja tidak hanya menginginkan sekedar gaji dan prestasi, tetapi bekerja juga merupakan pemenuhan kebutuhan akan interaksi sosial.
Di bawah ini adalah gambaran interaksi upaya peningkatan kinerja seorang dalam proses belajar mengajar di lingkungan sekolah :
2.1 Gambar 1
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pentanyaan.30 Untuk hasil kinerja guru baik dan berkualitas dipengaruhi oleh iklim komunikasi yang dipakai oleh seorang kepala sekolah. Hipotesis dalam penelitian ini menurut penulis berdasarkan hal yang mempengaruhi tersebut adalah :
Ho : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Iklim Komunikasi terhadap kinerja guru yang terdapat di MAN 4 Kabupaten Bekasi
Ha : Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Iklim Komunikasi terhadap kinerja guru yang terdapat di MAN 4 Kabupaten Bekasi
E. Penelitian yang Relavan
Berdasarkan penelitian tentang iklim komunikasidengan kinerja guru terdapat penelitian yang relevan :
1. Mar’atus Sholichah, Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2012, “Pengaruh Iklim Komunikasi Organiasai Terhadap Kinerja Pegawai (Survei pada Bagian Humas Pemerintah Provinsi DIY Tahun 2012)”. Hasil penelitian ini menggunakan
30 Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung : Alfabeta, 2017), Cet.
26, h. 63
Iklim
Komunikasi Motivasi Kinerja
metode kuantitatif dan menghasilkan kesimpulan praktis bahwa: iklim komunikasi mempengaruhi kinerja kerja pegawai di lingkungan Humas Pemerintahan Provinsi DIY. Hal ini dibuktikan dengan nilai dari koefisien korelasi yang didapat yaitu sebesar 0,378 yang berada pada interval 0,20-0,40 jadi masuk dalam kategori hubungan rendah, tetapi 0,022 hampir memasuki hubungan cukup, sehingga dapat dikatakan bahwa pengaruh iklim komunikasi terhadap kinerja pegawai Humas Pemerintah Provinsi DIY mempunyai hubungan yang rendah tetapi hampir mendekati cukup. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling dimana seluruh populasi digunakan sebagai sampel. Total sampel yang digunakan adalah berjumlah 30 orang. Menurut Sugiyono jumlah tersebut sudah cukup representatif untuk diterapkan dalam sebuah penelitian. Akan tetapi akan lebih akurat jika sampel yang digunakan lebih dari itu. Sehingga dalam penelitian ini peneliti menggunakan sampel yang lebih banyak untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang akan diperoleh ketika menggunakan sampel yang lebih banyak.
2. Arif Sidiq, Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2013, “Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi dan Motivasi Terhadap Kinerja Pegawai (Survei Pada Kantor Wilayah Pajak Yogyakarta Tahun 2013)”. Hasil penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kuantitatif dengan sampel seluruh pegawai tetap di Kanwil Pajak Yogyakarta pada tahun 2013 dengan jumlah 90 orang. Dalam penelitian tersebut didapatkan bahwa untuk menciptakan kinerja yang baik dari pegawai maka diperlukan penciptaan lingkungan komunikasi/suasana kerja yang baik dalam instansi yang berkaitan, selain komunikasi yang baik diperlukan pula motivasi dari pimpinan sehingga tercipta lingkungan kerja yang nyaman untuk para pegawai.
3. Fadly Pangumpia, Univesitas Sam Ratulangi 2013. “Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan di Bank Prisma Dana Manado”. Perbedaan penelitian ini terdapat pada variabel motivasi kerja, tempat dan tahun, yang memungkinkan perbedaan hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Di Bank Prisma Dana. Hal ini ditunjukkan melalui “uji t” dimana nilai “t uji” = 6,67 jauh lebil besar dari nilai “t tabel” = 1,68 pada taraf siginifikansi 5%, kemudian lebih diperjelas lagi
dengan nilai “r uji” = 0,64 dikonsultasikan pada tabelo Guillford menunjukkan hubungan yang “cukup berarti”, hubunganhubungan tersebut dipergaruhi oleh iklim komunikasi organisasi dimana adanya kepercayaan, karyawan diikutsertakan dalam pengambilan keputusan bersama, adanya kejujuran serta keterbukaam terhadap komunikasi kebawah dan selalu mendengarkan komunikasi dari pimpinan serta adanya komitmen dalam bekerja sehingga produktivitas kerja karyawan lebih meningkat.
24
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di MAN 4 Kabupaten Bekasi yang berlokasi di Jl.
Tarumajaya Perum Fortune Garden Kp. Pomahan Desa Setia Mulya Kec.
Tarumajaya. Adapun waktu yang digunakan untuk melaksanakan penelitian setelah terdapat pernyataan lulus seminar proposal dan mendapatkan dosen pembimbing.
Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penyusunan Skripsi
No. Kegiatan Waktu
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dimana masalah pengumpulan data mengacu pada data empiris yakni dengan data dan fakta yang diperoleh di lapangan selama kegiatan penelitian dikembangkan. Pemilihan pendekatan dan metode kuantitatif untuk menganalisa dan menjelaskan data-data yang berupa angka. Metode ini dipandang lebih tepat untuk menjelaskan pengaruh iklim komunikasi terhadap kinerja guru.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.31 Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah seluruh guru MAN 4 Kabupaten Bekasi yaitu berjumlah 23 guru.
2. Sampel
Sampel adalah sejumlah anggota yang dipilih dari populasi.32 Sampel yang diambil dari penelitian ini adalah dengan cara sensus atau sampel jenuh, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahann yang sangat kecil.33
D. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data-data yang akurat dalam penelitian, penulis menggunakan teknik sebagai berikut :
1. Angket
Angket ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai iklim komunikasi dan kinerja guru. Data hasil angket digunakan untuk menggambarkan tingkat kinerja guru dan iklim komunikasi. Angket ini diberikan kepada guru MAN 4 Kabupaten Bekasi.
Tabel 3.2 Bobot Nilai Skala Pilihan Jawaban Skor Pernyataan
Sangat Sering ( SS ) 5
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Variabel X (Iklim komunikasi)
Dimensi Indikator Item
Kepercayaan 1. Kepala sekolah percaya bahwa guru mampu
1. Guru diberi kebebasan berpendapat dalam
Kejujuran 1. Suasana umum hubungan antara
Keterbukaan dalam
Tabel 3.4 Kisi-kisi Instrumen Variabel Y (Kinerja Guru)
Dimensi Indikator Item
Kemampuan guru
Pemberian tugas dan
Studi dokumen digunakan untuk memperoleh data yang didokumentasikan oleh pihak sekolah, data yang akan dikumpulkan teknik dokumentasi meliputi:
data sejarah sekolah, profil sekolah, keadaan guru, sarana dan prasarana, RPP, dan program tahunan/semesteran. Sehingga data dari hasil dokumentasi tidak digunakan sebagai judgment hasil penelitian.
E. Uji Instrumen Penelitian 1. Uji Validitas
Uji validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrumen.34 Instrumen dikatakan valid apabila instrumen tersebut telah sesuai mengukur apa yang hendak diukur. Dalam menentukan validitas suatu instrumen digunakan rumus product moment, yaitu:35
Dimana :
X2 : Jumlah skor kuadrat per butir
Y2 : Jumlah skor kuadrat seluruh butir 2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas dilakukan untuk mengatahui konsistensi hasil pengukuran jika dilakukan pengukuran ulang terhadap gejala dan alat ukur yang sama. Yang dimaksud dengan reliabilitas adalah menunjukkan pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut sudah baik. Reliabel artinya dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan. Uji reliabilitas instrumen penelitian ini akan menggunakan reliability analysis dengan teknik Alpha Cronbach. Berikut rumusnya:36
34 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta : Rineka Cipta, 2013), h. 144
35 Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), Cet.
XXII, h. 206
36 J. Supranto dan Nandan Limakrisna, Petunjuk Praktis Penelitian Ilmiah untuk Menyusun Skripsi, Tesis, dan Disertasi, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2002), h. 94-95
𝑟11 : Reliabilitas instrumen k : Banyaknya butir soal Ʃa𝑏2 : Jumlah varian butir a𝑡2 : Varian total
Uji reliabilitas merupakan uji lanjutan dari uji validitas, maka item yang masuk dalam pengujian reliabilitas adalah item yang valid. Jika nilai alpha > 0,60 maka instrument dapat dikatakan reliabel. Berikut merupakan Tabel Interpretasi Koefisien.37
Tabel 3.5 Interpretasi Data
Angka Keterangan
0,081 – 1,00 Kolerasi Tinggi
0,60 – 0,79 Kolerasi Sedang
0,40 – 0,59 Cukup
0,20 – 0,39 Kolerasi Sedikit
0,00 – 0,19 Sangat Sedikit
3. Instrumen Variabel X (Iklim Komunikasi) a. Hasil Uji Validitas
Berdasarkan data yang telah terkumpul dari responden tingkat kevalidan suatu instrumen akan diuji menggunakan rumus Pearson Product Moment.
Uji coba instrumen variabel X dilakukan pada 23 guru. Taraf signifikan sebesar 0.05 dan derajat kebebasan (dk = n – 2) atau dk = 23 – 2 = 21 maka didapatkan rtabel sebesar 0,4132. Berdasarkan uji coba instrumen yang dilakukan, hasil nilai validitas sebagai berikut:
Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas Variabel X (Iklim komunikasi)
No. R hitung R tabel Keterangan
1 0,832 0,4132 Valid
2 0,502 0,4132 Valid
3 0,759 0,4132 Valid
37 Morissan, Metode Penelitian Survei, (Jakarta : Prenandamedia Group, 2018), Cet. 5, h. 380
4 0,767 0,4132 Valid
Sumber: Hasil olah data penelitian menggunakan SPSS vers.23, 2020.
Berdasarkan hasil tabel di atas, dapat diketahui bahwa variabel X (Iklim komunikasi) memiliki 45 butir soal valid. Sehingga seluruh butir soal tersebut akan digunakan untuk penelitian.
Tabel 3.7 Kisi-kisi Instrumen Hasil Uji Validitas Variabel X (Iklim komunikasi)
Dimensi Indikator Item
Keterbukaan 1. Menciptakan iklim keterbukaan
Empati 1. Mau mendengarkan
dan menanggapi
Kepositifan 1. Bersikap tulus 2. Sikap saling percaya 3. Tidak pilih kasih
4. Menghargai orang lain
18, 19, 20
Dukungan 1. Memberi kesempatan menyampaikan ide/pendapat secara personal
2. Mendukung guru untuk maju
34, 35
36, 37
Kesamaan 1. Memberikan pesan yang jelas
Berikut ini merupakan hasil uji reliabilitas dengan menggunakan SPSS versi 23 pada variabel Y (Mutu Pembelajaran).
Tabel 3.8 Hasil Uji Reliabilitas Variabel X (Iklim komunikasi)
Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items
,983 45
Sumber: Hasil olah data penelitian menggunakan SPSS vers.23, 2020
Berdasarkan kriteria Cronbach’s Alpha > 60% atau Cronbach’s Alpha >
0,60 dan diperoleh hasil 0,983 > 0,60 yang artinya instrumen variabel X Iklim komunikasi termasuk dalam kategori kuat dan dapat dikatakan reliabel.
4. Instrumen Variabel Y (Kinerja Guru) a. Hasil Uji Validitas
Berdasarkan data yang telah terkumpul dari responden tingkat kevalidan suatu instrumen akan diuji menggunakan rumus Pearson Product Moment. Uji coba instrumen variabel Y dilakukan pada 23 guru. Taraf signifikan sebesar
0.05 dan derajat kebebasan (dk = n – 2) atau dk = 23 – 2 = 21 maka didapatkan rtabel sebesar 0,4132. Berdasarkan uji coba instrumen yang dilakukan, hasil nilai validitas sebagai berikut:
Tabel 3.9 Hasil Uji Validitas Variabel Y (Kinerja Guru)
No. R hitung R tabel Keterangan
37 0,445 0,4132 Valid
Sumber: Hasil olah data penelitian menggunakan SPSS vers.23, 2020
Berdasarkan hasil tabel di atas, dapat diketahui untuk variabel Y (Kinerja Guru) memiliki 47 butir soal valid dan 7 butir soal tidak valid. Seluruh butir soal yang tidak valid tidak akan digunakan pada penelitian, sedangkan seluruh butir soal yang valid akan digunakan untuk penelitian karena dianggap mewakili data yang dibutuhkan oleh peneliti.
Tabel 3.10 Kisi-kisi Instrumen Hasil Uji Validitas Variabel Y (Kinerja Guru)
Dimensi Indikator Item
Kemampuan guru
pembelajaran
Kemampuan
Berikut ini merupakan hasil uji reliabilitas dengan menggunakan SPSS versi 23 pada variabel Y (Kinerja Guru).
Tabel 3.11 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Y (Kinerja Guru)
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha
,968 ,968
Sumber: Hasil olah data penelitian menggunakan SPSS vers.23, 2020
Berdasarkan kriteria Cronbach’s Alpha > 60% atau Cronbach’s Alpha
> 0,60 dan diperoleh hasil 0,968 > 0,60 yang artinya instrumen variabel Y Kinerja Guru termasuk dalam kategori kuat dan dapat dikatakan reliabel.
F. Teknik Pengolahan Data
Untuk mengolah data dalam penulisan ini, penulis melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Editting, adalah proses pengecekan atau memeriksa data yang telah berhasil
4. Mengolah data menggunakan SPSS 2.3
G. Teknik Analisis Data
Data yang merupakan hasil dari penelitian akan dideskripsikan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Untuk menganalisa data yang telah
Data yang merupakan hasil dari penelitian akan dideskripsikan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Untuk menganalisa data yang telah