II. TINJAUAN PUSTAKA
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Program PEMP
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pelaksanaan Program PEMP di Kabupaten Maluku Tenggara, dilakukan analisis Leverage dengan menggunakan RAPFISH. Dengan analisis Leverage ini dapat diketahui seberapa besar pengaruh dari masing-masing atribut terhadap keberhasilan elemen kinerja yang dievaluasi. Kuat lemahnya pengaruh atribut digolongan dalam lima kategori penilaian, yaitu (1) pengaruhnya dikatakan “sangat kuat” apabila nilai Leverage dari atribut tersebut berada pada kisaran 0 – 20, (2) pengaruhnya dikatakan “kuat” apabila nilai Leverage dari atribut tersebut berada pada kisaran >20 - 40, (3) pengaruhnya dikatakan “cukup kuat” apabila nilai leverage dari atribut
tersebut berada pada kisaran >40 – 60, (4) pengaruhnya dikatakan “lemah” apabila nilai leverage dari atribut tersebut berada pada kisaran >60 – 80, dan (5) pengaruhnya dikatakan “sangat lemah” apabila nilai leverage dari atribut tersebut berada pada kisaran >80 – 100.
Hasil analisis Leverage dengan menggunakan RAPFISH untuk kelima elemen kinerja Program PEMP dapat dilihat pada Lampiran 10 sampai dengan Lampiran 14.
a. Kelembagaan Program PEMP
Program PEMP yang dilaksanakan sejak tahun 2001 hingga saat ini masih terus mencari bentuk ideal bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Setidaknya terdapat dua elemen penting dalam memperkuat peran Program PEMP sebagai akselerator peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir yaitu (1) penguatan peran kelembagaan (institutional strengthening) pengelola program, dan (2) peningkatan kapasitas (capacity building) lembaga ekonomi mikro. Namun demikian, kedua elemen ini tidak dapat berperan secara optimal dan berkelanjutan jika tidak didukung oleh elemen lainnya, seperti KMP, keterlibatan Pemangku Kepentingan (stakeholders) dan Kemitraan yang dibangun oleh pengelola program dengan instansi terkait lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka diperlukan evaluasi secara komprehensif terutama hubungan antar elemen yang terkait dalam Program PEMP.
Analisis terhadap kinerja Kelembagaan Program PEMP mencakup enam komponen kelembagaan terkait yakni : Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Maluku Tenggara, Koperasi Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3), Konsultan Manajemen (KM), Tenaga Pendamping Desa (TPD), Bank Pelaksana, dan Kelompok Masyarakat Pemanfaat (KMP).
Berdasarkan hasil analisis Leverage dengan menggunakan RAPFISH seperti yang ditunjukan pada Tabel 11, terlihat besaran pengaruh yang diberikan oleh berbagai faktor terhadap capaian status kinerja Kelembagaan PEMP. Dari 6 komponen yang dinilai terlihat bahwa terdapat 20 atribut yang pengaruhnya “sangat kuat” terhadap kinerja Kelembagaan PEMP karena nilainya berada pada kisaran >0 – 20 yaitu yang dimulai dari nomor urut 1 sampai dengan 20, antara lain yang berhubungan dengan kemantapan organisasi, kepengurusan organisasi, kesesuaian
kualifikasi SDM, pemahaman terhadap Tupoksi, sistim administrasi dan keuangan, peran dan tanggung-jawab, keterwakilan unsur masyarakat dan gender, serta mekanisme pengawasan dalam penyaluran dan sirkulasi DEP.
Selain itu terdapat 11 atribut yang pengaruhnya “cukup kuat” terhadap kinerja Kelembagaan PEMP karena nilainya berada pada kisaran >40 – 60 yaitu yang dimulai dari nomor urut 21 sampai dengan 31, antara lain yang berhubungan
Tabel 11. Atribut yang mempengaruhi kinerja Kelembagaan PEMP
No Atribut Yang Berpengaruh Nilai
Leverage 1 Kemantapan organisasi pelaksana Program PEMP 0,01 2 Pemahaman terhadap Tupoksi Program PEMP 0,02
3 Pelaksanaan Tupoksi Program PEMP 0,04
4 Sistem dan mekanisme pencairan DEP 0,05
5 Laporan kemajuan Program PEMP 0,14
6 Pelaksanaan Tupoksi LEPP-M3 0,19
7 Status organisasi LEPP-M3 0,21
8 Mekanisme pemilihan pengurus LEPP-M3 0,22
9 Peran dan tanggung-jawab TPD 0,22
10 Keterwakilan unsur masyarakat dalam LEPP-M3 0,23 11 Keterwakilan unsur gender dalam LEPP-M3 0,23 12 Pelaksanaan Tupoksi Konsultan Manajemen (KM) 0,23 13 Kesesuaian kualifikasi KM dengan Program PEMP 0,23
14 Pemahaman terhadap Tupoksi TPD 0,24
15 Kapasitas KM dalam mendukung Program PEMP 0,26 16 Laporan kemajuan Konsultan Manajemen (KM) 0,26 17 Penetapan Konsultan Manajemen (KM) 0,55 18 Mekanisme pengawasan dalam penyaluran dan sirkulasi DEP 0,75 19 Pemahaman terhadap Tupoksi LEPP-M3 0,88
20 Pemahaman terhadap Tupoksi KM 1,25
21 Laporan kegiatan pembinaan LEPP-M3 oleh Bank Pelaksana ke DKP 52,28 22 Aksesibilitas KMP terhadap Bank Pelaksana 52,41 23 Sistem dan mekanisme pengaksesan DEP 52,60 24 Kesesuaian kegiatan KMP dengan jenis DEP 52,94 25 Penetapan KMP sebagai penerima DEP 52,95
27 Pembinaan Bank Pelaksana kepada LEPP-M3 53,02
28 Proporsi daya serap DEP 53,11
29 Laporan kemajuan Tenaga Pendamping Desa (TPD) 53,12 30 Kapasitas TPD dalam Program PEMP 53,14 31 Kesesuaian kualifikasi TPD dengan Program PEMP 53,15
dengan kegiatan pembinaan LEPP-M3 oleh Bank Pelaksana, sistem dan mekanisme pengaksesan DEP, proporsi daya serap DEP, serta aktivitas LEPP-M3, KM, TPD, dan Bank Pelaksana Program PEMP.
Atribut-atribut diatas saling mempengaruhi satu dengan lainnya sehingga membentuk satu kesatuan kinerja Kelembagaan PEMP, dimana berdasarkan hasil analisis Ordinasi yang telah dijelaskan sebelumnya terlihat bahwa kinerja dari Kelembagaan PEMP mencapai nilai 52,95. Oleh karena nilai tersebut berada dalam kisaran >40 - 60 maka status keberlanjutan dari elemen kinerja Kelembagaan dalam pelaksanaan Program PEMP di Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara termasuk dalam kategori “cukup”.
Walaupun status keberlanjutan dari elemen kinerja Kelembagaan Program PEMP ini termasuk kategori cukup , namun kapasitas dan kinerja yang dimiliki oleh komponen-komponen Kelembagaan Program PEMP sejauh ini belum mengalami peningkatan yang signifikan. Selanjutnya, berdasarkan hasil wawancara dengan stakeholders didapatkan juga kondisi-kondisi sebagai berikut :
1. Optimalisasi peran kelembagaan pengelola program PEMP, seperti keterlibatan langsung dalam penyeleksian KM, membangun partisipasi masyarakat terutama dalam pembentukan LEPP-M3, termasuk menjalin Kemitraan dengan Bank pelaksana, dan bahkan kesetaraan gender dalam kepengurusan LEPP-M3 juga perlu ditingkatkan. Keterlibatan lembaga pemerintah mulai tingkat Pusat sampai dengan tingkat Kabupaten, dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan menunjukkan dukungan terhadap pelaksanaan program PEMP yang ditunjukkan dengan dikeluarkannya sejumlah instrumen pendukung program, seperti Pedoman Umum dan mekanisme berbagai Surat Keputusan (SK Penunjukan Konsultan Manajemen dan Kepengurusan LEPPM3),
termasuk didalamnya penjabaran tugas pokok dan fungsi pelaksana program. Walaupun demikian, secara eksplisit masih diperlukan penguatan peran kelembagaan pengelola program, terutama dalam penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dari kelembagaan LEPP-M3 harus segera dibenahi, selain itu juga optimalisasi peran Bank Pelaksana yang dinilai belum mencapai titik optimal.
2. Peningkatan pemahaman terhadap tugas pokok dan fungsi pengelola program PEMP dalam menjelaskan subtansinya termasuk peluang mengatasi persoalan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Faktor koordinasi kelembagaan pengelola program menjadi instrumen sangat penting karena menyangkut fungsi koordinatif, supervisi, verifikasi, dan pembinaan. Hal ini ditunjukkan dengan diperlukannya peningkatan koordinasi yang tidak hanya koordinasi internal diantara elemen pendukung, tetapi juga terhadap pihak luar yang justru menentukan efektivitas peran kelembagaan pengelola program, salah satunya adalah dengan Bank Pelaksana.
3. Dalam pelaksanaan tupoksi kelembagaan pengelola program, masih diperlukan konsistensi dalam proses rekruitmen tenaga KM dan TPD yang dinilai masih belum optimal sehingga proses transformasi manajerial program dan pembinaan belum terjadi seperti yang diinginkan. Konsistensi dari kualifikasi tenaga KM dan TPD menjadi penting ketika sumberdaya manusia dilokasi pelaksanaan program cukup tersedia, dan hal ini telah dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan dengan menempatkan sejumlah aparat sesuai kompetensinya yang juga turut mempengaruhi kinerja kelembagaan pengelola program. Dalam kondisi khusus, proses rekruitmen KM dan TPD yang dinilai tidak transparan terjadi akibat kurang tersedianya sumberdaya manusia KM dan TPD tetapi disisi lain pengelola program sedapat mungkin meminimalisir keterlambatan pelaksanaan sehingga hal ini bukan menjadi kendala utama. Hal ini ditunjukkan dengan tidak terpengaruhnya pencapaian tujuan program, seperti penyaluran DEP ke KMP. Proses institutionalisasi
merupakan salah satu bentuk keberhasilan pencapaian program PEMP. Kompleksitas pemilihan lokasi pelaksanaan program dan Bank Pelaksana masih terjadi sehingga mempengaruhi efektivitas proses pembinaan terutama dalam pengelolaan DEP.
4. Intervensi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten masih menyisakan pekerjaan yang harus segera dibenahi. Misalnya, penentuan KM, TPD, KMP, dan Ketua Pengurus LEPP-M3 yang prosesnya terkesan tidak melibatkan anggotanya turut mempengaruhi kinerja dan semangat anggota pelaksana program. Artinya masih terdapat perbedaan persepsi diantara komponen pelaksana program, yang berakibat kepada disproporsi peran diantara komponen tersebut. Namun secara menyeluruh kinerja kelembagaan program menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan dengan terciptanya kemampuan pemanfaat program melakukan pembukuan pelaporan secara periodik. Sejalan dengan itu, maka diperlukan upaya secara terus menerus dalam bentuk sosialisasi manfaat program PEMP ke segenap lapisan masyarakat, termasuk tokoh adat dan kalangan dunia usaha.
5. Lembaga perbankan dalam hal ini Bank Maluku sebagai Bank Pelaksana Program PEMP di Kabupaten Maluku Tenggara sebagai
stakeholder vital, belum menunjukkan keseriusan untuk memberikan
fasilitas dan pelayanan bagi masyarakat pesisir dalam mengakses modal.
Dengan melakukan perbaikan terhadap beberapa hal seperti yang dikemukakan diatas, diharapkan status keberlanjutan dari elemen kinerja Kelembagaan dapat ditingkatkan menjadi lebih baik sehingga pelaksanaan Program PEMP dapat berkelanjutan.
b. Pengelolaan Koperasi LEPP-M3
Salah satu faktor penyebab kemiskinan dan keterbelakangan sosial di kawasan pesisir adalah kedudukan kelembagaan ekonomi masyarakat setempat kurang berfungsi untuk mendukung berkembangnya dinamika pembangunan secara
berkelanjutan. Untuk mengatasi hal tersebut, program PEMP telah dirancang dengan pendekatan kelembagaan ekonomi melalui pembentukan LEPP-M3.
Sesuai tuntutan yang berkembang untuk membenahi sistem pengelolaan DEP dan menguatkan kelembagaan, pada Tahun 2004 LEPP-M3 telah menjadi lembaga yang berbadan hukum koperasi yang di dalamnya didirikan LKM. Pada masa mendatang, Koperasi LEPP-M3 sebagai sasaran antara program PEMP diharapkan menjadi cikal-bakal holding company masyarakat pesisir dan memiliki tanggung jawab besar untuk mengelola Program PEMP. Sejak perubahan paradigma penyaluran dan pengelolaan DEP pada tahun 2004, pengelolaan Koperasi LEPP-M3 menunjukkan kecenderungan perkembangan yang positif.
Tabel 12. Atribut yang mempengaruhi kinerja Pengelolaan Koperasi LEPP-M3
No Atribut Yang Berpengaruh Nilai Leverage
1 Pelaporan Kegiatan LEPP-M3 4,40
2 Pemahaman Tupoksi LEPP-M3 oleh pengurusnya 13,2 3 Kesesuaian kualifikasi SDM pengurus LEPP-M3 24,2
4 Mekanisme organisasi LEPP-M3 24,3
5 Produktivitas dan efisiensi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) 25,6
6 Bentuk pengelolaan DEP 28,8
7 Kualitas portofolio LEPP-M3 29,6
8 Sistem administrasi keuangan pengelolaan DEP 30,7
9 Pengembangan usaha LEPP-M3 34,3
10 Kuantitas dan perkembangan KMP 42,4 11 Laporan neraca keuangan LEPP-M3 51,8
Berdasarkan hasil analisis Leverage dengan menggunakan RAPFISH seperti yang ditunjukan pada Tabel 12, terlihat besaran pengaruh yang diberikan oleh berbagai faktor terhadap capaian status kinerja Pengeloaan LEPP-M3. Dari 11 atribut yang dinilai, terlihat bahwa terdapat 2 atribut yang pengaruhnya “sangat kuat” terhadap kinerja Pengelolaan LEPP-M3 karena nilainya berada pada kisaran >0 – 20, yaitu pelaporan kegiatan, pemahaman terhadap tupoksi LEPP-M3. Disamping itu terdapat 7 atribut yang pengaruhnya “kuat” terhadap kinerja Pengelolaan LEPP-M3 karena nilainya berada pada kisaran >20 – 40 yaitu kesesuaian kualifikasi SDM, mekanisme organisasi, produktivitas dan efisiensi
LKM, bentuk pengelolaan DEP, kualitas portofolio, sistem administrasi keuangan, dan pengembangan usaha LEPP-M3. Selain itu juga terdapat 2 atribut yang pengaruhnya “cukup kuat” terhadap kinerja Pengelolaan LEPP-M3 karena nilainya berada pada kisaran >40 – 60 yaitu kuantitas dan perkembangan KMP, dan laporan neraca keuangan LEPP-M3.
Atribut-atribut diatas saling mempengaruhi satu dengan lainnya sehingga membentuk satu kesatuan kinerja Pengelolaan LEPP-M3, dimana berdasarkan hasil analisis Ordinasi yang telah dijelaskan sebelumnya terlihat bahwa kinerja Pengelolaan LEPP-M3 mencapai nilai 25,29. Oleh karena nilai tersebut berada dalam kisaran >20 - 30 maka dapat disimpulkan bahwa status keberlanjutan dari elemen kinerja Pengelolaan LEPP-M3 dalam pelaksanaan Program PEMP di Kecamatan Kei Kecil - Kabupaten Maluku Tenggara termasuk dalam kategori “baik”.
Baiknya status keberlanjutan dari elemen kinerja Pengelolaan Koperasi LEPP-M3 ini didukung oleh beberapa hal antara lain sebagian besar pengurus Koperasi LEPP-M3 telah memiliki kualifikasi sesuai persyaratan yang ditetapkan dengan kualitas potofolio yang baik. Kecakapan dalam mengelola koperasi ini dimotori oleh pengurus dengan kualitas SDM yang telah berpengalaman dan faham terhadap karakteristik masyarakat, disamping itu pengurus juga dibantu oleh pegawai yang mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup dan telah memiliki pengalaman didalam memahami karakter sosial budaya masyarakat setempat.
Dalam melaksanakan aktivitasnya, pengurus Koperasi LEPP-M3 telah memahami tugas pokok dan fungsi, mekanisme organisasi, berbagai bentuk pelaporan kegiatan, cara mengembangkan usaha, dan teknis membuat neraca keuangan Koperasi LEPP-M3. Selain itu Koperasi LEPP-M3 juga memiliki sistem dan mekanisme yang baik untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Adanya sistem monitoring yang baik disertai dengan pelaksanaannya membuat pengurus mampu mengidentifikasi berbagai masalah yang terjadi di lapangan yang berkaitan dengan pengelolaan Koperasi LEPP-M3. Sebagai tindak lanjutnya, pengurus kemudian menjadikan berbagai informasi hasil monitoring terhadap kondisi tersebut sebagai bahan evalusi untuk menentukan sistem dan mekanisme pengelolaan yang sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.
Dengan melakukan peningkatan kualitas dari apa yang telah dijelaskan diatas dan membenahi beberapa hal yang masih terasa kurang maka diharapkan status keberlanjutan dari elemen kinerja Pengelolaan LEPP-M3 dapat lebih meningkat sehingga pelaksanaan Program PEMP dapat berkelanjutan.
c. Kapasitas Pemanfaat Progam PEMP
Meskipun masih banyak terdapat kelemahan, dari beberapa aspek terlihat bahwa kapasitas pemanfaat program PEMP telah menunjukan kondisi yang lebih baik terutama pada proses penetapan jenis Usaha Ekonomi Produktif (UEP) yang difasilitasi oleh program PEMP, dan kesesuaian kriteria penerima DEP. Dalam hubungannya dengan proses penetapan jenis UEP dan penerima DEP, ada beberapa hal yang harus dipenuhi seperti penggunaan format standar dalam pembuatan proposal (rencana kegiatan) UEP yang telah disiapkan oleh LEPP-M3, rumusan kriteria sebagai acuan verifikasi UEP dan penerima DEP, instrumen untuk survei faktual, dan yang terpenting adalah adanya kerangka waktu yang digunakan mulai dari pengajuan usulan, verifikasi, persetujuan proposal, kontrak kerja sampai pada likuiditas dana kepada pemanfaat program.
Untuk membantu pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut, Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai penanggung-jawab program PEMP telah menyediakan Pedoman Umum (Pedum), tetapi untuk hal-hal yang sifatnya lebih teknis belum disiapkan. Meskipun demikian, dengan melihat situasi dan kondisi maka untuk efektivitas proses tersebut, seharusnya penanggung-jawab program PEMP di daerah dan pelaku-pelaku lainnya berinisiatif untuk menyusun instrumen-instrumen yang terkait dengan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan, sehingga proses pelembagaan (sistem, organisasi, penatakelolaan) dan domestikasi (pengambil-alihan peran pemangku kepentingan lokal) secara perlahan dapat terwujud.
Tabel 13. Atribut yang mempengaruhi kinerja Kapasitas Pemanfaat
No Atribut Yang Berpengaruh Nilai Leverage
2 Tertib administrasi KMP 41,3 3 Ekstensifikasi dan Diversifikasi jenis DEP 91,7 4 Perubahan tingkat kesejahteraan anggota KMP 91,8 5 Pemahaman teknis pengelolaan DEP 96,9
Berdasarkan hasil analisis Leverage dengan menggunakan RAPFISH seperti yang ditunjukan pada Tabel 13, terlihat besaran pengaruh yang diberikan oleh berbagai faktor terhadap capaian status kinerja Kapasitas Pemanfaat Program PEMP. Dari 5 atribut yang dinilai, terlihat bahwa terdapat 1 atribut yang pengaruhnya “kuat” terhadap kinerja Kapasitas Pemanfaat Program PEMP karena nilainya berada pada kisaran >20 – 40, yaitu transformasi dan replikasi DEP. Disamping itu juga terdapat 1 atribut yang pengaruhnya “cukup kuat” terhadap kinerja Kapasitas Pemanfaat Program PEMP karena nilainya berada pada kisaran >40 – 60, yaitu tertib administrasi KMP. Selain itu terdapat 3 atribut yang pengaruhnya “sangat lemah” terhadap kinerja Kapasitas Pemanfaat Program PEMP karena nilainya berada pada kisaran >80 – 100 yaitu ekstensifikasi dan diversifikasi jenis DEP, perubahan tingkat kesejahteraan anggota KMP, dan pemahaman tentang teknis pengelolaan DEP.
Atribut-atribut diatas saling mempengaruhi satu dengan lainnya sehingga membentuk satu kesatuan kinerja Kapasitas Pemanfaat Program PEMP, dimana berdasarkan hasil analisis Ordinasi yang telah dijelaskan sebelumnya terlihat bahwa kinerja Kapasitas Pemanfaat Program PEMP mencapai nilai 69,19. Oleh karena nilai tersebut berada dalam kisaran >60 - 80 maka dapat disimpulkan bahwa status keberlanjutan dari Kapasitas Pemanfaat dalam pelaksanaan Program PEMP di Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara termasuk dalam kategori “buruk”.
Buruknya status keberlanjutan dari elemen kinerja Kapasitas Pemanfaat Program PEMP ini antara lain disebabkan karena belum efektifnya proses tranformasi dan replikasi jenis UEP/DEP, serta pembaruan wawasan dan kemampuan anggota KMP yang seharusnya difasilitasi oleh KM, TPD dan Koperasi LEPP-M3 yang diangkat dan dibentuk oleh Dinas Kelautan dan Perikanan. Fungsi-fungsi asistensi, supervisi dan pembinaan yang diperankan oleh pihak-pihak tersebut belum dijalankan secara baik dan konsisten. Selain itu, tertib administrasi usaha
akan mendukung KMP mewujudkan tertib administrasi, transparansi dan akuntabilitas usaha, sehingga akan menumbuhkan kepercayaan antar anggota kelompok dan lembaga-lembaga mitra (pemerintah, koperasi dan lembaga perbankan).
Demikian juga penghantaran DEP dalam mendukung UEP harus lebih ditingkatkan agar dapat membantu dalam penguatan usaha (intensifikasi), pengembangan usaha (ekstensifikasi), dan perluasan usaha (diversifikasi), dengan itu akan terbangun kekuatan KMP yang selanjutnya secara mandiri dapat mengelola UEP bahkan dapat memberikan multiplier effect dan breakdown effect bagi kelompok masyarakat lainnya.
Nilai manfaat ekonomi berupa peningkatan pendapatan dari UEP yang dilaksanakan oleh KMP merupakan tujuan utama program PEMP sebagai salah satu bentuk upaya pengentasan kemiskinan masyarakat pesisir. Untuk itu dibutuhkan upaya peningkatan pemahaman tentang teknis pengelolaan UEP/DEP. Manajemen usaha yang diterapkan oleh KMP dalam melakukan UEP terutama dalam hal keterampilan merencanakan usaha, kemampuan teknis, keterampilan mengelola keuangan dan kemampuan mengembangkan jaringan kemitraan akan sangat membantu efektifitas dan pengembangan UEP.
Dengan perbaikan-perbaikan seperti yang dikemukakan diatas, diharapkan status keberlanjutan dari elemen kinerja Kapasitas Pemanfaat dapat ditingkatkan menjadi lebih baik sehingga pelaksanaan Program PEMP dapat berkelanjutan.
d. Kemitraan
Kemitraan yang baik akan berpengaruh secara signifikan terhadap proses pencapain misi dari program PEMP. Keterlibatan pemangku kepentingan yang dibingkai dalam sebuah kemitraan, akan melahirkan sinergitas yang tinggi dan pembagian peran yang efektif. Kemitraan yang dibangun dalam pelaksanaan Program PEMP tidak bisa dipisahkan dari peran pemangku kepentingan dan peran pelaksana program sebagai penentu keberhasilan kemitraan tersebut. Berbagai alasan yang diberikan mengapa kemitraan masih rendah, antara lain misalnya belum adanya dukungan yang kuat dari para pemangku kepentingan sehingga belum
Berdasarkan hasil analisis Leverage dengan menggunakan RAPFISH seperti yang ditunjukan pada Tabel 14, terlihat besaran pengaruh yang diberikan oleh berbagai faktor terhadap capaian status kinerja Kemitraan dalam Program PEMP. Dari 5 atribut yang dinilai, terlihat bahwa terdapat 1 atribut yang pengaruhnya “cukup kuat” terhadap kinerja Kemitraan dalam Program PEMP karena nilainya berada pada kisaran >40 – 60, yaitu pembinaan DEP oleh Mitra Program PEMP.
Tabel 14. Atribut yang mempengaruhi kinerja Kemitraan
No Atribut Yang Berpengaruh Nilai Leverage 1 Pembinaan DEP oleh Mitra program PEMP 40,4 2 Peran Mitra dalam mendukung program PEMP 65,6 3 Perguliran DEP yang difasilitasi oleh Mitra program PEMP 67,2 4 Penguatan modal LEPP-M3 oleh lembaga keuangan lainnya 84,8 5 Sharing dana oleh Mitra program PEMP 93,2
Selain itu terdapat 2 atribut yang pengaruhnya “lemah” terhadap kinerja Kemitraan dalam Program PEMP karena nilainya berada pada kisaran >60 – 80, yaitu peran Mitra dalam mendukung Program PEMP, dan perguliran DEP yang difasilitasi oleh Mitra Program PEMP. Disamping itu juga terdapat 2 atribut yang pengaruhnya “sangat lemah” terhadap kinerja Kemitraan dalam Program PEMP karena nilainya berada pada kisaran >80 – 100 yaitu penguatan modal LEPP-M3 oleh lembaga keuangan lainnya, dan sharing dana oleh Mitra Program PEMP.
Atribut-atribut diatas saling mempengaruhi satu dengan lainnya sehingga membentuk satu kesatuan kinerja Kemitraan dalam pelaksanaan Program PEMP, dimana berdasarkan hasil analisis Ordinasi yang telah dijelaskan sebelumnya terlihat bahwa kinerja Kemitraan mencapai nilai 72,89. Oleh karena nilai tersebut berada dalam kisaran >60 - 80 maka dapat disimpulkan bahwa status keberlanjutan dari elemen kinerja Kemitraan dalam pelaksanaan Program PEMP di Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara termasuk dalam kategori “buruk”.
Buruknya status keberlanjutan dari elemen kinerja Kemitraan ini antara lain disebabkan karena masih belum dilibatkannya berbagai pihak yang mempunyai
keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pelaksanaan Program PEMP. Peran pihak eksekutif dalam Program PEMP baru hanya sebatas memberikan sharing dana untuk kegiatan sosialisasi. Sementara pihak legislatif, yudikatif, kalangan dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga adat dan lembaga swadaya masyarakat belum dilibatkan secara aktif sebagai mitra Program PEMP.
Dengan kondisi demikian pembinaan terhadap usaha ekonomi produktif yang diharapkan dari mitra Program PEMP praktis tidak berjalan. Disamping itu perguliran DEP yang diharapkan dapat difasilitasi oleh kalangan dunia usaha sebagai mitra Program PEMP juga tidak dapat dilaksanakan, padahal di Kabupaten Maluku Tenggara banyak terdapat perusahan-perusahan perikanan yang dapat dilibatkan sebagai mitra program PEMP. Demikian juga dengan penguatan modal LEPP-M3 yang diharapkan dari lembaga keuangan lainnya tidak dapat berjalan, karena sampai saat ini pengelola Program PEMP belum membangun jaringan kerja dengan lembaga-lembaga keuangan lainnnya yang ada di Kabupaten Maluku Tenggara.
Dengan melakukan perbaikan terhadap beberapa hal yang dikemukakan diatas, diharapkan status keberlanjutan dari elemen kinerja Kemitraan dapat ditingkatkan menjadi lebih baik sehingga pelaksanaan Program PEMP dapat berkelanjutan.
e. Persepsi Pemangku Kepentingan (Stakeholders)
Keberhasilan suatu program sangat dipengaruhi oleh persepsi orang-orang yang terkait baik secara langsung ataupun tidak langsung dengan program itu. Adapun mereka yang terkait secara langsung dengan program PEMP ini antara lain Pemerintah Daerah, KM, TPD, anggota LEPP-M3 dan masyarakat pesisir sebagai penerima/pemanfaat program PEMP, sedangkan yang terkait secara tidak langsung antara lain, pihak legislatif, yudikatif, kalangan dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga adat dan lembaga swadaya masyarakat.
Gambaran tentang persepsi pemangku kepentingan yang cenderung negatif terhadap program PEMP umumnya terkait dengan pemahaman pemangku kepentingan terhadap Program PEMP itu sendiri, kesesuaian peran pemangku