E. Konsep Kreativitas 1. Hakikat Kreativitas
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kreativitas
Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kreativitas seseorang, salah satunya adalah kepemimpinan. Shin dan Zhou (2003) menjelaskan bahwa
kepemimpinan merupakan variabel yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kreativitas karyawan di tempat kerja. Sedangkan Chen dan Tang (2007) menyatakan bahwa kreativitas karyawan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pemikiran kreatif dan motivasi intrinsik. Dikemukakan pula oleh Akib (2011:20) bahwa kreativitas dipengaruhi oleh: faktor struktural, kepemimpinan, karakteristik pekerjaan, dan lingkungan organisasi.
Menurut Rogers dalam Munandar (2009:37) bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dan mendorong terwujudnya kreativitas individu, diantaranya:
a. Dorongan dari dalam diri sendiri (motivasi intrinsik). Dalam hal ini, setiap individu memiliki kecenderungan atau dorongan dari dalam dirinya untuk berkreativitas, mewujudkan potensi, mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitas yang dimiliknya. Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya. Hal ini juga didukung oleh pendapat Munandar (2009:39) yang menyatakan bahwa individu harus memiliki motivasi intrinsik untuk melakukan sesuatu atas keinginan dari dirinya sendiri selain didukung oleh perhatian ,dorongan, dan pelatihan dari lingkungan.
Menurut Rogers sebagaimana dipertegas kembali oleh Zulkarnain (2003;46) bahwa kondisi internal (internal press) yang dapat mendorong
seseorang untuk berkreasi diantaranya: (1) keterbukaan terhadap pengalaman, yaitu kemampuan menerima segala sumber informasi dari pengalaman hidupnya sendiri dengan menerima apa adanya tanpa ada usaha defense dan tanpa adanya kekakuan terhadap pengalaman-pengalaman tersebut dan keterbukaan terhadap konsep secara utuh, kepercayaan, persepsi dan hipotesis. Dengan demikian individu kreatif adalah individu yang mampu menerima perbedaan. Kemampuan menerima perbedaan tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Akib (2011) tentang salah satu kreativitas individu yaitu toleransi; (2) kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi seseorang (internal locus of evaluation). Pada dasarnya penilaian terhadap produk ciptaan seseorang terutama ditentukan oleh diri sendiri, bukan karena kritik dan pujian dari orang lain. Namun demikian individu tidak tertutup kemungkinan adanya masukan dan kritikan dari orang lain; (3) kemampuan untuk bereksperimen atau bermain dengan konsep-konsep. Hal ini merupakan kemampuan untuk membentuk kombinasi dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
b. Dorongan dari lingkungan. Munandar (2009:53) mengemukakan bahwa kondisi lingkungan yang dapat mendorong pengembangan kreativitas adalah: (1) keamanan psikologis yang dapat dibentuk melalui tiga proses yang saling berhubungan, yaitu (a) menerima individu sebagaimana
adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya; (b) mengusahakan suasana yang di dalamnya tidak terdapat evaluasi eksternal atau sekurang-kurangnya tidak bersifat atau mempunyai efek mengancam; (c) memberikan pengertian secara empatis, ikut menghayati perasaan, pemikiran, tindakan individu, dan mampu melihat dari sudut pandang mereka dan menerimanya. (2) kebebasan psikologi. Lingkungan yang bebas secara psikologis memberikan kesempatan kepada individu untuk bebas mengekspresikan secara simbolis pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya. Menurut Zulkarnain (2003:52) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas dapat berupa kemampuan berpikir dan sifat kepribadian yang berinteraksi dengan lingkungan tertentu. Faktor kemampuan berpikir terdiri dari kecerdasan (inteligensi) dan pemerkayaan bahan berpikir berupa pengalaman dan keterampilan. Faktor kepribadian terdiri dari ingin tahu, harga diri, dan keprcayaan diri, sifat mandiri, berani mengambil resiko, dan sifat asertif.
Mencermati faktor-faktor pendorong kreativitas tersebut diatas dapat dipahami bahwa dorongan dari dalam adalah merupakan motivasi kerja intrinsik, sedangkan dorongan dari lingkungan adalah diciptakan oleh pemimpin organisasi dalam kepemimpinnya. Dengan demikian kreativitas karyawan termasuk para penyuluh pertanian sangat erat kaitannya dengan faktor motivasi kerja intrinsik dan faktor kepemimpinan, termasuk kepemimpinan pelayan.
Syarat yang mencirikan seseorang disebut kreatif adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Frinces (2004:11), yaitu: (1) terbuka terhadap pengalaman (openness to experience), (2) pengamatan melihat cara biasa yang biasa dilakukan (observance seeing things in unusual ways), (3) keingintahuan (curiosity), (4) menerima dan merekonsiliasi lawan yang tampak (accepting and reconciling opparent opposites), (5) toleransi terhadap ambiguitas (tolerance of ambiguity), (6) kemandirian dalam penilaian, pikiran, dan tindakan (independence in judgment, thought band action), (7) memerlukan dan menerima otonomi (needing and assuming autonomy), (8) percaya diri dan berani mengambil resiko (self reliance and risk taking), (9) tidak sedang tunduk kepada pengawasan kelompok (not being subject to group standards and control), (10) kesediaan untuk mengambil risiko yang diperhitungkan (willingness to take calculated risk), dan (11) ketekunan (persistence). Syarat yang mencirikan kreativitas tersebut diatas sejalan dengan makna dari dimensi atau ciri kreativitas yang dikemukakan oleh Akib (2011:21-23), yaitu: kecekatan, inisiatif, toleransi, keteguhan, dan atraktif.
Selain itu, dikemukakan oleh West dan Michael (2000:36), mengenai ciri-ciri orang kreatif yaitu; mempunyai nilai-nilai intelektual dan artistik, tertarik pada kompleksitas, peduli pada pekerjaan dan pencapaian, tekun, berpikir mandiri, toleransi terhadap ambiguitas, otonom, percaya diri, dan siap mengambil resiko. Sedangkan menurut Guilford yang dipertegas kembali oleh Munandar
(2009:17) bahwa ciri-ciri dari kreativitas adalah; kelancaran berpikir, keluwesan berpikir, elaborasi, dan originalitas.
Dari beberapa pengertian dan definisi yang dikemukakan oleh beberapa pakar tersebut mengenai kreativitas, dapat disimpulkan bahwa kreativitas bukan hanya berupa produk yang dihasilkan dalam bentuk kebendaan, tetapi juga sesuatu yang tidak nampak dalam wujud kebendaan. Sesuatu yang tidak berwujud kebendaan tersebut yaitu berupa proses ke arah perilaku yang lebih baik dan bermanfaat, dan perilaku tertentu yang diperankan oleh individu, kelompok dan organisasi yang menciptakan nilai bagi organisasi, termasuk pertumbuhan, efektivitas, efisiensi, dan inovasi dalam organisasi.
Dalam penelitian ini, ciri yang menjadi dimensi kreativitas yang dijadikan sebagai fokus pembahasan penelitian adalah dimensi kreativitas yang dikemukakan oleh Akib (2011:21-23) khususnya dimensi kreativitas individu, yaitu; kecekatan. Inisiatif, toleransi, keteguhan, dan atraktif. Dimensi ini, peneliti menganggap paling tepat dijadikan pendekatan dalam menilai kreativitas aparat birokrasi khususnya yang terkait dengan penelitian ini yaitu para penyuluh pertanian. Hal tersebut karena dimensi yang dikemukakan oleh Akib (2011) dapat dianggap mewakili dimensi atau ciri kreativitas yang dikemukakan oleh pakar lainnya. Di samping itu, maknanya juga lebih dekat dengan nilai-nilai budaya kerja dalam organisasi pemerintah. Dimensi-dimensi tersebut sebagai berikut; a. Kecekatan
Kecekatan dalam konteks perilaku manusia (orang, individu) sering dipertukarkan dengan kecermatan yang terlihat melalui ketelitian mengerjakan pekerjaan secara tepat dan cepat dengan gaya yang khas. Dengan sikap cekatan, seseorang akan segera melaksanakan pekerjaan tanpa mengulur-ulur waktu sehingga pekerjaan akan terlaksana sesuai jadwal yang ditentukan. Demikian pula sikap cekatan tersebut ditunjukkan dalam wujud pemberian pelayanan yang sesegera mungkin sehingga pihak-pihak yang dilayani merasa puas atas kinerja pelayanan yang diberikan.
b. Inisiatif
Inisiatif merupakan kreativitas individu, dimana individu atau aparat mampu mengarahkan dirinya, menyederhanakan pekerjaan, permasalahan, dan membuat solusi yang tepat. Dengan inisiatif mencari dan menemukan solusi atas hambatan yang dihadapi, pekerjaan akan menjadi lancar dan mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan.
c. Toleransi
Toleransi merupakan kreativitas individu, yaitu individu atau aparat memiliki tenggang rasa dan bersedia menerima ketidak sepahaman atau perbedaan, serta percaya dan respek terhadap kolega dan orang lain. Toleransi antar sesama pegawai tanpa mengedepankan status atau ciri personal lebih nyata terlihat dalam kebersamaannya mengerjakan tugas. Perilaku toleran pegawai
diperkaya dengan rasa percaya diri dan saling percaya serta respek satu sama lain tanpa memandang suku, bahasa, atau daerah asal.
d. Keteguhan
Keteguhan merupakan kreativitas individu, dimana individu atau aparat berketetapan hati dan bersemangat dalam bekerja dan tau bekerjasama dengan atasan dan orang lain. Pegawai yang teguh dalam bekerja menganut prinsip resopa temamangingi naletei pammase Dewata, atau bekerja tidak mengenal lelah karena mengharapkan rezki dari Tuhan. Keteguhan sebagai ciri perilaku kreatif individu pada akhirnya membentuk keberanian dan rasa percaya diri yang kuat dalam menghadapi berbagai orang dan situasi termasuk bekerjasama dengan atasan.
e. Atraktif
Atraktif merupakan kreativitas individu, dimana individu atau aparat mau dan mampu menunjukkan daya tarik diri ketika berhadapan atau melayani orang lain dan mempromosikan kelebihan organisasi tempatnya bekerja. Perilaku atraktif pegawai dalam bentuk tanggung jawab personal untuk menyenangkan orang lain pada prinsipnya ingin mewujudkan sifat khas orang kreatif yang sensitif terhadap lingkungan, artinya pegawai yang atraktif sensitif terhadap pemenuhan kebutuhan lingkungan dan menyenangkan orang lain.