KERANGKA KONSEPTUAL
E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT
Dari hasil observasi maupun pengamatan awal yang dilakukan penulis untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi masyarakat Pagaralam untuk melakukan nating ternyata terdapat banyak sekali variable maupun faktor-faktor yang mempengaruhinya mulai dari faktor prestise dalam melakukan mengadakan pesta adat atau persedekahan baik itu upacara perkawianan, khitanan maupun upacara kematian, meski terkadang mereka harus berhutang dengan menggadaikan harta yang mereka miliki, untuk modal usaha, pendidikan, kesehatan, maupun persiapan menjelang masa panen, ataupun faktor untuk pendidikan dari anak-anak mereka.
Diawali dari hasil wawancara dengan Walikota Pagaralam yang menyatakan bahwa betapa pentingnya masyarakat Pagaralam untuk terus berupaya saling tolong menolong antar sesama, dan nating merupakan salah satu media untuk bersama-sama saling tolong-menolong antar sesama, yang kaya membantu yang miskin, dan yang kuat membantu yang lemah107
Dalam pengertian yang lebih luas lagi, menurut penuturan bapak Dimyati Rais108 yang menyatakan bahwa:
“Perilaku nating sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan kota Pagaralam, karena sifat tolong-menolong antar masyarakat masih terasa kental sekali, dimana antar masyarakat khususnya kerabat keluarga maupun tetangga terdekat masing-masing mempunyai kewajiban untuk saling tolong-menolong antar sesama, tidak diketahui sejak kapan perilaku ini berlangsung namun yang pasti nating adalah salah satu bukti dari begitu eratnya rasa persaudaraan dari masyarakat Pagaralam, faktor yang mempengaruhi nating biasanya karena kebutuhan mendesak yang terjadi karena mempersiapkan resepsi pernkahan anak, keluarga
107 dr. Ida Fitriyati Basjuni Wali kota Pagaralam
108 Dimyati Rais ,03 Juli 1950 (Ketua pengurus Muhammadiyah Kota Pagaralam),
Interview dilakukan pada hari kamis 30 April 2015 pkl 08.00 wib
mendadak sakit keras dan banyak faktor-faktor lainnya, namun sekarang
nating sering kali disalah artikan dan dimaknai sebagai salah satu bentuk dari investasi dengan mengenyampingkan unsur-unsur Islam didalamnya, dan hasil dari pinjaman uang nating tidak digunakan untuk sebagaimana mestinya, hal inilah sering kali yang menjadi faktor utama pelaku nating
tidak dapat mengembalikan uang yang dipinjam lalu barang gadai akhirnya terjual.”
Upacara perkawinan misalnya, meskipun sudah jarang terjadi namun masih ada sebagian dari masyarakat yang menyelenggarakan hajatan pernikahan sampai tiga hari tiga malam, dan membutuhkan biaya yang tidaklah sedikit, dan pada umumnya masyarakat akan merasa gengsi kalau tidak bisa melaksanakan pesta yang meriah, bahkan untuk lingkungan tetangga maupun keluarga terdekat juga juga dikatakan tidak bisa menjaga adat apabila tidak menyelenggarakan acara pantauan (suatu tradisi mengajak makan para tamu maupun kedua mempelai untuk makan bersama di rumah kerabat maupu tetangga terdekat), karena takut menanggung malu kalau mereka tidak dapat menyediakan hidangan yang mewah dan beragam, meskipun diluar kemampuan ekonomi mereka, maka kondisi tersebut mendorong petani untuk menggadaikan sawah ataupun kebun mereka untuk membiayai segala keperluan yang berkaitandengan peristiwa adat tersebut.
Selain adanya budaya atau tradisi masyarakat Pagaralam dalam melaksanakan upacara adat baik dalam persedekahan maupun rangkaiannya, ada juga petani yang menggadaikan sawah atau kebunnya karena mereka enggan menggarap sawahnya sendiri, karena dengan menggadiakan sawah atau kebunnya mereka memperoleh dana segar dan uang dari hasil gadai tersebut dapat digunakan untuk modal usaha maupun digunakan untuk membeli mobil
atau motor untuk kegiatan ojek dan kegiatan usaha lainnya, dan untuk kondisi ini sering biasanya menggunakan sistem nating biasa atau non kuasa.
Secara umum masyarakat Pagaralam melakukan nating dengan alasan membutuhkan dana segar atau dana yang langsung bisa digunakan baik untuk kebutuhan konsumsi maupun produksi, disamping kebutuhan-kebutuhan mendesak lainnya, misalkan ada salah satu dari keluarga yang membutuhkan dana untuk melanjutkan sekolah atau salah satu keluarga yang sakit sehingga membutuhkan dana yang cukup besar, maka daripada petani menjual sawah, kebun, atau rumah mereka maka penduduk setempat lebih menggunakan nating
sebagai alternative utama untuk mengatasi kebutuhan dana tersebut, meskipun dalam pelaksanaan nya nating sudah membudaya dan turun temurun dilakukan oleh masyarakat Pagaralam, pada era modern sekarang pun nating masih tetap eksis dalam perekonomian
Adapun apabila dilihat dari pendapatan per kapita masayarakat kota Pagaralam bukanlah termasuk daerah dengan pendapatan yang kecil, bahkan dengan rangkaian musim panen kopi petani dapat menghasilkan pendapatan yang cukup untuk kebutuhan menuju musim berikutnya berikut data yang dikeluarkan oleh badan pusat statistik kota Pagaralam mengenai pendapatan regional dan pendapatan perkapita kota Pagaralam.
Tabel 7. Pendapatan Regional dan Pendapan Per kapita atas dasar harga berlaku di kota Pagaralam, 2009-2013
no Rincian 2009 2010 2011f 2012* 2013** 1 Produk Domestik Regional Bruto (Juta Rp) 1.132.295 1.273.686 1.436.951 1.633.160 1.836.069 2 Penyusutan (juta Rp) 95.878 107.851 121.675 138.289 155.471 3 Produk domestik regional neto atas dasar harga pasar (juta Rp) 1.036.417 1.165.835 1.315.276 1.494.871 1.680.598 4 Pajak tidak langsung (juta Rp 78.640 88.459 99.798 113.425 127.518 5 produk domestik
regional neto atas dasar biaya faktor (juta Rp) 957.777 1.077.376 1.215.477 1.381.455 1.553.080 6 Jumlah penduduk pertenghan tahun (orang) 124.882 126.181 127.706 129.719 131.111 7 Produk domestik regional bruto per kapita (Rp)
9.066.919 10.094.119 11.252.024 12.589.983 14.013.440
8 Pendapatan regional per kapita (Rp)
7.669.457 8.538337 9.517.778 10.649.520 11.853.584
Catatan/Note: f ) Angka Revisi / Revised Figures
*) Angka sementara / Preliminary Figures
**) Angka Sangat sementara / Very Preliminary Figures
Jadi menurut data diatas terjadi peningkatan yang cukup besar dari pendapatan masyarakat kota Pagaralam, dari tahun ke tahun yang semesetinya dapat diajadikan acuan bahwa semsetinya dengan pengelolaan keuangan yang baik masyarakat dapat bertahan hidup selam periode musim panen ke musim
panen berikutnya. Namun masih ada hal yang menarik dari kondisi pendapatan masyarakat tersebut bahwa masih banyak petani yang belum memaksimalkan hasil dari penjualan kopi maupun padi secara baik, ini terlihat dari pola penyimpanan (saving) dana hasil panen yang dengan begitu cepat habis tanpa terlebih dahulu merincikan kebutuhan-kebutuhan hidup pasca musim panen berakhir.
Terjadi perubahan signifikan terhadadap tujuan utama nating, yang sebelumnya tujuan utama adalah saling tolong menolong dengan makna sebenarnya agar kerabat atau tetangga dapat menghadapi permasalahan keuangan yang dihadapinya, namun sekarang terjadi pergeseran makna dan tujuan mengapa masyarakat Pagarlalam melakukan nating yakni sebagai wadah untuk berinvestasi, dan ini dapat dilihat dari banyak nya pemilik modal yang mencari peluang untuk melakukan nating, masyarakat yang umum nya mempunyai simpanan kekayaan yang belum dimanfaatkan biasanya mencari informasi sawah, kebun ataupun rumah mana yang mau di tatingkan, betapa tidak jika pemilik modal hanya mencari keuntungan dari bunga deposito yang ada di perbankan dengan batas akhir yang ditetapkan LPS (lembaga Penjamin Simpanan) yakni 7,25 itupun dengan nilai suku bunga terbesar dengan jumlah uang simpanan deposito nya pun relative besar bahkan untuk mencapai bunga tertinggi tersebut nasabah perbankan harus menyimpan dana nya lebih dari Rp. 500.000.000,-.
Dibanding dengan proses yang terjadi dalam nating pelaku nating
dengan meminjamkan uang Rp.50.000.000,- sampai dengan Rp. 100.000.000,- pemilik modal atau yang menerima gadai (murtahin) mampu mendapat hasil dari barang gadai yakni sawah, kebun ataupun rumah (marhun) dengan jumlah yang apabila di uangkan jauh lebih besar dari pada bunga deposito. Dan proses pinjaman di lembaga-lembaga keuangan baik bank maupun non bank, karena dalam persyaratan umum proses pinjaman di Bank membutuhkan persyaratan yang diantaranya calon nasabah harus mempunyai agunan (jaminan) yang sesuai dengan jumlah uang yang akan dipinjam ditambah dengan calon nasabah harusnya bersih dari catatan bank Indonesia, dan mempunyai pendapatan yang tetap dengan dibuktikan slip gaji dari calon nasabah109, meskipun di Pagaralam sudah banyak terdapat Lembaga keuangan Bank maupun non Bank yang diantaranya: Bank BNI, Mandiri, BCA, BRI, Sumsel Babel, BNI Syariah, BTPN, Danamon, Mega Syariah dan lembaga-lembaga non Bank. Dan semua lembaga tersebut juga ikut melayani pinjaman mikro dengan sekala besar maupun kecil.110
BAB IV