MEKANISME AKAD DAN PERSPEKTIF ISLAM DALAM PERILAKU
A. Mekanisme Perjanjian (Akad) Dalam Pelaksanaan nating
109 Hasil Wawancara dengan Meer Eisen (Pimpinan Bank BNI KLN Pagaralam) 110 Sumber Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Kota Pagaralam
Secara umum untuk mengetahui mekanisme perjanjian (akad) dalam pelaksanaan nating terlebih dahulu pelaku nating menetapkan pilihan antara kedua jenis nating, yakni nating biasa (non kuasa) atau nating kuasa, karena kedua jenis pilihan inilah yang menentukan inti dari perjanjian yang akan dilakukan, untuk mendapatkan pinjaman dari proses nating ini petani atau pelaku
nating tidak perlu mengisi berbagai macam formulir dengan menyertakan berbagai kelengkapan administrasi seperti KTP, KK, sertifikat tanah atau rumah, SIUP/NPWP dan lainnya, pelaku nating cukup mengutarakan keinginannya atau meminjam sejumlah dana kepada keluarga, kerabat, tetangga ataupun pemilik modal, dan berjanji akan mengembalikan pinjaman tersebut dalam jangka waktu tertent
Tingkat kesuburan dan luas tanah sangat menentukan, didalam mendapatkan pinjaman dari proses nating ini, semakin tinggi tingkat kesuburan tanah dan luas tanah maka mudah mendapatkan jumlah yang dikendaki, asalkan tanah itu harus merupakan hak milik sendiri yang tidak terkait dengan orang lain, karena jika tanah tersebut bermasalah atau terkait dengan hak orang lain maka orang tidak akan menerima penggadaian itu.
Kemampuan produktifitas tanah ini akan menjadi pertimbangan bagi mereka yang memberi pinjaman kepada pemilik harta gadai. Meskipun demikian sebagai pengikat antara si penating dan petani dibuatlah suatu perjanjian (hitam diatas putih) tentang jenis apa yang di gadaikan (tatingkan), baik itu luas lahan, jangka waktu, besarnya pinjaman, besaran sasih 111 yang akan diberikan dan
111 Sasih dalam istilah masyarakat Pagaralam adalah hasil dari panen yang akan
sistem nating yang diterapkan (apakah nating kuasa ataun nating biasa),
perjanjian antara kedua belah pihak tersebut dulunya hanya di tanda tangani oleh kedua belah pihak112, tapi saat ini perjanjian tersebut biasanya harus diketahui oleh pejabat pemerintah setempat (lurah) untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di masa yang akan datang, tapi biasanya hal ini jarang terjadi, dikarenakan nating ini merupakan salah satu niat baik pihak keluarga untuk membantu kerabatnya yang membutuhkan dana dan menurut responden dan lurah setempat113 jarang sekali bahkan belum pernah ada hal-hal buruk yang ditimbulkan akibat nating ini. Jika ada petani yang belum bisa membayar pada saat jatuh tempo, biasanya waktu akan diperpanjang, bahkan ada yang meminta tambahan pinjaman uang. Dan bila sampai batas waktu yang diberikan si petani belum juga mengembalikan uang tersebut, barulah tanah, sawah, kebun maupun rumah yang menjadi jaminan gadai atau yang ditatngingkan tadi menjadi milik
penating atau pemilik modal seutuhnya dengan terlebih dahulu mambahas tentang penambahan dana sesuai dengan harga yang dikehendaki.
Adapun untuk besaran pinjaman yang diperoleh dari nating ini biasanya berkisar antara Rp. 5.000.000 bahkan sampai dengan Rp.100.000.000,-, untuk mendapatkan dana sebesar itu perlu dilakukan penaksiran atas luas tanah, sawah ataupun kebun dengan memperhatikan produktifitas lahan tersebut, karena hal ini berkaitan dengan bagi hasil (untuk nating biasa), dan jumlah hasil keseluruhan dalam masa panen (nating kuasa) .
112 Proses ini merupakan proses yang hanya disaksikan dan di tandatangani oleh yang menatingkan sawah, kebun ataupun rumahnya kepada si pemilik modal, dan biasanya hanya ditanda tangani okedua belah pihak dengan disaksikan oleh kerabat ataupun tetangga mereka.
Adapun untuk proses pengembalian ketika tiba jatuh tempo dalam perjanjian, jumlah uang yang dikembalikan sebesar yang dipinjam tanpa adanya tambahan atau bunga yang dibebankan kepada si petani. Pemilik modal
(penating atau murtahin) mendapatkan kompensasi dari dana yang dipinjamkan kepada petani yang menggadaikan barang nya (rahin) berupa hasil panen yang diperoleh selama masa perjanjian berlangsung sesuai dari hasil musyawarah yang telah disepakati sebelumnya hasil dari panen tersebut diperoleh dari kegiatan usaha tani dari lahan yang ditatingkan atau digadaikan. Namun jika sistem
nating yang disepakati adalah nating kuasa artinya si pemilik modal (penerima barang gadai atau murtahin) mempuyai kuasa penuh untuk mengelola serta mendapatkan semua hasil dari lahan ataupun sawah, kebun yang mereka kelola tanpa sedikitpun ada pembagian kepada pemilik sawah seutuhnya, dan ketika tiba jatuh tempo prosedur pengembalian harta gadai (marhun) sama seperti nating
biasa yakni dengan mengembalikan sejumlah uang yang dipinjam dan harta gadai pun dikembalikan seperti semula, namu hal inilah yang menurut penulis ada indikasi praktik gadai yang bertentangan dengan ajaran Islam, namun dalam
nating kuasa pun apabila murtahin menginginkan sawah atau ladang itu tetap di kelolah oleh pemiliknya dengan pembagian hasil yang ditetapkan oleh penerima barang gadai (murtahin atau pemilik modal).
Beda halnya ketika barang yang ditatingkan berupa rumah atau benda yang tidak menghasilkan, kedua sistem nating ini pun digunakan,seperti sistem yang menggunakan nating biasa dengan cara sang pemilik rumah (pemilik barang gadai atau rahin) tetap menghuni rumah mereka tetapi mereka juga
berkewajiban untuk membayar uang sewa selama perjanjian nating berlangsung, itu berarti sang pemilik rumah mendapatkan uang dari pemilik modal dan selama masa perjanjian ini berlangsung pemilik rumah masih menempati rumah itu namun harus membayar uang sewa tambahan dengan jumlah yang disepakati bersama, jadi dalam proses nating biasa ini pemilik modal (rahin) akan mendapatkan uang tambahan berupa uang sewa dari pemilik rumah dan setelah perjanjian nating selesai pemilik rumah berkewajiban unutk melunasi dengan membayar uang pinjaman kepada pemilik modal.
Namun ada satu hal lagi yang sering terjadi dalam perilaku ini, apabila dalam periode waktu perjanjian pemilik rumah belum bisa mengembalikan uang pinjaman biasanya terjadi kesepakatan ulang untuk penambahan waktu gadai dan biasanya diiringi dengan penambahan uang jaminan, dan apabila masih belum bisa dikembalikan dalam periode perpanjangan maka harta jaminan gadai menjadi milik pemilik modal, artinya meskipun diawal perjanjian nating pemilik harta gadai tidak ada niatan sama sekali untuk menjual hartanya namun karena keterdesakan waktu dan jumlah uang jaminan terus bertambah, maka dengan terpaksa pemilik harta gadai menjualkan hartanya tersebut, hal ini biasanya terjadi karena adanya pergeseran makna dari sebelumnya nating dijadikan sebagai sarana tolong menolong dan saat ini nating dijadikan sarana investasi yang sangat menguntungkan.
berikut ilustrasi mekanisme perjanjian (akad) yang dilakukan oleh pelaku
1. Pemilik harta gadai (rahin) mengutarakan niatnya kepada pemilik modal (murtahin) untuk menatingkan harta gadai nya (marhun) berupa sawah