• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Output

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4. Analisis Ekonomi

5.4.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Output

bentuk persamaan fungsi produksi sebagai berikut:

LNY = -1,2818 + 0,4797LNX1 + 0,1260LNX2 + 0,6233LNX3 – 0,3786Dk + 1,0433DR

Berdasarkan persamaan di atas, dapat dilihat bahwa faktor produksi bahan baku (X1) memiliki konstanta dengan nilai 0,4797 dan nilai probabilitas 0,0085

(Tabel 5.1) sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor produksi bahan baku mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap output industri mobil. Nilai 0,4797 memiliki makna bahwa jika terjadi kenaikan ketersediaan bahan baku sebesar satu persen, maka output akan meningkat sebesar 0,4797 persen, ceteris paribus. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal yang menduga bahwa faktor produksi bahan baku memiliki pengaruh positif terhadap output industri mobil, dimana kenaikan penggunaan bahan baku akan menyebabkan kenaikan jumlah output.

Bahan baku merupakan faktor produksi yang memiliki kontribusi paling besar terhadap besarnya jumlah output yang dihasilkan dengan rata-rata nilai per tahun sebesar 18,9 persen dari nilai output (BPS, 2005). Selain itu, tingginya nilai integrasi vertikal antara industri perakitan (assembly) mobil dengan produsen komponen mobil domestik juga menunjukkan signifikansi penggunaan faktor produksi bahan baku dalam menghasilkan output industri mobil. Nilai integrasi vertikal pada industri mobil Indonesia memiliki nilai rata-rata 0,74 hingga tahun 2005 (Atikah, 2008).

Faktor produksi modal (X2) memiliki konstanta dengan nilai 0,1260 dan

nilai probabilitas 0,2987 (Tabel 5.1) sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor produksi modal memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap output industri mobil Indonesia. Nilai 0,1260 memiliki makna bahwa setiap kenaikan ketersediaan modal sebesar satu persen akan berakibat pada kenaikan output sebesar 0,1260 persen, ceteris paribus. Penambahan modal pada industri mobil umumnya berupa pembangunan pabrik perakitan baru serta penambahan mesin produksi.

Saat ini, penanaman modal tersebut terkendala masalah ketersediaan infrastruktur pendukung dan pasokan listrik yang tersedia. Peningkatan kapasitas produksi dalam bentuk penanaman modal baru oleh pelaku pasar harus diikuti oleh peningkatan infrastruktur dan pasokan listrik4. Jika faktor produksi lain dianggap tetap (ceteris paribus), maka penambahan nilai modal tetap akan meningkatkan nilai output industri mobil, namun dalam jumlah yang belum optimal. Hal ini dikarenakan saat ini kondisi ketersediaan faktor-faktor pendukung permodalan seperti pasokan listrik belum memadai untuk memenuhi kebutuhan jika terjadi peningkatan ketersediaan modal. Hal inilah yang mendasari tidak signifikannya pengaruh faktor produksi modal terhadap output industri mobil.

Faktor produksi energi (X3) dalam penelitian ini memiliki nilai koefisien

0,6233 dengan probabilitas 0,0014 (Tabel 5.1) yang memiliki arti bahwa faktor produksi ini memiliki pengaruh yang positif dan signifikan atau nyata terhadap output industri mobil Indonesia. Nilai 0,6233 berarti apabila terjadi peningkatan

4

penggunaan energi sebesar satu persen, maka nilai output industri mobil Indonesia akan meningkat sebesar 0,6233 persen, ceteris paribus. Sesuai dengan hipotesis awal, pengaruh positif signifikan dari faktor produksi energi dikarenakan industri mobil Indonesia merupakan industri padat modal dimana dalam proses peraktian kendaraan maupun proses pembuatan komponen kendaraan seperti pencetakan rangka dan plat badan kendaraan (molding), peleburan (casting) dan pemboran (welling) bagian-bagian dari baja (contohnya mesin dan komponen-komponen mesin) serta proses-proses lain seperti pengecatan hingga perakitan menjadi kendaraan utuh didominasi oleh penggunaan mesin.

Penggunaan mesin yang mendominasi proses produksi mobil tersebut berbanding lurus dengan nilai penggunaan energi. Selain itu, pentingnya penggunaan energi untuk menggerakkan mesin-mesin produksi juga ditegaskan pada poin sebelumnya (X2). Kondisi-kondisi tersebut menjelaskan signifikansi

dari pengaruh faktor produksi energi terhadap output industri mobil Indonesia. Dummy krisis ekonomi 1997 tidak berpengaruh nyata terhadap output industri mobil Indonesia. Krisis ekonomi sempat menyebabkan terjadinya penurunan nilai output pada tahun 1998, namun tidak sampai menyebabkan terhentinya perkembangan industri mobil di Indonesia. Pada tahun 1998, nilai output mengalami penurunan sebesar Rp. 2,8 trilyun sedangkan nilai input meningkat sebesar Rp. 266 milyar. Akan tetapi, seiring dengan membaiknya kondisi perkonomian Indonesia serta semakin baiknya kinerja pelaku industri akibat berbagai penyesuaian internal membuat nilai output kembali meningkat sebesar Rp. 1,8 trilyun sedangkan biaya input mengalami penurunan sebesar Rp.

380 milyar pada tahun 1999 (BPS, 2000). Pada tahun-tahun berikutnya, nilai output industri mobil Indonesia terus mengalami peningkatan hingga kisaran puluhan trilyun.

Membaiknya kondisi industri mobil pasca krisis juga dibantu oleh perilaku pasar mobil Indonesia. Meskipun sempat terjadi penurunan produksi, pasar mobil Indonesia yang konsumtif mampu menyelamatkan industri mobil di Indonesia. Meski sempat menurunkan angka penjualan mobil dari 390 ribu unit pada tahun 1997 menjadi 56 ribu unit pada tahun 1998, pada tahun 1999 permintaan masyarakat akan mobil meningkat sebesar 100 persen menjadi 110 ribu unit, yang kemudian diikuti kenaikan sebesar 200 persen pada tahun 20005. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa baik dari sisi produksi maupun konsumsi, krisis ekonomi tahun 1997 tidak sampai menyebabkan terhentinya industri mobil di Indonesia. Sebaliknya, industri mobil dapat pulih dengan cepat dimana output dan penjualan justru meningkat melebihi kondisi sebelum krisis.

Dummy deregulasi otomotif tanggal 24 Juni 1999 berpengaruh terhadap output industri mobil di Indonesia. Deregulasi bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kinerja industri mobil Indonesia melalui pencabutan larangan izin impor kendaraan dalam bentuk utuh oleh pihak-pihak non ATPM atau yang lazim disebut importir umum (IU). Kebijakan ini didasari pertimbangan dimana industri mobil dalam negeri dianggap terlalu dimanjakan dengan kebijakan-kebijakan terdahulu yang terlalu protektif dan anti impor, sehingga produsen lokal melalui ATPM tidak memiliki saingan. Sesuai dengan tujuan kebijakan ini, nilai efisiensi

5

mengalami peningkatan konstan pasca pemberlakuan deregulasi ini pada tahun 1999 sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 5.1.

Faktor produksi yang memiliki pengaruh paling besar terhadap output industri mobil Indonesia adalah faktor produksi energi dengan nilai koefisien 0,6233. Sebagai industri yang lebih banyak menggunakan mesin dalam proses produksinya, faktor produksi energi sangat diperlukan untuk menggerakan mesin- mesin produksi. Pengurangan ataupun penambahan jumlah energi yang dipergunakan sangat berpengaruh pada meningkat atau menurunnya kemampuan produksi. Faktor produksi yang paling signifikan dalam mempengaruhi output industri mobil adalah faktor produksi energi dengan nilai probabilitas 0,0014 pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dengan sistem produksi yang dipergunakan saat ini, penambahan energi sangat mempengaruhi kemampuan opersional mesin, sehingga persentase kenaikan output akibat naiknya penggunaan energi akan signifikan.

5.4.2. Elastisitas dan Skala Usaha

5.4.2.1. Elastisitas Industri Mobil Indonesia

Berdasarkan kerangka pemikiran pada bab sebelumnya, diketahui bahwa salah satu keunggulan fungsi produksi Cobb-Douglas adalah nilai koefisien regresi dari masing-masing variabel independen juga dapat digunakan untuk mengetahui tingkat elastisitas produksi dari variabel tersebut.

Tabel 5.2. Nilai Elastisitas Model Cobb-Douglas

Variabel Elastisitas Produksi

X1 (bahan baku) 0,4797

X2 (modal) 0,1260

X3 (energi) 0,6233

Sumber: Lampiran 3

Tabel 5.2. menunjukkan bahwa ketiga faktor produksi dalam model (bahan baku, modal, serta energi) memiliki nilai elastisitas yang termasuk dalam daerah II, atau memiliki nilai elastisitas antara 0 sampai 1 yang berarti setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan meningkatkan output antara nol sampai satu persen. Daerah ini termasuk dalam daerah rasional karena penambahan jumlah suatu faktor produksi akan meningkatkan jumlah output dalam rasio yang semakin berkurang (diminishing returns), ceteris paribus.

Faktor produksi bahan baku (X1) memiliki nilai elastisitas produksi 0,4797

yang artinya jika penggunaan faktor produksi bahan baku meningkat sebesar satu persen, maka nilai output akan meningkat sebesar 0,4797 persen, ceteris paribus. Peningkatan yang relatif besar tersebut, sebagaimana telah dibahas pada subbab sebelumnya, adalah karena bahan baku merupakan faktor produksi utama dalam menghasilkan output. Besar-kecilnya output yang dihasilkan sangat bergantung pada jumlah bahan baku yang digunakan, hal ini dikarenakan metode produksi yang telah efisien sehingga dalam proses produksi, seluruh input faktor produksi bahan baku dapat termanfaatkan secara optimal.

Faktor produksi modal (X2) memiliki nilai elastisitas produksi 0,1260 yang

artinya jika terjadi peningkatan modal sebesar satu persen maka nilai output akan meningkat sebesar 0,1260 persen, ceteris paribus. Pengunaan modal tetap dalam

industri modal saat ini telah mencapai tingkat yang cukup optimal dimana penambahan modal tetap akan meningkatkan produksi, tetapi dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Kondisi tersebut dapat dijelaskan oleh kondisi di lapangan dimana peningkatan ketersediaan modal baru akan memberikan peningkatan output yang signifikan apabila kondisi faktor penggerak permodalan tersebut juga ikut ditingkatkan agar dapat memenuhi peningkatan kebutuhan akibat bertambahnya jumlah alat-alat modal.

Faktor produksi energi (X3) memiliki elastisitas produksi 0,6233 yang

artinya jika penggunaan energi meningkat sebesar satu persen, maka output akan meningkat sebesar 0,6233 persen, ceteris paribus. Sebagai industri yang padat modal, dimana proses produksi lebih banyak dikerjakan oleh mesin, penggunaan energi sangat besar pengaruhnya terhadap output yang dihasilkan.

5.4.2.2. Skala Hasil Usaha Industri Mobil Indonesia

Skala usaha menjelaskan bagaimana suatu kenaikan proporsional dari semua faktor produksi terhadap output. Pada fungsi produksi Cobb-Douglas, nilai skala usaha dapat diketahui dari penjumlahan semua koefisien variabel independen dalam model. Hasil estimasi fungsi produksi Cobb-Douglas industri mobil Indonesia menunjukan bahwa penjumalah semua koefisien bebas memiliki nilai 1,229 atau (b1 + b2 + b3 > 1). Hal ini menunjukkan bahwa industri mobil

Indonesia bersifat increasing return to scale yakni kondisi dimana penambahan seluruh faktor produksi dalam persentase yang sama akan meningkatkan output dalam persentase yang lebih besar. Hal ini sesuai teori dimana pada industri

mobil, jumlah perusahaan yang beroperasi relatif sedikit, masing-masing perusahaan berukuran besar, dan spesialisasi dalam proses produksi sangat kompleks. Kondisi nyata di lapangan menunjukkan bahwa hingga tahun 2008, hanya terdapat 16 perusahaan mobil di Indonesia, dimana semuanya merupakan perusahaan-perusahaan multinasional yang berskala besar. Proses produksi industri mobil juga memiliki spesialisasi yang sangat tinggi, dimana tiap-tiap proses produksi dilakukan secara terpisah (baik oleh tenaga manusia maupun mesin) dalam suatu garis produksi yang dinamakan assembly line6.

5.5. Efisiensi dan Nilai Tambah Industri Mobil Indonesia 5.5.1. Efisiensi Industri Mobil Indonesia

Keberhasilan suatu industri, yang tercermin dari keberhasilan mayoritas perusahaannya, dapat dilihat dari nilai efisiensi. Nilai efisiensi merupakan perbandingan antara biaya input terhadap nilai output dimana semakin kecilnya nilai efisiensi menandakan tingkat efisiensi produksi suatu industri yang semakin tinggi.

Berdasarkan Gambar 5.1, dapat dilihat bahwa koefisien nilai efisiensi (η) industri mobil Indonesia berkisar antara 0,05 hingga 0,25. Berdasarkan teori,

semakin kecilnya koefisien nilai efisiensi (η) tersebut menandakan tingkat

efisiensi yang semakin tinggi, hal ini menegaskan bahwa industri mobil Indonesia

6

Assembly Line merupakan sebuah proses produksi di mana bagian-bagian suatu produk dirakit dan digabungkan satu persatu dengan urutan tertentu hingga menjadi produk akhir. Proses ini menghasilkan tingkat produksi yang lebih cepat daripada metode biasa, dimana seluruh bagian produk tersebut dirakit oleh satu orang ahli. (id.wikipedia.org. Lini Perakitan. [30 Agustus 2009]).

telah cukup efisien dalam berproduksi. Nilai efisiensi industri mobil Indonesia dapat dilihat pada Gambar 5.1.

Sumber: Lampiran 2

Gambar 5.1. Nilai Efisiensi Produksi Industri Mobil Indonesia Periode 1985 – 2005

Efisiensi dalam suatu industri dapat tercapai apabila didukung oleh pemanfaatan faktor-faktor produksi serta penggunaan metode produksi yang tepat, sehingga mampu menghasilkan output yang melebihi biaya inputnya. Industri mobil merupakan industri padat modal dimana proses produksi lebih banyak dilakukan oleh mesin daripada tenaga manusia. Penggunaan mesin tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa alasan7, yaitu:

1. Peningkatan produktivitas, dimana jam kerja produksi bertambah mendekati 24 jam per hari sehingga kehilangan waktu akibat penggantian shift pekerja dapat dikurangi.

2. Kestabilan dan peningkatan kualitas produksi dimana cacat produksi akibat human error dapat dikurangi.

7

http://patihperkasa.wordpress.com. Analisis Robot Pendukung Industri Mobil. [9 April 2009]. 0,00000 0,20000 0,40000 0,60000 0,80000 1,00000 E fi si e n si P ro d u k si Tahun Pengamatan Efisiensi η

3. Mengurangi masalah personalia yang ditimbulkan oleh tenaga kerja yang kurang terampil.

4. Mengurangi biaya-biaya tambahan seperti pendingin, pemanas, dan penerangan ruangan karena mesin dapat bekerja di lingkungan yang tidak cocok bagi manusia.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dilihat bahwa penggunaan mesin dalam berproduksi dapat mengurangi masalah-masalah yang terjadi apabila menggunakan tenaga kerja manusia sehingga efisiensi dapat tercapai akibat berkurangnya biaya produksi serta meningkatnya hasil produksi. Pada tahun 1998, nilai efisiensi produksi sempat mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh kondisi perindustrian secara keseluruhan yang belum stabil akibat guncangan krisis ekonomi tahun 1997 dimana fluktuasi nilai tukar berpengaruh pada meningkatnya biaya input serta turunnya permintaan terhadap output menyebabkan kapasitas produksi sengaja dikurangi oleh produsen. Kondisi politik yang tidak stabil juga memicu berubah-ubahnya kebijakan dalam perindustrian sehingga tercipta iklim usaha yang tidak kondusif yang berakibat pada keraguan produsen serta investor dalam meneruskan produksi serta investasi. Namun seiring semakin stabilnya makroekonomi serta iklim usaha yang semakin kondusif membuat efisiensi industri mobil kembali meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pasca krisis, mulai tahun 1999 nilai efisiensi terlihat lebih baik dibandingkan periode sebelum krisis. Diberlakukannya deregulasi tanggal 24 Juni tahun 1999 yang mengizinkannya impor mobil dalam bentuk utuh cukup efektif dalam membuat pelaku industri mobil Indonesia meningkatkan nilai efisiensinya

agar tidak kalah bersaing dengan mobil-mobil impor. Kondisi ini sesuai dengan tujuan dari pemberlakuan deregulasi tersebut yakni guna meningkatkan efisiensi industri mobil di Indonesia.

5.5.2. Nilai Tambah Industri Mobil Indonesia

Nilai tambah industri mobil Indonesia selama periode 1985 – 2005 memiliki tren yang meningkat sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 5.2. Hal ini menunjukkan bahwa keuntungan kotor yang diterima industri mobil meningkat dari tahun ke tahun karena pertambahan nilai output yang melebihi pertambahan biaya inputnya.

Sumber: Lampiran 2

Gambar 5.2. Perkembangan Nilai Tambah Bruto Industri Mobil Indonesia Periode 1985 – 2005

Gambar 5.2. menunjukkan bahwa pada tahun 1997 dan 2003 terjadi penurunan nilai tambah bruto yang cukup signifikan. Penurunan pada tahun 1997 disebabkan oleh krisis ekonomi, dimana nilai tukar rupiah terhadap dolar mengalami penurunan drastis serta ketidakstabilan politik yang berdampak pada ketidakstabilan di bidang industri. Melemahnya nilai tukar rupiah berdampak pada naiknya biaya faktor produksi terutama bahan baku yang masih diimpor serta nilai

0 5 10 15 20 25 30 35 1985 1987 1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 T ri ly u n r u p ia h Tahun NTB

pembelian energi yang dibutuhkan dalam proses produksi. Kondisi ini menyebabkan terjadinya penurunan output sebesar Rp. 2,8 triliyun sementara biaya input mengalami peningkatan sebesar Rp. 266 milyar, sehingga terjadi penurunan nilai tambah bruto sebagaimana terlihat pada Gambar 5.2. Setelah tahun 1998, terlihat bahwa nilai tambah bruto mengalami peningkatan yang sangat besar. Pada tahun 2003, kembali terjadi penurunan nilai tambah yang disebabkan oleh menurunnya nilai bahan baku dalam jumlah yang cukup besar. Penurunan tersebut diakibatkan oleh melambatnya pertumbuhan industri komponen dimana pertumbuhan hanya mencapai 8 hingga 10 persen pada tahun 2002 dan 2003. Pertumbuhan perekonomian nasional yang hanya 4 persen pada tahun 2003 juga diyakini sebagai penyebab menurunnya nilai output pada tahun tersebut karena angka pertumbuhan belum mampu meningkatkan pertumbuhan output industri mobil di Indonesia8. Secara keseluruhan, peningkatan nilai tambah bruto industri mobil Indonesia pasca tahun 1998 disebabkan oleh meningkatnya efisiensi sebagaimana dijelaskan pada subbab sebelumnya.

8

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil estimasi fungsi produksi Cobb-Douglas serta analisis ekonomi pada bab hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa industri mobil Indonesia memiliki kondisi sebagai berikut:

1.a. Estimasi fungsi produksi Cobb-Douglasmenunjukkan bahwa faktor produksi bahan baku, modal, serta energi memiliki pengaruh positif terhadap jumlah output industri mobil Indonesia. Faktor produksi bahan baku serta energi berpengaruh signifikan sedangkan faktor produksi modal tidak signifikan terhadap jumlah output industri mobil indonesia.

b. Krisis ekonomi tahun 1997 tidak berpengaruh nyata teradap output industri mobil Indonesia. Industri mobil Indonesia mampu bertahan selama krisis dan semakin berkembang pasca krisis.

c. Kebijakan deregulasi tanggal 24 Juni 1999 berpengaruh nyata terhadap output industri mobil Indonesia. Pemberlakuan kebijakan ini terbukti meningkatkan efisiensi industri mobil Indonesia.

2.a. Elastisitas produksi industri mobil Indonesia menunjukkan bahwa faktor produksi bahan baku, modal, serta energi yang menunjukkan bahwa penambahan faktor produksi tersebut akan meningkatkan output dalam persentase yang semakin kecil. Hal ini menunjukkan penggunaan faktor produksi telah optimal.

b. Hasil analisis skala hasil usaha industri mobil Indonesia menunjukkan bahwa industri mobil Indonesia bersifat increasing returns to scale. Kondisi ini sesuai dengan teori dimana industri yang berukuran besar serta memiliki spesialisasi yang tinggi dalam proses produksi cenderung memiliki skala hasil usaha yang meningkat.

c. Industri mobil Indonesia memiliki nilai efisiensi cukup baik yang menunjukkan bahwa persentase biaya input relatif lebih kecil dibandingkan nilai outputnya.

d. Analisis nilai tambah industri mobil Indonesia menunjukkan nilai tambah memiliki tren yang meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa keuntungan industri mobil cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

6.2. Saran

Beberapa saran yang diberikan penulis kepada pihak-pihak yang terkait dalam industri mobil Indonesia adalah:

1. Energi merupakan variabel yang memiliki pengaruh positif yang paling besar terhadap jumlah output industri mobil di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya menjamin ketersediaan dan kelancaraan distribusi energi kepada pelaku industri mobil agar tidak mengahambat kelancaran proses produksi.

2. Bahan baku merupakan variabel yang memiliki pengaruh positif terbesar kedua setelah energi. Tingkat integrasi vertikal yang tinggi serta semakin meningkatnya rasio penggunaan komponen buatan dalam negeri perlu

dipertahankan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penerbitan deregulasi baru oleh pemerintah yang semakin mendukung industri komponen produksi dalam negeri untuk berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

Atikah, F. 2008. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Integrasi Vertikal Industri Mobil di Indonesia [skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Badan Pusat Statistika. 1985 - 2005. Statistik Industri Besar dan Sedang (volume I & II). BPS, Jakarta.

Direktorat Industri Alat Transport. 2006 - 2009. Perkembangan Industri Mobil Indonesia.Depperin, Jakarta.

Dumairy. 1995. Perekonomian Indonesia. Erlangga, Jakarta.

Fitriani. 2005. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Output Industri Ban di Indonesia Periode 1984 - 2002 [skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Frank, R.H. 1997. Microeconomics and Behavior, Third Edition.Irwin/McGraw-

Hill, NY.

Gaikindo. 2009. Penjualan Mobil Tahun 2008.Gaikindo, Jakarta.

Gujarati, D. 1995. Ekonometrika Dasar. Sumarno, S dan Zain, P [penerjemah]. Erlangga, Jakarta.

Hasibuan, N. 1993. Ekonomi Industri: Persaingan, Monopoli, dan Regulasi. Pustaka LP3ES, Jakarta.

Kurniawan, D. 2008. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Output Industri Sepeda Motor di Indonesia [skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Kyoutsoyiannis, A. 1977. Theory of Econometrics, Second Edition. Harper &

Row Publishers inc, New York.

Lipsey, G.R. 1975. Economics, Fourth Edition. Harper & Row Publishers inc, New York.

Nicholson, W. 1995. Teori Mikroekonomi: Prinsip Dasar dan Perluasan Jilid Satu Edisi Kelima.Daniel Wirajaya [penerjemah]. Bhina Aksara, Jakarta. Sanimah. 2006. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Output Industri

Semen di Indonesia Periode 1983 - 2003 (Dengan Pendekatan Fungsi Produksi Cobb-Douglas) [skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Soekartawi. 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian: Teori dan Aplikasi. Edisi Revisi.Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sutriyono. 2007. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Industri Mobil di Indonesia [skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Syahruddin. 1989. Dasar-dasar Teori Ekonomi Mikro. Lembaga Penerbit FEUI, Jakarta.

Tumbuan, T. 2006. The Development of Industry and Industrialization Policy in Indonesia Since The New Government Era to The Post Crisis Period. Kadin-Jetro, Jakarta.

Walpole, R.E. 1988. Pengantar Statistika Edisi Ke-3. Bambang Sumantri [penerjemah]. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Winarno, W.W. 2007. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan Eviews.Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN, Yogyakarta.

Lampiran 1. Variabel Data Penelitian

TAHUN LN OUT R LN BB R LN MDL R LN ENG R

2005 24,34562 22,13181 20,60251 18,31333 2004 24,17341 22,98643 21,38225 18,85771 2003 23,40545 21,27765 20,34517 18,07847 2002 24,33591 22,82968 18,54036 18,38745 2001 23,49482 21,16971 18,59573 17,91734 2000 23,62174 22,94841 19,60822 17,35277 1999 22,02676 21,23192 19,07650 16,45837 1998 20,59395 20,63271 18,85049 16,19806 1997 22,00144 20,70558 19,35968 17,91816 1996 22,11072 21,28545 19,45494 16,22019 1995 22,09700 21,27467 19,28294 17,09412 1994 21,93124 20,98468 18,01797 17,01100 1993 21,55164 20,50536 18,17547 16,73533 1992 21,04075 20,13825 18,22333 16,69767 1991 21,50745 21,24762 17,76682 16,80170 1990 21,49499 20,63303 17,98064 16,91026 1989 21,10350 20,83613 17,82617 16,69449 1988 21,27965 20,68477 17,90408 16,59377 1987 20,88909 20,38005 18,19933 16,57973 1986 20,98559 20,48884 17,83979 16,66472 1985 20,50460 20,20913 17,39539 16,66070 Keterangan:

Ln OUT R : Logaritma nilai output riil industri mobil Ln BB R : Logaritma nilai bahan baku riil industri mobil Ln MDL R : Logaritma nilai modal riil industri mobil Ln ENG R : Logaritma nilai energi riil industri mobil

Lampiran 2. Tabel Efisiensi, NTB, dan Output per TK TAHUN EFISIENSI NTB Output per TK

2005 0,06706 34.915.823.953 2.116.800 2004 0,05695 29.710.949.317 1.876.348 2003 0,10068 13.145.409.248 1.285.625 2002 0,03872 35.628.938.396 3.802.234 2001 0,08898 14.561.203.820 1.567.254 2000 0,06867 16.900.188.829 1.249.282 1999 0,23610 2.812.806.155 360.056 1998 0,76538 206.163.670 125.401 1997 0,21184 2.829.557.256 279.605 1996 0,16622 3.338.987.902 324.181 1995 0,15519 3.337.062.377 322.529 1994 0,15738 2.820.018.033 281.458 1993 0,17412 1.890.923.972 228.092 1992 0,24014 1.043.793.777 119.908 1991 0,10206 1.967.057.511 95.035 1990 0,09189 1.964.688.836 102.729 1989 0,17883 1.201.061.790 62.664 1988 0,15079 1.481.316.263 75.648 1987 0,15346 999.221.804 55.039 1986 0,11821 1.146.272.963 52.025 1985 0,20824 636.251.241 34.794 Lampiran 3. Hasil Estimasi Variabel Data

Dependent Variable: LN_OUT Method: Least Squares Date: 08/15/09 Time: 11:25 Sample: 1985 2005

Included observations: 21

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

LN_BB 0,479733 0,158369 3,029214 0,0085 LN_ENG 0,623389 0,160055 3,894834 0,0014 LN_MDL 0,126073 0,117110 1,076539 0,2987 DK -0,378624 0,291716 -1,297922 0,2139 DR 1,043332 0,351963 2,964321 0,0096 C -1,281843 3,356947 -0,381848 0,7079

R-squared 0,941429 Mean dependent var 22,11882

Adjusted R-squared 0,921905 S.D. dependent var 1,258379

S.E. of regression 0,351661 Akaike info criterion 0,982656

Sum squared resid 1,854978 Schwarz criterion 1,281091

Log likelihood -4,317887 F-statistic 48,21954

Lampiran 4. Correlation Matrix Uji Multikolinearitas

Bahan Baku Energi Modal DK DR

Bahan Baku 1,000000 0,693467 0,671696 0,614890 0,765848

Energi 0,693467 1,000000 0,661296 0,652754 0,709720

Modal 0,671696 0,661296 1,000000 0,685191 0,655863

DK 0,614890 0,652754 0,685191 1,000000 0,816497

DR 0,765848 0,709720 0,655863 0,816497 1,000000

Lampiran 5. Uji Autokorelasi

Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:

F-statistic 0,100322 Probability 0,905240 Obs*R-squared 0,319191 Probability 0,852489

Lampiran 6. Uji Heteroskedastisitas

White Heteroskedasticity Test:

F-statistic 2,155228 Probability 0,111367 Obs*R-squared 12,38221 Probability 0,134948

Lampiran 7. Uji Normalitas Error Term (Uji Jarque-Bera)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 -0.5 0.0 0.5 Series: Residuals Sample 1985 2005 Observations 21 Mean 4.92E-16 Median -0.019918 Maximum 0.616982 Minimum -0.688233 Std. Dev. 0.304547 Skewness -0.155475 Kurtosis 3.056209 Jarque-Bera 0.087368 Probability 0.957256

Dokumen terkait