HASIL DAN PEMBAHASAN
6.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya pendapatan nelayan dalam usaha perikanan tangkap. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah jumlah hasil tangkapan (kilogram), jumlah awak kapal (orang), jumlah trip melaut (hari), pengalaman (tahun), jumlah biaya melaut (Rp), jumlah alat tangkap (unit) dan pendapatan lain. Hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Nelayan Rajungan di Kampung Bidara
Variabel Koefisien P-Value VIF
Konstanta -10097670 0.000 X1 5530 0.055 5.303 X2 409647 0.591 1.243 X3 111611 0.000 5.640 X4 118871 0.000 1.136 X5 0.6698 0.300 1.202 X7 122348 0.866 1.180 R-square 85.8% Adj R-square 83.8%
Sumber: Hasil Olahan Data, 2016
Nilai R Square (R-Sq) dari hasil analisis regresi linear berganda pada Tabel 13 sebesar 85.8 persen dan nilai R Square Ajusted (R-Sq(adj)) sebesar 83.8 persen. Nilai R-Sq tersebut menunjukan bahwa nilai koefisien determinasi peubah-peubah variabel bebas yang terdapat di dalam model dapat menjelaskan keragaman peubah tidak bebas (Y) sebesar 85.8 persen dan sisanya sebesar 14.2 persen dijelaskan oleh peubah-peubah bebas lain yang tidak terdapat di dalam model.
Untuk menguji pelanggaran di dalam model ini dilakukan beberapa uji, yaitu uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolineritas dan uji autokorelasi. Secara lebih jelas, hasil uji asumsi klasik model regresi berganda dapat dilihat pada Lampiran 3. Uji normalitas digunakan untuk menguji data variabel bebas dan variabel terikat pada persamaan regresi yang dihasilkan berdistribusi normal atau tidak. Hasil uji dapat dilihat pada grafik histogram dan
simetri terhadap mean dan titik-titik pada normal probability plot membentuk sebuah pola linear yang mengikuti garis diagonal, sehingga dapat dikatakan bahwa model tersebut berdistribusi normal. Kedua, uji heteroskedastisitas ditentukan dengan grafik scatter plot antara Z prediction (ZPRED) yang merupakan variabel bebas dan nilai residualnya (SRESID) yang merupakan variabel terikat. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala heteroskedastisitas karena titik-titik pada scatter plot hasil olahan data antara ZPRED dan SRESID menyebar bebas tanpa membentuk sebuah pola tertentu.
Uji selanjutnya adalah uji multikolinieritas untuk mengukur tingkat keeratan hubungan antar variabel bebas, dilihat dari nilai VIF (Variance Inflation
Factor), jika nilai VIF < 10 (critical point yang telah ditetapkan dalam beberapa
sumber) maka tidak terdapat multikolinieritas pada model tersebut. Pada Lampiran 3, dapat dilihat bahwa nilai output besar VIF hitung < 10 sehingga dapat disimpulkan antar variabel bebas tidak terjadi multikolinieritas. Uji yang terakhir adalah uji autokorelasi, untuk mendeteksi adanya autokorelasi dilakukan dengan melihat nilai uji Durbin-Watson (DW). Dari hasil olah data, ditemukan nilai uji Durbin-Watson sebesar 1.82287, dapat disimpulkan bahwa terdapat gejala autokorelasi positif karena nilainya lebih kecil dari positif dua (DW < +2).
Nilai P-value pada Lampiran 3 memiliki nilai sebesar 0.000 yang lebih kecil dari taraf nyata yaitu sebesar 15 persen (α = 0.15). Hal ini menunjukan bahwa secara keseluruhan peubah-peubah bebas dalam model secara signifikan berpengaruh terhadap pendapatan nelayan rajungan. Untuk menguji variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan rajungan digunakan dengan uji-t. Bedasarkan analisis, dapat diketahui bahwa yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan adalah jumlah hasil tangkapan nelayan (x1), jumlah
trip melaut (x3) dan pengalaman melaut (x4).
6.3.1 Hubungan Jumlah Hasil Tangkapan (X1) terhadap Pendapatan Nelayan
Hasil tangkapan nelayan berpengaruh terhadap pendapatan nelayan. Variabel jumlah hasil tangkapan nelayan mempunyai nilai P sebesar 0.000 yang
artinya variabel ini berpengaruh nyata terhadap model pada taraf nyata α = 0.15 (15%). Bedasarkan model regresi menunjukan bahwa jumlah hasil tangkapan memiliki koefisien positif dengan nilai 5530. Hal ini menunjukan bahwa jika jumlah hasil tangkapan nelayan meningkat 1 kilogram maka diduga akan meningkatkan pendapatan nelayan sebesar Rp 5 530 per tahun dengan asumsi
cateris paribus.
6.3.2 Hubungan Jumlah Awak Kapal (X2) terhadap Pendapatan Nelayan
Secara teori ekonomi faktor tenaga kerja memiliki peran dan pengaruh dalam peningkatan pendapatan usaha. Bedasarkan model regresi menunjukan bahwa jumlah awak kapal memiliki nilai positif sebesar 409647. Hal ini menunjukan bahwa peningkatan jumlah awak kapal sebesar satu orang maka diduga akan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan nelayan sebesar Rp 409 647 per tahunnya dengan asumsi cateris paribus.
6.3.3 Hubungan Jumlah Trip Melaut (X3) terhadap Pendapatan Nelayan
Jumlah trip melaut adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan nelayan. Variabel jumlah trip melaut mempunyai nilai P sebesar 0.000 yang artinya variabel ini berpengaruh nyata terhadap model pada taraf nyata α = 0.15 (15%). Bedasarkan model regresi menunjukan bahwa jumlah trip memiliki nilai positif sebesar 111611. Hal ini menunjukan bahwa peningkatan satu hari jumlah trip melaut diduga akan berpengaruh terhadap kenaikan pendapatan nelayan sebesar Rp 111 611 per tahun dengan asumsi cateris paribus.
6.3.4 Hubungan Pengalaman (X4) terhadap Pendapatan Nelayan
Pengalaman nelayan menjadi faktor penting terhadap pendapatan nelayan. Secara teori semakin lama pengalaman yang dimiliki oleh nelayan maka akan berpengaruh terhadap pendapatan nelayan. Bedasarkan model regresi, pengalaman memiliki nilai P sebesar 0.000 yang artinya variabel ini berpengaruh
nyata terhadap model pada taraf nyata α = 0.15 (15%). Pengalaman memiliki nilai koefisien yang positif sebesar 118871. Hal ini menunjukan bahwa semakin lama pengalaman yang dimiliki oleh nelayan maka diduga akan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan nelayan sebesar Rp 118 871 per tahun dengan asumsi
cateris paribus. Hal ini disebabkan karena nelayan di Kampung Bidara yang
sudah memiliki cukup pengalaman dapat memiliki keahlian dalam operasi penangkapan rajungan. Operasi penangkapan rajungan dipengaruhi oleh perubahan musim dan kondisi alam. Pengalaman yang cukup bagi nelayan akan dapat membantu dalam memprediksi perubahan musim, kondisi alam dan keputusan dalam menuntukan daerah tangkapan.
6.3.5 Hubungan Biaya Melaut (X5) terhadap Pendapatan Nelayan
Dalam teori ekonomi, semakin besar biaya melaut akan berpengaruh dalam menurunkan pendapatan nelayan. Biaya melaut nelayan meliputi biaya konsumsi selama melaut dan biaya bahan bakar. Bedasarkan model regresi, biaya melaut memiliki nilai koefisien sebesar 0.6698. Hal ini menunjukan bahwa jika biaya melaut meningkat sebesar Rp 1.000 diduga akan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan nelayan sebesar Rp 0.6698 per tahun dengan asumsi
cateris paribus. Hal ini disebabkan karena konsumsi nelayan selama melaut di
Kampung Bidara tergantung dari tingkat kekayaan yang dimiliki nelayan, walaupun sebenarnya hal ini tidak berpengaruh secara pasti terhadap pendapatan nelayan.
6.3.6 Hubungan Jumlah Alat Tangkap (X6) terhadap Pendapatan Nelayan
Nelayan rajungan di Kampung Bidara seluruhnya menggunakan satu jaring yaitu jaring rajungan sehingga jumlah alat tangkap yang dimiliki tiap nelayan adalah sama (konstan) sehingga variabel ke enam dalam analisis dihilangkan karena nilainya konstan.
6.3.7 Hubungan Pendapatan Lain (X7) terhadap Pendapatan Nelayan
Pendapatan lain yang dimiliki oleh nelayan akan berpengaruh terhadap tingkat pendapatan nelayan. Nelayan memiliki penghasilan lain untuk dapat memenuhi kebutuhannya apabila tidak sedang pergi untuk melaut atau pada saat musim paceklik rajungan. Bedasarkan model regresi pendapatan lain memiliki nilai yang sebesar 122348, yang menunjukan bahwa apabila nelayan memiliki pendapatan lain diluar menjadi nelayan maka diduga berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan nelayan sebesar Rp 122 348 per tahunnya dengan asumsi
cateris paribus.
6.4 Analisis Kesejahteraan Nelayan
Analisis kesejahteraan nelayan rajungan digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan nelayan untuk memenuhi kebutuhan subsistennya sehari-hari. Analisis kesejahteraan nelayan diukur dengan model NTN (Nilai Tukar Nelayan). Asumsi dalam konsep NTN adalah semua hasil usaha perikanan dipertukarkan dengan hasil non-perikanan. Nilai kesejahteraan rajungan yang di analisis adalah nilai kesejahteraan sebelum dan sesudah diberlakukannya kebijakan Minimum Legal Size dan pelarangan penangkapan rajungan bertelur di Kampung Bidara.
Bedasarkan hasil analisis, NTN nelayan rajungan sebelum diberlakukannya kebijakan adalah sebesar 1.141, sedangkan NTN nelayan rajungan setelah diberlakukannya kebijakan adalah sebesar 0.701. Nilai NTN nelayan menunjukan nilai yang lebih besar dari satu maka berarti penerimaan nelayan saat ini sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup subsistennya. Namun NTN nelayan setelah diberlakukannya kebijakan menunjukan nilai yang berada di bawah satu, ini artinya penerimaan keluarga nelayan belum mampu memenuhi kebutuhan subsisten sehari-hari keluarga nelayan. Dapat dilihat juga nilai NTN nelayan rajungan menurun dengan selisih sebesar 0.440 setelah diberlakukannya kebijakan hal tersebut menunjukan bahwa pemberlakuan kebijakan telah menurunkan kesejahteraan nelayan di Kampung Bidara. Secara lebih jelas nilai
kesejahteraan nelayan di Kampung Bidara sebelum dan setelah kebijakan dapat dilihat pada Lampiran 4 dan Lampiran 5.
6.5 Analisis Kelayakan Usaha Nelayan
Perhitungan analisis kelayakan usaha nelayan rajungan dilakukan untuk mengetahui tingkat kelayakan dari kegiatan usaha penangkapan rajungan yang dilakukan oleh nelayan di Kampung Bidara. Analisis kelayakan usaha yang dilakukan didalam penelitian ini yaitu dengan metode R-C Ratio (Revenue Cost
Ratio). Metode R-C Ratio dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat
keuntungan usaha penangkapan rajungan yang diperoleh dari perhitungan antara penerimaan nelayan dengan total biaya yang dikeluarkan.
6.5.1 Analisis R-C Ratio
Nilai R-C Ratio diperoleh dari perhitungan antara penerimaan nelayan dengan total biaya yang dikeluarkan. Hasil perhitungan yang telah diperoleh menunjukan apakah kegiatan usaha penangkapan rajungan berhasil memberikan keuntungan bagi nelayan atau tidak. Penerimaan nelayan yang diperhitungkan adalah hasil penjualan tangkapan nelayan rajungan dan biaya yang diperhitungkan adalah biaya tetap dan biaya tidak tetap yang dikeluarkan untuk pelaksanaan usaha. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan nelayan untuk biaya penyusutan dan biaya perawatan unit penangkapan seperti perahu, mesin dan alat tangkap. Biaya tidak tetap diperoleh dari biaya operasional usaha seperti biaya bahan bakar dan konsumsi nelayan. Selanjutnya dilakukan juga analisis R-C Ratio (Revenue
Cost Ratio) yang dilakukan untuk mengetahui tingkat keuntungan usaha dari
perbandingan antara penerimaan dan pengeluaran nelayan. Perhitungan rasio imbangan dikatakan menguntungkan apabila hasil R-C ratio > 1, dan dikatakan rugi apabila hasil R-C ratio < 1.
Analisis dilakukan pada usaha penangkapan rajungan Kampung Bidara sebelum dan setelah diberlakukannya kebijakan Minimum Legal Size dan pelarangan penangkapan rajungan bertelur dalam jangka waktu satu tahun. Secara
lebih jelasnya perhitungan analisis pendapatan usaha nelayan rajungan dapat dilihat pada Lampiran 10 dan Lampiran 11. Hasil analisis menunjukan pendapatan bersih nelayan rajungan di kampung Bidara sebelum diterapkannya kebijakan adalah sebesar Rp 17 437 900 per tahun, sedangkan setelah kebijakan adalah sebesar Rp 1 377 500 per tahun. Tingginya selisih pendapatan bersih nelayan rajungan sebelum dan setelah kebijakan dikarenakan rendahnya harga rajungan.
Selanjutnya perhitungan R-C ratio yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat keuntungan usaha penangkapan rajungan sebelum penerapan kebijakan diperoleh sebesar 1.81. Bedasarkan nilai tersebut dapat diketahui bahwa setiap Rp 1.00 yang dikeluarkan oleh nelayan akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 1.81. Perhitungan R-C ratio usaha nelayan rajungan setelah penerapan kebijakan diperoleh nilai sebesar 1.06. Nilai tersebut menunjukan bahwa setiap Rp 1.00 yang dikeluarkan oleh nelayan akan menghasilkan penerimaan nelayan sebesar Rp 1.06. Hal tersebut diakibatkan menurunnya harga rajungan. Hasil analisis pendapatan usaha nelayan rajungan sebelum dan setelah kebijakan dapat dilihat pada Lampiran 6 dan Lampiran 7.