BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan
Segala barang yang diciptakan oleh manusia dengan tujuan untuk menghasilkan barang-barang lain atau jasa-jasa yang akan digunakan
masyarakat termasuk dalam golongan ini. Beberapa contoh dari barang-barang seperti itu adalah irigasi, jalan-jalan, industri-industri dan peralatan-peralatan mereka, berbagai jenis mesin dan sebagainya. Dalam pengertian sehari-hari ada kalanya “modal” diartikan juga sebagai tabungan masyarakat yang dapat digunakan untuk membeli saham-saham perusahaan dan obligasi-obligasi pemerintah atau digunakan untuk spekulasi, atau dipinjamkan kepada orang lain. Dalam analisis ekonomi uang atau “modal” yang dapat digunakan untuk maksud-maksud diatas tidak dianggap sebagai modal, tetapi hanya dipandang sebagai tabungan dan tidak boleh dianggap sebagai faktor produksi (Sukirno, 1981).
Konsep modal adalah salah satu gagasan sentral dalam ilmu ekonomi. Modal dihasilkan oleh sistem ekonomi itu sendiri. Modal menghasilkan jasa dari waktu ke waktu, dan digunakan sebagai input dalam produksi barang dan jasa. Dari sebuah konsep modal seseorang dapat memproduksi barang yang akan di produksi dan disalurkan kepada konsumen untuk mendapatkan laba (Jamal, 2014).
Modal secara umum adalah biaya-biaya yang digunakan untuk proses produksi sehari-hari (Herawati, 2008). Modal adalah salah satu faktor produksi yang digunakan dalam melakukan proses produksi. Produksi dapat ditingkatkan dengan menggunakan alat-alat atau mesin produksi yang efisien. Dalam proses produksi ada perbedaan antara modal
sendiri dengan modal pinjaman yang masing-masing berperan langsung dalam proses produksi. Akumulasi modal terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung dan di investasikan kembali dengan tujuan memperbesar produktivitas dan pendapatan (Sujarno, 2008).
Dalam pengertia ekonomi, modal adalah barang atau uang yang bersama-sama faktor produksi alam dan tenaga kerja menghasilkan barang baru, modal memiliki sifat antara lain: 1) produktif yaitu meningkatkan kapasitas produksi; 2) prospektif yaitu meningkatkan produksi dikemudian hari; dan 3) pertumbuhan modal berhubungan dengan pertumbuhan faktor produksi kerja (Soeharjo dan Pataong 1977/1978 dalam Atmodjo, 1987).
Modal ada dua macam yaitu modal tetap dan moda bergerak. Modal tetap diterjemahkan menjadi biaya produksi melelui deprecition coast dan bunga modal. Modal bergerak langsung menjadi biaya produksi dengan besarnya biaya itu sama dengan nilai modal yang bergerak. Setiap produksi subsektor perikanan dipengaruhi oleh faktor produksi modal kerja, semakin tinggi modal kerja per unit usaha yang digunakan maka diharapkan produksi ikan akan lebih baik, usaha tersebut dinamakan padat modal atau semakin intensif (Sujarno, 2008).
Pendapatan sangat dipengaruhi oleh modal kerja, seperti dalam teori faktor produksi jumlah output/produksi yang artinya berhubungan dengan pendapatan bergantung pada modal kerja. Hal ini berarti dengan adanya
modal kerja maka usaha nelayan dapat melaut untuk menangkap ikan dan kemudian mendapatkan ikan. Makin besar modal kerja maka makin besar pula peluang hasil tangkapan yang diperoleh (Lamia, 2013).
Modal dalam kehidupan nelayan merupakan hal pokok yang harus ada dalam kegiatan melaut. Beberapa modal nelayan yaitu, Sampan, Jaring, Mesin, Solar, keterampilan. Modal tersebut yang menjadi sarana nelayan untuk mencari ikan di laut, dengan modal para nelayan akan dengan mudah menangkap ikan dan memperoleh pendapatan. Modal dalam kegiatan nelayan sangat mutlak dibutuhkan, karena tanpa alat nelayan bukanlah nelayan. Akan tetapi produksi ikan nelayan di tentukan oleh seberapa besar modal yang di gunakan dalam melaut. Dengan modal yang besar para nelayan akan mampu memproduksi hasil ikan tangkapnya. Modal tersebut berupa perlengkapan melaut yang memadai (Jamal, 2014).
Sebagian dari modal yang dimiliki oleh nelayan digunkan sebagai biaya produksi atau biaya operasional dan biaya-biaya lainnya dalam suatu usaha kegiatan nelayan, biaya produksi atau biaya operasional nelayan biasanaya diperoleh dari kelompok nelayan kaya ataupun pemilik modal (toke). Karena adananya hubungan pinjam meminjam uang sebagai modal kerja dimana pada musim panen hasil tangkapan (produksi) ikan nelayan digunakan untuk membayar seluruh pinjaman utang, dan tingkat harga ikan biasanya ditentukan oleh pemilik modal. Peningkatan dalam modal kerja
akan mempengaruhi peningkatan jumlah tangkapan ikan/ produksi sehingga akan meningkatkan pendapatan. Modal kerja adalah modal yang digunakan nelayan untuk melaut, misalnya bahan bakar minyak, makanan, rokok, upah tenaga kerja, peralatan penangkapan ikan (umpan) (Sujarno, 2008).
b.Tenaga Kerja
Menurut Sukirno (1981) tenaga kerja bukan saja berarti jumlah penduduk yang dapat digunakan dalam proses produksi tetapi juga termasuk kemahiran-kemahiran yang mereka miliki. Oleh sebab itu tenaga kerja bukan saja diartikan sebagai besarnya tenaga jasmani yang dapat digunakan untuk proses produksi, tetapi juga meliputi kemampuan tenaga kerja yang ada untuk berfikir dan bekerja. Melihat kepada kesunggupan mereka untuk bekerja dan berfikir, tenaga kerja yang ada dalam masyarakat dapat dibedakan dalam tiga golongan yaitu:
1.Tenaga kerja tidak terdidik yaitu tenaga kerja yang tidak mempunyai pendidikan sehingga daya kerjanya terutama harus berasal dari tenaga jasmaninya, yang termasuk dalam golongan ini adalah petani, pekerja toko, penarik kaca dan tenaga kerja lain yang semacam itu.
2.Tenaga kerja terlatih yaitu tenaga kerja yang telah memperoleh sedikit pendidikan dan pelatihan dalam bidang-bidang pekerjaan tertentu, yang termasuk dalam golongan ini adalah tukang kayu, tukang besi, tukang elektris dan sebagainya.
3.Tenaga kerja terdidik yaitu golongan tenaga kerja yang sangat tinggi pendidikannya, yang termasuk golongan ini adalah guru, dosen, pilot, berbagai jenis tenaga teknik dan sebagainya.
Banyaknya tenaga kerja yang aktif bekerja pada kegiatan penangkapan tergantung dari jumlah anggota keluarga dan juga dipengaruhi oleh komposisi umur dan jenis kelamin keluarga (Atmodjo, 1987).
Aset utama para nelayan, khususnya nelayan tradisional hanya tenaga kerja dan keterampilan, serta kreatifitas yang relaitif masih rendah. Meskipun pekerjaan sebagai nelayan cepat mendatangkan hasil, tetapi seringkali penghasilan itu tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka. Nelayan mempunyai peranan yang sangat substansial dalam modernisasi kehidupan manusia. Mereka termasuk agent of development yang saling reaktif terhadap perubahan lingkungan. Sifat yang lebih terbuka dibanding kelompok masyarakat yang hidup di pedalaman, yang menjadi stimulator untuk menerima perkembangan modern (Prakoso, 2013). Pendapatan sangat dipengaruhi oleh tenaga kerja. Sebagaiamana kita ketahui bahwa dalam teori faktor produksi jumlah output/produksi yang nantinya berhubungan dengan pendapatan bergantung pada jumlah tenaga kerja (Lamia, 2013).
Masyhuri (1998) dalam Heryansyah (2013) mengatakan bahwa banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan harus disesuaikan dengan kapasitas kapal yang dioperasikan sehingga akan mengurangi biaya melaut (efisien) yang diharapkan pendapatan tenaga kerja akan lebih meningkat karena
penambahan tenaga kerja proporsional. c. Pendidikan
Dalam kegiatan ekstraktif seperti perikanan rakyat, keterampilan dan pengetahuan juga memegang peranan penting. Keterampilan seorang pengusaha dalam mengelola dan mengkombinasikan faktor-faktor produksi yang ada padanya akan menetukan besarnya pendapatan yang diperoleh (Atmodjo, 1987). Pendidikan ada yang bersifat formal dan tidak formal. Pendidikan formal dilakukan melalui proses yang teratur, sistematis dan dilakukan oleh lembaga yang khusus didirikan untuk itu. Pendidikan tidak formal diperoleh lewat pengalaman dan belajar sendiri. Semestinya tingkat pendidikan formal yang lebih tinggi memberi peluang bagi si anak didik untuk memperoleh tingkat pendapatan yang lebih tinggi (Tarigan, 2006).
Pendidikan diyakini sangat berpengaruh terhadap kecakapan, tingkah laku dan sikap seseorang, dan hal ini semestinya terkait dengan tingkat pandapatan seseorang. Artinya secara rata-rata makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin memungkinkan orang tersebut memperoleh pendapatan yang lebih tinggi (Tarigan, 2006).
d.Pengalaman
Dalam rangka penempatan seorang tenaga kerja perlu mempertimbangkan beberapa faktor yang mungkin dapat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan. Salah satu faktor yang perlu
dipertimbangkan adalah pengalaman kerja. Berdasarkan pengertian yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengalaman merupakan segala sesuatu yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung dsb), sedangkan kerja merupakan kegiatan melakukan sesuatu. Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa pengalaman kerja merupakan kegiatan melakukan segala sesuatu yang pernah dialami oleh seseorang (Chintya, 2015).
Secara teoritis dalam buku tentang ekonomi, tidak ada yang membahas pengalaman merupakan fungsi dari dari pendapatan atau keuntungan, namun dalam kegiatan penangkapan ikan (produksi) dalam hal ini dengan semakin berpengalamannnya nelayan maka akan meningkatkan pendapatan (Sujarno, 2008). Umur nelayan dapat mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan, hal tersebut didukung dengan kurangnya pengalaman melaut nelayan muda sehingga berkurangnya hasil tangkapan dan juga jumlah pendapatannya rendah. Dengan pengalaman yang memadai seorang nelayan akan dengan mudah mendapatkan hasil tangkapannya karena seorang nelayan yang berpengalaman dapat mengetahui dimana tempat ikan berkumpul dan menangkapnya dengan kemampuanya (Jamal, 2014).
e. Jarak Melaut
Jarak tempuh yang semakin jauh akan mempunyai lebih banyak kemungkinan untuk memperoleh hasil tangkapan (produksi) yang lebih
banya dan tentu memberikan pendapatan yang lebih besar dibandingkan pendapatan dekat pantai (Masyhuri, 1999 dalam Sujarno, 2008).
f. Lama melaut
Selain faktor modal dan lama usaha, tingkat pendapatan pedagang juga ditentukan oleh lamanya waktu operasi atau jam kerja. Jam kerja merupakan lama waktu yang digunakan untuk menjalankan usaha, yang dimulai sejak persiapan sampai usaha tutup (Firdaus, 2012).
Masa kerja dihitung dari pertama kali tenaga kerja masuk kerja sampai dengan saat penerlitian dilakukan yang diukur dalam satuan tahun. Dalam undang-undang juga di ataur tentang lamanya jam kerja. Jam Kerja adalah waktu untuk melakukan pekerjaan, dapat dilaksanakan siang hari dan/atau malam hari. Jam Kerja bagi para pekerja di sektor swasta diatur dalam Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya pasal 77 sampai dengan pasal 85. Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan jam kerja ini telah diatur dalam 2 sistem seperti yang telas disebutkan diatas yaitu: 7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu; atau . 8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu (Jamal, 2014).
Untuk nelayan jam kerjanya dihitung mulai dari berangkat melaut hingga pulang melaut, banyak waktu yang dihabiskan oleh nelayan untuk
melaut setiap orang berbeda-beda tergantung dari nelayan itu sendiri.