BAB II KAJIAN PUSTAKA
G. Sistem Pengolahan Air Limbah Pada Umumnya
I. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Penerapan
Terdapat 5 aspek yang menjadi kajian dalam penerapan pengolahan air limbah domestik, antara lain Sosial dan Lingkungan (Malisie, 2008, dalam Hanan, 2014). Namun sejalan dengan pembangunan berkelanjutan yang terdiri dari tiga pilar maka dalam kontek sanitasi berkelanjutan, faktor ekonomi juga dapat dikaji sebagai salah satu pilar dalam pembangunan berkelanjutan. Faktor sosial, lingkungan dan ekonomi digali dari hasil penelitian yang ada sebelumnya dan juga dapat diambil dari pemikiran masyarakat.
1. Faktor Sosial
Menurut Melisie, dalam Hanan (2014), pada kajian sosial dapat dikaji tiga faktor yaitupersepsi masyarakat, akseptansi dan kesediaan membayar masyarakat.
14 a. Persepsi Masyarakat
Pengertian persepsi menurut Kartono dan Gulo, dalam Adrianto (2006), adalah pengetahuan lingkungan yang diperoleh melalui interpretasi data indera.
Proses Persepsi didahului dengan penginderaan. Sedangkan Penginderaan adalah proses diterimanya stimulus melalui alat indera. Stimulus yang diterima diteruskan oleh syaraf ke otak melalui pusat susunan syaraf dan selanjutnya terjadi proses persepsi. Proses persepsi sesuatu yang diindera menjadi sesuatu yang berarti setelah diorganisasikan dan diinterpretasikan. Melalui persepsi, individu dapat menyadari dan mengerti tentang keadaan dirinya. Oleh karena Persepsi merupakan aktivitas yang integrated, maka seluruh yang ada pada diri individu yakni perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka acuan dan aspek-aspek lain yang ada dalam diri individu masyarakat akan ikut berperan dalam persepsi tersebut (Walgito, dalam Adrianto, 2006).
Faktor internal yang berpengaruh pada persepsi adalah perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, motivasi dan kerangka acuan. Sedangkan faktor eksternal adalah stimulus itu sendiri dan keadaan lingkungan dimana persepsi itu berlangsung.
Kejelasan stimulus akan banyak berpengaruh pada persepsi. Bila stimulus itu berwujud benda-benda bukan manusia, maka ketepatan persepsi lebih terletak pada individu yang mengadakan persepsi karena benda-benda yang dipersepsi tersebut tidak ada usaha untuk mempengaruhi yang mempersepsi. Dengan demikian maka persepsi itu sekalipun stimulusnya sama tetapi karena pengalaman tidak sama, kemampuan berpikir tidak sama, kerangka acuan tidak sama, kemungkinan hasil persepsi antara individu dengan individu yang lain tidak sama. (Adrianto, 2006).
15 Persepsi tentang pengolahan air limbah domestik dari penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa masyarakat masih kurang faham tentang pemanfaatan urin dan tinja sebagai pupuk dan gas. Masyarakat kurang menerima sistem tersebut juga karena faktor agama, budaya sehingga masyarakat merasa ragu untuk penerapannya.
(Hanan, 2014) b. Akseptansi
Akseptansi bermakna menyetujui suatu gagasan, opini atau penjelasan melalui proses adaptasi individu atau golongan dalam komunitas. Proses adaptasi disebut juga sebagai teori difusi, yaitu proses adopsi untuk memperoleh akseptansi dari individu suatu kelompok sosial. Akseptansi terhadap gagasan atau inovasi baru pada individu atau kelompok sangat bergantung pada beberapa tahapan, yaitu pengetahuan, minat, keputusan, implementasi dan konfirmasi. Dari tahapan-tahapan tersebut akan terlihat apakah gagasan atau inovasi baru dapat diterima atau sebaliknya ditolak oleh komunitas tersebut (Couros, 2003 dalam Hanan, 2014).
Dalam hal penerapan pengolahan air limbah domestik, akseptansi sangat tergantung pada pengetahuan dan persepsi masyarakat. Dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh WSP tahun 2010 menunjukkan bahwa akseptansi yang dirasakan masyarakat lebih erat kaitannya dengan manfaat yang ditimbulkan akibat penerapan sistem sanitasi tersebut (WSP, 2010, dalam Hanan, 2014).
c. Kesediaan Membayar
Penduduk pada suatu kawasan mempunyai tingkat sosial-ekonomi yang berbeda, sehingga akan sangat terkait dengan kemampuan membayar retribusi air limbah, dan hal ini akan sangat mempengaruhi dan berdampak secara teknis terhadap konsep sanitasi yang akan diterapkan. Bila tingkat kesadaran pada masyarakat
16 kurang mampu merasa perlu dan pentingnya sanitasi dan lingkungan bagi kesehatan, tentu akan mendorong mereka membentuk sistem sanitasi skala lingkungan. Maka untuk membangun kesadaran ini sangat diperlukan dorongan motivasi bagi masyarakat karena kesediaan untuk membayar sangat penting dalam penerapan sistem pengelolaan air limbah berbasis masyarakat.
Kesediaan membayar pada pengolahan air limbah domestik adalah kesediaan masyarakat untuk memberikan iuran akibat pelayanan pengolahan air limbah yang diterima masyarakat. Iuran tersebut akibat jasa operasional dari pengolahan air limbah domestik.
2. Faktor Lingkungan
Dalam kajian lingkungan terdapat beberapa faktor yang dapat dikaji, antara lain adalah:
a. Pencegahan Pencemaran
Pencemaran lingkungan khususnya polusi air tanah sedapat mungkin dihindari atau dicegah sehingga sumber air yang digunakan masyarakat aman dari bakteri. Masyarakat yang menggunakan Sumur dangkal sebagai sumber air sehari-hari dapat tercemar karena permeabilitas tanah yang rendah sehingga terjadi resapan dari saluran pembuangan air limbah yang tidak aman. Pembuangan air limbah dalam lingkungan permukiman seperti greywater atau efluent yang tidak ditangani secara baik berpotensi terhadap pencemaran akifer dangkal yang menjadi sumber air bagi pemanfaatan sumur dangkal (Pamekas, 2013).
17 b. Pencegahan Penyakit
Pencegahan pencemaran khususnya sumber air merupakan Faktor yang berpengaruh terhadap meningkatnya angka kesehatan dan harapan hidup masyarakat.
Jika pencemaran air dapat dicegah atau dikurangi, akan berdampak positif terhadap kesehatan manusia, demikian sebaliknya. Telaah empiris menunjukkan bahwa penurunan 10% fasilitas pelayanan sanitasi, dapat meningkatkan kasus kematian balita sebanyak 20 kasus per 1000 kelahiran (Nomura, 1997 dalam Pamekas, 2013).
Sistem pengolahan berkelanjutan diharapkan mengurangi pencemaran terhadap ekifer air dangkal karena sanitasi ini konsepnya memisahkan antara urin dan tinja, tidak mencampur air/urin dengan tinja dalam tangki septik. Sistem pengolahan seperti ini akan mereduksi pencemar 70 - 90 persen sehingga mengurangi potensi pencemaran air (Darwati, 2007).
3. Faktor Ekonomi
Dalam kajian ekonomi dapat digali dari beberapa faktor, antara lain adalah dua faktor di bawah ini:
a. Produk yang dihasilkan
Aspek ini digali dari hasil penelitian yang ada sebelumnya dan juga dapat diambil dari pemikiran masyarakat tentang kegunaan dan manfaat pengolahan air limbah berkelanjutan ini jika diterapkan. Defenisi dari kegunaan atau manfaat suatu kegiatan atau proyek adalah adanya keuntungan yang dapat diperoleh setelah proyek tersebut selesai atau diterapkan. Demikian halnya dengan pengolahan air limbah berkelanjutan ini dimana air limbah berupa urin dan tinja serta air greywater diolah menjadi pupuk dan biogas sehingga bermanfaat bagi pertanian dan rumah tangga.
18 Hasil produksi suatu proyek atau kegiatan dapat dijual atau dinikmati (Bachrawi, Sanusi. 2000, dalam Nugroho, Rifai. 2012).
b. Konsep Pengolahan
Pengolahan air limbah domestik berkelanjutan bernilai ekonomis karena konsepnya yang memisahkan urin dan tinja serta air buangan dari dapur dan cuci lainnya dan selanjutnya diolah untuk dimanfaatkan kembali sebagai pupuk dan biogas, (Darwati, 2007). Dengan pengolahan berkelanjutan diharapkan pencemaran terhadap ekifer air dapat diminimalisir sehingga biaya untuk kebutuhan air yang aman bagi rumah tangga semakin hemat, (Selintung, 2014).