BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menerapkan
2. Faktor-Faktor Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Penerapan
21 Dari data di atas diketahui mayoritas responden menggunakan air bersih dari PDAM sehingga masyarakat kurang merasakan dampak dari pencemaran air sumur dangkal seperti penyakit kulit atau diare. Kondisi air sumur dangkal tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.23 di bawah ini:
Gambar 4.23 Sumber Air Sumur Dangkal Yang Dapat Tercemar
22 Gambar 4.24. Responden Dengan Pengetahuan Tentang Pengolahan
Air Limbah Domestik Berkelanjutan
Dari data di atas diketahui mayoritas responden belum pernah mendengar atau tahu mengenai pengolahan air limbah domestik berkelanjutan.
Faktor Sosial yang telah disurvey mengenai pengetahuan responden tentang pengolahan urin menjadi pupuk adalah, responden yang tidak tahu sebanyak 78%. Responden yang menjawab kurang tahu karena ragu-ragu pernah dengar atau tidak tentang hal tersebut sebanyak 15%.
Responden yang pernah mendengar dan tahu sebanyak 6% dan sisanya responden yang menjawab sangat tahu karena pernah terlibat dalam sosialisasi dan semacamnya sebanyak 1%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.25 di bawah ini:
Gambar 4.25. Responden Dengan Pengetahuan Urin Menjadi Pupuk
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Tahu Kurang tahu Tidak tahu
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Sangat Tahu Tahu Kurang tahu Tidak tahu
77%
16%
7%
78%
6%
1%
15%
23 Dari data di atas diketahui mayoritas responden tidak tahu mengenai pengolahan urin menjadi pupuk. Yang tahu hanya enam persen karena pernah mendengar informasi lewat media elektronik dan hanya satu persen yang pernah melihat sosialisasi tentang hal tersebut.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai pengetahuan responden tentang pengolahan tinja menjadi pupuk, mayoritas responden yang tidak tahu sebanyak 75%. Responden yang menjawab kurang tahu karena ragu-ragu pernah dengar atau tidak sebanyak 14%. Responden yang pernah mendengar dan tahu sebanyak 11%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.26 di bawah ini:
Gambar 4.26. Responden Menurut Pengetahuan Tentang Pengolahan Tinja Menjadi Pupuk
Dari data di atas diketahui mayoritas responden tidak tahu mengenai pengolahan tinja menjadi pupuk. Yang tahu hanya sebelas persen karena pernah mendengar informasi lewat media elektronik.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai pengetahuan responden tentang pengolahan tinja menjadi biogas, responden yang tidak tahu sebanyak 78%. Responden yang menjawab kurang tahu karena ragu-ragu pernah dengar atau tidak sebanyak 14%.
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80%
Tahu Kurang tahu
Tidak tahu 75%
11%
14%
24 Responden yang pernah mendengar dan tahu sebanyak 8%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.27 di bawah ini:
Gambar 4. 27. Karakteristik Responden Menurut Pengetahuan Tentang Pengolahan Tinja Menjadi Biogas
Dari data di atas diketahui mayoritas responden tidak tahu mengenai pengolahan tinja menjadi pupuk. Yang tahu hanya sebelas persen karena pernah mendengar informasi lewat media elektronik.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai pengetahuan responden tentang pengolahan air dari dapur dan kegiatan mencuci selain urin/tinja (Greywater) untuk digunakan kembali, responden yang tidak tahu sebanyak 71%. Responden yang menjawab kurang tahu karena ragu-ragu pernah dengar atau tidak sebanyak 23%. Responden yang pernah mendengar dan tahu sebanyak 6%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.28 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Tahu Kurang tahu
Tidak tahu 78%
8%
14%
25 Gambar 4.28. Responden Menurut Pengetahuan Pemanfaatan Air Dari Dapur/mencuci Setelah Pengolahan
Dari data di atas diketahui mayoritas responden tidak tahu mengenai pengolahan Greywater dapat digunakan kembali. Yang tahu enam persen karena pernah mendengar informasi lewat media elektronik.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai persepsi responden tentang pentingnya pengolahan air limbah domestik berkelanjutan, responden yang menjawab penting diterapkan sebanyak 70%. Responden yang menjawab sangat penting diterapkan sebanyak 6%, dan yang menjawab kurang penting karena ragu-ragu sebanyak 12%.
Sisanya menjawab tidak penting karena tidak tahu sebanyak 12%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.29 di bawah ini:
Gambar 4.29. Responden Dengan Persepsi Pentingnya Pengolahan Air Limbah Berkelanjutan
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80%
Tahu Kurang tahu Tidak tahu
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80%
Tidak Penting Kurang Penting Penting Sangat Penting
71%
6%
23%
70%
12%
12%
6%
26 Dari data di atas diketahui mayoritas responden memandang penting akan pengolahan air limbah domestik berkelanjutan. Alasannya karena lebih banyak yang membutuhkan sarana sanitasi. Oleh karena sangat membutuhkan sarana sanitasi sehingga responden memandang penting akan pengolahan air limbah domestik berkelanjutan.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai persepsi responden tentang skala penerapan pengolahan air limbah domestik berkelanjutan, responden menjawab cocok diterapkan dalam skala komunal sebanyak 62%, alasannya supaya lebih banyak yang menggunakan sarana sanitasi. Responden yang menjawab sangat cocok diterapkan dalam skala individual sebanyak 17%, alasannya supaya lebih terjaga kebersihan sarana sanitasi. Responden yang menjawab cocok diterapkan dalam skala terpusat sebanyak 1%, alasannya tidak ada lahan, sementara responden yang tidak ada pendapat karena tidak tahu sebanyak 20%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.30 di bawah ini:
Gambar 4.30. Responden Menurut Persepsi Skala Penerapan Pengolahan Air Limbah Berkelanjutan
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80%
Tidak ada pendapat Terpusat Komunal Individual
62%
20%
1%
17%
27 Dari data di atas diketahui mayoritas persepsi responden tentang pengolahan air limbah domestik berkelanjutan cocok diterapkan dalam skala komunal. Alasannya supaya lebih banyak yang menggunakan sarana sanitasi. Modul A pada sistem komunal cocok untuk kondisi permukiman di Lingkungan Jeneponto dan Lingkungan Tamarunang, yaitu membangun beberapa unit tangki septik komunal yang masing-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah sesuai Juklak DAK SLBM, 2010.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai persepsi responden tentang pengelola pengolahan air limbah domestik berkelanjutan, responden menjawab swakelola bersama jika diterapkan sebanyak 32%, alasannya supaya lebih mudah dengan tanggung jawab bersama. Responden yang menjawab dikelola pemerintah sebanyak 28%, alasannya pemerintah lebih tahu dan paham sanitasi ini. Responden yang menjawab sebaiknya dikelola swasta sebanyak 3% dengan alasan swasta mesti dilibatkan untuk membantu pemerintah, sementara responden yang tidak ada pendapat karena tidak tahu sebanyak 37%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.31 di bawah ini:
Gambar 4.31. Responden Menurut Persepsi Pihak Yang Mengelola
0% 10% 20% 30% 40% 50%
Tidak ada pendapat Swakelola bersama Swasta Pemerintah
32%
37%
3%
28%
28 Dari data di atas diketahui mayoritas responden tidak tahu siapa yang dapat mengelola dalam penerapan pengolahan air limbah domestik berkelanjutan. Namun banyak juga pendapat responden yang menginginkan swakelola bersama supaya lebih mudah dikelola dengan tanggung jawab bersama.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai persepsi responden tentang pengolahan air limbah domestik berkelanjutan apakah menjadi program tersendiri atau digabung dengan program lain, sebanyak 55% responden menjawab menjadi program tersendiri jika diterapkan, alasannya supaya lebih diperhatikan dari program yang lain.
Responden yang menjawab digabung dengan program lain sebanyak 45%
responden, alasannya untuk lebih memudahkan penerapannya. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.32 di bawah ini:
Gambar 4.32. Responden Menurut Persepsi Program Tersendiri Atau Digabung Dengan Program Lain
Dari data di atas diketahui mayoritas persepsi responden menginginkan pengolahan air limbah domestik berkelanjutan menjadi program tersendiri jika diterapkan, supaya lebih diperhatikan dari program yang lain.
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
Program tersendiri
Digabung Program Lain 45%
55%
29 Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai akseptansi responden terhadap penggunaan urin dan tinja sebagai pupuk, responden menjawab setuju sebanyak 56% responden, agar supaya dibuatkan sarana sanitasi. Responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 11%, alasannya agar dapat dirasakan manfaatnya dan paham sanitasi ini. Responden yang menjawab kurang setuju sebanyak 19%
dengan alasan kurang mengetahui sanitasi ini, sementara responden yang tidak setuju karena tidak tahu dan merasa jijik atau tidak nyaman sebanyak 14% responden. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.33 di bawah ini:
Gambar 4.33. Responden Menurut Akseptansi Penggunaan Urin Dan Tinja Sebagai Pupuk
Dari data di atas diketahui mayoritas responden setuju dengan pengolahan air limbah domestik berkelanjutan jika diterapkan, supaya dapat dibangun infrastrukturnya sehingga masyarakat memahami sanitasi ini dan manfaatnya dirasakan.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai akseptansi responden terhadap penggunaan tinja sebagai biogas, responden
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
Tidak setuju Kurang setuju Setuju Sangat setuju
56%
14%
11%
19%
30 menjawab setuju sebanyak 67%, alasannya supaya dibuatkan sarana sanitasi. Responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 5%, alasannya asalkan dirasakan manfaatnya dan aman. Responden yang menjawab kurang setuju sebanyak 18% dengan alasan kurang mengetahui sanitasi ini, sementara responden yang tidak setuju karena merasa tidak nyaman sebanyak 10%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.34 di bawah ini:
Gambar 4.34. Responden Menurut Akseptansi Penggunaan Tinja Sebagai Biogas
Dari data di atas diketahui mayoritas responden setuju dengan penggunaan tinja sebagai Biogas, dengan alasan aman digunakan sehingga bermanfaat bagi masyarakat.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai akseptansi responden terhadap pemanfaatan air hasil pengolahan dari kegiatan dapur dan mencuci lainnya (Greywater), mayoritas responden menjawab setuju sebanyak 71%, alasannya supaya dibuatkan sarana sanitasi. Responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 4%, alasannya asalkan dirasakan manfaatnya dan sehat digunakan. Responden yang
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
Tidak setuju Kurang setuju Setuju Sangat setuju
67%
10%
5%
18%
31 menjawab kurang setuju sebanyak 14% dengan alasan kurang mengetahui sanitasi ini, sementara responden yang tidak setuju karena merasa tidak nyaman sebanyak 11%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.35 di bawah ini:
Gambar 4.35. Responden Menurut Akseptansi Pemanfaatan Air Dari Dapur dan Mencuci (Greywater)
Dari data di atas diketahui mayoritas responden setuju dengan penggunaan kembali air hasil pengolahan dari kegiatan mencuci baik di dapur maupun semacamnya, yang penting aman digunakan dan bermanfaat bagi masyarakat.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai kesediaan responden terhadap penggunaan instrumen sanitasi ini, responden menjawab bersedia menggunakan sebanyak 66%, alasannya bersedia dengan instrumen yang aman digunakan. Responden yang menjawab sangat bersedia sebanyak 2%, alasannya asalkan dirasakan manfaatnya dan aman digunakan. Responden yang menjawab kurang bersedia sebanyak 17% dengan alasan kurang mengetahui sanitasi ini, sementara responden yang tidak bersedia karena merasa tidak nyaman
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80%
Tidak setuju Kurang setuju Setuju Sangat setuju
71%
11%
4%
14%
32 sebanyak 15%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.36 di bawah ini:
Gambar 4.36. Responden Menurut Akseptansi Penggunaan Instrumen Pengolahan Air Limbah Domestik Berkelanjutan
Dari data di atas diketahui mayoritas responden setuju dengan penggunaan instrumen sanitasi ini dengan alasan harus aman digunakan dan bermanfaat bagi masyarakat.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai kesediaan responden terhadap instrumen sanitasi ini jika dipasang dalam rumah, responden menjawab bersedia sebanyak 64%, alasannya untuk dapat digunakan sanitasi ini dan tidak membahayakan penghuni rumah.
Responden yang menjawab sangat bersedia sebanyak 1%, alasannya asalkan dirasakan manfaatnya dan aman digunakan. Responden yang menjawab kurang bersedia sebanyak 24% dengan alasan kurang mengetahui sanitasi ini, sementara responden yang tidak bersedia karena merasa tidak nyaman sebanyak 11%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.37 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80%
Tidak bersedia Kurang bersedia Bersedia Sangat bersedia
66%
15%
2%
17%
33 Gambar 4.37. Responden Menurut Akseptansi Penggunaan Instrumen
Sanitasi Dalam Rumah Warga
Dari data di atas diketahui mayoritas responden setuju dengan penggunaan instrumen sanitasi ini dalam rumah yang penting mudah digunakan dan tidak membahayakan penghuni rumah.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai kesediaan responden terhadap penggunaan instrumen sanitasi ini dilingkungan sekitar, responden menjawab setuju sebanyak 74%, alasannya untuk dapat digunakan sanitasi ini dan tidak membahayakan penghuni rumah. Responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 1%, alasannya asalkan dirasakan manfaatnya dan aman digunakan. Responden yang menjawab kurang setuju sebanyak 18% dengan alasan kurang mengetahui sanitasi ini, sementara responden yang tidak setuju karena merasa tidak nyaman sebanyak 7%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.38 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
Tidak bersedia Kurang bersedia Bersedia Sangat bersedia
64%
11%
1%
24%
34 Gambar 4.38. Responden Menurut Akseptansi Penggunaan Instrumen
Sanitasi Di Lingkungan Sekitar
Dari data di atas diketahui mayoritas responden setuju dengan penggunaan instrumen sanitasi ini di lingkungan sekitar yang penting mudah digunakan dan aman bagi lingkungan sekitar.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai kesediaan responden membayar iuran operasioanal, responden menjawab bersedia membayar sebanyak 51%, alasannya supaya dapat membantu operasional sarana sanitasi. Responden yang menjawab sangat bersedia sebanyak 3%, alasannya asalkan dirasakan manfaatnya dan aman digunakan. Responden yang menjawab kurang bersedia sebanyak 24%
dengan alasan kurang mengetahui sanitasi ini, sementara responden yang tidak bersedia karena merasa tidak nyaman sebanyak 22%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.39 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80%
Tidak setuju Kurang setuju Setuju Sangat setuju
74%
7%
1%
18%
35 Gambar 4.39. Responden Bersedia Membayar Iuran Operasional
Pengolahan Air Limbah Domestik Berkelanjutan
Dari data di atas diketahui mayoritas responden bersedia membayar iuran dalam pemanfaatan sanitasi ini jika diterapkan untuk memudahkan operasional dan pemeliharaan.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai kesediaan responden membayar iuran dengan besaran rupiah, responden bersedia membayar dengan besaran Rp10.000,- sampai dengan Rp25.000.000,- sebanyak 37%, Responden yang bersedia membayar dengan besaran < Rp10.000,- sebanyak 27% dan responden yang tidak bersedia membayar karena merasa terbebani dan belum tahu akan penerapannya sebanyak 36%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.40 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60%
Tidak bersedia Kurang bersedia Bersedia Sangat bersedia
51%
22%
3%
24%
36 Gambar 4.40. Responden Bersedia Membayar Sesuai Kemampuan
Dari data di atas diketahui mayoritas responden bersedia membayar iuran sampai Rp25.000.000,- dan responden yang tidak bersedia membayar iuran hampir sama jumlahnya dengan yang bersedia membayar.
Masih banyak responden yang merasa terbebani dengan iuran tersebut sehingga enggan untuk membayar.
b. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang telah disurvey di Kelurahan Pabiringa mengenai pendapat responden setelah ditanyakan pengolahan air limbah berkelanjutan dapat maksimal mengolah air limbah domestik atau tidak, responden menjawab “ya” sebanyak 78% dengan alasan dapat maksimal karena konsep sanitasi ini mengolah air limbah secara berkelanjutan.
Responden yang menjawab tidak dapat maksimal sebanyak 22%, alasannya karena belum pernah melihat dan menggunakan sanitasi ini.
Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.41 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50%
Tidak bersedia membayar
< Rp10.000,-Rp10.000,- sd
Rp25.000.000,-27%
37%
36%
37 Gambar 4.41. Responden Dengan Opini Pengolahan Berkelanjutan
Dapat Maksimal Mengolah Air Limbah
Dari data di atas diketahui mayoritas responden berpendapat sanitasi ini dapat maksimal mengolah air limbah jika diterapkan sesuai dengan konsepnya yang berkelanjutan dan dikelola dengan baik.
Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan di Kelurahan Pabiringa mengenai pendapat responden setelah ditanyakan penggunaan urin dan tinja sebagai pupuk dapat digunakan di lahan pertanian atau tidak, responden menjawab “ya” dapat digunakan sebanyak 84% dengan alasan apabila pupuk itu bagus dan cocok di lahan pertanian karena mengandung unsur pupuk dan mengurangi pemakaian pupuk organik, bermanfaat bagi masyarakat untuk pengolahan urin dan tinja berkelanjutan. Responden yang menjawab tidak dapat digunakan sebanyak 16%, alasannya karena belum pernah melihat dan menggunakan pupuk dari hasil pengolahan urin
dan tinja tersebut. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.42 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Ya Tidak
78%
22%
38 Gambar 4.42. Responden Dengan Opini Pemanfaatan Urin dan Tinja
Sebagai Pupuk
Dari data di atas diketahui mayoritas responden berpendapat bahwa pupuk hasil olahan urin dan tinja dapat digunakan di lahan pertanian apabila berkualitas seperti pupuk yang digunakan kebanyakan petani.
Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan di Kelurahan Pabiringa mengenai pendapat responden setelah ditanyakan pengolahan urin dan tinja secara berkelanjutan dapat melindugi sumber daya lingkungan atau tidak, responden menjawab “ya” dapat melindugi sumber daya lingkungan sebanyak 84% dengan alasan apabila sarana sanitasinya digunakan dengan baik. Responden yang menjawab sanitasi ini tidak dapat melindugi sumber daya lingkungan sebanyak 16%, alasannya sesuai kenyataan karena belum pernah melihat dan menggunakan sarana sanitasi berkelanjutan tersebut. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.43 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Ya Tidak
84%
16%
39 Gambar 4.43. Responden Dengan Opini Pengolahan Urin Dan Tinja
Secara Berkelanjutan Melindugi Lingkungan
Dari data di atas diketahui mayoritas responden berpendapat sanitasi ini dapat melindugi sumber daya lingkungan jika diterapkan apabila sarana sanitasinya digunakan dengan baik sesuai konsepnya sehingga mengurangi air limbah ke lingkungan.
Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan di Kelurahan Pabiringa mengenai pendapat responden setelah ditanyakan pengolahan urin dan tinja secara berkelanjutan dapat mengurangi pencemaran sumur dangkal atau tidak, responden menjawab “ya” dapat mengurangi pencemaran sebanyak 84% dengan alasan apabila sarana sanitasinya baik sesuai manfaat yang diharapkan akan mengurangi air limbah ke lingkungan. Responden yang menjawab tidak dapat mengurangi pencemaran sebanyak 16%, alasannya juga realistis karena belum pernah melihat dan menggunakan sarana sanitasi berkelanjutan tersebut. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.44 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Ya Tidak
84%
16%
40 Gambar 4.44. Responden Dengan Opini Pengolahan Berkelanjutan
Mengurangi Pencemaran Sumur Dangkal
Dari data di atas diketahui mayoritas responden berpendapat sanitasi ini dapat mengurangi pencemaran sumur dangkal jika diterapkan apabila sarana sanitasinya bermanfaat sesuai yang diharapkan sehingga mengurangi air limbah ke lingkungan.
c. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi yang telah disurvey di Kelurahan Pabiringa mengenai pendapat responden setelah ditanyakan pengolahan air limbah berkelanjutan apakah mengurangi pencemaran air sehingga mengurangi biaya pengolahan air bersih, responden menjawab “ya” mengurangi biaya sebanyak 80% dengan alasan apabila sarana sanitasi ini baik akan bermanfaat mengurangi pencemaran air. Responden yang menjawab tidak, sebanyak 1% karena belum pernah melihat dan menggunakan sanitasi ini.
Responden yang menjawab kurang tahu sebanyak 13% dengan alasan kurang mengetahui sanitasi ini, sementara responden yang tidak tahu karena belum mendengar atau melihat manfaat sanitasi ini sebanyak 6%
responden. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.45 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Ya Tidak
84%
16%
41 Gambar 4.45. Responden Dengan Opini Pengolahan Berkelanjutan
Mengurangi Biaya Pengolahan Air Bersih
Dari data di atas diketahui mayoritas responden berpendapat bahwa pengolahan air limbah domestik berkelanjutan dapat mengurangi biaya pengolahan air bersih jika diterapkan karena dengan pengolahan berkelanjutan menjadi pupuk dan biogas akan mengurangi air limbah masuk ke lingkungan seperti air sebagai sumber daya untuk diolah menjadi air bersih.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai pendapat responden setelah dijelaskan jenis sanitasi ini yang mengurangi pemakaian air untuk membilas dan mengalirkan kotoran kemudian ditanyakan hubungannya dengan biaya untuk pemakaian air, responden yang menjawab “ya” mengurangi biaya sebanyak 77% karena penafsirannya sanitasi ini dapat menghemat air. Responden yang menjawab “tidak” mengurangi biaya sebanyak 2% karena sanitasi ini belum digunakan. Responden yang menjawab kurang tahu sebanyak 15%
karena ragu dengan sanitasi ini, sementara responden yang tidak tahu karena belum pernah mendengar sanitasi ini sebanyak 6%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.46 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Tidak Tahu Kurang Tahu Tidak
Ya 80%
1%
13%
6%
42 Gambar 4.46. Responden Dengan Opini Pengolahan Berkelanjutan
Mengurangi Pemakaian Air Bersih
Dari data di atas diketahui mayoritas responden berpendapat bahwa konsep dari pengolahan air limbah domestik berkelanjutan dapat mengurangi biaya pemakaian air, jika diterapkan sesuai dengan konsepnya. Adapun responden lain berpendapat lebih realistis karena memang belum menggunakan sanitasi tersebut.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai pendapat responden setelah ditanyakan pupuk dan biogas hasil pengolahan air limbah domestik dapat digunakan/dijual atau tidak, responden menjawab “ya” dapat digunakan dan dijual sebanyak 71%. Responden yang menjawab “tidak” sebanyak 4%, alasannya belum tahu cara menampung gas atau dikemas jika ingin dijual dan kemana pemasarannya.
Responden yang menjawab kurang tahu sebanyak 18% dengan alasan kurang mengetahui pupuk dan biogas dari sanitasi ini baik atau tidak, sementara responden yang tidak tahu karena belum pernah mendengar manfaat pupuk dan biogas dari sanitasi ini sebanyak 7%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar 4.47 di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Tidak Tahu Kurang Tahu Tidak
Ya 77%
2%
15%
6%
43 Gambar 4.47. Responden Dengan Opini Pupuk Dan Biogas
Dapat Digunakan/Dijual
Dari data di atas diketahui mayoritas responden berpendapat bahwa Pupuk dan Biogas yang dihasilkan dari pengolahan air limbah domestik dapat dimanfaatkan atau dijual dengan alasan aman digunakan dan mudah dijual.
Berdasarkan hasil survey di Kelurahan Pabiringa mengenai pendapat responden setelah ditanyakan pupuk dan biogas hasil pengolahan air limbah domestik dapat menambah penghasilan atau tidak, responden menjawab “ya” menambah penghasilan sebanyak 88% dengan alasan produk bernilai jual dan ada pesanan/pasarnya. Responden yang menjawab
“tidak” menambah penghasilan sebanyak 1%, alasannya belum tahu cara menampung gas atau dikemas jika ingin dijual dan kemana pemasarannya.
Responden yang menjawab kurang tahu sebanyak 8% dengan alasan kurang mengetahui siapa yang berminat memakai pupuk dan biogas dari sanitasi ini dan masih ada rasa jijik dan tidak nyaman, sementara responden yang tidak tahu karena belum pernah mendengar manfaat
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80%
Tidak Tahu Kurang Tahu Tidak
Ya 71%
4%
18%
7%
44 pupuk dan biogas dari sanitasi ini sebanyak 3%. Data tersebut dapat di lihat dalam Gambar4.48 di bawah ini:
Gambar 4.48. Responden Dengan Opini Pupuk Dan Biogas Dapat Menambah Penghasilan
Dari data di atas diketahui mayoritas responden berpendapat bahwa Pupuk dan Biogas yang dihasilkan dari pengolahan air limbah domestik dapat menambah pengahasilan jika produk bernilai jual dan ada pesanan/pasarnya. Dengan demikian, Pupuk dan Biogas dapat bernilai ekonomis.