• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok

Dikemukan oleh Hansen (dalam Nasution, 2007) tentang faktor- faktor yang mempengaruhi kebiasaan merokok:

1. Faktor biologis; banyak penelitian menunjukan bahwa nikotin yang terdapat dalam rokok merupakan salah satu bahan kimia yang berperan penting dalam menyebabkan efek ketergantungan merokok. Pendapat ini sesuai dengan yang dikemukan oleh Aditama tahun 1997 bahwa nikotin dalam darah perokok menyebabkan seseorang menjadi memiliki kecenderungan untuk terus menerus merokok.

2. Faktor psikologis; salah satu efek positif dari nikotin adalah dapatmeningkatkan konsentrasi, menghalau rasa kantuk mengakrabkan suasana bahkan dapat menimbulkan kesan modern dan berwibawa sehingga membuat rokok merupakan perilaku kunci dalam bergaul dengan orang lain.

3. Faktor lingkungan sosial; lingkungan sosial akan mempengaruhi sikap, kepercayaan dan perhatian individu kepada perokok, jika lingkungan sosialnya tidak bermasalah dengan perilaku merokok, maka akanmempengaruhi individu tersebut untuk merokok.

4. Faktor demografis; faktor ini meliput karakteristik dasar individu yang mendukung individu untuk merokok seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, dan lainnya.

5. Faktor sosial budaya; kebiasaan budaya, etnik tertentu, tingkat pendidikan, agama serta pekerjaan seseorang akan mempengaruhi perilaku merokoknya.

6. Faktor sosial politik; kebijakan dan upaya baik berupa peningkatan harga rokok, pelarangan iklan hingga kampanye dari individu maupun institusi untuk mencegah seseorang dari merokok akan mempengaruhi seseorang untuk merokok atau tidak.

2.7 TeoriBehavioral Model Andersen

Salah satu model demand untuk pelayanan kesehatan yang paling terkenal ialah teori Behavioral Model Andersen. Menurut teori ini, keputusan seseorang untuk menggunakan pelayanan kesehatan tergantung pada rangkaian atau kondisi dari tiga komponen, yaitu: predisposing, enabling, dan need seperti yang terlihat dalam gambar 2.1 (Alan L. Sorkin, 1983)

18

Predisposing Enabling Illness Level (Need) Health Service Use

Gambar 2.1 TeoriBehavioral Model Andersen

Komponen predisposing mencakup variabel- variabel yang menjelaskan faktor- faktor individual yang secara tidak langsung berhubungan dengan penggunaan pelayanan kesehatan dan tidak dianggap sebagai alasan khusus untuk menggunakan pelayanan kesehatan.Faktor- faktor yang terdapat di dalamnya yaitu variabel demografi, struktur sosial, dan kepercayaan kesehatan.Usia, jenis kelamin, dan status perkawinan adalah contoh-contoh variabel demografi yang

Perceived:

sangat dekat hubungannya dengan penggunaan pelayanan kesehatan. Struktur sosial dibagi dalam beberapa variabel seperti pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal yang kemungkinan mempengaruhi lingkungan fisik dan sosial seseorang.kepercayaan tentang suatu penyakit dan pengobatan medis dapat dianggap sebagai kondisi predisposing (pengaruh) karena kepercayaan akan kesehatan sangat mempengaruhi perilaku pengobatan.

Komponen enabling yaitu variabel- variabel yang memungkinkan seseorang untuk mencari pelayanan kesehatan.Kondisi enabling (pendorong) dapat diperkirakan dari latarbelakang keluarga seperti pendapatan, perlindungan asuransi, dan pelayanan kesehatan rutin dan oleh sumber daya masyarakat terkait dengan keseluruhan pasokan layanan kesehatan.

Dengan adanya kedua kondisi yaitu faktor predisposing dan enabling, penggunaan pelayanan kesehatan seseorang juga bergantung pada kebutuhan pengobatan. Komponen kebutuhan ini dapat dipisahkan ke dalam perceived need yang diperhitungkan dari laporan keadaan kesehatan pribadi atau lama sakit dan evaluated need yang diperkirakan dari diagnose klinis. Dengan taksiran-taksiran empiris dari model Andersen, variabel need (kebutuhan) secara umum adalah alasan terkuat dalam penggunaan pelayanan.

2.7.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Demand Te rhadap Pelayanan Kesehatan

Menurut Fuch (1998), Dunlop dan Zubkoff (1981) faktor- faktor yang

20

ekonomi seperti tarif, ada tidaknya system asuransi, dan penghasilan, variabel-variabel demografis dan organisasi. Disamping faktor-faktor tersebut, terdapat faktor lain misalnya, pengiklanan, pengaruh jumlah dokter, fasilitas pelayanan kesehatan, dan pengaruh inflasi. Faktor- faktor ini saling terkait satu sama lain secara kompleks (Trisnantoro, 2004).

Untuk mendukung hubungan tersebut dapat beroperasi secara efisien, menurut Artells (1981) diperlukan tiga kelompok informasi yaitu:

1. Pengetahuan dasar mengenai masalah- masalah medis, yaitu suatu bentuk informasi yang pada dasarnya pasien tidak harus memilikinya. Informasi ini menyangkut pengetahuan khusus untuk melakukan penilaian status kesehatan dan mengidentifikasikan perawatan apa saja yang tersedia.

2. Keterangan tentang keadaan pasien, Yang meliputi pengetahuan tentang symptom pasien, sejarah kesehatan dan keadaan lingkungan paisen sehingga memungkinkan dokter untuk menerapkan ilmu kedokterannya terhadap kasus yang saat ini tengah dia temui pada pasiennya. Juga yang termasuk dalam informasi ini adalah posisi keuangan pasien dan sumber keuangan lainnya yang dia miliki.

3. Informasi tentang penilaian pasien sendiri mengenai penyakit yang tengah dideritanya. Pada penilaian ini termasuk di dalamnya preferensi pasien atas berbagai alternative perawatan yang tersedia, sikapnya dalam menghadapi risiko dan penilaiannya atas kemungkinan trade-off dari beraneka dimensi keadaan sehat, seperti kalau ingin sembuh dari suatu penyakit maka sebagai imbalannya harus rela mengorbankan cara makan atau gaya hidup buruk

lainnya sampai harus rela mengorbankan kenikmatan saat ini kalau ingin tetap sehat kemudian hari.

Dalam hal ini, Klinik Berhenti Merokok adalah sebuah need (kebutuhan) yang menjadi jalan keluar ketika seorang perokok merasakan wants (keinginan) akan keadaan sehat yang lebih baik dari kondisinya yang sekarang dan demand (permintaan) akan perilaku mencari pengobatan atau bantuan dokter.

2.8 Klinik Berhenti Merokok

Menteri Kesehatan dalam Permenkes No. 39 tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga memutuskan dalam Upaya Pengendalian Penyakit Tidak Menular agar dilakukan kegiatan penyuluhan tentang dampak buruk rokok dan penyelenggaraan layanan upaya berhenti merokok (Permenkes No. 39 tahun 2016).

Klinik Berhenti Merokok merupakan upaya untuk menolong perokok yang ingin berhenti merokok.Klinik Berhenti Merokok merupakan pelayanan yang tidak dipungut biaya dan dapat ditempatkan di Puskesmas, klinik swasta, dan rumah sakit. Pembiayaan Klinik Berhenti Merokok dapat dibebankan pada APBD atau sumber lain pendapatan daerah yang sah. Pendanaan klinik berhenti merokok dapat berupa kerja sama kemitraan dengan pihak swasta melalui corporate social responsibility (CSR) sepanjang bukan kerja sama dengan industri rokok (Susilo, dkk., 2016).

Jenis pelayanan yang didapatkan oleh masyarakat di Klinik Berhenti

22

bahaya rokok, pemeriksaan smoke analizer, atau alat pendeteksi kadar CO dan nikotin dalam napas, serta dapat berkonsultasi dalam upaya berhenti merokok.

2.9 Upaya Pengendalian Tembakau di Indonesia 2.9.1 Undang-Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009

Dalam Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 telah mengatur mengenai produksi, peredaran dan penggunaan, produk yang mengandung tembakau baik padat, cair dan gas yang bersifat adiktif. Bahkan dalam Undang-undang ini telah menyebutkan beberapa ruang publik yang dijadikan sebagai KTR (Kawasan Tanpa Rokok) yakni fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses ajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja dan tempat tempat umum yang telah di tetapkan. Undang-Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 di dalam pasal 114 menetapkan bahwa setiap orang yang memproduksi rokok wajib mencantumkan peringatan kesehatan, dalam pasal 115 menetapkan 7 kawasan tanpa rokok, pasal 199 menetapkan setiap orang yang memproduksi dan memasukkan rokok ke wilayah NKRI dengan tidak mencantumkan peringatan berbentuk gambar akan dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak 50 juta rupiah.

2.9.2 Peraturan Pe merintah No. 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Te mbakau Bagi Kesehatan

Sebagai turunan dari UU kesehatan No. 36 tahun 2009 tersebut diterbitkanlah Peraturan Pemerintah No. 109 tahun 2012 yang berisi regulasi produksi dan peredaran produk tembakau. Peraturan pemerintah ini bertujuan

untuk meningkatkan perlindungan terhadap masyarakat mengenai produk atau bahan yang mengandung zat adiktif berupa tembakau bagi kesehatan. Hal- hal yang diatur dalam PP tersebut antara lain dalam produksi tembakau, setiap produsen berkewajiban melakukan pengujian kadar nikotin dan tar kecuali untuk produk klobot, klembak, menyan, cerutu dan tembakau iris selama teknologi belum memungkinkan. Dilarang menggunakan bahan tambahan lain kecuali yang telah dapat dibuktikan tidak berbahaya bagi kesehatan serta terdapat pembatasan jumlah minimal batang per bungkus yakni paling sedikit 20 batang bagi rokok putih mesin, diluar jenis itu terdapat ketentuan yang berbeda.

Dalam pasal 14 ayat 1 sampai dengan 3 ditetapka n bahwa setiap orang yang memproduksi Produk Tembakau ke wilayah Indonesia harus mencantumkan peringatan kesehatan berupa gambar dan tulisan yang memiliki satu makna dan tercetak menjadi satu dengan kemasan tembakau. Kemudian di dalam pasal 17 ayat 4 bagian a menetapkan bahwa pencantuman peringatan ditempatkan di bagian atas kemasan seluas 40% dan pada pasal 27 ayat 1 bagian a menetapkan pencantuman peringatan kesehatan pada iklan adalah dalam bentuk gambar dan tulisan paling sedikit 10% dari durasi iklan dan 15% dari luas iklan.

Beberapa informasi yang wajib dicantumkan dalam bungkus rokok bilamana produk tersebut akan diedarkan antara lain:

a) Kadar tar dan nikotin

b) Pernyataan bahwa “tidak ada batas aman” dalam merokok

24

d) Dilarang menjual atau memberi rokok kepada anak berumur dibawah 18 tahun dan perempuan hamil

e) Kode produksi, tanggal-bulan-tahun, nama dan alamat produsen

Dalam PP ini juga melarang menjual rokok dengan mesin layan diri (vending machine) dan mencantumkan kata “Light”, “Ultra Light” “Mild” “Low Tar” dan kata-kata lain yang mengindikasikan kualitas, superioritas, rasa aman, pencitraan dan lain sebagainya. Selain itu, dalam setiap peredaran produk tembakau berkewajiban mencantumkan peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan seluas 40% pada kemasan depan dan belakang. Ketentuan ini tidak berlaku bagi rokok klobot, klembak menyan, dan cerutu batangan.

Upaya pemerintah untuk dapat melindungi anak dan remaja dari upaya agresif adalah dengan membuat kebijakan terhadap industri tembakau. Salah satu upaya pengendalian tembakau dalam media iklan berdasarkan PP no. 102 tahun 2012 adalah sebagai berikut:

1. Iklan dalam media cetak tidak boleh di sampul/halaman depan, berdekatan dengan iklan makanan/minuman, tidak se- halaman penuh, tidak pada media cetak bagi anak, remaja dan perempuan.

2. Iklan di media penyiaran iklan di TV maupun radio hanya boleh ditayangkan pukul 21.30 s/d 05.00, yang merupakan waktu istirahat bagi anak-anak dan remaja.

3. Iklan di media teknologi informasi harus menerapkan verifikasi umur 18+ untuk membatasi akses, contohnya iklan pada laman-laman internet.

4. Iklan di media luar ruang tidak di KTR, tidak di jalan utama atau protokol, harus sejajar 35 dengan bahu jalan, maksimal 72 m2.

Mengenai informasi kesehatan dalam bungkus rokok, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Permenkes No. 28 tahun 2013 yang mengatur mengenai mekanisme dan persyaratan dalam pencantuman peringatan kesehatan dan infomasi kesehatan dalam produk tembakau, dimana didalamnya terdapat gambar yang akan dicantumkan dalam kemasan produk tembakau.

2.9.3 Perme nkes No. 28 Tahun 2013 tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2013 tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau menetapkan di dalam pasal 1 ayat 2 bahwa peringatan kesehatan dalam bentuk gambar dan tulisan yang memberikan infoermasi mengenai bahaya merokok.

Kemudian di dalam pasal 3 ayat 4 menyatakan bahwa gambar dan tulisan peringatan kesehatan harus mempunyai satu makna yang tercetak menjadi satu sengan kemasan produk tembakau dan bukan merupakan stiker yang d itempelkan pada kemasan.

Hal lainnya yang telah dilakukan Indonesia dalam upaya pengendalian tembakau adalah dengan diterbitkannya Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri No. 188/MENKES/PB/I/2011 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kawasan Tanpa

26

dalam menetapkan KTR, memberikan perlindungan yang efektif dari bahaya asap rokok, memberikan ruang dan lingkungan yang bersih da n sehat bagi masyarakat, dan melindungi kesehatan secara umum dari dampak buruk merokok baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun ruang lingkup KTR yang ditetapkan dalam peraturan bersama ini sesuai dengan yang diatur oleh UU No. 36 Tahun 2009 antara lain fasilitas pelayanan kesehatan, tempat belajar mengajar, tempat ibadah, tempat bermain anak, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan.

2.10 Implementasi FCTC

FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) adalah sebuah kerangka konvensi pengendalian tembakau atau treaty adalah traktat dunia untuk mengendalikan tembakau yang dirancang oleh WHO yang memiliki kekuatan mengikat secara hukum. Naskah ini dirancang tahun 1995 dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Intergovermental Negotiating Body (INB) di Geneva dilatarbelakangi oleh bukti-bukti bahwa tembakau merupakan zat

adiktif dan

kandungannya baik yang terkandung dalam tembakau maupun asapnya menyebabkan gangguan kesehatan bahkan kematian prematur. Naskah ini mendapat masukan dari negara-negara di dunia, dan secara resmi dibuka ratifikasi dan tanda tangan pada Juni 2003 dan Juni 2004.

Konvensi FCTC ini baru ditandatangani oleh 169 negara. Ketentuan menurut World Health Assembly traktat akan berlaku secara otomatis di semua negara dalam 5 tahun apabila sudah ditandatangani oleh 40 negara dan sejak 27

Februari 2005 traktat ini sudah mulai berlaku menjadi Hukum Internasional.

Indonesia walaupun ikut terlibat aktif dalam menyusun rancangan FCTC baik dalam pertemuan-pertemuan internasional maupun pertemuan regional antara negara anggota WHO di kawasan Asia Tenggara.Namun Indonesia satu-satunya negara di Asia Pasifik yang belum atau tidak meratifikasi dan menandatangani traktat ini. Berdasarkan ketentuan tetap saja Indonesia harus melaksanakan traktat pada tahun 2010.Padahal seluruh masyarakat global sepakat bahwa butir-butir dalam FCTC merupakan upaya perlindungan kesehatan masyarakat yang merupakan hak azasi manusia yang bersifat universal. Tujuan dari FCTC adalah melindungi generasi saat ini dan yang akan datang dari perusakan kesehatan, sosial, lingkungan dan ekonomi yang diakibatkan oleh konsumsi tembakau atau rokok dan paparan asap rokok, yang diterapkan pada semua institusi/bagian/negara pada tingkat nasional regiona l dan internasional untuk terus menerus dan substansial mengurangi prevalensi penggunaan tembakau dan prevalensi paparan asap rokok, FCTC ini terdiri dari 21 bagian dengan 38 pasal ditambah 2 lampiran, dimana didalamnya tercantum pokok-pokok kebijakan serta protokol pengendalian tembakau yang mencakup:

1. Menaikan harga dan pajak rokok (pasal 6)

2. Perlindungan terhadap paparan asap rokok (pasal 8) 3. Pembungkusan dan label produk rokok (pasal 11)

4. Edukasi, komunikasi dan pelatihan untuk kesadaran publik (pasal 12)

28

6. Tindakan pengurangan terhadap ketergantungan rokok dan pengobatan ketergantungan rokok (pasal 14)

7. Tindakan untuk mengurangi suplai rokok atau tembakau (pasal 15 – 17), termasuk pelarangan penjualan oleh dan kepada anak anak

8. Perlindungan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia (pasal 18) 2.11 MPOWER

Strategi MPOWER dan Penerapannya di Indonesia Guna memperluas perlawanan terhadap epidemi tembakau, World Health Organization menyarankan 6 langkah pengendalian tembakau dan kematian yang disebut dengan strategi MPOWER.

1. Monitor penggunaan tembakau dan pencegahannya

Monitor penggunaan tembakau dan dampak yang ditimbulkan harus diperkuat untuk kepentingan perumusan kebijakan. Saat ini 2/3 negara berkembang di seluruh dunia tidak memiliki data dasar penggunaan tembakau pada anak muda dan orang dewasa.Hampir 2/3 perokok tinggal di 10 negara dan Indonesia menduduki posisi ketiga (WHO, 2008).Saat ini Indonesia telah memiliki data dasar penggunaan tembakau untuk remaja dan dewasa secara berkala dalam beberapa survei berbasis masyarakat (SKRT, RISKESDAS, GATS, GYTS, GSPS, dan GSHP) sejak tahun 1995.Survei nasional ini mengalami peningkatan metodologi sehingga bisa dibandingkan secara nasional maupuninternasional.

2. Perlindungan terhadap asap tembakau

Asap rokok tidak hanya berbahaya bagi orang yang menghisap rokok tetapi juga orang di sekitarnya (perokok pasif). Lebih dari separuh negara di dunia, dengan populasi mendekati 2/3 penduduk dunia, masih membolehkan merokok di kantor pemerintah, tempat kerja dan di dalam gedung.

Perlindungan terhadap asap tembakau hanya efektif apabila diterapkan Kawasan Tanpa Rokok 100%. Sampai saat ini, sudah ada tiga provinsi dan 12 kabupaten atau kota yang memiliki Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok.

Pelaksanaan lebih menekankan pada penegakan hukum (law enforcement).Sebanyak 15 kabupaten/kota sudah memiliki Peraturan Walikota/Bupati dan Peraturan Gubernur. Kabupaten dan kota pada tahap ini masih perlu memperjuangkan Peraturan Daerah melalui DPRD setempat.

3. Optimalkan dukungan untuk berhenti merokok

Tiga dari 4 perokok di seluruh dunia menyatakan ingin berhenti merokok namun bantuan komprehensif yang tersedia baru dapat menjangkau 5%

nya. Bantuan yang dapat diberikan adalah: 1) Pelayanan konsultasi bantuan berhenti merokok yang terintegrasi di pelayanan kesehatan primer; 2) Quitline:

Telepon layanan bantuan berhenti merokok yang mudah diakses dan cuma-cuma;

3) Terapi obat yang murah dengan pengawasan dokter. Pada tahun 2012, ada tiga provinsi yang sedang dalam uji coba untuk pelayanan konseling berhenti merokok di tingkat Puskesmas, yaitu DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Sejak tahun 2007, pada tingkat pelayanan sekunder dan tersier (BP4

30

FKUNDIP Semarang, RS Persahabatan Jakarta, RS Sahid Suherman Jakarta, dan beberapa klinik yang tersebar di kabupaten/ kota di Indonesia .

4. Waspadakan masyarakat akan bahaya tembakau

Walaupun sebagian besar perokok tahu bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, namun kebanyakan dari mereka tidak tahu apa bahayanya.

Karena itulah, pesan kesehatan wajib dicantumkan dalam bentuk gambar.

Sebagian besar perokok tahu bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, namun kebanyakan dari mereka tidak tahu apa bahayanya. Karena itulah, pesan kesehatan wajib dicantumkan dalam bentuk gambar. Sesuai Amanat UU Kesehatan No.

36 Tahun 2009 Pasal 115 sudah terdapat Peraturan Pemerintah (PP) No. 102 tahun 2012 yang mengatur peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok.

5. Eliminasi iklan, promosi dan sponsor terkait tembakau

Pemasaran tembakau memiliki peranan besar dalam meningkatkan gangguan kesehatan dan kematian karena tembakau.Larangan terhadap promosi produk tembakau adalah senjata yang ampuh untuk memerangi tembakau.Sepuluh tahun sejak inisiasi larangan iklan rokok dijalankan, konsumsi rokok di negaradengan larangan iklan turun 9 kali lipat dibandingkan dengan negara tanpa larangan iklan.

6. Raih kenaikan cukai tembakau

Dengan menaikkan cukai tembakau, harga rokok menjadi lebih mahal. Hal ini merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan pemakaian tembakau dan mendorong perokok untuk berhenti. Strategi MPOWER harus dilaksanakan secara keseluruhan untuk mencapai hasil yang

efektif.Dengan menaikkan cukai tembakau, harga rokok menjadi lebih mahal. Hal ini merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan pemakaian tembakau dan mendorong perokok untuk berhenti. Sejak tahun 2007, Indonesia secara bertahap sudah meningkatkan cukai rokok, dari 42% harga eceran menjadi 51% pada tahun 2012. Diharapkan peningkatan cukai tetap berlangsungsehingga dapat menurunkan konsumsi rokok.

2.12 Kerangka Pikir

Gambar 2.2 Kerangka Pikir

Berdasarkan gambar 2.2di atas, dapat dirumuskan definisi sebagai berikut:

1. Masukan (input) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan K linik Berhenti Merokok agar dapat berjalan dengan baik, meliputi: Teori, Kebijakan, Tenaga Kesehatan, dan Sarana dan Prasarana.

a. TeoriBehavioral Model Andersen yaitu teori yang menjelaskan hubungan Output

32

b. Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Peraturan dan undang-undang yang berkaitan dan mendukung Klinik Berhenti Merokok ini, yaitu Permenkes Nomor 39 tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dan Instruksi Presiden No. 1 tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, Presiden Joko Widodo menginstruksikan Menteri Kesehatan untuk melaksanakan kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat serta meningkatkan advokasi dan pembinaan daerah dalam pelaksanaan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

c. Tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan berfokus pada Klinik Berhenti Merokok.

d. Sarana, prasarana, dan peralatan yang termasuk di dalamnya yaitu: obat, peralatan pemeriksaan, peralatan kebersihan, dan perlengkapan pemeriksaan yang mendukung.

2. Proses (process) adalah langkah- langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, yaitu menggali informasi bagaimana kebutuhan masyarakat pada Klinik Berhenti Merokok di wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan Medan.

3. Keluaran (output) hasil yang hendak dicapai, yaitu bagaimana kebutuhan masyarakat pada Klinik Berhenti Merokok di wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan Medan.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata tertulis dan lisan dari orang-orang yang akan diamati (Bogdan dan Taylor dalam Moeloeng, 2000).

Penelitian ini dipilih untuk mengetahui kebutuhan masyarakat pada Klinik Berhenti Merokok di wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan Medan.

3.2 Lokasi Penelitian

Wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan Kota Medan, Sumatera Utara.

3.3 Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Desembertahun 2017.

3.4 Informan Penelitian

Informan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan. Informan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang belum maupun sudah mengetahui adanya Peraturan Daerah Tentang Kawasan Tanpa Rokok No. 4 Tahun 2014 dan program Klinik Berhenti Merokok, mampu mengemukakan pendapat secara baik dan benar, serta bersedia memberikan masukan yang berkaitan dengan topik penelitian yaitu kebutuhan masyarakat pada Klinik Berhenti Merokok di wilayah kerja Puskesmas Padang

34

3.5 Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup data primer, yang dikumpulkan melalui metode proporsional random sampling.Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara (interview) dengan informan secara acak yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan dengan berpedoman pada panduan wawancara yang telah dipersiapkan.Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

3.6 Definisi Operasional

1. Kebutuhan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan.

2. Masyarakat adalah sekelompok orang yang membuat sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut.

3. Klinik Berhenti Merokok adalah program pemerintah yang didirikan untuk memberikan konseling dan konsultasi serta pemeriksaan jantung dan

3. Klinik Berhenti Merokok adalah program pemerintah yang didirikan untuk memberikan konseling dan konsultasi serta pemeriksaan jantung dan

Dokumen terkait