BAB II: KAJIAN PUSTAKA
B. Siswa Sebagai Remaja
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Perkembangan emosi seseorang pada umumnya tampak jelas pada perubahan tingkah lakunya. Perkembangan emosi remaja juga demikian halnya. Kualitas atau fluktuasi gejala yang tampak dalam tingkah laku itu sangat tergantung pada tingkat fluktuasi emosi yang ada pada individu tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita lihat beberapa tingkah laku emosional, misalnya agresif, rasa takut yang berlebihan, sikap apatis, dan tingkah laku menyakiti diri, seperti melukai diri sendiri dan memukul-mukul kepala sendiri.
King (2010: 104-110) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi emosi antara lain, faktor kognitif, faktor perilaku, dan faktor sosio-kultural.
Teori-teori kognitif yang menjelaskan emosi menekankan pada premis bahwa emosi selalu memiliki komponen kognitif. berpikir juga disebut tanggung jawab pada perasaan cinta dan benci, kegembiraan dan sedih. Dalam teori dua faktor emosi (two-factor theory of emotion) yang dikembangkan oleh Schachter dan Singer (1962), emosi ditentukan oleh dua faktor: rangsangan fisiologis dan pemberian label kognitif (Laura A. King, 2010: 104).
b. Faktor Perilaku
King menyampaikan bahwa komponen perilaku dapat saja berbentuk verbal ataupun nonverbal (Laura A. King, 2010: 106). Pengungkapan cinta dinyatakan dengan kata-kata yang baik sedangkan ekspresi marah diungakapkan dengan kata-kata yang buruk. Perilaku emosi selain ditunjukkan dengan verbal juga dengan nonverbal dari ekspresi wajah, emosi ditunjukkan dengan menampilkan ekspresi seperti, tersenyum, menaikkan alis, dan mengernyitkan dahi.
Ekspresi wajah tidak hanya menunjukkan emosi tetapi juga mampu mempengaruhi. Menurut hipotesis umpan balik wajah (facial feedback hypothesis), ekspresi wajah dapat mempengaruhi emosi seperti juga dapat merefleksikan emosinya (Laura A. King, 2010: 107). Otot-otot wajah mengirimkan sinyal ke otak yang membantu individu untuk mengenali
emosi yang tengah dirasakan. Sebagai contoh, kita merasa bahagia ketika kita tersenyum dan merasa lebih sedih ketika kita mengernyitkan dahi. c. Faktor Sosio-kultural
Penelitian mendalam telah melihat universalitas ekspresi wajah dan kemampuan orang-orang dari beragam budaya untuk memberi label emosi dengan tepat yang mendasari suatu ekspresi wajah tertentu (Laura A. King, 2010: 108). Bentuk ekspresi atau tampilan wajah dari satu budaya ke budaya lainnya tidak memiliki perbedaan secara signifikan. Ekspresi wajah dari emosi-emosi dasar memiliki universalitas tetapi aturan-aturan untuk menunjukkan emosi tertentu bervariasi. Aturan menampilkan emosi (display rules) adalah standar-standar sosio-kultural yang menentukan kapan, dimana, dan bagaimana emosi-emosi ditampilkan. Contohnya, walau bahagia adalah emosi yang diekspresikan secara universal, kapan, dimana dan bagaimana perasaan ini ditampilkan mungkin bervariasi dari satu budaya ke budaya yang lain.
d. Faktor Perkembangan Otak Remaja
Feldman (2009; 16-19), menyampaikan bahwa otak remaja merupakan sesuatu yang terus berkembang. Perubahan dramatis pada struktur otak yang berkaitan dengan emosi, penilaian, organisasi perilaku dan kontrol diri berlangsung antara masa pubertas dan dewasa awal, serta menjadi penjelas kecenderungan remaja untuk mengalami ledakan emosi dan melakukan perilaku beresiko atau bahkan kejam.
Dua perubahan besar dalam pararel otak remaja yang terjadi sebelum kelahiran dan selama masa bayi : pertumbuhan dan seleksi gray matter (substansi abu-abu). Lonjakan kedua dari produksi gray matter-neuron, akson, dan dendrit-dimulai sebelum pubertas dan berhubungan dengan meningkatnya produksi hormon seks di masa ini. Lonjakan pertumbuhan terjadi di lobus frontalis, yang menjalankan perencanaan, penalaran, penilaian, regulasi emosi, dan kontrol impuls. Setelah lonjakan pertumbuhan, koneksi yang tidak digunakan diputus, dan yang tetap ada dikuatkan. Seperti seleksi yang terjadi diawal kehidupan, proses ini menjadikan otak lebih efisien.
Pola perkembangan gray matter bertolak belakang dengan pola white matter (substansi putih), jaringan saraf yang menghubungkan bagian-bagian yang jauh pada otak. Koneksi ini menebal dan memielinasi di awal masa kanak-kanak, dimulai dengan lobus frontalis dan bergerak menuju bagian belakan otak. Antara usia 6 dan 13 tahun, pertumbuhan mencolok terjadi pada koneksi antara lobus temporal dengan lobus parietal, yang mengatur fungsi sensorik, bahasa, dan pemahaman akan keruangan. Pertumbuhan white matter kemudian menurun tajam sekitar akhir masa kritis untuk proses belajar bahasa. White matter tumbuh dari bagian depan ke belakang, sementara gray matter tumbuh sebaliknya, lobus frontalis tidak matang secara penuh sampai dewasa awal. Mielinasi pada gray matter yang terus berlangsung di lobus frontalis membantu kematangan proses kognitif.
Remaja memproses informasi mengenai emosi secara berbeda dibandingkan dengan orang dewasa. Dalam satu bidang penelitian, para peneliti memindai aktivitas otak remaja saat mereka mengidentifikasi emosi dalam gambar wajah pada layar komputer. Remaja awal (usia 11 sampai 13 tahun) cenderung menggunakan amigdala, bagian otak dalam lobus temporal yang kecil dan berbentuk seperti kacang almond, yang berperan besar dalam reaksi emosional dan instingual. Remaja yang lebih matang, seperti orang dewasa, cenderung menggunakan lobus frontalis, yang memungkinkan penilaian yang lebih akurat dan beralasan. Maka, pada remaja awal, perkembangan otak yang belum matang dapat membuat perasaan atau emosi mengalahkan akal sehat. Inilah alasan yang memungkinkan remaja untuk membuat pilihan yang tidak bijaksana, seperti penyalahgunaan alkohol atau narkoba dan melakukan aktivitas seksual beresiko. Sebagai tambahan, sistem kortikal frontal yang belum berkembang, yang terkait dengan motivasi, impulsivitas, dan ketergantungan terhadap zat dapat membantu menjelaskan dorongan remaja akan kesenangan, dan mencoba berbagai hal baru juga dapat menjelaskan mengapa banyak remaja sulit untuk berfokus pada tujuan jangka panjang. Ketidakmatangan otak dapat membuat beberapa remaja mengabaikan peringatan logis dan penuh bujukan bagi orang dewasa.
Otak remaja yang masih dalam tahap perkembangan, memungkinkan mereka dapat berusaha untuk mengendalikan perkembangan tersebut. Remaja yang ”melatih” otak mereka dengan belajar untuk mengatur pikiran mereka, memahami
konsep abstrak, dan mengendalikan dorongan, telah membangun dasar saraf yang dapat membantu kehidupan mereka seumur hidup.
Ada tiga kesimpulan mengenai perkembangan otak remaja yakni, Remaja memiliki kapasitas pengambilan keputusan yang masih berkembang, remaja terutama rentan terhadap situasi yang menekan, misalnya tekanan kelompok sebaya; dan karakter atau kepribadian mereka belum berkembang sempurna (Feldman, 2009).
a) kekurangan dalam kapasitas pengambilan keputusan
Bahkan jika remaja dapat melakukan penalaran logis (dan banyak yang tidak dapat melakukannya), mereka tidak selalu menggunakannya dalam membuat keputusan. Hal ini terbukti dalam situasi yang sangat emosional. Remaja rentan untuk melakukan perilaku berresiko; entah karena keterbatasan kognitif atau keterbatasan pengalaman hidup, kurang memikirkan konsekuensi hipotesis di masa depan dan lebih memikirkan keuntungan segera. Remaja juga lebih impulsif dibandingkan orang dewasa, serta lebih sulit dalam mengelola suasana hati dan perilaku mereka.
Beberapa perbedaan yang secara umum telah diketahui antara pengambilan keputusan remaja dan orang dewasa tampaknya memiliki dasar neurologis. Bagian dari otak yang berhubungan dengan perencanaan jangka panjang, pengelolaan emosi, kontrol impuls, serta penilaian resiko dan keuntungan masih berkembang selama masa remaja. Perubahan dalam sistem limbik saat pubertas serta membuat remaja tertantang untuk mencoba
berbagai hal baru dan mengambil resiko dapat menjadi penyebab meningkatnya emosionalitas dan kerentanan terhadapa stress. Korteks prefrontal yang berhubungan dengan perencanaan jangka panjang dan pengambilan keputusan memang tidak matang sampai akhir masa remaja atau masa dewasa. Pada kondisi ini remaja tidak bisa dianggap bertanggung jawab secara penuh terhadap tindakannya karena cara berpikir mereka belum matang seperti juga orang dewasa yang memiliki keterbelakangan mental. b) kerentanan terhadap pengaruh kelompok teman sebaya
Ketidakmatangan otak remaja, membuat remaja dapat dengan mudah menyerah terhadap tekanan yang dapat ditolak oleh orang dewasa. Pengaruh teman sebaya meningkat saat masa remaja karena mereka mencari kemandirian dari kendali orang tua. Keinginan remaja untuk mendapat persetujuan dari teman sebaya dan takut mengalami penolakan dari lingkungan mempengaruhi keputusan mereka, bahkan dalam ketiadaan pemaksaan yang nyata. Kelompok teman sebaya yang populer berfungsi sebagai model bagi perilaku remaja sendiri.
c) karakter yang belum terbentuk
Karater, identitas, dan nilai remaja belum terbentuk secara sempurna. Kenakalan remaja sering kali merupakan fase sementara dari eksperimen dan pengambilan resiko, bukan rendahnya moral yang memang ada dan terus akan ada dalam diri remaja.