PERIODE 1980-2003
4.1. Pengujian Model 4.1.1.Kriteria Ekonometrika
Autokorelasi
Autokorelasi merupakan pelanggaran asumsi klasik yang menyatakan bahwa dalam pengamatan-pengamatan yang berbeda tidak terdapat korelasi antar error
term. Dari model faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan liquid petroleum
gas di Indonesia periode 1980-2003 didapatkan bahwa nilai dari probability obs*
R-Squared adalah sebesar 0,348, lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu
sebesar sepuluh persen (α = 10 persen). Hal ini berarti bahwa H0 terletak pada
daerah penerimaan yang berarti model yang digunakan tidak mengalami gejala autokorelasi.
Tabel 4.1. Uji Autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 0,771 Probability 0,479 Obs*R-squared 2,110 Probability 0,348
Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas ditujukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi berganda terjadi ketidaksamaan varians residual dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain atau dapat juga dikatakan untuk melihat apakah model regresi memenuhi asumsi bahwa model memiliki gangguan yang
46
variannya sama (homoskedastisitas). Pengujian heteroskedastisitas dalam model faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan liquid petroleum gas di Indonesia periode 1980-2003 menunjukkan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. Hal ini diperlihatkan dengan nilai probabilitas Obs*R-squared
(10,881)yang lebih besar dari taraf nyata 10 persen pada White Heteroskedasticity
(wilayah terima H0) yaitu sebesar 0,453 .
Tabel 4.2. Uji Heteroskedastisitas
White Heteroskedasticity Test:
F-statistic 0,898 Probability 0,569 Obs*R-squared 10,881 Probability 0,453
Multikolinearitas
Multikolinearitas merupakan suatu keadaaan dimana terjadinya satu atau dua variabel bebas yang berkorelasi sempurna atau mendekati sempurna dengan variabel bebas lainnya. Terjadinya multikolinearitas dapat dideteksi dengan melihat correlation matrix, jika korelasi antar variabel bebas dalam persamaan
regresi kurang dari ⎪0.8⎮(rule of thumbs) maka disimpulkan bahwa dalam persamaan regresi tidak terjadi gejala multikolinearitas, dan sebaliknya jika
correlation matrix > dari ⎪0.8⎮ maka disimpulkan pada persamaan regresi terjadi
gejala multikolinearitas.
Namun, dalam metode regresi linier sederhana (OLS) pengujian multikolinearitas dengan membandingkan koefisien korelasi antar variabel bebas yang terdapat pada matriks korelasi dengan rule of thumbs (⎪0.8⎮) bukanlah suatu ketentuan yang mutlak. Menurut Koutsoyiannis A. ( 1977 ), pengujian
47
multikolinieritas dapat juga dilakukan dengan uji Klein Uji Klein ini menunjukkan bahwa jika koefisien korelasinya ( r2 ) lebih kecil dari nilai R-
sqiared ( R2 ) atau R2 lebih besar dari r2, maka dapat juga disimpulkan bahwa
tidak terjadi multikolinieritas.
Tabel 4.3. Uji Multikolinearitas
LPLPG LPMT LTL LYKAP DK LPLPG 0,952 0,955 0,969 0,814 LPMT 0,952 0,908 0,978 0,852 LTL 0,955 0,908 0,930 0,734 LYKAP 0,969 0,978 0,930 0,849 DK 0,814 0,852 0,734 0,849
Dari tabel 4.3 koefisien matriks menunjukkan ada beberapa nilai yang lebih besar dari rule of thumbs, dalam hal ini ada indikasi terdapatnya gejala multikolinearitas pada model. Namun, dilihat dari R2 yang lebih besar (0,990) indikasi terjadinya gejala multikolinearitas ini dapat diabaikan (tidak terjadi multikolinearitas).
Normalitas
Uji normalitas salah satu asumsi klasik pada OLS perlu dilakukan jika jumlah sample yang digunakan kurang dari 30 (n < 30). Uji ini bertujuan untuk menguji apakah error term terdistribusi secara normal (mendekati normal) atau tidak. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan Jarque-Bera Test.Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa error term terdistribusi secara normal pada model faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan liquid petroleum gas di Indonesia periode 1980-2003. Hal ini ditandai dengan nilai probabilitasnya (0.749) yang lebih besar dari taraf nyata 10 persen (wilayah terima H0). Adanya masalah
48
normalitas pada residual tidak memberikan dampak yang berarti pada persamaan yang dihasilkan (Romayani, 2005). Hal ini dikarenakan masalah normalitas dapat dihilangkan dengan menambahkan variabel-variabel lain yang belum dimasukkan dalam persamaan. Implikasi dari adanya masalah normalitas tidak akan mempengaruhi hasil estimasi yang dilakukan.
Gambar 4.1. Uji Normalitas
0 1 2 3 4 5 6 - 0 . 1 0 - 0 . 0 5 0 . 0 0 0 . 0 5 0 . 1 0 S e r i e s : R e s i d u a l s S a m p l e 1 9 8 1 2 0 0 3 O b s e r v a t i o n s 2 3 M e a n 2 . 6 0 E - 1 5 M e d i a n 0 . 0 0 0 2 1 9 M a x i m u m 0 . 1 1 3 8 1 5 M i n i m u m - 0 . 1 0 7 5 5 6 S t d . D e v . 0 . 0 5 5 4 3 1 S k e w n e s s 0 . 0 8 6 6 5 5 K u r t o s i s 2 . 2 4 3 0 7 7 J a r q u e - B e r a 0 . 5 7 7 8 4 5 P r o b a b i l i t y 0 . 7 4 9 0 7 0 Sumber : lampiran 7
4.1.2. Hasil Estimasi Model
Hasil estimasi parameter model faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan liquid petroleum gas di Indonesia periode 1980-2003 .
Tabel 4.4. Hasil Estimasi Parameter Model Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Permintaan Liquid Petroleum Gas di Indonesia Periode 1980-2003
Variabel Koefisien t-Statistic Probabilitas Log harga LPG (LPLPG) -0,200 -1,813 0,089* Log harga minyak tanah (LPMT) 0,054 0,888 0,039* Log tarif listrik (LTL) 0,047 0,623 0,542
Log pendapatan per kapita (LYt) 0,207 1,068 0,031*
Log trend (LLPG(-1)) 0,707 3,966 0,001*
Dummy krisis (D) -0,143 -2,247 0,039*
Konstanta (C) 3,797 1,744 0,100
R-squared 0,990 F-statistic 254,403 Adjusted R-squared 0,986 Prob(F-statistic) 0,000 Keterangan : * = signifikan pada taraf nyata 10 persen
49
Dari hasil estimasi diatas maka model faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan liquid petroleum gas di Indonesia periode 1980-2003 dapat disusun sebagai berikut:
LLPG = 3,797 – 0,200 LPLPG + 0,054 LPMT + 0,047 LTL + 0,207 LY + 0,707LLPG(-1) – 0,143DK
4.1.3. Kriteria Statistik Uji-F
Dari tabel 4.5 dapat dilihat bahwa nilai probabilitas F-statistik atau sering disebut P-Value adalah sebesar 0,000 yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan yakni sepuluh persen (α =10 persen). Nilai ini menjelaskan bahwa minimal ada satu variabel bebas yang berpengaruh signifikan terhadap variabel tak bebasnya atau dengan kata lain bahwa keabsahan model yang dibangun dapat diterima.
Uji t-Statistik
Dari hasil estimasi yang ditunjukkan oleh tabel 4.5, ada lima variabel bebas yang berpengaruh signifikan terhadap variabel tak bebasnya pada taraf nyata sepuluh persen (α =10 persen). Kelima variabel tersebut adalah harga LPG yang berpengaruh negatif, harga minyak tanah yang berpengaruh positif, pendapatan per kapita yang berpengaruh positif, konsumsi periode sebelumnya yang berpengaruh positif, dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997 berpengaruh terhadap permintaan LPG di Indonesia. Sedangkan variabel
50
tarif listrik tidak signifikan berpengaruh terhadap permintaan LPG pada taraf nyata sepuluh persen.
Koefisien Determinasi (R2)
Hasil estimasi pada Tabel 4.5 menunjukkan koefisien determinasi pada model adalah sebesar 0,990, yang artinya adalah variasi variabel tak bebas (permintaan LPG) pada model dapat dijelaskan oleh variasi-variasi variabel bebas sebesar 99,0 persen, sedangkan sisanya sebesar 1 persen dijelaskan oleh variasi variabel-variabel lain diluar model.
4.1.4. Interpretasi dan Analisis Ekonomi
Dari hasil estimasi pada tabel 4.5, didapatkan bahwa harga LPG di Indonesia mempunyai koefisien sebesar -0,20, artinya adalah jika harga LPG meningkat sebesar satu persen maka permintaan atas LPG akan turun sebesar 0,20 persen, dan sebaliknya jika harga LPG turun sebesar satu persen akan mengakibatkan peningkatan permintaan LPG sebesar 0,20 persen, asumsi cateris
paribus. Hasil temuan empiris ini sesuai dengan hukum permintaan dimana jika
harga naik maka permintaan akan turun sedangkan jika harga turun maka permintaan akan meningkat. Besaran koefisien harga LPG yang menunjukkan elastisitas terhadap permintaan LPG yakni sebesar -0,20 (elastisitas harga < 1) menunjukkan bahwa LPG merupakan barang inelastis.
Minyak tanah sebagai barang subtitusi pada penelitian ini memiliki koefisien sebesar 0,054. Artinya adalah jika harga minyak tanah meningkat sebesar satu persen maka permintaan LPG akan naik sebesar 0,054 persen, dan
51
sebaliknya jika harga minyak tanah turun sebesar satu persen maka permintaan LPG akan turun sebesar 0,054 persen, asumsi cateris paribus. Hasil temuan ini menunjukkan bahwa di Indonesia minyak tanah bersubstitusi dengan LPG, elastisitas silangnya mempunyai koefisien yang negatif yang artinya jika harga LPG meningkat maka konsumen akan mencari barang pengganti LPG dalam hal ini minyak tanah. Demikian sebaliknya jika harga minyak tanah meningkat akan menyebabkan permintaan akan minyak tanah menurun dan konsumen akan beralih memakai LPG (permintaan LPG meningkat). Koefisien variabel minyak tanah yakni sebesar 0,054 (elastisitas silang < 1) menunjukkan bahwa minyak tanah merupakan produk subtitusi yang inelastis bagi LPG di Indonesia.
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa pendapatan per kapita masyarakat Indonesia memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap permintaan LPG di Indonesia dengan koefisien sebesar 0,207. Artinya adalah jika pendapatan per kapita masyarakat Indonesia meningkat sebesar satu persen maka konsumsi LPG di Indonesia akan meningkat sebesar 0,207 persen, dan sebaliknya jika pendapatan per kapita masyarakat Indonesia turun sebesar satu persen maka permintaan LPG di Indonesia akan turun sebesar 0,207 persen, asumsi cateris
paribus. Temuan ini sesuai dengan teori ekonomi dimana peningkatan pendapatan
akan meningkatkan konsumsi riil.
Permintaan LPG periode sebelumnya berpengaruh positif terhadap permintaan LPG periode sekarang dimana koefisiennya sebesar 0,707. Artinya adalah jika permintaan LPG periode sebelumnya meningkat sebesar satu persen maka permintaan LPG periode berikutnya akan meningkat sebesar 0,707 persen,
52
dan sebaliknya jika permintaan LPG periode sebelumnya turun sebesar satu persen maka permintaan LPG periode berikutnya akan turun sebesar 0,707 persen, asumsi cateris paribus. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemakaian LPG di Indonesia memiliki trend yang meningkat maupun menurun.
Krisis ekonomi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap permintaan LPG di Indonesia. Hal ini berarti krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak awal tahun 1997 (kwartal ke tiga) mengakibatkan konsumsi / permintaan akan LPG di Indonesia berkurang. Krisis ekonomi memiliki dampak
multiplyer (dampak menyeluruh) bagi perekonomian Indonesia. Krisis ekonomi
yang berlanjut dengan ketidakstabilan politik membawa dampak negatif bagi keseimbangan perekonomian Indonesia.
Krisis ekonomi yang mengakibatkan kenaikan harga-harga komoditi yang pada akhirnya mendorong inflasi yang membumbung tinggi menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pasar (baik dari sisi penawaran maupun sisi permintaan). Dari sisi penawaran dapat dijelaskan bahwa peningkatan harga sebagai salah satu fenomena krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia, akan mengakibatkan produksi berkurang karena biaya operasional dan harga faktor produksi semakin meningkat yang berakibat menurunnya keuntungan produsen. Implikasi dari peningkatan biaya tersebut adalah harga komoditi akan meningkat. Dari sisi permintaan peningkatan harga komoditi akan berdampak pada penurunan permintaan karena daya beli masyarakat yang semakin menurun, hal ini sesuai dengan hukum permintaan bahwa harga dengan permintaan berbanding terbalik.
53