BAB I PENDAHULUAN
5.2 Analisis Disparitas Pendapatan Regional
5.5.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Pengujian kesesuaian model pada persamaan pengaruh variabel bebas dalam penelitian yaitu belanja pendidikan pemerintah daerah, belanja kesehatan pemerintah daerah, belanja modal pemerintah daerah, belanja pegawai pemerintah daerah, jumlah angkatan kerja, produksi listrik dan panjang jalan terhadap pertumbuhan ekonomi dilakukan dalam dua tahap yaitu membandingkan fixed
effects model dengan random effects model kemudian dilanjutkan membuat
estimasi model atau persamaan dengan menentukan koefisien elastisitas masing-masing variabel bebas. Software yang dipergunakan dalam pengolahan data penelitian adalah Eviews 6.0.
A. Membandingkan fixed effects model dengan random effects model
Untuk membandingkan apakah fixed effects model atau random effects model yang lebih sesuai digunakan, maka dilakukan Uji Hausman. Statistik Uji Hausman mengikuti distribusi statistik Chi Square dengan degree of freedom sebanyak jumlah variabel bebas dari model. Tabel 62 di bawah ini memperlihatkan hasil Uji Hausman model pertama.
Tabel 62 Hasil Uji Hausman pada Model Pertumbuhan Ekonomi Correlated Random Effects - Hausman Test
Equation: Untitled
Test cross-section random effects
Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 15.517409 7 0.0299
153 Uji kesesuaian model data panel dengan fixed effects dan random
effects menggunakan Uji Hausman menunjukkan nilai p-value2(prob.) < 0,05, hal ini berarti model persamaan yang disusun memiliki heterogenitas individu tetapi tidak secara random. Dengan demikian fixed effects model lebih sesuai digunakan.
B. Menentukan Model
Setelah dilakukan pengujian dan diperoleh model yang paling sesuai, maka dilakukan estimasi dari persamaan tersebut. Estimasi persamaan pengaruh belanja pendidikan pemerintah daerah, belanja kesehatan pemerintah daerah, belanja modal pemerintah daerah, belanja pegawai pemerintah daerah, jumlah angkatan kerja, produksi listrik dan panjang jalan terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa tidak semua variabel bebas berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten perbatasan. Tabel 63 di bawah ini memperlihatkan hasil uji signifikansi variabel bebas pada model pertama. Tabel 63 Uji Signifikansi Variabel Bebas pada Model Pertumbuhan Ekonomi Dependent Variable: PDRBK
Method: Panel Least Squares Sample: 2006 2008
Periods included: 3
Cross-sections included: 15
Total panel (balanced) observations: 45
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
Konstanta 15.08912 0.800973 18.83849 0.0000 Belanja Pegawai 0.108912 0.037661 2.891949 0.0082 Belanja Kesehatan 0.001598 0.016747 0.095426 0.9248 Belanja Pendidikan 0.026001 0.014386 1.807432 0.0838 Belanja Modal 0.022563 0.024527 0.919918 0.3672 Jml.Angkatan Kerja 0.218665 0.068582 3.188349 0.0041 Panjang Jalan 0.161738 0.080174 2.017350 0.0455 Produksi Listrik 0.032531 0.057432 0.566435 0.5766
154 Variabel belanja pegawai, jumlah angkatan kerja dan panjang jalan berhubungan secara positif terhadap pertumbuhan ekonomi dengan elastisitas secara berturut-turut sebesar 0,11; 0,22 dan 0,16. Sedangkan variabel belanja kesehatan, belanja pendidikan, belanja modal dan produksi listrik tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Variabel belanja pegawai dengan elastisitas sebesar 0,11 berarti bahwa setiap kenaikan 1 persen belanja pegawai akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,11 persen dengan asumsi variabel lain tetap. Belanja pegawai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kabupaten perbatasan karena proporsinya yang cukup besar dalam struktur pengeluaran pemerintah daerah sehingga mampu menciptakan nilai tambah khusunya sub sektor jasa pemerintahan pada sektor jasa-jasa. Hal ini dimungkinkan terjadi karena peran anggaran daerah yang sangat besar terhadap perekonomian daerah dibandingkan swasta yang masih sangat terbatas mengingat seluruh kabupaten perbatasan merupakan daerah tertinggal. Akan tetapi perlu diingat bahwa efek belanja pegawai terhadap pertumbuhan ekonomi hanya bersifat jangka pendek karena sifatnya yang konsumtif sehingga diperlukan kebijakan anggaran yang bersifat investasi yang dapat memberikan efek jangka panjang dan berkelanjutan bagi pertumbuhan ekonomi.
Variabel jumlah angkatan kerja memiliki elastisitas sebesar 0,22 persen yang berarti bahwa setiap kenaikan angkatan kerja sebesar 1 persen akan mampu meningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,22 persen dengan asumsi variabel lain tetap. Angkatan kerja berpengaruh secara positif terhadap pertumbuhan ekonomi karena angkatan kerja merupakan bagian dari modal penggerak perekonomian untuk menciptakan ataupun meningkatkan nilai tambah barang dan jasa.
Variabel jalan mempunyai elastisitas sebesar 0,16 persen yang bermakna bahwa setiap kenaikan panjang jalan sebesar 1 persen akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,16 persen dengan asumsi variabel lain tetap. Panjang jalan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi karena merupakan sarana infrastruktur yang vital terkait dengan akses transportasi dan distribusi
155 barang dan jasa sehingga mampu menggerakan perekonomian daerah. Hanya saja mayoritas kualitas jalan yang ada di kabupaten perbatasan masih mengalami keterbatasan yaitu masih berupa jalan tanah dan agregat sedangkan yang berkualitas aspal masih terbatas sehingga interaksi ekonomi serta distribusi barang dan jasa masih mengalami hambatan yang cukup berarti.
Variabel belanja pendidikan dan belanja kesehatan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi karena kedua variabel ini lebih bersifat investasi jangka panjang sehingga dalam jangka pendek kedua variabel ini belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Begitu juga dengan belanja modal, selain bersifat investasi jangka panjang, belanja modal pemerintah daerah juga masih didominasi oleh pembelian barang-barang penunjang operasional perkantoran seperti mobil, motor, dan peralatan kantor lainnya yang tidak secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Sedangkan variabel produksi listrik tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi karena masih minimnya pasokan listrik di kabupaten perbatasan, bahkan masih banyak desa-desa yang belum mendapat aliran listrik PLN. Mayoritas masyarakat di perbatasan mendapat pasokan listrik dari pembangkit swadaya dan tenaga surya yang dayanya hanya cukup untuk penerangan malam hari. Dengan demikian aktifitas produksi yang dilakukan masyarakat dalam rangka penciptanaan nilai tambah mengalami hambatan.
Jika dibandingkan dengan penelitian Landau (1983) yang melakukan penelitian terhadap 27 negara berkembang dan Landau (1986) meneliti 65 negara berkembang yang hasilnya sama-sama menyimpulkan bahwa pengeluaran pemerintah yang besar terutama pengeluaran konsumsi justru akan menurunkan pertumbuhan pendapatan per kapita. Selanjutnya penelitian Devarajan dan Swaroop (1993) yang menemukan hubungan negatif dan tidak signifikan antara pengeluaran produktif dengan pertumbuhan, justru penelitian yang dilakukan terhadap daerah perbatasan memperoleh hasil berbeda dan sejalan dengan penelitian Lin (1994) yang menyatakan pengeluaran non-produktif mempunyai hubungan negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan di negara industri tetapi positif dan signifikan di negara berkembang.
156 Amrullah (2006) secara khusus meneliti tentang pengaruh infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi regional. Variabel-variabel yang berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi regional antara lain jalan, listrik, air minum dan telepon. Sedangkan penelitian terhadap daerah perbatasan ini menyebutkan hanya variabel jalan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi sedangkan variabel listrik tidak berpengaruh.
Perbedaan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya sangat mungkin terjadi. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan waktu dan cakupan wilayah penelitian, serta penggunaan variabel yang bervariasi.