• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Pemberian ASI Eksklusif Pada

2.1.6.1 Paritas

Paritas adalah banyaknya jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup, dihitung dalam satuan jumlah anak. paritas dapat dibedakan menjadi primipara, multipara, dan grandemultipara.

a. Primipara : Seorang wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup besar untuk hidup di dunia luar.

b. Multipara : Wanita yang telah melahirkan seorang bayi viabel (hidup) lebih dari satu kali.

c. Grandemultipara : Wanita yang telah melahirkan 5 0rang anak lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan kelahiran/

Jumlah anak dalam keluarga mempengaruhi seseorang dalam memberikan ASI eksklusif. Hal ini berkaitan dengan pengalaman seorang ibu untuk menyusui dan mengasuh anaknya (Megasari, 2014). Teori ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Destriatania (2013) yang menyatakan bahwa ibu yang mempunyai lebih dari 1 anak memiliki kecenderungan lebih besar untuk melakukan manajemen laktasi dan memberikan ASI eksklusif daripada ibu yang memiliki 1 anak.

2.1.6.2 Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan berarti bimbingan yangdiberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu. Pendidikan adalah salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar. semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah orang tersebut untuk menerima informasi.

Tingkat pendidikan ibu yang rendah mengakibatkan kurangnya pengetahuan ibu dalam menghadapi masalah, terutama dalam pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja.Sedangkan ibu- ibu yang mempunyai tingkat

pendidikan tinggi umumnya terbuka menerima perubahan atau hal – hal baru guna pemeliharaan kesehatannya (Prasetyono, 2012). Teori ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Widayanto (2012) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan ibu berhubungan dengan praktik pemberian ASI eksklusif.

2.1.6.3 Tingkat Pendapatan

Dalam Kamus Ekonomi, pendapatan (income) adalah uang yang diterima seseorang dalam perusahaan dalam bentuk gaji, upah, sewa, bunga, laba dan lain sebagainya, bersama dengan tunjangan pengangguran, uang pensiun dan lain sebagainya. Tingkat pendapatan berpengaruh pada daya beli yang dilakukan oleh individu. Dalam hubungannya dengan pemberian ASI eksklusif, tingkat pendapatan berpengaruh terhadap kemampuan seseorang untuk membeli susu formula atau sarana untuk memerah ASI. Penelitian yang dilakukan oleh Haryani (2014) menyatakan bahwa salah satu hal yang menghambat ibu dalam memberikan ASI eksklusif adalah faktor ekonomi.

2.1.6.4 Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan merupakan dasar seorang individu untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi, termasuk masalah kesehatan. Pengetahuan tentang kesehatan dapat diperoleh melalui pendidikan formal, penyuluhan maupun informasi dari media massa. Dengan adanya pengetahuan tentang ASI eksklusif dan manajemen laktasi, maka akan timbul kesadaran untuk memberian ASI eksklusif (Prasetyono, 2012). Teori ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri (2013) yang menyatakan bahwa

terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi dengan perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif.

2.1.6.5 Persepsi

Persepsi merupakan proses dimana individu mengatur dan menginterpretasikan kesan sensoris mereka, guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Salah satu alasan mengapa persepsi demikian penting dalam hal menafsirkan keadaan sekeliling kita adalah bahwa kita masing-masing mempersepsi, tetapi mempersepsi secara berbeda, apa yang dimaksud dengan sebuah situasi ideal. Persepsi mempengaruhi individu dalam berperilaku termasuk dalam perilaku memberikan ASI eksklusif dan manajemen laktasi (Megasari, 2014). Teori ini didukung degan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arlinda (2014) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara persepsi ibu tentang menyusui dengan pemberian ASI eksklusif.

2.1.6.6 Sosial Budaya

Sosial merupakan cara bagaimana individu saling berhubungan, sedangkan budaya ialah hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Sosial Budaya adalah suatu keadaan/kondisi yang diciptakan untuk mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat, yang mencakup semua bidang. Pengaruh sosial budaya terlihat dalam perilaku menyusui secara eksklusif. Hal ini berkaitan dengan adat, tradisi atau budaya setempat dan kepercayaan tentang cara memperlakukan bayi yang baru lahir. Selain itu mitos tentang kehamilan dan menyusui juga masih menjadi faktor yang menggagalkan pemberian ASI eksklusif (Megasari, 2014).

Selain itu lingkungan pedesaan dan perkotaan terkadang berbeda budaya. Di pedesaan, kebiasaan menyusui anak merupakan tradisi. Sementara itu, di perkotaan terbiasa menggunakan susu formula dengan pertimbangan lebih modern dan praktis karena mereka tidak pernah melihat model menyusui ASI dari lingkungannya. Kondisi ini berpengaruh kepada ibu dalam pengambilan keputusan ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada anaknya (Megasari, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Aisyah (2009) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kegagalan ibu dalam memberikan ASI eksklusif adalah ibu yang masih percaya dengan mitos tentang pemberian MP-ASI usia dini.

2.1.6.7 Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga sangat berpengaruh terhadap proses memberikan ASI eksklusif khususnya pada ibu bekerja. Hal ini dikarenakan keluarga adalah lingkungan yang paling dekat dengan ibu. Keluarga juga perlu mengetahui informasi tentang ASI eksklusif dan cara memberikan ASI eksklusif pada ibu bekerja. Sehingga keluarga dapat meyakinkan ibu dan membuat ibu tidak merasa sendiri dalam mengurus bayi. Oleh sebab itu, dukungan keluarga sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan untuk memberikan ASI eksklusif pada ibu bekerja (Prasetyono, 2012). Teori ini dikuatkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zakiyah (2012) yang menyatakan bahwa dukungan suami, ibu, dan mertua berhubungan dengan praktik pemberian ASI.

2.1.6.8 Dukungan Atasan Langsung

Bagi ibu yang bekerja, dukungan atasan langsung sangat diperlukan. Dukungan dari atasan langsung akan mempengaruhi keputusan ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Dukungan dari atasan langsung dapat berupa pengaturan jam kerja, pengaturan beban kerja, maupun kesempatan khusus untuk memerah ASI pada saat jam kerja (Prasetyono, 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Rizkianti (2014) menyatakan bahwa dukungan atasan kerja merupakan faktor yang berperan dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja.

2.1.6.9 Dukungan Teman Kerja

Selain dukungan dari atasan, dukungan dari teman kerja juga sangat mempengaruhi keputusan ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Hal ini disebabkan karena lingkungan yang paling dekat dengan ibu di tempat kerja ialah teman kerja. Dukungan dari teman kerja dapat ditunjukkan melalui banyak cara, misalnya dengan mengingatkan waktu untuk memerah ASI dan tidak iri dengan kebijakan atasan yang dikhususkan bagi ibu menyusui (Prasetyono, 2012). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ida (2012) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif adalah dukungan teman.

2.1.6.10 Ketersediaan F asilitas Menyusui di Tempat Kerja

Fasilitas menyusui yang ada di tempat kerja seperti ruang laktasi, media informasi, sarana memerah dan menyimpan ASI sangat mempengaruhi kesuksesan seorang ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. Apabila fasilitas yang ada di tempat kerja memadai untuk dilakukan pemberian ASI eksklusif

kepada bayinya, hal itu akan menjadi pertimbangan bagi seorang ibu untuk memberikan ASI eksklusif (Megasari, 2014). Teori ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Haryani (2014) yang menyatakan bahwa salah satu alasan tidak diberikannya ASI eksklusif oleh ibu bekerja adalah sarana prasarana yang kurang memadai.

2.1.6.11 Ketersediaan Petugas Kesehatan di Tempat Kerja

Tersedianya tenaga kesehatan ditempat kerja akan sangat membantu dalam penanganan masalah kesehatan di tempat kerja. Bukan hanya tentang permasalahan Penyakit Akibat Kerja (PAK), namun juga tentang permasalahan kesehatan lain yang dihadapi oleh pekerja. Misalnya permasalahan dalam menyusui atau masalah status gizi bagi pekerja wanita yang memiliki bayi.

2.1.6.12 Peran Petugas Kesehatan di Tempat Kerja

Peran merupakan suatu aspek dinamis dari suatu kedudukan. Untuk menjalankan peran, maka seseorang memperoleh hak dan tugas serta kewajiban yang harus di selesaikan. Berdasarkan Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, menyebutkan bahwa hak dari tenaga kesehatan (dokter) ialah memperoleh perlindungan hukum, memberikan layanan sesuai standar, mendapatkan informasi yang jelas dari pasien, dan memperoleh imbalan jasa. Sedangkan tugas dan kewajiban tenaga kesehatan (dokter) ialah memberikan pelayanan kesehatan, memberikan informasi. Selain itu juga bertugas untuk mendukung pasien agar emosional pasien lebih terjaga dan kondisi pasien cepat membaik.

Begitu pula tenaga kesehatan yang ada di tempat kerja, selain bertugas untuk mengobati penyakit, tenaga kesehatan di tempat kerja juga bertugas untuk memberikan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan karyawan. Salah satunya ialah edukasi tentang ASI eksklusif dan manajemen laktasi khususnya pada pekerja wanita. Selain itu peran petugas kesehatan sangat penting dalam mendukung program ASI eksklusif pada pekerja dan mendukung para pekerja yang hamil dan menyusui untuk melakukan manajemen laktasi dan memberikan ASI eksklusif (Prasetyono, 2012). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Oktora (2013) menyatakan bahwa tidak semua petugas kesehatan memberikan informasi mengenai pentingnya ASI eksklusif kepada ibu. Hal ini tentu berdampak pada kegagalan praktik pemberian ASI eksklusif.

2.1.6.13 Peran Pengasuh Bayi

Pengasuh bayi memiliki peran yang penting, khususnya pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang bekerja. Selama ibu bekerja, peran ibu dalam mengasuh digantikan oleh pengasuh bayi. Pengasuh bayi adalah orang yang ditunjuk oleh ibu untuk mengurus bayi. Pengasuh bayi bisa berasal dari orang tua, saudara, tetangga, atau orang yang bekerja khusus untuk mengasuh bayi.

Dalam praktik pemberian ASI eksklusif oleh ibu bekerja, pengasuh bayi sangat berperan penting karena pengasuh bayi bertugas untuk memberikan ASI perah yang disediakan oleh ibu. Sehingga pengasuh bayi harus memiliki pengetahuan yang sama baiknya dengan ibu. Termasuk pengetahuan tentang ASI eksklusif dan ASI perah (Prasetyono, 2012). Penelitian yang dilakukan oleh

Abdullah (2013) menyatakan bahwa ada hubungan antara pengasuh bayi dengan perilaku pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja.

2.1.6.14 Lama Jam Kerja

Masa kerja (lama kerja) seseorang perlu diketahui karena dapat menjadi salah satu indikator tentang kecenderungan para pekerja untuk melakukan sesuatu. Menurut Undang- Undang RI No. 13 tahun 2003, tentang tenaga kerja, pasal 77 tentang jam kerja menyebutkan bahwa waktu kerja 7 jam dalam 1 hari untuk 6 hari kerja dalam 1minggu. 8 jam kerja dalam 1 hari untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu. Dalam kaitannya dengan pemberian ASI eksklusif, ibu yang bekerja memiliki intensitas yang jarang dengan bayinya selama ia bekerja. Sehingga perlu dilakukan manajemen laktasi agar ia dapat memberikan ASI eksklusif.

2.1.6.15 Kebijakan Cuti Melahirkan di Tempat Kerja

Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal organisasi yang bersifat mengikat dan mengatur perilaku yang bertujuan untuk menciptakan tata nilai baru dalam masyarakat. Di Indonesia, kebijakan tentang cuti melahirkan telah diatur dalam Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 82 ayat 1 yang berbunyi “Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan”.

Tempat kerja di Indonesia, umumnya menggunakan undang-undang ini sebagai kebijakan cuti melahirkan yang diterapkan di instansi yang dikelolanya. Kebijakan cuti melahirkan selama 3 bulan banyak digunakan sebagai alasan

penyebab gagalnya pemberian ASI eksklusif, sedangkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Namun ada pula tempat kerja yang memberikan kebijakan khusus bagi ibu hamil untuk mendapatkan cuti hingga bayinya usia 6 bulan, dengan harapan ibu bekerja tersebut dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Haryani (2014) menyatakan bahwa salah satu alasan tidak diberikan ASI eksklusif oleh ibu bekerja ialah waktu cuti yang terbatas.

Dokumen terkait