BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.8. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Imunisasi Dasar
Salah satu faktor yang menentukan terjadinya masalah kesehatan masyarakat adalah ciri manusia atau karakteristik. Yang termasuk dalam unsur karakteristik manusia antara lain: umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, status sosial ekonomi, ras/etnik, dan agama.31 Ross et al dalam Hanum (2005) menyimpulkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan cakupan imunisasi
dapat digolongkan menjadi tiga yaitu: (1) pengetahuan, sikap, dan perilaku orang tua mengenai kebutuhan kesehatan preventif untuk anak, (2) akses kesehatan yang buruk, (3) kelalaian pemberi pelayanan imunisasi yang menyebabkan missed oppurtinity. Jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan ibu, urutan anak, status perkawinan orang tua, dan perawatan prenatal telah ditemukan sebagai determinan yang berhubungan dengan status imunisasi anak.32
Demikian juga dengan hasil penelitian Burns dan Zimmerman (2005) dalam Prayogo (2009) yang menyebutkan bahwa kurangnya pengetahuan mengenai imunisasi, kondisi yang berhubungan dengan miskonsepsi imunisasi, terbatasnya akses ke pelayanan imunisasi, kondisi yang berhubungan dengan status, keluarga atau budaya, keterbatasan ekonomi dan kondisi yang berhubungan dengan perilaku petugas kesehatan akan mempengaruhi pelaksanaan imunisasi.33
2.8.1. Umur Ibu
Umur ibu merupakan faktor yang berhubungan dengan imunisasi anaknya. Umur merupakan salah satu sifat karakteristik tentang orang yang sangat utama. Umur mempunyai hubungan dengan tingkat keterpaparan, besarnya risk serta sifat resistensi.34 Hasil penelitian Reza Isfan (2006) dengan desain penelitian case control yang membuat dua kategori umur ibu, yaitu <30 tahun dan ≥30 tahun, membuktikan bahwa ada hubungan antara umur ibu dengan status imunisasi dasar anaknya (p<0,05).11 Dimana umur ibu yang ≥30 tahun cenderung status imunisasi anaknya tidak lengkap dibandingkan dengan umur ibu yang <30 tahun.
2.8.2. Pendidikan Ibu
Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak. Karena dengan pendidikan yang baik, maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya, termasuk dalam hal pemberian imunisasi pada anaknya.34
Berdasarkan hasil penelitian Wati Lienda (2009) dengan desain cross sectional, didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan kelengkapan imunisasi (p<0,05), artinya ibu dengan pendidikan tinggi akan memberikan imunisasi kepada anaknya lebih lengkap dibandingkan ibu dengan pendidikan rendah.35
2.8.3. Pekerjaan Ibu
Menurut Isfan (2006) pekerjaan dapat memberikan kesempatan suatu individu untuk sering kontak dengan individu lainnya, bertukar informasi dan berbagi pengalaman. Pada ibu yang bekerja, akan memiliki pergaulan yang luas dan dapat saling bertukar informasi dengan teman sekerja, sehingga lebih terpapar dengan program-program kesehatan, khususnya imunisasi.12
Berdasarkan penelitian Ridho (2009) dengan desain cross sectional, didapatkan bahwa pekerjaan ibu berhubungan dengan status imunisasi dasar lengkap pada balita (p<0,05) artinya ibu bekerja memiliki kemungkinan anaknya diimunisasi lebih lengkap dibandingkan ibu tidak bekerja. 36
2.8.4. Jumlah Anak
Menurut Isfan (2006) kunjungan ke pos pelayanan imunisasi, terkait dengan ketersediaan waktu bagi ibu untuk mencari pelayanan imunisasi terhadap anaknya. Oleh karena itu jumlah anak juga dapat mempengaruhi ada tidaknya waktu bagi ibu meninggalkan rumah untuk mendapatkan pelayanan imunisasi kepada anaknya. Semakin banyak jumlah anak terutama ibu yang masih mempunyai bayi yang merupakan anak ketiga atau lebih akan membutuhkan banyak waktu untuk mengurus anak-anaknya tersebut, sehingga semakin sedikit ketersediaan waktu bagi ibu untuk mendatangi tempat pelayanan imunisasi.12
Berdasarkan penelitian Prayogo (2009) dengan desain cross sectional terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan kelengkapan imunisasi dasar (p<0,05) yang berarti semakin banyak jumlah anak dalam keluarga akan menyebabkan imunisasi dasar anak tidak lengkap.33
2.8.5. Pendidikan Suami
Berdasarkan hasil penelitian Darmen dalam Wati Lienda (2009) dengan desain cross sectional, pendidikan suami memiliki hubungan yang bermakna dengan status kelengkapan imunisasi yaitu p=0,003. Sehingga suami dengan tingkat pendidikan yang telah tinggi akan memberikan imunisasi kepada anaknya lebih lengkap. Karena secara tidak langsung suami turut menentukan pengambilan keputusan dalam keluarga, termasuk dalam pemilihan pelayanan kesehatan.35
2.8.6. Pengetahuan Ibu30,37
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain
yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.
Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu:
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (application)
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.
d. Analisis (analysa)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau subjek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (syntesa)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada.
Berdasarkan penelitian Ridho (2009) dengan desain cross sectional, didapatkan bahwa pengetahuan ibu berhubungan dengan status imunisasi dasar lengkap pada balita (p<0,065).36
2.8.7. Sikap Ibu37,38
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap mempunyai tiga komponen pokok, seperti yang dikemukakan Allport dalam Notoatmodjo (2007), yaitu:
a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek. b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek. c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berfikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting.
Sikap terdiri dari beberapa tingkatan sikap, yaitu :
a. Menerima (receiving) artinya bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek.
b. Merespon (responding) yaitu memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
c. Menghargai (valuing) yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga (kecenderungan untuk bertindak).
d. Bertanggung jawab (responsible) yaitu yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian Reza Isfan (2006) dengan desain case control, memperoleh nilai p=0,029 dan OR=1,65 yang artinya bahwa ibu yang mempunyai sikap tidak baik terhadap imunisasi memiliki risiko 1,65 kali lebih besar status imunisasi dasar anaknya untuk tidak lengkap bila dibandingkan dengan ibu yang mempunyai sikap yang baik terhadap imunisasi, dan hubungannya bermakna secara statistik.12
2.8.8. Pekerjaan Suami
Menurut Isfan (2006), pekerjaan dapat memberikan kesempatan suatu individu akan sering kontak dengan individu lainnya, bertukar informasi dan berbagi pengalaman. Pada suami yang bekerja pada sektor formal, memiliki pergaulan yang luas, pendidikan yang lebih baik, sering bertukar pengalaman dan berbagi informasi dengan teman sekerja, sehingga lebih terpapar dengan program-program kesehatan,
khususnya imunisasi. Suami akan menyampaikan secara langsung informasi imunisasi yang didapat kepada istri. Secara tidak langsung suami juga berperan dalam menentukan (pengambilan keputusan) tentang anak dalam keluarga, antara lain dalam menjaga kesehatan keluarganya, termasuk imunisasi.
Berdasarkan hasil penelitian Isfan (2006) dengan desain case control, diketahui bahwa terdapat hubungan antara pekerjaan suami dengan status imunisasi dasar pada anak dengan p=0,033. Nilai OR yang diperoleh sebesar 3,21, yang berarti bahwa suami yang bekerja pada sektor nonformal mempunyai risiko 3,21 kali lebih besar status imunisasi dasar anaknya untuk tidak lengkap bila dibandingkan dengan suami yang bekerja pada sektor formal.12
2.8.9. Jarak Tempat Tinggal ke Pelayanan Kesehatan
Menurut Sukmana dalam Ridho (2009) faktor pemungkin lainnya adalah persepsi ibu terhadap jarak. Makin jauh jarak suatu pelayanan kesehatan dasar, makin segan seseorang untuk datang. Seorang ibu yang mempersepsikan jarak rumah ke tempat pelayanan kesehatan dekat akan mempunyai keinginan untuk pergi melakukan imunisasi, dan sebaliknya.36 Berdasarkan penelitian Prayogo (2009) dengan desain penelitian cross sectional, terdapat kecenderungan orang tua yang mempunyai rumah dengan jarak tempat pelayanan imunisasi lebih dekat memiliki anak dengan imunisasi lengkap.33